+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Aprobi: Uji Coba B30 Desember

Neraca | Senin, 11 November 2019

Aprobi: Uji Coba B30 Desember

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menyatakan pihaknya kini sedang menunggu keputusan menteri (kepmen) energi dan sumber daya mineral (ESDM) terkait penambahan bahan bakar nabati berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Setelah kepmen ESDM keluar, setelah itu proses uji coba baru bisa dilakukan. “Uji coba implementasi dari program campuran biodiesel 30 persen ke minyak solar (B30) akan dilakukan minimal pertengahan November atau Desember 2019 mendatang. Ini butuh proses, biasanya tidak bisa langsung uji coba karena setelah kepmen harus melakukan beberapa proses lagi,” ungkap Paulus, di Jakarta, akhir pekan kemarin. Paulus mengatakan proses yang dimaksud, seperti kontrak Badan Usaha (BU) Bahan Bakar Nabati (BBN) dan BU Bahan Bakar Minyak (BBM). Kemudian, BU BBN dan BU BBM melakukan perjanjian pesanan pembelian (purchase order). Dengan berbagai proses itu, Paulus agak pesimis uji coba implementasi B30 bisa dilakukan pada bulan ini. Masalahnya, kepmen ESDM untuk penambahan alokasi FAME juga belum keluar.”Diperkirakan mungkin Desember baru bisa, karena prosesnya kan tidak cepat juga,” jelas Paulus. Berdasarkan perhitungannya, uji coba implementasi B30 ini membutuhkan alokasi FAME sebesar 250 ribu sampai 400 ribu kiloliter (kl). Paulus merinci, jika uji coba dimulai pertengahan November 2019 maka yang dibutuhkan 400 kl, sedangkan kebutuhan FAME hanya sebesar 250 kl kalau percobaan dimulai bulan depan. Nantinya uji coba ini bersifat masif, semuanya dari mobil, kapal, dan lain-lain. Sebagai informasi, kebutuhan FAME untuk program B20 ditargetkan sebanyak 6,6 juta kl. Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna sebelumnya memprediksi jumlah kebutuhan FAME tahun depan mencapai 9,6 juta kl. “(Konsumsi) masih susah ditebak, tapi dengan B30 size-nya jadi 9,6 juta kl lah,” kata dia. Di tempat yang sama, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Selain itu, lanjutnya, Aprobi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin. Jonan meyakini Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,” ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor.

http://www.neraca.co.id/article/124164/aprobi-uji-coba-b30-desember

Surabayainside.com | Senin, 11 November 2019

Demi Kemandirian, Jonan Optimis Indonesia Terapkan B100

Eks Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan yakin Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Untuk itu, lanjutnya, perlu konsistensi dalam mengkampanyekan biodiesel agar tak terjadi resistensi masyarakat terhadap energi terbarukan ini. Menurut Jonan, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) harus melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada resistensi atau penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. “Perlu konsistensi dalam melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada resistensi bila harga biodiesel mengalami kenaikan. Mestinya harga tak menjadi persoalan ketika biodiesel sudah menjadi kebutuhan masayarakat,” kata Jonan, Minggu (10/11). Jonan mencontohkan apa yang terjadi untuk produk rokok dan pulsa atau kuota data internet yang tidak pernah mengalami resistensi atau penolakan bila mengalami kenaikan harga. Jonan menambahkan, hal yang sama bisa berlaku pada biodiesel jika Aprobi melakukan kampanye secara konsisten dengan konten yang bagus kepada masyarakat. “Aprobi bisa mengajak pihak lainnya seperti Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk membuat kampanye bersama. Selain itu, Aprobi mesti duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin,” jelas Jonan.

Info Sawit | Senin, 11 November 2019

Indonesia Urutan Kelima Eksportir Biofuel di Dunia

Hingga saat ini komoditas minyak sawit kerap menghadapi tantangan di dunia, baik berupa hambatan regulasi maupun hambatan perdagangan. Utamanya hambatan itu muncul dari negara-negara maju yang juga sebagai konsumen minyak sawit, seperti dari Uni Eropa. Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan, Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, Uni Eropa sejatinya setiap tahun menyerap 9,1 juta ton minyak sawit, dimana sekitar 3,8 juta ton diperoleh dari Malaysia dan negara-negara Afrika sisanya didapat dari Indonesia. Dari total serapan sebanyak 9,1 juta ton minyak sawit tersebut, Amalia menjelaskan, sekitar 50% dipergunakan untuk bahan bakar biofuel sementara sisanya diserap untuk industri di Uni Eropa. “Ternyata EU adalah produsen biofuel di dunia,” katanya. Setiap tahun konsumsi biofuel di Uni Eropa terus meningkat, sebelumnya pasokannya bukan berasal dari minyak sawit, namun sebagian besar dipasok dari rapeseed oil. Namun, lataran harga minyak sawit lebih ekonomis maka pasokan biofuel dari rapeseed oil terus menurun dan terganti dengan minyak sawit Di tahun 2005 lalu bahkan pasokan rapeseed oil untuk biofuel tersalip oleh minyak sawit. Perlu diketahui, kata Amalia, rapeseed oil diproduksi oleh petani di Uni Eropa, sehingga guna meningkatkan daya saing mereka Uni Eropa mulai menerapkan kebijakan Renewable Energy Directived (RED) 2. “Selain isu lingkungan kebijakan tersebut ditengarai ada tekanan dari pihak petani rapeseed untuk mencegah impor minyak sawit,” katanya saat berbicara dengan InfoSAWIT belum lama ini di Jakarta. Untuk pasar biofuel di dunia tercatat Indonesia adalah eksportir terbesar ke lima di dunia dengan panga pasar sekitar 7%, sementara eksportir utama biofuel di dunia diduduki Belanda dengan pangsa pasar mancapai 23%. “Mereka sekarang menikmati nilai tambah dari minyak sawit,” jelas Amalia. Pasar biofuel juga tercatat terus meningkat utamnya di negara-negara Asia, Amerika Selatan dan bagian dunia lainnya. Pertumbuhan pasar biofuel saat ini tidak hanya terjadi di Uni Eropa.

https://www.infosawit.com/news/9454/indonesia-urutan-kelima-eksportir-biofuel-di-dunia

Otomania | Senin, 11 November 2019

Emisi Mobil Diesel Turun Lebih Cepat Pakai B30, Ini Penjelasannya

Penggunaan bahan bakar biodiesel 30 atau B30 di tahun 2020 dinilai bakal berdampak baik untuk mengurangi emisi gas buang mobil mesin diesel. Bahan bakar diesel pengganti B20 ini saat diuji menghasilkan penurunan dampak terhadap lingkungan, yakni emisi CO atau karbon monoksida turun sebesar 0,1 – 0,2 gram/km dan emisi PM (Particular Matter) atau turun sebesar 0,01 – 0,08 gram/km. Masa peralihan pemakaian B20 ke B30 dinilai cepat, karena B20 sendiri baru digunakan sejak tahun 2018. Dalam hal emisi, menurut Putu Juli Ardika, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (Imatap) Kemenperin mengatakan, penerapan biofuel diesel terbaru lebih mudah ketimbang peralihan ke kendaraan listrik. “Jumlah kendaraan yang memakai bensin itu persentasenya lebih banyak dibanding kendaraan diesel,” kata pria yang akrab disapa Putu (6/11). “Tapi untuk mengurangi emisi, penggunaan biofuel lebih mudah dan cepat ketimbang kendaraan bensin ke listrik,” lanjutnya pada acara Southeast Asia Automotive Technology Summit. Sementara menurut Putu, perpindahan kendaraan berbahan bakar konvensional ke listrik membutuhkan waktu lama dan biaya yang lebih besar. “Transisi kendaraan konvensional ke electric vehicle tentu butuh waktu yang tidak sebentar,” papar Putu lagi. “Mulai dari pembangunan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengecasan dan memakan biaya yang lebih banyak,” terangnya. Bahan bakar B30 rencananya akan siap digunakan pada awal tahun depan yaitu bulan Januari 2020 yang selanjutnya akan terus dikembangkan ke B40 dan B50.

https://otomotifnet.gridoto.com/read/231914823/emisi-mobil-diesel-turun-lebih-cepat-pakai-b30-ini-penjelasannya

Merdeka | Senin, 11 November 2019

KAI Beli 36 Lokomotif yang Bisa Serap Biodiesel 20 Persen

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akan modernisasi lokomotif dan genset yang ramah lingkungan. Setidaknya, ada 36 unit yang siap dipesan untuk menggantikan kereta yang usianya sudah di atas 30 tahun. Direktur Keuangan Kereta Api Indonesia (KAI), Didiek Hartantyo berkomitmen membangun industri transportasi yang sehat dan ramah lingkungan dengan menggunakan bahan bakar yang minim emisi, yaitu melalui pencampuran biodiesel 20 persen (B20). Hal ini katanya sesuai dengan program pemerintah. “Green energy ready, artinya teknologinya sudah siap B20 sesuai program pemerintah,” kata Didiek, di Jakarta, Senin (11/11/). ‎Untuk merealisasikan komitmen tersebut, KAI akan menggunakan lokomotif dan genset kereta ‎yang kompetibel menyerap bahan bakar B20. Dalam waktu dekat, ada 36 lokomotif yang sedang dipesan dan akan dioperasikan pada 2021. ‎”Kereta kita akan kita modernisasi, ke depan kereta kita nggak ada lokomotifnya (terpisah-pisah), sudah tersambung. Kita ke depan green energy kita ganti genset,” tuturnya. Direktur Utama KAI, Edi Sukomoro mengungkapkan, pembelian lokomotif tersebut merupakan bagian dari program penggantian kereta yang usianya sudah di atas 30 tahun jumlahnya mencapai 672 unit di seluruh Indonesia. Penggantian kereta tersebut dilakukan bertahap, sebelumnya sudah ada 300 kereta yang selesai dipesan. KAI pun telah menerbitkan obligasi dengan target Rp2 triliun, porsi peremajaan kereta tersebut dari obligasi tahap ke II 2019 sebesar Rp800 miliar. “Kita berharap dalam obligasi ini yang kedua kalinya nanti akan digunakan untuk meremajakan kereta-kereta yang memang usianya sudah 30 tahun ke atas,” tandasnya.

https://www.merdeka.com/uang/kai-beli-36-lokomotif-yang-bisa-serap-biodiesel-20-persen.html

Neraca | Senin, 11 November 2019

Pebisnis Otomotif Sebut Pengembangan Biodisel Kebijakan Tepat

Pelaku usaha otomotif nasional yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangat tepat. Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nagoi di Jakarta, disalin dari Antara, mengatakan, mandatori biodiesel 20 persen atau B20, sukses besar dan tahun depan akan ditingkatkan lagi menjadi B30. “Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Negara lain paling banter hanya 7 persen, Indonesia berani 20 persen (B20). Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan,” ujarnya. Menurut dia, sejauh ini kendaraan yang menggunakan B20 tidak ada masalah berarti, kalaupun ada terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500. “Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejenis Kijang atau Fortuner. Kalau kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja,” ujarnya. Yohanes menilai industri sawit nasional memiliki prospek cerah, karena komoditas ini terbukti dapat digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, tambahnya, potensi penjualan mobil nasional stabil di angka 1,1 juta per tahun dan cenderung mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh. “Ketika bahan bakar dari fosil semakin mahal karena cadangannya berkurang, pilihannya tentu saja bahan bakar nabati (BBN). Dan, Indonesia sudah memulai dengan mengembangkan biodiesel,”katanya. Sebelumnya mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11) mengingatkan pentingnya kampanye atau sosialisasi dan promosi besar-besaran terhadap biodiesel. “Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar,” kata Jonan. Menurut Jonan, Aprobi perlu melakukan kampanye yang baik secara konsisten kepada masyarakat sehingga tak ada penolakan bila harga biodiesel mengalami kenaikan atau penyesuaian. Selain itu, lanjutnya, Aprobi perlu duduk bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya untuk membicarakan standar kualitas B30 yang baik agar tidak mengurangi kinerja mesin. Jonan meyakini Pemerintah Indonesia konsisten untuk menerapkan kebijakan B30, B50, hingga B100 ke depan sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo. Dalam kesempatan itu, Aprobi juga memberikan apresiasi kepada Jonan yang selama menjabat sebagai Menteri ESDM memberikan dukungan penuh terhadap industri sawit Tanah Air, termasuk dalam penetapan kebijakan mandatori B20 dan B30. “Kami menghargai upaya yang dilakukan Pak Jonan yang selama menjabat sebabagi Menteri ESDM selalu memberi dukungan penuh pada industri sawit selama ini,”‘ujar Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor. Sementara itu, pengamat energi Komaidi Notonegoro mendukung PT Pertamina (Persero) melanjutkan program pemerintah dalam pemakaian bahan bakar minyak dengan campuran 30 persen nabati atau B30. “Program B20 pemerintah yang dijalankan Pertamina sudah berlangsung dengan baik dan juga terbukti menguntungkan bagi negara, karena itu perlu dilanjutkan dengan B30,” katanya di Jakarta. Pemerintah berencana memulai program B30 pada 1 Januari 2020. Direktur Eksekutif Reforminer Institute itu mengatakan peran Pertamina dalam program B20 cukup penting yakni sebagai ujung tombak implementasi kebijakan. Sejumlah keuntungan program B20 antara lain terbukti menghemat devisa negara dari pengurangan impor bahan bakar minyak jenis solar. Data Kementerian ESDM menyebutkan, pada 2018, dengan program B20, setidaknya ada sekitar empat juta kiloliter solar disubsitusi dengan nabati berasal dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dengan nilai penghematan devisa negara mencapai 1,88 miliar dolar AS. Lalu, pada periode Januari-Juni 2019, substitusi solar sudah mencapai 2,9 juta kiloliter dengan nilai penghematan devisa mencapai 1,66 miliar dolar AS. Adapun total target penghematan devisa pada 2019 adalah sebesar tiga miliar dolar AS. Komaidi melanjutkan keuntungan program B20 lainnya adalah menyerap CPO dalam negeri yang berarti meningkatkan kinerja industri termasuk para petaninya. Namun memang, tambah Komaidi, karena hanya melalui berupa pencampuran, program B20 masih menimbulkan kekhawatiran sebagian pengguna atas dampak yang ditimbulkan.

http://www.neraca.co.id/article/124186/pebisnis-otomotif-sebut-pengembangan-biodisel-kebijakan-tepat

Gridoto | Senin, 11 November 2019

Bagi yang Belum Tahu, Ini Arti Bahan Bakar Nabati B20, B30, B40

Beberapa waktu yang lalu pemerintah telah merencanakan kebijakan B30 di Indonesia mulai Januari 2020 mendatang. Tapi kamu sebenarnya paham enggak sih, apa arti dari B30? Bahkan ada juga B20 dan B40? Biar enggak bertanya-tanya lagi, yuk disimak penjelasannya berikut ini. B20, B30, dan B40 merupakan bahan bakar nabati berupa campuran antara biodiesel dan solar. B20 (Biodiesel 20) berarti campuran antara 20 persen biodiesel dan 80 persen solar, B30 (Biodiesel 30) campuran antara 30 persen biodiesel dan 70 persen solar. Begitu juga dengan B40 (Biodiesel 40) yang merupakan campuran 40 persen biodiesel dan 60 persen solar. Nah, biodiesel itu sendiri merupakan bahan bakar nabati yang dapat digunakan sebagai energi alternatif bagi kendaraan berbahan bakar jenis diesel atau solar. Biodiesel umumnya dibuat melalui reaksi metanolisis atau transesterifikasi antara minyak nabati dengan metanol yang dibantu katalis basa. Saat ini, bahan baku biodiesel di Indonesia berasal dari minyak kelapa sawit. Namun tanaman lain seperti jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, dan nyamplung juga berpotensi diolah menjadi biodiesel. Nah, penerapan kebijakan penggunaan biodiesel ini nantinya diharapkan bisa menekan ketergantungan energi fosil dan impor bahan bakar minyak di Indonesia. Rencana penggunaan B30 juga dinilai akan berdampak baik mengurangi emisi gas buang kendaraan bermesin diesel lo. Pasalnya, saat dilakukan pengujian, B30 menghasilkan penurunan dampak terhadap lingkungan, yakni emisI CO atau karbon monoksida turun sebesar 0,1-0,2 gram per kilometer dan emisi PM (Particular Matter) turuN sebesar 0,01-0,08 gram per kilometer.

https://www.gridoto.com/read/221915380/bagi-yang-belum-tahu-ini-arti-bahan-bakar-nabati-b20-b30-b40

Investor.id | Senin, 11 November 2019

Airlangga Pastikan Program B20 Pangkas CAD

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan, pelaksanaan program biodiesel (B20) telah berkontribusi terhadap penurunan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada triwulan III-2019. Oleh karena itu, pelaksanaan program yang terbukti mampu mengurangi impor migas ini akan dilanjutkan dengan berbagai kebijakan biodiesel lainnya. “Ini mencerminkan, program yang didorong, khususnya penggunaan B20, (mulai) berjalan. Oleh karena itu, salah satu prioritas, kami ke depan adalah merapikan implementasi program B30. Kami sedang membuat roadmap B30, B40, B70, bahkan sampai B100,” ujar Airlangga yang juga mantan menteri perindustrian tersebut. Ia mengungkapkan, implementasi penggunaan biodiesel menjadi salah satu langkah cepat dan efektif (quick wins) untuk mengurangi defisit pada neraca perdagangan maupun neraca transaksi berjalan. Penurunan CAD tersebut, menurut Airlangga, juga menunjukan adanya perbaikan perekonomian Indonesia yang juga tergambar pada penurunan jumlah pengangguran. Menurut dia, upaya lain pemerintah untuk memberbaiki CAD adalah dengan terus melakukan penguatan terhadap kinerja ekspor serta investasi agar ekonomi domestik tidak terdampak oleh kondisi global. “Nilai tambah yang kami dorong dari segi produk ekspor. Ini kami tingkatkan dan kemudian kalau dilihat investasi juga cukup meningkat,” kata Airlangga. Saat ini, pemerintah telah menetapkan 15 program percepatan yang akan menjadi prioritas untuk diselesaikan dalam jangka waktu enam bulan. Salah satu program prioritas tersebut adalah implementasi mandatori B30 untuk mengurangi impor migas yang sedang dalam proses pembahasan di tingkat teknis. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyatakan defisit neraca transaksi berjalan membaik karena defisit neraca perdagangan migas turun di tengah surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil. Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III-2019 tercatat sebesar US$ 7,7 miliar atau 2,7% dari PDB, turun dari triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 8,2 miliar atau 2,9% dari PDB. Perbaikan kinerja neraca transaksi berjalan terutama ditopang oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan barang, terutama akibat turunnya defisit neraca perdagangan migas. Membaiknya defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi oleh impor migas yang menurun sejalan dengan implementasi sejumlah kebijakan pengendalian impor, di antaranya program B20. Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat stabil di tengah perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun. Defisit neraca transaksi berjalan yang membaik juga didukung oleh penurunan defisit neraca pendapatan primer akibat lebih rendahnya repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri. Di sisi lain, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menargetkan nilai ekspor Indonesia melonjak hingga 10% atau lebih pada 2020 mendatang. Untuk mencapai itu, pemerintah sedang mengevaluasi sejumlah perundingan perdagangan internasional. “Ekspor tahun depan pasti bisa lebih tinggi, kami akan bahas karena menyangkut program tahun depan. Mudah-mudahan bisa dua digit,” ucap Agus. Kementerian Perdagangan mengaku akan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga (K/L) untuk mendongkrak jumlah ekspor 2020. Pada saat yang sama kerja sama perdagangan internasional terus dioptimalkan dan sejumlah perjanjian perdagangan pun terus dibenahi. “Datanya sedang kami kumpulkan. Ada perundingan-perundingan dengan negara lain yang akan menambah nilai ekspor,” ucap dia.

https://investor.id/business/airlangga-pastikan-program-b20-pangkas-cad

CNBC Indonesia | Senin, 11 November 2019

Impor BBM Masih Bengkak, Jokowi Sindir Progres Kilang!

Presiden Joko Widodo kembali menyinggung soal defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang tak kunjung beres. Ia mengingatkan para menteri untuk konsentrasi pada beberapa kebijakan yang riil terutama untuk tekan impor bahan bakar minyak (BBM). “Saya mengingatkan kepada para menteri untuk konsentrasi pada langkah-langkah terobosan untuk kurangi impor kita. Baik itu impor BBM yang jadi penyumbang defisit terbesar, oleh sebab itu pembangunan kilang harus jadi prioritas,” ujar Jokowi dalam rapat terbatas, Senin (11//11/2019). Ia juga meminta lifting atau produksi minyak dalam negeri terus ditingkatkan, termasuk di dalamnya juga menggenjot penggunaan energi baru dan terbarukan. “Seperti B20, untuk segera masuk ke B30 lalu B100 sehingga dapat kurangi impor BBM.” Selain itu, investasi yang dilakukan di sektor industri substitusi impor juga harus terus diperhatikan. Jokowi ingin agar barang substitusi ini bisa buru-buru gantikan produk impor. “Termasuk industri pengolahan, ini bukan hanya menciptakan lapangan kerja tapi juga memastikan bahwa yang dibutuhkan di dalam negeri juga diekspor dan bisa diproduksi di dalam negeri,” katanya. Dijumpai di kesempatan terpisah, Menteri Koordinator (Menko) Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan angkat bicara. Luhut mengatakan pihaknya melakukan evaluasi pada semua proyek kilang Pertamina. “Di pertamina itu ada proyek senilai capexnya aja US$60 miliar. Sehingga kita bisa percepat waktunya. 2 tahunan semua proyek itu,” ungkapnya di Kantor Menko Maritim dan Investasi, Senin, (11/11/2019). Setelah dilakukan proses evaluasi satu persatu lalu diidentifikasi, pekan depan dari pihak Pertamina akan kembali lapor ke Menko Maritim dan Investasi. “Minggu depan Pertamina lapor sama saya lagi gimana timetablenya,” paparnya. Lalu terkait megaproyek pengembangan kilang Cilacap yang masih digantung, Luhut mengatakan saat ini masih evaluasi. Saat ini selisihnya masih US$ 1,5 miliar. “Iya belum keluar. Kalau betul tetap segitu tentu kita lihat pilihan lain,” terangnya. Hal senada disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, dirinya minta agar semua bisa dipercepat. Percepatan proyek kilang bisa didorong salah satunya dengan membantu perizinan. “Semua hal yang jadi hambatan harus kita atasi. Terkait peraturan perizinan dan masalah dalam negeri harus kita selesaikan,” ungkapnya, Senin, (11/11/2019). Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mengaku optimis bisa mengebut enam proyek kilang yang sudah digagas sejak dulu. Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero), Ignatius Tallulembang mengatakan kapasitas kilang, baru mencapai 1 juta barel per hari, operasinya 800 – 900 ribu barel, dan menghasilkan produk BBM 650 ribu barel per hari. Sementara kebutuhan BBM mencapai 1,3 – 1,4 juta barel per hari. “Ketergantungan energi kita masih impor, kapasitas kita akan tambah dua kali lipat. Dengan growth 4-5% kita bisa capai 1,7 juta barel,” paparnya di Kantor Pertamina Pusat, Rabu, (6/11/2019). Enam proyek kilang yang tengah dikebut terdiri dari 4 proyek pengembangan atau RDMP dan 2 proyek baru atau Grass Root Refinery (GRR). Menurut Ignatius, semua proyek sampai saat ini masih on track. “Tidak ada yang ketinggalan kereta,” sebutnya.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20191111160522-4-114363/impor-bbm-masih-bengkak-jokowi-sindir-progres-kilang