+62 2129380882 office@aprobi.co.id

APROBI Usul Pelaksanaan B30 Dipercepat

GATRA | Rabu, 18 September 2019

APROBI Usul Pelaksanaan B30 Dipercepat

Pemerintah menargetkan pelaksanaan B30 secara mandatori (wajib) akan dilakukan pada Januari 2020 mendatang. Namun, APROBI (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia) memiliki pandangan lain. Ketua Umum APROBI, Master Parulian Tumanggor mengungkapkan pihaknya mengusulkan pelaksanaan B30 dimajukan pada akhir tahun ini. “Saya mengusulkan boleh kita memulai uji coba di bulan November, di beberapa kota,” ungkapnya usai rapat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Rabu (18/9). Tumanggor beralasan tidak ada permasalahan dalam penggunaan B30 (Biodiesel 30) berdasarkan hasil root test (uji akar) yang dilakukan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM). “Bahan bakar tersebut mengandung komponen minyak kelapa sawit sebesar 30% dan solar sebesar 70%,” katanya. Tumanggor mengaku belum tahu apakah usulnya itu akan diterima atau tidak. “Tidak tahu saya (kapan diputuskan),” ujarnya.

Hasil kajian APROBI memproyeksikan penghematan impor minyak bumi melalui penggunaan B20 diproyeksikan sebesar USD 3,2 Miliar pada 2019. Angka tersebut diperkirakan akan naik menjadi US$4,9 miliar pada 2020 setelah mandatori B30 diberlakukan. Berdasarkan data dari APROBI, produksi biodiesel nasional sebesar 4,373 juta kiloliter Pada Semester I (Januari-Juni) 2019. Dari jumlah tersebut sebesar 3,240 juta kiloliter dikonsumsi di dalam negeri dan sisanya diekspor ke berbagai negara.

https://www.gatra.com/detail/news/445525/ekonomi/aprobi-usul-pelaksanaan-b30-dipercepat

CNBC Indonesia | Rabu, 18 September 2019

Uji Coba Mulus, B30 Diusulkan Mulai Berlaku November Ini

Uji coba B30 yang berjalan dalam beberapa bulan terakhir dipastikan berjalan mulus. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penggunaan B30 di semua aspek kendaraan sudah lolos. “Pada road test ini B30 dibandingkan dengan B20, bukan B0. Hasilnya dari sisi konsumsi bahan bakar, secara rata-rata tergantung dari jenis kendaraan, plus minus 0,87% lebih tinggi konsumsinya. Bukan berarti lebih boros, karena di sisi yang lain dayanya itu lebih tinggi, performance-nya juga lebih bagus. Untuk emisi, semuanya lebih bagus, kecuali untuk nitrogen oksida (NOx), tergantung dari jenis kendaraan. Secara umum bagus”, jelas Kepala Litbang ESDM Dadan Kusdiana, Rabu (18/9/2019). Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor mengatakan dengan mulusnya uji coba ini ada usulan agar berlakunya B30 yang semula direncanakan Januari bisa dipercepat. “Saya usulkan boleh kita mulai uji coba di November di beberapa kota, itu yang pertama,” kata Tumanggor, Rabu (18/9/2019). Menurutnya, uji coba penggunaan di beberapa kota ini bisa dipercepat karena kesiapan infrastruktur juga sudah ada dengan berlakunya B20 sejak tahun lalu. Pelaksanaan road test B30 dimulai sejak 20 Mei 2019 dengan tujuan untuk mengkonfirmasi dampak penggunaan B30 pada kinerja kendaraan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Road test dilaksanakan oleh Badan Litbang ESDM dan BPPT dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, BPDPKS, Pertamina, Aprobi dan Gaikindo.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190918201017-4-100528/uji-coba-mulus-b30-diusulkan-mulai-berlaku-november-ini

GATRA | Rabu, 18 September 2019

BPDPKS Kucurkan Dana Rp1,275 T untuk Replanting Sawit

Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono mengungkapkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mengucurkan dana Rp1,275 Triliun untuk replanting (penanaman kembali) kelapa sawit. Dana tersebut dikucurkan untuk 51 ribu hektar kebun kelapa sawit yang telah dilakukan replanting dari Juni hingga Agustus 2019. “Ada 51.000 itu rekomendasi teknis kami sampaikan ke BPDPKS. Mereka juga kan perlu tiga pihak dulu, dievaluasi, lalu transfer,” ujarnya, di Jakarta, rabu (18/9). Kasdi mengaku dana dari BPDPKS tersebut sudah ditransfer kepada Kementan untuk pendanaan replanting. Kasdi mengungkapkan, untuk satu hektar kebun membutuhkan dana replanting sebesar Rp 25 juta.

Berdasarkan rapat koordinasi Kementerian Koordinator Perekonomian Rabu ini, pemerintah merevisi target replanting dari 200 ribu hektar menjadi 180 ribu hektar. Sehingga, dibutuhkan dana Rp4,5 triliun tiap tahunnya. “Memang baru hari ini diputuskan 180. Tentu kinerja kami kalau sendirian namun jika dengan surveyor akan lebih cepat,” ucapnya. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Master Parulian Tumanggor mengungkapkan tahun ini pemerintah menganggarkan dana replanting sebesar Rp2 triliun. “Karena itu, BPDP dengan pihak perbankan mempercepat proses biar nomor rekening para petani ini juga segera ada. Hambatannya tinggal di situ saja,” terangnya.

https://www.gatra.com/detail/news/445481/ekonomi/bpdpks-kucurkan-dana-rp1275-t-untuk-replanting-sawit-

Kicau News | Kamis, 19 September 2019

Hasil Road Test B30, Balitbang ESDM Sebut Semua Aspek Untuk Kendaraan Sudah Lolos

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kembali melakukan sosialisasi pelaksanaan Road Test B30 di Kantor Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Semarang (18/9). Kepala Balitbang ESDM, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa dalam penggunaan B30 semua aspek kendaraan sudah lolos. “Pada road test ini B30 dibandingkan dengan B20, bukan B0. Hasilnya dari sisi konsumsi bahan bakar, secara rata-rata tergantung dari jenis kendaraan, plus minus 0,87% lebih tinggi konsumsinya. Bukan berarti lebih boros, karena di sisi yang lain dayanya itu lebih tinggi, performance-nya juga lebih bagus. Untuk emisi, semuanya lebih bagus, kecuali untuk nitrogen oksida (NOx), tergantung dari jenis kendaraan. Secara umum bagus,” jelas Dadan.

Untuk penggunaan oli, lanjut Dadan, juga tidak ada masalah, terlebih semua kendaraan dalam road test ini melewati batasan minimum dari yang disarankan oleh APM (Agen Pemegang Merk). “Dari filter bahan bakar juga demikian, filter kan harus diganti setiap sekian kilometer, ini juga lulus”, Kata Dadan. Selain itu, Sambung Dadan, dalam road test ini juga terdapat uji coba kendaraan disimpan hingga 3 minggu saat di Dieng, tanpa dihidupkan sama sekali. “Saat dihidupkan, semuanya lolos, di bawah 1 detik sudah nyala,” jelas Dadan. Lebih jauh Dadan mengutarakan, Jadi kembali saya sampaikan, tidak hanya dari aspek kendaraan, tetapi dari sisi maintenance, B30 sudah lolos. Insya allah akan start full nasional per 1 Januari 2020. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko menyampaikan, dukungan Provinsi Jawa Tengah terhadap penggunaan B30. “B30 itu adalah kebijakan negara. Kebijakan untuk memperkuat kedaulatan energi kita. Sosialisasi ini adalah untuk memastikan bahwa dampak pada lingkungan teruji ini bagus. Dari sini memberikan keyakinan semua tidak perlu ada modifikasi mesin atau modifikasi distribusi,” ucap Sujarwanto.

Sujarwanto membeberkan, Adapun pelaksanaan road test B30 dimulai sejak 20 Mei 2019 dengan tujuan untuk mengkonfirmasi dampak penggunaan B30 pada kinerja kendaraan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Road test dilaksanakan oleh Badan Litbang ESDM dan BPPT dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, BPDPKS, Pertamina, Aprobi dan Gaikindo. Hadir dalam acara sosialisasi road test hari ini di antaranya Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, jajaran Direksi BPDP Sawit, Kepala Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Disain – BPPT, Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi – BPPT, Direksi Pertamina, perwakilan GAIKINDO, APROBI, akademisi, pemerintah daerah komunitas Pajero dan Fortuner, dan mahasiswa di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

https://kicaunews.com/2019/09/19/hasil-road-test-b30-balitbang-esdm-sebut-semua-aspek-untuk-kendaraan-sudah-lolos/

Pontas | Rabu, 18 September 2019

Hasil Road Test B30: Semua Aspek untuk Kendaraan Sudah Lolos

Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kembali melakukan sosialiasi pelaksanaan Road Test B30 di Kantor Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Rabu (18/9/2019). Kepala Balitbang ESDM, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa dalam penggunaan B30 semua aspek kendaraan sudah lolos. “Pada road test ini B30 dibandingkan dengan B20, bukan B0. Hasilnya dari sisi konsumsi bahan bakar, secara rata-rata tergantung dari jenis kendaraan, plus minus 0,87% lebih tinggi konsumsinya. Bukan berarti lebih boros, karena di sisi yang lain dayanya itu lebih tinggi, performance-nya juga lebih bagus. Untuk emisi, semuanya lebih bagus, kecuali untuk nitrogen oksida (NOx), tergantung dari jenis kendaraan. Secara umum bagus,” jelas Dadan, dikutip dari laman esdm.go.id, Kamis (18/9/2019).

Untuk penggunaan oli, lanjut Dadan, juga tidak ada masalah, terlebih semua kendaraan dalam road test ini melewati batasan minimum dari yang disarankan oleh APM (Agen Pemegang Merk). “Dari filter bahan bakar juga demikian, filter kan harus diganti setiap sekian kilometer, ini juga lulus”, ungkapnya. Selain itu, dalam road test ini juga terdapat uji coba kendaraan disimpan hingga 3 minggu saat di Dieng, tanpa dihidupkan sama sekali. “Saat dihidupkan, semuanya lolos, di bawah 1 detik sudah nyala”, jelas Dadan. “Jadi kembali saya sampaikan, tidak hanya dari aspek kendaraan, tetapi dari sisi maintenance, B30 sudah lolos. Insya allah akan start full nasional per 1 Januari 2020,” pungkas Dadan. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, menyampaikan dukungan Provinsi Jawa Tengah terhadap penggunaan B30. “B30 itu adalah kebijakan negara. Kebijakan untuk memperkuat kedaulatan energi kita. Sosialisasi ini adalah untuk memastikan bahwa dampak pada lingkungan teruji ini bagus. Dari sini memberikan keyakinan semua tidak perlu ada modifikasi mesin atau modifikasi distribusi,” ucap Sujarwanto. Adapun, pelaksanaan road test B30 dimulai sejak 20 Mei 2019 dengan tujuan untuk mengkonfirmasi dampak penggunaan B30 pada kinerja kendaraan maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Road test dilaksanakan oleh Badan Litbang ESDM dan BPPT dengan dukungan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, BPDPKS, Pertamina, Aprobi dan Gaikindo.

Jakarta Post | Rabu, 18 September 2019

Indonesia seeking support from IEA, IRENA on palm oil biofuels

The Energy and Mineral Resources Ministry is working to secure global recognition of Indonesian palm oil-based biofuels as a renewable energy source after the European Union categorized the product as unsustainable earlier this year. The ministry’s deputy minister Arcandra Tahar said he met representatives from the International Energy Agency (IEA) and International Renewable Energy Agency (IRENA) at the four-day ASEAN Ministers on Energy Meeting in Bangkok, Thailand, which ended on Sept 6. “We talked to the IEA, they don’t oppose [our biofuel]. I met the IRENA, they’re neutral… The one that opposes is the EU,” he told reporters in Jakarta on Friday

https://www.thejakartapost.com/news/2019/09/18/indonesia-seeking-support-from-iea-irena-on-palm-oil-biofuels.html

Lampung Post | Rabu, 18 September 2019

LDC Lampung Produksi 1.200 Ton Biodiesel per Hari

LDC Indonesia Rafinery Lampung memiliki tingkat produksi biodiesel hingga mencapai 1.200 ton per hari. Produksi itu untuk memenuhi kebutuhan Pertamina dan ekspor. Plant Manager LDC Agustinus Setyo, mendampingi Regional Corporate Communication Manager Priscilla Teo, Selasa (17/9/2019), mengatakan selain menggenjot produksi, pabriknya terus meningkatkan produk turunan dari crude palm oil (CPO). Bahkan, jika pemerintah memberlakukan biodiesel B30, pihaknya siap untuk menyediakan. “Selama ini kami menyuplai B20. Apabila pemerintah ketuk palu untuk B30, kami siap untuk menyediakannya,” kata Agustinus dalam agenda Media Familiarization Trip.

LDC Rafiney Lampung terletak di Jalan Soekarno-Hatta, Way Lunik, Panjang, Bandar Lampung, dengan luas areal mencapai 1,6 ha, dermaga 11 ha, dan area penyimpanan bulking 2 ha. Tempat pengolahan CPO ini memiliki sandar keamanan yang cukup tinggi dengan didukung teknologi yang serbaotomatis. “Jumlah tenaga kerja kami hanya 96 orang, sangat slim, karena kami menggunakan peralatan, mesin, dan teknologi yang serbaotomatis,” katanya. Laboratorium LDC Rafinery Lampung juga dilengkapi dengan alat berteknologi mutakhir yang mampu menghasilkan dengan cepat akurat. “Untuk mengetahui kadar dari sampel, hanya membutuhkan waktu 5 sampai 6 detik,” katanya. Untuk ekspor, lanjut Agustinus, pihaknya mampu menyuplai ke berbagai negara seperti Tiongkok, Eropa, Afrika, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara. Terkait CSR, LDC sangat concern untuk membantu warga sekitar perusahaan dengan berbagai cara. Misalnya, merenovasi dan memberikan perlengkapan sekolah, pendampingan guru, pemberian extrafooding, dan sosialisasi cara hidup sehat. “Lalu, fogging, donor darah, penanaman mangrove, dan pelatihan cara menanggulangi kebakaran bagi warga,” ujarnya.

http://www.lampost.co/berita-ldc-lampung-produksi-1-000-ton-biodiesel-per-hari.html

Bisnis | Rabu, 18 September 2019

Jateng Siap Gunakan Bahan Bakar B30

Menjelang penerapan penggunaan bahan bakar B30 (campuran 30% biodiesel pada minyak solar) pada 1 Januari 2020 nanti, pemerintah terus gencar melakukan sosialisasi di sejumlah daerah. Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, penerapan aturan B30 sebagai salah satu upaya dari pemerintah untuk menekan impor minyak. Pasalnya, saat ini Indonesia termasuk salah satu importir minyak. “Kami terus melakukan sosialisasi ke beberapa provinsi agar siap menggunakan B30, karena penggunaan bahan bakar terbarukan sesuai dengan perintah dari Presiden RI Joko Widodo,” kata Dadan di Semarang Rabu (18/9/2019). Dia menambahkan, bahan bakar B30 sudah melalui serangkaian ujicoba langsung terhadap beberapa kendaraan yang menggunakan diesel. Hasilnya, B30 sangat aman digunakan untuk kendaraan.

Menurutnya, penggunaan bahan bakar B30 tidak memerlukan modifikasi khusus untuk mesin kendaraan. Pasalnya, B30 hanyalah campuran untuk mengurangi penggunaan solar sebanyak 30%. “Beberapa waktu lalu kami melakukan tes B30, hasilnya aman, sehingga publik yakin penggunaan B30 tidak berdampak signifikan pada mesin kendaraan dan tidak membebani biaya perawatan kendaraan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Provinsi Jateng Sujarwanto Dwiatmoko menuturkan, kebijakan penggunaan B30 akan diterapkan awal 2020 nanti. Menurutnya, Jawa Tengah sudah sangat siap menggunakan bahan bakar B30. “Jawa Tengah sudah siap menggunakan B30. Kami harap para pengusaha tambang untuk menjadi pelopor penggunaan B30,” katanya.

https://semarang.bisnis.com/read/20190918/536/1149853/jateng-siap-gunakan-bahan-bakar-b30