+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Ammdes Mulai Diproduksi Massal

Bisnis Indonesia | Selasa, 22 Januari 2019

Ammdes Mulai Diproduksi Massal

Alat mekanis multiguna perdesaan (Ammdes) mulai diproduksi massal dengan target 3.000 unit pada tahun ini. Ammdes dipasarkan seharga Rp65 juta-Rp70 juta. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, Ammdes telah menjalani serangkaian uji coba dalam rangka pengembangan produksi. Saat ini, telah tersedia distributor Ammdes, dan suku cadangnya pun telah tersedia di pasaran. “Saat ini, Ammdes siap diproduksi sebanyak 3.000 unit, dan kami akan tingkatkan menjadi 9.000-15.000 unit per tahun. Produksi secara massal akan dimulai pada 2019,” ujarnya. Senin (21/1). Airlangga menyatakan harga Ammdes dibanderol sekitar Rp65 juta-Rp70 juta di luar aksesorinya. Jika terjadi penambahan komponen, seperti pompa dan lainnya, harganya akan bertambah. Ammdes akan menggunakan bahan bakar standar emisi Euro 2 atau Biodiesel 20% (B20). Dia menyebutkan, PT Kiat Mahesa Win-tor Indonesia (PT KMWI) selaku produsen Ammdes, telah membangun komitmen kerja sama dengan lebih dari 70 industri komponen dalam negeri untuk menjadi pemasok komponen mobil “Rak Tani” tersebut Para pemasok komponen itu sebagian besar adalah industri kecil dan menengah [IKM]. Saat ini, IKM yang terlibat telah mampu memproduksi 184 jenis komponen atau setara 70% dari nilai harga Ammdes,” terangnya.

Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk. Hamdhani Dzulkamaen mengatakan, Ammdes yang merupakan produk dari PT KMW1, perusahaan patungan antara PT Kiat Inovasi Indonesia (Kil) dan PT Velasto Indonesia sebagai anak usaha Astra Otoparts, siap diproduksi massal. “Kami siap memproduksi secara bertahap mulai 3.000 unit hingga dapat memenuhi target 15.000 unit per tahun,” ujarnya. Menurut Hamdhani, antusiasme permintaan Ammdes sangat baik. Pihaknya optimistis dapat memenuhi kebutuhan dan spesifikasi yang diinginkan pasar. Ammdees akan diproduksi di pabrik yang berlokasi di Citeureup dan Klaten. Produk Ammdes dengan merek KMW ini menggunakan bahan bakar bensin dan solar yang memiliki sistem penggerak tunggal dengan kecepatan maksimal 40 km per jam, kapasitas silinder tidak melebihi dari 700 cc atau setara dengan 14-15 PK, dengan daya angkut beban mencapai 700 kg. Ammdes KMW disiapkan dengan tiga tipe, model fix bin dengan PTO Power Take Off (PTO – mengambil tenaga dari sumber daya, dan mentransmi-sikannya untuk aplikasi yang lain), model fixed bin dengan didukung alat mesin pertanian, dan model flat deck atau armada penumpang dengan PTO. Untuk unit Ammdes KMW yang memiliki fasilitas integrated PTO, dapat diaplikasikan dengan alat pemecah gabah, pemutih padi, pompa irigasi, generator, dan berbagai pera-latan lainnya.

Bisnis | Senin, 21 Januari 2019

Di Amerika, Mendag Samakan Pentingnya CPO bagi Indonesia dengan Boeing bagi AS

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mempromosikan produk minyak kelapa sawit atau CPO Indonesia ke Amerika Serikat dalam kunjungannya ke Washington DC, AS. AS merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia untuk CPO. Promosi itu disampaikan saat Enggar membuka Indonesia Palm Oil Forum yang diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di AS. Dalam forum itu turut hadir berbagai pelaku usaha, antara lain Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDB-KS), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), hingga Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Enggar mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi dan perdagangan global, kolaborasi dan kemitraan sangat penting untuk meningkatkan investasi dan perdagangan secara berkelanjutan. “Minyak kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu fokus khusus dalam rangkaian kunjungan kerja kami ke AS,” ujar Enggar dalam keterangan tertulis, Senin (21/1/2019). Enggar berharap lewat forup tersebut terjadi dialog antara para pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan, khususnya komoditas CPO.

CPO dan produk turunannya dianggap memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Dia menyebutkan, CPO berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dan pengembangan daerah pedesaan, serta mendukung pembangunan ekonomi nasional secara umum. Upaya mengembangkan sektor CPO untuk mempromosikan pembangunan pedesaan dan mengatasi kemiskinan di Indonesia dimulai sejak akhir 1990-an. Hal itu jauh sebelum adopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada 2015. Pada tahun 2001-2010, sektor CPO di Indonesia telah membantu 10 juta orang keluar dari kemiskinan dan 1,3 juta penduduk desa diangkat dari garis kemiskinan. Selain itu lanjut Enggar, budidaya kelapa sawit dapat menghasilkan pendapatan yang tinggi dan stabil untuk petani kecil. Sektor tersebut juga menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 5,5 juta orang dan mata pencaharian 21 juta orang. “Indonesia bergantung pada industri ini. Perkebunan kelapa sawit juga berkontribusi pada pengembangan sekolah dan rumah sakit, serta pusat budaya, agama, dan olahraga di wilayah perkebunan kelapa sawit,” kata Enggar.

Dengan produksi mencapai 35,36 juta metrik ton pada 2017, CPO Indonesia menjadi industri raksasa yang menghasilkan pendapatan ekspor sebesar 22,8 miliar dollar AS. Oleh karena itu, kata Enggar, tepat dikatakan jika industri CPO adalah salah satu sektor yang paling penting bagi ekonomi Indonesia. Dia menyamakannya seperti Boeing yang penting bagi AS atau Airbus bagi Uni Eropa. Menurut Enggar, produksi CPO yang tinggi dapat melestarikan cadangan minyak global. “Indonesia berupaya meningkatkan produktivitas CPO sekaligus mengatasi tantangan sosial dan lingkungan sehingga produksi CPO Indonesia tidak akan merusak alam,” lanjut dia. Sementara itu dari sektor kesehatan, banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi asam lemak jenuh dari minyak kelapa sawit tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Untuk itu, Enggar menekankan pentingnya perdagangan yang adil terhadap minyak kelapa sawit dan menghapus praktik perdagangan diskriminatif yang merugikan sektor minyak kelapa sawit demi kepentingan komersial semata.

https://ekonomi.kompas.com/read/2019/01/21/094200026/di-amerika-mendag-samakan-pentingnya-cpo-bagi-indonesia-dengan-boeing-bagi

Neraca | Senin, 21 Januari 2019

Indonesia-Amerika Berkomitmen Tingkatkan Nilai Perdagangan – Niaga Bilateral

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen meningkatkan nilai perdagangan masing-masing negara. “Indonesia dan AS memiliki keinginan yang sama guna meningkatkan hubungan perdagangan,” kata Arlinda dalam acara Business Matching Indonesia-USA yang diselenggarakan di Konjen RI di New York, Amerika Serikat, disalin dari Antara, pekan lalu. Arlinda ketika memberikan kata sambutan dalam acara tersebut memaparkan pada periode Januari hingga Oktober 2018, perdagangan antara kedua negara meningkat 2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Menurut dia, pada saat ini juga terjadi peningkatan korporasi yang berasal dari Negeri Paman Sam yang ingin berinvestasi di dalam Indonesia. Dirjen PEN juga mengemukakan dalam rangka menunjukkan keseriusan tersebut, dalam rangka kunjungan Mendag ke AS, pihaknya membawa pengusaha dari sekitar 15 perusahaan.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyambut 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Amerika Serikat dengan mengawali kunjungan diplomasi perdagangan Indonesia tahun 2019 ini ke AS. “Kunjungan kerja sekaligus misi dagang ini dilakukan karena AS merupakan salah satu negara terpenting tujuan ekspor Indonesia dan sumber investasi asing saat ini. Melalui kunjungan kerja ini, Indonesia terus menjaga dialog terbuka untuk memperkuat kemitraan perdagangan dan investasi dengan AS,” jelas Mendag. Delegasi bisnis Indonesia yang menyertai kunjungan kerja Mendag kali ini terdiri dari para pengusaha yang berminat mengembangkan ekspor dan impor dengan AS, serta melakukan investasi baik di AS maupun di Indonesia. Hal ini merupakan kelanjutan dari kunjungan kerja pada bulan Juli 2018, di mana Mendag RI dan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross antara lain sepakat untuk meningkatkan perdagangan dua arah dari 28 miliar dolar AS saat ini menjadi 50 miliar dolar AS.

Sejumlah pengusaha Indonesia yang akan mengikuti misi dagang ini antara lain bergerak di sektor kelapa sawit, alumunium dan baja, hasil laut, kedelai dan gandum, kapas dan tekstil, kopi, ban mobil, emas dan perhiasan. Selain itu, turut serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Indonesia Biofuels Producers Association (APROBI-IBPA) dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Sebagaimana diketahui, total perdagangan Indonesia-AS mencapai 25,92 miliar dolar AS, surplus untuk Indonesia sebesar 9,7 miliar dolar AS. Sementara total perdagangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif sebesar 0,39 persen. Pada tahun 2017, AS merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-2 setelah China dengan nilai 17,1 miliar dolar AS. Sedangkan produk ekspor utama Indonesia ke AS, antara lain udang; karet alam; alas kaki; ban, dan pakaian wanita.

Sebelumnya, Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan “Generalized System of Preferences” (GSP) oleh Amerika Serikat. “Untuk GSP, kita sudah ada kemajuan dan mereka (pemerintah Amerika Serikat) akan membahas lebih lanjut karena ada beberapa hal yang harus kita penuhi sambil menunggu kita memenuhi komitmen,” kata Mendag setelah melakukan pembahasan GSP di Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) di Washington DC, Amerika Serikat, disalin dari Antara. Enggartiasto mengungkapkan bahwa proses evaluasi yang dilakukan AS terhadap status Indonesia sebagai negara penerima GSP masih berjalan sehingga berbagai fasilitas terkait GSP yang diterima oleh beragam komoditas yang diekspor dari RI ke AS juga masih berlaku.

Mendag juga mengemukakan, dirinya juga bertemu dengan Kamar Dagang dan Industri AS (United States Chamber of Commerce) yang juga menunjukkan dukungan agar berbagai produk dari Indonesia juga masih tetap mendapatkan fasilitas GSP dari pemerintahan AS. “Kadin AS akan bertemu Duta Besar USTR untuk membicarakan mengenai GSP,” ucapnya. Sebagaimana diketahui, GSP merupakan program pemerintah AS dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi negara-negara berkembang, yaitu dengan membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara itu, termasuk Indonesia, ke dalam negeri Paman Sam tersebut. Sebanyak 3.546 produk Indonesia diberikan fasilitas GSP berupa eliminasi tarif hingga 0 persen. Dalam tujuh bulan terakhir, Pemerintah Indonesia telah melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan AS agar status Indonesia dapat tetap dipertahankan di bawah skema GSP. Hal tersebut karena program ini dinilai memberi manfaat baik kepada eksportir Indonesia maupun importir AS yang mendapat pasokan produk yang dibutuhkan. Pada Oktober 2017, Pemerintah AS melalui USTR mengeluarkan Peninjauan Kembali Penerapan GSP Negara (CPR) terhadap 25 negara penerima GSP.

http://www.neraca.co.id/article/111920/niaga-bilateral-indonesia-amerika-berkomitmen-tingkatkan-nilai-perdagangan

Okezone | Senin, 21 Januari 2019

Indonesia-Amerika Sepakat Tingkatkan Nilai Perdagangan

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen meningkatkan nilai perdagangan masing-masing negara. “Indonesia dan AS memiliki keinginan yang sama guna meningkatkan hubungan perdagangan,” kata Arlinda dalam acara Business Matching Indonesia-USA yang diselenggarakan di Konjen RI di New York, Amerika Serikat, dilansir dari Harian Neraca, Senin (21/1/2019). Arlinda ketika memberikan kata sambutan dalam acara tersebut memaparkan pada periode Januari hingga Oktober 2018, perdagangan antara kedua negara meningkat 2,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Menurut dia, pada saat ini juga terjadi peningkatan korporasi yang berasal dari Negeri Paman Sam yang ingin berinvestasi di dalam Indonesia. Dirjen PEN juga mengemukakan dalam rangka menunjukkan keseriusan tersebut, dalam rangka kunjungan Mendag ke AS, pihaknya membawa pengusaha dari sekitar 15 perusahaan.

Sebagaimana diwartakan, Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyambut 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Amerika Serikat dengan mengawali kunjungan diplomasi perdagangan Indonesia tahun 2019 ini ke AS. “Kunjungan kerja sekaligus misi dagang ini dilakukan karena AS merupakan salah satu negara terpenting tujuan ekspor Indonesia dan sumber investasi asing saat ini. Melalui kunjungan kerja ini, Indonesia terus menjaga dialog terbuka untuk memperkuat kemitraan perdagangan dan investasi dengan AS,” jelas Mendag. Delegasi bisnis Indonesia yang menyertai kunjungan kerja Mendag kali ini terdiri dari para pengusaha yang berminat mengembangkan ekspor dan impor dengan AS, serta melakukan investasi baik di AS maupun di Indonesia. Hal ini merupakan kelanjutan dari kunjungan kerja pada bulan Juli 2018, di mana Mendag RI dan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross antara lain sepakat untuk meningkatkan perdagangan dua arah dari USD28 miliar saat ini menjadi USD50 miliar.

Sejumlah pengusaha Indonesia yang akan mengikuti misi dagang ini antara lain bergerak di sektor kelapa sawit, alumunium dan baja, hasil laut, kedelai dan gandum, kapas dan tekstil, kopi, ban mobil, emas dan perhiasan. Selain itu, turut serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Indonesia Biofuels Producers Association (APROBI-IBPA) dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Sebagaimana diketahui, total perdagangan Indonesia-AS mencapai USD25,92 miliar, surplus untuk Indonesia sebesar USD9,7 miliar. Sementara total perdagangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif sebesar 0,39%. Pada tahun 2017, AS merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-2 setelah China dengan nilai USD17,1 miliar. Sedangkan produk ekspor utama Indonesia ke AS, antara lain udang; karet alam; alas kaki; ban, dan pakaian wanita.

Sebelumnya, Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan “Generalized System of Preferences” (GSP) oleh Amerika Serikat. “Untuk GSP, kita sudah ada kemajuan dan mereka (pemerintah Amerika Serikat) akan membahas lebih lanjut karena ada beberapa hal yang harus kita penuhi sambil menunggu kita memenuhi komitmen,” kata Mendag setelah melakukan pembahasan GSP di Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) di Washington DC, Amerika Serikat, disalin dari Antara. Enggartiasto mengungkapkan bahwa proses evaluasi yang dilakukan AS terhadap status Indonesia sebagai negara penerima GSP masih berjalan sehingga berbagai fasilitas terkait GSP yang diterima oleh beragam komoditas yang diekspor dari RI ke AS juga masih berlaku. Mendag juga mengemukakan, dirinya juga bertemu dengan Kamar Dagang dan Industri AS (United States Chamber of Commerce) yang juga menunjukkan dukungan agar berbagai produk dari Indonesia juga masih tetap mendapatkan fasilitas GSP dari pemerintahan AS. “Kadin AS akan bertemu Duta Besar USTR untuk membicarakan mengenai GSP,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, GSP merupakan program pemerintah AS dalam rangka mendorong pembangunan ekonomi negara-negara berkembang, yaitu dengan membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara itu, termasuk Indonesia, ke dalam negeri Paman Sam tersebut. Sebanyak 3.546 produk Indonesia diberikan fasilitas GSP berupa eliminasi tarif hingga 0%. Dalam tujuh bulan terakhir, Pemerintah Indonesia telah melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan AS agar status Indonesia dapat tetap dipertahankan di bawah skema GSP. Hal tersebut karena program ini dinilai memberi manfaat baik kepada eksportir Indonesia maupun importir AS yang mendapat pasokan produk yang dibutuhkan. Pada Oktober 2017, Pemerintah AS melalui USTR mengeluarkan Peninjauan Kembali Penerapan GSP Negara (CPR) terhadap 25 negara penerima GSP.

https://economy.okezone.com/read/2019/01/21/320/2007277/indonesia-amerika-sepakat-tingkatkan-nilai-perdagangan?page=2

Tribunnews | Senin, 21 Januari 2019

Mendag Promosikan CPO Indonesia di Amerika, Samakan Pentingnya dengan Industri Boeing

Produk minyak kelapa sawit atau CPO Indonesia kini sedang menghadapi tantangan di luar negeri. Padahal, sebagaian besar masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari kelapa sawit. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berkunjung ke ke Washington DC, AS. Kedatangan Mendag Enggartiasto Lukita ini dalam angka mempromosikan produk minyak kelapa sawit Indonesia. AS sendiri merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia untuk CPO. Promosi itu disampaikan saat Enggar membuka Indonesia Palm Oil Forum yang diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di AS. Dalam forum itu turut hadir berbagai pelaku usaha, antara lain Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDB-KS). Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Hingga Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). Enggar mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi dan perdagangan global, kolaborasi dan kemitraan sangat penting untuk meningkatkan investasi dan perdagangan secara berkelanjutan.

“Minyak kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu fokus khusus dalam rangkaian kunjungan kerja kami ke AS,” ujar Enggar dalam keterangan tertulis, Senin (21/1/2019). Enggar berharap lewat forup tersebut terjadi dialog antara para pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan, khususnya komoditas CPO. CPO dan produk turunannya dianggap memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Dia menyebutkan, CPO berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dan pengembangan daerah pedesaan, serta mendukung pembangunan ekonomi nasional secara umum. Upaya mengembangkan sektor CPO untuk mempromosikan pembangunan pedesaan dan mengatasi kemiskinan di Indonesia dimulai sejak akhir 1990-an. Hal itu jauh sebelum adopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada 2015. Pada tahun 2001-2010, sektor CPO di Indonesia telah membantu 10 juta orang keluar dari kemiskinan dan 1,3 juta penduduk desa diangkat dari garis kemiskinan. Selain itu lanjut Enggar, budidaya kelapa sawit dapat menghasilkan pendapatan yang tinggi dan stabil untuk petani kecil.

Sektor tersebut juga menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 5,5 juta orang dan mata pencaharian 21 juta orang. “Indonesia bergantung pada industri ini. Perkebunan kelapa sawit juga berkontribusi pada pengembangan sekolah dan rumah sakit, serta pusat budaya, agama, dan olahraga di wilayah perkebunan kelapa sawit,” kata Enggar. Dengan produksi mencapai 35,36 juta metrik ton pada 2017, CPO Indonesia menjadi industri raksasa yang menghasilkan pendapatan ekspor sebesar 22,8 miliar dollar AS. Oleh karena itu, kata Enggar, tepat dikatakan jika industri CPO adalah salah satu sektor yang paling penting bagi ekonomi Indonesia. Dia menyamakannya seperti Boeing yang penting bagi AS atau Airbus bagi Uni Eropa. Menurut Enggar, produksi CPO yang tinggi dapat melestarikan cadangan minyak global. “Indonesia berupaya meningkatkan produktivitas CPO sekaligus mengatasi tantangan sosial dan lingkungan sehingga produksi CPO Indonesia tidak akan merusak alam,” lanjut dia. Sementara itu dari sektor kesehatan, banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi asam lemak jenuh dari minyak kelapa sawit tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Untuk itu, Enggar menekankan pentingnya perdagangan yang adil terhadap minyak kelapa sawit dan menghapus praktik perdagangan diskriminatif yang merugikan sektor minyak kelapa sawit demi kepentingan komersial semata. (*)

http://pontianak.tribunnews.com/2019/01/21/mendag-promosikan-cpo-indonesia-di-amerika-samakan-pentingnya-dengan-industri-boeing?page=all