+62 2129380882 office@aprobi.co.id

B100 Siap Diproduksi 3 Tahun Lagi

Bisnis Indonesia | Selasa, 3 September 2019

B100 Siap Diproduksi 3 Tahun Lagi

Pemerintah optimistis bahan bakar nabati BI 00 atau green diesel bisa mulai diproduksi dalam 2 tahun-3 tahun mendatang seiring dengan meningkatnya komitmen perusahaan Kelapa Sawit untuk terlibat dalam upaya tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan sebanyak sepuluh perusahaan sawit Indonesia berkomitmen untuk ikut dalam rencana produksi green diesel atau B100 dari sebelumnya hanya 7 perusahaan. “Dengan adanya sepuluh perusahaan yang tertarik dalam produksi green diesel ini, diharapkan dalam 2-3 tahun ke depan Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri green diesel,” katanya usai rapat koordinasi terkait dengan biodiesel, Senin (2/9). Meskipun demikian, Darmin tidak memberikan perincian perusahaan Kelapa Sawit mana saja yang memberikan komitmen tersebut. Selanjutnya, dia menambahkan, green diesel ini akan dicampur dengan B30. Pencampuran ini diharapkan akan menghasilkan B50 atau B60. “Setelah itu kita enggak bicara B40 tapi kita berharap 2-3 tahun dari sekarang green diesel itu sudah mulai dihasilkan sehingga B100 dengan B30 kalau dicampur itu akan dapat B50, kemudian B60. Jadi habis B30 itu bukan B40 dulu,” jelasnya.

Untuk itu, menurutnya, masih diperlukan diskusi lanjutan dengan sejumlah perusahaan yang berkomitmen untuk menghasilkan green diesel ini. Sebelumnya, Darmin berharap agar penerapan B30 bisa dimulai pada Oktober atau November tahun ini dari target semula pada awal tahun depan. Hal ini lantaran uji coba sudah dilaksanakan dan akan berakhir September ini dan hingga saat ini masih belum ditemukan hasil yang negatif dari uji coba tersebut. Di sisi lain, saat ini pemerintah juga tengah berupaya untuk berdiskusi dengan perusahaan yang memproduksi alat atau mesin penghasil atau pembuat green diesel. Pemerintah berharap, dengan semakin banyaknya perusahaan yang menghasilkan green diesel di dalam negeri, maka perusahaan penghasil alat pembuat green diesel bisa memberikan harga yang lebih kompetitif. Bahkan, diharapkan perusahaan tersebut mau berinvestasi di dalam negeri setidaknya untuk memproduksi suku cadang atau spare part untuk alat produksi green diesel. Untuk mencapai B100, menurut Darmin, diperlukan nilai investasi sebesar US$20 miliar, dan seharusnya seluruhnya berasal dari swasta dan bukan pemerintah.

PERLU PROSES

Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menyatakan siap memenuhi target pemerintah untuk memproduksi greendiesel pada 2 tahun-3 tahun ke depan. “Siap saja, nggak ada masalah,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (2/9). Namun, kata Paulus, pemerintah perlu melakukan perhitungan yang pasti. Pasalnya, untuk memproduksi green diesel skala besar, bukan hanya kesiapan teknologi dan ekonominya, tetapi juga uji coba yang perlu diperhatikan. Pembangunan green diesel sendiri memerlukan proses yang lama dan butuh investasi yang besar. “Biaya investasi sama dengan (membangun) kilang minyak Pertamina,” imbuhnya. Paulus berpandangan mungkin Pertamina yang paling siap memproduksi green diesel dalam waktu dekat. “Kalau mau dilaksanakan besok pun bisa Pertamina karena itu prosesnya berhubungan dengan crude oil di kilang Pertamina,” tuturnya. Senada, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan bahwa sebelum diimplementasikan, peningkatan kadar minyak sawit dalam bahan bakar tentu harus melalui sejumlah tes.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), serapan biodiesel sepanjang semester I menunjukkan pertumbuhan signifikan dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Gapki mencatat serapan mencapai 3,29 juta ton, naik 144% dibandingkan dengan 2018. Sementara itu, pada April 2019, Kementerian Pertanian telah meluncurkan B100 atau bahan bakar yang berasal dari 100% Crude Palm Oil (CPO) dengan rendemen 87%. Uji coba telah dilakukan pada 50 mesin pertanian dan kendaraan dinas Kementan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa uji coba penggunaan B100 akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu 1 tahun-2 tahun ke depan. B100 juga diklaim lebih efisien 40% dibandingkan dengan bahan bakar fosil seperti solar. Jika 1 liter solar hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer, dengan menggunakan B100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 kilometer/liter.

Kompas | Selasa, 3 September 2019

Penyediaan dan Pemanfaatan “Biofael” Dibahas

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama ASEAN Science Technology menggelar lokakarya mengenai “Tantangan dan Solusi Penyediaan biofuel untuk Energi dan Transportasi di ASEAN”, di Grand Inna Kuta Hotel, Kabupaten Badung, Bali, Selasa-Rabu (3-4/9/2019). Potensi biofuel cair generasi pertama di kawasan ASEAN menjadi bagian penting pasokan energi baru dan terbarukan. Filipina, Thailand, Malaysia, dan Indonesia tengah mengembangkan kebijakan khusus terkait penggunaan biofuel. Thailand dan Filipina memproduksi bioetanol dan biodiesel. Sementara Malaysia dan Indonesia memproduksi biodiesel. Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Purwoko Adhi menyatakan, Indonesia tengah menurunkan persentase penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap hingga kurang dari 80 persen untuk campuran biofuel.

Koran-jakarta | Selasa, 3 September 2019

Mulai 1 September 2019, Harga Biodiesel Naik Rp134 per Liter

Memasuki September 2019, Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel naik seiring melonjaknya harga pasaran minyak mentah sawit (CPO). Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga biodiesel selama sebulan sebesar 6.929 rupiah per liter, efektif per 1 September 2019 . “Harga biodiesel naik 134 rupiah/ liter dari bulan sebelumnya,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi ditemui di Jakarta, Senin (2/9). Kenaikan ini, kata dia, dilatarbelakangi peningkatan harga rata-rata CPO Kantor Pemasaran Bersama menjadi Rp 6.556/kg dari sebelumnya Rp 6.394/kg. “Besaran HIP biodiesel ini belum ditambah dengan ongkos angkut,” kata Agung. HIP biodiesel ini juga akan digunakan untuk pelaksanaan mandatori campuran biodiesel 20 persen pada minyak Solar (B20). Besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar/ton) x 870 kg/ m3 + Ongkos Angkut mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 91 K/12/ DJE/2019.

Penyesuaian Bioetanol

Selain menetapkan HIP biodiesel, Kementerian ESDM juga menetapkan HIP bioetanol untuk September 2019 sebesar 10.091 rupiah per liter. Penghitungannya menggunakan formula (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 dollar/Liter. “Besaran ini lebih rendah dibanding bulan Agustus yaitu 10.200 rupiah/ liter atau turun 109 rupiah/ liter,” kata Agung. Konversi nilai kurs sendiri menggunakan referensi rata- rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juli hingga 14 Agustus 2019. Sebagai informasi, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM.

http://www.koran-jakarta.com/mulai-1-september-2019–harga-biodiesel-naik-rp134-per-liter/

Republika | Selasa, 3 September 2019

Harga Biodiesel Naik pada September 2019

Memasuki bulan September 2019, Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel mengalami kenaikan seiring melonjaknya harga pasaran minyak mentah sawit (CPO). Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga biodiesel selama bulan September 2019 sebesar Rp 6.929 per liter. “Harga biodiesel naik Rp 134 per liter dari bulan sebelumnya,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi ditemui di Jakarta, Senin (2/9). Kenaikan ini, kata dia, dilatarbelakangi peningkatan harga rata-rata CPO Kantor Pemasaran Bersama menjadi Rp 6.556 per kg dari sebelumnya Rp 6.394 per kg. “Besaran HIP biodiesel ini belum ditambah dengan ongkos angkut,” kata Agung. HIP biodiesel ini juga akan digunakan untuk pelaksanaan mandatori campuran biodiesel 20 persen pada minyak Solar (B20). Besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar/ton) x 870 kg/m3 + Ongkos Angkut mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 91 K/12/DJE/2019. Selain menetapkan HIP biodiesel, Kementerian ESDM juga menetapkan HIP bioetanol untuk September 2019 sebesar Rp 10.091 per liter. Penghitungannya menggunakan formula (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg per liter) + 0,25 dolar AS per liter. “Besaran ini lebih rendah dibanding bulan Agustus yaitu Rp 10.20 per liter atau turun Rp 109 per liter,” kata Agung. Konversi nilai kurs sendiri menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juli hingga 14 Agustus 2019. Sebagai informasi, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM.

https://republika.co.id/berita/px7zg0383/harga-biodiesel-naik-pada-september-2019

Jpnn | Senin, 2 September 2019

Harga Biodiesel Terkerek Naik Rp 134 per Liter

Memasuki September 2019, Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel terkerek naik seiring melonjaknya harga pasaran minyak mentah sawit (CPO). Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga biodiesel selama sebulan sebesar Rp 6.929 per liter, efektif per 1 September 2019. “Harga biodiesel naik Rp 134/liter dari bulan sebelumnya,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi, di Jakarta. Kenaikan ini, kata Agung, dilatarbelakangi peningkatan harga rata-rata CPO Kantor Pemasaran Bersama menjadi Rp 6.556/kg dari sebelumnya Rp 6.394/kg. “Besaran HIP biodiesel ini belum ditambah dengan ongkos angkut,” kata Agung. HIP biodiesel ini juga akan digunakan untuk pelaksanaan mandatori campuran biodiesel 20 persen pada minyak Solar (B20). Besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 dolar/ton) x 870 kg/m3 + Ongkos Angkut mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 91 K/12/DJE/2019. Selain menetapkan HIP biodiesel, Kementerian ESDM juga menetapkan HIP bioetanol untuk September 2019 sebesar Rp 10.091 per liter. Penghitungannya menggunakan formula (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + 0,25 dolar/Liter. “Besaran ini lebih rendah dibanding bulan Agustus yaitu Rp 10.200/liter atau turun Rp 109/liter,” sambung Agung. Konversi nilai kurs sendiri menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juli hingga 14 Agustus 2019.

https://www.jpnn.com/news/harga-biodiesel-terkerek-naik-rp-134-per-liter-063809157

Wartaekonomi | Senin, 2 September 2019

September 2019, Biodiesel Dipatok Rp6.929 Per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel dan Bioetanol per September 2019. HIP Biodiesel mengalami kenaikan seiring melonjaknya harga pasaran minyak mentah sawit. Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM menetapkan harga biodiesel selama sebulan sebesar Rp6.929 per liter, efektif per 1 September 2019. “Harga biodiesel naik Rp134 liter dari bulan sebelumnya,” jelas Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Senin (2/9/2019). Dirinya menuturkan, kenaikan ini dilatarbelakangi meningkatnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) KPB menjadi Rp6.556 pe kg, dari sebelumnya Rp6.394 per kg. “Besaran HIP biodiesel ini belum ditambah dengan ongkos angkut,” sambung Agung. HIP biodiesel juga akan digunakan untuk pelaksanaan mandatori campuran biodiesel 20% pada minyak solar (B20). Besaran harga HIP BBN untuk jenis biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut, mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM nomor 91 K/12/DJE/2019. Selain menetapkan HIP biodiesel, Kementerian ESDM juga menetapkan HIP bioetanol untuk September 2019 sebesar Rp10.091 per liter. Penghitungannya menggunakan formula (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 kg/liter) + USD 0,25 per liter. “Besaran ini lebih rendah dibanding Agustus, yaitu Rp10.200 per liter atau turun Rp109 liter,” kata Agung. Konversi nilai kurs sendiri menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Juli hingga 14 Agustus 2019. Sebagai informasi, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit enam bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

https://www.wartaekonomi.co.id/read244593/september-2019-biodiesel-dipatok-rp6929-per-liter.html

Agrofarm | Senin, 2 September 2019

Hasil Uji Jalan B30 : Emisi Pada Kendaraan Bermesin Diesel Lebh Rendah

Kementerian ESDM melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Badan Litbang ESDM) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyampaikan hasil road test B30 (campuran 30 persen biodiesel pada bahan bakar solar) yang digunakan pada kendaraan bermesin diesel. Hasilnya, tidak ada perbedaan signifikan pada kinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang sudah diimplementasikan selama ini. “Sampai sejauh ini hasil road test B30 menunjukkan tidak ada perbedaan kinerja signifikan ketika kendaraan menggunakan bahan bakar B30 dan B20. Bahkan kendaraan berbahan bakar B30 menghasilkan tingkat emisi lebih rendah,” jelas Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana saat memberikan sambutan dalam pembukaan road show sosialisasi B30 di Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara Tekmira, Bandung. Sebelumnya, road test dilakukan dengan membandingkan kinerja sebelum dan sesudah penggunaan B30 dan B20 pada 8 unit kendaraan bertonase di bawah 3,5 ton dengan jarak tempuh 50 ribu km. Sementara, kendaraan bertonase di atas 3,5 ton dijalankan pada 3 unit kendaraan dengan jarak tempuh 40 ribu km.

Dadan mengungkapkan, parameter yang diukur selama road test adalah konsumsi bahan bakar, daya, emisi, start ability dalam kondisi dingin, mutu bahan bakar dan pelumas. Ia menyebut, salah satu output kegiatan road test ini adalah pengguna dan industri otomotif dapat menerima mandatori B30. “Saat ini road test B30 sudah berjalan sekitar 70 persen dan tidak ada keraguan untuk mulai diterapkan pada Januari 2020,” tegas Dadan dalam siaran persnya, Senin (02/9/2019). Para pemangku kepentingan, sambung Dadan, saling melakukan penyesuaian. Aprobi melakukan penyesuaian komposisi bahan bakar, sedangkan Gaikindo melakukan sejumlah perubahan pada komponen mesin kendaraan. “Semua pihak terkait ikut mengawal pengujian secara terbuka, seperti pengujian di Dieng, Jawa Tengah. Di mana pengujian dapat dilihat secara langsung,” jelasnya. Menurut Dadan, implementasi B30 penting karena pemerintah menargetkan pemakaian energi terbarukan untuk bahan bakar bisa lebih besar karena selain untuk mengurangi impor, juga untuk mengurangi emisi karbon. “Dengan EBT, kita bisa memerikan konstribusi positif supaya emisi berkurang,” jelas Dadan.

Road test B30 sendiri merupakan upaya Badan Litbang ESDM bersama-sama dengan BPDPKS, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Pertamina dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dalam menyediakan data dan hasil uji untuk mendukung implementasi kebijakan mandatori B30 di Januari 2020 nanti. Pada kesempatan yang sama, Tim Pokja Gaikindo Abdul Rochim menyatakan dukungannya terhadap penerapan mandatori B30. “Melihat hasil road test, kendaran uji bisa menerima B30, sehingga Gaikindo siap mendukung penerapan wajib B30 mulai Januari nanti,” puji Rochim. Sementara itu, integrator pelaksanaan road test B30, Sujatmiko menjelaskan, rute untuk kendaraan uji dengan bobot di bawah 3,5 ton adalah Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang. Untuk kendaran uji dengan bobot diatas 3,5 ton menempuh rute Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang. Untuk memenuhi jadwal akhir road test pada pertengahan September 2019, maka jarak tempuh harian kendaraan uji akan ditambah. Sosialisasi hasil road test B30 kali ini dihadiri oleh seluruh perwakilan para pemangku kepentingan, akademisi, pemerintah daerah, perusahaan, asosiasi, komunitas, dan mahasiswa. Hadir dalam sosialisasi antaranya Direktur Bioenergi, jajaran Direksi BPDP Sawit, Kepala Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Disain – BPPT, Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi – BPPT, Direksi Pertamina, perwakilan GAIKINDO, APROBI, akademisi, pemerintah daerah dan mahasiswa di wilayah Bandung.