+62 2129380882 office@aprobi.co.id

AS Kurangi Tuduhan Praktik Subsidi

Amerika Serikat mengurangi tuduhan subsidi yang dilayangkan terhadap ekspor biodiesel asal Indonesia setelah adanya sanggahan dari para pemangku kepentingan di Tanah Air. Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Pradnyawati mengungkapkan saat ini tuduhan yang dilayangkan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap produk biodiesel asal Indonesia telah berkurang. Diharapkan, Negeri Paman Sam segera membebaskan RI dari tuduhan tersisa. Terkait subsidi BPDP misalnya, dia telah memastikan kepada otoritas AS bahwa hal itu bukan merupakan bentuk subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Pasalnya, dana yang dikumpulkan berasal dari produsen sawit yang digunakan untuk keperluan penanaman kembali serta pembiayaan selisih harga biodiesel dan solar. Tahapan selanjutnya, sambungnya, akan dilakukan dengar pendapat antara pemerintah dan otoritas AS untuk membahas tuduhan subsidi biodiesel asal Indonesia. Dengan demikian, diharapkan biodiesel asal RI dapat dibebaskan dari tindakan bea masuk tambahan atau countervailing duties. Seperti diketahui, United Departement of Commerce (Usdoc) memutuskan untuk mengenakan bea masuk tambahan bagi Wilmar International Ltd sebesar 41,06% dan PT Musim Mas sebesar 68,28%. Sementara itu, produsen lainnya asal Indonesia dikenakan besaran bea masuk tambahan sebesar 44,92%. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan belum bisa memberi tanggapan terkait dengan pengurangan tuduhan subsidi oleh otoritas AS. Namun, sebelumnya dia menjelaskan bahwa para pelaku usaha juga telah melakukan pembelaan dan pendekatan secara hukum di Negeri Paman Sam. Menurut catatan Bisnis, 90% ekspor biodiesel produk biodiesel asal Indonesia dikirim ke Negeri Paman Sam. Total volume ekspor pada 2015 dan 2016 masing-masing sebesar 206.000 ton dan 373.500 ton. Trademap mencatat ekspor biodiesel ke AS pada 2015 senilai US$153,03 juta. Terjadi pertumbuhan menjadi US$291,91 juta pada 2016. Pengenaan bea masuk tambahan berawal saat National Biodiesel Board (NBB) Fair Trade Coalition serta 15 produsen biodiesel AS lainnya mengajukan petisi terkait produk asal Indonesia dan Aigentina pada 23 Maret 2017. Petisi itu berisi dua poin utama dan diklaim sebagai hasil investigasi yang berlangsung selama 2014-2016. (BISNIS INDONESIA, Hal 26)