+62 2129380882 office@aprobi.co.id

APROBI: Program B30 Diharapkan Mulai Desember Mendatang

Majalah Sawit Indonesia | Minggu, 10 November 2019

APROBI: Program B30 Diharapkan Mulai Desember Mendatang

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) mengharapkan ujicoba penggunaan biodiesel campuran 30% atau B30 dapat berjalan pada Desember mendatang. “Kami sedang menunggu keputusan menteri (kepmen) energi dan sumber daya mineral (ESDM) terkait penambahan bahan bakar nabati berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Begitu kepmen keluar,akan ada proses ujicoba lagi,” kata Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI di sela-sela Indonesian Biodiesel Leader Forum, pekan lalu. Paulus menjelaskan implementasi B30 akan membutuhkan alokasi FAME sebesar 250 ribu-400 ribu kiloliter (kl). Tergantung dari waktu ujicoba pelaksanaan B30. Yohanes Nangoi, Ketua Umum GAIKINDO menilai mandatori biodiesel 20 persen atau B20, sukses besar dan tahun depan akan ditingkatkan lagi menjadi B30. “Indonesia terdepan di bidang biodiesel. Negara lain paling banter hanya 7 persen, Indonesia berani 20 persen (B20). Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” ujarnya. Menurut dia, sejauh ini kendaraan yang menggunakan B20 tidak ada masalah berarti, kalaupun ada terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500. “Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejenis Kijang atau Fortuner. Kalau kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja,” ujarnya. Sebelumnya mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11) mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Selain itu,lanjutnya, Aprobi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan saat menjabat Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,”‘ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor.

Kontan.co.id | Jum’at, 8 November 2019

Aprobi: Uji coba implementasi B30 dapat digelar pertengahan November

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan siap melakukan uji coba implementasi campuran biodisel 30% atau B30 sebelum pergantian tahun ini. Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan, sejatinya implementasi B30 baru akan dimulai pada Januari 2020 nanti. Namun demikian, ia bilang pihaknya siap melaksanakan uji coba implementasi B30 pada pertengahan November ini. “Dirjen EBTKE minta secepatnya. Bahkan, kalau bisa besok sebenarnya. Hanya, kenyataan di lapangan biasanya butuh waktu,” ujarnya ketika ditemui Kontan.co.id, Jumat (8/11). Uji coba ini untuk mengetahui distribusi, transportasi, dan penyimpanan bahan bakar biodisel B30. Bukan sekadar uji jalan (road test) atau simulasi distribusi seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan, pada uji coba kali ini, bahan bakar B30 juga dapat dibeli oleh masyarakat secara umum di seluruh Indonesia. “Harga jual B30 nanti masih sama dengan harga biosolar sekarang,” kata Paulus. Lebih lanjut, jika uji coba implementasi B30 jadi dilaksanakan pertengahan bulan ini, maka kebutuhan Fatty Acid Methyl Esters (FAME) untuk bauran B30 hingga akhir tahun nanti diperkirakan sekitar 250.000 kiloliter-400.000 kiloliter. Namun, perlu diingat bahwa kepastian uji coba tersebut akan sangat bergantung dari terbitnya Surat Keputusan Menteri ESDM mengenai penambahan alokasi FAME, serta kontrak dan purchase order (PO) dari Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BUBBM). Jika syarat-syarat ini terpenuhi, maka uji coba implementasi B30 secara menyeluruh dapat terlaksana segera. Terlepas dari itu, Paulus menyebut, seluruh infrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang produksi dan distribusi B30 sudah siap. Termasuk infrastruktur logistik dan penyimpanan yang sempat menjadi bahan evaluasi selama penerapan B20 di tahun ini. “Sebenarnya masalah infrastruktur ini bukan ranah Aprobi saja. Tapi bisa kami katakan bahwa kualitasnya sudah ditingkatkan dan siap menunjang kebutuhan B30 nanti,” terangnya dia. Ia menambahkan, di tahun depan nanti, tak hanya B30 saja yang sudah dipastikan bakal diterapkan, melainkan juga uji jalan untuk penerapan B40 serta B50. Hal ini dilakukan mengingat pemerintah ingin mempercepat peralihan menuju bahan bakar hijau atau greenfuel di Indonesia.

https://industri.kontan.co.id/news/aprobi-uji-coba-implementasi-b30-dapat-digelar-pertengahan-november

CNBC Indonesia | Jum’at, 8 November 2019

Uji Coba B30 Mulai Bulan Depan

Program B30 bakal berlaku sebentar lagi pada 1 Januari 2020. Namun uji coba implementasinya akan dimulai November atau Desember 2019 ini. Tujuan uji coba implementasi ini untuk mengetahui distribusi, transportasi dan penyimpanan. “Ini trial distribusi lebih luas, disitu kita mulai implementasi belajar,” kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta, Jumat, (8/11/2019). Lebih lanjut dirinya menerangkan untuk menerapkan uji coba implementasi B30 ini ada tiga hal yang diperlukan. Pertama, Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM untuk menambah kuota Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Kedua, kontrak antara Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BUBBM) dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN). Terakhir, Purchase order (PO) antara keduanya. “Ada Shell dan banyak lainnya termasuk Pertamina,” imbuhnya. Kebutuhan FAME tahun 2019 sebesar 6,6 juta kiloliter. Jika uji coba implementasi diterapkan bulan November 2019 maka dibutuhkan penambahan FAME sebesar 400 ribu kiloliter, namun jika diterapkan Desember butuhkan 250 ribu kiloliter. “Tinggal nunggu aja untuk percepatan, kemudian kontrak sama PO,” jelasnya. Sebelumnya Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM diperlukan setidaknya 9,6 juta kiloliter FAME untuk mendukung B30 pada tahun 2020. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, F.X Sutijastoto mengatakan perkiraan kebutuhan FAME 2020 sebesar 9,6 juta kiloliter didasarkan pada kebutuhan FAME 2019 sebesar 6,6 juta kiloliter. Sementara angka 6,6 juta kiloliter kebutuhan FAME 2019 berdasarkan perubahan dari perkiraan awal 6,2 juta kiloliter. “Perkiraan kebutuhan 9,6 juta kiloliter FAME ini didasarkan angka perubahan pada Agustus 2019 menjadi 6,6 juta kiloliter,” ungkapnya di Kementrian ESDM, Senin, (14/10/2019). Lebih lanjut dirinya menerangkan, jika ada perubahan dari 9,6 juta kiloliter ini berarti perkiraan tidak tepat. Karena pada tahun 2019 juga ada perubahan roadmapnya juga berubah. “Laiya 9,6 juta kiloliter kalau berubah berarti perkiraan kita nggak tepat dong,” imbuhnya

https://www.cnbcindonesia.com/news/20191108202124-4-113919/uji-coba-b30-mulai-bulan-depan

Antaranews | Sabtu, 9 November 2019

Gaikindo sebut pengembangan biodisel kebijakan yang tepat

Pelaku usaha otomotif nasional yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai kebijakan Pemerintahan Presiden Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangat tepat. Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi mengatakan, mandatori biodiesel 20 persen atau B20, sukses besar dan tahun depan akan ditingkatkan lagi menjadi B30. “Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang menggunakan B20. Negara lain paling banter hanya 7 persen, Indonesia berani 20 persen. Bahkan tahun depan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” ujarnya dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11/2019). Menurut dia, sejauh ini kendaraan yang menggunakan B20 tidak ada masalah berarti, kalaupun ada terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500. “Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejenis Kijang atau Fortuner. Kalau kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja,” ujarnya. Yohanes menilai industri sawit nasional memiliki prospek cerah, karena komoditas ini terbukti dapat digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, potensi penjualan mobil nasional stabil di angka 1,1 juta per tahun dan cenderung mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh. “Ketika bahan bakar dari fosil semakin mahal karena cadangannya berkurang, pilihannya tentu saja bahan bakar nabati (BBN). Dan, Indonesia sudah memulai dengan mengembangkan biodiesel,” katanya. Nangoi juga tak khawatir dengan kebijakan mobil listrik. Di Indonesia ratio pengguna mobil masih relatif kecil, yakni 27 orang per 1.000 mobil dibanding Malaysia 456 orang per 1.000 mobil. “Artinya, setiap penambahan 1 orang saja kita mesti nambah produksi mobil sebanyak 269.000 unit. Jadi kita sangat optimis penggunaan biodiesel akan terus bertambah,” katanya. Sebelumnya mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Selain itu, Aprobi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin. Jonan meyakini Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,”‘ ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor.

https://www.antaranews.com/berita/1155523/gaikindo-sebut-pengembangan-biodisel-kebijakan-yang-tepat

Majalah Hortus | Sabtu, 9 November 2019

Perlu Konsistensi Dalam Kampanye Biodiesel

Diperlukan konsistensi dalam mengkampanyekan Biodiesel agar tak terjadi resistensi masyarakat terhadap biodiesel. Hal tersebut disampaikan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESM) Ignasius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum di Jakarta, Jumat (8/11/2019). Menurut Jonan, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada resistensi atau penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. “Perlu konsistensi dalam melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada resistensi bila harga biodiesel mengalami kenaikan. Mestinya harga tak menjadi persoalan ketika biodiesel sudah menjadi kebutuhan masayarakat,” kata Jonan. Jonan mencontohkan apa yang terjadi untuk produk rokok dan pulsa atau kuota data internet yang tidak pernah mengalami resistensi atau penolakan bila mengalami kenaikan harga. Menurut Jonan, hal yang sama bisa berlaku pada biodiesel jika Aprobi melakukan kampanye secara konsisten dengan konten yang bagus kepada masyarakat. “Aprobi bisa mengajak pihak lainnya seperti Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk membuat kampanye bersama. Selain itu, Aprobi mesti duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin,” ujar Jonan. Dia pun yakin Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,” ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor. Sementara itu pelaku industri sawit nasional Martias menyatakan masih ada keragu-raguan dalam melaksanakan program biodiesel. Padahal program biodiesel untuk kepentingan nasional dalam menjaga ketahanan energi. “Masih ada keragu-raguan, padahal ini untuk kepentingan nasional,” kata Martias. Menurut Martias, setidaknya ada tiga manfaat atau istilahnya 3 in 1 yang bisa diambil dalam melaksanakan program biodiesel. Dia menambahkan, jika melihat kepentingan nasional, mestinya harga sawit berapaun tak akan menjadi problem serius mengingat besarnya kepentingan nasional. “Tidak ada problem berapapun harganya sawit. Ini merupakan instrument penyangga harga sawit. Untuk kepentingan nasional masalah dana tak masalah. Apalagi sawit merupakan berkah bagi Indonesia,” pungkasnya.

CNN Indonesia | Sabtu, 9 November 2019

Produsen Biofuel Uji Coba B30 Desember

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan uji coba implementasi dari program campuran biodiesel 30 persen ke minyak solar (B30) akan dilakukan minimal pertengahan November atau Desember 2019 mendatang. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menyatakan pihaknya kini sedang menunggu keputusan menteri (kepmen) energi dan sumber daya mineral (ESDM) terkait penambahan bahan bakar nabati berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Setelah kepmen ESDM keluar, proses uji coba baru bisa dilakukan. “Ini butuh proses, biasanya tidak bisa langsung uji coba karena setelah kepmen harus melakukan beberapa proses lagi,” ucap Paulus, Jumat (8/11). Proses yang dimaksud, seperti kontrak Badan Usaha (BU) Bahan Bakar Nabati (BBN) dan BU Bahan Bakar Minyak (BBM). Kemudian, BU BBN dan BU BBM melakukan perjanjian pesanan pembelian (purchase order). “Badan usahanya seperti Shell, Pertamina,” imbuh dia. Dengan berbagai proses itu, Paulus agak pesimis uji coba implementasi B30 bisa dilakukan pada bulan ini. Masalahnya, kepmen ESDM untuk penambahan alokasi FAME juga belum keluar. “Diperkirakan mungkin Desember baru bisa, karena prosesnya kan tidak cepat juga,” kata Paulus. Berdasarkan perhitungannya, uji coba implementasi B30 ini membutuhkan alokasi FAME sebesar 250 ribu sampai 400 ribu kiloliter (kl). Paulus merinci, jika uji coba dimulai pertengahan November 2019 maka yang dibutuhkan 400 kl, sedangkan kebutuhan FAME hanya sebesar 250 kl kalau percobaan dimulai bulan depan. “Nantinya uji coba ini bersifat masif, semuanya dari mobil, kapal, dan lain-lain,” ujar Paulus. Sebagai informasi, kebutuhan FAME untuk program B20 ditargetkan sebanyak 6,6 juta kl. Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna sebelumnya memprediksi jumlah kebutuhan FAME tahun depan mencapai 9,6 juta kl. “(Konsumsi) masih susah ditebak, tapi dengan B30 size-nya jadi 9,6 juta kl lah,” pungkas dia.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191108195421-85-446784/produsen-biofuel-uji-coba-b30-desember

Berita Satu | Sabtu, 9 November 2019

Gaikindo Dukung Pengembangan Biodiesel

Pelaku usaha otomotif nasional yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangat tepat. Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nagoi di Jakarta, Sabtu (9/11/2019) mengatakan, mandatori biodiesel 20 persen atau B20, sukses besar dan tahun depan akan ditingkatkan lagi menjadi B30. “Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Negara lain paling banter hanya 7 persen, Indonesia berani 20 persen (B20). Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” ujarnya. Menurut dia, sejauh ini kendaraan yang menggunakan B20 tidak ada masalah berarti, kalaupun ada terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500. “Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejenis Kijang atau Fortuner. Kalau kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja,” ujarnya. Yohanes menilai industri sawit nasional memiliki prospek cerah, karena komoditas ini terbukti dapat digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, tambahnya, potensi penjualan mobil nasional stabil di angka 1,1 juta per tahun dan cenderung mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh. “Ketika bahan bakar dari fosil semakin mahal karena cadangannya berkurang, pilihannya tentu saja bahan bakar nabati (BBN). Dan, Indonesia sudah memulai dengan mengembangkan biodiesel,”katanya. Sebelumnya mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11) mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Selain itu,lanjutnya, Aprobi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin. Jonan meyakini Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,”‘ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/584410/gaikindo-dukung-pengembangan-biodiesel

JPNN | Sabtu, 9 November 2019

Gaikindo: Di Bidang Biodiesel, Indonesia Terdepan

Sebelumnya, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesel Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11), mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Selain itu, lanjutnya, Aprobi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin. Jonan meyakini Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Jokowi. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit tanah air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,” ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor.

https://www.jpnn.com/news/gaikindo-di-bidang-biodiesel-indonesia-terdepan?page=2

Media Indonesia | Sabtu, 9 November 2019

Implementasi B30 Dimulai Desember

Pemerintah akan memulai implementasi penggunan bahan bakar solar dengan bauran minyak kelapa sawit 30% atau yang dikenal dengan B30 pada Desember 2019. Implementasi tersebut masih akan bersifat uji coba namun sudah akan diterapkan di seluruh Indonesia. Semula, penggunaan B30 baru akan diterapkan pada 2020. “Tapi pemerintah ingin mulai lebih cepat. Pelaku usaha juga sudah siap,” ujar Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta, Jumat (7/11/2019). Paulus mengatakan, jika bisa implementasi B30 hendak dilaksanakan pada pertengahan bulan ini. Hanya saja, masih banyak administrasi yang belum diselesaikan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM masih harus mengeluarkan Keputusan Menteri untuk menambah kuota Fatty Acid Methyl Ester (FAME) untuk program bauran minyak sawit pada solar. Sedianya, pemerintah telah memutuskan alokasi tahun ini sebesar 6,6 juta kiloliter (kl). Namun, jumlah itu hanya untuk pengadaan B20 saja. “Kalau berubah jadi B30, alokasi pasti berubah meskipun hanya untuk kebutuhan satu bulan. Kalau keputusan bisa keluar dalam beberapa hari ini, mungkin bisa mulai pertengahan November,” tutur Paulus. Ia menyebut, jika program dilaksanakan pada pertengahan November, setidaknya dibutuhkan tambahan alokasi FAME 400 ribu kl. Adapun, jika implementasi dimulai Desember, tambahan yang diperlukan hanya 250 ribu kl. Kemudian, perihal administrasi lain yang harus diselesaikan adalah kontrak antara Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) dannBadan Usaha Bahan Bakar Minyak (BUBBM)sebagai penyedia dan pembeli FAME. Perlu ada purchase order (PO) antara kedua belah pihak. “Perusahaan kan harus ada perjanjian. Yang harus mengirim jauh kan butuh seminggu,” ucap dia.

https://mediaindonesia.com/read/detail/270465-implementasi-b30-dimulai-desember

Global Planet News | Sabtu, 9 November 2019

Aprobi Mesti Konsisten Kampanyekan Biodiesel dengan Baik pada Masyarakat

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada resistensi atau penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Pandangan itu disampaikan oleh mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESM) Ignasius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum di Jakarta, Jumat (8/11/2019). Dia mencontohkan apa yang terjadi untuk produk rokok dan pulsa atau kuota data internet yang tidak pernah mengalami resistensi atau penolakan bila mengalami kenaikan harga. Menurut Jonan, hal yang sama bisa berlaku pada biodiesel jika Aprobi melakukan kampanye secara konsisten dengan konten yang bagus kepada masyarakat. “Aprobi bisa mengajak pihak lainnya seperti Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk membuat kampanye bersama.” “Selain itu, Aprobi mesti duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin,” ujar Jonan. Dia pun yakin Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,” ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor.

http://globalplanet.news/berita/21442/aprobi-mesti-konsisten-kampanyekan-biodiesel-dengan-baik-pada-masyarakat

Inilah | Sabtu, 9 November 2019

Industri Biodiesel Ingin Maju Begini Saran Jonan

Terkait industri biodiesel dari minyak sawit, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan punya prediksi. Dia yakin bisnis ini bakal membesar. Tapi ada syaratnya lho. Dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11/2019), Jonan mengingatkan pentingnya kampanye, atau sosialisasi dan promosi besar-besaran. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Selanjutnya Jonan menganalogikan dengan produk rokok atau pulsa. Saat ini, kedua produk itu sudah menjadi kebutuhan yang sulit dihindari. “Rokok atau pulsa, misalnya. Mau harga naik, enggak ada yang protes tuh. Dan, permintaannya selalu naik,” ungkapnya. Keyakinan Jonan diamini Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nagoi. Dia bilang, kebijakan pemerintahan Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangat tepat. Mandatory biodiesel 20% atau B20, sukses besar. Tahun depan akan ditingkatkan lagi menjadi B30. “Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Negara lain paling banter hanya 7%, Indonesia berani 20% (B20). Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” tegas Yohanes. Sejauh ini, kata Yohanes, kendaraan yang menggunakan B20 tidak ada masalah yang berarti. Kalaupun ada terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500. ‘Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejnis Kijang atau Fortuner. Kalau kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja,” ungkapnya. Yohanes sepakat bahwa industri sawit nasional memiliki prospek cerah. Lantaran komoditas ini terbukti mumpuni digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, potensi penjualan mobil nasional cenderung stabil di angka 1,1 juta per tahun. Artinya, kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh. “Setahun kita produksi 1,3-1,4 juta mobil. Yang 1,1 juta dijual di dalam negeri, sisanya sekitar 300 ribuan diekspor. Sedangkan impornya cuman 100 ribu unit,” ungkap Yohanes. Masih menurut Yohanes, dibandingkan negara lain, rasio kepemilikan mobil di Indonesia tergolong rendah. Semisal, Thailand, rasionya 232 mobil per 1.000 orang. Sementara Malaysia lebih tinggi lagi yakni 405 mobil per 1.000 orang. “Kalau Indonesia cuman 83 mobil per 1.000 orang. Kami yakin, pangsa pasar mobil masih sangat terbuka. Apalagi Pak Jokowi gencar membangun infrastruktur serta bertekad meningkatkan GDP,” ungkapnya. Tentu saja, perkiraan Yohanes itu, masuk akal. Jepang saja yang jumlah penduduk separuh Indonesia, angka penjualan mobilnya mencapai 4,5 juta per tahun. Nah, semakin banyak mobil yang lalu lalang di jalanan negeri ini, semakin banyak pula kebutuhan bahan bakar. Ketika bahan bakar dari fosil semakin mahal karena cadangannya berkurang, pilihannya tentu saja bahan bakar nabati (BBN). Dan, Indonesia sudah memulai dengan mengembangkan biodiesel.

https://m.inilah.com/news/detail/2553161/industri-biodiesel-ingin-maju-begini-saran-jonan

Aksi.id | Jum’at, 8 November 2019

Uji Coba B30 Mulai Desember 2019

Program B30 bakal berlaku sebentar lagi pada 1 Januari 2020. Namun uji coba implementasinya akan dimulai November atau Desember 2019 ini. Tujuan uji coba implementasi ini untuk mengetahui distribusi, transportasi dan penyimpanan. “Ini trial distribusi lebih luas, disitu kita mulai implementasi belajar,” kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan di Jakarta, Jumat, (8/11/2019). Lebih lanjut dirinya menerangkan untuk menerapkan uji coba implementasi B30 ini ada tiga hal yang diperlukan. Pertama, Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM untuk menambah kuota Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Kedua, kontrak antara Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BUBBM) dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN). Terakhir, Purchase order (PO) antara keduanya. “Ada Shell dan banyak lainnya termasuk Pertamina,” imbuhnya. Kebutuhan FAME tahun 2019 sebesar 6,6 juta kiloliter. Jika uji coba implementasi diterapkan bulan November 2019 maka dibutuhkan penambahan FAME sebesar 400 ribu kiloliter, namun jika diterapkan Desember butuhkan 250 ribu kiloliter. “Tinggal nunggu aja untuk percepatan, kemudian kontrak sama PO,” jelasnya. Sebelumnya Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM diperlukan setidaknya 9,6 juta kiloliter FAME untuk mendukung B30 pada tahun 2020. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, F.X Sutijastoto mengatakan perkiraan kebutuhan FAME 2020 sebesar 9,6 juta kiloliter didasarkan pada kebutuhan FAME 2019 sebesar 6,6 juta kiloliter. Sementara angka 6,6 juta kiloliter kebutuhan FAME 2019 berdasarkan perubahan dari perkiraan awal 6,2 juta kiloliter. “Perkiraan kebutuhan 9,6 juta kiloliter FAME ini didasarkan angka perubahan pada Agustus 2019 menjadi 6,6 juta kiloliter,” ungkapnya di Kementrian ESDM, Senin, (14/10/2019). Lebih lanjut dirinya menerangkan, jika ada perubahan dari 9,6 juta kiloliter ini berarti perkiraan tidak tepat. Karena pada tahun 2019 juga ada perubahan roadmapnya juga berubah. “Laiya 9,6 juta kiloliter kalau berubah berarti perkiraan kita nggak tepat dong,” imbuhnyau.

http://aksi.id/artikel/49520/Uji-Coba-B30-Mulai-Desember-2019/

Celebes Top News | Sabtu, 9 November 2019

Pelaksanaan B30 Dipercepat jadi Desember Mendatang

Implementasi tersebut masih akan bersifat uji coba namun sudah akan diterapkan di seluruh Indonesia. Awalnya, penggunaan B30 ditargetkan akan diterapkan pada 2020. “Tapi pemerintah ingin bisa mulai lebih cepat. Pelaku usaha juga sudah siap,” ujar Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, kepada.wartawan, di Jakarta, Jumat malam (8/11/2019) JIka bisa, ungkap Paulus, implementasi B30 bakal diterapkan pada pertengahan bulan November ini. Namun, terganjal masalah administrasi yang belum diselesaikan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM masih harus mengeluarkan Keputusan Menteri untuk menambah kuota Fatty Acid Methyl Ester (FAME) untuk program bauran minyak sawit pada solar Semula, pemerintah telah memutuskan alokasi tahun ini sebesar 6,6 juta kiloliter (kl). Namun, jumlah itu hanya untuk pengadaan B20 saja. “Kalau berubah jadi B30, alokasi pasti berubah meskipun hanya untuk kebutuhan satu bulan. Kalau keputusan bisa keluar dalam beberapa hari ini, mungkin bisa mulai pertengahan November,” ungkap Paulus. Ia menyebut, jika program dilaksanakan pada pertengahan November, setidaknya dibutuhkan tambahan alokasi FAME 400 ribu kl. Adapun, jika implementasi dimulai Desember, tambahan yang diperlukan hanya 250 ribu kl. Kemudian, perihal administrasi lain yang harus diselesaikan adalah kontrak antara Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) dan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BUBBM) sebagai penyedia dan pembeli FAME. Perlu ada purchase order (PO) antara kedua belah pihak. “Perusahaankan harus ada perjanjian. Yang harus mengirim jauh kan butuh seminggu,” tegas dia.

https://celebestopnews.com/ekonomi/2019/11/pelaksanaan-b30-dipercepat-jadi-desember-mendatang/

Otomotifnet | Sabtu, 9 November 2019

Biodiesel 30 Siap Diterapkan Januari 2020, Produsen Mengaku Sudah Siap

Ketergantungan akan energi fosil dan impor bahan bakar minyak di Indonesia saat ini sedang ditekan oleh pemerintah. Salah satu upayanya ialah dengan rencana penerapan kebijakan Biodesel 30 atau B30. Rencananya, kebijakan pemerintah terkait B30 ini akan diterapkan di Indonesia mulai Januari 2020 mendatang. Menanggapi hal ini, produsen biodiesel pun menyatakan kesiapan untuk mewujudkan kebijakan pemerintah tersebut. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Master Parulian Tumanggor mengatakan bahwa pihak Aprobi sebenarnya sudah siap menjalankan kebijakan ini sejak Oktober lalu. “Jadi kalau B30 mulai diterapkan di pertengahan November, dari sisi produsen tidak ada masalah. Kami juga siap kalau B30 akhirnya diterapkan bulan Januari nanti,” ujarnya. Ia menyebut, pihak produsen sudah siap memproduksi sekitar 10 juta kiloliter bahan bakar B30 untuk memenuhi konsumsi tahun 2020. Bahkan, di awal tahun depan uji coba untuk penerapan B40 dan B50 juga akan dilakukan.

https://otomotifnet.gridoto.com/read/231913130/biodiesel-30-siap-diterapkan-januari-2020-produsen-mengaku-sudah-siap

Republika | Jum’at, 8 November 2019

Pertamina Genjot BBN Ramah Lingkungan

Pertamina menggenjot pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) lebih ramah lingkungan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus mendukung energi hijau. Pengembangan BBN, sekaligus mendukung program bauran energi terbarukan yang ditargetkan pemerintah sebesar 23 persen pada tahun 2025. Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan, Pertamina terus melakukan terobosan mengembangkan energi terbarukan dengan Program B20 yang akan dilanjutkan dengan B30 di tahun 2020. “Sejak tahun 2016, Pertamina telah memproduksi Bahan Bakar Nabati B20 baik untuk PSO maupun Non-PSO yang dikembangkan secara luas sejalan dengan mandatori perluasan B20 oleh Pemerintah pada 1 September 2019,” kata Budi dalam siaran pers, Kamis (7/11) lalu. Budi menyebut sejak tahun 2016 hingga September 2019, Pertamina telah mendistribusikan B20 sebanyak 61,48 juta KL dengan total FAME yang diserap mencapai 13,71 juta KL. Tahun 2018 penyerapan FAME mencapai 3,2 juta KL, sementara hingga September 2019 penyerapan FAME telah mencapai 4,02 juta KL atau 67 persen dari target penyaluran tahun 2019. “Sejalan dengan program perluasan penggunaan B20, penyerapan FAME dalam 2 tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan. Pertamina terus memperluas pasokan B20 tidak hanya untuk kendaraan bermotor tetapi juga untuk kebutuhan industri,” terang Budi. Program B20, lanjut Budi, telah membantu penghematan devisa di mana tahun 2018 tercatat Rp 28,4 Triliun dan tahun ini ditargetkan mencapai 3 miliar dolar AS. Budi menyampaikan setelah sukses dengan B20, tahun depan akan mulai diujicoba untuk program B30 sesuai dengan kebijakan Pemerintah. “Pertamina mendukung penuh Program Pemerintah untuk menerapkan B30 yang akan dijalankan mulai Januari 2020,” ucap Budi. Pertamina, tambah Budi, juga telah melakukan uji coba Biorefinery pertama di Indonesia melalui metode Co-Processing pada kilang Dumai dan Plaju. Keberhasilan dalam ujicoba penerapan teknologi ini, menjadikan Pertamina siap mengembangkan bahan bakar nabati dengan bahan baku CPO. Pertamina juga siap mengadopsi teknologi Standalone untuk pengolahan CPO menjadi bahan bakar nabati. “Program Green Refinery ini ditargetkan tuntas pada tahun 2024, sehingga kita akan memasuki era baru menuju Indonesia hijau,” pungkas Budi.

https://www.republika.co.id/berita/q0njvn423/pertamina-genjot-bbn-ramah-lingkungan

Otomania | Minggu, 10 November 2019

Pemerintah Kebut Biodiesel 30 Diterapkan Januari 2020, Produsen Siap

Bukan rahasia lagi saat ini Indonesia masih bergantung akan energi fosil dan impor bahan bakar minyak, akan ditekan oleh pemerintah. Salah satu upayanya ialah dengan rencana penerapan kebijakan Biodesel 30 atau B30. Rencananya, kebijakan pemerintah terkait B30 ini akan diterapkan di Indonesia mulai Januari 2020 mendatang. Menanggapi hal ini, produsen biodiesel pun menyatakan kesiapan untuk mewujudkan kebijakan pemerintah tersebut. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Master Parulian Tumanggor mengatakan bahwa pihak Aprobi sebenarnya sudah siap menjalankan kebijakan ini sejak Oktober lalu. “Jadi kalau B30 mulai diterapkan di pertengahan November, dari sisi produsen tidak ada masalah. Kami juga siap kalau B30 akhirnya diterapkan bulan Januari nanti,” ujarnya. Ia menyebut, pihak produsen sudah siap memproduksi sekitar 10 juta kiloliter bahan bakar B30 untuk memenuhi konsumsi tahun 2020. Bahkan, di awal tahun depan uji coba untuk penerapan B40 dan B50 juga akan dilakukan. Direktur Keuangan Pertamina, Pahala Mansury menyatakan bahwa pihaknya juga sudah siap memfasilitasi distribusi B30 dalam waktu dekat. Infrastruktur yang mendukung penerapan B30 pun telah disiapkan secara matang oleh Pertamina. “Infrastruktur tentu sudah siap. Kalau diterapkan bulan Desember atau Januari nanti, Insya Allah kami sudah siap,” jelasnya. Bagi yang belum paham, B30 ini merupakan campuran biodiesel sebanyak 30 persen dengan solar sebanyak 70 persen. Biodiesel ini adalah salah satu dari tiga bahan bakar nabati dan dapat digunakan sebagai energi alternatif bahan bakar minyak jenis diesel atau solar. Biodiesel umumnya dibuat melalui reaksi metanolisis atau transesterifikasi antara minyak nabati dengan metanol yang dibantu katalis basa. Saat ini, bahan baku biodiesel di Indonesia berasal dari minyak kelapa sawit. Namun tanaman lain seperti jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, dan nyamplung juga berpotensi diolah menjadi biodiesel.

https://otomania.gridoto.com/read/241914624/pemerintah-kebut-biodiesel-30-diterapkan-januari-2020-produsen-siap

Suara.com | Minggu, 10 November 2019

B20 Naik Kelas B30, Gaikindo Sebut Kebijakan Pemerintah Tepat

B20 atau penggunaan bahan bakar biodiesel sebesar 20 persen yang telah diterapkan di Indonesia bakal ditambah lagi atau naik kelas menuju B30 atau biodiesel 30 persen. Dikutip dari kantor berita Antara, para pelaku usaha otomotif nasional yang bersatu di bawah bendera Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan bahwa kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangatlah tepat. “Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Negara lain paling banter hanya tujuh persen, sedangkan Indonesia berani 20 persen (B20). Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” papar Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo di Jakarta, Sabtu (10/11/2019). Disebutkannya pula, bahwa sejauh ini kendaraan yang menggunakan B20 tidak mengalami masalah berarti. “Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejenis Kijang atau Fortuner. Bila kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Akan tetapi kami sudah mencoba biodiesel, bagus-bagus saja,” jelas Yohannes Nangoi. Dari pencapaian hasil B20 yang naik kelas ke B30, ia menilai bahwa industri sawit nasional memiliki prospek cerah, karena komoditas itu terbukti mampu digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, tambahnya, potensi penjualan mobil nasional stabil di angka 1,1 juta per tahun dan cenderung mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh. “Ketika bahan bakar dari fosil semakin mahal karena cadangannya berkurang, pilihannya tentu saja bahan bakar nabati (BBN). Dan, Indonesia sudah memulai dengan mengembangkan biodiesel,” tukasnya. Sebelumnya mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11/2019) mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo. Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” papar Ignatius Jonan. Ditambahkannya bahwa Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Ignatius Jonan meyakini bahwa pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Sebagai catatan, Ignatius Jonan sendiri, selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit di Indonesia, termasuk soal penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,” kata Master Parulian Tumanggor, Ketua Aprobi yang atas nama asosiasi biofuel itu memberikan apresiasi kepada Ignatius Jonan.

https://www.suara.com/otomotif/2019/11/10/222000/b20-naik-kelas-b30-gaikindo-sebut-kebijakan-pemerintah-tepat

Agro Farm | Minggu, 10 November 2019

Kampanye Biodiesel ke Masyarakat Perlu Konsistensi

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESM) Ignasius Jonan menegaskan perlu konsistensi dalam mengkampanyekan biodiesel agar tak terjadi resistensi masyarakat terhadap energi terbarukan ini. Menurut Jonan, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) harus melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada resistensi atau penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. “Perlu konsistensi dalam melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada resistensi bila harga biodiesel mengalami kenaikan. Mestinya harga tak menjadi persoalan ketika biodiesel sudah menjadi kebutuhan masayarakat,” kata Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum di Jakarta, Jumat (8/11/2019). Jonan mencontohkan apa yang terjadi untuk produk rokok dan pulsa atau kuota data internet yang tidak pernah mengalami resistensi atau penolakan bila mengalami kenaikan harga. Jonan menambahkan, hal yang sama bisa berlaku pada biodiesel jika Aprobi melakukan kampanye secara konsisten dengan konten yang bagus kepada masyarakat. “Aprobi bisa mengajak pihak lainnya seperti Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk membuat kampanye bersama. Selain itu, Aprobi mesti duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin,” jelas Jonan. Dia pun yakin Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,” ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor. Sementara itu pelaku industri sawit nasional Martias menyatakan masih ada keragu-raguan dalam melaksanakan program biodiesel. Padahal program biodiesel untuk kepentingan nasional dalam menjaga ketahanan energi. “Masih ada keragu-raguan, padahal ini untuk kepentingan nasional,” ujar Martias. Menurut Martias, setidaknya ada tiga manfaat atau istilahnya 3 in 1 yang bisa diambil dalam melaksanakan program biodiesel. Dia menambahkan, jika melihat kepentingan nasional, mestinya harga sawit berapaun tak akan menjadi problem serius mengingat besarnya kepentingan nasional. “Tidak ada problem berapapun harganya sawit. Ini merupakan instrument penyangga harga sawit. Untuk kepentingan nasional masalah dana tak masalah. Apalagi sawit merupakan berkah bagi Indonesia,” pungkasnya.

https://www.agrofarm.co.id/2019/11/19847/

Kontan.co.id | Minggu, 10 November 2019

Sebelum B30 diterapkan, Gaikindo: Standard kadar air harus diperhatikan

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi menyatakan dukungannya terhadap penerapan bahan bakar biodisel campuran minyak kelapa sawit 30% atau B30. Namun, ia berharap agar pihak produsen dan distribusi B30 memperhatikan standar kualitas yang sesuai dengan kendaraan di Indonesia. Menurut Yohanes, saat ini baru Indonesia yang menerapkan bauran biodisel hingga 20% (B20), sedangkan negara-negara lain paling banter hanya mencapai 7%. “Tahun depan bahkan mau dinaikkan jadi 30%, sehingga Indonesia patut berbangga,” ujar dia di acara Indonesia Biodiesel Leader Forum, Jumat (8/11) lalu. Kendati demikian, menyambut program B30 yang semakin dekat, Gaikindo meminta supaya produsen biodisel seperti Pertamina lebih memperhatikan lagi standar kadar air untuk bahan bakar tersebut. Yohanes bilang, kadar air untuk B30 idealnya maksimal di level 200 mg/kg. Kadar air yang terlalu tinggi dapat berdampak negatif bagi performa mesin kendaraan, khususnya mobil kecil bertenaga disel. Masalah yang timbul dari tingginya kadar air antara lain kemunculan guratan-guratan pada injection sampai korosi pada mesin kendaraan. Yohanes melanjutkan, perubahan standar kadar air pada bahan bakar B30 juga dapat memaksa produsen untuk merombak mesin kendaraannya. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya biaya produksi yang diemban tiap produsen. Padahal, ia menyebut, di tiap tahun produksi mobil di Indonesia dapat mencapai 1,3 juta unit. Sebanyak 1,1 juta unit di antaranya dipasarkan di dalam negeri, sedangkan sisanya diekspor ke luar negeri. Ditambah lagi, Gaikindo mendapat permintaan dari pemerintah agar dalam tiga tahun hingga empat tahun ke depan jumlah mobil yang diekspor dapat mencapai 1 juta unit. “Ada banyak mobil yang diproduksi di Indonesia. Kalau dipaksa diubah mesinnya, industri tidak bisa jalan,” imbuh dia. Terlepas dari itu, Yohanes tetap mendukung penerapan B30 dalam waktu dekat. Biar bagaimanapun pihak produsen kendaraan telah siap menghadapi program tersebut. “Kami tetap dukung B30 ataupun jika nantinya dinaikan lagi jadi B50 dan B100. Asalkan standar yang sudah ada jangan diubah lagi,” tandasnya.

https://industri.kontan.co.id/news/sebelum-b30-diterapkan-gaikindo-standard-kadar-air-harus-diperhatikan

Neraca | Senin, 11 November 2019

Aprobi: Uji Coba B30 Desember

Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menyatakan pihaknya kini sedang menunggu keputusan menteri (kepmen) energi dan sumber daya mineral (ESDM) terkait penambahan bahan bakar nabati berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Setelah kepmen ESDM keluar, setelah itu proses uji coba baru bisa dilakukan. “Uji coba implementasi dari program campuran biodiesel 30 persen ke minyak solar (B30) akan dilakukan minimal pertengahan November atau Desember 2019 mendatang. Ini butuh proses, biasanya tidak bisa langsung uji coba karena setelah kepmen harus melakukan beberapa proses lagi,” ungkap Paulus, di Jakarta, akhir pekan kemarin. Paulus mengatakan proses yang dimaksud, seperti kontrak Badan Usaha (BU) Bahan Bakar Nabati (BBN) dan BU Bahan Bakar Minyak (BBM). Kemudian, BU BBN dan BU BBM melakukan perjanjian pesanan pembelian (purchase order). Dengan berbagai proses itu, Paulus agak pesimis uji coba implementasi B30 bisa dilakukan pada bulan ini. Masalahnya, kepmen ESDM untuk penambahan alokasi FAME juga belum keluar. “Diperkirakan mungkin Desember baru bisa, karena prosesnya kan tidak cepat juga,” jelas Paulus. Berdasarkan perhitungannya, uji coba implementasi B30 ini membutuhkan alokasi FAME sebesar 250 ribu sampai 400 ribu kiloliter (kl). Paulus merinci, jika uji coba dimulai pertengahan November 2019 maka yang dibutuhkan 400 kl, sedangkan kebutuhan FAME hanya sebesar 250 kl kalau percobaan dimulai bulan depan. Nantinya uji coba ini bersifat masif, semuanya dari mobil, kapal, dan lain-lain. Sebagai informasi, kebutuhan FAME untuk program B20 ditargetkan sebanyak 6,6 juta kl. Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM An-driah Feby Misna sebelumnya memprediksi jumlah kebutuhan FAME tahun depan mencapai 9,6 juta kl. “(Konsumsi) masih susah ditebak, tapi dengan B30 size-nya jadi 9,6 juta kl lah,” kata dia. Di tempat yang sama, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) di mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Menurut jonan, APROBI perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Selainitu, lanjutnya, A-probi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidakmenguran-gi kinerja mesin. Jonan meyakini Pemerintah Indonesia konsisten untukmenerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo.

Investor Daily Indonesia | Senin, 11 November 2019

Konsumsi biodiesel Tahun Depan 9,4 Juta KL

Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menyatakan bahwa konsumsi biodiesel domestik pada tahun depan dengan adanya program wajib pencampuran biodiesel 30% (B30) akan mencapai 8,09 juta ton atau sekitar 9,40 juta kiloliter (kl). Serapan minyak sawit mentah (crudepalm oil/ CPO) untuk program biodiesel tersebut juga diprediksi pada level setara atau sekitar 8 juta ton. Paulus Tjakrawan menjelaskan, tahun ini konsumsi biodiesel di pasar domestik dengan berjalannya program B20 diestimasi total mencapai 6,20 juta kl. Dengan kapasitas terpasang sekitar 12 juta kl dan utilisasi sekitar 80-90% maka ruang untuk ekspor biodiesel diperkirakan semakin tipis. “Kemungkinan, pada tengah tahun depan ada tambahan kapasitas yang siap beroperasi, sekitar 1 juta kl. Saya mengundang para pemain biodiesel/ minyak sawit agar mau berinvestasi membangun industri biodiesel di Indonesia,” kata Paulus saat pelaksanaan 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, belum lama ini. Direktur Eksekutif ISTA Mielke GmbH (Oil World) Thomas Mielke menjelaskan, meski diyakini tidak akan terlaksana secara penuh setahun (sejak awal Januari 2020), program B30 Indonesia akan menggerakkan harga menjadi lebih tinggi. “Stok yang sebelumnya tinggi mengkompensasi produksi yang rendah, sementara permintaan tetap tumbuh. Lalu, pasar akan bereaksi dan harga terdongkrak. Jika naik terlalu cepat dan tinggi, pangsa pasar minyak sawit akan berkurang. Tapi, produksi minyak subtitusi juga tidak terlalu tinggi,” kata Mielke. Menurut Mielke, rerata harga CPO pada periode Januari-Juni 2020 akan bergerak pada level US$ 650-700 (FOB). Sementara produksi CPO pada 2020 diperkirakan naik 1,80 juta ton menjadi 45,40 juta ton dari 2019 yang diproyeksikan 43,60 juta ton atau naik 2 juta ton dari 2018. Produksi 2020 akan dipengaruhi penggunaan pupuk lebih rendah, kekeringan, pertanaman baru lebih rendah, minimnya peremajaan dan tenaga kerja. “Indonesia sukses dengan program biodieselnya. Tapi, dunia juga bergantung pada Indonesia sebagai eksportir minyak sawit. Jadi, kalau bicara B30 dan B50, jangan lupa ada konsumen di luar sana yang bergantung pada Indonesia,” jelas dia. Karena itu, ujar dia, Uni Eropa (UE) bukan isu yang menjadi perhatian. Namun yang menjadi perhatian adalah bagaimana seharusnya program biodiesel Indonesia bisa fleksibel sehingga tetap dapat memenuhi kebutuhan dunia serta menyeimbangkan kebutuan sektor pangan dan biodiesel. “Alasannya adalah karena tidak ada negara lain di dunia yang bisa mengkompensasi penurunan pasokan minyak sawit Indonesia,” kata Thomas Mielke.