+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Aprobi sebut industri otomotif terima B20

Antara | Jum’at, 1 November 2019

Aprobi sebut industri otomotif terima B20

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan memastikan keberterimaan industri otomotif lancar untuk penerapan biodiesel B20 selama ini. “Jadi kami optimis program B30 mulai Januari 2020 dapat berjalan dan bahan baku siap menopangnya,” terangnya saat jumpa pers di sela konferensi minyak sawit “15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook” di Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat. Diakui Paulus, selama ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) serta asosiasi lainnya untuk alat berat selalu diikutsertakan dalam riset hingga ujicoba biodiesel. “Jadi kita tidak jalan sendiri tetapi bersama-sama yang lain juga. Sehingga saya tidak melihat adanya hambatan dalam program penerapan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel) ini,” katanya. Pemerintah Indonesia memang tengah mendorong industri kendaraan bermotor dan alat besar bermesin seperti alat berat dan lainnya agar dapat menghasilkan teknologi yang menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan campuran di atas 20 persen (B20) hingga 100 persen (B100). Tujuannya tidak bukan guna penambahan konsumsi biodiesel di pasar dalam negeri semakin meningkat, sehingga menyerap produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia yang melimpah. Biodiesel merupakan hasil pencampuran minyak nabati kepala sawit pada produk akhirnya yang disebut Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar. Jika campurannya biodiesel 20 persen dan solar 80 persen artinya disebut B20. Namun jika biodiesel 30 persen dan solar 70 persen disebut (B30) dan seterusnya hingga B100 (green diesel). Sementara Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami juga menyampaikan, sosialisasi ke konsumen pelaku industri otomotif berjalan maksimal untuk penerapan B30 tahun depan. Apalagi selama ini, kata dia, terbukti biodiesel emisinya rendah karena sifatnya mudah terurai, sehingga mengurangi efek gas rumah kaca. Selain dari sisi lingkungan, kinerja biodiesel juga lebih bagus dibanding solar murni berdasarkan sejumlah ujicoba yang telah dilakukan hingga penerapannya secara luas. “Semuanya menyambut positif. Jadi kita bersama regulator di Kementerian ESDM mendukung seluruh kegiatannya, termasuk tes kita bantu pembiayaannya. Bahkan kalau menuju green diesel kita dukung penuh,” tuturnya. Pada prinsipnya, kata Dono, BPDPKS ditugaskan pemerintah guna memastikan industri minyak kelapa sawit dapat terus berjalan dengan beragam inovasinya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. “Fokus utama kita tentu mensejahterakan petani sawit. Karena ini penting menyangkut 17 juta rakyat Indonesia yang bergantung pada industri ini,” ujarnya. Sedangkan pembicara lain yang turut hadir pada sesi pertama di hari kedua gelaran IPOC 2019 yaitu Dr. I.G.B Ngurah Makertihartha dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Djoko Siswanto dari Komite Energi Nasional serta Henri J. Bardon dari Alvari Group.

https://www.antaranews.com/berita/1142015/aprobi-sebut-industri-otomotif-terima-b20

Info Sawit | Sabtu, 2 November 2019

APROBI Optimis Permintaan Biodiesel Sawit Bakal Meningkat

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) optimis bakalan mampu memenuhi program domestik Bioenergi Indonesia, terutama Biodiesel sawit. Menurut Ketua Harian APROBI, Paulus Tjakrawan, produksi biodiesel sawit bakalan terus mengalami peningkatan ditahun-tahun yang akan mendatang. Terlebih akan diterapkannya program B30 yang akan diterapkan pemerintah Indonesia tahun 2020. Sebab itu Paulus memperkirakan, bakalan ada peningkatan produksi biodiesel sawit asal Indonesia, termasuk tambahan serapan minyak sawit mentah (CPO) nasional sekitar 3 juta ton.

https://www.infosawit.com/news/9433/aprobi-optimis-permintaan-biodiesel-sawit-bakal-meningkat

Berita Satu | Sabtu, 2 November 2019

Indonesia Optimistis Optimalkan Konsumsi Biofuel

Produksi biodiesel sawit hingga 2019 mencapai 6,886 juta kiloliter (kl), meningkat sebesar 10% dibandingkan 2018 untuk penyerapan di sektor domestik dan ekspor. Mandatori B30 pada 2020 diproyeksikan bisa terlaksana sehingga akan meningkatkan konsumsi biodiesel hingga 9,6 juta kl pada 2020. Demikian disampaikan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan dalam Indonesia Palm Oil Conference di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11/2019). Menurut Paulus, semua aspek yang mendukung produksi B30 sudah siap, mulai dari kapasitas industri biodiesel sebesar 12 juta kl, serta dukungan dari pemangku kepentingan terkait. “Kami juga sudah melakukan uji jalan dan performa kendaraan menggunakan B30 dari Lembang, Jawa Barat, sampai Guci, Jawa Tengah, menempuh 50.000 km dan hasilnya positif”, kata Paulus Menurutnya pengembangan industri biodiesel di 2019 mampu mencapai 6,2 juta kl untuk domestik dan 2 juta kl untuk ekspor, sedangkan pada 2020 diproyeksikan 9,4 juta kl. Jadi, pada 2020 bisa mengurangi impor bahan bakar minyak hingga 9,6 juta kl atau setara US$ 5 miliar. Berbicara soal pengurangan emisi, Paulus juga menyampaikan banyak sekali nilai strategis biofuel seperti reduksi emisi gas dengan target di tahun 2020 sebanyak 26% dan 29% untuk 2030 sesuai dengan komitmen Nationally Determined Contributions UNFCCC. Hal ini didukung penuh oleh peneliti dari Center for Catalysis and Reaction Enginering Institut Teknologi Bandung (CaRE ITB), I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha bahwa Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit harus bisa menggunakan bahan bakar dari kelapa sawit. “Semua stakeholder yang terkait harus berkonsolidasi mengembangkan infrastruktur industri biofuel minyak sawit agar mandatori B30 bisa terlaksana”, kata Gusti. Ia menambahkan bahwa sejak 1983 tim riset ITB sudah bekerja sama dengan Pertamina, BPDPKS dan Riset Dikti untuk memulai penelitian mengenai pengolahan minyak nabati menjadi biofuel. Produk penelitian menghasilkan katalis yang mampu mencampur senyawa hidrokarbon minyak nabati dengan bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi biofuel.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/583195/indonesia-optimistis-optimalkan-konsumsi-biofuel

Agro Farm | Jum’at, 1 November 2019

Konsumsi Biodiesel Tahun 2020 Diperkirakan Capai 9,6 Juta KL

Produksi biodiesel sawit hingga 2019 mencapai 6,886 juta kilo liter (KL) meningkat sebesar 10% dibandingkan tahun 2018 untuk penyerapan di sektor domestik dan ekspor. Proyeksinya mandatory B30 ditahun 2020 bisa terlaksana sehingga akan meningkatkan konsumsi biodiesel hingga 9,6 juta KL tahun 2020. Hal itu disampaikan oleh Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan dalam Indonesia Palm Oil Conference Jumat (01/11/2019) di Nusa Dua, Bali. Menurutnya, semua aspek yang mendukung produksi B30 sudah siap mulai dari kapasitas industri biodiesel sebesar 12 juta KL serta dukungan dari stakeholder terkait. “Kita juga sudah melakukan uji jalan dan performa kendaraan menggunakan B30 dari Lembang, Jawa Barat sampai Guci, Jawa tengah menempuh 50.000 km dan hasilnya positif,” ungkap Paulus. Menurutnya pengembangan industri biodiesel di 2019 mampu mencapai 6,2 juta KL untuk domestik dan 2 juta KL untuk ekspor, sedangkan di 2020 diproyeksikan 9,4 juta KL, jadi tahun 2020 bisa mengurangi impor bahan bakar minyak hingga 9,6 juta KL atau setara 5 miliar dolar. Berbicara soal pengurangan emisi Paulus juga menyampaikan banyak sekali nilai strategis biofuel seperti reduksi emisi gas dengan target di tahun 2020 sebanyak 26% dan 29% untuk tahun 2030 sesuai dengan komitmen Nationally Determined Contributions UNFCCC. Hal ini didukung penuh oleh peneliti dari center for catalysis and reaction enginering Institut Teknologi Bandung (CaRE ITB), I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha bahwa Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit harus bisa menggunakan bahan bakar dari kelapa sawit. “Semua stakeholder yang terkait harus berkonsolidasi mengembangkan infrastruktur industri biofuel minyak sawit agar mandatori B30 bisa terlaksana,” ujar Gusti Ia menambahkan bahwa sejak tahun 1983 tim riset ITB sudah bekerjasama dengan Pertamina, BPDP-KS dan Riset Dikti untuk memulai penelitian mengenai pengolahan minyak nabati menjadi biofuel. Produk penelitian menghasilkan katalis yang mampu mencampur senyawa hidrokarbon minyak nabati dengan bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi biofuel.

Majalah Sawit Indonesia | Sabtu, 2 November 2019

Program B30 Berjalan, Indonesia Hemat Devisa US$ 9,6 Miliar

Pemerintah telah memperoleh hasil uji jalan kendaraan berbahan bakar B30. Dengan memanfaatkan biodiesel campuran 30, Indonesia dapat menghemat devisa sampai US$ 9,6 miliar atau setara 9,6 Juta Kl. Dalam paparan Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) dijelaskan bahwa produksi biodiesel sawit hingga 2019 mencapai 6,886 juta kl meningkat sebesar 10% dibandingkan tahun 2018 untuk penyerapan di sektor domestik dan ekspor. Hal itu disampaikan oleh Paulus Tjakrawan dalam Indonesia Palm Oil Conference Jum’at (31 Oktober 2019) di Nusa Dua, Bali. pengembangan industri biodiesel di 2019 mampu mencapai 6,2 juta kl untuk domestik dan 2 juta kl untuk ekspor, sedangkan di 2020 diproyeksikan 9,4 juta kl. Ini berarti tahun 2020 bisa mengurangi impor bahan bakar minyak hingga 9,6 juta kl atau setara US$ 5 miliar. Menurutnya, semua aspek yang mendukung produksi B30 sudah siap mulai dari kapasitas industri biodiesel sebesar 12 juta kl, serta dukungan dari stakeholder terkait. “Uji jalan dan performa kendaraan menggunakan B30 dari Lembang, Jawa Barat sampai Guci, Jawa Tengah menempuh 50.000 km dan hasilnya positif”, kata Paulus. Berbicara soal pengurangan emisi Paulus juga menyampaikan banyak sekali nilai strategis biofuel seperti reduksi emisi gas dengan target di tahun 2020 sebanyak 26% dan 29% untuk tahun 2030 sesuai dengan komitmen Nationally Determined Contributions UNFCCC. Hal ini didukung penuh oleh peneliti dari Center for Catalysis and Reaction Engineering Institut Teknologi Bandung (CaRE ITB), I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha bahwa Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit harus bisa menggunakan bahan bakar dari kelapa sawit. “Semua stakeholder yang terkait harus berkonsolidasi mengembangkan infrastruktur industri biofuel minyak sawit agar mandatori B30 bisa terlaksana”, kata Gusti Ia menambahkan bahwa sejak tahun 1983 tim riset ITB sudah bekerjasama dengan Pertamina, BPDPKS dan Riset Dikti untuk memulai penelitian mengenai pengolahan minyak nabati menjadi biofuel. Produk penelitian menghasilkan katalis yang mampu mencampur senyawa hidrokarbon minyak nabati dengan bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi biofuel.

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 1 November 2019

Aprobi: Konsumsi Biodiesel 2020 Capai 8,09 Juta Ton

Konsumsi biodiesel tahun 2020 dengan adanya wajib penerapan B30 mencapai 8,09 juta ton atau sekitar 9,4 juta kiloliter. Dengan serapan CPO diprediksi pada level setara. Untuk tahun 2019, konsumai biodiesel B20 diestimasi mencapai 6,2 juta kiloliter. Demikian dikemukakan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan dalam jumpa pers usai menjadi pembicara di acara 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11). “Dengan kapasitas terpasang sekitar 12 juta kiloliter, utilisasi sekitar 80-90%, artinya ruang untuk ekspor akan semakin tipis. Tapi, kemungkinan, pada tengah tahun depan, akan ada tambahan kapasitas yang siap beroperasi, sekitar 1 juta kiloliter. Saya mengundang para pemain biodiesel/ minyak sawit, agar mau berinvestasi membangun industri biodiesel di Indonesia,” kata Paulus. Ia mengaku optimistis program B30 mulai Januari 2020 juga dapat berjalan lancar dan persediaan bahan baku siap menopangnya, mengingat tingkat penerimaan industri otomotif terhadap biodiesel B20 selama ini berjalan lancar. Paulus mengatakan bahwa selama ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), serta berbagai asosiasi lainnya seperti alat berat selalu ikut serta dalam riset dan ujicoba penggunaan biodiesel. “Saya tidak melihat adanya hambatan dalam pelaksanaan program biofuel ini karena kita bisa berjalan bersama-sama,” ujarnya. Seperti diketahui Pemerintah saat ini tengah mendorong industri kendaraaBBN) dengan campuran sawit 20% (B20), 30% (B30) bahkan hingga 100% (B100). Hal ini dimaksudkan agar meningkatkan konsumsi biodiesel di pasar domestik, sehingga menyerap produksi minyak sawit (crude palm oit/CPO) Indonesia yang melimpah.

https://investor.id/business/aprobi-konsumsi-biodiesel-2020-capai-809-juta-ton

Bisnis | Jum’at, 1 November 2019

Industri Biodiesel Butuh Investasi untuk Tambah Kapasitas

Pelaku usaha menyatakan perlunya peningkatan investasi demi mendukung perkembangan industri biodiesel di tengah proyeksi kebutuhan yang kian tumbuh. Kapasitas terpasang pabrik pengolahan diharapkan dapat meningkat dengan dorongan tersebut. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan dalam konferensi pers di sela-sela gelaran Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11/2019), mengatakan bahwa mandatori B30 yang berlaku pada 2020 mendatang bakal meningkatkan utilitas produksi pabrik pengolahan sampai sekitar 9,6 juta kiloliter (KL) atau hampir 80% dari kapasitas terpasang yang berada di angka 12 juta KL. Kondisi ini dinilai belum ideal jika Indonesia ingin tetap mempertahankan ekspor biodiesel yang pernah membukukan rekor di angka 1,8 juta KL. Dengan asumsi ekspor di volume tersebut, Paulus memperkirakan kapasitas terpasang perlu lebih tinggi dari 12 juta KL. “Dari kapasitas itu masih ada sisa sedikit. Apalagi, tidak semua 12 juta KL itu bisa dipakai semua. Itu kan hanya kapasitas terpasang. Kapasitas operasinya mungkin sekitar 85% sampai 90% karena ada yang perlu di-service dan perawatan. Jadi, dengan kapasitas tersebut akan sedikit sekali untuk ekspor,” ujar Paulus. Terlepas dari tantangan ini, Paulus menyatakan pada 2020 bakal ada penambahan kapasitas pabrik pengolahan. Dia tak bisa memperkirakan volume penambahannya atau berapa investasi yang telah tersedia mengingat angka-angka tersebut masih dalam tahap penghitungan. “Tahun depan ada pertambahan. Masih dihitung. Ada anggota Aprobi, ada yang di luar anggota. Namun, sampai pertengahan tahun depan ada tambahan 1 juta KL sampai pertengahan tahun depan,” kata Paulus. Pada kesempatan yang sama, sejumlah analis komoditas memperkirakan mandatori biodiesel yang berlaku di Indonesia bakal berdampak pada pengurangan pasokan global sehingga berpotensi mendongkrak harga. Arif Rachmat dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan penurunan pasokan global sebesar 2,5 juta ton dapat mendongkrak kenaikan harga hingga US$100 per ton.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20191101/99/1165968/industri-biodiesel-butuh-investasi-untuk-tambah-kapasitas

Koran Jakarta | Sabtu, 2 November 2019

Implementasi B30 Jadi Prioritas

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan implementasi bauran 30 persen biodiesel pada minyak solar dimulai tahun depan. Hal itu sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” tegas Menteri ESDM, Arifin Tasrif di Jakarta, Jumat (1/11). Sebagaimana diketahui, saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan bahan bakar nabati (biodiesel) sebanyak 20 persen atau yang disebut B20. Tahun depan akan ditingkatkan menjadi B30. Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah diluncurkan pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan. Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas (Ratas) tentang penyampaikan program dan kegiatan bidang kemaritiman dan investasi, tengah pekan ini menekankan kebijakan energi baru terbarukan yang harus dipercepat lagi ke depannya, terutama mandatori dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100. Arifin menuturkan peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evalusi yang berkesinambungan. “Memang Kita harus stepping, harus bertahap. B30, B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kita harus menjaga kualitas saat di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau engine akan bermasalah,” tutup Arifin.

Uji Jalan

Uji coba B30 tersebut dilakukan menyusul keberhasilan implementasi bauran minyak sawit (FAME) sebesar 20 persen dan solar (B20). Sebelumnya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menyebutkan, sebelumnya tidak ada negara yang menggunakan B20, kecuali Indonesia. “Saat ini, kita sedang menyiapkan uji coba (uji jalan) untuk B30, 30 persen minyak sawit pada solar,” ungkapnya melalui keterangannya di Jakarta, beberapa waktu lalu. Secara rinci, Dadan menyebutkan, sebelum penerapan nantinya untuk kendaraan, B30 akan melalui berbagai macam uji standar internasional yang dikawal berbagai pihak, antara lain Kementerian ESDM, BPPT, Aprobi, Gaikindo, dan Pertamina. “Kita akan siapkan uji jalan dalam waktu dekat dan diharapkan akan memberikan hasil positif,” lanjutnya. Setelah mandatori biodiesel ditetapkan sejak 2016, dari tahun ke tahun produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat. Konsumsi domestik diharapkan meningkat melalui perluasan B20 non public service obligation (PSO) yang diinstruksikan Presiden pada medio 2018. Kementerian ESDM mencatat, pada 2018 konsumsi domestrik naik 45 persen atau sekitar 3,75 juta kiloliter dibandingkan 2017. Pemerintah mengeklaim implementasi kebijakan Biodiesel 20 (B20) sepanjang Januari hingga Juli 2019 berhasil menghemat devisa sebesar 1,66 miliar dollar AS atau setara dengan 23,6 triliun rupiah.

http://www.koran-jakarta.com/implementasi-b30-jadi-prioritas/

Warta Ekonomi | Jum’at, 1 November 2019

Tahun Depan B30 Siap Diimplementasikan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menegaskan akan mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki Indonesia. Menurut Arifin, salah satunya, pemanfaatan biodiesel yang menjadi prioritas percepatan capaian bauran EBT nasional melalui mandatori B30 (campuran 30% biodiesel pada minyak solar), yang akan diimplementasikan awal tahun depan. Sebagaimana diketahui saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan bahan bakar nabati (biodiesel) sebanyak 20% atau yang disebut B20. “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” jelas Arifin di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta (1/11/2019). Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah diluncurkan pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan. Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai kementerian/lembaga dan stakeholder terkait, antara lain Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero), dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penyampaikan Program dan Kegiatan bidang Kemaritiman dan Investasi, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10), kembali menekankan kebijakan EBT harus dipercepat lagi ke depannya, terutama mandatori dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100. Arifin menuturkan, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evalusi yang berkesinambungan. “Memang kami harus stepping, harus bertahap. B30, B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kami harus menjaga kualitas saat di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau engine akan bermasalah,” pungkas Arifin.

https://www.wartaekonomi.co.id/read254576/tahun-depan-b30-siap-diimplementasikan.html

Global Planet | Sabtu, 2 November 2019

Didukung Industri, Indonesia Optimis Optimalkan Konsumsi Biofuel

Produksi biodiesel sawit hingga 2019 mencapai 6,886 juta kiloliter (kl) meningkat sebesar 10% dibandingkan tahun 2018. Proyeksinya, mandatory B30 di tahun 2020 bisa terlaksana sehingga akan meningkatkan konsumsi biodiesel hingga 9,6 juta kl. Hal itu disampaikan Paulus Tjakrawan dalam Indonesia Palm Oil Conference Jum’at (31/10) di Nusa Dua, Bali. Menurutnya, semua aspek yang mendukung produksi B30 sudah siap mulai dari kapasitas industri biodiesel sebesar 12 juta kl, serta dukungan dari stakeholder terkait. “Kita juga sudah melakukan uji jalan dan performa kendaraan menggunakan B30 dari Lembang, Jawa Barat sampai Guci, Jawa Tengah menempuh 50.000 km dan hasilnya positif,” kata Paulus. Menurutnya, pengembangan industri biodiesel di 2019 mampu mencapai 6,2 juta kl untuk domestik dan 2 juta kl untuk ekspor. Sedangkan di 2020 diproyeksikan 9,4 juta kl, jadi tahun 2020 bisa mengurangi impor bahan bakar minyak hingga 9,6 juta kl atau setara 5 miliar dolar. Berbicara soal pengurangan emisi Paulus juga menyampaikan banyak sekali nilai strategis biofuel seperti reduksi emisi gas dengan target di tahun 2020 sebanyak 26% dan 29% untuk tahun 2030 sesuai dengan komitmen Nationally Determined Contributions UNFCCC. Hal ini didukung penuh peneliti dari center for catalysis and reaction enginering Institut Teknologi Bandung (CaRE ITB), I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha, bahwa Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit harus bisa menggunakan bahan bakar dari kelapa sawit. “Semua stakeholder yang terkait harus berkonsolidasi mengembangkan infrastruktur industri biofuel minyak sawit agar mandatori B30 bisa terlaksana,” kata Gusti. Ia menambahkan, sejak tahun 1983 tim riset ITB sudah bekerjasama dengan Pertamina, BPDPKS dan Riset Dikti untuk memulai penelitian mengenai pengolahan minyak nabati menjadi biofuel. Produk penelitian menghasilkan katalis yang mampu mencampur senyawa hidrokarbon minyak nabati dengan bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi biofuel.

Produsen Biofuel Sebut Industri Otomotif Mendukung Biodiesel

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan menegaskan bahwa industri otomotif lancar sangat mendukung penggunaan biodiesel B20. “Kami sangat optimis program B30 mulai Januari 2020 dapat berjalan dan bahan baku siap menopangnya,” terangnya saat jumpa pers di sela konferensi minyak sawit “15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook” di Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat (1/11/2019). Selama ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) serta asosiasi lainnya untuk alat berat selalu diikutsertakan dalam riset hingga ujicoba biodiesel. “Jadi kita tidak jalan sendiri tetapi bersama-sama yang lain juga. Sehingga saya tidak melihat adanya hambatan dalam program penerapan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel) ini,” katanya. Pemerintah Indonesia memang tengah mendorong industri kendaraan bermotor dan alat besar bermesin seperti alat berat dan lainnya agar dapat menghasilkan teknologi yang menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan campuran di atas 20 persen (B20) hingga 100 persen (B100). Tujuannya adalah guna penambahan konsumsi biodiesel di pasar dalam negeri semakin meningkat, sehingga menyerap produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia yang melimpah. Sementara Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami juga menyampaikan, sosialisasi ke konsumen pelaku industri otomotif berjalan maksimal untuk penerapan B30 tahun depan. Apalagi selama ini, kata dia, terbukti biodiesel emisinya rendah karena sifatnya mudah terurai, sehingga mengurangi efek gas rumah kaca. Selain dari sisi lingkungan, kinerja biodiesel juga lebih bagus dibanding solar murni berdasarkan sejumlah ujicoba yang telah dilakukan hingga penerapannya secara luas. “Semuanya menyambut positif. Jadi kita bersama regulator di Kementerian ESDM mendukung seluruh kegiatannya, termasuk tes kita bantu pembiayaannya. Bahkan kalau menuju green diesel kita dukung penuh,” tuturnya. Pada prinsipnya, kata Dono, BPDPKS ditugaskan pemerintah guna memastikan industri minyak kelapa sawit dapat terus berjalan dengan beragam inovasinya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. “Fokus utama kita tentu mensejahterakan petani sawit. Karena ini penting menyangkut 17 juta rakyat Indonesia yang bergantung pada industri ini,” ujarnya.

http://www.globalplanet.news/berita/21277/didukung-industri-indonesia-optimis-optimalkan-konsumsi-biofuel

Sinar Harapan | Jum’at, 1 November 2019

Aprobi Optimistis B30 Sukses Diterapkan di Indonesia

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan memastikan keberterimaan industri otomotif lancar untuk penerapan biodiesel B20 selama ini. “Jadi kami optimis program B30 mulai Januari 2020 dapat berjalan dan bahan baku siap menopangnya,” terangnya saat jumpa pers di sela konferensi minyak sawit “15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook” di Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat (1/11/2019). Diakui Paulus, selama ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) serta asosiasi lainnya untuk alat berat selalu diikutsertakan dalam riset hingga ujicoba biofuel. “Jadi kita tidak jalan sendiri tetapi bersama-sama yang lain juga. Sehingga saya tidak melihat adanya hambatan dalam program penerapan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel) ini,” katanya. Pemerintah Indonesia memang tengah mendorong industri kendaraan bermotor dan alat besar bermesin seperti alat berat dan lainnya agar dapat menghasilkan teknologi yang menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan campuran di atas 20 persen (B20) hingga 100 persen (B100). Tujuannya tidak bukan guna penambahan konsumsi biodiesel di pasar dalam negeri semakin meningkat, sehingga menyerap produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia yang melimpah.

http://sinarharapan.co/ekonomi/read/9573/aprobi_optimistis_b30_sukses_diterapkan_di_indonesia

Reuters | Jum’at, 1 November 2019

Indonesia biodiesel assoc sees “very little” biodiesel exports in H1 2020

The Indonesian Biofuel Producers Association (APROBI) sees “very little” biodiesel exports in the first half of 2020 due to higher domestic consumption, vice chairman Paulus Tjakrawan said on Friday. The association estimated domestic consumption of around 9.5 million kilolitres (KL) next year as Indonesia aims to start increasing the bio-content in biodiesel. This year’s biodiesel exports is estimated to reach as much as 2 million KL. “If there is any exports it will be very little in the first half. We expect there will be an additional capacity in the second half, which would help production,” Tjakrawan said.

https://af.reuters.com/article/energyOilNews/idAFL3N27H0XL

Pikiran Rakyat | Jum’at, 1 November 2019

Kementerian ESDM: Solar B30 Siap Diimplementasikan Awal 2020

Mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memprioritaskan pemanfaatan biodiesel. Pada awal 2020 Kementerian ESDM akan mengimplementasikan mandatori B30, campuran 30% biodiesel pada minyak solar. Demikiam diungkapkan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, melalui siaran pers yang diterima “PR”, Jumat, 1 November 2019. Menurut dia, implementasi B30 hanya tinggal memastikan pasokannya. “Untuk B30 sudah siap, tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” ujar Arifin. Seperti diketahui, saat ini bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang beredar di pasaran telah dicampur dengan Bahan Bakar Nabati (biodiesel) sebanyak 20%. BBM solar jenis itu disebut B20. Kesiapan tersebut, menurut dia, juga tidak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah diluncurkan pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan (road test). Uji jalan B30 dilakukan oleh Badan Litbang ESDM, dengan melibatkan berbagai Kementerian/Lembaga dan stakeholder terkait. Beberapa stakeholder yang terlibat adalah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Arifin menuturkan, mandatori B30 tersebut harus segera dilakukan untuk mengakselerasi target bauran EBT. Namun, menurut dia, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evalusi yang berkesinambungan. “Harus bertahap, daei B30, B40, lalu B50. Harus dicek kesesuaian dan keamanannya saat diimplementasikan pada sarana transportasi. Bagaimana nilai bakarnya, apakah kendaraan akan bermasalah atau tidak, dll,” tutur Arifin. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penyampaikan Program dan Kegiatan bidang Kemaritiman dan Investasi, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10/2019), kembali menekankan kebijakan EBT yang harus dipercepat ke depannya. Hal yang ditekankan Joko Widodo adalah mandatori dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100.

https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2019/11/02/kementerian-esdm-solar-b30-siap-diimplementasikan-awal-2020

Detik | Sabtu, 2 November 2019

Prioritas Energi Baru Terbarukan, B30 Dijalankan Awal 2020

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif akan mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT). Salah satunya, pemanfaatan biodiesel yang menjadi prioritas percepatan capaian bauran EBT nasional melalui mandatori B30 (campuran 30% biodiesel pada minyak solar), yang akan diimplementasikan awal tahun depan. “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” tegas Arifin di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Jumat (1/11), dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, esdm.go.id, Sabtu (2/11/2019). Sebagaimana diketahui saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan Bahan Bakar Nabati (biodiesel) sebanyak 20% atau yang disebut B20. Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah dilaunching pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan. Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai Kementerian/Lembaga dan stakeholder terkait antara lain, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penyampaikan Program dan Kegiatan bidang Kemaritiman dan Investasi, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10), kembali menekankan kebijakan energi baru terbarukan yang harus dipercepat lagi ke depannya, terutama mandatori dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100. Arifin menambahkan, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evaluasi yang berkesinambungan. “Memang Kita harus stepping, harus bertahap. B30, B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kita harus menjaga kualitas saat di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau engine akan bermasalah,” tutur Arifin.

https://finance.detik.com/energi/d-4770019/prioritas-energi-baru-terbarukan-b30-dijalankan-awal-2020

Republika | Jum’at, 1 November 2019

Menteri ESDM: B.30 Siap Diterapkan Tahun Depan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengatakan pada tahun depan pelaksanaan B.30 sudah bisa diterapkan. Apalagi, proyek ini merupakan prioritas percepatan capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional. “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” kata Arifin di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (1/11). Saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan bahan bakar nabati (biodiesel) sebanyak 20 persen atau yang disebut mandatori B20. Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tidak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah diluncurkan pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara itu untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan. Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai kementerian/lembaga dan stakeholder terkait antara lain Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Arifin menuturkan, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evalusi yang berkesinambungan. “Memang kita harus stepping, harus bertahap. B30 , B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kita harus menjaga kualitas di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau mesin akan bermasalah,” kata Arifin.

https://republika.co.id/berita/q0ab0r423/menteri-esdm-b30-siap-diterapkan-tahun-depan

Porto News | Jum’at, 1 November 2019

Investor Asing Berminat Bangun Green Refinery

Porsi energi baru terbarukan (EBT) Indonesia ditargetkan mencapai 23 persen pada 2025 mendatang. Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028 yang disusun PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), tambahan untuk pembangkit EBT hanya 16 Gigawatt (GW). Untuk mengejar target tersebut butuh tambahan 35 GW hingga 2025 atau 5-6 GW per tahun. Salah satu langkah untuk mencapainya adalah dengan membangun kilang hijau (green refinery). Kilang ini akan menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) nabati dari kelapa sawit. BBM yang dihasilkan nanti akan setara dengan minyak solar, bahkan lebih baik. Jadi bisa langsung digunakan pada mesin diesel yang ada. Pembangunan kilang hijau tentunya membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Namun berdasarkan sumber di pemerintahan, sudah ada beberapa investor asing yang berminat membangunnya di Indonesia. “Ada dari Inggris, Denmark, dan beberapa negara Eropa yang berminat berinvestasi di green refinery. Mereka perusahaan enregi tapi saat ini belum bisa diungkapkan perusahaan mana saja,” kata sumber di pemerintahan kepada PORTONEWS, Kamis (31/10/2019). Jika pembangunan kilang hijau bisa diwujudkan di banyak kawasan perkebunan kelapa sawit, ada dua keuntungan yang bisa didapatkan sekaligus. Keuntungan pertama adalah meningkatnya sumber energi hijau. Yang kedua, kilang ini bisa menyerap kelebihan produksi sawit sehingga harganya tidak jatuh.

Optimalkan EBT

Sementara itu, menjalankan tugas sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif akan mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki Indonesia. Salah satunya, pemanfaatan biodiesel yang menjadi prioritas percepatan capaian bauran EBT nasional melalui mandatori B30 (campuran 30 persen biodiesel pada minyak solar), yang akan diimplementasikan awal tahun depan. “Untuk B30 sudah siap, ini tinggal (memastikan) suplainya, tinggal dijalankan,” tegas Arifin di Kantor Kementerian ESDM Jakarta (1/11). Sebagaimana diketahui saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan Bahan Bakar Nabati (biodiesel) sebanyak 20 persen atau yang disebut B20. Kesiapan yang disampaikan Arifin ini tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah dilaunching pada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara untuk kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan.

Uji Jalan

Road test B30 ini dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan melibatkan berbagai Kementerian/Lembaga dan stakeholder terkait antara lain, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), PT Pertamina (Persero) dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Penyampaikan Program dan Kegiatan bidang Kemaritiman dan Investasi, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10/2019), kembali menekankan kebijakan energi baru terbarukan yang harus dipercepat lagi ke depannya, terutama mandatori dari B20 menjadi B30, hingga ke B50 dan B100. Arifin menuturkan, peralihan dari satu tahap ke tahapan lainnya membutuhkan proses dan evalusi yang berkesinambungan. “Memang Kita harus stepping, harus bertahap. B30, B40, B50 itu harus dicek kesesuaiannya dengan pemakaian. Ini kita harus menjaga kualitas saat di transportasi, tingkat security-nya. Nilai bakarnya dan sebagainya atau engine akan bermasalah,” tandas Arifin.

https://www.portonews.com/2019/migas-minerba/investor-asing-berminat-bangun-green-refinery/

Jawa Pos | Minggu, 3 November 2019

Pastikan Harga Gas Tetap hingga Akhir Tahun

Konsumsi minyak bumi di Indonesia yang terus meningkat tidak diiringi kenaikan produksi di dalam negeri. Akibatnya, neraca dagang minyak dan gas bumi (migas) selalu defisit. Dua minggu setelah dipilih Presiden Joko Widodo sebagai menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM), Arifin Tasrif sudah memiliki sejumlah kebijakan untuk menekan defisit itu. Salah satunya menggenjot pemanfaatan gas domestik. “Kami akan coba memanfaatkan gas alam kita untuk dipakai dalam negeri agar bisa mengurangi impor,” ujar menteri kelahiran Jakarta, 19 Juni 1953, tersebut. Peningkatan pemanfaatan gas domestik itu berjalan optimal bila dibarengi kebijakan yang tepat dalam menentukan harga Arifin mengakui, harga gas memang komersial, mengikuti pasar global. Meski begitu, harga gas bumi di Indonesia masih sangat kompetitif sesuai dengan regulasi yang tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 58 Tahun 2017 yang telah disesuaikan melalui Peraturan Menteri ESDM 14/2019. “Kalau gas itu komersial. Tapi, jika price level gas kita dibandingkan dengan Malaysia, kita itu lebih murah,” ungkap Arifin. Kecuali jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang memang lebih murah lantaran memiliki sumber energi dari shale gas. Arifin juga menggarisbawahi ketetapan harga gas oleh pemerintah yang tidak boleh memberatkan industri penyuplai gas. “Perusahaan nggak boleh rugi. Harus saling memahami dan mendukung,” ujar lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung itu. Arifin memastikan, tak ada kenaikan harga gas industri hingga akhir 2019. Keputusan tersebut ditetapkan berdasar pertimbangan daya saing industri dalam negeri. Tujuannya, dalam situasi kondisi ekonomi yang berat, industri masih kompetitif lantaran juga menyerap banyak tenaga kerja. Mantan direktur utama PT Pupuk Indonesia (Persero) itu bersinergi dengan sejumlah pihak terkait. Sepekan setelah dilantik, Arifin melakukan rapat dengan Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Erick Thohir di kantor Kementerian ESDM. Keduanya membahas percepatan kilang, implementasi B30, upaya meningkatkan lifting dengan teknologi, dan sebagainya. Mereka juga mencari sinergi terbaik untuk menurunkan defisit neraca perdagangan dan meningkatkan perekonomian nasional. Program implementasi B30 atau campuran 30 persen biodiesel pada minyak solar tahun depan memang menjadi salah satu cara mengurangi impor BBM. “Untuk B30 sudah siap. Ini tinggal (memastikan, Red) suplainya, tinggal dijalankan,” jelas Arifin. Saat ini minyak bakar jenis solar di pasaran telah dicampur dengan bahan bakar nabati (biodiesel) sebanyak 20 persen atau yang disebut B20. Kesiapan yang disampaikan Arifin itu tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel. Setelah di-launchingpada 3 Juni 2019, uji jalan menggunakan B30 dilakukan pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton dan lebih dari 3,5 ton. Hasilnya, pada kendaraan uji kurang dari 3,5 ton, tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibanding B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. Sementara kendaraan besar (lebih dari 3,5 ton) masih menyelesaikan tahapan uji jalan. Selain pengurangan impor, ketahanan energi menjadi salah satu aspek yang ditekankan mantan duta besar Indonesia untuk Jepang itu. Menurut Arifin, proyek pembangunan kilang minyak baru (new grass root refinery/ NGRR) dan pengembangan kapasitas (refinery development master plan/RDMP) kilang memiliki nilai strategis. Pembangunan dan pengembangan kilang tersebut akan membuat ketahanan energi menjadi lebih baik. Proyek kilang itu harus berjalan setelah bertahun-tahun tidak memiliki kejelasan. “Kalau kita tidak punya kilang, ada beberapa hal yang bisa memengaruhi. Jika terjadi short of supplyyang mendadak, kita terpaksa cari ke pasar yang terkadang harganya mahal. Tetapi, kalau ada di sini (dalam negeri, Red), kan harganya stabil terus,” tuturnya. Saat ini terdapat enam proyek RDMP dan NGRR untuk meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar minyak (BBM). Enam proyek tersebut adalah RDMP Cilacap, RDMP Balikpapan, RDMP Balongan, RDMP Dumai, NGRR Tuban, dan NGRR Bontang. Produksi kilang nasional saat ini sekitar 1 juta barel per hari diharapkan meningkat menjadi 2 juta barel per hari.