+62 2129380882 office@aprobi.co.id

APROBI:Penggunaan Biofuel Tak Ganggu Supply CPO bagi Industri

CNBC Indonesia | Kamis, 26 Desember 2019

APROBI:Penggunaan Biofuel Tak Ganggu Supply CPO bagi Industri

Implementasi penggunaan Biodiesel disebut Ketua Umum APROBI, Master Parulian Tumanggor tidak akan mengganggu kinerja ekspor CPO Indonesia. Dimana produksi sawit masih dapat terus digenjot melalui berbagai upaya seperti replanting, sehingga kebutuhan dalam negeri dan ekspor masih dapat tercukupi. Tumanggor juga menyebutkan, penggunaan biodiesel dapat menekan migas sehingga pada akhirnya dapat menekan CAD, selain itu seiring dengan membaiknya harga komoditas CPO maka ekspor CPO dan produk turunannya dapat membantu meningkatkan devisa negara. (Narsum: Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Master Parulian Tumanggor)

https://www.cnbcindonesia.com/market/20191226155821-19-125779/aprobipenggunaan-biofuel-tak-ganggu-supply-cpo-bagi-industri

Medcom | Kamis, 26 Desember 2019

Pasokan Biodiesel B30 Diupayakan Merata di Awal 2020

Upaya pemerintah untuk membuat penggunaan bahan bakar ramah lingkungan Biodiesel B30 terealisasi, bakal dimulai pada awal 2020. Bersamaan dengan peresmian penggunaan BBM tersebut di SPBU COCO MT Haryono, Jakarta pada Senin (23/12/2019), Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan pasokan BBM jenis ini diupayakan merata di awal 2020. Peresmian ini dilakukan lebih cepat dari yang direncanakan semula pada Januari 2020. Harapannya, pada awal tahun depan, seluruh SPBU Pertamina sudah menyalurkan B30. Nicke menambahkan, pihaknya telah melakukan langkah cepat dengan melakukan penyaluran B30 sejak November 2019 di beberapa wilayah antara lain TBBM Medan Sumatera Utara, Kilang Plaju Sumatera Selatan, TBBM Panjang Lampung, TBBM Plumpang DKI Jakarta, TBBM Balikpapan Kalimantan Timur, TBBM Rewulu Yogjakarta, TBBM Boyolali Jawa Tengah, Kilang Kasim Papua. “Kini, Pertamina telah menyiapkan 28 TBBM sebagai titik simpul pencampuran B30, yang nantinya akan disalurkan ke seluruh SPBU millik Pertamina di seluruh Indonesia” ujar Nicke. Untuk mengamankan suplai FAME (Fatty Acid Methyl Ester) sebagai bahan utama pencampuran B30, lanjut Nicke, mereka telah melakukan penandatanganan kerja sama pengadaan FAME dengan 18 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) yang ditunjuk oleh pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Senin (16/12). Biosolar B30, tambah Nicke, merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Pertamina berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan produk Biosolar B30 dan turut menjaga kelestarian alam melalui penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan. Program B30 ditargetkan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 14,25 juta ton C02 selama tahun 2020. Selain itu, Program B30 juga ditargetkan bisa menyerap tenaga kerja tambahan hingga 1,29 juta orang.

Dukungan Industri Otomotif

Meski diklaim penggunaan bahan bakar ini bisa membuat emisi karbondiosida dari gas buang lebih rendah, namun dari sisi industri otomotif perlu ada sedikit penyesuaian. Terutama perilaku perawatan kendaraan, terutama di bagian filter bahan bakar yang harus diperhatikan. Dari beberapa kali pengetesan, baik yang dilakukan oleh pemerintah melalui BPPT hingga yang dilakukan sendiri oleh industri otomotif, tidak masalah berarti dalam penggunaan bahan bakar ini. Lantaran sebelumnya, mesin dan komponen yang sejauh ini sudah disesuaikan dengan penggunaan B20. Kementerian ESDM melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Badan Litbang ESDM) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyampaikan hasil road test B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) yang digunakan pada kendaraan bermesin diesel. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. “Sampai sejauh ini hasil road test B30 menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20. Bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah”, jelas Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana, melalui keterangan resminya. Dadan mengungkapkan, parameter yang diukur selama road test adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi dingin, mutu bahan bakar, dan pelumas. Ia menyebut, salah satu output kegiatan road test pertengahan 2019 lalu itu adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30.

https://www.medcom.id/otomotif/mobil/0Kv9BMrk-pasokan-biodiesel-b30-diupayakan-merata-di-awal-2020

Neraca | Kamis, 26 Desember 2019

B-30 Diharapkan Mendongkrak Harga CPO Dunia

Indonesia memasuki B-30 makin pasti sudah setelah Rabu 17 Desember 2019, Pertamina bersama 18 produsen biodiesel sawit nasional menandatangani penyediaan biodiesel sawit ( FAME) untuk kebutuhan mandatori B-30 mulai 1 Januari 2020. Hal ini memberi signal positif ke pasar CPO dunia yang akan menggerek naik harga CPO di pasar dunia. Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung mentakan dengan B-30, sekitar 9.6 juta kilo liter biodiesel sawit atau setara dengan 8.5 juta ton CPO per tahun akan terserap di dalam negeri. Akibatnya, sekitar 26 persen volume CPO Indonesia yang diekspor ke berbagai negara akan berkurang. “Pengurangan pasokan CPO ke pasar dunia selain akibat B30, juga tahun 2020 diperkirakan terjadi pelambatan produksi CPO dunia akibat kekeringan 2018/2019 yang melanda sentra utama CPO dunia yskni Indonesia dan Malasya. Sehingga tahun 2020 pasar dunia akan kekurangan CPO yang memicu harga naik,” papar Tungkot. Lebih dari itu, menurut Tungkot momentum ini sedang ditunggu oleh petani sawit yang selama satu tahun terakhir menggerutu akibat harga TBS rendah . Memasuki tahun 2020 para petani sawit akan kembali bergairah menikmati kenaikan harga TBS yang ditransmisi dari kenaikan harga CPO dunia. Bahkan tidak perlu menunggu tahun 2020, pasar sudah merespons rencana B-30 tersebut. Harga CPO domestik sudah mulai tergerek naik dari sekitar Rp 7500/ kg awal Nopember menjadi Rp 9100/ kg pada minggu ke tiga Desember 2019. Kenaikan harga CPO ini masih berlanjut ke tahun 2020. “Tentu saja, manfaat B-30 tidak hanya mendongkrak harga TBS pada 200 kabupaten sentra sawit nasional. Manfaat B30 yang tak kalah pentingnya adalah nilai tambah yang tercipta didalam negeri diperkirakan mencapai sekitar Rp 14 trilyun,” terang Tungkot. Bahkan, Tungkot mengatakan penghematan devisa impor solar sekitar USD 5.13 miliar juga akan kita nikmati. Hal ini menyumbang pada penyehatan dan pengurangan defisit neraca perdagangan. Selain itu, penggantian 30 persen konsumsi solar fosil dengan biodiesel sawit akan mengurangi emisi sekitar 14.2 juta ton C02. Ini adalah bagian dari sumbangan industri sawit pada lingkungan melalui pengurangan emisi global. Mandatori B30 tersebut juga menjadi pencapaian Indonesia yang sangat penting. Jika B30 benar benar terlaksana, Indonesia adalah negara pertama dunia yang berani melangkah ke B30. Ini prestasi kelas dunia. Hal ini juga sekaligus membuat Indonesia naik kelas menjadi top-3 produsen biodiesel dunia. “Pencapaian yang membanggakan tersebut jangan sampai terganggu. Seluruh komponen bangsa perlu memberi dukungan maksimal. Jika B30 berhasil tahun 2020, maka untuk B50 berikutnya akan lebih mudah kita raih,” papar Tungkot. Disisi lain, menurut Tungkot, Uni Eropa (EU) akan memasang tarif impor 8-18 persen biodiesel sawit dari Indonesia mulai Januari 2020. Tarif impor berupa pungutan impor ( import levy) ini oleh EU sebagai anti subsidi biodiesel sawit Indonesia. kebijakan pungutan ekspor CPO yang kemudian sebagian digunakan untuk membiayai mandatori B20 menjadi B30, fasilitas dikawasan berikat, dituding sebagai subsidi biodiesel sawit. “Tudingan subsidi biodiesel sawit oleh EU yang demikian bukan hal yang baru. Tudingan serupa tahun 2013 juga dilakukan EU dan tidak terbukti melalui gugatan RI di WTO,” terang Tungkot. EU saat ini sedang galau karena sikapnya yang selalu mendua. Ingin menurunkan emisi, tapi tidak mau menurunkan kesejahteraan. Ingin minyak nabati impor yang sertifikasi sustainable, minyak rapeseed sendiri tidak ada sertfikasi sustainable. Bahkan produksi CSPO ( CPO yang sustainable) hanya 40 persen terserap EU. Ingin mengganti fosil fuel ( karena kotor) dengan biofuel, tapi takut ketahanan pangan EU terganggu ( food-fuel trade off). “Solusi EU untuk atasi trade off tersebut adalah impor biodiesel seperti biodiesel sawit. Ini juga dipersoalkan karena kehadiran biodiesel sawit di EU mendesak biodiesel rapeseed dari EU sendiri,” tutur Tungkot. Sementara itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESM) Ignasius Jonanmengatakan Agar penggunaan biodiesel dengan baik dan tidak terjadi resistensi kepada masyarakat maka harus dilakukan kampanye secara konsisten. Contohnya industri biodiesel dengan industri telekomunikasi. Dimana harga paket kuota data internet yang terus naik, tapi tidak ada pernah mengalami resistensi atau penolakan bila mengalami kenaikan harga. “Jadi dalam hal ini harus ada kampanye secara konsisten dengan konten yang bagus kepada masyarakat,” saran Jonan didepan para pelaku industri biodiesel. Harapannya, menurut Jonan, penggunaan biodiesel dari mulai B10, B20, B30, B50 hingga B100 bisa berjalan secara konsisten sejalan dengan harapan Presiden RI Joko Widodo.

http://www.neraca.co.id/article/126146/b-30-diharapkan-mendongkrak-harga-cpo-dunia

Jawa Pos | Kamis, 26 Desember 2019

Pakai BBM Solar B30 Lebih Cepat Ganti Filter

Pertamina resmi mengimplementasi program bahan bakar B30, atau solar dengan kandungan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) 30 persen. Seperti diberitakan sebelumnya Pertamina telah menyiapkan 28 TBBM sebagai titik peralihan pencampuran B30. Nantinya akan disalurkan ke seluruh SPBU millik Pertamina di seluruh Indonesia Sebagai informasi, B30 adalah pencampuran antara bahan bakar diesel atau solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Yang mempunyai komposisi 70 persen dan 30 persen. FAME merupakan hasil olahan yang didapat dari kelapa sawit yaitu bahan bakar nabati. Sebagaimana dikutip pada laman resmi Kementerian ESDM, solar memiliki cetane number (CN) 48, sementara minyak sawit CN 41. Maka komopsisi di tersebut yang membentuk B30, dimana CN-nya hanya sedikit lebih baik dibandingkan dengan solar. sebagai informasi semakin tinggi angka CN, maka bahan bakar akan lebih mudah terbakar. Akan tetapi angka CN yang lebih tinggi pada B30 tidak selalu membuat performa mesin meningkat. Karena nilai kalor yang dimiliki B30 sedikit lebih rendah dibanding solar. Selain itu sifat alami biosolar yang membuat gel. Ini adalah sifat alamiah dan membuat filter solar menurun masa pakainya. Saran pabrikan pergantian dilakukan pada tiap 30.000 kilometer, namun kini mengganti filter tiap 5.000 – 20.000 kilometer. Menurut pernyataan Kementerian ESDM, B30 membuat daya mesin kendaraan turun sampai 1,7 persen namun ada juga yang naik sampai 1,6 persen. Penurunan yang tergantung jenis mesin diesel ini dialami kendaraan yang sebelumnya menggunakan B20. Selain itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM) Dadan Kusdiana menyatakan B30 berdampak pada saringan bahan bakar kendaraan baru. Atau kendaraan yang belum pernah menggunakan biodiesel. Kerusakan itu disebut bakal terjadi pada pemakaian awal di antara 7.500 – 15 ribu km. Akan tetapi menurut Dadan, setelah penggantian saringan kendaraan kembali normal sampai periode penggantian komponen berikutnya.

Radar Malang | Kamis, 26 Desember 2019

Malang Selatan Berpotensi Miliki Pabrik Biosol

Hasil komoditas pertanian di Kabupaten Malang bisa jadi ke depannya tidak hanya didominasi tanaman tebu. Namun, juga kelapa sawit. Sebab, saat ini rencananya ada tiga kecamatan di wilayah Malang Selatan yang akan dikembangkan untuk tamanan dengan nama latin Elaeis ini. Selain itu, juga diusulkan untuk dibangun pabrik pengelolaan bio solar dan biopremium Keinginan mengembangkan kelapa sawit ini adalah respons dari rencana Presiden Joko Widodo yang ingin menekan impor minyak dan gas (migas) serta meningkatkan produksi biodiesel 30 (B30). Seperti diketahui, hasil pengolahan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) merupakan salah satu bahan utama untuk membuat B30 yang digunakan untuk bio solar dan bio premium. Bahan bakar ini selain relatif lebih ramah lingkungan, juga bisa menjadi alternatif untuk mengurangi impor solar dan jadi solusi untuk menghematuang negara. ”Ada rencana dari Kementerian Ekonomi mau bikin pabrik biosol (bio solar) di Malang Selatan,” kata Bupati Malang Drs H.M. Sanusi MM. Pekan lalu Sanusi bersama perwakilan dari Universitas Brawijaya (UB) bahkan telah melakukan studi komprehensif. Studi yang berlangsung ke Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, untuk melihat langsung proses pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar. ”Kami sangat siap kalau pihak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mau membangun pa brik nya di sini (Kabupaten Malang), kalau Kementerian menyetujui pabriknya di Malang, saya akan dukung untuk penanamannya (kelapa sawit),” jelas Sanusi optimistis.

Tempo | Kamis, 26 Desember 2019

Uji Coba Berhasil, Pertamina Terapkan B30 di Sumatera Utara

Pertamina Marketing Operation Region (MOR) 1 telah melakukan uji coba implementasi program B30 di Provinsi Sumatera Utara sejak 1 sampai 31 Desember 2019. Mulai 2020, sesuai Kepmen ESDM Nomor 227 Tahun 2019 menetapkan komposisi FAME dari B20 menjadi B30. Bahan bakar jenis diesel ini diterapkan pada produk Dexlite dan Biosolar. Energi baru terbarukan B20 adalah bahan bakar jenis diesel yang merupakan pencampuran B2,5 Fatty Acid Mathyl Ester (FAME) dengan Solar. Pada 2019 ini, realisasinya telah mengalami peningkatan sebesar 5,59 juta kiloliter untuk seluruh sektor. Di 2020, FAME B20 menjadi B30, artinya campuran FAME menjadi 30 persen. Unit Manager Communication dan CSR MOR 1 Pertamina, Roby Hervindo mengatakan, proyek percontohan uji coba B30 dilaksanakan Fuel Terminal (FT) Medan Group. Fasilitas ini menyuplai B30 kepada 256 SPBU. Mulai awal Desember sampai sekarang, FT Medan Group telah menyalurkan 47.000 kiloliter B30. “Uji coba tidak ada kendala. Kita akan terapkan di wilayah MOR 1 lainnya yaitu Provinsi Sumatera Barat, Riau, Aceh dan Kepri di 2020. Targetnya 100 persen,” kata Robby, Kamis, 26 Desember 2019. Soal harga, Robby menjamin penerapan B30 tidak akan mempengaruhi harga yang berlaku saat ini. Sesuai Perpres Nomor 24 tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, patokan harga biodiesel tetap mengacu pada indeks pasar minyak solar. B30 merupakan bahan bakar ramah lingkungan karena emisi gas buangnya rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Selain itu, B30 juga lebih efisien dalam penggunaan bahan baku minyak mentah. FAME sebagai bahan campuran B30 juga memiliki “Soap Effect”, yaitu dapat membersihkan saluran pembakaran dengan mengangkat endapan sisa pembakaran kendaraan. “B30 memiliki pembakaran yang relatif bersih dan sangat ramah lingkungan,” kata Robby. Robby menjelaskan sedikitnya ada dua metode pencampuran B30. Pertama metode New Gantry System (NGS), kedua metode Tank Blending bagi FT yang belum memiliki teknologi NGS. FT Medan Group yang menjadi proyek percontohan uji coba B30 sudah menggunakan metode NGS. “Pencampuran FAME dan solar menggunakan inline blending melalui jalur pipa,” kata Fuel Terminal Manager Medan Group, Anas Hasan. Anas menyebutkan, pasokan campuran B30 FAME untuk FT Medan Group berasal dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) PT PHPO (Permata Hijau Palm Oleo). FAME disuplai menggunakan jalur pipa karena produksi atau kilang BUBBN dekat dengan FT Medan sehingga lebih efisien ketimbang menggunakan kapal atau mobil tangki.

https://bisnis.tempo.co/read/1288237/uji-coba-berhasil-pertamina-terapkan-b30-di-sumatera-utara/full&view=ok

GATRA | Kamis, 26 Desember 2019

Tahun Depan 4 Provinsi Ini Sudah Pakai B30

Tahun depan, Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat dan Aceh akan menyusul Sumatera Utara (Sumut) untuk ujicoba penggunaan B30. Sumut sendiri sudah menggunakan B30 tadi sejak awal Desember. Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo, mengatakan, uji coba B30 di Sumut tadi dilakukan di Fuel Terminal (FT) Medan Group. Fasilitas ini menyuplai B30 kepada 256 SPBU. “Sejak awal Desember sampai sekarang, FT Medan Group sudah menyalurkan 47 ribu kilo liter (KL) B30. Alhamdulillah uji coba itu lancar,” ujar Roby Kamis (26/12). Lantaran uji coba tadi lancarlah makanya kata Roby, wilayah MOR I lainnya tadi bakal dijajal dengan target 100 persen. “Soal harga, B30 tidak akan mempengaruhi harga yang berlaku saat ini. Sesuai Perpres 24 tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan dana Perkebunan Kelapa Sawit, patokan harga Biodiesel tetap mengacu pada indeks pasar minyak solar,” katanya. Lebih jauh Roby menyebut, ada dua metode pencampuran B30. Pertama metode New Gantry System (NGS) dan metode tank blending untuk fuel terminal yang belum punya teknologi NGS. FT Medan Group sendiri sudah pakai metode NGS. “Pencampuran FAME dan solar menggunakan inline blending melalui jalur pipa,” kata Fuel Terminal Manager Medan Group, Anas Hasan, pula dalam siaran pers yang diterima Gatra.com, Kamis (26/12). Anas menyebut, pasokan FAME untuk FT Medan Group berasal dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) PT PHPO (Permata Hijau Palm Oleo). FAME disuplai menggunakan jalur pipa lantaran produksi atau kilang BUBBN dekat dengan FT Medan. Jadi akan lebih efisien ketimbang pakai kapal atau mobil tangki. Pertamina mengklaim, B30 sendiri adalah bahan bakar yang lebih ramah lingkungan lantaran tingkat pencemarannya rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. B30 juga lebih efisien dalam penggunaan bahan baku minyak mentah. “FAME sebagai bahan campuran B30 juga memiliki ‘Soap Effect’; bisa membersihkan saluran pembakaran dengan mengangkat endapan sisa pembakaran kendaraan. Dengan begitu, pembakaran kendaraan relatif bersih dan ramah lingkungan,” katanya.

https://www.gatra.com/detail/news/463630/ekonomi/tahun-depan-4-provinsi-ini-sudah-pakai-b30-

Tagar News | Kamis, 26 Desember 2019

Pertamina Terapkan B30 di Sumbar 2020

Pertamina sebagai perusahaan energi nasional yang berkomitmen mengembangkan energi baru terbarukan, telah merealisasikan Biosolar B20. Tahun 2020, pemerintah menetapkan komposisi FAME dari B20 menjadi B30. Bahan bakar jenis diesel ini merupakan pencampuran antara B2,5 Fatty Acid Mathyl Ester (FAME) dengan Solar. Tahun ini, realisasinya telah mengalami peningkatan sebesar 5,59 juta KL untuk seluruh sektor. Meningkatnya B20 ke B30 tentu membuat campuran FAME-nya menjadi 30 persen. Kebijakan B30 pada bahan bakar jenis diesel ini diterapkan pada produk Dexlite dan Biosolar, sesuai Keputusan Menteri ESDM nomor 227 Tahun 2019. Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region (MOR) I, Roby Hervindo, mengatakan untuk mendukung hal itu, Pertamina MOR I melakukan uji coba implementasi program B30 di Sumatera Utara sejak 1 hingga 31 Desember 2019. “Proyek percontohan uji coba program B30 dilaksanakan di Provinsi Sumatera Utara yaitu di Fuel Terminal (FT) Medan Group. Fasilitas ini menyuplai B30 kepada 256 SPBU,” kata Robby, Kamis 26 Desember 2019. Sejak awal Desember hingga kini, kata Roby, FT Medan Group telah menyalurkan sebanyak 47 ribu kilo liter (KL) B30 dan uji coba pun tidak menemui kendala. B30 akan diterapkan di wilayah MOR I lainnya yaitu Provinsi Sumatera Barat, Riau, Aceh dan Kepri pada tahun 2020 dengan target 100 persen. Terdapat dua metode pencampuran B30. Yaitu metode New Gantry System (NGS) dan metode tank blending bagi fuel terminal yang belum memiliki teknologi NGS. Terkait harga, penerapan B30 ini tidak akan mempengaruhi harga yang berlaku saat ini. Sesuai dengan Perpres nomor 24 tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan dana Perkebunan Kelapa Sawit, patokan harga Biodiesel tetap akan mengacu pada indeks pasar minyak solar. “FT Medan Group yang menjadi proyek percontohan uji coba B30 sudah menggunakan metode NGS. Pencampuran FAME dan solar menggunakan inline blending melalui jalur pipa,” kata Fuel Terminal Manager Medan Group, Anas Hasan. Anas menambahkan, pasokan FAME untuk FT Medan Group berasal dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) PT PHPO (Permata Hijau Palm Oleo). FAME disuplai menggunakan jalur pipa karena produksi atau kilang BUBBN dekat dengan FT Medan, sehingga lebih efisien ketimbang menggunakan kapal atau mobil tangki. B30 merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Selain itu, B30 juga lebih efisien dalam penggunaan bahan baku minyak mentah. FAME sebagai bahan campuran B30 juga memiliki “Soap Effect”, dapat membersihkan saluran pembakaran dengan mengangkat endapan sisa pembakaran kendaraan. Sehingga memiliki pembakaran yang relatif bersih dan ramah lingkungan.

https://www.tagar.id/pertamina-terapkan-b30-di-sumbar-2020

Liputan6 | Kamis, 26 Desember 2019

B30 Mulai Disalurkan, Rupiah Menguat 13.977 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat usai perayaan Natal. Penguatan ini salah satunya karena pasar melihat komitmen pemerintah Indonesia dalam pengurangan impor BBM melalui penerapan B30. Mengutip Bloomberg, Kamis (26/12/2019), rupiah dibuka di angka 13.977 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.979 per dolar AS. Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.971 per dolar AS hingga 13.978 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah menguat ke 2,8 persen. Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.982 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan rupiah pada 23 Desember 2019 yang ada di angka 14.978 per dolar AS. “Dalam perdagangan hari ini, rupiah akan menguat karena dukungan eksternal dan internal yang begitu kuat sehingga di akhir tahun ini mata uang garuda akan ditutup dibawah 14.000. Ini capaian yang luar biasa bagi pemerintah saat ini,” kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis. Dari eksternal, pasar optimistis hubungan AS-China kembali harmonis setelah kedua negara mencapai kesepakatan damai dagang fase I yang sepertinya akan diteken pada awal bulan depan. Salah satu poin dalam kesepakatan tersebut adalah China berkomitmen untuk membeli lebih banyak produk AS dan mengurangi hambatan impor. Ini dilakukan untuk menurunkan defisit perdagangan AS dengan China, yang menjadi perhatian utama Trump. China serius dengan komitmen tersebut. Pada pertengahan bulan ini, Kepala Kantor Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengungkapkan China setuju menambah pembelian hasil pertanian AS senilai 32 miliar dolar AS dalam dua tahun ke depan. Namun China telah meningkatkan kritik bahwa AS mengganggu di Hong Kong, Taiwan dan hal-hal lain yang dianggapnya internal. Dari internal, Ibrahim menilai reformasi di bidang birokrasi, keuangan dan lainnya yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia membuahkan hasil yang manis di akhir tahun ini. “Ini semua berkat kerjasama yang apik dengan pelaku bisnis dan yang terpenting kondisi politik dalam negeri yang stabil,” ujar Ibrahim. Pemerintah juga berfokus terhadap pengurangan impor migas sebesar 50 persen melalui implementasi B20 dan B30, dan tahun depan akan di luncurkan B100 sehingga Indonesia bisa mengekspor biodiesel. “Sehingga akan berdampak terhadap CAD yang akan terus membaik di tahun depan,” kata Ibrahim. Ibrahim memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.935 per dolar AS hingga Rp13.990 per dolar AS.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4142152/b30-mulai-disalurkan-rupiah-menguat-13977-per-dolar-as

Neraca | Jum’at, 27 Desember 2019

B-30 Diharapkan Mendongkrak Harga CPO Dunia

Indonesia memasuki B-30 makin pasti su-dahsetelah Rabu iDesember 2019, Pertamina bersama 18 produsen biodiesel sawit nasional menandatangani penyediaan biodiesel sawit (FAME) untukke-butuhan mandatori B-30 mulai 1 Januari 2020. Hal ini memberi signal positif ke pasar CPO dunia yang akan menggerek naik harga CPO di pasar dunia. Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung men-takan dengan B-30, sekitar 9.6 juta kilo liter” biodiesel sawit atau setara dengan 8.5 juta ton CPO pertahun akan terserap di dalam negeri. Akibatnya, sekitar 26 persen volume CPO Indonesia yang diekspor ke berbagai negara akan berkurang. “Pengurangan pasokan CPO ke pasar dunia selain akibat B30, juga tahun 2020 diperkirakan terjadi pelam-batan produksi CPO dunia akibat kekeringan 2018-/2019 yang melanda sentra utama CPO dunia yskni Indonesia dan Malasya. Sehingga tahun 2020pasar dunia akan kekurangan CPO yang memicu harga naik,” papar Tungkot. Lebih dari itu, menurut Tungkot momentum ini sedangditungguolehpetani sawit yang selama satu tahun terakhir menggerutu akibat harga TBS rendah . Memasuki tahun 2020 para petani sawit akan kembali bergairah menikmati kenaikan harga TBS yangdi-transmisi dari kenaikan harga CPO dunia. Bahkan tidak perlu menunggu tahun 2020, pasar sudah merespons rencana B-30 tersebut. Harga CPO domestik sudah mulai tergerek naik dari sekitar Rp 7500/ kg awal Nopember menjadi Rp 9100/kgpadamingguketiga Desember 2019. Kenaikan harga CPO ini masih berlanjut ke tahun 2020. “Tentu saja, manfaat B-30 tidak hanya mendongkrak harga TBS pada 200 kabupaten sentra sawit nasional. ManfaatB30yangtak kalah pentingnya adalah nilai tambah yang tercipta didalam negeri diperkirakan mencapai sekitar Rp 14 trilyun,” terang Tungkot Bahkan, Tungkot mengatakan penghematan de-visa impor solar sekitar USD 5.13 miliar juga akan kita nikmati. Hal ini menyumbang pada penyehatan dan pengurangan defisit neraca perdagangan. Selain itu, penggantian 30 persen konsumsi solar fosil dengan biodiesel sawit akan mengurangi emisi sekitar 14.2 juta ton C02. Ini adalah bagian dari sumbangan industri sawit pada lingkungan melalui pengurangan emisi global. Mandatori B30 tersebut juga menjadi pencapaian Indonesia yang sangat penting. JikaB30benarbenarter-laksana, Indonesia adalah negara pertama dunia yang berani melangkah ke B30. Ini prestasi kelas dunia. Hal ini juga sekaligus membuat Indonesia naikkelas menjadi top-3 produsen biodiesel dunia. “Pencapaian yang membanggakan tersebut jangan sampai terganggu. Seluruh komponen bangsa perlu memberi dukungan maksimal. Jika B30 berhasil tahun 2020, maka untukB50 berikutnya akan lebih mudah kita raih,” papar Tungkot Disisi lain, menurut Tungkot, Uni Eropa (EU) akan memasang tarif impor 8-18 persen biodiesel sawit dari Indonesia mulai Januari 2020. Tarif impor berupa pungutan impor (import levy) ini oleh EU sebagai anti subsidi biodiesel sawit Indonesia, kebijakan pungutan ekspor CPO yang kemudian sebagian digunakan untuk membiayai mandatori B20 menjadi B30, fasilitas dikawasan berikat dituding sebagai subsidi biodiesel sawit “Tudingan subsidi biodiesel sawit oleh EU yang demikian bukan hal yang baru. Tudingan serupa tahun 2013 juga dilakukan EU dan tidak terbukti melalui gugatan RI di WTO,” terang Tungkot EU saat ini sedang galau karena sikapnya yang selalu mendua. Ingin menurunkan emisi, tapi tidak mau menurunkan kesejahteraan. Ingin minyak nabati impor yang sertifikasi sustainable, minyak rapeseed sendiri tidak ada sertfikasi sustainable. Bahkan produksi CS-PO (CPO yang sustainable) hanya 40 persen terserap EU. Inginmenggantifosilfu-el( karena kotor) denganbi-ofuel, tapi takut ketahanan pangan EU terganggu ( food-fuel trade off). “Solusi EU untuk atasi trade off tersebut adalah impor biodiesel seperti biodiesel sawit Ini juga dipersoalkan karena kehadiran biodiesel sawit di EU mendesak biodiesel rapeseed dari EU sendiri,” tutur Tungkot Sementara itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESM) Igna-sius Jonan mengatakan Agar penggunaan biodiesel dengan baik dan tidak terjadi resistensi kepada masyarakat makaharus dilakukan kampanye secara konsisten. Contohnya industri biodiesel dengan industri telekomunikasi. Dimana harga paket kuota data internet yang terus naik, tapi tidak ada pernah mengalami resistensi atau penolakan bila mengalami kenaikan harga. “Jadi dalam haliniharus \’ada kampanye secara konsisten dengan konten yang bagus kepada masyarakat” saran Jonan didepan para pelaku industri biodiesel. Harapannya, menurut Jonan, penggunaan biodiesel dari mulai BIO, B20, B30, B50 hingga B100 bisa berjalan secarakonsisten sejalan dengan harapan Presiden RI Joko Widodo.