+62 2129380882 office@aprobi.co.id

APROBI: Penerapan B30 Bisa Dongkrak Harga CPO

CNBC Indonesia | Jum’at, 27 Desember 2019

APROBI: Penerapan B30 Bisa Dongkrak Harga CPO

Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penggunaan biodiesel disebut Ketua Umum APROBI, Master Parulian Tumanggor sebagai langkah positif karena mampu mendorong peningkatan harga CPO. Program B30 yang akan dimulai pada 1 Januari 2020 akan menyerap sekitar 9,6 juta kiloliter fatty acid methyl ester (FAME), sehingga pelaku usaha terus berupaya untuk mempersiapkan industri agar siap memenuhi kebutuhan biofuel ini. Seperti apa APROBI melihat tantangan dan manfaat program biodiesel ini? Selengkapnya saksikan dialog Anneke Wijaya dengan Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Master Parulian Tumanggor dalam Power Lunch, CNBC Indonesia (Kamis, 26/12/2019)

https://www.cnbcindonesia.com/market/20191226160328-19-125780/aprobi-penerapan-b30-bisa-dongkrak-harga-cpo

Antara | Minggu, 29 Desember 2019

Efek berlipat B30 bagi ekonomi RI

“Bagi saya tidak cukup hanya sampai ke B30,” kata Presiden Joko Widodo ketika meluncurkan implementasi Program B30 di SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta, Senin (23/12). Pernyataan Presiden Jokowi itu menandakan implementasi bahan bakar ramah lingkungan harus dipercepat bahkan hingga 100 persen atau B100. Secara bertahap, Kepala Negara menginginkan percepatan implementasi BBM kandungan nabati dan solar B40 tahun 2020 dan menyusul B50 awal tahun 2021. Realisasi bahan bakar minyak (BBM) campuran 30 persen kandungan minyak sawit dan 70 persen solar itu lebih cepat dari rencana awal yakni Januari 2020. Peluncuran B30 dilakukan setelah sebelumnya biodiesel B20 dipasarkan Agustus 2018. Serangkaian tes hingga uji jalan menggunakan B30 sudah dilakukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM. Balitbang ESDM melalui lamannya di Jakarta, Kamis (28/11) menyebutkan uji jalan B30 untuk kendaraan diesel dilakukan 13 Juni 2019. Hasilnya, persentase perubahan daya konsumsi bahan bakar, pelumas, dan emisi gas buang relatif sama antara B20 dan B30 terhadap jarak tempuh kendaraan. Kemudian, opasitas gas buang kendaraan pada penggunaan bahan bakar B30 masih berada di bawah ambang batas ukur dan tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan. Kendaraan berbahan bakar solar (Bo), B30 (monogliserida biodiesel 0,4 persen) dan B30 (monogliserida biodiesel 0,55 persen) dengan waktu didiamkan selama tiga, tujuh, 14 dan 21 hari dapat dinyalakan normal dengan waktu penyalaan sekitar satu detik. Selain itu, kendaraan baru atau yang sebelumnya tidak menggunakan biodiesel cenderung mengalami penggantian filter bahan bakar lebih cepat di awal penggunaan B30 karena efek blocking namun, sesudahnya kembali normal. Dengan hasil akhir itu, Kementerian ESDM memberikan rekomendasi hingga akhirnya Presiden Jokowi meluncurkan mandatori B30 lebih cepat pada 23 Desember 2019.

Efek berlipat

Presiden Jokowi tahu betul, gesitnya implementasi BBM ramah lingkungan itu akan mendorong perekonomian Indonesia lebih optimal. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengungkapkan ada sejumlah alasan program tersebut harus digenjot yakni Indonesia harus bisa lepas dari ketergantungan bahan bakar fosil yang suatu saat akan habis. Untuk itu, pemerintah gencar mencari sumber-sumber energi baru terbarukan salah satunya dari sawit, sekaligus menjaga bumi dengan energi bersih yang dapat menurunkan kadar emisi karbon. Penerapan biodiesel juga memberikan efek positif yakni mengurangi ketergantungan Indonesia dengan impor BBM termasuk solar yang tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan selama November 2019, nilai impor migas mencapai 2,13 miliar dolar AS atau naik 21,6 persen jika dibandingkan Oktober 2019. Sedangkan, selama periode Januari-November 2019, nilai impor migas mencapai 19,75 miliar dolar AS atau turun 29,06 persen jika dibandingkan periode sama tahun 2018 mencapai 27,84 miliar dolar AS. Meski menurun, selama 11 bulan tahun ini, BPS mencatat defisit neraca dagang Indonesia dari sektor migas masih tergolong besar mencapai 8,3 miliar dolar AS. Hal ini disebabkan nilai impor migas Januari-November 2019 yang masih lebih tinggi mencapai 19,75 miliar dolar AS dibandingkan ekspor mencapai 11,4 miliar dolar AS. Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sawit terbesar di dunia. Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) menyebutkan per September 2019, produksi minyak sawit mencapai 36 juta ton atau naik 13 persen dibandingkan periode sama tahun 2018 dengan luas lahan sawit di Tanah Air mencapai sekitar 14 juta hektare. Potensi itu harus dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional. Untuk itu, jika penerapan B30 konsisten dilakukan, Presiden Jokowi menyebut potensi devisa negara bisa dihemat mencapai sekitar Rp63 triliun, angka yang tidak sedikit pastinya. Program B30 juga membawa efek ekonomi yang besar karena permintaan dalam negeri yang meningkat sehingga dampak berlipat dirasakan 16,5 juta petani dan pekebun kepala sawit di Tanah Air. Indonesia juga tahan banting dari tekanan negara asing khususnya terkait kampanye negatif ekspor sawit RI karena pasar di dalam negeri yang besar. Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menambahkan tahun 2019, penghematan devisa dengan biodiesel mencapai Rp43 triliun dan tahun 2020 meningkat menjadi Rp63 triliun. Emisi gas rumah kaca, kata dia, bisa dikurangi 14,25 juta ton karbon dioksida dan menambah penyerapan tenaga kerja. Secara total, industri sawit menyerap 16-18 juta orang tenaga kerja dan dengan program B30, menambah tenaga kerja mencapai 1,2-1,4 juta orang.

Harga sawit dan B30

Implementasi biodiesel B30 turut membawa angin segar bagi petani sawit di Indonesia, salah satunya di Palembang, Sumatera Selatan. Ketua Gapki Sumatera Selatan Harry Hartanto mengatakan harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak positif hingga naik mencapai Rp9.023 per kilogram pada minggu pertama Desember 2019. Sedangkan harga di tingkat petani berupa tandan buah segar, kata dia, mencapai Rp1.678 per kilogram. Sumatera Selatan berkontribusi sebesar lima juta ton CPO dari total produksi nasional mencapai 36 juta ton per tahun. Sementara itu, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mencatat serapan biodiesel dalam negeri diprediksi melonjak sebesar 50 persen menjadi 9,6 juta kilo liter seiring kebijakan mandatori B30. Ketua Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan dalam kebijakan B20 sebelumnya, kebutuhan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan mencapai 6,4 juta kilo liter dengan total penghematan devisa mencapai 3,5 miliar dolar AS atau setara Rp51,75 triliun. Meski permintaan sawit di dalam negeri meningkat, Menteri ESDM Arifin Tasrif memastikan mandatori biodiesel B30 itu tidak mempengaruhi kebijakan harga jual di masyarakat. Harga jual B30 yang dikenal masyarakat biosolar tetap dijual mengikuti ketetapan harga yakni sebesar Rp5.150 per liter. Sementara itu, untuk penyaluran B30, Pertamina bekerja sama dengan 18 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan BUMN itu menyiapkan 28 titik percampuran kandungan minyak nabati dari kepala sawit atau fatty acid methyl ester (FAME). Sebanyak 28 titik itu di antaranya di Medan, Dumai, Siak, Teluk Kabung, Plaju, Panjang, Tanjung Gerem, Bandung Group, Tanjung Uban, Jakarta Group. Kemudian di Cikampek, Balongan, Tasikmalaya Group, Cilacap Group, Semarang Group, Tanjung Wangi, Surabaya, Tuban, Boyolali, Rewulu, Bitung, Balikpapan Group, Kasim, Kotabaru Group, Makassar, Manggis, Kupang dan STS Pontianak. Ia optimistis tahun 2020, biodiesel B30 bisa tersalurkan di seluruh Indonesia. Jika mencermati dampak ekonomi dan keseriusan pemerintah terkait program B30, maka diharapkan Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor minyak. Penurunan impor migas harus terus digenjot sehingga neraca perdagangan tidak lagi menanggung beban defisit. Apalagi impor migas memiliki porsi besar selama tahun 2018 yang menyumbang 15,8 persen dari total impor Indonesia berdasarkan data dari BPS.

https://kalteng.antaranews.com/nasional/berita/1227851/efek-berlipat-b30-bagi-ekonomi-ri?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews

Inilah Koran | Sabtu, 28 Desember 2019

Implementasi B30 Kejar Hemat Impor Rp63 Triliun

Pemerintah dalam implementasi B30 dapat menghemat devisa hingga Rp63 triliun. Manfaat lain juga untuk menimbulkan multiplier effect bagi sekitar 16,5 juta petani kelapa sawit di Indonesia. “Kita berusaha untuk mencari sumber-sumber energi terbarukan. Kita harus melepaskan diri dari ketergantungan kepada energi fosil yang suatu saat pasti akan habis. Pengembangan EBT juga membuktikan komitmen kita untuk menjaga bumi, menjaga energi bersih dengan menurunkan emisi gas karbon dan menjaga kualitas lingkungan,” ungkap Presiden Joko Widodo saat meluncurkan Program Mandatori B30 (campuran biodiesel 30% dan 70% BBM jenis solar), bertempat di SPBU Pertamina MT Haryono 31.128.02 Jakarta, seperti mengutip dari esdm.go.id. Program Mandatori B30 ini akan diimplementasikan secara serentak di seluruh Indonesia mulai 1 Januari 2020. Indonesia pun tercatat sebagai negara pertama yang mengimplementasikan B30 di dunia. Keberhasilan implementasi B20 yang diterapkan sebelumnya, jelas presiden, mendorong Pemerintah untuk meningkatkan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) biodiesel sebagai campuran BBM guna mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) ke depan. Program mandatori B30 juga akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. “Kita tahu ketergantungan kita kepada impor BBM termasuk di dalamnya solar, ini cukup tinggi. Sementara di sisi lain kita juga negara penghasil sawit terbesar di dunia, dengan potensi sawit yang besar kita punya banyak sumber bahan bakar nabati sebagai pengganti bahan bakar solar. Potensi itu harus kita manfaatkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” tegas Presiden yang didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri BUMN Erick Thohir, Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama, dan Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati. Usaha-usaha penurunan impor solar terus dilakukan Pemerintah. Bahkan, melalui implementasi B30 ini dapat menghemat devisa hingga Rp63 triliun. “Kalkulasinya jika kita konsisten menerapkan B30 ini, akan dihemat devisa kurang lebih Rp63 triliun, jumlah yang sangat besar sekali,” ujar Presiden. Biodiesel merupakan BBN untuk mesin diesel berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi/transesterifikasi. Untuk saat ini, bahan baku biodiesel yang digunakan di Indonesia sebagian besar berasal dari minyak sawit (CPO). Selain dari CPO, tanaman lain yang berpotensi untuk bahan baku biodiesel antara lain tanaman jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, nyamplung dan lain-lain. Program mandatori biodiesel ini mulai diimplementasikan pada tahun 2008 dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2,5%. Secara bertahap kadar biodiesel meningkat hingga 7,5% pada tahun 2010. Pada periode 2011 hingga 2015 persentase biodiesel ditingkatkan dari 10% menjadi 15%. Selanjutnya pada tanggal 1 Januari 2016, B20 mulai diimplementasikan untuk seluruh sektor terkait. Sebelumnya, program Biodiesel 20% (B20) berjalan dengan baik dengan adanya dukungan kapasitas produksi yang cukup, uji kinerja/uji jalan, pemantauan secara berkala atas kualitas dan kuantitas oleh tim independen, serta penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pada tahun 2019, dilakukan uji Jalan B30 untuk kendaraan dengan kapasitas <3,5 ton dan >3,5 ton dilaksanakan selama bulan Mei – November 2019 dengan melibatkan Kementerian ESDM, BPDPKS, BPPT, PT Pertamina (Persero), APROBI, GAIKINDO, dan IKABI.

https://www.inilahkoran.com/berita/36917/implementasi-b30-kejar-hemat-impor-rp63-triliun

Okezone | Minggu, 29 Desember 2019

Pemerintah Jamin Harga Biosolar Tak Naik di 2020

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjamin program mandatori B30 (campuran biodiesel 30% dalam BBM jenis solar) yang akan dilakukan mulai awal Januari 2020, tidak akan mempengaruhi kebijakan harga jual B30 atau yang dikenal sebagai biosolar. “Harga jual biosolar di SPBU tidak akan mengalami kenaikan alias tetap, yakni Rp5.150 per liter,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif mengutip setkab, Jakarta, Minggu (29/12/2019). Kenaikan harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) seperti diketahui, saat ini memang sedang menjadi tren. Kenaikan harga ini dipengaruhi meningkatnya permintaan dalam negeri terhadap minyak kelapa sawit. Salah satu faktor penyebab peningkatan ini adalah penerapan mandatori B30 yang mulai efektif berlaku di Januari 2020 nanti. Walaupun ada kenaikan dari sisi bahan baku biodiesel (CPO), Arifin menegaskan, Pemerintah tetap mengupayakan tidak ada kenaikan harga jual biosolar di pasaran. “CPO itu kan naik juga karena B30,” sambung Arifin. Mengenai selisih harga, menurut Arifin, akan ditanggung melalui insentif Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) sehingga masyarakat tetap akan menikmati biosolar ini dengan harga yang sama. “Harga biosolar B30 tetap akan dijual mengikuti ketetapan harga untuk BBM jenis Solar yang tidak mengalami kenaikan sejak ditetapkan 1 April 2016 lalu, yakni Rp 5.150 per liter,” tegas Arifin. Untuk diketahui, formula harga dasar BBM jenis solar masih mengacu kepada formula 95% HIP (harga indeks pasar) minyak solar plus Rp802 per liter. Sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1980K/10/MEM/2018 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Minyak, HIP Minyak Solar didasarkan kepada 100% harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) jenis Gas Oil 0,25% sulfur.

https://economy.okezone.com/read/2019/12/29/320/2147103/pemerintah-jamin-harga-biosolar-tak-naik-di-2020

CNN Indonesia | Minggu, 29 Desember 2019

Menteri ESDM Pastikan Harga Biosolar Tetap Meski B30

Kementerian ESDM memastikan bahwa program mandatori campuran biodiesel 30 persen dalam BBM jenis solar (B30) tidak akan mempengaruhi kebijakan harga jual B30 atau yang dikenal sebagai biosolar di masyarakat. Artinya, biosolar tetap dibanderol yakni Rp5.150 per liter. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif di depan awak media di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (27/12). “Harga (biosolar) nggak berubah, tetap,” kata Arifin seperti dikutip dari keterangan resemi, Sabtu (28/12). Saat ini tengah terjadi tren kenaikan harga minyak sawit (crude palm oil/ CPO). Kenaikan harga CPO dipengaruhi meningkatnya permintaan dalam negeri terhadap minyak kelapa sawit. Salah satu faktor penyebab peningkatan ini disinyalir penerapan mandatori B30 yang efektif berlaku Januari 2020 nanti. Kendati demikian, walaupun ada kenaikan dari sisi bahan baku biodiesel (CPO), Arifin menegaskan pemerintah tetap mengupayakan tidak ada kenaikan harga jual biosolar di pasaran. Sebagai catatan, selisih harga ini ditanggung melalui insentif Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) sehingga masyarakat tetap akan menikmati biosolar ini dengan harga yang sama. Harga biosolar B30 tetap akan dijual mengikuti ketetapan harga untuk BBM jenis Solar yang tidak mengalami kenaikan sejak ditetapkan 1 April 2016 lalu, yakni Rp 5.150 per liter. Sebagai informasi, formula harga dasar BBM jenis solar masih mengacu kepada formula 95 persen HIP (harga indeks pasar) minyak solar plus Rp802 per liter. Sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1980 K/10/MEM/2018 tentang Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Minyak, HIP Minyak Solar didasarkan kepada seratus persen harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) jenis Gas Oil 0,25 persen sulfur.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191228214941-85-460716/menteri-esdm-pastikan-harga-biosolar-tetap-meski-b30-berjalan

Otomania.com | Minggu, 29 Desember 2019

Seperti Ini Hasil Uji Coba Implementasi Bio Solar B30 di Sumatera, Siap-siap 2020 Semua Full B30

Solar B30 tak butuh waktu lama untuk segera beredar di seluruh SPBU. Contohnya di Sumatera, Marketing Operation Region (MOR) I Pertamina telah melakukan uji coba implementasi program B30. Di Sumatera Utara program ini sudah berjalan sejak 1 hingga 31 Desember 2019. Unit Manager Communication & CSR MOR I, Roby Hervindo mengatakan, sejak awal Desember hingga kini Fuel Terminal (FT) Medan Group telah menyalurkan sebanyak 47 ribu kilo liter B30. “Pada proses ini, B30 sudah disuplai ke-256 SPBU dan hingga saat ini uji coba tidak menemui kendala,” lanjut Roby. Bahkan B30 akan diterapkan di wilayah MOR I lainnya yaitu Provinsi Sumatera Barat, Riau, Aceh dan Kepri pada tahun 2020 dengan target 100 persen. Jadi para konsumen akan menjumpai B30 di SPBU yang berada di daerahnya. Hal ini tentunya sesuai Kepmen ESDM No 227 Tahun 2019, B30 diterapkan pada produk Dexlite dan Biosolar. Dilansir dari Pertamina.com, B30 ini memiliki campuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) 30 persen lebih banyak daripada B20. Untuk keunggulannya, Biosolar B30 diklaim lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Selain itu, Biosolar B30 juga lebih efisien dalam penggunaan bahan baku minyak mentah. Pertamina berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan produk Biosolar B30 dan turut menjaga kelestarian alam melalui penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan.

https://otomania.gridoto.com/read/241968816/seperti-ini-hasil-uji-coba-implementasi-bio-solar-b30-di-sumatera-siap-siap-2020-semua-full-b30

Okezone | Senin, 30 Desember 2019

Penggunaan B30 dapat Kurangi Ketergantungan Impor, Ini Faktanya!

Implementasi biodesel 30% alias B30 di SPBU MT Haryono telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Implementasi ini merupakan lanjutan dari program B20 yang sebelumnya telah lebih dahulu berjalan tahun ini. B30 adalah pencampuran antara bahan bakar diesel atau solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Komposisinya yaitu 70% solar dan 30% FAME. FAME ini didapatkan dari kelapa sawit. Kelapa sawit diolah menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester),yaitu bahan bakar nabati. Manfaat dari peluncuran B30 ini dapat mengurangi ketergantungan impor. “B30 juga bisa berjalan, hari ini resmi diluncurkan. Kita juga bisa percepat penggunaan B30 sehingga ketergantungan kita terhadap impor berkurang, negara punya kompetitif dan lebih efisien. Ini juga bagian dari agenda besar yang sudah dicanangkan Presiden,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir di Jakarta. Hal ini merupakan bukti nyata pemerintah dalam mengurangi impor sektor migas, sehingga mengurangi Current Account Defisit (CAD) sesuai dengan arahan Presiden. B30 dapat mengurangi impor migas dengan memaksimalkan penggunaan Fati Acid Methyl Ester (FAME) yang dicampur ke dalam solar.

https://economy.okezone.com/read/2019/12/29/320/2147194/penggunaan-b30-dapat-kurangi-ketergantungan-impor-ini-faktanya

Kompas | Minggu, 29 Desember 2019

Selain Tarif Listrik, Harga Biosolar Dipastikan Tak Naik Pada Awal 2020

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga jual biosolar di SPBU tidak akan mengalami kenaikan pada awal 2020. Pernyataan ini bersamaan dengan pernyataan pemerintah yang membatalkan rencana kenaikan tarif listrik 900 VA pada 1 Januari 2020. “Harga (biosolar) enggak berubah, tetap,” kata Menteri ESDM Arifin melalui pernyataan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (28/12/2019). Dengan begitu, harga biosolar akan tetap sebesar Rp 5.150 per liter meskipun ada Implementasi program mandatori B30 yang akan dimulai per 1 Januari 2020. Pemerintah mengakui, sedang terjadi tren kenaikan harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Hal ini karena dipengaruhi meningkatnya permintaan dalam negeri terhadap minyak kelapa sawit. Meski begitu, pemerintah tetap mengupayakan tidak ada kenaikan harga jual biosolar di pasaran. “CPO itu kan naik juga karena B30,” ujarnya. Nantinya, selisih harga biosolar akan ditanggung melalui insentif Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) sehingga masyarakat tetap membeli biosolar dengan harga yang sama. Harga biosolar B30 tetap akan dijual mengikuti ketetapan harga untuk BBM jenis Solar yang tidak mengalami kenaikan sejak ditetapkan 1 April 2016 lalu. Adapun formula harga dasar BBM jenis solar masih mengacu kepada formula 95 persen HIP (harga indeks pasar) minyak solar plus Rp 802 per liter. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 23 Desember 2019, telah meluncurkan B30 di salah satu SPBU Jakarta. Dia berharap implementasi B30 akan menekan defisit neraca perdagangan yang selama ini jadi fokus pemerintah untuk mengatasi. Bahkan, Jokowi meminta kepada Pertamina mulai merumuskan kembali penggunaan biosolar sebesar 40 persen pada 2020. Begitu pula tahun-tahun selanjutnya hingga Indonesia menerapkan B100.

https://money.kompas.com/read/2019/12/29/102300726/selain-tarif-listrik-harga-biosolar-dipastikan-tak-naik-pada-awal-2020

Republika | Jum’at, 27 Desember 2019

Pertamina Jual Bahan Bakar B30 di Sumbar

PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I akan melakukan penjualan bahan bakar B30 untuk Biosolar dan Dexlite di Sumatera Barat pada 2020 dengan target penjualan 10 persen. Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo melalui siaran persnya mengatakan penerapan ini juga dilakukan di Provinsi Aceh dan Kepri. Menurut dia, Pertamina sebagai perusahaan energi nasional yang berkomitmen mengembangkan energi baru terbarukan, telah merealisasikan penggunaan Biosolar B20. Bahan bakar jenis diesel ini merupakan pencampuran antara B2,5 Fatty Acid Mathyl Ester (FAME) dengan solar. Pada 2019, realisasi pemanfaatan B20 telah mengalami peningkatan sebesar 5,59 juta kilo liter untuk seluruh sektor. Untuk 2020, pemerintah telah menetapkan komposisi FAME dari B20 menjadi B30. Artinya, campuran FAME-nya menjadi 30 persen. Kebijakan B30 pada bahan bakar jenis diesel ini diterapkan pada produk Dexlite dan Biosolar, sesuai Kepmen ESDM nomor 227 tahun 2019. Sebelumnya, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I melakukan uji coba implementasi program B30 di Sumatera Utara sejak 1 hingga 31 Desember 2019. “Proyek percontohan uji coba program B30 dilaksanakan di Provinsi Sumatera Utara yaitu di Fuel Terminal (FT) Medan Group. Fasilitas ini menyuplai B30 kepada 256 SPBU,” katanya, Jumat (27/12). Ia mengatakan sejak awal Desember hingga kini FT Medan Group telah menyalurkan sebanyak 47 ribu kilo liter (KL) B30. Hingga kini, uji coba tidak menemui kendala. Terkait harga, tambah dia, penerapan B30 ini tidak akan mempengaruhi harga yang berlaku saat ini. Sesuai dengan Perpres nomor 24 tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan dana Perkebunan Kelapa Sawit, patokan harga Biodiesel tetap akan mengacu pada indeks pasar minyak solar. Menurut dia, B30 merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. “Selain itu, B30 juga lebih efisien dalam penggunaan bahan baku minyak mentah,” katanya. Ia menjelaskan FAME sebagai bahan campuran B30 juga memiliki Soap Effect, yaitu dapat membersihkan saluran pembakaran dengan mengangkat endapan sisa pembakaran kendaraan sehingga memiliki pembakaran yang relatif bersih dan ramah lingkungan. Sementara itu, Fuel Terminal Manager Medan Group, Anas Hasan mengatakan terdapat dua metode pencampuran B30 yaitu metode New Gantry System (NGS) dan metode tank blending bagi fuel terminal yang belum memiliki teknologi NGS. Menurut dia, FT Medan Group yang menjadi proyek percontohan uji coba B30 sudah menggunakan metode NGS. “Pencampuran FAME dan solar menggunakan inline blending melalui jalur pipa,” kata dia. Ia menyebutkan pasokan FAME untuk FT Medan Group berasal dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) PT PHPO (Permata Hijau Palm Oleo). FAME disuplai menggunakan jalur pipa karena produksi atau kilang BUBBN dekat dengan FT Medan sehingga lebih efisien ketimbang menggunakan kapal atau mobil tangki.

https://republika.co.id/berita/q35zva370/pertamina-jual-bahan-bakar-b30-di-sumbar

Koran Tempo | Senin, 30 Desember 2019

B30 Tak Pengaruhi Harga Biosolar

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan program mandatori B30 (campuran biodiesel 30 persen dalam BBM jenis solar) tidak akan mempengaruhi kebijakan harga jual B30 atau yang dikenal sebagai biosolar. “Harga tidak berubah,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif. Saat ini terjadi kenaikan harga minyak sawit (crude palm oil/CPO). Kenaikan harga CPO dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dalam negeri terhadap minyak kelapa sawit. Disinyalir, salah satu penyebab peningkatan ini adalah penerapan mandatori B30 yang efektif berla- ku Januari 2020. Meski begitu, walaupun ada kenaikan dari sisi bahan baku biodiesel (CPO), Arifin mengatakan pemerintah tetap mengupayakan tidak ada kenaikan harga jual biosolar di pasaran. “CPO itu kan naik juga karena B30,” kata dia. Selisih harga akan ditanggung melalui insentif Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.