+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Akademisi Imbau Pemerintah Seriusi Pengembangan Bioenergi:

  • Akademisi Imbau Pemerintah Seriusi Pengembangan Bioenergi: Agar target diversifikasi energi tahun 2025 mendatang yang akan meningkatkan porsi energi terbarukan menjadi 5% dari total kebutuhan energi nasional, sudah saatnya berbagai rintisan penelitian, pengembangan dan pemanfaatan bioenergi dimulai dari sekarang dengan serius. “Jika saat ini 23 Juta kiloliter bensin diperlukan maka setidaknya 1,15 juta kiloliter bioetanol perlu diproduksi, ” ungkap Oetami Dwi Hajoeningtijas, selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). (AKURAT)

http://ekonomi.akurat.co/id-153410-read–akademisi-imbau-pemerintah-seriusi-pengembangan-bioenergi

  • Malaysia Tertinggal dari Indonesia Soal Campuran Sawit dalam Biodiesel: Rapat tingkat menteri Persatuan Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) ditunda untuk menunggu penyetaraan standar produksi biodiesel. Indonesia telah menerbitkan kebijakan penggunaan B20, sementara Malaysia baru menjalankan penggunaan B5. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan, rapat tingkat menteri CPOPC awalnya dilaksanakan pada 11-12 Januari 2018. “Kami sepakati bagaimana menyikapi Malaysia, ada beberapa catatan yang harus dibenahi karena belum siap,” kata Enggar setelah pembahasan CPOPC di Kantor Kementerian Koodinator Bidang Perekonomian. (KATADATA)

https://katadata.co.id/berita/2018/01/08/malaysia-tertinggal-dari-indonesia-soal-campuran-sawit-dalam-biodiesel

  • Swadesi, Budaya Pemimpin Visioner: Swadesi banyak diartikan sebagai gerakan untuk mendorong penggunaan barang-barang hasil karya bangsa sendiri dan menghindari produk asing. Swadesi ini dipelopori Bapak Bangsa India Mahatma Gandhi dalam pergerakan untuk kemerdekaan India. Budaya swadesi saat ini masih populer dan diterapkan di banyak negara. Misalnya, slogan kampanye America First, America First Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan slogan negara Make in India oleh pemerintah India, atau Creative Korea-nya Korea Selatan. Trump juga bersikap tegas terkait dengan trade deficit antarnegara, bahkan juga tegas terhadap perbedaan harga yang jauh antara pabrikan AS dan pesaingnya. Jika ada perbedaan harga antara barang impor dan barang produksi AS, Trump akan menetapkan pajak impor atas barang-barang tersebut Kebijakan pajak impor sudah berjalan. Misalnya, pajak yang dikenakan ke pabrikan pesawat pribadi Bombardier dari Canada dengan sentra produksinya di Irlandia Utara. Pabrikan tersebut dikenakan pajak impor yang sangat tinggi, sekitar 300 persen untuk setiap Bombardier yang dibeli konsumen AS. Tidak hanya barang-barang berteknologi yang dikenakan pajak impor tinggi, tetapi juga untuk barang olahan dari sumber daya alam (SDA) seperti biodiesel Indonesia. Produk biodiesel asal Indonesia terindikasi dumping atau biodiesel asal Indonesia dijual di bawah harga pasar produk sejenis di AS sehingga dikenakan pajak impor tambahan 50-an persen. Dengan kondisi itu, kita bisa melihat bahwa AS menerapkan program swadesi secara ketat atas visi Trump. (JAWA POS)
  • Tahun Ini, Kinerja LSIP Masih Sip (Mencermati prospek saham LSIP di tahun ini usai menjual aset lahan yang tidak produktif): Sejumlah sentimen positif akan mendorong kinerja PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) pada tahun ini. Perusahaan sawit milik Grup Salim ini diprediksi bisa mengantongi kenaikan laba lebih tinggi. Selain disokong potensi kenaikan produksi, LSIP juga akan mendapat tambahan pendapatan, dari penjualan aset menganggur yang tidak dimanfaatkan (idle asset). Belum lama ini, LSIP menjual lahan 125 hektare (ha) di Cikupa, Tangerang, kepada PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Nilainya mencapai Rp 375 miliar. Novilya Wiyatno, Analis Mega Capital Sekuritas, juga menilai LSIP bisa meningkatkan produksi. Hingga September 2017, produksi tandan buah segar (TBS) LSIP sudah naik 16,1% year cm year (yoy) menjadi 946.418 ton. Lalu, produksi CPO meningkat 13,5% yoy menjadi 288.205 ton. “Ada potensi ekspor ke China karena ada program biodiesel 5%,” ungkap dia. Ketiga analis merekomendasikan buy saham LSIP. No-vilya memberi target harga Rp 1.560 per saham. Joni dan Hariyanto masing-masing mematok target harga Rp 1.540 dan  Rp 1.675. Kemarin, LSIP ditutup di Rp 1 .400 per saham. (KONTAN)