+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Aprobi Kasih 2 Jempol Buat Presiden Jokowi

Rakyat Merdeka | Jum’at, 21 Juni 2019

Aprobi Kasih 2 Jempol Buat Presiden Jokowi

ASOSIASI Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) mengapresiasi langkah dan perjuangan pemerintah yang berhasil menjadikan biofuel sebagai energi terbarukan yang dapat digunakan negara-negara anggota G20. Capaian ini akan meningkatkan kinerja industri sawit di Tanah Air. Ketua Umum APROBI MP Tumanggor mengatakan, keberhasilan ini tidak lepas dari keputusan Presiden Jokowi mengirim Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya melobi pihak-pihak terkait. Pada pertemuan G20 di Jepang, pada 16-17 Juni lalu, kedua menteri ini berhasil meyakinkan menteri-menteri energi dan lingkungan negara-negara G20 untuk menerima biofuel sebagai energi terbarukan. “Ini adalah dorongan dari Presiden Jokowi yang selalu berbicara pada setiap pertemuan bilateral dengan para kepala negara. Baik di dalam negeri, maupun pada saat melakukan kunjungan ke luar negeri,” ujar Tumanggor kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Menurut dia. keputusan diterimanya penggunaan biofuel oleh G20 berdampak positif bagi kemajuan industri dan usaha perkebunan sawit kita. Pertama, melalui peningkatan penggunakan biofuel. kapasitas industri biofuel Indonesia dapat ditingkatkan. Kedua, lanjut Tumanggor, industri biofuel Indonesia dapat menyerap produksi crude Palm Oil (CPO) yang terus meningkat. Pada tahun ini diperkirakan industri dalam negeri dapat memproduksi sekitar 42 juta ton. Ketiga, harga CPO dapat terus dipertahankan agar tidak turun. Keempat, kata Komisaris Wilmar ini. ekspor biofuel dapat ditingkatkan. “Dan, terakhir adalah komitmen COP 21 Paris untuk menurunkan emisi dapat dicapai. Termasuk penurunan emisi yang disepakati dalam komitmen G20 di Karijawa, Jepang 2019,” ungkapnya. COP Paris 21 atau 21st Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change alias konferensi ke-21 dari negara-negara ysng telah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.

Wartaekonomi | Kamis, 20 Juni 2019

Mau Kembangkan Biodiesel dalam Negeri, Peru Lirik Indonesia

Pemerintah Peru berniat menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis di bidang industri kelapa sawit. Hal itu disampaikan anggota Kongres Peru, Alejandra Aramayo kepada Wakil Menteri Hidrokarbon Peru, Eduardo Guevara. Kongres Peru yang dihelat pada Rabu (12/6/2019) lalu juga dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Lima, Marina Estella Anwar Bey dan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan. Aramayo berpendapat bahwa Indonesia dapat menjadi model bagi Peru untuk mengembangkan industri kelapa sawit, khususnya biodiesel bagi kebutuhan domestik. Saat ini Pemerintah Peru menerapkan mandat penggunaan B5, namun produksi biodiesel dalam negeri sangat kecil dan tidak bisa memenuhi kebutuhan domestik sehingga pemerintah harus mengimpor produk biodiesel dari negara lain dalam skala besar. “Saya merekomendasikan Pemerintah Peru agar bekerja sama dengan Indonesia,” ujar Aramayo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/6/2019).

Aramayo juga mengharapkan Peru bergabung dengan Dewan Negara Penghasil Kelapa Sawit (CPOPC) yang telah diinisiasi oleh Indonesia dan Malaysia. Saat ini, Kolombia merupakan negara pertama di kawasan Amerika Latin yang telah menjadi anggota. “Pemerintah Peru menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan akan mempelajari kemungkinan Peru menjadi anggota CPOPC,” tambahnya. Sementara itu, Dubes Marina Estella mengatakan, keinginan Peru tersebut karena Indonesia dinilai sukses mengembangkan industri kelapa sawit, baik di industri hulu maupun hilir. Hal ini dibuktikan dengan tingginya produktivitas kebun kelapa sawit, serta pengembangan berbagai produk dari minyak sawit termasuk biodiesel. Ketua Aprobi, Paulus Tjakrawan menjelaskan, Indonesia telah menggunakan biodiesel sejak 2006 dan terus meningkat setiap tahun. Saat ini Indonesia menggunakan kandungan biodiesel sebanyak 20% (B20) dan sedang menguji coba B30. “Diproyeksikan pada 2020, Indonesia akan mulai menggunakan B30. Selain itu, Indonesia sedang mengembangkan bahan bakar bio-hidrokarbon berupa green gasoline, green diesel, dan green avtur,” ujar dia.

https://www.wartaekonomi.co.id/read232800/mau-kembangkan-biodiesel-dalam-negeri-peru-lirik-indonesia.html

Rmco | Kamis, 20 Juni 2019

Biofuel Diterima Negara G20, Aprobi Acungi Jempol Kinerja Jonan dan Siti

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mengapresiasi langkah dan perjuangan pemerintah yang berhasil menjadikan biofuel sebagai energi terbarukan yang dapat digunakan negara-negara anggota G20. Capaian ini akan meningkatkan kinerja industri sawit di Tanah Air. Ketua Umum Aprobi MP Tumanggor mengatakan, keberhasilan ini tidak lepas dari lobi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya. Pada pertemuan G20 di Jepang pada 16-17 Juni lalu, kedua menteri ini berhasil meyakinkan menteri-menteri energi dan lingkungan negara-negara G20 untuk menerima biofuel sebagai energi terbarukan. “Kerja keras kedua menteri ini tentunya adalah dorongan dari kemauan Presiden Jokowi yang selalu berbicara pada setiap pertemuan bilateral dengan para kepala negara baik di dalam negeri, maupun pada saat beliau melakukan kunjungan ke luar negeri,” ujar Tumanggor kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Kamis (20/6). Menurut dia, keputusan diterimanya penggunaan biofuel oleh G20 berdampak pisitif bagi kemajuan industri dan usaha perkebunan sawit Indonesia. Pertama, melalui peningkatan penggunakan biofuel, maka kapasitas industri biofuel Indonesia dapat ditingkatkan. Kedua, lanjut Tumanggor, industri biofuel Indonesia dapat menyerap produksi Crude Palm Oil (CPO) yang terus meningkat. Pada tahun ini diperkirakan Industri dalam negeri dapat memproduksi sekitar 42 juta ton.

Ketiga, harga CPO dapat terus dipertahankan agar tidak turun. Sedangkan keempat, kata Komisaris Wilmar ini, ekspor biofuel dapat ditingkatkan. “Dan, terakhir adalah komitmen COP 21 Paris untuk menurunkan emisi dapat dicapai. Termasuk penurunan emisi yang disepakati dalam komitmen G20 di Karijawa, Jepang 2019,” ungkapnya. COP Paris 21 atau 21st Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change alias konferensi ke-21 dari negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Tumanggor menambahkan, diterimanya penggunaan biofuel untuk negara-negar G20 juga memberikan dampak positif dan sebagai jawaban terhadap tuduhan-tuduhan yang dilakukan oleh Uni Eropa bahwa industri sawit melakukan perusakan lingkungan. “Padahal pemerintahan Jokowi telah melakukan moratorium perizinan perkebunan sawit dan pelepasan kawasan hutan untuk Sawit,” pungkas Tumanggor.

https://rmco.id/baca-berita/probisnis/11470/biofuel-diterima-negara-g20-aprobi-acungi-jempol-kinerja-jonan-dan-siti

First State Fututes | Kamis, 20 Juni 2019

Mau Kembangkan Biodiesel dalam Negeri, Peru Lirik Indonesia

Pemerintah Peru berniat menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis di bidang industri kelapa sawit. Hal itu disampaikan anggota Kongres Peru, Alejandra Aramayo kepada Wakil Menteri Hidrokarbon Peru, Eduardo Guevara. Kongres Peru yang dihelat pada Rabu (12/6/2019) lalu juga dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Lima, Marina Estella Anwar Bey dan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan. Aramayo berpendapat bahwa Indonesia dapat menjadi model bagi Peru untuk mengembangkan industri kelapa sawit, khususnya biodiesel bagi kebutuhan domestik. Saat ini Pemerintah Peru menerapkan mandat penggunaan B5, namun produksi biodiesel dalam negeri sangat kecil dan tidak bisa memenuhi kebutuhan domestik sehingga pemerintah harus mengimpor produk biodiesel dari negara lain dalam skala besar.

“Saya merekomendasikan Pemerintah Peru agar bekerja sama dengan Indonesia,” ujar Aramayo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/6/2019). Aramayo juga mengharapkan Peru bergabung dengan Dewan Negara Penghasil Kelapa Sawit (CPOPC) yang telah diinisiasi oleh Indonesia dan Malaysia. Saat ini, Kolombia merupakan negara pertama di kawasan Amerika Latin yang telah menjadi anggota. “Pemerintah Peru menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan akan mempelajari kemungkinan Peru menjadi anggota CPOPC,” tambahnya. Sementara itu, Dubes Marina Estella mengatakan, keinginan Peru tersebut karena Indonesia dinilai sukses mengembangkan industri kelapa sawit, baik di industri hulu maupun hilir. Hal ini dibuktikan dengan tingginya produktivitas kebun kelapa sawit, serta pengembangan berbagai produk dari minyak sawit termasuk biodiesel. Ketua Aprobi, Paulus Tjakrawan menjelaskan, Indonesia telah menggunakan biodiesel sejak 2006 dan terus meningkat setiap tahun. Saat ini Indonesia menggunakan kandungan biodiesel sebanyak 20% (B20) dan sedang menguji coba B30. “Diproyeksikan pada 2020, Indonesia akan mulai menggunakan B30. Selain itu, Indonesia sedang mengembangkan bahan bakar bio-hidrokarbon berupa green gasoline, green diesel, dan green avtur,” ujar dia.

http://www.firststate-futures.com/mau-kembangkan-biodiesel-dalam-negeri-peru-lirik-indonesia/

Borneonews | Kamis, 20 Juni 2019

Prospek Industri Sawit Cerah Berkat Program B30

Emiten perkebunan kelapa sawit memiliki harapan atas uji coba kewajiban penggunaan campuran minyak sawit dalam solar sebesar 30% atau biodiesel 30 (B30). “Rencana pemerintah untuk meningkatkan campuran biodiesel menjadi B30 dapat mendorong laju permintaan domestik terhadap kelapa sawit,” kata Direktur Keuangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT), Lucas Kurniawan, di Jakarta, Kamis (20/6/2019). Begitu juga dengan inisiatif pemerintah untuk menggunakan bahan bakar hijau dan berbasis CPO guna menggantikan bahan bakar fosil dan rencana pembangunan empat pembangkit tenaga listrik bertenaga CPO. “Program B30 oleh pemerintah tidak hanya berdampak positif bagi ANJT tetapi juga untuk industri pada umumnya karena akan terciptanya pasar baru dan terlebih ini adalah pasar domestik,” papar Lucas. Inisiatif pemerintah dalam menciptakan pasar, lanjut Lucas, patut disyukuri dan dihargai karena saat ini industri minyak sawit tengah menghadapi pelemahan permintaan. “Hal itu disebabkan oleh ketidakpastian iklim ekonomi global akibat ketegangan hubungan dagang antara AS dan RRT dan kampanye anti sawit di Benua Eropa,” ujarnya.

https://www.borneonews.co.id/berita/129135-prospek-industri-sawit-cerah-berkat-program-b30

Detik | Kamis, 20 Juni 2019

3 Mahasiswa Undip Ubah Batu Fosfat dan Jelantah Jadi Biodiesel

Tiga mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang berhasil mengembangkan batuan fosfat sebagai katalis membuat biodiesel menggunakan minyak jelantah. Menurut mereka temuan tersebut bisa menjadi energi terbarukan dan menghemat pengeluaran produksi biodiesel. Para Mahasiswa tersebut adalah Wisnu Aji Wardani, Murest Patra Patriosa, dan Jovita Cahyonugroho. Permadi menjelaskan penelitian yang mereka kembangkan adalah Katalis Fosfat Alam (Kafosta). “Ini memanfaatkan batuan fosfat yang diperoleh dari daerah Sukolilo, Pati, Jawa Tengah untuk memproduksi biodiesel pengganti solar yang ramah lingkungan dengan bahan dasar minyak jelantah,” kata Permadi, Kamis (20/6/2019). “Minyak jelantah sisa dari rumah tangga bisa dimanfaatkan,” imbuhnya Penggunaan jelantah untuk biodiesel bukan hal baru, namun katalis menggunakan batu fosfat belum dikembangkan sehingga menurut Permadi dan kawan-kawannya itu patut dikembangkan karena salah satu cara menciptakan energi terbarukan yang lebih hemat. “Batuan fosfat penggunaannya masih sedikit, di Pati hanya untuk pakan ternak. Kemudian kami melihat menarik, kalau membuat bebatuan yang tidak berharga menjadi manfaat dan nilai jual,” jelasnya. Biodiesel, lanjut Permadi, diproduksi melalui reaksi esterifikasi dan transesterifikasi dengan katalis berbeda. Maka dalam penelitian mereka, reaksi-reaksi itu simultan dengan Kafosta sehingga menurunkan ongkos produksi biodiesel tersebut. “Dengan adanya inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai jual batuan fosfat di daerah Sukolilo dan memberikan solusi untuk permasalahan mahalnya harga katalis di industri pembuatan biodiesel,” ujarnya.

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4593836/3-mahasiswa-undip-ubah-batu-fosfat-dan-jelantah-jadi-biodiesel