+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Atasi Krisis Energi Lewat Produksi Biodiesel Berbahan Ragi

Bisnis Indonesia | Rabu, 24 Oktober 2018
Atasi Krisis Energi Lewat Produksi Biodiesel Berbahan Ragi

JAKARTA – Pertumbuhan konsumsi listrik pada tahun depan diperkirakan tidak akan berbeda jauh dengan target tahun ini, yaitu pada kisaran 6%. PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pun berharap agar asumsi pertumbuhan konsumsi listrik pada 2019 berada pada kisaran 6%. Target pertumbuhan listrik pada 2019 yang lebih konservartif itu akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028. PLN masih mengevaluasi penyusunan RUPTL 2019-2028. Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienry Roekman mengatakan, saat ini pihaknya masih mengevaluasi asumsi pertumbuhan kebutuhan listrik untuk 10 tahun ke depan. Dia berharap agar asumsi pertumbuhan kebutuhan listrik dalam RUPTL 2019-2028 dapat terjaga pada kisaran 6%. “Kami masih berhitung. Saya sih berharapnya paling tidak pertumbuhan konsumsi bisa saya pertahankan. Kalaupun ada penyesuaian tidak sedrastis RUPTL 2018. Paling tidak saya masih bisa mempertahankan konsumsi di atas 6%,” ujarnya saat ditemui di kantor PLN, Selasa (23/10).

Pada RUPTL 2018-2027, asumsi pertumbuhan kebutuhan listrik turun signifikan menjadi 6,86% dibandingkan dengan RUPTL 2017-2026 sebesar 8,3%. Akibatnya, proyek pembangkit listrik dengan total kapasitas 21.849 megawatt (MW) mengalami penyesuaian dan digeser dari RUPTL 2018-2027. Syofvi optimistis pertumbuhan konsumsi listrik masih bisa meningkat karena banyak industri besar mulai menggunakan listrik PLN, seperti smelter di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Menurutnya, masuknya industri-industri besar tersebut cukup mampu mendongkrak pertumbuhan permintaan listrik. Dia menuturkan bahwa penyusunan RUPTL tahun depan akan bergantung pada pertumbuhan suplai dan permintaan listrik. Bila asumsi pertumbuhan kebutuhan listrik bisa dipertahankan di atas 6%, penyesuaian proyek pembangkit litsrik tidak akan banyak mengalami penyesuaian. “Kalau saya bisa pertahankan pada angka tahun lalu, mudah-mudahan menggesernya bukan karena itu. Tapi karena memang kesiapan dari pembangkitnya seperti apa.” Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memproyeksikan bahwa pertumbuhan konsumsi listrik tahun depan hanya tumbuh pada kisaran 4,5%-5%.

Hal ini mengingat konsumsi listrik sampai akhir September 2018 hanya tumbuh 4,87% atau masih di bawah target pertumbuhan konsumsi listrik tahun ini sekitar 7%. “Untuk rumah tangga bahkan hanya tumbuh 2,69%. Ini menunjukkan terjadi perlambatan konsumsi secara umum. Setelah penyesuaian tarif listrik golongan 900 VA yang subsidinya dicabut, masyarakat mulai mengurangi pemakaian listrik. Penghematan ini juga seiring melambatnya pembelian barang elektronik akibat naiknya harga karena pelemahan rupiah. Dari sisi industri juga terpukul penurunan permintaan domestik maupun ekspor,” katanya dihubungi Bisnis.” Menurutnya, kondisi tahun depan tidak akan jauh berbeda dengan tahun ini. Melihat kondisi tersebut dan asumsi pertumbuhan ekonomi RAPBN 2019 sebesar 5,3%, pertumbuhan konsumsi listrik diperkirakan masih akan melambat. “Pemilu juga berpengaruh terhadap keputusan pelaku usaha untuk menaikkan kapasitas produksi dengan pembelian mesin-mesin baru. Estimasi konsumsi listrik nasional di 2019 hanya tumbuh 4,5-5%,” katanya.

PLN mencatat realisasi penjualan listrik periode Januari-September 2018 telah mencapai 171,6 terawatt hour (TWh). Kepala Divisi Niaga PLN Yuddy Setyo Wicaksono mengatakan, realisasi tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 4,87% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 163,6 TWh. Pertumbuhan penjualan listrik tersebut juga tercatat lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Pertumbuhan penjualan listrik pada kuartal m/2017 sempat melambat, yakni hanya sebesar 3,1%, dibandingkan dengan kuartal ID/2016 sebesar 5,89%. “Untuk pertumbuhan month-to-month, September 2018 terhadap September 2017 sebesar 5,01%,” ujar Yuddy kepada Bisnis. Dia menuturkan bahwa pertumbuhan penjualan tertinggi berasal dari sektor lain-lain sebesar 7,1%, yang terdiri atas sektor sosial 9% dan sektor publik 5%. Kemudian disusul oleh sektor industri yang tumbuh sebesar 6,83% dan sektor bisnis sebesar 5,7%. Pertumbuhan konsumsi listrik rumah tangga hanya 2,69%. Realisasi penjualan listrik PLN sampai kuartal III/2018 baru mencapai 71,7% dari target tahun ini. PLN menargetkan penjualan listrik tahun ini 239 TWh atau tumbuh sebesar 7% dibandingkan dengan 2017.

BIODIESEL 100%

PLN juga sedang menyusun peta jalan penggunaan minyak kelapa sawit murni 100% (B100) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Syofvi Felienty mengatakan, konversi bahan bakar PLTD dari Solar jenis high speed diesel (HSD) menjadi 100% bahan bakar nabati dari minyak sawit masih membutuhkan kajian lebih mendalam. Pasalnya, penggunaan campuran biodiesel 20% (B20) pada pembangkit diesel milik PLN masih kurang efisien. PLN, katanya, harus memastikan kandungan minyak sawit seperti apa yang cocok dengan desain mesin pembangkit diesel. Hal itu untuk memastikan apakah PLN memungkinkan mengganti bahan bakar Solar menjadi B100 atau PLN perlu melakukan penggantian mesin PLTD dengan mesin yang baru. “Sedang kami pelajari mungkin tidak kalau kami mengganti itu [mesin pembangkit] atau mungkin tidak kami mengubah itu 100%.” Dia menjelaskan, kalau mesin existing menggunakan B20 berdampak pada inefisiensi sekitar 3%. “Artinya mesin [pembangkit] tidak efisien. Nah, kalau kami desain dari awal kami bisa lebih hemat,” ujar Syofvi. Dia menambahkan, PLN juga sedang menunggu hasil studi pembangunan PLTD berbahan bakar minyak sawit murni oleh Ditjen Energi Terbarukan, Kementerian ESDM. Pembangunan PLTD dengan bahan bakar Biodiesel 100% itu diperkirakan rampung pada akhir tahun ini.

Menurutnya, penggunaan minyak sawit murni pada PLTD sangat memungkinkan karena banyak negara-negara lain yang telah menerapkan hal tersebut. “Coba nanti akhir tahun kita lihat pembangunannya seperti apa.” Bila penggunaan minyak sawit murni pada pembangkit PLN dapat dilakukan secara masif, kata Syofvi, ke depan penggunaan gas pada pembangkit bisa digantikan selama harga minyak sawit lebih murah atau tidak berbeda jauh. Di sisi lain, penggunaan minyak sawit tersebut juga akan meningkatkan bauran energi baru terbarukan pada pembangkit PLN. Direktur Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PLN Djoko Abumanan mengatakan, peta jalan penggunaan B100 tersebut masih disiapkan dan direncanakan rampung pada tahun depan. Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan bahwa pemerintah menargetkan untuk mengonversi PLTD dengan total kapasitas 1.800 MW dengan B100. 0

Sindonews | Selasa, 23 Oktober 2018
Atasi Krisis Energi Lewat Produksi Biodiesel Berbahan Ragi

Krisis bahan bakar yang melanda dunia juga dirasakan di Indonesia. Menurunnya persediaan bahan bakar fosil serta harganya yang tidak stabil menjadi salah satu penyebab. Dengan begitu Butuh energi alternatif sebagai solusi jangka panjang yang bisa digunakan di sektor energi. Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Siti Zullaikah mencoba untuk memanfaatkan ragi L.starkeyi sebagai jalan keluar dari permasalahan energi lewat produksi biodiesel yang ramah lingkungan. Zulle, panggilan akrabnya menuturkan, ada banyak energi alternatif yang kemudian ditawarkan guna menghadapi situasi saat ini diberbagai negara maju. Mulai dari tenaga matahari, angin, air, reaksi kimia, dan lainnya tentu memiliki kelebihan masing-masing. Namun, tidak banyak energi alternatif yang mudah penerapannya pada alat transportasi. Makanya perlu dicari energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. “Salah satu energi alternatif yang sudah diproduksi secara komersial serta pemanfaatannya tidak perlu modifikasi mesin kendaraan adalah biodiesel,” ujar Zulle, Selasa (23/10/2018).

Dosen Teknik Kimia ITS ini menambahkan, setidaknya ada dua sumber yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan biodiesel, yakni bahan baku yang dapat dikonsumsi serta bahan baku yang tidak dapat dikonsumsi. Kebanyakan industri sebenarnya telah memproduksi biodiesel dari bahan baku yang dapat dikonsumsi. “Seperti pemerintah Indonesia yang memproduksi biodiesel dari minyak kelapa sawit, namun biaya produksi yang dapat mencapai 70 persen dari total biaya produksi menjadi masalah utama komersialisasi biodiesel tersebut,” ucapnya. Ia melanjutkan, pemanfaatan bahan baku nonkonsumsi adalah pilihan utama dalam produksi biodiesel. Pilihan jatuh pada microbial oil (minyak yang dihasilkan oleh mikroba) yang dihasilkan ragi jenis oleaginous, secara spesifik menggunakan L.starkeyi sebagai objek penelitiannya sejak 2004. L.starkeyi, katanya, mempunyai kandungan minyak yang tinggi hingga 60 persen. Ia juga memiliki komposisi asam lemak yang sesuai untuk bahan baku biodiesel. Selain itu, mikroba ini mempunyai siklus produksi yang pendek dan tidak bergantung pada musim dan cuaca, serta mudah untuk dikembangbiakkan.

“Minyak yang dihasilkan pun lebih mudah diekstraksi dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan alga,” ucapnya. Dijelaskan Zulle, rata-rata ragi ini mengakumulasi minyak dalam proses metabolismenya hingga 40 persen dari biomassanya. Namun, dalam kondisi keterbatasan nutrisi, mereka dapat mengakumulasi minyak melebihi 70 persen dari biomassa. “Ragi oleaginous adalah mikroorganisme bersel satu (uniseluler), tanpa endotoksin, dan bisa direkayasa genetik serta cocok untuk fermentasi dalam skala besar,” jelas doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini. Dari penelitian ini, Zulle berharap, Indonesia memiliki sistem produksi biomassa dan produk berbasis bio yang terintegrasi menggunakan konsep biorefinery. Yakni proses eksplorasi biomassa menjadi berbagai produk yang dapat dipasarkan, seperti energi. Penggerak utama untuk pendirian biorefinery adalah pada aspek keberlanjutan berupa ketersediaan bahan baku. “Konsep ini sangat sesuai dengan negara kita, Indonesia, yang kaya akan berbagai macam biomassa, makroalga, mikroalga dan mikroorganisme,
https://jatim.sindonews.com/read/2615/1/atasi-krisis-energi-lewat-produksi-biodiesel-berbahan-ragi-1540271421

Republika | Selasa, 23 Oktober 2018
PLN Kembangkan Pembangkit Berbahan Bakar Nabati

PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbahan bakar nabati. Direktur Perencanaan PLN, Syofvie Rukman menjelaskan kedepan PLN berharap proyek PLTD Nabati ini bisa mengurangi angka ketergantungan PLN terhadap solar. PLTD Nabati yang dimaksud adalah PLTD yang memakai murni CPO sebagai bahan bakarnya. Jika saat ini PLN memakai PLTD yang dimiliki dengan B.20, yaitu solar dengan kandungan turunan CPO, FAME sebesar 20 persen. Kedepan, kata Syofvie bukan tidak mungkin pengembangan PLTD dengan murni 100 persen memakai CPO. “Ya kita liat ya, Ini sedang kita pelajari betul. Kita pelajari, apa mungkin nggak mengganti itu, atau mungkin nggak kita mengubah itu 100 persen,” ujar Syofvie di Kantor Pusat PLN, Selasa (23/10). Syofvie mengatakan saat ini PLN juga masih menunggu proyek PLTD Nabati yang ada di Belitung. Proyek yang dikembangkan oleh Kementerian ESDM ini nantinya menjadi proyek pertama PLTD Nabati. Dari sana, kata Syofvie PLN akan melihat detail seperti apa tantangan dan kebutuhan dari PLTD Nabati ini. “Belitung itu kan lagi dibangun sama ESDM. Akhir tahun ini kan kayaknya jadi. Jadi nanti detailnya setelah itu,” ujar Syofvie.

Hal ini penting kata Syofvie sebab seperti layaknya PLTU yang berbasis batubara, dalam spesifikasinya setiap PLTU membutuhkan spesifikasi jenis batubara yang berbeda. Syofvie menjelaskan, di PLTD Nabati kedepan juga perlu diketahui detail jenis CPO yang seperti apa yang bisa digunakan. “Kita juga harus lebih tahu kandungan CPO seperti apa yang cocok sama mesin,” ujar Syofvie. Apalagi kata Syofvie hal ini juga berkaitan dengan investasi kedepan. Ketika PLN mengetahui spesifikasi CPO yang seperti apa yang digunakan maka akan menentukan langkah PLN apakah akan memakai PLTD yang existing namun diubah, atau beli alat baru yang sesuai dengan jenis CPO nya. Namun, serangkaian penelitian ini kata Syofvie sangat berpotensi untuk dikembangkan. Selain bisa menekan angka ketergantungan terhadap solar, PLN yakin untuk bisa mengembangkan PLTD Nabati ini karena prosesnya yang simple dan efisien.
https://republika.co.id/berita/ekonomi/migas/18/10/23/ph1kga368-pln-kembangkan-pembangkit-berbahan-bakar-nabati

Kumparan | Selasa, 23 Oktober 2018
Regulasi bioetanol segera disiapkan

Pemerintah konsisten untuk mencapai target bauran energi nasional di tahun 2025 sebesar 23% untuk sumber energi baru terbarukan (EBT) dari total sumber energi. Seperti diketahui kebijakan implementasi biodiesel 20 % (B20) telah ditetapkan pemerintah dan berlaku efektif 1 September 2019. Kebijakan ini akan mendorong pencapaian target bauran energi nasional. Setelah regulasi tersebut dikeluarkan, kini pemerintah ancang-ancang untuk menyusun regulasi baru terkait dengan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) lain yang akan dicampur BBM jenis gasoline, yakni etanol. Kementerian ESDM melihat potensi etanol untuk menjadi sumber energi tambahan sangat besar. Sebab itu Kementerian ESDM sedang mendorong pemanfaatan etanol untuk melengkapi bauran energi nasional.

“Kalau misalnya pemerintah mengizinkan impor etanol dicampur (pada BBM) ya belum dihitung sih harganya. Tapi misalnya E20 (etanol 20 persen) selesai bauran energi,” kata Menteri ESDM Ignasius Jonan di Jakarta, Kamis (30/8/2018). Jonan mengatakan saat ini rata-rata konsumsi gasoline sekitar 15 juta – 17 juta kiloliter (KL) per tahun. Apabila jumlah sebesar itu dicampur etanol maka jumlah kontribusi EBT dalam bauran energi akan jauh lebih signifikan. Hanya saja dia menyadari bahwa produksi etanol masih belum signifikan.Sebab itu Jonan mendorong agar jajarannya mulai aktif mendukung pengembangan produksi etanol.”Untuk gasoline, mestinya dicampur etanol. Ada casava, lira, jagung dan lainnya, nah etanol ini campurannya masih kurang,” terang Jonan. Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menyebutkan bauran EBT dipatok sebesar 23% dari energi mix. Saat ini bauran energi baru sekitar 10 persen, apabila sektor transportasi berikut etanol diimplementasikan, bauran energi akan terangkat menjadi 20%
https://kumparan.com/kabarbisnis/regulasi-bioetanol-segera-disiapkan-1540307298586725541

Bisnis | Selasa, 23 Oktober 2018
PLN Siapkan Roadmap Konversi PLTD Menggunakan B100

PT PLN (Persero) tengah menyusun roadmap penggunaan minyak kelapa sawit murni 100% (B100) pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) miliknya. Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman mengatakan, konversi bahan bakar PLTD dari high speed diesel (HSD) menjadi 100% crude palm oil (CPO) masih membutuhkan kajian lebih mendalam. Pasalnya, penggunaan campuran CPO 20% (B20) pada PLTD PLN yang ada saat ini kurang efisien. Oleh karena itu, pihaknya harus memastikan kandungan CPO yang seperti apa yang cocok dengan desain mesin PLTD. Sehingga dapat diketahui apakah PLN memungkinkan mengganti bahan bakar mesin lamanya dengan B100 atau PLN perlu melakukan penggantian mesin PLTD dengan mesin yang baru. “Sedang kami pelajari mungkin nggak kami mengganti itu atau mungkin nggak kami mengubah itu 100%. Karena kalau pakai mesin eksisting saya pakai B20 aja unefisiennya sekitar 3%, artinya mesinnya nggak efisien. Nah, kalau kami desain dari awal kami bisa lebih hemat,” ujar Syofvi di Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Syofvi berujar PLN juga tengah menunggu hasil studi pembangunan PLTD berbahan bakar CPO murni oleh Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM. Diperkirakan pembangunan PLTD tersebut akan rampung akhir tahun ini. Menurutnya, penggunaan CPO murni pada PLTD sangat memungkinkan karena banyak negara-negara lain yang telah menerapkan hal tersebut. “Coba nanti akhir tahun kita lihat estabilish-nya kayak gimana,” kata Syofvi. Bila penggunaan CPO murni pada pembangkit PLN dapat dilakukan secara masif, kata Syofvi, ke depan penggunaan gas pada pembangkit bisa digantikan selama harga CPO lebih murah atau paling tidak berbeda jauh dari harga gas. Di sisi lain, penggunaan CPO tersebut juga akan meningkatkan bauran energi baru terbarukan pada pembangkit PLN. Sementara itu, Direktur Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara PLN Djoko Abumanan mengatakan, roadmap penggunaan B100 tersebut masih disiapkan dan direncanakan rampung tahun depan. “Kami baru nyusun roadmap, 2019. Kami baru studi dulu,” kata Djoko.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan pemerintah menargetkan untuk mengonversi 1.800 MW PLTD dengan B100. Secara kebijakan tertulis hal itu sudah dipastikan, sementara untuk operasional atau pelaksanaannya masih akan dibicarakan lebih lanjut. “Pak Menteri [Jonan] justru meminta itu maksimal bisa dilakukan dalam 2 tahun belakangan. Karena sebetulnya dari mesin yang ada tinggal ditambah dikit, purely 100%. Jadi nggak dicampurkan sekarang, biodiesel ada b30 dan lainnya,”katanya. Terkait jumlah pembangkit yang akan diubah, maka pendataan akan dilakukan oleh PLN serta beberapa perusahaan Finlandia yang bekerja sama dengan PLN. Pemerintah, lanjut dia, juga mengundang beberapa perusahaan Finlandia karena selama ini mereka menjadi penyedia teknologi bagi PLN. Sehingga kata dia, pemerintah mempersilakan Finlandia yang berfokus pada energi baru dan terbarukan ingin menyediakan teknologi untuk bisa mengubah HSD menjadi CPO, namun dengan syarat, penyediaannya tak akan mengganggu tarif dari PLN.
http://industri.bisnis.com/read/20181023/44/852483/pln-siapkan-roadmap-konversi-pltd-menggunakan-b100

Merdeka | Selasa, 23 Oktober 2018
Terapkan B20, PLN evaluasi mesin pembangkit listrik tenaga diesel

Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (Persero) Syofvi Felienty Roekman mengatakan, saat ini sedang mempelajari kemampuan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), dalam mengonsumsi 100 persen minyak sawit sebagai bahan bakar pengganti solar.
“Ya kita lihat ya, Ini sedang kita pelajari betul. Kita pelajari, apa mungkin nggak mengganti itu, atau mungkin nggak kita mengubah itu 100 persen,” kata Syofvi, di Kantor Pusat PLN Jakarta, Selasa (23/10). Menurut Syofvi, jika PLTD yang dioperasikan PLN saat ini tidak mampu menyerap minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar, maka PLN akan membeli mesin baru yang mampu mengonsumsi minyak kelapa sawit menggantikan mesin PLTD lama. Saat ini Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang membangun PLTD, yang bahan bakarnya menggunakan minyak kelapa sawit pada PLTD di Belitung.”Kalau kita mau mengubah mesin yang ada sekarang untuk itu, ya saya butuh investasi baru. Tapi kalau ternyata saya butuhnya mesin baru, ya saya tinggal beli aja kan ya yang baru,” tuturnya.

Syofvi melanjutkan, selain mencocokan mesin, PLN juga akan mencocokan jenis minyak kelapa sawit yang bisa diserap mesin PLTD. Jika dengan menggunakan 20 persen minyak sawit dicampur dengan solar (B20) bisa menghemat biaya pokok produksi 3 persen, maka dia memperkirakan akan mendapat pengehamatan yang lebih besar, ketika PLTD menggunakan minyak kelapa sawit 100 persen. “Soalnya gini, kalau saya pakai mesin existing saya pakai B 20 aja efisiensinya 3 persen. Nah, kalau kita design dari awal kita bisa lebih hemat. Kita juga harus lebih tau kandungan CPO seperti apa yang cocok sama mesin,” tandasnya.
https://www.merdeka.com/uang/terapkan-b20-pln-evaluasi-mesin-pembangkit-listrik-tenaga-diesel.html

Tribunnews | Selasa, 23 Oktober 2018
Dosen ITS Surabaya Ciptakan Biodiesel Berbahan Ragi, Lebih Ramah Lingkungan!

Siti Zullaikah ST MT PhD, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memanfaatkan ragi atau L. starkeyi sebagai biodiesel yang ramah lingkungan. Penemuan ini, dikatakan Siti Zullaikah, dilatarbelakangi oleh harga bahan bakar yang kini cenderung sedang tidak stabil karena menurunnya persediaan bahan bakar fosil. Sehingga krisis bahan bakar melanda dunia juga berimbas pada Indonesia. Selain itu, dunia juga dihadapkan pada permasalahan pemanasan global yang timbul akibat penggunaan bahan bakar fosil. Dilanjutkan Zulle, sapaan akrabnya, ada banyak energi alternatif yang kemudian ditawarkan guna menghadapi situasi tersebut. Tenaga matahari, angin, air, reaksi kimia, dan lainnya tentu memiliki kelebihan masing-masing. Namun, tidak banyak energi alternatif yang mudah penerapannya pada alat transportasi. Oleh karena itu, menurut perempuan berhijab ini, perlu dicari energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. “Salah satu energi alternatif yang sudah diproduksi secara komersial serta pemanfaatannya tidak perlu modifikasi mesin kendaraan adalah biodiesel,” ungkap dosen Teknik Kimia ITS ini.
http://jatim.tribunnews.com/2018/10/23/dosen-its-surabaya-ciptakan-biodiesel-berbahan-ragi-lebih-ramah-lingkungan

Kabarbisnis | Selasa, 23 Oktober 2018
Dosen ITS produksi biodiesel berbahan baku ragi

Krisis bahan bakar yang melanda dunia juga berimbas pada Indonesia. Hal ini diakibatkan oleh menurunnya persediaan bahan bakar fosil dan harganya yang cenderung tidak stabil. Selain itu, dunia juga dihadapkan pada permasalahan pemanasan global yang timbul akibat penggunaan bahan bakar fosil. Latar belakang inilah yang mendorong dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Siti Zullaikah ST MT PhD, untuk memanfaatkan ragi L. starkeyi sebagai jalan keluar dari permasalahan energi lewat biodiesel yang ramah lingkungan. Dikatakan Zulle, sapaan akrabnya, ada banyak energi alternatif yang kemudian ditawarkan guna menghadapi situasi tersebut. Tenaga matahari, angin, air, reaksi kimia, dan lainnya tentu memiliki kelebihan masing-masing. Namun, tidak banyak energi alternatif yang mudah penerapannya pada alat transportasi. Oleh karena itu, menurut perempuan berhijab ini, perlu dicari energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. “Salah satu energi alternatif yang sudah diproduksi secara komersial serta pemanfaatannya tidak perlu modifikasi mesin kendaraan adalah biodiesel,” ungkap dosen Teknik Kimia ITS ini.

Zulle juga menambahkan, setidaknya ada dua sumber yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan biodiesel, yakni bahan baku yang dapat dikonsumsi (edible) dan bahan baku yang tidak dapat dikonsumsi (inedible). Kebanyakan industri sebenarnya telah memproduksi biodiesel dari bahan baku yang dapat dikonsumsi. “Seperti pemerintah Indonesia yang memproduksi biodiesel dari minyak kelapa sawit, namun biaya produksi yang dapat mencapai 70 persen dari total biaya produksi menjadi masalah utama komersialisasi biodiesel tersebut,” paparnya melalui keterangan tertulis, Selasa (23/10/2018). Maka, menurutnya, pemanfaatan bahan baku nonkonsumsi adalah pilihan utama dalam produksi biodiesel. Pilihan jatuh pada microbial oil (minyak yang dihasilkan oleh mikroba) yang dihasilkan ragi jenis oleaginous, secara spesifik menggunakan L.starkeyi sebagai objek penelitiannya sejak tahun 2004. L.starkeyi mempunyai kandungan minyak yang tinggi hingga 60 persen. Ia juga memiliki komposisi asam lemak yang sesuai untuk bahan baku biodiesel. Selain itu, mikroba ini mempunyai siklus produksi yang pendek dan tidak bergantung pada musim dan cuaca, serta mudah untuk dikembangbiakkan. “Minyak yang dihasilkan pun lebih mudah diekstraksi dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan alga,” bebernya.

Dijelaskan Zulle, rata-rata ragi ini mengakumulasi minyak dalam proses metabolismenya hingga 40 persen dari biomassanya. Namun, dalam kondisi keterbatasan nutrisi, mereka dapat mengakumulasi minyak melebihi 70 persen dari biomassa. “Ragi oleaginous adalah mikroorganisme bersel satu (uniseluler), tanpa endotoksin, dan bisa direkayasa genetik serta cocok untuk fermentasi dalam skala besar,” jelas doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini. Dari penelitian ini, Zulle berharap, Indonesia memiliki sistem produksi biomassa dan produk berbasis bio yang terintegrasi menggunakan konsep biorefinery. Yakni proses eksplorasi biomassa menjadi berbagai produk yang dapat dipasarkan, seperti energi. Penggerak utama untuk pendirian biorefinery adalah pada aspek keberlanjutan (ketersediaan bahan baku). “Konsep ini sangat sesuai dengan negara kita, Indonesia, yang kaya akan berbagai macam biomassa, makroalga, mikroalga dan mikroorganisme,” pungkasnya.
http://www.kabarbisnis.com/read/2887147/dosen-its-produksi-biodiesel-berbahan-baku-ragi

Liputan6 | Selasa, 23 Oktober 2018
PLN Hitung Kemampuan PLTD Gunakan Biodiesel

PT PLN (Persero) tengah mengevaluasi seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD. Evaluasi ini dalam rangka untuk menerapkan penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar pembangkit. Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman mengatakan, ‎saat ini sedang mempelajari kemampuan PLTD dalam mengkonsumsi 100 persen minyak sawit sebagai bahan bakar pengganti Solar. “Ya kami lihat, ini sedang kami pelajari betul, apakah mungkin untuk mengganti itu atau mungkin enggak mengubah 100 persen,” kata Syofvi, di Kantor Pusat PLN Jakarta, Selasa (23/10/2018). Jika PLTD yang dioperasikan PLN saat ini tidak mampu menyerap minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar, maka PLN akan membeli mesin baru yang mampu mengkonsumsi minyak ke‎lapa sawit menggantikan mesin PLTD lama. Saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang membangun PLTD yang bahan bakarnya menggunakan minyak kelapa sawit. PLTD tersebut berada di Belitung. “Kalau kita mau mengubah mesin yang ada sekarang untuk itu, ya saya butuh investasi baru. Tapi kalau ternyata saya butuhnya mesin baru, ya saya tinggal beli aja kan ya yang baru,” tuturnya.

Syofvi melanjutkan, selain mencocokan mesin, PLN juga akan mencocokan jenis minyak kelapa sawit ‎yang bisa diserap mesin PLTD. Jika dengan menggunakan 20 persen minyak sawit dicampur dengan solar (B20) bisa menghemat biaya pokok produksi 3 persen, maka dia memperkirakan akan mendapat menghemat yang lebih besar, ketika PLTD menggunakan minyak kelapa sawit 100 persen. ‎”Soalnya gini, kalau saya pakai mesin existing saya pakai B20 aja efisiensinya 3 persen. Nah, kalau kita design dari awal kita bisa lebih hemat. Kita juga harus lebih tau kandungan CPO seperti apa yang cocok sama mesin,” tandasnya.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3674597/pln-hitung-kemampuan-pltd-gunakan-biodiesel