+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Angin Segar CPO Jelang Putusan UE

Bisnis Indonesia | Rabu, 15 Mei 2019
Angin Segar CPO Jelang Putusan UE

Jelang keputusan Parlemen Uni Eropa terkait dengan skema RED II dan ILUC, minyak Kelapa Sawit Indonesia justru menuai sentimen positif dari sisi harga sebagai dampak dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Adapun, penentuan penerapan skema renewable energy directive (RED) 11 dan indirect land use change (ILUC) oleh Uni Eropa (UE) dijadwalkan keluar pada hari ini, Rabu (15/5). Apabila kebijakan ini resmi diterapkan, hampir dapat dipastikan ini akan menjadi sentimen negatif bagi ekspor dan harga CPO, sehingga akhirnya akan berdampak kepada kinerja dagang RI. Bagaimanapun, kinerja ekspor minyak Kelapa Sawit (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya mendapat secercah harapan dari potensi kenaikan permintaan dari China, di tengah situasi perang dagang melawan Amerika Serikat (AS). Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, perang dagang antara AS dan China akan menjadi peluang bagi RI untuk mengalihkan ekspor CPO dan produk turunannya apabila resmi dihambat oleh UE. Pasalnya, Negeri Panda saat ini sedang berusaha mengalihkan konsumsi energinya dari berbasis fosil menjadi berbasis produk nabati yang lebih damah lingkungan.

Di sisi lain, selama ini China menggunakan minyak kedelai sebagai salah satu bahan bakar terbarukan. Namun, dengan kebijakan Beijing yang akan meningkatkan bea masuk produk kedelai asal AS, maka dipastikan akan membuat CPO dilirik sebagai produk substitusi minyak kedelai. \’Tentu kondisi yang ada saat ini, terakit dengan perang dagang, harus dimanfaatkan oleh Indonesia [untuk memacu ekspor CPO]. Kita sejauh ini sudah “ada perjanjian pembelian biodiesel dan CPO oleh China. Tinggal kita tingkatkan kerja sama dan volumenya, karena potensi konsumsi negara ini besar sekali,” katanya, Selasa (14/5). Dorongan dari potensi kenaikan permintaan China terhadap produk CPO, menurutnya, mulai tampak dari pergerakan harga CPO dalam 2 hari terakhir yang berangsur-angsur menguat. Hal itu menandakan adanya potensi peralihan konsumsi China dari minyak kedelai ke minyak nabati lain seperti CPO. Berdasarkan data Bursa Malaysia Berhad, harga CPO kontrak pengiriman Juli 2019 menguat 28,00 poin ke posisi 1.985 ringgit per ton dari hari sebelumnya. Meskipun demikian, harga CPO tersbeut masih berada pada level yang mendekati posisi terendahnya dalam 2 tahun terakhir.

JANGAN TERGANTUNG

Bagaimanapun, di tengah adanya titik cerah kinerja ekspor CPO itu, Heri menyarankan agar pelaku usaha dan pemerintah tidak hanya mengandalkan China sebagai satu-satunya tumpuan ekspor CPO apabila UE menerapkan RED II dan ILUC. Menurutnya, ekspor CPO dan produk turunannya harus dialihkan dan digenjot juga ke negara-negara lain. “Kalau untuk negara maju selain UE, bisa kita arahkan untuk ekspor produk CPO berbasis energi seperi biofuel. Sementara itu, [untuk ke] negara berkembang atau pasar baru terutama negara berkembang di Afrika dan Amerika Latin, bisa kita arahkan untuk produk campuran makanan dan farmasi,” jelasnya. Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Master P. Tumanggor mengatakan pelaku usaha berharap menurunnya permintaan China terhadap kedelai AS akan membuat negara tersebut mengalihkan sumber energi hijaunya ke CPO.

Dia melihat saat ini negara tersebut sedang berancang-ancang untuk menjadikan CPO sebagai komoditas substitusi minyak kedelai. “Namun, semua itu belum pasti. Saat ini, kendati ada isu CPO sebagai substitusi minyak kedelai oleh China, kenaikan harga CPO global dalam beberapa hari terakhir tetap tidak terlalu signifikan,” ujarnya. Dia pun menilai peralihan ekspor CPO Indonesia menuju China dari UE belum tentu akan membantu menyangga kinerja ekspor CPO secara keseluruhan. Menurutnya, peningkatan konsumsi dalam negeri menjadi salah satu cara jitu untuk menjaga agar harga CPO meningkat. Dengan demikian, dia berharap percepatan pemberlakuan biodiesel B30akan membantu mengangkat harga komoditas itu. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengaku belum terlalu yakin rencana China menaikkan bea masuk dan membatasi impor kedelai dan produk turunannya akan berdampak kepada kenaikan permintaan CPO oleh negara itu.

Dia menduga, saat ini China masih akan berusaha mengalihkan permintaan kedelai dan produk turunannya dari Argentina dan Brasil. “Kami lihat selama 1-2 pekan ke depan. Kalau sekiranya impor kedelai [China] dari Argentina dan Brasil tidak sesuai dengan kebutuhan China, mereka pasti akan mengalihkannya ke CPO. Sejauh ini, kemungkinan itu masih sangat kecil sehingga harga CPO global masih sangat rendah,” ujarnya. Derom melanjutkan, saat ini pelaku usaha dan pemerintah masih terus berkoordinasi sembari menantikan hasil jajak pendapat Parlemen UE terkait dengan RED II dan ILUC yang dijadwalkan diketok pada 15 Mei 2019. Para pelaku usaha, menurutnya, telah mengumpulkan data-data penunjang untuk melawan langkah diskriminatif Benua Biru apabila dibutuhkan oleh pemerintah. “Koordinasi kami dengan pemerintah sudah sangat kuat. Apapun dukungan yang pemerintah butuhkan kami akan siapkan. Kafni masih berpegang pada sikap awal, bahwa ketika RED II dan ILUC dijalankan, tuntutan melalui Organisasi Perdagangan Dunia [World Trade Organization/WTO] menjadi satu-satunya jalan,” katanya.

Sementara itu, Master P. Tumanggor mengatakan, saat ini pemerintah dan pelaku usaha yang sedang dalam proses pemilihan dan seleksi terhadap pengacara yang akan ditunjuk mendamping Indonesia di WTO. Pemilihan pengacara akan disesuaikan dengan hasil jajak pendapat dan alasan terbaru UE apabila resmi mengadopsi ILUC dan RED II. \’Tentu saja, harapan kami UE tidak jadi menerapkan kebijakan itu. Sebab, kami sudah berkali-kali mengajukan pembelaan dan lobi-lobi ke UE untuk menjelaskan posisi CPO sebagai minyak nabati yang menaati segala ketetuan terkait dengan lingkungan hidup,” ujarnya. Secara terpisah, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdalifah Mahmud mengatakan, saat ini pemerintah sedang bersiap menantikan hasil jajak pendapat di Parlemen Eropa. Dia mengatakan, saat ini telah dibentuk tim kerja yang beranggotakan kementerian dan lembaga serta pengusaha CPO untuk melakukan langkah strategis lanjutan apabila RED II dan ILUC resmi disetujui oleh Parlemen Eropa. “Karni sudah siapkan tim kerja yang akan langsung bekerja secara cepat begitu keputusan Parlemen Eropa muncul. Sementara itu untuk penunjukkan pengacara ketika nanti akhirnya kita maju ke WTO, masih dalam proses seleksi,” katanya.

Dia pun berharap UE tidak jadi menerapkan RED II dan ILUC. Pasalnya, pasar Eropa cukup penting bagi CPO RI, yang merupakan komoditas ekspor utama RI. Menurunnya, permintaan pasar Benua Biru dikhawatirkannya akan mengganggu kinerja ekspor RI pada masa depan. Nilai ekspor minyak Kelapa Sawit mentah [crude palm oil/ CPO) dan produk turunannya diperkirakan kembali turun pada April 2019, terimbas tren tekanan harga internasional yang berkelanjutan. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Gapki Lakhsmi Kanya memproyeksi harga CPO mengalami penurunan pada April dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal itu berpeluang menekan kinerja ekspor CPO dan produk turunannya pada bulan yang sama. “Memang sulit sekali meningkatkan harga CPO ini. Ada anomali tersendiri saat ini. Selain karena adanya kampanye negatif dari Uni Eropa, kami melihat ada pertumbuhan tren ketakutan dari para pembeli untuk membeli produk CPO, karena berbagai sentimen negatif yang diteriakkan beberapa pihak,” jelasnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Sindonews | Rabu, 15 Mei 2019
Olah Limbah Jadi Biopal, Mahasiswa UB Raih Juara Internasional

Mengolah limbah menjadi biodiesel, tim mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) Malang meraih juara internasional. Mereka mampu meraih peringkat ke-3 dalam ajang International Biotechnology Competition and Exhibition (IBCE) 2019 di Johor, Malaysia, dan meraih Bronze Medal dalam ajang International Invention and Innovative Competition Series I di Malacca, Malaysia. Tim yang terdiri dari Anita Nurmulya Bahari, Muhammad Iqbal Hardyanto, dan Ade Nanda Meilya Ndari menciptakan biodiesel berbahan baku utama minyak jelantah yang diolah dengan limbah lainnya. “Tim kami terus mencari dari berbagai sumber seperti jurnal, dan melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban bagaimana bisa menggunakan semua bahan dari limbah agar menghasilkan biodiesel,” kata Anita. Kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Tim mahasiswa FPIK UB tersebut berhasil menciptakan biodiesel berbahan baku dari minyak jelantah, limbah serat tebu, dan cangkang kerang dara. Proses yang dilakukan antara lain sebagai berikut, pertama minyak jelantah harus diretreatment menggunakan limbah serat tebu yang telah diolah menjadi bubuk, lalu dicampur dengan minyak jelantah selama 1-2 hari. Kemudian minyak jelantah tersebut dianalisis kandungan kimianya, seperti kandungan efek asamnya.

Setelah itu akan ditemukan hasil apakah kualitas minyak yang sudah dicampur naik atau tidak, karena ada standar kandungan kimia yang mengidentifikasi hasil diesel yang bagus yaitu harus didapatkan hasil pH yang tidak asam tapi sedikit basah. “Jadi fungsi dari retreatment minyak jelantah tersebut untuk memperbaiki kualitas Minyak jelantah yang akan diolah menjadi biodiesel.Pada tahap selanjutnya, hasil minyak yang lebih berkualitas ini akan diolah menjadi biodiesel,” imbuhnya. Di dalam kandungan biodiesel membutuhkan zat katalis yang bersifat basa kuat. Untuk mendapatkan katalis, mereka menggunakan proses kalsinasi. Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah cangkang kerang dara yang diproses dengan suhu tinggi 700-1.000 derajat celcius yang akan menghasilkan bubuk kalsium oksida, yang kemudian dicampur dan pada akhirnya menghasilkan biodesel. Biodiesel dari limbah ini selain murah, ramah lingkungan, bisa digunakan sebagai bahan bakar diesel, dan sebagai sumber penerangan.Anita dan timnya berharap kedepannya biodiesel karyanya dapat bermanfaat dan digunakan berkelanjutan. “Kedepannya saya ingin biodesel ini bisa digunakan untuk komersil maupun untuk pengabdian kepada masyarakat untuk daerah yang membutuhkan biodesel untuk penerangan maupun kebutuhan lainnya,” jelasnya.
https://jatim.sindonews.com/read/10605/1/olah-limbah-jadi-biopal-mahasiswa-ub-raih-juara-internasional-1557882343

Antaranews | Rabu, 15 Mei 2019
Biodiesel Karya Mahasiswa Universitas Brawijaya Juara Di Malaysia

Biopal, salah satu produk biodiesel berbahan baku limbah dan ramah lingkungan hasil karya tim mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) Malang, berjaya pada ajang lomba di Malaysia dengan meraih peringkat ke-3 dan medali perunggu. Temuan tim tersebut meraih posisi ketiga di ajang International Biotechnology Competition and Exhibition (IBCE) 2019 di Johor, Malaysia dan medali perunggu dalam ajang International Invention and Innovative Competition Series I di Malacca, Malaysia, belum lama ini. Tim FPIK UB yang terdiri dari Anita Nurmulya Bahari, Muhammad Iqbal Hardyanto, dan Ade Nanda Meilya Ndari itu menciptakan biodiesel berbahan baku utama minyak jelantah yang diolah dengan limbah lainnya, seperti limbah serat tebu dan cangkang kerang dara. “Tim kami terus mencari dari berbagai sumber seperti jurnal dan melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban bagaimana kami menggunakan semua bahan dari limbah agar menghasilkan biodiesel,” kata salah seorang anggota tim, Anita Nurmulya Bahari di Malang, Selasa.

Proses yang dilakukan antara lain, pertama minyak jelantah harus diretreatment menggunakan limbah serat tebu yang telah diolah menjadi bubuk, lalu dicampur dengan minyak jelantah selama 1-2 hari. Kemudian minyak jelantah tersebut dianalisis kandungan kimianya, seperti kandungan efek asam, dan lain sebagainya. Setelah itu akan ditemukan hasil apakah kualitas minyak yang sudah dicampur naik atau tidak, karena ada standar kandungan kimia yang mengidentifikasi hasil diesel yang bagus, yaitu harus didapatkan hasil pH yang tidak asam tapi sedikit basah. “Jadi fungsi dari retreatment minyak jelantah tersebut untuk memperbaiki kualitas minyak jelantah yang akan diolah menjadi biodiesel. Pada tahap selanjutnya, hasil minyak yang lebih berkualitas ini akan diolah menjadi biodiesel,” kata Anita. Di dalam kandungan biodiesel membutuhkan zat katalis yang bersifat basa kuat. Untuk mendapatkan katalis, mereka menggunakan proses kalsinasi. Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah cangkang kerang dara yang diproses dengan suhu tinggi 700-1.000 derajat celcius yang akan menghasilkan bubuk kalsium oksida, selanjutnya dicampur dan pada akhirnya menghasilkan biodiesel. Biodiesel dari limbah ini selain murah, ramah lingkungan, bisa digunakan sebagai bahan bakar diesel, dan sebagai sumber penerangan. “Ke depan kami ingin biodiesel ini bisa digunakan untuk komersil maupun program pengabdian kepada masyarakat di daerah yang membutuhkan biodiesel sebagai penerangan maupun kebutuhan lainnya,” tutur Anita.
https://bali.antaranews.com/berita/148806/biodiesel-karya-mahasiswa-universitas-brawijaya-juara-di-malaysia

Nasionalisme | Selasa, 14 Mei 2019
Program B20 Membuat Indonesia Berhenti Impor Solar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan produksi solar dalam negeri sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga impor solar dihentikan mulai Mei ini. Langkah dipastikan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan yang selama ini menjadi beban dalam anggaran negara. “Sebetulnya mulai bulan depan migas itu, terutama avtur sama solar kita tak akan impor lagi. Kita mau pakai produk kita di dalam negeri yang diolah di sini,” kata Darmin Nasution pekan lalu. Produk yang diolah dalam negeri salah satunya adalah campuran minyak kelapa sawit 20 persen ke biodiesel yang dikenal dengan program B20. Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan penghentian impor solar karena program B20 berjalan dengan baik. “Solar sudah nggak impor karena B20 berjalan dengan baik. Selebihnya, tanya ke Pertamina,” ujar Djoko. Program B20 diterapkan sejak 1 September tahun lalu. Menurut Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, selama kuartal pertama 2019, biodiesel yang tersalurkan sekitar 1,5 juta kilo liter (KL) dengan target hingga akhir tahun mencapai 6,2 juta KL.
http://www.nasionalisme.co/program-b20-membuat-indonesia-berhenti-impor-solar/

Goodnewsformindonesia | Selasa, 14 Mei 2019
Begini Langkah Strategis Pemerintah Kurangi Impor BBM

Pengembangan Biodiesel merupakan langkah strategis pemerintah untuk dapat mengurangi ketergantungan pengggunaan bahan bakar fosil, dengan mendorong penggunaan bahan bakar nabati, yang pada akhirnya dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Setelah sukses mengembangkan Bahan Bakar Nabati untuk campuran solar 20% (B20), pemerintah secara bertahap akan meningkatkan penggunaan biodiesel secara maksimum hingga 100% atau disebut B100. “Untuk keperluan penelitian dan pengembangan, dirasa tidak ada istilah B100 ini terlalu cepat. Ini dilakukan secara bertahap. Kami telah melakukan uji coba B20 pada tahun 2014”, ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana, dalam kunjungan diskusi road test B100 ke Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu siang (8/5). Tahun ini, Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM bersama stakeholder akan melakukan uji jalan kendaraan bermotor dengan menggunakan biodiesel 30% (B30) terlebih dahulu.

Dadan menambahkan, “Uji coba B30 ini bukan semata-mata langsung diterapkan pada kendaraan, namun perlu melewati proses pengujian sebelumnya dengan standar internasional dan standar otomotif, serta dikawal berbagai pihak antara lain BPPPT, APROBI, Gaikindo dan Pertamina. Segera kita akan mulai uji jalan untuk B30 terlebih dahulu 40.000 kilometer pada kendaraan bermotor.” Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjri Djufri, menyampaikan B100 yang berasal dari minyak sawit mentah telah dianalisa di Laboratorium Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, dengan hasil telah memenuhi spesifikasi Biodiesel SNI 7182-2015. Ia juga mendukung penggunaan B100. “Alhamdulillah hasil uji mutu Biodisesel CPO yang dilakukan Balittri di Laboratorium Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” telah memenuhi spesifikasi Biodiesel SNI 7182-2015,” tutur Fadjri. Ke depannya, pengujian konsorsium melibatkan Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, Badan Litbang Pertanian dan BT2MP-BPPT, akan terus dilakukan dengan mengikuti standar yang sudah disepakati bersama. Koordinasi dan kerja sama ini diharapkan menjadi katalis penggunaan biodiesel pada kendaraan bermotor di Indonesia. Dalam kunjungan kali ini, Kepala Badan Litbang ESDM didampingi oleh Kepala Puslitbangtek KEBTKE dan Kepala Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”, serta Perwakilan Direktorat Jenderal EBTKE dengan mengajak Kepala Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain, Ari Rahmadi, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (APROBI), Sikin Hutomo, dan Komite Teknis Bioenergi Ikatan Ahli Biofuel Indonesia (IKABI), Iman K.
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/14/kurangi-impor-bbm

Sawitindonesia | Selasa, 14 Mei 2019
Sawit Masa Depan Energi Terbarukan

Tatang Soerawidjaja menuturkan bahan bakar cair mempunyai keunggulan di antaranya mudah disimpan secara mudah dan aman untuk jangka waktu lama, mudah diangkut, memiliki kerapatan energi besar dan relatif mudah dinyalakan tetapi tidak mudah meledak. “Selain itu, minyak bumi dan BBM juga mempunyai peran penting bagi perekonomian. Dan, minyak bumi telah menjadi sumber primer pada sistem energi dunia selama hampir 100 abad (di abad 20),” ujar Tatang, saat menjadi pembicara Kuliah Umum, “Status Terkini Pengembangan Biofuel dari Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit”, pada Rabu (10 April 2019), di Bogor. Seperti diketahui, minyak kelapa sawit mempunyai potensi yang begitu besar untuk terus dikembangkan pemanfaatannya. Salah satunya dimanfaatkan untuk campuran solar (Biodiesel) atau B20 bahkan sudah menjadi mandatory oleh pemerintah sejak September 2018. Selain dapat mengurangi angka impor minyak fosil, pemanfaatan minyak sawit (nabati) juga dapat defisit neraca perdagangan Negara. Jika melihat ke belakang, Indonesia memang pernah menjadi negara pengekspor minyak bumi sehingga masuk menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Namun, sejak 2008 Indonesia memutuskan non-aktif dari keanggotaan OPEC karena sudah tak mampu lagi mengekspor minyak mentah (fosil).

Kendati sudah tidak lagi menjadi pengekspor minyak mentah (fosil), tetapi Indonesia masih memiliki minyak sawit bahkan saat ini menjadi produsen terbesar di dunia. Minyak sawit (nabati) yang mempunyai beragam potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan energi. Terkait dengan potensi kelapa sawit yang dikembangkan untuk energi baru terbarukan, Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) mengutarakan saat ini sudah berkembang Bahan Bakar Minyak (BBM) nabati cair dari minyak sawit. CPO bisa diolah menjadi green gasoline, green diesel, dan green avtur. Berbeda dengan Biodiesel (sawit) yang selama ini dikenal oleh masyarakat. “Supaya masyarakat memahami dan mempunyai persepsi yang sama tentang potensi minyak sawit sebagai bahan bakar nabati,” jelas Darmono. Selanjutnya, Tatang menambahkan Bahan Bakar Nabati atau Biofuel terbagi menjadi dua kelompok yaitu tipe oksigenat (Biodiesel atau FAME, Fatty Acids Methyl Ester), Bioetanol dan tipe drop-in (biohidrokarbon) yaitu dapat dikembangkan menjadi Bio-Hydrofined (BHD) atau Green diesel, Biogasoline atau Green gasoline (bensin nabati), dan Bioavtur atau Jet Biofuel. Bahan Bakar Nabati (BBN) Oksigenat, Biodiesel dibuat dengan proses metanolisis minyak-lemak oleh metanol dan gliserol. Minyak nabati (sawit) merupakan bahan mentah untuk BBN terbaik karena kadar asam-asam lemak jenuh dan kadar asam oleat berimbang, kadar asam-asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) minimal. BBN Oksigenat seperti biodiesel generasi 1 (FAME) dan Bioetanol hanya bisa dicampurkan ke dalam BBM padanannya sampai kadar 10 – 30%. Bagi Indonesia, ini sangat membantu mengurangi peningkatan impor solar dan bensin, namun hanya 10 – 30%. sisanya tetap impor dan menyebabkan tekanan berat terhadap neraca pembayaran negara.

Agronet | Kamis, 9 Mei 2019
Kurangi Impor BBM, Biodiesel dari Sawit Disegerakan

Keraguan masyarakat akan penerapan B100 dijawab oleh Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana, pada Diskusi Road Test B100 di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu siang (8/5). Kunjungan ini merupakan bentuk keseriusan Badan Litbang ESDM dalam mendukung program B100. Pengembangan Biodiesel 100 persen (B100) dari crude palm oil (CPO) merupakan langkah strategis Pemerintah untuk dapat mengurangi ketergantungan pengggunaan bahan bakar fosil. Kemudian mendorong penggunaan bahan bakar nabati yang pada akhirnya dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). “Masih ada keraguan dari khalayak luas atas penerapan B100 ini mengingat B20 masih dalam tahapan implementasi. Namun pengujian dan riset B100 ini tidak terlalu cepat, pengujian dan penggunaan B100 ini perlu disegerakan,” ungkap Dadan. Ia menambahkan, uji biodiesel ini bukan semata-mata langsung diujicobakan pada kendaraan, namun telah melewati proses pengujian sebelumnya dengan standar internasional dan standar otomotif serta dikawal berbagai pihak antara lain BPPPT, APROBI, Gaikindo, dan Pertamina. “Segera kita akan mulai uji jalan untuk B30 terlebih dahulu 40.000 km pada kendaraan bermotor,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjri Djufri, menyampaikan B100 yang berasal dari minyak sawit mentah ini telah dianalisa di Laboratorium Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) dengan hasil telah memenuhi spesifikasi Biodiesel SNI 7182-2015. “Alhamdulillah hasil uji mutu Biodisesel CPO yang dilakukan Balittri di Laboratorium Puslitbangtek LEMIGAS telah memenuhi spesifikasi Biodiesel SNI 7182-2015,” tutur Fadjri. Ia juga menuturkan, Kementerian Pertanian sejak tahun 2013 telah beberapakali melakukan uji coba B100 pada kendaraan bermotor. Menteri Pertanian pada bulan lalu bahkan telah menggelar soft lauching dan uji coba perdana B100 dari CPO. Ke depan, kata Fadjri, pengujian konsorsium melibatkan Puslitbangtek Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS, Badan Litbang Pertanian, dan BT2MP-BPPT. Koordinasi dan kerja sama antara Badan Litbang ESDM dengan Balittri Kementerian Pertanian ini diharapkan menjadi katalis penggunaan biodiesel pada kendaraan bermotor di Indonesia.
http://www.agronet.co.id/detail/indeks/info-agro/3535-Kurangi-Impor-BBM-Biodiesel-dari-Sawit-Disegerakan