+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Angin Segar Pertumbuhan Tunas Baru Lampung

Investor Daily Indonesia | Kamis, 4 Oktober 2018

Angin Segar Pertumbuhan Tunas Baru Lampung

Penambahan kuota impor gula ditambah penerapan peraturan perluasan mandatori pencampuran Biodiesel 20% (B20) bakal mendongkrak kinerja keuangan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) ke depan. Pertumbuhan perseroan juga didukung atas berlanjutnya ekspansi. Samuel Sekuritas menargetkan laba bersih perseroan menjadi Rp 943 miliar tahun ini, turun tipi dari realisasi tahun 2017 senilai Rp 949 miliar. Penjualan juga diperkirakan turun tipis dari Rp 8,97 triliun menjadi Rp 8,96 triliun. Sedangkan EBITDA diharapkan naik dari Rp 2,18 triliun menjadi Rp 2,34 triliun. “Penambahan kuota impor gula serta potensi peningkatan penjualan biodisel didukung penerapan kewajiban mandatori campuran biodisel sebesar 20% berpeluang mendongkrak kinerja keuangan perseroan tahun 2019,” uangkap analis Samuel Sekuritas Sharlita Malik dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini. Dia mengatakan, implementasi B20 berpotensi menaikkan produksi biodisel perseroan menjadi 32.314 kilo liter untuk campuran solar non-subsidi tahun ini. Sedangkan produksi biodisel untuk solar bersubsidi bakal mencapai 64.206 kilo liter tahun ini. “Kami memperkirakan kontribusi penjualan biodisel akan meningkat menjadi 12% tahun ini, dibandingkan realisasi periode sama tahun lalu sekitar 9%,” terangnya.

Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa kebijakan tersebut bakal meningkatkan volume penjualan Biodiesel perseroan sebesar 60% menjadi 155 ribu kilo liter tahun ini. Sedangkan pertumbuhan volume penjualan tahun depan diharapkan sebesar 15%. Sedangkan kapasitas terpasang pabrik Biodiesel perseroan telah mencapai 300 ribu ton per tahun dengan utilisasi baru — berkisar 40% dari kapasitas terpasang, sehingga Tunas Baru Lampung masih memiliki ruang yang cukup untuk memacu produksi. Selain faktor biodiesel, Sharlita mengatakan, perseroan akan mendapatkan dukungan positif dari penambahan kuota impor gula. Hingga akhir 2018, perseroan telah mamasang target peningkatan proporsi divisi gula menjadi 37% terhadap total pendapatan perseroan, dibandingkan dengan semester 1-2018 baru mencapai 28% dan tahun 2017 sekitar 34%. Perseroan sebelumnya telah mendapatkan kuota tambahan impor gula hingga 50 ribu ton menjadi 200 ribu ton tahun ini. “Dengan tambahan kuota impor tersebut, kami memperkirakan volume penjualan gula olahan perseroan akan meningkat sekitar 13% menjadi 350 ribu ton tahun ini dan ditargetkan kembali meningkat sekitar 10% menjadi 385 ribu ton tahun 2019,” terangnya.

Dukungan positif program B20 ditambah penambahan kuota impor gula, menurut dia, berpotensi meningkatkan laba bersih perseroan sebesar 24% menjadi Rp 1,16 triliun tahun 2019, dibandingkan perkiraan tahun 2018 sebesar Rp 943 miliar dan perolehan tahun 2017 sebesar Rp 949 miliar. Peningkatan pendapatan juga diharapkan datang dari target pengoperasian pabrik kelapa sawit berkapasitas 220 ribu ton per tahun. Pabrik tersebut diharapkan mulai berkontribusi terhadap kinerja keuangan perseroan tahun depan.Berbagai faktor tersebut mendorng Samuel Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham TBLA dengan target harga Rp 1.500. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2019 sekeitar 6.8 kali. Target harga tersebut juga menggambarkan ekspektasi kinerja keuangan yang kuat pada akhir 2018 dan peluang kenaikan kinerja keuangan untuk beberapa tahun mendatang. Wakil Presiden Direktur Tunas Baru Sudarmo Tasmin sebelumnya mengatakan, perusahaan telah mendapatkan order ekspor Biodiesel perdana dari Tiongkok mencapai 20.000 ton pada 2018. Selain negara tersebut, perseroan sedang menjajaki pasar ekspor ke Taiwan, Korea, dan Thailand.

Pihaknya meyakini bahwa permintaan Biodiesel global bakal meningkat, seiring tren kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir. Perseroan juga tengah gencar untuk memasarkan Biodiesel untuk pasar domestik, seiring dengan diluncurkannya program B20 yang diharapkan berdampak terhadap peningkatan permintaan Biodiesel dalam negeri Saat ini, perseroan telah memiliki satu pabrik Biodiesel berkapasitas 300 ribu ton di Lampung. Namun utilisasinya baru mencapai 40%, sehingga produksi diperkirakan mencapai 120 ribu ton tahun ini. Hingga semester 1-2018, segmen penjualan Biodiesel baru menyumbang sekitar 9% terhadap total pendapatan senilai Rp 4 triliun, dibandingkn realisasi penjualan perseroan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,24 triliun.Sudarmo memperkirakan bahwa penjualan Biodiesel diharapkan berkontribusi sektiar 15-20% terhadap total penjualan tahun ini, seiring dengan peningkatan permintaan setelah diterapkannya program B20. Perseroan jug akan menggenjot sumbangan pendapatan dari produk hilir sawit

Turunkan Inventori

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Yudha Gautama mengatakan, berdasarkan hasil diskusi dengan Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI) terungkap bahwa mandatori peningkatan campuran biodisel menjadi 20% hingga-nisei non subsidi akan berdampak positif terhadap industri kelapa sawit. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan konsumsi biodisel dari 3 juta liter menjadi 6 juta liter pada 2019.”Gapki meyakini bahwa kebijakan tersebut akan menaikkan permintaan biofuel, sehingga bakal menurunkan inventori suplai minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional. Apalagi peningkatan campuran ini hampir tidak menuai tantangan dari pabrikan otomotif, sehingga kemungkinan berjalan dengan mulus,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini. Pihaknya menilai bahwa peningkatan campuran biodisel tersebbut kemungkinan dinaikkan menjadi 30% awal tahun depan. Hal ini juga tentu akan menambah sentimen positif terhadap emiten CPO dalam negeri. Sedangkan minimnya fasilitas logistik Biodiesel dan armada pengimiriman bisa menjadi sentimen negatif terhadap penyerapannya ke depan.

Republika | Kamis, 4 Oktober 2018

LIPI Konversi Bioetanol dari Kelapa Sawit

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berhasil mengonversi 150 liter Bioetanol generasi kedua dari 1.000 kilogram (kg) tandan kosong kelapa sawit. “Hitungan yang kami konversi di mana dari 1.000 kilogram tandan kosong sawit, kami menghasilkan 150 liter etanol dengan fuel grade 99,95 persen,” kata peneliti utama Bioetanol Pusat Penelitian Kimia LIPI Yanni Sudiyani di Jakarta, Rabu (3/101. Yanni mengatakan, penggunaan Bioetanol dapat mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Implementasi Bioetanol sebagai energi baru terbarukan akan diwujudkan dalam teknologi pencampuran Bioetanol dan premium sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Menurut dia, bahan bakar nabati menjadi penting demi masa depan karena tidak selamanya dapat bergantung pada bahan bakar fosil yang lambat laun persediaanya akan habis. Penggunaan Bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, salah satunya memiliki kandungan oksigen yang tinggi sehingga lebih ramah lingkungan dibanding bahan bakar fosil.

Cendananews | Kamis, 4 Oktober 2018

Penerapan Bioetanol 5 Persen BBM Perlu Roadmap

JAKARTA — Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, mengatakan perlu suatu peta jalan yang realistis dan konkrit untuk mencapai target pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bahan bakar sebesar lima persen atau E5 pada 2020. Menurutnya perlu membuat semacam network (jaringan) yang betul-betul ada, siapa yang mengerjakan apa itu harus teridentifikasi. “Dalam menyusun roadmap (peta jalan) kita perlu sedikit realistis apakah target lima persen di 2020 ini betul-betul tercapai, kalau memang yakin tercapai ya harus jelas siapa mengerjakan apa supaya lima persen itu tercapai,” kata dia dalam acara Focus Group Discussion bertajuk Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil, Jakarta, Rabu (3/10/2018). Dia menuturkan penggunaan campuran bioetanol sebesar lima persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) pada 2020 menjadi sulit jika tidak ada kebijakan atau upaya lain yang mendorong percepatan pelaksanaan itu terutama dalam memecahkan masalah harga. Sementara, rencana untuk mencampur bioetanol sebesar dua persen ke dalam bahan bakar minyak pada 2016 saja tidak tercapai, bahkan sampai 2018 masih nol persen. “Karena tadi itu harganya belum masuk, Pertamina belum sanggup kalau harganya masih tinggi. Oleh karena itu implementasi ini, roadmap-nya harus benar-benar rinci tidak hanya menyebutkan patokan berapa persen campuran etanol terhadap BBM, tapi juga bagaimana langkah-langkah dalam mencapai target-target bauran etanol dalam BBM ini karena Pertamina sendiri sudah punya kilang untuk pencampuran di beberapa kota,” jelasnya.

Bisnis | Rabu, 3 Oktober 2018

UE Kembali Hambat Ekspor Sawit Indonesia, Kali Ini Lewat Skema ILUC

JAKARTA — Hambatan dagang Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit Indonesia memasuki babak baru pascaperencanaan skema Indirect Land Use Change (ILUC) untuk melaksanakan program Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Rencananya, skema ILUC tersebut akan dijadikan acuan dalam menetapkan risiko yang ditimbulkan oleh komoditas pertanian dan perkebunan terhadap pembangunan berkelanjutan. Padahal, komoditas minyak kelapa sawit dan produk turunannya dinilai masih berisiko karena tingginya aksi alih guna lahan untuk sektor tersebut.Nantinya, ILUC akan membagi komoditas pertanian dan perkebunan ke dalam beberapa kategori, mulai dari yang berisiko tinggi hingga berisiko rendah.Kategori itu pada akhirnya akan menjadi referensi dalam menentukan peluang komoditas yang bersangkutan untuk memasuki pasar Uni Eropa (UE). Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Keberlanjutan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GapkiI) Togar Sitanggang menjelaskan, Indonesia meminta adanya keterbukaan dari UE ketika menetapkan skema ILUC, yang implementasinya ditargetkan sebelum Februari 2019.

Menurutnya, UE selama ini menunjukkan indikasi proteksionisme terhadap industri minyak nabati dalam negeri mereka yakni minyak rapeseed dan minyak bunga matahari.Pasalnya, kedua komoditas minyak nabati pesaing minyak kelapa sawit tersebut sampai saat ini masih mengalami kelebihan stok di UE. “Kami sudah sampaikan ke UE, melalui Duta Besar UE untuk Indonesia Vincent Guerrend, terkait dengan masukan kami dan juga [pengajuan] skema ILUC versi Indonesia. Mereka pun berjanji untuk transparan dan adil dalam menetapkan ILUC,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (2/10/2018).Togar menegaskan, proses lobi-lobi ke Pemerintah UE terus dilakukan oleh Indonesia. Buktinya, pada akhir bulan ini, Parlemen UE dijadwalkan datang ke Tanah Air.Momentum tersebut akan dimanfaatkan oleh Indonesia untuk membahas mengenai ILUC dan dampaknya terhadap ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia. Sebab, pengiriman CPO ke Eropa selama ini menguasai 30% dari total volume ekspor minyak sawit nasional.

Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menambahkan, Indonesia bersama negara-negara lain penghasil CPO dan produk turunannya secara berkesinambungan mengikuti dan turut serta dalam pembahasan mengenai skema ILUC di UE. Menurutnya, CPO dan produk turunannya asal Indonesia terancam gagal mendapatkan akses masuk ke UE akibat skema tersebut. Pasalnya, RI dituding kerap melakukan aktivitas alih guna lahan hutan dan pertanian untuk berbagai hal terutama untuk menanam kelapa sawit. “Dalam kasus ini, kami terus menjelaskan ke UE agar jangan menyamakan proses dan alasan alih guna lahan yang dilakukan di Indonesia dengan yang terjadi di kawasan mereka. Sebab, karakter penduduk dan industri kita berbeda dengan mereka,” ujarnya. Dia menjabarkan, proses alih guna lahan—terutama untuk komoditas industri perkebunan—di Eropa tergolong tak signifikan lantaran lambatnya pertumbuhan penduduk di kawasan tersebut. Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia, yang pertumbuhan penduduknya tergolong tinggi. Akibatnya, kebutuhan akan lahan untuk perumahan menjadi tinggi, sehingga para pelaku sektor perkebunan terpaksa membuka lahan untuk tanamannya di kawasan yang tak mengganggu areal perumahan warga, seperti dengan melakukan alih fungsi lahan hutan. “Untuk melobi UE, kami pun juga menyiapkan skema ILUC versi Indonesia. Supaya UE punya skema pembanding dan tidak hanya menetapkannya secara sepihak, dari kaca mata dan kondisi yang ada di UE,” lanjutnya.

KEMBALIKAN AKSES

Saat dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan berjanji terus berusaha mempromosikan dan mengembalikan akses CPO dan produk turunannya ke UE. Salah satunya dengan melakukan kunjungan kerja ke sejumlah negara UE dan menghadiri pertemuan dengan importir sawit UE di European Palm Oil Conference (EPOC) di Madrid, Spanyol pada 3—4 Oktober 2018. Kami masih terus usahakan agar CPO kembali diterima di sana. Lobi-lobi pun terus kami kencangkan, karena ini berkaitan dengan potensi pendapatan devisa kita dan masyarakat yang bergantung ekonominya di sektor CPO,” katanya. Pada perkembangan lain, negara-negara produsen sawit di bawah naungan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) telah mengambil sikap terhadap arah kebijakan UE dalam menetapkan skema ILUC.

Sikap tersebut dituangkan dalam kesepakatan bersama antara Kolombia, Indonesia dan Malaysia di Cartagena, Kolombia pada 26 September 2018. Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar mengungkapkan, Komisi Eropa diminta menetapkan ILUC dengan mengacu kepada aturan Renewable Energy Directive (RED) II. Kriteria tersebut akan dipakai untuk melihat risiko di antara beberapa komoditas minyak nabati yang menjadi sumber bahan baku biodiesel. “Sampai saat ini belum muncul rancangan yang jelas dari UE, untuk menetapkan mana komoditas yang berisiko tinggi dan rendah dalam ILUC mereka. Namun, sejauh ini indikasinya ILUC yang akan diadopsi UE adalah skema yang didasari oleh perspektif tunggal UE dan AS, padahal seharusnya perspektifnya global,” kata Mahendra. Apabila ILUC perspektif UE yang diambil oleh Komisi Eropa, Mahendra khawatir produk CPO asal Indonesia bakal semakin sulit masuk ke kawasan Benua Biru. Dia pun menduga skema tersebut akan dijadikan UE untuk memproteksi minyak nabati buatan Eropa dari gempuran CPO.

Tingginya perhatian otoritas Uni Eropa terhadap biofuel juga menjadi perhatian. Pasalnya, luas lahan yang dipakai untuk sumber biofuel mencapai 4% dari total luas lahan tanaman pangan di dunia yang mencapai 1,7 miliar hektare. Mahendra menegaskan, apabila ILUC dijadikan dalih untuk membatasi akses CPO ke UE, maka blok negara terbesar di Eropa itu berpeluang melanggar prinsip perdagangan di World Trade Organization (WTO) terkait dengan azas nondiskriminasi. Terlebih, menurutnya, industri kelapa sawit telah berkontribusi pada pengurangan kemiskinan serta kemajuan sosial dan ekonomi di negara-negara produsen minyak kelapa sawit, yang selaras dengan konsep SDGs 2030.

http://industri.bisnis.com/read/20181003/12/845108/ue-kembali-hambat-ekspor-sawit-indonesia-kali-ini-lewat-skem

Antaranews | Rabu, 3 Oktober 2018

LIPI Minimalkan Penggunaan Enzim Impor Untuk Bioetanol

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berupaya untuk meminimalkan penggunaan enzim impor dalam rangka pengembangan bioetanol untuk menekan biaya produksi. “Kami di LIPI bagaimana meminimalisasi penggunaan enzim impor ini dengan cara kita menggunakan proses sakarifikasi dan fermentasi yang sudah baku secara terpisah dan simultan,” kata peneliti utama bioetanol Pusat Penelitian Kimia LIPI Yanni Sudiyani dalam acara “Focus Group Discussion” bertajuk Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil, Jakarta, Rabu. Ia menuturkan penggunaan enzim saat ini memiliki nilai 30 persen dari total biaya produksi bioetanol. Biaya produksi tersebut mencakup di antaranya transportasi, bahan kimia dan peralatan. Pihaknya memerlukan biaya produksi sekitar Rp20.000 untuk satu liter bioetanol. “Sekarang berusaha ke 30 persen tapi itu di luar yang dekat dengan pabrik enzimnya, ya kalau di sini ada biaya masuk segala macam di sini biaya enzim masih di atas 30 persen,” tuturnya.

Besarnya nilai enzim terhadap biaya total produksi dikarenakan enzim untuk proses pembuatan bioetanol berasal dari luar negeri. Ia mengatakan aktivitas enzim yang diimpor dari Denmark jauh lebih tinggi dari enzim yang diproduksi langsung di dalam negeri. Oleh karena itu, enzim impor tersebut masih menjadi pilihan untuk saat ini hingga akhirnya ke depan Indonesia dapat menghasilkan enzim dengan aktivitas tinggi yang berguna untuk proses pembuatan bioetanol. Upaya lain meminimalisasi penggunaan enzim impor yakni dengan upaya konsorsium mikroba, yang mana mikroba akan mengeluarkan enzim, tapi teknologi itu masih dalam skala laboratorium. “Kalau itu bisa berhasil, kita tidak perlu membeli enzim,” ujarnya. Selain itu, untuk mendapatkan konsentrasi etanol 99,95 persen, selama ini pihaknya juga masih menggunakan zeolit impor. “Belum ada enzim lokal yang sama aktivitasnya dengan enzim impor ini,” tuturnya. Untuk itu, pihaknya juga menaruh perhatian pada upaya pengembangan enzim tersebut agar mengurangi biaya impor.

https://www.antaranews.com/berita/754536/lipi-minimalkan-penggunaan-enzim-impor-untuk-bioetanol

Rri | Rabu, 3 Oktober 2018

LIPI Dukung Konversi Bahan Bakar Fosil ke Bioetanol

Jakarta : Penelitian dan pengembangan produksi bioetanol sebenarnya telah banyak dilakukan. LIPI bahkan telah mengembangkan bioetanol berbahan baku tandan kosong sawit sejak tahun 2008. “Penelitian dan pengembangan khususnya terkait teknologi proses sangat diperlukan untuk menemukan solusi dari sisi ekonomi pada proses produksi bioetanol Generasi 2,” ungkap Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Agus Haryono, Rabu (3/10/2018). Agus mengatakan, banyak tantangan dalam implementasi bioetanol sebagai bahan bakar. Saat ini bioetanol yang digunakan banyak berasal dari bahan pangan sehingga harus berkompetisi antara bahan baku bioetanol dengan pangan. “Melalui penggunaan limbah biomassa seperti tandan kosong sawit sebagai bahan baku bioetanol, kita diharapkan dapat menjawab permasalahan persaingan bahan baku ini,” jelas Agus.

LIPI telah memiliki teknologi untuk mengubah limbah biomassa khususnya tandan kosong sawit menjadi bioetanol. “LIPI sudah bekerjasama dengan dua BUMN untuk melakukan pengembangan yang mengarah pada produksi bioetanol skala industri. Kedua BUMN itu adalah PT Rekayasa Industri dan PT Pertamina (Persero),” ungkap Agus. Berkaitan dengan itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kimia menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) “Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil” pada Rabu, 3 Oktober 2018 di Jakarta. Tingginya harga bioetanol sekitar Rp 10.370 per liter merupakan kendala untuk menjadi bahan pencampur premium yang lebih ramah lingkungan dan dapat menurunkan emisi rumah kaca. Ketua Asosiasi Etanol Indonesia (Asendo), Untung Murdiyanto mengatakan harus ada kemauan dari Pemerintah untuk mendorong produksi Etanol yang ramah lingkungan. Sementara itu, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 12 Tahun 2015 yang mengatur tentang pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM). Dalam peraturan tersebut, pemerintah mewajibkan penggunaan 2-5% bioetanol sebagai campuran BBM pada tahun 2016. Penggunaan bioetanol sebagai campuran BBM diharapkan sudah mencapai 5-10% pada tahun 2020. Namun hingga menjelang akhir tahun 2018, implementasi dari peraturan tersebut belum juga terealisasi.

http://rri.co.id/post/berita/579708/lingkungan_hidup/lipi_dukung_konversi_bahan_bakar_fosil_ke_bioetanol.html

Antaranews | Rabu, 3 Oktober 2018

LIPI Hasilkan 150 Liter Bioetanol Generasi Kedua

Jakarta (ANTARA News) – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berhasil mengkonversi 150 liter bioetanol generasi kedua dari 1.000 kilogram tandan kosong kelapa sawit. “Hitungan yang kami konversi di mana dari 1.000 kilogram tandan kosong sawit, kami menghasilkan 150 liter etanol dengan ‘fuel grade’ 99,95 persen,” kata peneliti utama bioetanol Pusat Penelitian Kimia LIPI Yanni Sudiyani dalam acara “Focus Group Discussion” bertajuk Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil, Jakarta, Rabu. Yanni menuturkan penggunaan bioetanol dapat mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Implementasi bioetanol sebagai energi baru terbarukan akan diwujudkan dalam teknologi pencampuran (“blending”) bioetanol dan premium sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Yanni mengatakan bahan bakar nabati menjadi penting demi masa depan karena tidak selamanya dapat bergantung pada bahan bakar fosil yang lambat laun persediaanya akan habis.

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, salah satunya memiliki kandungan oksigen yang tinggi yakni 35 persen sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil. Pengembangan energi terbarukan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar lain seperti bioetanol. Pemerintah Indonesia juga menargetkan penurunan emisi pada 2030 sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan hingga 41 persen jika ada dukungan internasional.

https://www.antaranews.com/berita/754397/lipi-hasilkan-150-liter-bioetanol-generasi-kedua

Cnbcindonesia | Rabu, 3 Oktober 2018

Pasar Ekspor CPO Mulai Bergairah, Tapi Harga Masih Tertekan

Volume ekspor produk sawit Indonesia termasuk crude palm oil (CPO), palm kernel oil (PKO), oleochemical dan turunannya, oleochemical, dan biodiesel naik 2% pada Agustus 2018 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut ekspor pada Agustus 2018 tercatat 3,3 juta ton, sementara itu pada Juli 2018 sebanyak 3,22 juta ton. Adapun khusus ekspor minyak sawit (CPO, PKO dan turunannya) sepanjang Agustus tercatat sebesar 2,99 juta ton, yang juga merupakan volume ekspor bulanan tertinggi sepanjang tahun ini. Volume ekspor tertinggi di bulan Agustus tercatat ke India sebesar 823 ribu ton atau naik 26% secara bulanan, diikuti China (naik 26%), AS (naik 64%), negara-negara Afrika (naik 19%), dan Pakistan (naik 7%).

Sebaliknya, ekspor ke Uni Eropa turun 10% karena masih tingginya stok minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Penurunan ekspor juga terjadi di Bangladesh sebesar 2% karena telah melakukan impor yang tinggi sehingga stok menumpuk. Secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus tahun ini ekspor CPO dan turunannya hanya sebesar 19,96 juta ton, turun 2% dari periode yang tahun lalu mencapai 20,43 juta ton.Permintaan pasar global yang tinggi nampaknya belum mampu mengerek harga CPO global. Sepanjang Agustus, harga bergerak di kisaran US$ 542,50 – US$ 577,50 per metrik ton, dengan harga rata-rata US$ 557,50 per metrik ton. Ini merupakan level terendah sejak Januari 2016 lalu. Harga CPO global terus tertekan menyusul harga minyak nabati lain yang juga sedang jatuh, khususnya kedelai, serta stok minyak sawit yang cukup melimpah di Indonesia dan Malaysia. Pelemahan ini dimanfaatkan oleh trader untuk membeli sebanyak-banyaknya.Dari dalam negeri, tingginya ekspor produk CPO dan implementasi kewajiban B20 dianggap belum mampu mengurangi penurunan stok minyak sawit secara signifikan di tanah air. Gapki berharap pemerintah dapat mengakselerasi implementasi perluasan B-20 terhadap non-PSO yang diyakini dapat menyerap CPO di dalam negeri dalam jumlah signifikan jika berjalan sesuai dengan rencana.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20181003184218-4-35942/pasar-ekspor-cpo-mulai-bergairah-tapi-harga-masih-tertekan

Id.beritasatu | Rabu, 3 Oktober 2018

LIPI Konversi 150 Lt Bioetanol Generasi Kedua

JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berhasil mengkonversi 150 liter bioetanol generasi kedua dari 1.000 kilogram tandan kosong kelapa sawit.”Hitungan yang kami konversi di mana dari 1.000 kilogram tandan kosong sawit, kami menghasilkan 150 liter etanol dengan fuel grade 99,95%,” kata peneliti utama bioetanol Pusat Penelitian Kimia LIPI Yanni Sudiyani dalam acara “Focus Group Discussion” bertajuk Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil, Jakarta, Rabu. Yanni menuturkan penggunaan bioetanol dapat mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar fosil.Implementasi bioetanol sebagai energi baru terbarukan akan diwujudkan dalam teknologi pencampuran (blending) bioetanol dan premium sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Yanni mengatakan bahan bakar nabati menjadi penting demi masa depan karena tidak selamanya dapat bergantung pada bahan bakar fosil yang lambat laun persediaanya akan habis.

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, salah satunya memiliki kandungan oksigen yang tinggi yakni 35% sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil. Pengembangan energi terbarukan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar lain seperti bioetanol. Pemerintah Indonesia juga menargetkan penurunan emisi pada 2030 sebesar 29% dengan usaha sendiri dan hingga 41% jika ada dukungan internasional.

http://id.beritasatu.com/home/lipi-konversi-150-lt-bioetanol-generasi-kedua/181129

Indopos | Rabu, 3 Oktober 2018

Cukup 20 Persen Limbah Biomassa untuk Penuhi BBM Mobil se-Jakarta

Pemerintah terus kebut penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM). Hingga tahun 2020 pemerintah menargetkan 5-10 persen. “ Sampai saat ini, kebijakan itu belum teralisasi,” ujar Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono di Jakarta, Rabu (3/10/2018). Agus menyebutkan, Indonesia kaya akan limbah biomassa yang bisa diolah menjadi bioetanol. Namun sayang, belum ada investor yang tertarik untuk mengembangkan teknologi tersebut. Sementara itu, Peneliti Kimia Lipi Yani Sudiyani mengatakan, terus berinovasi untuk mengemnagkan bioetanol generasi 1 ke bioetanol generasi 2. Tentu keunggulan bioetanol generasi 2 lebih banyak dibandingkan bioetanol generasi 1. “ Bioetanol 1 menggunakan bahan dari bahan dasar pangan, seperti jagung, sementara bioetanol 2 dari limbah biomassa,” ujarnya. Ia menyebutkan, jumlah limbah biomassa yang ditemukan di Indonesia sebanyak 38,2 juta Ton. Pemanfaatan limbah hingga 20 persen saja, menurutnya bisa menghasilkan sumber energi hingga 124 gigajoules. “ Ini setara 4 juta mobil per tahun atau bisa mencukupi kendaraan se-Jakarta,” katanya. Yani menuturkan, bioetanol generasi 2 diolah dari bahan dasar tandan sawit, bonggol jagung dan limbah tebu. Kendala teknologi ini, menurutnya memerlukan biaya yang cukup tinggi dan rendah efisiensi.

https://www.indopos.co.id/read/2018/10/03/151398/cukup-20-persen-limbah-biomassa-untuk-penuhi-bbm-mobil-se-jakarta