+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Aprobi Dukung Terkait Peningkatan Biodiesel:

Aprobi Dukung Terkait Peningkatan Biodiesel: Ketua Harian Asosiasi Produsen Bio­fuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan men­dukung arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan agar ke depannya dapat di­ting­katkan peningkatan biodiesel dalam rangka mengatasi tekanan ekonomi global. “Kami mendukung arahan Presiden dan Menperin untuk lebih menggunakan Bio­diesel guna mengurangi impor bahan bakar juga penghematan devisa kita,” kata Paulus ketika dihubungi Antara di Jakarta, Rabu. Paulus mengutarakan harapannya agar penggunaan biodiesel jenis B20 bisa cepat diperluas di dunia industri yang ada di berbagai daerah di Tanah Air. Ia berpendapat jika hal itu bisa dilak­sanakan dengan baik maka akan signifikan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, yang sekitar setengahnya adalah impor. Terkait kesiapan teknologi, ujar dia, saat ini semua pemangku kepentingan saat ini sedang menyiapkan program B30. “Termasuk kesiapan teknis nya seperti standar Biodiesel yang lebih baik, uji la­boratorium dan uji jalan,” paparnya. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta kandungan nabati pada bahan bakar biodiesel ditingkatkan menjadi 30 persen sebagai satu langkah menghadapi tekanan ekonomi global. “Bapak Presiden menyampaikan untuk dikaji juga penggunaan biodiesel hingga 30 persen,” kata Menteri Perindustrian Air­langga Hartarto usai rapat terbatas mem­bahas tekanan ekonomi global terhadap kurs rupiah dan ekonomi nasional yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (9/7). Menperin Airlangga Hartarto menga­takan pemerintah akan meningkatkan kon­sumsi biodiesel sebesar 500.000 ton per tahun. Untuk itu, lanjutnya, Presiden juga meminta untuk segera dibuatkan ka­jiannya. Selain itu, kata Menperin, dalam rapat juga diminta untuk mengkaji industri-in­dustri nasional bisa meningkatkan utili­sasinya seperti kilang minyak di Tuban, Jatim, sehingga bisa lebih banyak me­masok kebutuhan petrokimia dan BBM domestik. Airlangga mengungkapkan rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga membahas upaya untuk memperkuat perekonomian nasional, memberi ketenteraman industri nasional, dan meningkatkan?iklim investasi. “Beberapa catatan dari rapat tadi adalah bagaimana kita bisa meningkatkan ekspor dan juga melakukan optimalisasi terhadap impor, dan juga mengembangkan substitusi impor agar perekonomian semakin kuat,” kata Airlangga. (ANALISA DAILY)

http://harian.analisadaily.com/ekonomi/news/aprobi-dukung-terkait-peningkatan-biodiesel/584151/2018/07/12

Perang Dagang: PERANG dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sudah sepekan berjalan. Tiongkok langsung membalas dengan menerapkan bea masuk tambahan senilai USD34 miliar kepada produk-produk pertanian AS. Pembalasan dilakukan karena Presiden Donald Trump mengenakan bea masuk tambahan senilai itu terhadap produk-produk Tiongkok. Semua negara mengantisipasi dampak dari perang dagang karena pasti akan ada kelebihan produk dari kedua negara yang tidak bisa lagi dipasarkan. Apalagi produk pertanian seperti kacang kedelai dan daging babi tidak bisa tahan lama. Petani AS harus mencari pasar baru untuk membuat produk mereka tidak membusuk. Kondisi itu bahkan diperkirakan akan semakin memburuk karena Trump mengancam akan memperbesar penerapan bea masuk tambahan. Tidak tanggung-tanggung, Presiden AS itu akan mengenakan bea masuk tambahan terhadap semua produk impor dari negara-negara Asia yang nilainya mencapai USD500 miliar. PERANG dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sudah sepekan berjalan. Tiongkok langsung membalas dengan menerapkan bea masuk tambahan senilai USD34 miliar kepada produk-produk pertanian AS. Pembalasan dilakukan karena Presiden Donald Trump mengenakan bea masuk tambahan senilai itu terhadap produk-produk Tiongkok. Semua negara mengantisipasi dampak dari perang dagang karena pasti akan ada kelebihan produk dari kedua negara yang tidak bisa lagi dipasarkan. Apalagi produk pertanian seperti kacang kedelai dan daging babi tidak bisa tahan lama. Petani AS harus mencari pasar baru untuk membuat produk mereka tidak membusuk. Kondisi itu bahkan diperkirakan akan semakin memburuk karena Trump mengancam akan memperbesar penerapan bea masuk tambahan. Tidak tanggung-tanggung, Presiden AS itu akan mengenakan bea masuk tambahan terhadap semua produk impor dari negara-negara Asia yang nilainya mencapai USD500 miliar. Itulah yang membuat pemerintah Indonesia segera mengambil ancang-ancang. Tim negosiasi segera dikirim untuk mencari tahu apa kebijakan yang akan diterapkan Washington. Itu penting untuk mengetahui produk-produk ekspor Indonesia apa saja yang akan terkena dampaknya. Kita tahu AS merupakan pasar utama produk-produk ekspor Indonesia. Besarnya pasar AS membuat kita menjadikan mereka sebagai negara tujuan utama ekspor mulai produk tekstil, perikanan, hingga biofuel. Menurut Badan Pusat Statistik, ekspor kita ke AS setiap tahun di atas USD16 miliar. Dua negara lain yang nilai ekspor ke AS hampir sama dengan Indonesia hanyalah Jepang dan Tiongkok. Seperti halnya Tiongkok, penerapan bea masukan tambahan oleh AS akan membuat produk kita menjadi tidak kompetitif. Ketika Washington menerapkan bea masuk tambahan hampir 80 persen untuk produk biofuel, praktis ekspor kita ke ‘Negeri Paman Sam’ itu terhenti. Penerapan bea masuk tambahan oleh Trump merupakan bagian dari upayanya untuk menghidupkan kembali perekonomian AS. Rakyat Amerika diminta untuk menanggung beban kebangkitan itu dengan harga-harga kebutuhan yang lebih mahal. Pengusaha seperti Jack Ma berpendapat, ketertinggalan industri dan perekonomian AS dari negara seperti Tiongkok bukan disebabkan kehebatan orang-orang Tiongkok. Ketertinggalan Amerika disebabkan terlalu seringnya AS berperang di banyak wilayah di dunia. Setelah Perang Dunia II, Amerika terlibat sendiri dalam banyak peperangan, mulai Perang Korea pada 1950-an hingga terakhir ini ikut dalam perang di Suriah. Bahkan untuk menjadikan diri mereka sebagai ‘polisi dunia’, AS membangun pangkalan militer yang tersebar mulai Afrika, Asia, Australia, hingga Eropa. (MEDCOM)

https://www.medcom.id/ekonomi/analisa-ekonomi/Wb7J3ZrN-perang-dagang

Kereta Api Siap Gunakan Biodiesel: “Selama tiga bulan ini belum ada masalah (uji coba) baik dari performa engine maupun dari B-20 itu sendiri,” ujar Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana saat meninjau Rail Test B-20 di Dipo Kertapati milik PT KAI, Palembang, Sumatera Selatan, dalam keterangan tertulis. Pemerintah terus mendorong pemanfaatan biodiesel untuk transportasi di Indonesia. Sebelumnya, Ignasius Jonan Menteri ESDM menuturkan, pemakaian biodiesel akan diperluas untuk meningkatkan porsi kepada sektor transportasi kereta api melalui pencampuran biodiesel dengan solar. Pemakaiannya untuk lokomotif kereta sebesar 5 persen dan alat berat pertambangan dengan campuran sebesar 15 persen. “Sekarang kereta misalnya biosolar itu kereta api sudah oke tahun ini 5 persen alat berat yang digunakan di tambang 15 persen,” ucap Jonan. Dengan ada perluasan penerapan campuran biodiesel ke solar, konsumsi biodiesel bertambah 1 juta kilo liter dalam setahun. Harapannya pemakaian biodiesel di Indonesia menjadi 3,5 juta kl selama setahun. Untuk meningkatkan campuran B-5 menjadi B-20 di kereta api, pemeritah mulai membuat kegiatan ujicoba biodiesel pada bahan bakar kereta api. Memasuki awal kuartal kedua 2018, Rail Test B-20 (bahan bakar dengan campuran 20% biodiesel) kembali dilakukan. Hasil positif didapatkan dengan tidak ditemuinya kendala pada mesin kereta api. Dadan mengatakan memasuki bulan ketiga Rail Test B-20 berjalan ini. Lalu, masih ada waktu tiga bulan lagi untuk memastikan apakah B-20 dapat bekerja maksimal pada mesin kereta api milik PT KAI atau tidak. Kendati demikian, penggunaan biodiesel pada kereta api menemui kendala ketika campurannya ditingkatkan secara bertahap dari B5 menjadi B20. Walaupun demikian saat ini dalam proses uji coba guna mengetahui apakah benar permasalahan itu ditimbulkan oleh biodiesel. Jika memang benar biodiesel penyebabnya maka dicarikan solusi agar kendala itu bisa diselesaikan. Sejak 2016, pencampuran ditingkatkan menjadi 20% atau B20. Laporan KAI menyatakan, ada masalah pada filter dan nozzle tip lokom otif setelah menggunakan B20. Dengan uji coba ini akan diketahui apakah permasalahan itu terjadi akibat pemakaian B20. Ade Hilmi,Vice President PT Kereta Api Indonesia, mengakui sempat ada kendala masalah filter nozzle di lokomotif saat pengujian campuran B-20. Penyebabnya karena pembakaran tidak sempurna akibat penggunaan biodiesel di luar batas toleransi pihak pabrik sebesar 5%. “Karena ada kendala ini, maka dilakukan rail test,” jelasnya. Berdasarkan data KAI, jumlah lokomotif yang dimiliki mencapai 420 unit. Lokomotif diesel elektrik PT KAI sebagian besar dibuat di Amerika Serikat atau Kanada, sedangkan diesel hidraulik kebanyakan Jerman. Unit listrik beberapa kebanyakan buatan Jepang. Industri lokal mampu membangun beberapa unit, baik diesel dan listrik. (SAWITINDONESIA)

Peningkatan Kandungan Biodiesel 30 Persen Perlu Uji Coba: Direktur Eksekutif IRESS, Marwan Batubara meminta rencana peningkatan kandungan biodiesel pada BBM dari 20 persen menjadi 30 persen dilakukan uji coba terlebih dahulu. Menurut Marwan, hingga saat ini belum ada hasil kajian resmi terkait dampak biodisel dengan kandungan 30 persen pada mesin kendaraan bermotor. “Kalau emang udah ada uji coba dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan ya silahkan saja. Kita perlu merujuk EBTKE (Ditjen Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM) apa hasil mereka selama ini, bagaimana koordinasi mereka dengan pengusaha kapal termasuk untuk kapal angkatan. Kan itu lembaga pemerintahan sendri. Jangan cukup ABS (asal bapak Senang) kemudian takut mengungkap masalah sebenarnya, kita mau independen karena ini menyangkut kepentingan publik,” tegas Marwan di Jakarta. Dia membenarkan secara ekologi kandungan biodiesel yang lebih tinggi pada BBM akan berdampak positif bagi lingkungan. Namun harus ada jaminan bahwa mesin – mesin motor yang menggunakan BBM dengan kadar CPO 30 persen tetap dapat berjalan normal. “Jangan sekedar bicara angka 30 persen bagus tanpa melihat secara teknis sebetulnya itu bisa berdampak seperti apa,” ulasnya. Dia berharap alasan Presiden Jokowi yang meminta kandungan biodiesel naik menjadi 30 persen bukan lantaran dorongan dari produsen CPO nasional yang pasar luar negerinya tergerus akibat persaingan dagang. Presiden harus benar-benar memposisikan persoalan biodiesel ini sebagai BBM yang lebih ramah lingkungan. “Jadi sepanjang belum ada hasil kajiannya jangan paksakan kehendak sebab nanti yang jadi korban adalah kita. Apalagi kalau seaindainya di belakang itu ada pengusaha CPO,” pungkas Marwan. (HARIANTERBIT)

http://www.harianterbit.com/hanterekonomi/read/2018/07/11/99758/0/21/Peningkatan-Kandungan-Biodiesel-30-Persen-Perlu-Uji-Coba

Perang Dagang AS-Cina, Ini Harapan Pengusaha Kelapa Sawit: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina yang semakin memanas mulai berpengaruh terhadap pasar minyak nabati. Pasalnya, Cina mulai mengurangi pembelian kedelai dari Amerika dan menyebabkan stok melimpah serta menekan harga. Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, makin tak menentunya situasi pasar dan semakin panasnya hubungan dagang kedua negara memerlukan perhatian khusus dari pemerintah Indonesia. “Perhatian khusus kepada industri minyak sawit untuk menjaga agar harga tidak terus merosot,” kata Mukti. harga minyak nabati terus tercatat mengalami penurunan. Khusus untuk Indonesia, pemerintah diharapkan membuat kebijakan untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dengan mendorong penggunaan biodiesel yang lebih banyak. Mukti menyebutkan mandatori biodiesel sudah waktunya diterapkan kepada non-PSO untuk mendongkrak konsumsi di dalam negeri. “Jika konsumsi di dalam negeri tinggi maka stok akan terjaga sehingga harga di pasar global tidak anjlok karena stok yang melimpah,” tuturnya. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mulai menjajaki pasar Afrika yang masih memiliki potensi besar akan tetapi infrastruktur masih minim. Pemerintah dapat membuat kebijakan seperti menurunkan tarif ekspor minyak goreng kemasan ke negara Afrika. Berdasar catatan Gapki, volume ekspor minyak sawit termasuk biodiesel dan oleochemical mengalami penurunan sebesar tiga persen atau dari 2,39 juta ton pada April 2018, susut menjadi 2,33 juta ton pada Mei 2018. Khusus volume ekspor CPO dan turunannya tidak termasuk biodiesel dan oleochemical pada Mei 2018 tercatat menurun empat persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya, atau dari 2,22 juta ton merosot menjadi 2,14 juta ton. (TEMPO)

https://bisnis.tempo.co/read/1105912/perang-dagang-as-cina-ini-harapan-pengusaha-kelapa-sawit