+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Tanggapan Fuso Terkait Penerapan Solar B30

Kompas | Senin, 17 Desember 2018

Tanggapan Fuso Terkait Penerapan Solar B30

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menjalankan uji jalan (road test) penggunaan campuran biodiesel 30 persen (B30). Pengujian itu dijadwalkan selesai pada Maret 2019. Usai itu, pemerintah akan melakukan pengkajian dan apabila memenuhi standar yang ditetapkan maka segera diterapkan pada tahun depan. Menanggapi hal itu, Sales & Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Duljatmono mengatakan bahwa perlu uji coba khusus, seperti yang sudah dilakukan ketika pemerintah menerapkan B20. “Kami tahu tujuan pemerintah itu untuk memanfaatkan kelapa sawit, agar industri lokal berkembang. Tetapi, kami saat ini belum bisa bicara apa-apa karena harus melakukan uji dulu,” ujar Duljatmono. Pria yang akrab disapa Momon itu menambahkan, apabila kebijakan itu sudah diterapkan maka pemerintah juga seharusnya berkonsentrasi pada penyediaan bahan bakar minyak (BBM)-nya, agar merata di seluruh wilayah Indonesia.

Belum lagi, pada 2021 akan ditetapkan aturan Euro IV untuk mesin diesel. “Jadi fokus kami itu bagaimana nanti B30 juga siap dengan Euro IV,” ucap Momon. Langkah ke depan, sebelum pengujian tentunya KTB sebagai agen pemegang merek (APM) Mitsubishi Fuso di Indonesia harus mendapatkan contoh solar B30, dan bekerjasama dengan pemerintah dalam hal pengujian. “Pada saat penerapan B20 juga kami seperti itu, selalu melakukan pengujian dan sampai akhirnya semua produk kami tidak masalah menggunakan solar B20,” kata Momon.

https://otomotif.kompas.com/read/2018/12/17/070200415/tanggapan-fuso-terkait-penerapan-solar-b30

Kompas | Jum’at, 14 Desember 2018

Penyaluran Dana Insentif Biodesel Capai Rp 5,51 Triliun

Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Edi Wibowo mengatakan, dari total alokasi anggaran Rp 7 triliun pihaknya telah menyalurkan dana insentif biodesel sebesar Rp 5,51 triliun per November 2018. Angka tersebut hampir mencapai target penyaluran dana insentif B20 pada tahun 2018 sebesar Rp 5,57 triliun. Edi menyebut untuk 4 bulan terakhir terjadi penurunan jumlah dari insentif biodesel yang disalurkan. “Tahun 2018 rata-rata insentif BPDB Kelapa Sawit untuk B20 menurun. Tahun ini Rp 2.074 per liter, tahun sebelumnya Rp 4.075 per liter. Pada empat bulan terakhir insentif kita menurun karena ada kenaikan solar, ada sedikit penurunan Harga Indeks Pasar (HIP) biodiselnya,” ujar Edi di San Pacific, Jakarta Pusat, Jumat (14/12/2018). Dengan sudah tersalurkannya insetif Rp 5,51 triliun tersebut dan sudah mendekati penghujung tahun, Edi menjelaskan, jika ada kelebihan dana yang tidak digunakan tahun ini maka akan dialokasikan untuk tahun berikutnya. Ia menyebut bahwa alokasi anggaran BPDBKS tahun 2019 pun sama yakni Rp 7 triliun. Kemudian, untuk penyaluran B20 sendiri, Edi menyebut memasang target 3,3-3,4 juta KL hingga akhir 2018. Sementara untuk tahun depan, ia memproyeksi penyaluran B20 bisa 6,2 juta KL. “Tahun 2019 dengan adanya penurunan insentif targetnya diharapkan meningkat menjadi 6,2 juta KL, dibanding 2018 yang 3,2 juta KL (per November 2018). Ada peningkatan hampir 2 kali lipat, tapi anggaran yang kami alokasikan tetap Rp 7 triliun,” jelasnya. Kemudian, BPDPKS pun per November 2018 sudah mengumpulkan dana pungutan Rp 14,48 triliun. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Keuangan Umum, Kepatuhan dan Manajemen Resiko BPDKS Catur Ariyanto Widodo, di mana ia juga mengungkapkan bahwa hingga akhir tahun dana pungutan tersebut tidak akan bertambah. “Dana yang dihimpun sebesar Rp 14,48 triliun per November 2018,” ujar Catur pada kesempatan yang sama. Hal ini menyusul adanya penghentian pungutan ekspor sawit per 4 Desember 2018 oleh pemerintah bahwa selama harga sawit di bawah 570 dollar AS per ton, maka tidak akan dikenakan pungutan.

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/12/14/191921226/penyaluran-dana-insentif-biodesel-capai-rp-551-triliun

Liputan6 | Jum’at, 14 Desember 2018

Dana Insentif Biodiesel Capai Rp 5 Triliun hingga November 2018

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kelapa sawit telah menyalurkan dana insentif biodiesel (B20) senilai Rp 5,1 triliun hingga November 2018 dari alokasi anggaran 2018 sebesar Rp 7 triliun. “Penyaluran Rp 5,51 triliun dari alokasi anggaran sekitar Rp 7 triliun. Target sampai akhir Desember 2018 itu kami perkirakan Rp 5,57 triliun,” ujar Direktur Penyaluran Dana BPDP Kelapa Sawit, Edi Wibowo, di Jakarta, Jumat (14/12/2018). Edi mengatakan, jumlah insentif biodiesel yang disalurkan menurun dalam empat bulan terakhir. Hal ini dipicu sejumlah faktor, seperti turunnya Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel. “Tahun 2018 rata-rata insentif BPDB Kelapa Sawit untuk B20 menurun dari sebelumnya. Tahun ini Rp 2.074 per liter, tahun sebelumnya Rp 4.075 per liter. Pada empat bulan terakhir insentif kita menurun karena ada kenaikan bahan bakar solar, ada sedikit penurunan hip biodeiselnya,” ungkapnya. Menurut Edi, kelebihan dana yang tidak terpakai pada 2018 akan digunakan untuk program yang sudah dirancang untuk 2019. Alokasi anggaran BPDB kelapa sawit mencapai Rp 7 triliun pada 2019. “Jadi kami masih ada sedikit cadangan untuk 2019. Terkait alokasi anggaran tahun 2019 kami perkirakan sekitar Rp 7 triliun, dan kami juga masih menunggu keputusan dari komite pengarah,” tutur dia. Sementara untuk penyaluran B20, kata Edi, pihaknya menargetkan 3,3 hingga 3,4 juta KL B20 dapat tersalur hingga akhir 2018. Sementara pada 2019, pihaknya menargetkan penyaluran 6,2 juta KL B20. “Tahun 2019 dengan adanya penurunan insentif tadi, targetnya kita harapkan meningkat penyalurannya menjadi 6,2 juta KL, dibanding 2018 yang 3,2 juta KL. Jadi ada peningkatan hampir 2 kali lipat. Anggaran yang kita alokasikan Rp 7 triliun,” tutur dia.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3814321/dana-insentif-biodiesel-capai-rp-5-triliun-hingga-november-2018

Merdeka | Jum’at, 14 Desember 2018

November 2018, Penyaluran Dana Insentif Biodiesel Mencapai Rp 5,51 Triliun

Direktur Penyaluran Dana BPDP Kelapa Sawit, Edi Wibowo mengatakan hingga November 2018, pihaknya telah menyalurkan dana insentif biodiesel dengan total Rp 5,51 triliun dari alokasi anggaran tahun 2018 Rp 7 triliun. Angka ini hampir mencapai target penyaluran dana insentif B20 di 2018 sebesar Rp 5,57 triliun. Edi mengatakan dalam empat bulan terakhir terjadi penurunan jumlah insentif biodiesel yang disalurkan. Hal ini dipicu sejumlah faktor, seperti turunnya Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel. “Tahun 2018 rata-rata insentif BPDB Kelapa Sawit untuk B20 menurun dari sebelumnya. Tahun ini Rp 2.074 per liter, tahun sebelumnya Rp 4.075 per liter. Pada empat bulan terakhir insentif kita menurun karena ada kenaikan bahan bakar solar, ada sedikit penurunan hip biodiselnya,” kata Edi di Jakarta, Jumat (14/12). Menurutnya, kelebihan dana yang tidak terpakai di tahun ini akan digunakan untuk program yang sudah dirancang untuk tahun 2019. Alokasi anggaran BPDB Kelapa Sawit untuk tahun depan pun sejumlah Rp 7 triliun.

“Jadi kami masih ada sedikit cadangan untuk 2019. Terkait alokasi anggaran tahun 2019 kami perkirakan sekitar Rp 7 triliun, dan kami juga masih menunggu keputusan dari komite pengarah,” jelas dia. Sementara untuk penyaluran B20, pihaknya menargetkan 3,3 hingga 3,4 juta KL B20 dapat tersalur hingga akhir 2018. Sementara untuk tahun 2019 pihaknya menargetkan penyaluran 6,2 juta KL B20. “Tahun 2019 dengan adanya penurunan insentif tadi, targetnya kita harapkan meningkat penyalurannya menjadi 6,2 juta KL, dibanding 2018 yang 3,2 juta KL. Jadi ada peningkatan hampir 2 kali lipat. Anggaran yang kita alokasikan Rp 7 triliun rupiah,” tandasnya.

https://www.merdeka.com/uang/november-2018-penyaluran-dana-insentif-biodiesel-mencapai-rp-551-triliun.html

Okezone | Jum’at, 14 Desember 2018

Penyaluran Dana Insentif Biodiesel Tembus Rp5,5 Triliun

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mencatat hingga November 2018 telah menyalurkan dana insentif biodiesel sebesar Rp5,51 triliun. Jumlah tersebut masih ada selisih dari total anggaran tahun 2018 sebesar Rp7 triliun. Direktur Penyaluran Dana BPDP Kelapa Sawit Edi Wibowo mengatakan, jumlah tersebut masih akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti. Berdasarkan perkiraannya, hingga akhir tahun pihaknya bisa menyalurkan dana hingga Rp5,57 triliun. “Penyaluran Rp 5,51 triliun dari alokasi anggaran sekitar Rp 7 triliun. Target sampai akhir desemebr 2018 itu kami perkirakan 5,57 triliun,” ujarnya di Jakarta, Jumat (14/12/2018). Edi menambahkan, adanya selisih yang cukup besar memang terbilang cukup wajar. Karena dalam empat bulan terakhir ada penurunan jumlah insentif yang disalurkan oleh pihaknya. “Tahun 2018 rata-rata insentif BPDB Kelapa Sawit untuk B20 menurun dari sebelumnya. Tahun ini Rp2.074 per liter, tahun sebelumnya Rp4.075 per liter,” jelasnya

Hal tersebut dikarenakan ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Salah satunya adalah turunnya Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel dunia. Pada empat bulan terakhir insentif kita menurun karena ada kenaikan bahan bakar solar, ada sedikit penurunan HIP biodieselnya,” kata Edi. Sebagai gantinya lanjut Edi, kelebihan dana yang tidak terpakai di tahun ini akan digunakan untuk program yang sudah dirancang untuk tahun 2019. Adapun alokasi anggaran BPDB Kelapa Sawit untuk tahun depan adalah sebesar Rp7 triliun. “Jadi kami masih ada sedikit cadangan untuk 2019. Terkait alokasi anggaran tahun 2019 kami perkirakan sekitar Rp7 triliun, dan kami juga masih menunggu keputusan dari komite pengarah,” jelasnya. Edi menambahkan, hingga akhir tahun 2018 penyaluran B20 ditargetkan bisa mencapai 3,3 hingga 3,4 juta KL. Sementara untuk tahun 2019 pihaknya menargetkan penyaluran 6,2 juta KL B20. “Tahun 2019 dengan adanya penurunan insentif tadi, targetnya kita harapkan meningkat penyalurannya menjadi 6,2 juta KL, dibanding 2018 yang 3,2 juta KL. Jadi ada peningkatan hampir 2 kali lipat. Anggaran yang kita alokasikan Rp 7 triliun,” jelasnya.

https://economy.okezone.com/read/2018/12/14/320/1991426/penyaluran-dana-insentif-biodiesel-tembus-rp5-5-triliun

Merdeka | Jum’at, 14 Desember 2018

November 2018, Penyaluran Dana Insentif Biodiesel Mencapai Rp 5,51 Triliun

Direktur Penyaluran Dana BPDP Kelapa Sawit, Edi Wibowo mengatakan hingga November 2018, pihaknya telah menyalurkan dana insentif biodiesel dengan total Rp 5,51 triliun dari alokasi anggaran tahun 2018 Rp 7 triliun. Angka ini hampir mencapai target penyaluran dana insentif B20 di 2018 sebesar Rp 5,57 triliun. Edi mengatakan dalam empat bulan terakhir terjadi penurunan jumlah insentif biodiesel yang disalurkan. Hal ini dipicu sejumlah faktor, seperti turunnya Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel. “Tahun 2018 rata-rata insentif BPDB Kelapa Sawit untuk B20 menurun dari sebelumnya. Tahun ini Rp 2.074 per liter, tahun sebelumnya Rp 4.075 per liter. Pada empat bulan terakhir insentif kita menurun karena ada kenaikan bahan bakar solar, ada sedikit penurunan hip biodiselnya,” kata Edi di Jakarta, Jumat (14/12). Menurutnya, kelebihan dana yang tidak terpakai di tahun ini akan digunakan untuk program yang sudah dirancang untuk tahun 2019. Alokasi anggaran BPDB Kelapa Sawit untuk tahun depan pun sejumlah Rp 7 triliun.

“Jadi kami masih ada sedikit cadangan untuk 2019. Terkait alokasi anggaran tahun 2019 kami perkirakan sekitar Rp 7 triliun, dan kami juga masih menunggu keputusan dari komite pengarah,” jelas dia. Sementara untuk penyaluran B20, pihaknya menargetkan 3,3 hingga 3,4 juta KL B20 dapat tersalur hingga akhir 2018. Sementara untuk tahun 2019 pihaknya menargetkan penyaluran 6,2 juta KL B20. “Tahun 2019 dengan adanya penurunan insentif tadi, targetnya kita harapkan meningkat penyalurannya menjadi 6,2 juta KL, dibanding 2018 yang 3,2 juta KL. Jadi ada peningkatan hampir 2 kali lipat. Anggaran yang kita alokasikan Rp 7 triliun rupiah,” tandasnya.

https://www.merdeka.com/uang/november-2018-penyaluran-dana-insentif-biodiesel-mencapai-rp-551-triliun.html

Viva | Jum’at, 14 Desember 2018

Penyaluran Dana Insentif Biodiesel Turun Gara-gara Harga Turun

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS mengungkapkan, penyaluran dana insentif untuk biodiesel pada 2018 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan turunnya harga biodiesel hingga di bawah harga solar. Direktur Penyaluran Dana BPDPKS, Edi Wibowo menyebutkan, rata-rata insentif biodiesel yang dibayarkan BPDPKS untuk biodiesel pada 2018 menurun rata-rata Rp2.074 per liter dibandingkan sebelumnya yang sebesar Rp4.075 rupiah per liter. “Jadi empat bulan terakhir ini insentif kita turun, karena ada kenaikan harga bahan bakar minyak solar juga penurunan HIP (Harga Indeks Pasar) biodiesel. Jadi insentif harganya turun,” katanya di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Jumat 14 Desember 2018.Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HIP biodiesel untuk Desember 2018 sebesar Rp6.589 per liter ditambah ongkos angkut. Nilai tersebut turun dari bulan lalu yang mencapai Rp7.227 per liter ditambah ongkos angkut.

Sementara itu, pembayaran insentif biodiesel kepada produsen diberikan demi menutup selisih harga biodiesel dan ongkos angkut jika di atas harga solar. Sedangkan, tren harga biodiesel di pasar menurun seiring merosotnya harga minyak sawit mentah. “Penyaluran total insentif yang biodiesel Rp5,51 triliun dari alokasi anggaran Rp7 triliun, jadi kami sedikit ada cadangan yang bisa kami gunakan pada 2019,” tegasnya. Dari total nilai insentif yang disalurkan itu, dia mengatakan, secara volume penyaluran sebanyak 2,9 juta kiloliter. Jumlah itu ditargetkan terus meningkat hingga akhir Desember. “Target capaian biodiesel sampai Desember, kemungkinan sampai akhir Desember 2018 itu kami perkirakan Rp5,75 triliun,” tuturnya.

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1103499-penyaluran-dana-insentif-biodiesel-turun-gara-gara-harga-turun