+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Agustus ini, Harga biodiesel dan bioetanol Turun Tipis

Agustus ini, Harga biodiesel dan bioetanol Turun Tipis

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) di bulan Agustus 2019 menurun dibandingkan posisi Juli lalu. Perinciannya, HIP biodiesel pada bulan ini ditetapkan senilai Rp 6.795 per liter, turun Rp 175 dari sebelumnya senilai Rp 6.970 per liter. Adapun harga bioetanol sebesar Rp 10.200 per liter, turun Rp 55 dari posisi sebulan sebelumnya Rp 10.255 per liter. Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM, Agung Pribadi, menyebutkan harga biodiesel saat ini dilatarbelakangi penurunan harga rata-rata crude Palm Oil (CPO). “Ketetapan penurunan ini mulai efektif berlaku sejak 1 Agustus 2019 sesuai Surat Direktur Jenderal EBTKE Nomor 2005/10/DJE/2019,” kata dia melalui siaran pers, kemarin. Pemerintah menghitung besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + USS 100 per ton) x 870 Kg per m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 91 K/12/DJE/2019. Komoditas jenis bioetanol juga terjadi penurunan harga setelah Kementerian ESDM menghitung berdasarkan formula yang telah ditetapkan, yaitu (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + US$ 0,25 per Liter sehingga diperoleh Rp 10.200 per liter untuk HIP bioetanol bulan Agustus 2019.

Harian Kontan | Selasa, 6 Agustus 2019
Produsen Siap Menjalankan Program B30

Pemerintah terus berupaya menekan defisit neraca perdagangan akibat desakan impor di sektor migas. Salah satu upaya itu adalah mendongkrak kontribusi pelaku industri dengan mendorong produksi green fuel seperti biodiesel B20 dan B30. Balian bakar tersebut merupakan campuran minyak na-l;iii dan minyak bumi. Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian, Edy Sutopo, mejelaskan pemerintah melakukan mitigasi dari sektor industri dengan penggunaan biofuel. Bahkan pemerintah akan mendorong penggunaan green fuel, green diesel, green gasoline dan green avtur. Akan tetapi, memproduksi aneka bahan bakar campuran tersebut membutuhkan waktu, termasuk pengujian dan studi lebih lanjut. Edy mengklaim, untuk saat ini implementasi kewajiban menggunakan campuran biodiesel sebesar 20% (B20) sudah berjalan dengan baik. “Untuk program B30, kami percaya akan siap dan tersedia di tahun 2020,” ungkap dia kepada KONTAN, kemarin. Demi melancarkan program biodiesel 30% alias B30 terha- dap seluruh kendaraan bermesin diesel di Indonesia, pemerintah memulai road test atau uji jalan penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Aspek-aspek yang diuji dalam road test tersebut meliputi aspek performance, tingkat emisi, serta dampak penggunaan bahan bakar B30 terhadap komponen-komponen mesin yang ada.

Produsen siap

Edy mengakui kesiapan kendaraan berada di tangan para agen pemegang merek (APM). “Dari sisi produksi biodiesel sudah disiapkan. Tinggal para pelaku industri yang menyesuaikan kebyakan ini,” ujar dia. Salah satu APM yang ikut serta yakni mem\’alankan program uji jalan tersebut adalah PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI). Isuzu menjalankan road test dengan mengambil rute perjalanan sekitar 40.000 kilometer (km) di daerah Jawa Barat. Proses uji jalan ini sudah dimulai sejak awal Mei tahun ini dan diharapkan selesai pada awal Oktober 2019. Adapun unit kendaraan yang diuji adalah truk ringan Isuzu NMR71. Secara terpisah, Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Santiko Wardoyo, menyatakan pihaknya siap berpartisipasi menyukseskan program B30. Sejak penerapan program B20, Hino Motors sudah siap ikut mengimplementasikan aturan pemerintah. Sehingga saat memasuki aturan B30, maka pabrikan otomotif asal Jepang ini siap menjalaninya. “Untuk saat ini, kami pelajari tesnya sampai Oktober 2019. Setelah itu baru kami putuskan penambahan atau mengubah spesifikasi kendaraan yang bersifat minor change,” kata Santiko kepada KONTAN, belum lama ini. Berkaca dari aturan B20, saat itu Hino harus menambah filter tambahan bagi kendaraannya. Sebab, umur satu filter yang biasanya bertahan selama 20.000 km berpotensi berkurang menjadi 10.000 km. Kelak, untuk penerapan B30 pada tahun depan, setiap kendaraan Hino sudah siap menggunakan bahan bakar tersebut. Namun tidak ada produk baru dalam waktu dekat yang akan mereka perkenalkan, sehingga hanya perubahan spesifikasi sEya. Merujuk data Kemperin, Indonesia masih mampu mencukupi bahan baku produksi biodiesel, yakni CPO. Kapasitas CPO nasional mencapai 38 juta ton pada tahun 2017.

Rakyat Merdeka | Selasa, 6 Agustus 2019
Alhamdulillah… Harga biodiesel Turun Rp 175

Direktorat Jenderal Energi Baru. Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) pada Agustus 2019. Untuk HIP jenis biodiesel ditetapkan sebesar Rp 6.795 per liter dan bioetanol sebesar Rp 10.200 per liter. Jika dibandingkan harga pada Juli 2019, biodiesel mengalami penurunan sebesar Rp 175 dari sebelumnya Rp 6.970 per liter. Begitupun bioetanol mengalami penurunan sebesar Rp 55 dari harga sebelumnya Rp 10.255 per liter. Kepala Biro Komunikasi. Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, HIP BBN tersebut untuk dipergunakan dalam pelaksanaan campuran 20 persen biodiesel dengan solar (mandatori B20) dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. “Tarif ini mulai efektif berlaku sejak 1 Agustus 2019 sesuai Surat Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Nomor 2OO5/1O/\’DJE/2O19,” kata Agung di Jakarta, kemarin.

Diterangkannya. lebih rinci, penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude Palm Oil (CPO). Untuk periode 15 Juni hingga 14 Juli 2019, harga rata-rata CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) yaitu Rp 6.394 per kg, turun dari harga periode sebelumnya sebesar Rp 6.573 perkg. Agung mengatakan, besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel yang diputuskan pemerintah dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar AS/ton) x 870 Kg/m3 + Ongkos Angkut. “Untuk besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 91 K/12/DJE/2019,” ujarnya. Sedangkan untuk jenis bioetanol, juga terjadi penurunan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 025 dolar AS/Liter sehingga didapatkan Rp 10.200/liter untuk HIP bioetanol bulan Agustus 2019. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juni hingga 14 Juli 2019,” tutup Agung. Sebagai informasi. HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

Bisnis | Senin, 5 Agustus 2019
Dua Pembangkit Diesel di Kaltim Siap Dikonversi ke CPO

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) merancang sejumlah program energi hijau. Pertama, dukungan melalui pengembangan Energi Baru dan Terbarukan EBT. Kedua, penggunaan teknologi rendah karbon seperti pembangkit USD, Fuel switching (pengalihan BBM ke Gas pada PLTG/GU/MG dan penggunaan campuran biofuel pada PLTD), serta upaya efisiensi pembangkit (CCGT, COgen, Classs H Gas Turbine). Dalam hal ini, PLN mulai mengimplementasikan peralihan penggunaan crude palm oil atau (CPO) 100% pada 2 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Kanaan yang terletak di Bontang, Kalimantan Timur dengan kapasitas 10 MW serta PLTD Batakan di Balikpapan, Kalimantan Timur dengan kapasitas 40 MW. Direktur Pengadaan strategis II PT PLN Djoko Raharjo Abumanan menyebutkan, hal itu dilakukan setelah PLTD dengan bahan bakar nabati berbasis 100% minyak kelapa sawit atau CPO milik di lokasi Belitung juga telah berhasil dilakukan pengujian. Djoko menuturkan proses modifikasi cukup rumit dilakukan karena sifat bahan bakar fosil yang berbeda dengan cpo yang merupakan bahan nabati. Selain itu, suplai CPO dari sejumlah produsen masih terbatas. Selama ini, kata dia, PLN memprioritaskan sumber energi untuk pembangkit dengan mengoptimalkan penggunaan energi yang berasal dari dalam negeri, seperti batubara dan gas, selain itu juga memperhatikan ketersediaan pasokan dan harga keekonomian. Namun, modifikasi ini harus perlu dilakukan untuk memberikan nilai tambah yakni energi bersih di samping mengurangi impor BBM.

Saat ini harga High Speed Diesel (HSD) yang terbilang mahal dengan kisaran harga bisa mencapai Rp10.000 hingga Rp12.000 lebih. Sedangkan untuk Marine Fuel Oil (MFO) bisa terbilang lebih murah dengan kisaran 0,65% hingga 0,85% dari harga HSD. “Apalagi CPO itu non impor, petaninya dari petani sawit jadi menjaga kearifan lokal.Uji coba modifikasi peralatan sudah oke. Mofidikasi pembangkit PLTD ke cpo perubahan itu menurut saya oke secara lingkungan,” jelasnya kepada Bisnis Senin (5/8/2019). Setelah Belitung dan Kalimantan Timur, PLN akan melanjutkan dengan proyek percontohan lainnya di PLTD Suppa di Pare-Pare, Sulawesi Selatan dengan kapasitas 62 MW. Serta pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) Jayapura Papua dengan kapasitas 10 MW. Dia memperhitungkan selama ini keempat pembangkit tersebut membutuhkan kapasitas 190.000 kiloliter diesel per tahunnya. Sehingga, langka konversi ini bisa mengurangi penggunaan diesel sejumlah itu setiap tahunnya. Biaya-biaya yang timbul untuk pengujian dapat diambil dari dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
https://kalimantan.bisnis.com/read/20190805/407/1132789/dua-pembangkit-diesel-di-kaltim-siap-dikonversi-ke-cpo