+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Amran Lirik Argentina

Bisnis Indonesia | Rabu, 7 Agustus 2019
Amran Lirik Argentina

Kementerian Pertanian menargetkan ekspor minyak kelapa sawit [crude palm oil/CPO) ke Argentina dapat tumbuh positif secara bertahap menyusul sejumlah lobi yang telah dilancarkan pemerintah ke negeri Tango itu. Sebagai negara produsen CPO terbesar di dunia, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan ekspor komoditas tersebut ke Argentina masih kecil, baru mencakup 4% dari total volume impor minyak kelapa sawit. Dia pun menjelaskan bahwa upaya peningkatan ekspor CPO menjadi salah satu pembahasan yang diangkat kala bertemu dengan Presiden Argentina Mauricio Marci pada penghujung Juli lalu. “Kami baru saja dari Argentina, CPO kita peringkat keempat di negara tersebut. Kami minta kalau bisa bertengger nomor satu sebagai pemasok terbesar. Volume kita hanya 4% di sana, kalau bisa kita naikkan bertahap ke sana 10%, 20%, 30%,” ujar Amran di Jakarta, Selasa (6/8). Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), volume ekspor CPO dan palm kernel oil (PKO) masih didominasi China dengan volume total sebesar 2,10 juta ton sepanjang Januari-Mei 2019.

Posisi kedua diduduki negara-negara anggota Uni Eropa sebesar 2,02 juta ton dan disusul India sebesar 1,84 juta ton.Amran tak memerinci besaran volume ekspor CPO ke Argentina dalam beberapa tahun terakhir, tetapi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2018 lalu nilai ekspor CPO mencapai US$17,89 miliar, turun dibanding capaian nilai ekspor pada 2017 yang menyentuh US$20,34 miliar.Dari besaran tersebut, BPS mencatat volume ekspor ke mitra dagang nontradisional pada 2018 berjumlah 6,44 juta ton. Selain mendorong ekspor CPO ke Argentina, buah-buahan tropis juga menjadi komoditas yang ditawarkan Indonesia. Kedua negara rencananya akan me nandatangani kerja sama peningkatan perdagangan bidang pertanian pada September mendatang di Jakarta. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada 2018 lalu total perdagangan kedua negara mencapai US$1,67 miliar. Dari total perdagangan tersebut, Indonesia membukukan defisit perdagangan sampai US$1,2 miliar.

Angka defisit ini meningkat dibandingkan defisit pada 2017 yang sebesar US$891,22 juta. Secara umum, ekspor sektor pertanian sendiri, ujar Amran, terus memperlihatkan performa positif selama 5 tahun terakhir. Ia menyebutkan pada 2013 total ekspor komoditas pertanian berada di angka 33 juta ton dan terus tumbuh sampai menyentuh rekor tertinggi 42,5 juta ton pada 2018. Amran menargetkan volume ekspor sektor pertanian pada 2019 dapat kembali tumbuh dengan besaran minimum 45 juta ton. “Biasanya ekspor pertanian tumbuh sekitar 300.000 ton per tahun, namun dalam 5 tahun terakhir kenaikan ekspor rata-rata 2,4 juta ton,” tuturnya. Sementara itu, langkah Indonesia untuk meningkatkan ekspor CPO ke Argentina harus dihadapkan dengan sejumlah tantangan mengingat status negara beribu kota Buenos Aires tersebut sebagai produsen minyak nabati. Kendati demikian, target untuk memasok 20% dari total impor CPO Argentina dinilai cukup realistis jika melihat potensi perdagangan kedua negara. “Banyak potensi perdagangan antara kedua negara yang belum kita manfaatkan untuk ekspor, istilahnya untapped potential-nya tinggi. Potensi untuk meningkatkan ekspor CPO ke Argentina tergolong tinggi dan 20% itu sebetulnya angka yang tidak terlalu agresif bila kita menghitung ekspor CPO dan turunannya,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Ramdani saat dihubungi Bisnis, Selasa (6/8). Shinta mencatat sepanjang 2018, nilai transaksi impor CPO asal Indonesia yang dilakukan Argentina baru menyentuh angka US$2 juta. Padahal total impor minyak nabati negara tersebut tahun lalu mencapai angka US$92,5 juta. “Sebenarnya masih banyak ruang untuk tumbuh. Apalagi jika kita menargetkan untuk mengekspor produk-produk turunan CPO seperti sabun, kosmetik, fatty acid, produk oleochemical, dan lainnya,” papar Shinta.

HAMBATAN DAGANG

Opsi ekspor produk turunan ini, lanjut Shinta, merupakan celah yang bisa digunakan Indonesia untuk menyiasati kemungkinan pengenaan hambatan perdagangan. Pasalnya, minyak nabati asal Kelapa Sawit yang diproduksi Indonesia merupakan pesaing langsung bagi Argentina dan sejumlah negara Amerika Latin lainnya yang juga memproduksi produk subtitusinya. Untuk Argentina, negara tersebut tercatat mengekspor minyak nabati dengan nilai US$3,9 miliar ke seluruh dunia pada 2018, lebih rendah dibanding Indonesia yang menorehkan angka US$17,89 miliar lewat ekspor CPO. “Jadi jangan hanya satu jenis barang tapi berbagai macam turunan CPO. Agar kita tidak mudah terkena mekanisme trade defense seperti safeguard, anti-dumping atau anti-subsidi yang rentan dikenakan pada CPO kita,” sambungnya. Terkait permasalahan daya saing, Shinta mengutarakan Indonesia perlu memastikan produk Kelapa Sawit dalam negeri bisa dihasilkan seefisien mungkin, terutama dajam hal transportasi sehingga ke depannya bisa bersaing dengan minyak nabati lokal. “Indonesia dan Argentina sama-sama terkena tuduhan dumping dari Uni Eropa untuk biodiesel, negara tersebut juga gudang jagung dunia yang juga diolah menjadi minyak nabati dan biofuel yang diekspor ke berbagai negara. Kuncinya CPO kita harus bisa bersaing dengan produk mereka,” ujarnya. Di sisi lain, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Joko Supriyono menilai realisasi perluasan ekspor CPO ke Argentina memiliki potensi yang kecil mengingat jarak negara tersebut yang terlampau jauh dibanding mitra tradisional lainnya. Selain itu, Joko berpendapat CPO Indonesia masih sulit bersaing dengan minyak kedelai yang diproduksi negara Amerika Latin. Indonesia pun ia sebut perlu menganalisis pasar Argentina terlebih dahulu jika menargetkan perluasan ekspor. “Jarak Indonesia ke sana terlalu jauh dan kalah kompetitif dibanding minyak kedelai asal Amerika Latin. Kalau sesama sawit kita juga kalah dibanding Kolombia,” tutur Joko.

Investor Daily Indonesia | Rabu, 7 Agustus 2019
Semester 1-2019, Ekspor Minyak Sawit Naik 10%

Ekspor minyak sawit nasional pada semester 1-2019 mencapai 16,84 juta ton, atau naik 10,07% dari periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 15,30 juta ton. Kenaikan ekspor tersebut dipicu melonjaknya impor minyak sawit oleh Tiongkok dari Indonesia hingga 39%. Perang dagang yang dilakukan Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS) membuat Negeri Tirai Bambu tersebut memilih membeli minyak sawit dari Indonesia ketimbang mendatangkan kedelai dari Negeri Paman Sam. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan, volume ekspor minyak sawit Indonesia pada Juni 2019 anjlok 266 ribu ton menjadi 2,52 juta ton dari 2,79 juta ton pada Mei 2019. Sementara itu, pada Januari-Juni 2019 ekspor minyak sawit Indonesia (minyak sawit mentah/\’crude palm oil/CPO dan turunannya, biodiesel, dan oleokimia) mencapai 16,84 juta ton atau naik 10,07% dari periode sama 2018 yang se- banyak 15,30 juta ton. Khusus ekspor CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleokimia), pada Januari-Juni 2019 mencapai 15,24 juta ton atau hanya mampu terkerek 7,60%.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia masih terus menghadapi tantangan global yang berat. Salah satunya adalah adanya ketidakpastian dalam dinamika pasar minyak nabati dunia. Permintaan dari pasar ekspor tidak meningkat signifikan sehingga harga CPO tetap bergerak pada kisaran harga yang rendah. Sementara itu, pertumbuhan daya serap pasar minyak sawit di dalam negeri juga tidak terlalu besar. “Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada semester 1-2019 hanya tumbuh 10%, tidak tumbuh secara maksimal, itu karena ada beberapa dinamika di pasar global khususnya di negara tujuan seperti India, Uni Eropa (UE), Tiongkok, dan AS,” kata dia di Jakarta, Selasa (6/8). Kenaikan volume ekspor pada semester 1-2019 itu, kata Mukti Sardjono, seharusnya masih bisa digenjot lebih tinggi lagi. Tapi, karena beberapa hambatan perdagangan membuat kinerja ekspor tidak maksimal. Di India misalnya, Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia khususnya untuk refined products karena bea masuk (BM) atas refined products dari Indonesia lebih tinggi daripada Malaysia dengan selisih 9%. Sementara itu, UE yang menggaungkan RED IIILUC dan tuduhan subsidi biodiesel ke Indonesia sedikit banyak mempengaruhi ekspor Indonesia ke kawasan tersebut. Di sisi lain, perang dagang Tiongkok dan AS juga telah mempengaruhi pasar minyak nabati dunia. Volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester 1-2019 mengalami penurunan hampir di semua negara tujuan utama ekspor Indonesia kecuali Tiongkok. Pada semester 1-2019, Tiongkok mengimpor CPO dan turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleokimia) dari Indonesia dengan kenaikan sebesar 39%, yakni dari 1,82 juta ton periode Januari-Juni 2018 menjadi 2,54 juta ton pada periode sama 2019. “Hal ini merupakan salah satu dampak dari perang dagang Tiongkok dengan AS. Tiongkok mengurangi pembelian kedelai secara signifikan dan menggantikan kebutuhan mereka dengan minyak sawit,” kata Mukti. Sementara itu, volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester 1-2019 ke UE hanya merangkak naik 0,70%, yakni dari 2,39 juta pada periode Januari-Juni 2018 menjadi 2,41 juta ton pada periode sama 2019. Sedangkan volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester 1-2019 ke India tersungkur hingga 17%, yakni dari 2,50 juta ton pada semester 1-2018 menjadi 2,10 juta ton. “Penurunan tersebut juga diikuti impor minyak sawit oleh AS yang terpangkas 12%, Pakistan anjlok 10%, dan Bangladesh terpangkas 19%,” kata Mukti.

Program Biodiesel

Dari sisi produksi, kata Mukti, pada Juni 2019 menunjukkan tren penurunan sebesar 16% dari Mei 2019 menjadi 3,98 juta ton dari 4,73 juta. Stok minyak sawit Indonesia pada Juni 2019 ditutup sebanyak3,55 juta ton. Serapan biodiesel pada semester 1-2019 sangat impresif. Sepanjang Januari-Juni 2019, penyerapan biodiesel telah mencapai 3,29 juta ton atau naik 144% dari periode sama 2018 yang hanya mampu menyerap sebesar 1,35 juta ton. Angka ini menunjukkan program mandatori biodiesel 20% (B20) telah berjalan dengan baik di segmen subsidi (PSO) dan bukan subsidi (non-PSO). Menurut Mukti, pemerintah diharapkan tetap mengakselerasi program mandatori B30 yang saat ini uji cobanya sedang berlangsung. Pemerintah juga diharapkan memperluas penggunaan minyak sawit langsung untuk pembangkit PLN. Jika semua program penyerapan CPO dalam negeri dapat berjalan dengan baik, ketergantungan Indonesia pada pasar global akan dapat dikurangi,” kata Mukti. Terkait harga, Gapki mencatat, sepanjang semester 1-2019 harga CPO global bergerak pada kisaran US$ 492,50-567,50 per metrik ton dengan harga rata-rata di kisaran US$ 501,50-556,50 per metrik ton.

Jawa Pos | Rabu, 7 Agustus 2019
Harga Turun karena CPO

Harga biodiesel turun bulan ini. Dari sekitar Rp 6.970 menjadi Rp 6.795 per liter. Itulah ketetapan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait dengan harga indeks pasar bahan bakar nabati (HIP BBN) untuk Agustus 2019. Kemarin (6/8) keputusan tersebut disampaikan Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Agung Pribadi. “Turun karena harga rata-rata crude Palm Oil (CPO) juga merosot,” ungkap Agung. Harga rata-rata CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 luni hingga 14 Juli 2019 berkisar Rp 6.394 per kilogram. Harga itu lebih murah jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai Rp 6.573 per kilogram. Besaran HIP BBN jenis biodiesel tersebut dihitung dengan menggunakan formula dan ongkos angkut yang ditetapkan Kementerian ESDM. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel berdasar Keputusan Menteri ESDM No 91 K/12/DJE/2019. “Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juni hingga 14 Juli 2019,” jelas Agung. HIP BBN ditetapkan setiap bulan. Setelah itu, dalam waktu minimal enam bulan, Direktorat Jenderal EBTKE akan melakukan evaluasi. Sementara itu, harga acuan batu bara (HBA) Agustus naik tipis 1,04 persen dari bulan sebelumnya. Yakni, dari USD 71,92 (sekitar Rp 1,02 juta) per ton pada Juli menjadi USD 72,67 (sekitar Rp 1,03 juta) per ton pada Agustus. Kenaikan HBA tersebut cukup menggembirakan lantaran sejak September 2018 HBA cenderung menurun,

Binsis | Selasa, 6 Agustus 2019
Serapan Biodiesel Domestik Menguat pada Semester I/2019

Tekanan ekspor minyak kelapa sawit mentah dan produk turunannya pada semester I/2019, cukup terkompensasi oleh penguatan serapan biodiesel di dalam negeri. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono menyebut, kinerja serapan biodiesel semester paruh pertama tahun ini sangat impresif. “Sepanjang Januari—Juni 2019, penyerapan biodiesel [di dalam negeri] telah mencapai 3,29 juta ton atau naik 144% dibandingkan periode yang sama 2018 yang hanya mampu menyerap sebesar 1,35 juta ton,” paparnya dalam siaran pers Gapki, Selasa (6/8/2019). Menurutnya, capaian tersebut merefleksikan bahwa program mandatori B20 telah berjalan dengan baik di sektor pelayanan publik (public service obligation/PSO) dan non-PSO. “Pemerintah tetap diharapkan untuk mengakselerasi mandatori B30 yang saat ini uji coba jalan sedang berlangsung. Pemerintah juga didorong untuk memperluas penggunaan minyak sawit langsung untuk pembangkit PLN,” lanjutnya. Jika semua program penyerapan CPO dalam negeri dapat berjalan dengan baik maka, sebut Mukti, ketergantungan Indonesia pada pasar global akan dapat dikurangi. Dari sisi harga, sepanjang semester pertama 2019 CPO global bergerak di kisaran US$492,5—US$ 567,5 per metrik ton dengan harga rata-rata di kisaran US$ 501,5—US$ 556,5 per metrik ton. Adapun, produksi minyak sawit pada Juni menunjukkan trend penurunan sebesar 16% dibandingkan dengan Mei 2019 atau dari 4,73 juta ton di Mei 2019 menurun menjadi 3,98 juta ton pada Juni 2019. Sementara itu, stok minyak sawit Indonesia pada Juni masih bertahan di level sedang yaitu 3,55 juta ton.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190806/12/1133194/serapan-biodiesel-domestik-menguat-pada-semester-i2019

Merdeka | Selasa, 6 Agustus 2019
Semester I-2019, Penyerapan Biodiesel Capai 3,29 Juta Ton

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat penyerapan biodiesel dalam negeri sepanjang Januari-Juni 2019 mencapai 3,29 juta ton seiring mandatori Biodiesel 20 persen (B20). Jumlah tersebut naik 144 persen dari periode sama 2018 yang hanya mampu menyerap sebesar 1,35 juta ton. “Angka ini menunjukkan program mandatori B20 telah berjalan dengan baik di PSO dan non-PSO. Pemerintah tetap diharapkan untuk mengakselerasi mandatori B30 yang saat ini uji cobanya sedang berlangsung,” kata Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono di Jakarta, dikutip Antara, Selasa (6/8). Sampai Juni 2019 ini, penyerapan biodiesel pada Januari mencapai 552.000 ton, Februari sebesar 648.000 ton, Maret 527.000 ton, April 516.000 ton, Mei 557.000 ton, dan Juni 490 ribu ton. Lewat program mandatori Biodiesel 20 persen ini, serapan CPO pada 2019 ditargetkan mampu mencapai 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton. Mukti menjelaskan Gapki mendorong pemerintah untuk memperluas penggunaan minyak sawit untuk pembangkit PT PLN (Persero). Jika semua program penyerapan CPO dalam negeri dapat berjalan dengan baik, ketergantungan Indonesia pada pasar global akan dapat dikurangi. Dari sisi harga, sepanjang semester pertama 2019 harga CPO global bergerak di kisaran 492,5-567,5 dolar AS per metrik ton dengan harga rata-rata 501,5-556,5 dolar AS per metrik ton. Produksi minyak sawit pada Juni 2019 menunjukkan tren penurunan sebesar 16 persen dibandingkan pada Mei lalu atau dari 4,73 juta ton menjadi 3,98 juta ton. Sementara itu stok minyak sawit Indonesia pada Juni ini masih bertahan di level sedang yaitu 3,55 juta ton.
https://m.merdeka.com/uang/semester-i-2019-penyerapan-biodiesel-capai-329-juta-ton.html

Antaranews | Selasa, 6 Agustus 2019
Gapki sebut penyerapan biodiesel semester I 2019 capai 3,29 juta ton

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat penyerapan biodiesel dalam negeri sepanjang Januari-Juni 2019 mencapai 3,29 juta ton seiring mandatori Biodiesel 20 persen (B20). Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menyebutkan jumlah tersebut naik 144 persen dari periode sama 2018 yang hanya mampu menyerap sebesar 1,35 juta ton. “Angka ini menunjukkan program mandatori B20 telah berjalan dengan baik di PSO dan non-PSO. Pemerintah tetap diharapkan untuk mengakselerasi mandatori B30 yang saat ini uji cobanya sedang berlangsung,” katanya melalui keterangan resmi di Jakarta, Selasa. Sampai Juni 2019 ini, penyerapan biodiesel pada Januari mencapai 552.000 ton, Februari sebesar 648.000 ton, Maret 527.000 ton, April 516.000 ton, Mei 557.000 ton, dan Juni 490 ribu ton. Lewat program mandatori Biodiesel 20 persen ini, serapan CPO pada 2019 ditargetkan mampu mencapai 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton. Mukti menjelaskan Gapki mendorong pemerintah untuk memperluas penggunaan minyak sawit untuk pembangkit PT PLN (Persero). Jika semua program penyerapan CPO dalam negeri dapat berjalan dengan baik, ketergantungan Indonesia pada pasar global akan dapat dikurangi. Dari sisi harga, sepanjang semester pertama 2019 harga CPO global bergerak di kisaran 492,5-567,5 dolar AS per metrik ton dengan harga rata-rata 501,5-556,5 dolar AS per metrik ton. Produksi minyak sawit pada Juni 2019 menunjukkan tren penurunan sebesar 16 persen dibandingkan pada Mei lalu atau dari 4,73 juta ton menjadi 3,98 juta ton. Sementara itu stok minyak sawit Indonesia pada Juni ini masih bertahan di level sedang yaitu 3,55 juta ton.
https://www.antaranews.com/berita/997392/gapki-sebut-penyerapan-biodiesel-semester-i-2019-capai-329-juta-ton