+62 2129380882 office@aprobi.co.id

B20 Tersendat, Mandatori B30 Dikebut

Harian Kontan | Selasa, 9 Oktober 2018

B20 Tersendat, Mandatori B30 Dikebut

Meski program perluasan penggunaan campuran Biodiesel sebanyak 20% atau B20 belum 100% lancar, pemerintah sudah menggantung target tinggi-tinggi. Kementerian Perindustrian (Kemperin) akan mempercepat realisasi B30% dari target di 2020. Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kemperin Edy Sutopo, mengatakan Kemperin akan mendorong percepatan realisasi B20 mencapai 100% tahun ini. Kemudian, tahun 2019 menjadi B25 dan 2020 menjadi B30. Meski ini sesuai target poe-merintah, Kemprin akan terus memompa program tersebut lebih cepat dari target. “Kami saat ini masih menggunakan teknologi eksterifikasi. Ke depan, kita akan menggunakan teknologi cracking dengan katalis,” ujar Edy di Medan. Meski biayanya menggunakan lebih mahal, teknologi ini mampu mempecepat produksi biodiesel. Edy menjelaskan, dengan perluasan B30, harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) akan terkontrol. Tak hanya itu, percepatan realisasi B30juga akan memper-tipis defisit neraca perdagangan yang didominasi oleh impor minyak dan gas.

Jika merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas Agustus mencapai US$ 3,05 miliar, naik 14,5% dari Juli 2018. Asal tahu saja, impor minyak mentah tercatat naik paling signifikan 67,55% menjadi US$ 1,04 miliar dari sebulan sebelumnya. Harapan pemerintah, program mandatori B30 akan menaikan kebutuhan CPO di pasar domestik. Alhasil, “Harga bisa di kontrol tidak jatuh. Kita tersadar, neraca perdagangan defisit, pemerintah jadi tegas, kalau tidak ditambah dengan B25 atau B30 kita khawatir harga CPO kita akan tertekan terus,” imbuhnya. Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Non Pangan Kemperin Lila Harsah Bachtiar menambahkan, progres persiapan realisasi B30 memang masihjauh. Langkah pertama menuju B30 adalah melakukan road test B30 dengan aneka ragam kontur jalanan. Road test ini akan dijadikan sebagai review untuk mempersiapkan pabrikan memproduksi B30. “Akhir bulan ini kita akan ada road test untuk B30. Ada juga jalanan ekstrem yang akan di lakukan, misalkan jalan ke Lembang, ke Bukittinggi dan ke sepanjang Bukit Barisan,” ujarnya.

Sebagai gambaran, perluasan B20 di beberapa sektorB20 belum dapat diterapkan. Misal, di dataran tinggi seperti di kawasan pertambangan Freeport, Papua serta peralatan mesin persenjataan. Adapun yang sudah berhasil Public Service Obligation (PSO). Itulah sebabnya, kata Lila, Presiden Jokowi tidak ada kompromi dalam program perluasan B20. “Kecuali di freezing point, tapi itu juga nanti akan segera di selesaikan,” ujarnya.

Belum 100%

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemen-ko Perekonomian, Muzdalifah Machmud mengatatakan, penyaluran fatty acid methyl ester (FAME) ke Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) PT Pertamian (Persero) maupun ke Badan Usaha (BU) Bahan Bakar Minyak (BBM) belum terealisasi 100% di awal Oktober 2018 ini. Kementerian Perekonomian hingga kini masih mencari penyebabnya. Meskipun demikian, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan meski belum 100% tapi, penyaluran FAME ke TBBM maupun ke BU BBM mengalami kemajuan dibandingkan September 2018 lalu. “Intinya semakin membaik pasokan ke TBBM-nya,”ujarnya. Meskipun demikian, Paulus enggan membeberkan realisasi program tersebut. Jika merujuk klaim Kementerian ESDM, September 2018 lalu, realsiasi penyaluran FAME ke TBBM mencapai 80% dari perencanaan semula.

Harian Kontan | Selasa, 9 Oktober 2018

Shell Rimula Sudah Penuhi Aturan Biodiesel

JAKARTA. Manajemen Shell Lubricants meyakini produk pelumas Shell Rimula cocok digunakan untuk keperluan industri kendaraan berat berbahan bakar biodiesel. Produk tersebut diklaim sudah sesuai dengan batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin. Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia, Andreas Pradhana mengatakan, produknya sudah sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 66/2018 yang mewajibkan penggunaan Biodiesel untuk sektor public service obligation (PSO) dan non-PSO. Bahkan, menurut Andreas, produk pelumas Shell Rimula telah melewati serangkaian tes laboratorium di Shell Technology Center Shanghai dan dinyatakan cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin. “Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor- sektor industri strategis di Indonesia,” ujar dia, Senin (8/10).

Investor Daily Indonesia | Selasa, 9 Oktober 2018

Shell Siapkan Pelumas Mesin Biodiesel

JAKARTA – Shell Lubricants Indonesia memastikan, rangkaian produk pelumas Rimula yang digunakan sektor industri telah melewati serangkaian tes laboratorium di Shell Technology Center, Shanghai, dan dinyatakan cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin. “Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor- sektor industri strategis di Indonesia, seperti pertambangan, transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan, dan konstruksi. Memastikan produk kami cocok digunakan dengan bahari bakar Biodiesel adalah bagian dari komitmen kami,” ujar Andreas Pradhana, direktur pemasaran Shell Lubricants Indonesia, Senin (8/10).

Rangkaian produk pelumas mesin diesel Shell Rimula yang telah dinyatakan sesuai dengan bahan bakar Biodiesel antara lain adalah Rimula R3MV15W40 CI4, Rimula R6 LM 10W40 CK4, dan R4 MV 15W40 CK4 yang banyak digunakan di sektor pertambangan. Selain itu, Rimula R4X 15W40 CI4 dan Rimula R240 SAE 40 CF yang banyak digunakan di sektor transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan, dan konstruksi. “Kami mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menggerakkan berbagai sektor industri strategis di mdonesia. Shell selalu berupaya untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk dan layanan teknis sesuai perkembangan industri and teknologi yang terkait,” kata Andreas. Informasi mengenai produk dan layanan terbaru dari Shell, kata dia, akan disampaikan dalam acara Expert Connect-Maximizing Performance in B20 Implementation Era yang akan dilaksanakan Oktober 2018 di Jakarta. Dalam acara ini, Shell akan menghadirkan para tenaga ahli dari bisnis bahan bakar dan pelumas. Dengan konsep diskusi dua arah, diharapkan para pelanggan Shell yang menghadiri acara tersebut akan mengerti lebih jauh detail terkait implementasi biodiesel, sehingga proses produksi dan operasi dapat terus berjalan dengan efisien.

Harian Kontan | Selasa, 9 Oktober 2018

Harus Tegas Kampanye Hitam

Maraknya kampanye hitam terhadap produk minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunnya seperti Biodiesel membuat ekspor ke manca negara berpotensi terhadang. Anggota Komisi II DPR Firman Subayo minta pemerintah menindak tegas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing yang belakangan gencar menyerang industri sawit Indonesia. Bila LSM asing tersebut bekerja hanya untuk mengumpulkan data-data kampanye hitam untuk menyerang industri kelapa Indonesia, kata dia, mereka layak dibubarkan. Makanya, Firman minta pemerintah serius menyigi para LSM ini. “Belakangan ini seperti Greenpeace gencar menyudutkan industri sawit,” ujarnya, pekan lalu.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira sepakat bila ada evaluasi terhadap LSM asing ini. Ia bilang, akibat kampanye hitam, ekspor Biodiesel Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa mengalami banyak hambatan. “Mereka ini terus memoles isu negatif sawit dengan berbagai cara seperti buruh anak dan lingkungan,” ujar Bhima. Bila aksi ini tak segera ditangani pemerintah, bukan hal mustahil, ini bakal berdampak luas pada neraca perdagangan serta investasi luar negeri Indonsia. Termasuk makin melebarnya neraca transaksi berjalan karena ekspor yang tertekan.

Kontan | Selasa, 9 Oktober 2018

Penggunaan B30 Ditargetkan Pada Tahun 2020

Setelah perluasan mandatori bauran Biodiesel 20% (B20) diberlakukan September 2018 lalu, saat ini pemerintah terus berupaya agar B25 dan B30 bisa segera terlaksana. Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian Edy Sutopo menyebutkan pemerintah berharap agar mandatory B30 dapat di percepat, sayangnya masih terdapat sejumlah kendala dalam perencanaannya. “Iya mungkin ini akan dipercepat. Sekarang ini kan masih menggunakan teknologi esterifikasi. Ke depan saya enggak tahu apakah kebijakannya harus menggunakan teknologi crackring dengan katalis, tapi ini masih mahal memang dan ini masih ada kendala,” ungkapnya di Hotel Grand Dhika Dr. Mansyur Medan, Senin (8/10). Hal senada juga disampaikan oleh Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Lila H. Bachtiar. Menurutnya selain masalah penggunaan teknologi yang masih mahal, kesiapan mesin juga menjadi faktor penting dalam penerapan B30 nantinya.

“B30 ini akan dilakukan pada 2020, tapi konsumennya siap atau tidak dengan B30, baik mobilnya, mesin dan alat beratnya. Jangan sampai usai penerapan B30, mesin-mesin mogok semua. Kalau mesin industri mogok ruginya miliaran. Ini memang harus hati-hati,” ujarnya. Lebih lanjut Edy mengatakan bahwa dengan adanya penerapan B30, maka harga CPO akan terkontrol. Selain itu ini akan terkait dengan stabilitas ekonomi di mana penerapan ini juga akan mengatasi masalah defisit neraca perdagangan. “Serapan CPO di lokal memang naik, harga bisa di kontrol untuk tidak jatuh. Setelah kita tersadar karena neraca perdagangan kita defisit, pemerintah jadi tegas sekarang, kalau tidak ditmbah dengan B25 atau B30 kita khawatir harga CPO kita akan tertekan terus,” ujar Edy. Lila menyebut bahwa sejauh ini persiapan penerapan B30 masih jauh, prosedur pertama adalah dengan melakukan road test B30 dengan aneka ragam kontur jalanan. Road test ini kemudian akan dijadikan sebagai review untuk mempersiapkan pabrikan memproduksi B30.

“Akhir bulan ini kita akan ada road test untuk B30. Ada juga jalanan ekstrem yang akan di lakukan, misalkan jalan ke Lembang, ke Bukittinggi dan ke sepanjang Bukit Barisan,” ujarnya. Untuk perluasan B20 yang baru saja di tetapkan sejauh ini masih berjalan dengan baik, hanya saja di beberapa sektor aplikasi B20 belum dapat diterapkan. Misalkan saja dataran tinggi Freeport dan beberapa peralatan mesin persenjataan. “Yang sudah pasti sekarang B20, untuk yang PSO sudah berjalan dari tahun lalu, yang tahun ini untuk non PSO sudah berjalan. Dan Pak Jokowi tidak ada kompromi kecuali ada beberapa yang penggunaannya di Freeport di tempat tinggi freezing point, tapi itu juga nanti akan segera di selesaikan,” tegas Edy.

https://industri.kontan.co.id/news/penggunaan-b30-ditargetkan-pada-tahun-2020

Jawapos | Selasa, 9 Oktober 2018

Shell Dukung Kebijakan Pemerintah Soal Biodiesel B20

Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 yang mewajibkan penggunaan biodiesel untuk sektor Public Service Obligation (PSO) dan non-PSO efektif tanggal 1 September 2018 mendorong Shell Lubricants memastikan produknya cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel. Setelah meluncurkan rangkaian produk yang telah mendapatkan sertifikasi SNI dan TKDN pada bulan Agustus 2018, Shell Lubricants Indonesia memastikan bahwa rangkaian produk pelumas Shell Rimula yang banyak digunakan di sektor industri, telah melewati serangkaian tes laboratorium di Shell Technology Center, Shanghai, dan dinyatakan cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin.

Andreas Pradhana, Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia menjelaskan, “Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor- sektor industri strategis di Indonesia seperti Pertambangan, Transportasi, Agrikultur, Ketenagalistrikan dan Konstruksi. Memastikan bahwa produk pelumas Shell cocok digunakan dengan bahan bakar biodiesel adalah bagian dari komitmen kami untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik, sesuai kebutuhan konsumen.” “Sejalan dengan kampanye ‘Shell untuk Indonesia’, kami terus mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menggerakkan berbagai sektor industri strategis di Indonesia. Shell selalu berupaya untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk dan layanan teknis sesuai perkembangan industri and teknologi yang terkait,” kata Andreas. Dalam acara EXPERT CONNECT dengan topik terkait operasi perusahaan setelah implementasi biodiesel ini, Shell akan menghadirkan para tenaga ahli Shell dari bisnis bahan bakar dan pelumas. Dengan konsep diskusi dua arah, diharapkan para customer Shell yang menghadiri acara tersebut akan mengerti lebih jauh detail terkait implementasi biodiesel sehingga proses produksi dan operasi dapat terus berjalan dengan efisien.

https://www.jawapos.com/otomotif/09/10/2018/shell-dukung-kebijakan-pemerintah-soal-biodiesel-b20

Tabloidjubi | Selasa, 9 Oktober 2018

Papua Masih Menunggu B20

MANAJER Komunikasi dan CSR PT Pertamina MOR VIII Maluku dan Papua, Eko Kristiawan, mengatakan penggunaan B20 untuk solar di wilayah Maluku dan Papua masih belum jalan dan tergantung pasokan FAME. “Dari sisi Pertamina tentunya menyiapkan solar, sedangkan pasokan bahan bakar nabatinya atau FAME dari pihak lain, intinya begitu pasokan FAME-nya ada, kami siap,” katanya kepada Jubi, 29 September 2018. Eko menegaskan solar di seluruh wilayah MOR 8 akan menggunakan B20 ketika pasokan FAME-nya tersedia. Saat ini, sebanyak 60 TBBM Pertamina sudah menyalurkan B20. Sedangkan 52 lainnya belum karena belum ada pasokan FAME. Penggunaan B20, katanya, tentunya akan bergulir dan begitu pasokan FAME ada maka akan bertambah lagi menyalurkan. “Makanya perlu ditanyakan juga kepada BU BBN (Badan Usaha Bahan Bakar Nabati), kalau kami tentunya menunggu pasokannya,” ujarnya.

Ditanya tentang penggunaan B20 untuk pembangkit diesel PT PLN di Papua, Eko mengatakan untuk PLN akan mengikuti ketentuan pemerintah. Manajer Sektor PT PLN Wilayah Papua dan Papua Barat, Nyoman Satriyadi Rai, mengatakan PLN siap menggunakan B20. Saat ini, katanya, kebutuhan bahan bakar minyak (solar) Jayapura saja per bulan rata-rata 9 juta liter.Sedangkan kebutuhan Papua dan Papua Barat untuk unit di bawah sektor 17 juta per bulan. “Kalau pakai B20 akan ada pengurangan penggunaan BBM sebesar 20 persen dari data di atas,karena 20 persennya diganti nabati,” ujarnya. Untuk waktu penggunaan B20 dalam waktu dekat, katanya, hanya menunggu ketersediaan oleh Pertamina. Sedangkan dampaknya, setiap (mesin) mempunyai karakteristik yang berbeda dan juga sangat dipengaruhi pola operasi.

“Dari hasil diskusi dengan yang sudah menggunakan komentarnya beraneka ragam, namun overall operasional berjalan baik,” katanya kepada Jubi. Dikutip dari CNN Indonesia, PT Pertamina (Persero) menyatakan perseroan belum menerima pasokan biodiesel dari olahan minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Esters (FAME) sesuai target hingga 25 September 2018. Padahal, pemerintah telah mewajibkan mandatori pencampuran biodisel 20 persen ke minyak Solar (B20) sejak 1 September 2018. Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur Pertamina, Gandhi Sriwidodo, merinci perseroan membutuhkan 431.681 kiloliter (kl) pada September 2018. Selama periode 1-25 September 2018, perseroan harusnya menerima 359.734 kl. Namun dalam realisasinya, perseroan baru menerima 224.607 kl atau sekitar 62 persen dari target. Pada periode 1-25 September 2018, penyaluran B20 belum bisa dilakukan secara maksimal karena suplai FAME terlambat dari beberapa Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) ke Terminal Bahan Bakar Minyak Tanjung Uban, Bau-bau, Wayame, Manggis, Tanjung Wangi, Kupang, Makassar, Bitung, dan STS Balikpapan, dan STS Kotabaru.

Demikian paparan Gandhi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR, Rabu, 26 September 2018. Gandhi mengungkapkan sebanyak 112 TBBM Pertamina telah siap untuk mencampur biodiesel dengan minyak Solar. Namun, pihak yang menerima pasokan kurang dari 70 persen dibanding total TBBM. Keterlambatan tersebut disebabkan permasalahan kapal yang mengangkut BBN, kondisi cuaca, dan masalah produksi. Sebagian besar pengiriman FAME yang terlambat berasal dari FAME untuk minyak solar non-kewajiban pelayanan publik (PSO) yang mandatorinya baru dimulai pada 1 September 2018. Daerah-daerah yang belum mendapat pasokan biodiesel kebanyakan berada di wilayah Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Untuk daerah-daerah tersebut, perseroan terpaksa menjual minyak Solar murni (B0) demi memenuhi kebutuhan konsumen. Untuk mempermudah administrasi dan operasional penimbunan, pencampuran, dan penyaluran FAME di lokasi Pertamina, perseroan mengusulkan agar pasokan FAME baik yang untuk PSO maupun non-PSO dipasok oleh pemasok yang sama.

Lima hari sebelumnya PT Pertamina mengaku masih kekurangan pasokan FAME untuk menerapkan kebijakan biodiesel 20 persen (B20). Hingga 21 September 2018, baru 69 dari 112 terminal BBM yang telah menerima penyaluran FAME. “Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20, namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan,” ujar Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, dalam keterangan resmi, 21 September 2018. Sebagian besar daerah yang terminal BBM-nya belum menerima pasokan FAME berada di kawasan timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas’ud Khamid, mengaku keberhasilan perseroan dalam menjalankan program B20 sangat bergantung pada suplai FAME dari para produsen. Padahal di sisi lain, Pertamina tetap harus memproduksi BBM demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Pertamina punya 112 terminal BBM, kami siap semua untuk mengolahnya sepanjang suplai ada dari mitra yang produksi FAME, begitu FAME datang bisa langsung kami blending (campur) dan jual,” ujarnya. Mas’ud menyebut total kebutuhan FAME Pertamina untuk dicampurkan ke solar subsidi dan nonsubsidi mencapai 5,8 juta kiloliter per tahun. Total konsumsi solar subsidi dan nonsubsidi 29 juta kiloliter per tahun.

http://tabloidjubi.com/artikel-20180-papua-masih-menunggu-b20.html

Katadata | Selasa, 9 Oktober 2018

Tantangan Aspek Lingkungan dari Program Pencampuran

Pemerintah menjadikan aspek lingkungan sebagai salah satu tujuan kebijakan penggunaan 20% minyak nabati sebagai campuran solar (B20). Namun, manfaat pengurangan emisi karbon dari kebijakan ini ternyata belum jelas. Isu negatif terhadap minyak dan perkebunan kelapa sawit juga akan menyulitkan. Awal September lalu, pemerintah memperluas kebijakan mandatori penggunaan minyak bahan nabati sebanyak 20% dalam campuran solar atau biodiesel 20% (B20). Sektor transportasi non-public service obligation (PSO) dan industri komersial diwajibkan untuk menggunakan B20. Kebijakan yang berjalan sejak 2016 ini rencananya akan ditingkatkan menjadi B30 pada tahun depan.

B20 merupakan campuran solar dengan 20% bahan baku Fatty Acid Methyl Esters (FAME) yang berasal dari minyak kelapa sawit (CPO) melalui proses esteritifikasi. Pemerintah mengklaim penggunaan biodiesel bagian dari upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK). “Penggunaan B20 akan membuat makin mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor energi, namun kami belum menghitungnya,” kata Direktur Jenderal EBTKE, Rida Mulyana, beberapa waktu lalu kepada Katadata. Rida mengatakan, Kementerian ESDM telah mencapai mitigasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sektor energi sebesar 33,9 juta ton CO2 pada tahun 2017 melampaui target 33,6 juta ton CO2. Target untuk penurunan emisi GRK pada tahun ini telah mencapai 36 juta ton CO2. “Target pengurangan emisi karbon sudah tercapai, meski belum menghitung dampak penggunaan B20,” katanya. Target pengurangan emisi energi ini bagian dari keseluruhan komitmen pemerintah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca 29% di bawah Business As Usual (BAU) pada tahun 2030 dan sampai dengan 41% dengan bantuan internasional. Penurunan emisi GRK menjadi tantangan buat Indonesia yang berada di urutan enam negara penyumbang karbon terbesar. Emisi karbon di Indonesia, sebagian besar disumbang dari sektor kehutanan, akibat pembukaan lahan baru hingga kebakaran hutan. Khusus perluasan lahan kebun sawit, pemerintah telah mengambil kebijakan menghentikan sementara atau moratorium selama tiga tahun lewat Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2018 yang terbit pada pertengahan September lalu.

Mitigasi penurunan emisi

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa melihat upaya pemerintah masih minim mengaitkan kebijakan penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) dengan mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca. Pemerintah selama ini diaggap hanya menghitung dari jumlah karbon BBM fosil yang hilang dari penggunaan bahan bakar nabati. “Seharusnya tidak hanya sekedar menghitung (pengurangan dari karbon yang hilang dari pengalihan) BBM, tapi perlu menghitung dari pengurangan gas rumah kaca, dan sifatnya progresif,” kata Fabby. Penggunaan biofuel dengan target menurunkan emisi gas rumah kaca secara komprehensif telah diterapkan negara bagian California, Amerika Serikat. Lewat organisasi California Air Resources Board (CARB atau ARB), pemerintah California menjalankan program Low Carbon Fuel Standard (LCFS). Sejak 2012, LCFS menjadi landasan California dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Penerapan standar ini mendorong inovasi dalam penggunaan bahan bakar transportasi rendah karbon seperti hidrogen, listrik dan biodiesel.

LCFS memiliki standar intensitas karbon atau carbon intensity (CI) dari penggunaan bahan bakar untuk transportasi. Intensitas karbon ditentukan oleh jumlah karbon yang dihasilkan dalam proses siklus hidup bahan bakar, mulai dari produksi hingga pembakaran. Setiap tahun, target pengurangan intensitas karbon bahan bakar transportasi terus meningkat. Pada 2020 ditargetkan tingkat emisi gas rumah di California mencapai kondisi yang sama di tahun 1990. Selanjutnya pada 2030, tingkat emisi perubahan iklim ditargetkan berada 40% di bawah kondisi tahun 1990. Tahun lalu, program LCFS berhasil mengganti dua miliar galon minyak dan gas alam dengan bahan bakar transportasi yang lebih bersih dan terbarukan. Fabby menilai, langkah California menunjukan adanya perhatian terhadap keberlanjutan alam (sustainability) dalam penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan. “Mereka menghitung dari mana sumber bahan bakar berasal dan berapa nilai karbon yang dihasilkan,” kata dia.Fabby menilai, pemerintah Indonesia belum menggabungkan tingkat sustainaibility dalam kebijakan penggunaan biodiesel yang menggunakan FAME. “Karena (penggunaan biodiesel) tidak dimulai dari isu pemanasan global,” kata dia.

Isu lingkungan penggunaan biodiesel

Penggunaan biofuel, termasuk biodiesel yang menggunakan bahan dasar FAME, pernah didorong Uni Eropa untuk mencapai tujuan pengurangan target karbon emisi. Namun, setelah temuan dampak negatif lingkungan, Uni Eropa mengerem laju penggunaan bahan bakar nabati. Uni Eropa mengubah arah dengan mengurangi target penggunaan biofuel yakni 7% dari target awal 10% pada 2020. Terakhir, Uni Eropa membatasi penggunaan biofuel berbahan dasar sawit hingga 2030. Salah satu ukuran melihat dampak iklim terhadap penggunaan biodiesel yakni perubahan penggunaan lahan tidak langsung atau indirect land use change atau ILUC. Perhitungan ILUC membuat biodiesel melepaskan emisi lebih banyak dibandingkan bahan bakar nabati lainnya. Permintaan biodiesel yang mendorong ekspansi lahan kelapa sawit dianggap memberikan efek negatif yang berlipat ganda pada peningkatan emisi karbon. Emisi karbon meningkat dari hutan alam yang diubah menjadi perkebunan dan rawa gambut yang dikeringkan hingga melepaskan karbon.

Kepala Cabang Transportasi CARB, Sam Wade mengatakan, alasan ILUC membuat banyak negara lebih memilih untuk tidak menggunakan minyak sawit. Menurut catatan CARB, campuran FAME dalam biodiesel hanya digunakan 7,5% di negara bagian tersebut. “Menggunakan minyak sawit berarti harus membersihkan hutan dan lahan gambut, dan melepaskan karbondioksida yang signifikan,” kata Sam beberapa waktu lalu dalam kegiatan pertukaran pengetahuan dengan beberapa perwakilan institusi dari Indonesia, termasuk Katadata. Fabby menilai seharusnya memang pemerintah tak hanya menggantungkan biodiesel dari bahan baku yang berasal dari kelapa sawit. Dia mengusulkan pemerintah melakukan diversifikasi bahan baku biofuel yang lebih berkelanjutan. Terdapat beberapa pilihan bahan baku biofuel, seperti sisa sampah perkebunan (selulosik), minyak goreng bekas mau pun mencari potensi dari bahan nabati lainnya. Lembaga kajian International Council on Clean Transportation (ICCT) bekerja sama dengan Koaksi Indonesia merilis hasil riset yang menunjukkan besarnya potensi penggunaan minyak goreng bekas (Used Cooking Oil/UCO) sebagai bahan baku biofuel.

Peneliti ICCT Anastasia Kharina mengatakan beberapa riset menunjukkan UCO dapat menjadi alternatif biofuel yang lebih ramah lingkungan. Biodiesel yang diproduksi oleh UCO, mengandung 26 gram karbon dioksida, sementara bensin dan solar mencapai 100. Konsumsi minyak goreng di Indonesia sangat tinggi, namun hingga kini belum ada upaya sistematis mengumpulkan dan mengolah minyak bekas sebagai bahan baku biofuel. Potensi pengumpulan UCO di Indonesia sekitar 1,2 miliar liter biodiesel setiap tahun. Penggunaan minyak goreng bekas sebagai bahan baku buofuel ini diperkirakan dapat menggantikan 45% dari konsumsi biodiesel sawit. Sehingga, penggunaan UCO diperkirakan dapat menghemat sekitar 6 juta ton karbon setara dioksida (CO2e) setiap tahun. Beberapa perusahaan di berbagai negara telah menggunakan UCO dalam produk biofuel mereka, seperti Neste di Singapura dan SeQuential di Oregon, Amerika Serikat. Bukan hanya ramah lingkungan, biodiesel dari minyak goreng bekas ini menjanjikan bisnis yang menarik.

https://katadata.co.id/telaah/2018/10/09/kebijakan-b20-dibayangi-isu-lingkungan-hidup

Jpnn | Selasa, 9 Oktober 2018

Oli Shell Rimula Diklaim Cocok Buat Mesin Peminum Biodiesel

Shell Lubricants Indonesia memastikan bahwa produk pelumas Shell Rimula telah sesuai dengan kendaraan berbahan bakar biodiesel yang biasa dioperasikan di sektor bisnis dan industri. Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia Andreas Pradhana menjelaskan, Shell selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi konsumennya di berbagai sektor bisnis. Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor-sektor industri strategis di Indonesia seperti pertambangan, transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan dan konstruksi.

“Memastikan bahwa produk pelumas Shell cocok digunakan dengan bahan bakar biodiesel adalah bagian dari komitmen kami untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik, sesuai kebutuhan konsumen,” ujar Andreas di Jakarta, Senin (8/10). Rangkaian produk pelumas mesin diesel Shell Rimula yang telah dinyatakan sesuai antara lain Shell Rimula R3MV 15W40 CI4, Shell Rimula R6 LM 10W40 CK4 dan R4 MV 15W40 CK4 yang banyak digunakan di sektor pertambangan, juga Shell Rimula R4X 15W40 CI4 dan Shell Rimula R240 SAE 40 CF yang banyak digunakan di sektor transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan dan konstruksi. “Sejalan dengan kampanye ‘Shell untuk Indonesia’, kami terus mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menggerakkan berbagai sektor industri strategis di Indonesia. Shell selalu berupaya untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk dan layanan teknis sesuai perkembangan industri dan teknologi yang terkait,” tambah Andreas.

https://www.jpnn.com/news/oli-shell-rimula-diklaim-cocok-buat-mesin-peminum-biodiesel

Tribunnews | Senin, 8 Oktober 2018

Pelumas Shell Rimula Sesuai dengan Kendaraan Peminum Biodiesel

JAKARTA – Produk pelumas Shell Rimula disebut telah sesuai dengan kendaraan berbahan bakar biodiesel yang biasa dioperasikan di sektor bisnis dan industri . Rangkaian produk Shell Rimula yang bisa diaplikasikan pada mesin berbahan bakar biodiesel antara lain Shell Rimula R3MV 15W40 CI4, Shell Rimula R6 LM, 10W40 CK4 dan R4 MV 15W40 CK4. “Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor- sektor industri strategis di Indonesia seperti Pertambangan, Transportasi, Agrikultur, Ketenagalistrikan dan Konstruksi,” kata Andreas Pradhana, Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia dalam keteranagn tertulis.Maka itu, sambung dia, Shell berupaya mengembangkan produk dan layanan teknis sesuai perkembangan industri and teknologi yang terkait. “Sejalan dengan kampanye ‘Shell untuk Indonesia’, kami terus mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menggerakkan berbagai sektor industri strategis di Indonesia,” terang Andreas lagi. Seperti diketahui, Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 yang mewajibkan penggunaan biodiesel untuk sektor Public Service Obligation (PSO) dan non-PSO efektif tanggal 1 September 2018. Atas kebijakan itu, Shell Lubricants memastikan produk pelumas Shell untuk keperluan industri cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin.

http://www.tribunnews.com/otomotif/2018/10/08/pelumas-shell-rimula-sesuai-dengan-kendaraan-peminum-biodiesel

Antaranews | Senin, 8 Oktober 2018

Pelumas Shell Diklaim Cocok Untuk Kendaraan Berat Biodiesel

Shell Lubricants Indonesia memastikan rangkaian produk pelumas Shell Rimula yang banyak digunakan sektor industri cocok dipakai untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin. Shell Rimula diklaim cocok karena telah melewati serangkaian tes laboratorium di Shell Technology Center, Shanghai, China. Sebelumnya, pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 telah mewajibkan penggunaan biodiesel pada sektor Public Service Obligation (PSO) dan non-PSO yang efektif diberlakukan pada 1 September 2018.”Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor- sektor industri strategis di Indonesia seperti pertambangan, transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan dan konstruksi,” kata Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia, Andreas Pradhana, dalam keterangan tertulisnya, Senin. “Memastikan bahwa produk pelumas Shell cocok digunakan dengan bahan bakar biodiesel adalah bagian dari komitmen kami untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik, sesuai kebutuhan konsumen,” katanya.

Rangkaian produk pelumas mesin diesel Shell Rimula yang telah dinyatakan sesuai dengan bahan bakar biodiesel antara lain adalah Shell Rimula R3MV 15W40 CI4, Shell Rimula R6 LM 10W40 CK4 dan R4 MV 15W40 CK4 yang banyak digunakan di sektor pertambangan. Adapun Shell Rimula R4X 15W40 CI4 dan Shell Rimula R240 SAE 40 CF yang banyak digunakan di sektor transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan dan konstruksi. “Sejalan dengan kampanye ‘Shell untuk Indonesia’, kami terus mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menggerakkan berbagai sektor industri strategis di Indonesia,” kata Andreas.Andreas menambahkan bahwa informasi produk dan layanan terbaru Shell akan diterangkan pada acara “Expert Conncet – Maximizing Performance in B20 Implementation Era” yang akan dilaksanakan pada Oktober 2018 di Jakarta. Dalam acara itu, Shell akan menghadirkan tenaga ahli Shell dari bisnis bahan bakar dan pelumas melalui konsep diskusi dua arah sehingga para pelanggan yang hadir dapat memahami detail implementasi biodiesel agar proses produksi dan operasi selalu berjalan efisien.

https://otomotif.antaranews.com/berita/756216/pelumas-shell-diklaim-cocok-untuk-kendaraan-berat-biodiesel

Gatra | Senin, 8 Oktober 2018

Shell Mengklaim Minyak Pelumasnya Cocok Untuk Mesin Yang Memakai Bahan Bakar Biodiesel

Sebagai wujud dari komitmen terhadap pengembangan biodiesel, Shell Lubricants menegaskan bahwa produk-produk pelumasnya produknya cocok digunakan pada mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar biodiesel. Ini merupakan langkah Shell untuk menyesuaikan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 yang mewajibkan penggunaan biodiesel untuk sektor Public Service Obligation (PSO) dan non-PSO efektif tanggal 1 September 2018 itu diungkapkan Andreas Pradhana, Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia, dalam rilisnya yang diterima Gatra.com, Senin (8/10). Menurutnya, Shell selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen kami di berbagai sektor bisnis. “ Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor- sektor industri strategis di Indonesia,” ujarnya. Ia menyebut beberapa di antaranya di pertambangan, transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan, dan konstruksi. “Memastikan bahwa produk pelumas Shell cocok digunakan dengan bahan bakar biodiesel adalah bagian dari komitmen kami untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik, sesuai kebutuhan konsumen,” imbuhnya.

Rangkaian produk pelumas mesin diesel Shell Rimula yang telah dinyatakan sesuai dengan bahan bakar biodiesel antara lain adalah Shell Rimula R3MV 15W40 CI4, Shell Rimula R6 LM 10W40 CK4 dan R4 MV 15W40 CK4 yang banyak digunakan di sektor pertambangan. Kemudian Shell Rimula R4X 15W40 CI4 dan Shell Rimula R240 SAE 40 CF yang banyak digunakan di sektor transportasi, pertanian, ketenagalistrikan dan konstruksi. “Shell selalu berupaya untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk dan layanan teknis sesuai perkembangan industri and teknologi yang terkait,” kata Andreas.Pihak Shell Lubricants Indonesia mengklaim bahwa rangkaian produk pelumas Shell Rimula yang banyak digunakan di sektor industri, telah melewati serangkaian tes laboratorium di Shell Technology Center, Shanghai, dan dinyatakan cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin. Informasi soal produk Shell akan ditampilkan pada ‘EXPERT CONNECT – Maximizing Performance in B20 Implementation Era’ yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 ini di Jakarta.Dalam acara tersebut, Shell akan menghadirkan para tenaga ahli Shell dari bisnis bahan bakar dan pelumas. “Dengan konsep diskusi dua arah, diharapkan para customer Shell yang menghadiri acara tersebut akan mengerti lebih jauh detail terkait implementasi biodiesel sehingga proses produksi dan operasi dapat terus berjalan dengan efisien,” tutur Andreas.

https://www.gatra.com/rubrik/ekonomi/korporasi/352755-Shell-Mengklaim-Minyak-Pelumasnya-Cocok-Untuk-Mesin-Yang-Memakai-Bahan-Bakar-Biodiesel

Inilah | Senin, 8 Oktober 2018

Pelumas Shell Cocok bagi Kendaraan Berat Biodiesel

Setelah meluncurkan rangkaian produk yang telah mendapatkan sertifikasi SNI dan TKDN pada Agustus lalu, Shell Lubricants Indonesia memastikan bahwa rangkaian produk pelumas Shell Rimula yang banyak digunakan di sektor industri, telah melewati serangkaian tes laboratorium di Shell Technology Center, Shanghai, China. Produk-produk ini pun dinyatakan cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin. Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia Andreas Pradhana menjelaskan bahwa Shell selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen di berbagai sektor bisnis. “Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor-sektor industri strategis di Indonesia seperti Pertambangan, Transportasi, Agrikultur, Ketenagalistrikan dan Konstruksi. Memastikan bahwa produk pelumas Shell cocok digunakan dengan bahan bakar biodiesel adalah bagian dari komitmen kami untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik, sesuai kebutuhan konsumen,” katanya.

Rangkaian produk pelumas mesin diesel Shell Rimula yang telah dinyatakan sesuai dengan bahan bakar biodiesel antara lain adalah Shell Rimula R3MV 15W40 CI4, Shell Rimula R6 LM 10W40 CK4 dan R4 MV 15W40 CK4 yang banyak digunakan di sektor Pertambangan, juga Shell Rimula R4X 15W40 CI4 dan Shell Rimula R240 SAE 40 CF yang banyak digunakan di sektor Transportasi, Agrikultur, Ketenagalistrikan dan Konstruksi.”Sejalan dengan kampanye ‘Shell untuk Indonesia’, kami terus mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menggerakkan berbagai sektor industri strategis di Indonesia. Shell selalu berupaya untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk dan layanan teknis sesuai perkembangan industri and teknologi yang terkait,” kata Andreas. “Informasi mengenai produk dan layanan terbaru dari Shell ini akan kami bagikan dalam acara ‘EXPERT CONNECT Maximizing Performance in B20 Implementation Era’ yang akan dilaksanakan pada Oktober 2018 di Jakarta,” imbuhnya.

Dalam acara ‘EXPERT CONNECT’ dengan topik terkait operasi perusahaan setelah implementasi biodiesel ini, Shell akan menghadirkan para tenaga ahli Shell dari bisnis bahan bakar dan pelumas. Dengan konsep diskusi dua arah, diharapkan para customer Shell yang menghadiri acara tersebut akan mengerti lebih jauh detail terkait implementasi biodiesel sehingga proses produksi dan operasi dapat terus berjalan dengan efisien.

https://teknologi.inilah.com/read/detail/2484560/pelumas-shell-cocok-bagi-kendaraan-berat-biodiesel

Bisnis | Senin, 8 Oktober 2018

Emiten Perkebunan Tunas Baru Lampung (TBLA) Pacu Bisnis Biodiesel

Emiten perkebunan PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA) memacu penjualan biodiesel sejumlah 96.000 kilo liter sampai akhir 2018 dengan estimasi nilai Rp700,8 miliar. Corporate Secretary Tunas Baru Lampung Hardy menyampaikan, pada kuartal IV/2018 perseroan mendapat kuota penjualan biodiesel sekitar 48.000 kilo liter. Dengan demikian, TBLA dapat memacu penjualan biodiesel sejumlah 96.000 kilo liter sampai akhir tahun ini. “Kira-kira penjualan total sampai akhir tahun mencapai 96.000 kilo liter,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (7/10/2018). Menurut Hardy, dengan perhitungan harga biodiesel per liter ialah Rp7.300, TBLA dapat membukukan penjualan biodiesel sejumlah Rp700,8 miliar pada 2018. Per Juni 2018, penjualan biodiesel berkontribusi 9% dari total pendapatan Rp4 triliun atau sekitar Rp360 miliar. Dengan adanya dorongan kebijakan B20 oleh pemerintah, manajemen TBLA tentunya dapat berharap terhadap pertumbuhan industri sawit dan juga biodiesel. Dengan demikian, omzet perseroan dapat semakin meningkat.

Keberadaan biodiesel juga membuat perseroan memiliki sejumlah pilihan dalam mengolah minyak kelapa sawit atau CPO. Ketika harga CPO melesu, TBLA dapat meningkatkan penjualan dalam bentuk biodiesel dan minyak goreng, sehingga marjin pendapatan meningkat. Saat ini, perseroan baru memiliki 1 pabrik biodiesel di Lampung dengan kapasitas produksi 300.000 ton per tahun. Utilisasinya baru mencapai 40% karena menyesuaikan dengan volume permintaan sehingga produksi diestimasi sejumlah 120.000 ton. Hardy menambahkan, untuk mendukung ekspansi produk hilir, perusahaan akan mengoperasikan pabrik kelapa sawit (PKS) berkapasitas 45 ton per jam di Pontianak, Kalimantan Barat, pada kuatal IV/2018. Sebelumnya, perusahaan mengandalkan 6 PKS dengan kapasitas pengolahan tandan buah segar (TBS) sebesar 345 ton per jam, atau 1,73 juta ton per tahun. Analis Sinarmas Sekuritas Anthony Angkawijaya dalam risetnya Jumat (5/10) menuliskan, TBLA mendapatkan manfaat besar dari kebijakan B20. Pasalnya, entitas Grup Sungai Budi ini menjadi emiten selain PT SMART Tbk. (SMAR) yang sudah ekspansi ke bisnis biodiesel.

Dalam keputusan Kementerian ESDM, TBLA mendapat alokasi penjualan biodiesel sejumlah 32.314 kilo liter ke PT Pertamina, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), dan PT Pelumas Exxonmobil Indonesia pada September—Desember 2018. “TBLA mendapat manfaat besar dari kebijakan B20, yang kemudian diperluas ke sektor non PSO untuk mengurangi impor bahan bakar fosil,” paparnya. Sentimen positif lain yang menaungi bisnis biodiesel TBLA ialah terjadinya ekspor perdana bahan bakar ramah lingkungan ini ke China sejumlah 20.000 ton. Penjualan biodisel ke China, serta ke Pertamina, AKRA, dan Pelumas Exxon dapat menambah pendapatan perusahaan sekitar Rp430 miliar.

http://market.bisnis.com/read/20181008/192/846733/emiten-perkebunan-tunas-baru-lampung-tbla-pacu-bisnis-biodiesel

Kontan | Senin, 8 Oktober 2018

Shell Pastikan Produk Pelumas Industri Cocok Digunakan Untuk Bahan Bakar Biodiesel

Shell Lubricants memastikan produk pelumas Shell untuk keperluan industri cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin. Hal ini sehubungan dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 yang mewajibkan penggunaan biodiesel untuk sektor Public Service Obligation (PSO) dan non-PSO efektif tanggal 1 September 2018. Usai merilis rangkaian produk yang telah mendapatkan sertifikasi SNI dan TKDN pada bulan Agustus 2018, Shell Lubricants Indonesia memastikan rangkaian produk pelumas Shell Rimula yang banyak digunakan di sektor industri telah melewati serangkaian tes laboratorium di Shell Technology Center, Shanghai. Produk tersebut dinyatakan cocok digunakan untuk mesin kendaraan berat berbahan bakar biodiesel, sesuai batas yang diizinkan oleh pabrikan mesin.

“Shell selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen kami di berbagai sektor bisnis. Pelumas mesin diesel Shell Rimula telah banyak digunakan di sektor- sektor industri strategis di Indonesia seperti pertambangan, transportasi, agrikultur, ketenagalistrikan dan konstruksi,” ujar Andreas Pradhana, Director of Marketing Shell Lubricants Indonesia dalam siaran persnya, Senin (8/10). Andreas mengatakan pihaknya memastikan bahwa produk pelumas Shell cocok digunakan dengan bahan bakar biodiesel. Ia bilang, ini adalah bagian dari komitmen Shell untuk memberikan produk dengan kualitas terbaik, sesuai kebutuhan konsumen.

Rangkaian produk pelumas mesin diesel Shell Rimula yang telah dinyatakan sesuai dengan bahan bakar biodiesel antara lain adalah Shell Rimula R3MV 15W40 CI4, Shell Rimula R6 LM 10W40 CK4 dan R4 MV 15W40 CK4 yang banyak digunakan di sektor Pertambangan, juga Shell Rimula R4X 15W40 CI4, dan Shell Rimula R240 SAE 40 CF yang banyak digunakan di sektor Transportasi, Agrikultur, Ketenagalistrikan dan Konstruksi. Sejalan dengan kampanye Shell untuk Indonesia, ia menambahkan Shell terus mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menggerakkan berbagai sektor industri strategis di Indonesia. “Shell selalu berupaya untuk melakukan penelitian dan pengembangan produk dan layanan teknis sesuai perkembangan industri and teknologi yang terkait,” papar Andreas.

https://industri.kontan.co.id/news/shell-pastikan-produk-pelumas-industri-cocok-digunakan-untuk-bahan-bakar-biodiesel

Tempo | Senin, 8 Oktober 2018

Jalur Tepat Kebijakan B20

Pencampuran biodiesel dengan bahan bakar fosil mampu menghemat konsumsi bahan bakar fosil yang serba terbatas. Untuk mendorong penggunaan biodiesel, lahir kebijakan Peraturan Presiden Nomor 66 tahun 2018 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Perpres tersebut menyebutkan, sejak 1 September 2018, bahan bakar campuran 80 persen solar dan 20 persen biodiesel berlaku bagi seluruh pengguna bahan bakar solar, baik yang disubsidi (public service obligation/PSO) maupun non-PSO. Artinya, bila berjalan lancar, semua SPBU tidak menyediakan lagi solar murni tetapi menjadi biosolar. Semua kendaraan dan alat bermesin diesel terkena kewajiban ini.

Sebulan pasca penerapan kebijakan B20, tentu masih ada kendala dan hambatan dalam distribusi B20. Apalagi area wilayah Indonesia yang memang sangat luas, dan kesulitan teknis menjangkau daerah terpencil. Durasi perjalanan ke wilayah yang jauh sulit diprediksi, terutama bila melalui laut, keterbatasan jumlah kapal pengangkut, sarana dan fasilitas terminal BBM yang sulit terjangkau hingga antrian sandar dan bongkar muat. Khusus untuk angkutan laut, penyediaan kapal tidak bisa dilakukan dalam satu-dua hari. Pengadaan kapal bisa memakan waktu hingga 14 hari. Meski demikian, penyaluran FAME (Fatty Acid Methyl Ester) atau biodiesel yang terbuat dari sawit dan menjadi campuran solar terus diupayakan semaksimal mungkin. Catatan Pertamina per 25 September 2018, pasokan FAME ke terminal bahan bakar minyak sudah mencapai 224.607 kiloliter atau sekitar 62 persen dari target. Kendala distribusi yang terjadi terus dikoordinasikan oleh pelbagai pihak terkait agar bisa diselesaikan sehingga distribusi FAME makin luas hingga pelosok Indonesia. Kendala lain, BU BBM (Badan Usaha Bahan Bakar Minyak) tidak memiliki fasilitas blending sehingga FAME yang sudah dikirim BU BBN (Badan Usaha Bahan Bakar Nabati) tidak bisa dicampur. Selain itu, masih ada pengguna yang tidak mau memakai B20. Di sisi lain, ada juga pengguna yang tidak mendapat suplai B20.

BPDPKS

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) berupaya mengatasi kendala ini, agar Perpres tersebut berjalan maksimal. Salah satunya dengan menyalurkan dana insentif biodisesel. “Kami siap mendukung program B20 dengan menyalurkan dana insentif biodiesel. Ketersediaan dana bukan jadi masalah,” kata Direktur Utama BPDPKS Dono Boestami. BPDPKS lahir karena Undang-Undang untuk menghimpun dana ekspor minyak sawit mentah, mengelola, dan menyalurkannya untuk berbagai hal termasuk dalam pengembangan biodiesel. Hingga semester I 2018, BPDPKS berhasil menghimpun dana Rp.6,4 triliun dari pungutan ekspor minyak sawit mentah atau CPO (crude palm oil). Dari angka tersebut, BPDPKS tercatat telah menyalurkan dana insentif biodiesel sebesar Rp.3,57 triliun hingga Juni 2018. Selain sebagai insentif biodiesel, BPDPKS memanfaatkan dana tersebut untuk program peremajaan lahan sawit (replanting), pengembangan sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit, penelitian dan pengembangan perkebunan kelapa sawit, hingga promosi di dalam dan luar negeri.

BPDPKS juga ikut memberikan edukasi ke masyarakat melalui layanan call centre 14036. Layanan ini menyediakan informasi mengenai pemanfaatan biodiesel dalam program B20. Masyarakat juga dapat mengakses situs resmi BPDPKS di laman http://www.bpdp.or.id untuk mengetahui perkembangan informasi terkini mengenai B20. Di lapangan, pemerintah juga memantau dan mengontrol Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang belum menyediakan B20. Bila SPBU tidak menyediakan B20 karena tidak mematuhi kebijakan maka akan diberikan sanksi sesai ketentuan. Apabila BU BBM tidak melakukan pencampuran, dan BU BBN tidak dapat memberikan suplai FAME ke BU BBM akan dikenakan denda yang cukup berat, yaitu Rp 6.000 perliter. Menurut Dono Boestami, sejauh ini belum ada BU BBM dan BU BBN yang dikenai sanksi. “Dengan segala upaya yang dilakukan para pemangku kepentingan, ketergantungan pada konsumsi bahan bakar tak terbarukan bisa makin berkurang,” kata Dono.(*)

https://nasional.tempo.co/read/1134097/jalur-tepat-kebijakan-b20/full&view=ok