+62 2129380882 office@aprobi.co.id

AS Tarik Bea Masuk Biodiesel 50,7%:

Kementerian Perdagangan mengaku akan melawan keputusan AS ini dengan melibatkan perusahaan produsen biodiesel dalam negeri. Kementerian Perdagangan Amerika Serikat (AS) resmi menetapkan bea masuk anti dumping (BMAD) untuk produk biodiesel dari Indonesia, Senin (23/10). dengan keputusan ini, AS akan mengenakan bea masuk (BM) biodiesel dari produk kelapa sawit Indonesia sebesar 50,71% dari harga penjualan. Selain terhadap biodiesel asal Indonesia, Amerika Serikat juga mengenakan BMAD terhadap produk biodiesel berbahan dasar kedelai dari Argentina sebesar 54,36% sampai 70,05%. Diberitakan Reuters, Wilbur Ross, Sekretaris Kementerian Perdagangan AS menyebut Pemerintah Argentina telah meminta perundingan untuk meminta penangguhan atas aturan ini. Lalu bagaimana dengan pemerintah Indonesia? Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Ke-menterian Perdagangan (Kemdag) Oke Nurwan, keputusan AS itu tidak dapat diterima. Pasalnya, tudingan AS tidak berdasar dan berubah-ubah. Tuduhan awal, Indonesia akan dikenakan dumping sekitar 28,1%. Tapi ternyata pada tahap affirtnative determination (AD) Indonesia dianggap dumping 50,7%. “Kami akan berjuang melakukan perlawanan terhadap tuduhan dumping yang dilakukan AS,” ujar Oke kepada KONTAN, Selasa (24/10). Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawa mengaku akan mendukung langkah pemerintah melawan putusan AS ini. “Ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Perusahaan yang terkena anti dumping, bisa mengajukan ke pengadilan AS, sementara dari sisi pemerintah bisa mengajukan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),” ujar Paulus. Menurut Paulus, akibat ke-byakan itu, produk biodiesel Indonesia bakal sulit masuk ke AS karena harganya yang tinggi. Padahal AS merupakan salah satu negara tujuan ekspor biodiesel Indonesia terbesar. Pada tahun 2016, Indonesia mengekspor biodiesel sebesar 400.000 kilo liter. “Tahun ini tidak ada ekspor karena harga tidak bersaing. AS juga menghasilkan minyak kedelai, juga ada biodiesel dari negara lain. Kalau harga tidak bisa bersaing, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya. Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia fDMSI) Iskandar Andi Nunung menilai, tindakan yang diambil AS ini bertujuan mengurangi impor biodiesel. Untuk itu perlu ada kesepakatan dagang kedua negara, karena Indonesia juga impor dari AS. “Tuduhan dumping itu tidak benar. Ini hanya salah satu langkah AS mengurangi impor biodiesel dari Indonesia. Kalau BMAD 50% kan sangat berat,” ujarnya (KONTAN)