+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Mandatori B30 Siap Dijalankan Pada 2020

Majalah Sawit Indonesia | Kamis, 17 Oktober 2019

Mandatori B30 Siap Dijalankan Pada 2020

Uji Jalan B30 kendaraan bermotor bertujuan hasilnya dapat diterima semua pihak. Hasil uji menunjukkan performa kendaraan tetap baik. Siap memenuhi target Presiden Jokowi untuk diluncurkan pada 2020. Monitoring dan Evaluasi Uji Jalan (Road Test) penggunaan Biodiesel 30 (B30) pada kendaraan bermotor untuk memastikan bahan bakar nabati dari kelapa sawit layak diproduksi massal. Dan, dapat digunakan untuk bahan bakar untuk kendaraan umum. Monitoring dan Evaluasi (Monev), dilakukan oleh Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Badan Litbang ESDM) serta melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (APROBI) dan PERTAMINA di Wisma Badan Penelitian Taman Sayur (Balista) yang menjadi salah satu base camp uji jalan B30, pada Senin (9 September 2019), di Lembang, Bandung. Ketua Dewan Pengawas BPDP-KS, Rusman Heriawan mengutarakan uji jalan B30 pada kendaraan bermotor untuk meyakinkan semua pihak terkait keamanan dan kinerja penggunaan campuran biodiesel 30% pada bahan bakar minyak jenis minyak solar. “Uji jalan B30 telah dirancang dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan berbagai aspek serta melibatkan para pemangku kepentingan terkait, sehingga hasilnya tidak diragukan masyarakat dan industri”, ujar Rusman, saat ditemui di acara Uji Jalan B30.

Menurut Rusman, program mandatori B30 adalah salah satu program prioritas pemerintah yang diharapkan dapat menambah penyerapan minyak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dalam negeri sekitar 3 Juta ton per tahun pada 2020 mendatang. Sehingga penggunaan CPO untuk biodiesel dalam negeri pada tahun 2020 meningkat menjadi sekitar 8,4 juta ton (5,4 juta ton untuk B20 dan 3 juta ton untuk B30). “Atau secara total konsumsi CPO dalam negeri meningkat menjadi sekitar 19 juta ton. Hal ini sekaligus untuk mengurangi ketergantungan pasar luar negeri terutama ke Eropa,” tambah Rusman. Saat ini, uji jalan B30 sudah menempuh sekitar 80 persen perjalanan. Dengan target mobil penumpang 50.000 km, sementara untuk mobil niaga, mobil besar ditarget 40.000 km. Uji Jalan B30 untuk memastikan kinerja kendaraan tidak boleh berkurang signifikan antara penggunaan B20 dan B30. Selain itu, biaya operasi dan pemeliharaan juga tidak boleh banyak berubah. Uji Jalan B30 dilakukan pada tujuh merek kendaraan dengan beragam variasi dan kelas kendaraan. Kendaraan penumpang kelas atas menjadi salah satu pilihan, mengingat kendaraan jenis ini memerlukan Bahan Bakar Minyak (BBM) berkualitas tinggi.Pelaksanaan Uji Jalan B30 diluncurkan Menteri ESDM, Ignasius Jonan Juni lalu, pada dua jenis kendaraan yaitu kendaraan penumpang dengan berat kotor kurang dari 3,5 ton dan kendaraan truk dengan berat kotor lebih dari 3,5 ton. Kendaraan penumpang diuji untuk membandingkan kinerja kendaraan yang menggunakan B20 dan B30 serta mendapatkan konfirmasi usulan standar dan spesifikasi B100 untuk campuran B30. Adapun tujuan pengujian kendaraan truk adalah mendapatkan konfirmasi efek penggunaan B30 pada kondisi awal dibandingkan dengan kondisi setelah jarak tempuh tertentu.

Nasionalisme.co | Kamis, 17 Oktober 2019

Kolombia dan Peru Mulai Terapkan Biodiesel B5 dan B10
Kini Amerika Latin, terutama Kolombia dan Peru, mulai menerapkan kebijakan biodiesel B5 dan B10 dalam serapan energinya. Menurut Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, hal ini bisa membuka pasar yang selama ini sulit dimasuki Indonesia, misalnya AS dan bagian Amerika Utara lainnya. “Dari biofuel, mereka ingin ada kerja sama dengan kita. Peru dan Kolombia misalnya, mereka ada kebun sawit dan mereka ingin ada hilirisasi, ini yang bisa dikerjasamakan,” kata Paulus, Selasa, (15/10/2019), di Jakarta dikutip dari Majalah Hortus. Menurutnya pengusaha sawit kedua negara tersebut ingin Indonesia investasi di sana, terutama dengan pengalaman Indonesia pada pengembangan biodiesel. Pemerintah Kolombia pun menunjukkan keseriusan mengembangkan sawit, dengan menyiapkan 43 juta hektare lahan. Industri sawit selama ini memang masih fokus pada pasar-pasar tradisional seperti Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa. Paulus berharap dengan potensi ini kerjasama ini maka semakin terbuka peluang untuk kerjasama pengembangan sawit dari hulu ke hilir, terutama untuk pengembangan biodiesel. “Kini keduanya (Kolombia dan Peru) mulai menerapkan B5 dan B10 dalam serapan energinya. Pemerintah Kolombia juga menjadikan Palm oil sebagai salah satu program pemerintah dengan mendorong rakyat mereka yang tadinya menanam koka untuk beralih ke sawit,” katanya.

http://www.nasionalisme.co/kolombia-dan-peru-mulai-terapkan-biodiesel-b5-dan-b10/

Global Planet News | Kamis, 17 Oktober 2019

Pengusaha Sawit RI Incar Potensi Pasar Amerika Latin

Pengusaha kelapa sawit mengincar potensi kerja sama dengan Amerika Latin, Kolombia dan Peru, terutama untuk pengembangan biodiesel. Selama ini industri sawit masih fokus pada pasar-pasar tradisional seperti Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan peluang pasar di Peru maupun Kolombia, terbuka kerja sama untuk pengembangan sawit dari hulu ke hilir. Apalagi keduanya mulai menerapkan B5 dan B10 dalam serapan energinya. “Dari biofuel, mereka ingin ada kerja sama dengan kita. Peru dan Kolombia misalnya, mereka ada kebun sawit dan mereka ingin ada hilirisasi, ini yang bisa dikerjasamakan,” kata Paulus, dikutip dari CNBCIndonesia.com, Selasa (15/10/2019). Menurutnya pengusaha sawit kedua negara tersebut ingin Indonesia investasi di sana, terutama dengan pengalaman Indonesia pada pengembangan biodiesel. Paulus menilai investasi di Amerika Latin pun bisa membuka pasar yang selama ini sulit dimasuki Indonesia, misalnya AS dan bagian Amerika Utara lainnya. Pemerintah Kolombia pun menunjukkan keseriusan mengembangkan sawit, dengan menyiapkan 43 juta hektare lahan. “Pemerintah Kolombia mendorong rakyat mereka yang tadinya menanam koka untuk beralih ke sawit. Palm oil salah satu program pemerintah,” katanya.

Sebelumnya Direktur Eksekutif LPEI Shintya Roesli mengatakan sektor Tekstil dan infrastruktur menjadi sektor andalan dalam membangun kerja sama dan investasi dengan Amerika Latin dan Karibia. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Indonesia Eximbank) mencatat ekspor Indonesia ke kawasan tersebut hanya sekitar 0,5%, dan masih sangat terbatas. Dia mengatakan meski baru sedikit, namun peluang investasi dan kerja sama perdagangan masih terbuka lebar. Dalam beberapa tahun ke depan, produk tekstil bisa menjadi andalan untuk menjangkau pasar Amerika Latin-Karibia. Produk-produk yang selama ini menjadi andalan menjangkau negara tersebut seperti minyak sawit (crude palm oil/CPO), tekstil, produk olahan kayu, kertas dan bubur kertas, serta produk pertambangan. “Masih ada ruang untuk meningkatkan kerja sama, Indonesia juga bisa membuka perdagangan produk pertanian dan perkebunan, baja, ataupun komoditas lainnya,” kata Shintya, Rabu (15/10/2019). Yang tidak kalah potensial yakni kolaborasi proyek infrastruktur untuk pembangunan wilayah tersebut. Shintya menyebutkan di Chile misalnya sudah ada kolaborasi pembangunan infrastruktur dengan perusahaan Indonesia.

http://globalplanet.news/berita/20842/pengusaha-sawit-ri-incar-potensi-pasar-amerika-latin

Indo Zone | Kamis, 17 Oktober 2019

Jokowi: Kita Ingin Indonesia Bisa Produksi Avtur dari Kelapa Sawit

Indonesia sendiri menyadari bahwa tekanan Eropa tidak bisa dibiarkan karena itu pemerintah menyusun rencana agresif meningkatkan kebijakan kadar pencampuran biodiesel dari B20 (20% campuran fatty acid methyl esters, produk turunan minyak sawit) ke B30. Presiden Jokowi pun berharap pada Januari 2020 nanti pelaksanaan mandatori biodiesel B30 sudah dapat dimulai. Jokowi menilai penerapan kebijakan B20 sejak 2018 membawa hasil cukup signifikan bagi ekonomi RI. “Saya ingin kurangi ketergantungan pada energi fosil dan paling penting kurangi impor minyak. Kalkulasi kala kita konsisten B20 ini, kita bisa hemat kurang lebih US$5,5 miliar per tahun. Ini angka yang gede banget,” ujar Jokowi saat Rapat Terbatas soal evaluasi pelaksanaan mandatory biodiesel di kantor Presiden, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Melihat angka tersebut, Jokowi pun ingin B20 buru-buru pindah ke B30 di 2020 mendatang. Dan selanjutnya di akhir 2020 sudah loncat lagi ke B50. Pemanfaatan kelapa sawit, lanjut Jokowi, selain untuk menyelamatkan devisa negara dari impor minyak, juga untuk mengatasi masalah yang menekan komoditas kelapa sawit selama ini. “Tekanan pada kelapa sawit betul-betul perlu diantisipasi dari dalam negeri sehingga kita bisa punya bargaining position (posisi tawar) pada Uni Eropa dan negara lain yang coba membuat bargaining position kita lemah,” kata Jokowi. Presiden juga telah meminta jajarannya untuk mendalami lebih jauh kemungkinan avtur dicampur CPO. Pencampuran dengan avtur, jika berhasil, bukan hanya meningkatkan pemanfaatan CPO, melainkan juga menekan impor avtur. Dengan diproduksinya avtur dalam negeri, maka Indonesia tidak hanya bisa menghentikan impor tapi juga bisa mengekspor avtur ke negara-negara lain. “Kita sudah memproduksi sendiri avtur hingga tidak impor avtur lagi. Tapi kita bisa lebih dari itu, kita bisa ekspor avtur, kita juga ingin produksi avtur berbahan sawit,” jelas Jokowi.

Presiden Jokowi pun mendorong pengusaha Tanah Air untuk berani menembus pasar dunia. Tidak hanya pengusaha, perusahaan plat merah atau BUMN pun dituntut untuk memberanikan diri melebarkan sayapnya ke kelas dunia. “Kita harus berani melakukan ekspansi tidak hanya bermain di pasar dalam negeri. Produk-produk kita harus mampu membanjiri pasar regional dan global. Pengusaha-pengusaha dan BUMN-BUMN kita harus berani menjadi pemain kelas dunia. Itu yang harus kita lakukan. Talenta-talenta kita harus memiliki reputasi yang diperhitungkan di dunia internasional itu yang harus kita siapkan. Sekali lagi kita harus semakin ekspansif, from local to global,” ujar Jokowi pada pidato kenegaraan di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (16/8). Jokowi pun menegaskan Indonesia harus segera berbenah jika ingin mewujudkan impian tersebut. Saat ini dinilai adalah momentum yang tepat untuk berbenah, karena Indonesia akan berada di puncak periode bonus demografi di antara tahun 2020 hingga 2024.

https://www.indozone.id/news/M7s9yM/jokowi-kita-ingin-indonesia-bisa-produksi-avtur-dari-kelapa-sawit

Bisnis | Kamis, 17 Oktober 2019

Produksi Minyak Sawit Indonesia Tumbuh 14 Persen

Produksi minyak sawit Indonesia tahunan sampai dengan Agustus 2019 tercatat meningkat 14% dibanding periode yang sama pada 2018. Berdasarkan laporan terbaru Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi minyak sawit sepanjang Januari–Agustus 2019 tercatat mencapai 34,7 juta ton atau 4 juta ton lebih tinggi dibanding capaian Januari–Agustus 2018 sebanyak 30,66 juta ton. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengemukakan produksi Agustus 2019 sebanyak 4,7 juta ton tumbuh 8,7% dibanding produksi pada Juli 2019 yang berada di angka 4,3 juta ton. Kenaikan produksi selama Agustus ini pun merupakan yang tertinggi sepanjang 2019 dan ditemui di hampir seluruh sentra produksi sawit. Iklim selama periode ini sejatinya kurang bersahabat untuk kelapa sawit lantaran kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kendati demikian, Mukti menyebutkan efek kekeringan tersebut akan berdampak pada produksi sawit 1 atau 2 tahun mendatang.

Di sisi lain, konsumsi domestik sampai Agustus 2019 tercatat mencapai 11,73 juta ton atau tumbuh 41,6% dibanding konsumsi periode yang sama tahun lalu sebanyak 8,28 juta ton. Mukti mengemukakan pertumbuhan ini tak lepas dari serapan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO untuk program biodiesel 20% (B20) yang berjalan tahun ini. “Kebijakan B20 yang sepanjang 2019 ini sudah menyerap CPO lebih dari 4 juta ton. Sampai akhir tahun, serapan dalam negeri untuk biodiesel bisa bertambah 6,4 juta ton,” kata Mukti, Kamis (17/10/2019). Serapan CPO dalam negeri diproyeksikan akan meningkat pada 2020 mendatang seiring diberlakukannya mandatori B30. Mukti memperkirakan akan ada tambahan serapan CPO domestik sebanyak 3 juta ton dari program ini sehingga konsumsi dalam negeri bisa bertambah 9,4 juta ton. “Kalau ini [B30] diterapkan, kemungkinan ada peningkatan di dalam negeri dan sedikit mengurangi ekspor. Kami harapkan dengan adanya ini harga menjadi membaik,” sambung Mukti. Gapki mencatat harga rata-rata CPO CIF Rotterdam Agustus 2019 mencapai US$541 per ton dan merupakan harga rata-rata bulanan tertinggi sejak Februari 2019. Tren kenaikan harga ini pun masih terlihat sampai akhir Agustus dan diharapkan dapat bertahan seiring pemberlakuan mandatori B30 pada awal 2020.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20191017/99/1160433/produksi-minyak-sawit-indonesia-tumbuh-14-persen

Tribun Kaltim | Kamis, 17 Oktober 2019

Selain Ekspor, LDC Siap Penuhi Kebutuhan Biodiesel dan Kopi Indonesia

Bandar Lampung merupakan salahsatu lokasi basis bisnis LDC Indonesia. Di daerah ini beroperasi kilang dan pabrik biodisel, pabrik dan gudang kopi, bahkan mendukung sekitar 5.000 petani kopi melalui berbagai proyek pelatihan. Dari Jakarta, tim jurnalis bergeser ke Bandar Lampung. Ada tiga lokasi yang dikunjungi yakni LDC Indonesia Refinery yang memproduksi biodisel, pabrik dan gudang kopi, serta lokasi para petani mitra. LDC Refinery Lampung dan Pabrik Biodisel berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta Way Lunik, Bandar Lampung. Luas arealnya mencapai kurang lebih 15 ribu meter persegi, berkapasitas pengilangan 2.000 ton per hari, kapasitas fraksinasi 1.800 ton per hari dan biodisel 1.000 ton perhari. Tempat pengolahan CPO ini memiliki sandar keamanan yang cukup tinggi dengan didukung teknologi yang serbaotomatis. Jumlah tenaga kerja pun sangat slim, hanya 98 orang. Menurut Plant Manager LDC Agustinus Setyo, LDC Indonesia Refinery Lampung siap memenuhi kebutuhan biodiesel Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 420 ribu ton per tahun. Produksi itu diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan Pertamina dan ekspor ke customer internasional.

Jika nantinya pemerintah memberlakukan biodiesel B30, kata Agustinus, pihaknya siap untuk menyediakan. “Selama ini kami menyuplai B20. Jika nantinya pemerintah setuju untuk B30, maka kami siap untuk memproduksinya,” kata Agustinus yang didampingi Regional Corporate Communication Manager LDC, Priscilla Teo. Selain genjot produksi, tutur Agustinus, pabriknya juga meningkatkan produk turunan dari crude palm oil (CPO). Pabrik ini dilengkapi dengan laboratorium yang memiliki sederetan peralatan berteknologi canggih yang bekerja cepat akurat dalam hal pemeriksaan kadar sampel dan produk lainnya. Mengenai pasar, Agustinus menyebut, selama ini memasok ke berbagai negara seperti Tiongkok, Eropa, Afrika, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara. Mengenai kepedulian kepada masyarakat sekitar, LDC intens melakukan berbagai kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Mulai dari merenovasi sekolah dan dan memberikan perlengkapannya, pendampingan guru, pemberian extrafooding, dan sosialisasi cara hidup sehat, kemudian donor darah, penanaman mangrove, dan pelatihan penanggulangan kebakaran. Soal kopi, LDC Indonesia pun sangat meresponi pasar secara berkelanjutan. Regional Coffee Operations Manager LDC, Ramil Bono mengakui, permintaan kopi tumbuh pesat. LDC Indonesia kini memiliki gudang kopi berkapasitas ribuan ton di Surabaya, Jawa Timur. Keberadaan gudang ini memangkas biaya pengiriman kopi dari Lampung ke Pulau Jawa. Bahkan jika permintaan terus meningkat, LDC Indonesia akan menambah jumlah gudang sesuai kebutuhan. Selain itu, LDC Indonesia juga mengolah kopi dan memiliki gudang sendiri di Jl Soekarno-Hatta Kilometer 6, Bandar Lampung. Unit bisnis ini mempekerjakan 62 karyawan. Di sini, kapasitas pengolahan kopi mencapai 24 metrik ton per jam dan kapasitas penyimpanan 35 ribu metrik ton. Menurut Ramil, selama ini LDC Indonesia mengekspor kopi ke Eropa dan Amerika Serikat. Sedangkan untuk pasar lokal, LDC memenuhi kebutuhan antara lain Kapal Api dan Mayora.

https://kaltim.tribunnews.com/2019/10/17/selain-ekspor-ldc-siap-penuhi-kebutuhan-biodiesel-dan-kopi-indonesia

Republika | Kamis, 17 Oktober 2019

Pemerintah Susun Peta Jalan Pengembangan Biofuel Basis CPO

Tim teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyusun Peta Jalan Pengembangan Biofuel Berbasis Crude Palm Oil (CPO) untuk memenuhi target bauran energi 2020-2045. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM Dadan Kusdiana menjelaskan peta jalan ini tidak akan berisi angka semata, namun sudah dilengkapi dengan pembagian tugas para pemangku kepentingan dan parameter keberhasilan program, termasuk peran litbang. “Roadmap ini diharapkan menjadi dokumen penting untuk pemerintah, agar dapat menjadi salah satu referensi di masa mendatang”, jelas Dadan, Kamis (17/10). Ditargetkan, dokumen roadmap sudah siap pada akhir November 2019. Adapun supervisi kegiatan ini adalah Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM. Penyusunan roadmap ini akan menjadi panduan, seberapa besar investasi untuk mencapai target yang ditetapkan, jumlah insentif, jumlah bahan baku, jenis bahan baku hingga cara mencapainya.

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna menyampaikan, untuk meningkatkan pasokan CPO sebagai bahan baku biofuel, pemerintah akan mendorong produksi di wilayah timur Indonesia mengingat wilayah barat sudah mulai jenuh. Namun hal ini juga akan dipertimbangkan lebih lanjut, karena akan membutuhkan infrastruktur tambahan dan investasi baru. “Banyak hal yang perlu disiapkan, baik penyiapan bahan baku maupun teknologinya. Perlu dikembangkan pula teknologi yang dapat menghasilkan FAME dengan karakter mendekati solar,” kata Feby. Melalui FGD, diharapkan akan diperoleh masukan dan perkembangan data serta informasi terkait program roadmap biofuel berbasis CPO, jawaban atas masalah terkait pendanaan, investasi dan keekonomian dari pemangku kepentingan di sektor kelapa sawit. Hasil FGD ini juga diharapkan akan menghimpun potensi dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi pemangku kepentingan di industri kelapa sawit dalam pengimplementasian program roadmap biofuel berbasis CPO.

https://republika.co.id/berita/pzipzb370/pemerintah-susun-peta-jalan-pengembangan-embiofuelem-basis-cpo

Bisnis | Kamis, 17 Oktober 2019

DBS Group : Mandatori B30 Plus Bisa Cegah Penurunan Harga CPO

Implementasi bauran biodiesel dalam kebijakan B30 dinilai dapat memainkan peran sebagai bantalan jika harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terus turun. DBS Group Research dalam penelitian terbarunya berjudul Indonesia Biodiesel: A Game Changer menyatakan bahwa program B30 bisa mencegah harga CPO turun ke level di bawah US$450 per ton. Jika menyentuh harga tersebut, sektor hulu industri berpotensi menghadapi kesulitan. Potensi tambahan serapan CPO lewat program B30 dan B50 diperkirakan mencapai 15 juta ton setiap tahunnya. Jumlah ini dinilai signifikan dan dapat meningkatkan total permintaan global sebesar 25% di atas pangsa pasar saat ini yang berkisar di angka 60 juta ton per tahun. “Bersamaan dengan itu, stok global hingga penggunaan dapat meningkat secara signifikan sehingga harga CPO dapat terangkat,” demikian disampaikan DBS Group seperti dikutip Bisnis, Rabu (16/10/2019). DBS Group menyebutkan harga CPO yang lebih tinggi dapat menjadi katalis yang dibutuhkan untuk industri. Dengan harga yang stabil pada US$500 per ton selama 9 bulan, dampak negatif dari harga rendah tecermin dalam laporan keuangan per kuartal yang kurang baik. “Urgensi untuk mendorong harga CPO melalui mandat biodiesel yang baru juga tak lepas dari kondisi nilai ekspor dan neraca perdagangan Indonesia yang turut dipengaruhi oleh harga CPO,” sambung laporan tersebut.

Selain memacu permintaan dalam negeri, program biodiesel diharapkan dapat menjadi pemisah harga CPO dan soybean oil (SBO). Jika dilihat secara historis, harga SBO kerap menjadi penentu batas tertinggi harga CPO dan dapat disimpulkan bahwa harga CPO dapat membaik jika rentang harga ke SBO menyempit menjadi kurang dari US$100 per ton. Meski rencana percepatan mandatori biodiesel terlihat menjanjikan, DBS Group menilai Indonesia perlu memperhatikan sejumlah tantangan yang mungkin terjadi. Salah satu tantangan ini adalah potensi kenaikan harga pangan yang dipicu kekurangan pasokan CPO akibat harga yang lebih kuat. “Kebutuhan CPO kita mungkin akan meningkat. Kondisi ini bisa mendorong kenaikan harga dan membuat CPO tak lagi atraktif. Hal ini bisa terjadi jika harga CPO bertahan di kisaran US$700 per ton dalam jangka waktu yang lama,” tulis DBS. Stabilisasi harga melalui peningkatan produksi pun dinilai bakal sulit meningkat ekstensifikasi lahan sawit yang terbatas dan realisasi peremajaan yang terkesan lambat. Selain itu, harga CPO yang meningkat diperkirakan bakal membuat subsidi untuk biodiesel membengkak demi menjamin daya beli konsumen. Tantangan permintaan lainnya adalah apakah konsumen bahan bakar di Indonesia, baik pemain industri atau pemilik mobil pribadi, telah siap untuk menggunakan biodiesel dengan campuran CPO yang lebih tinggi untuk menjalankan mesin kendaraan mereka. Pengemudi mungkin dapat menerima program biodiesel tersebut, tetapi mobil mereka mungkin tidak. Teknologi mesin mobil di Indonesia dirancang untuk menggunakan bahan bakar berbasis minyak, dan CPO memiliki karakteristik yang berbeda, terutama karena fakta bahwa CPO memiliki tingkat keasaman dan sensitivitas yang lebih tinggi pada suhu yang rendah . Pemantauan terhadap uji jalan biodiesel juga merupakan faktor yang krusial. Sejauh ini, deretan mobil produksi massal yang diuji dengan biodiesel menunjukkan kemajuan yang terlihat menjanjikan tanpa kerusakan besar atau penurunan kinerja mesin untuk biodiesel B30.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20191017/99/1160072/dbs-group-mandatori-b30-plus-bisa-cegah-penurunan-harga-cpo

Investor Daily Indonesia | Kamis, 17 Oktober 2019

Pakar ITB: Solar Ber-CN Tinggi Tingkatkan Performa Mesin Diesel

Masyarakat konsumen pengguna kendaraan mesin diesel diharapkan memakai Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang berkualitas, yaitu Dexlite dan Pertamina Dex, sebab memiliki kadar Cetane Number (CN) atau angka Setana tinggi sehingga meningkatkan performa atau unjuk kerja mesin. Ahli motor bakar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman Kartolaksono Reksowardojo, mengatakan jika mesin menggunakan solar kualitas bagus, maka pemakaian bahan bakar akan semakin efisien. Menurut dia, salah satu indikator kualitas BBM bagi mesin kendaraan mesin diesel memang CN. Semakin tinggi CN, maka kualitas solar semakin baik. “Ibarat makanan, solar berkualitas seperti Dexlite dan Pertamina Dex tentu lebih bergizi dibandingkan dengan solar subsidi. Karena, dengan mutu bahan bakar diesel yang baik, selain memberikan unjuk kerja yang baik dan motor lebih awet, emisi gas buang juga lebih baik,” kata Iman di Jakarta, Kamis (17/10). Selain Cetane Number, kandungan sulfur dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih solar. Dalam hal ini kandungan sulfur pada solar berkualitas seperti Dexlite dan Pertamina Dex, juga lebih rendah dibandingkan solar subsidi. Kandungan sulfur yang cukup tinggi pada solar subsidi, menurut Iman, dapat merusak komponen injektor dan mengakibatkan pembakaran menjadi tidak baik. Semakin rendah kandungan sulfur, maka emisi gas buang, saluran bahan bakar, filter solar, hingga ruang bakar akan lebih bersih. “Sulfur juga berpengaruh terhadap umur mesin. Semakin tinggi sulfur yang bersifat asam akan membuat mesin jadi mudah berkarat,” tambah Iman. Terkait kualitas BBM, menurut Iman, kualitas bahan bakar diesel akan meningkat jika dicampur dengan Biodiesel (FAME), karena akan meningkatkan Cetane Number serta membuat kadar sulfurnya menjadi nihil. Seperti diketahui, saat ini Pertamina mengeluarkan tiga jenis bahan bakar diesel, yakni Bio Solar, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertamina Dex memiliki Cetane Number 53 dengan kandungan sulfur di bawah 300 part per million (ppm). Sementara Dexlite dengan CN 51 dengan kandungan sulfur minimal 1.200 ppm. Sedangkan Bio Solar yang merupakan solar subsidi, memiliki CN 48 dengan kandungan sulfur 3.500 ppm.

https://investor.id/business/pakar-itb-solar-bercn-tinggi-tingkatkan-performa-mesin-diesel

Neraca | Jum’at, 18 Oktober 2019

Pemerintah Susun Roadmap Pengembangan Biofuel

Peta jalan pengembangan biofuel berbasis Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah tengah dikembangkan oleh tim teknis Kementerian Energi dah Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memenuhi target bauran energi 2020-2045. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM Dadan Kusdiana dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, menguraikan peta jalan mi tidak akan berisi angka semata, namun sudah dilengkapi dengan pembagian tugas para pemangku kepentingan dan parameter keberhasilan program, termasuk peran litbang. “Road map ini diharapkan menjadi dokumen penting untuk pemerintah, agar dapat menjadi salah satu referensi di masa mendatang,” jelas Dadan. Ditargetkan, dokumen peta jalan pengembangan biofuel berbasis sawit sudah siap pada akhir November 2019. Adapun supervisi kegiatan ini adalah Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM. Penyusunan peta jalan pengembangan biofuel itu akan menjadi panduan, seberapa besar investasi untukmencapai targetyangdite-tapkan, jumlah insentif, jumlah bahan baku, jenis ba-han baku, hingga cara mencapainya. Sementara itu, Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna menyampaikan untuk meningkatkan pasokan CPO sebagai bahan baku biofuel, pemerintah akan mendorong produksi di wilayah timur Indonesia, mengingat wilayah barat sudah mulai jenuh. Namun hal ini juga akan dipertimbangkan lebih lanjut, karena akan membutuhkan infrastruktur tambahan dan investasi baru. “Banyak hal yang perlu disiapkan, baik penyiapan bahan baku maupun teknologinya. Perlu dikembangkan pula teknologi yang dapat menghasilkan FAME dengan karakter mendekati solar,” pungkas Feby. Ia mengharapkan melalui forum diskusi grup akan mendapat masukan dan perkembangan data serta informasi terkait program peta jalan pengembangan biofuel berbasis sawit, jawaban atas masalah terkait pendanaan, investasi dan keekonomian dari pemangku kepentingan di sektor kelapa sawit. Dari diskusi tersebut juga diharapkan akan terhimpun potensi dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi pemangku kepentingan di industri Kelapa Sawit dalam pengimplementasian program penyusunan peta jalan biofuel berbasis CPO.

Kompas | Jum’at, 18 Oktober 2019

Biodiesel Dongkrak Konsumsi Domestik (MINYAK KELAPA SAWIT)

Konsumsi minyak sawit domestik, sepanjang Januari-Agustus 2019, mencapai 11,7 juta ton atau melonjak 44 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan konsumsi terutama dipengaruhi oleh perluasan pemakaian minyak sawit untuk biodiesel. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, produksi minyak Kelapa Sawit Indonesia selama Januari-Agustus 2019 mencapai 34,7 juta ton, naik 14 persen dibandingkan pada periode yang sama pada 2018. Sekitar 11,7 juta ton di antaranya diserap untuk konsumsi domestik dan 22,7 juta ton lainnya untuk ekspor. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/10/2019), mengatakan, konsumsi domestik sebesar 11,7 juta ton itu tergolong tinggi. Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu, peningkatannya 44 persen, salah satu penggunaan terbanyak adalah untuk biodiesel. Sementara, volume ekspor selama kurun itu naik 3,8 persen. Menurut Mukti, ada kenaikan volume, ekspor minyak Kelapa Sawit ke China dan diduga terkait dengan perang dagang. Perang dagang Amerika Serikat (AS)-China membuat kedelai AS tidak bisa masuk ke China. Berdasarkan data Gapki, ekspor minyak Kelapa Sawit dan minyak inti sawit ke China mencapai 421.430 ton pada Juni 2019. Sebulan kemudian, volumenya naik menjadi 496.880 ton, lalu naik lagi menjadi 605.210 ton pada Agustus 2019. “Peluang peningkatan ekspor ke China terbuka,” kata Mukti dalam konferensi terkait dengan penyelenggaraan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019. Sementara itu, ekspor ke India cenderung turun. Menurut Ketua Umum Gapki Joko Supriyono, ekspor minyak sawit ke India turun dari 412.100 ton pada Juli 2019 menjadi 291.320 ton pada Agustus 2019. Tingginya bea masuk, yaitu 44 persen untuk minyak sawit dan 54 persen untuk produk turunannya, dinilai menjadi pemicu. IPOC 2019 akan digelar di Bali, 30 Oktober-1 November 2019. Kegiatan itu akan membahas sejumlah isu, antara lain soal regulasi di negara tujuan ekspor dan perkembangan situasi geopolitik yang akan memengaruhi industri sawit pada tahun mendatang.