+62 2129380882 office@aprobi.co.id

B30 nationwide trial begins ahead of January enforcement

The Jakarta Post | Kamis, 21 November 2019

B30 nationwide trial begins ahead of January enforcement

A nationwide trial has commenced on the commercial distribution of 30 percent blended biodiesel ( B30 ) to prepare distributors for the mandatory use of B30, which comes into force next year. The government said in a statement released on Wednesday that 10 biofuel producers had signed an agreement with state-owned energy holding company Pertamina on Nov. 19 to dispense the fuel at select Pertamina fuel depots (TBBMs) around the country. The eight designated TBBMs are located in Rewulu (Yogyakarta), Medan (North Sumatra), Balikpapan (East Kalimantan), Plumpang (North Jakarta), Kasim (Papua), Plaju (South Sumatra), Panjang (Lampung) and Boyolali (Central Java). “We expect to fix all technical [bugs] and this will require cooperation from all stakeholders,” Mohammad Hidayat, the Energy and Mineral Resources Ministry’s downstream oil and gas director, said in the statement. Pertamina is running the trial through December, before the B30 mandatory use policy takes effect in January 2020. To accommodate the trial, the energy ministry has increased this year’s 6.6 million-kiloliter (kL) quota for subsidized fatty acid methyl esters (FAME) – a key biofuel ingredient – by an additional 208,238 kL. “The absorption of FAME in the [earlier] B20 program went well. We expect the same for the B30 [program], especially with the supply chain, which we will work on to make more effective,” said Pertamina logistics and supply chain director Gandhi Sriwidodo. The B30 policy plays an important role in the government’s efforts to slash oil imports, which contribute heavily to the country’s trade deficit. Indonesia’s B30 is also expected to open new markets for its palm oil exports, which is facing challenges from traditional markets like the European Union over sustainability and environmental issues.
https://www.thejakartapost.com/news/2019/11/21/b30-nationwide-trial-begins-ahead-of-january-enforcement.html

Senayan Post | Kamis, 21 November 2019
Pemerintah Klaim BBM B30 Aman Buat Mesin Diesel
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan hasil uji coba B30 yang melibatkan tujuh kendaraan diesel berbeda tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada kinerja mesin. Langkah selanjutnya Kementerian ESDM tengah menguji coba penggunaannya pada masyarakat dan mengumumkan spesifikasi B30. Menurut pernyataan Kementerian ESDM, B30 membuat daya mesin kendaraan turun sampai 1,7 persen namun ada juga yang naik sampai 1,6 persen. Penurunan yang tergantung jenis mesin diesel ini dialami kendaraan yang sebelumnya menggunakan B20. Selain itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM) Dadan Kusdiana menyatakan B30 berdampak pada saringan bahan bakar kendaraan baru atau kendaraan yang belum pernah menggunakan biodiesel. Kerusakan itu disebut bakal terjadi pada pemakaian awal di antara 7.500 – 15 ribu km. Menurut Dadan, setelah penggantian saringan kendaraan kembali normal sampai periode penggantian komponen berikutnya. Usai mendapatkan hasil uji coba, Menteri ESDM Arifin Tasrif menandatangani Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 227 K/10/MEM/2019 pada 15 November. Isi peraturan itu yakni melaksanakan uji coba distribusi B30 ke Bahan Bakar Minyak solar periode 2019. Penyebaran B30 dilakukan ke delapan wilayah, yaitu ke Terminal BBM di Rewulu, Medan, Balikpapan, Plumpang, Kasim, Plaju, Panjang, dan Boyolali Jawa tengah. Uji coba distribusi B30 ini disebut sebagai persiapan pelaksanaan B30 yang dijadwalkan dimulai pada 1 Januari 2020. Inisiasi pemanfaatan biodiesel untuk alat transportasi digerakkan oleh Presiden Joko Widodo. Tujuannya disebut untuk menekan defisit neraca perdagangan melalui pengurangan impor minyak. B30 yang merupakan campuran 70 persen solar dan 30 persen biodiesel nabati bakal mengganti penerapan B20 yang sudah dilakukan sebelumnya. Jokowi pernah mengungkap dalam rapat terbatas program-program di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi di Kantor Presiden bahwa dia menginginkan setelah B30, maka loncat ke B50, hingga akhirnya B100. Berikut spesifikasi B30 berdasar SNI 7182: 2015 yang dirilis Kementerian ESDM:
1. Massa jenis pada 40 derajat celcius harus memiliki 850 – 890 Kg/m3
2. Viskositas kinematik pada 40 derajat celcius harus memiliki 2,3 – 6,0 mm2/s (cSt)
3. Angka Setana menimal 51
4. Titik nyala (mangkok tertutup) memiliki minimal 130 derajat celcius
5. Korosi lempeng tembaga (3 jam pada 50 derajat celcius) harus nomor satu
6. Residu Karbon dalam percontoh asli memiliki maksimal 0,05 persen – massa; atau dalam 10 persen ampas distilasi 0,3 persen – massa
7. Temperatur distilasi 90 persen maksimal 360 derajat celcius
8. Abu tersulfatkan maksimal 0,02 persen – massa
9. Belerang maksimal 10 mg/kg
10. Fosfor maksimal 4 mg/kg
11. Angka asam maksimal 0,4 mg-KOH/g
12. Gliserol bebas maksimal 0,02 persen -massa
13. Gliserol total maksimal 0,24 persen – massa
14. Kadar ester metil minimal 96,5 persen – massa
15. Angka ioudium maksimal 115 persen – massa (g-12/100 g)
16. Kestabilan oksidasi periode induksi metode rancimat 600 menit; atau periode induksi metode petro oksi 45 menit.
17. Monogliserida maksimal 0,55 persen – massa
18. Warna maksimal 3 dengan metode uji ASTM D-1500
19. Kadar air maksimal 350 ppm dengan metode uji D-6304
20. CFPP (Cold FIlter Plugging Point) maksimal 15 derajat celcius dengan metode uji D-6371
21. Logam I maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14108/14109, EN 14538
22. Logam II maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14538
23. Total Kontaminan maksimal 20 mg/liter dengan metode uji ASTM D 2276, ASTM D 5452, ASTM D 6217

Merdeka | Kamis, 21 November 2019
Pemerintah Tetapkan Spesifikasi Solar Dicampur 30 Persen Biodiesel
Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan ‎standar campuran 30 persen bahan bakar nabati (BBN) atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan solar (B30). Standar B30 ditetapkan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 227 K/10/MEM/2019 tentang Pelaksanaan Uji Coba Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel 30 persen(B30) ke Dalam Bahan Bakar Minyak Jenis Solar Periode 2019, yang ditandatangani Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 15 November 2019. “Trial implementasi B30 di tahun 2019, ada di Kepmen,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, di Jakarta, Kamis (21/11). Uji coba penyaluran B30 pun telah dilakukan, untuk mematangkan rencana penerapan B30 mulai Januari 2020. Adapun standar dan mutu (spesifikasi) dalam pelaksanaan uji coba B30 berdasar SNI 7182: 2015, antara lain: Massa jenis pada 40 derajat celcius harus memiliki 850 – 890 Kg/m3. Viskositas kinematik pada 40 derajat celcius harus memiliki 2,3 – 6,0 mm2/s (cSt), Angka Setana minimal 51. Titik nyala (mangkok tertutup) memiliki minimal 130 derajat celcius. Korosi lempeng tembaga (3 jam pada 50 derajat celcius) harus nomor satu. Residu Karbon dalam percontoh asli memiliki maksimal 0,05 persen- massa; atau dalam 10 persen ampas ditilasi 0,3 persen- massa. Temperatur distilasi 90 persen maksimal 360 derajat celcius. Abu tersulfatkan maksimal 0,02 persen-massa. Belerang maksimal 10 mg/kg. Fosfor maksimal 4 mg/kg. Angka asam maksimal 0,4 mg-KOH/g. Gliserol bebas maksimal 0,02 persen-massa Gliserol total maksimal 0,24 persen-massa. Kadar ester metil minimal 96,5 persen-massa. Angka ioudium maksimal 115 persen-massa (g-12/100 g). Kestabilan oksidasi periode induksi metode rancimat 600 menit; atau periode induksi metode petro oksi 45 menit. Monogliserida maksimal 0,55 persen-massa. Warna maksimal 3 dengan metode uji ASTM D-1500. Kadar air maksimal 350 ppm dengan metode uji D-6304. CFPP (Cold FIlter Plugging Point) maksimal 15 derajat celcius dengan metode uji D-6371. Logam I maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14108/14109, EN 14538. Logam II maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14538. Total Kontaminan maksimal 20 mg/liter dengan metode uji ASTM D 2276, ASTM D 5452, ASTM D 6217. Pengusaha dan produsen otomotif menyambut baik rencana pemerintah untuk menerapkan Solar campur 30 persen minyak sawit alias B30. Sejauh ini, uji coba penggunaan B30 di Dieng berjalan mulus. Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud menyebut bahwa Gabungan Asosiasi Kendaraan Bermotor (Gaikindo) dan produsen mobil merk luar negeri ikut menyaksikan dan mengevaluasi uji coba B30. Mereka tidak keberatan dan sedikit masalah yang muncul juga dapat teratasi. “Jadi pantauannya bersama-sama, tak hanya ESDM, migas, BPPT, tapi kerja sama dengan stakeholder. Jadi produsen Toyota, Mitsubishi, semuanya itu ikut melihat, memantau betul bagaimana kondisi mobil yang digunakan sampai B30 selama ini,” jelas Musdhalifah di Jakarta, Selasa (24/9). Salah satu hasil positif dari uji coba B30 adalah berhasil berfungsi di area dingin seperti di Dieng. Selama ini, kelapa sawit dianggap relatif cepat melting di daerah dingin. Namun, hasil uji coba di Dieng ternyata berjalan lancar dan kini uji coba terus berlangsung hingga 50 ribu kilometer. Musdhalifah akan terus mengevaluasi penerapan B20 yang telah berjalan. Selain itu, infrastruktur untuk menyambut B30 juga sedang digenjot, mulai dari distribusi sampai penyimpanan stok FAME (Fatty Acid Methyl Esther). “Itu baik ke provider BBM maupun BUBBN, Badan Usaha Bahan Bakar Nabatinya, sudah dikomunikasikan terus,” jelas Musdhalifah. Dia menegaskan bahwa target untuk B30 masih fokus di pasar domestik.
https://www.merdeka.com/uang/pemerintah-tetapkan-spesifikasi-solar-dicampur-30-persen-biodiesel.html

Berita Jatim | Kamis, 21 November 2019
Bank Sampah, Sulap Minyak Jelantah Jadi Biodiesel
PT Pertamina EP Tarakan Field (Tarakan Field) sebagai industri hulu migas, tentu kewajiban perusahaan adalah produksi sumber energi. Meski begitu, bukan berarti perusahaan tutup mata akan kebutuhan masyarakat sekitar. Enriko R. Estrada Hutasoit, Tarakan Legal & Relation Assistant Manager menyebut, melalui program pemberdayaan masyarakatnya atau yang kerap disebut corporate social responsibility (CSR), Tarakan Field berusaha menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat melalui pemberdayaan. Adapun program pengelolaan sampah skala lingkungan adalah salah satu cara Tarakan Field menjawab kebutuhan masyarakat akan isu lingkungan. Dilaksanakan di Kelurahan Kampung Enam, Kota Tarakan, perusahaan membina Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Ramah Lingkungan. Program pengelolaan sampah skala lingkungan ini dimulai tahun 2010 dan sudah mandiri pada tahun 2017. “KSM Ramah Lingkungan sudah mandiri dan bahkan mampu berinovasi pada sumber energi baru terbarukan,” kata Enriko. Ketua sekaligus inovator di KSM Ramah Lingkungan Sardji Sarwan mengatakan, program pengelolaan sampah oleh Tarakan Field tersebut sangat unik dan berbeda dengan program-program serupa di tempat lain. Selain mengelola sampah dan mendorong perubahan perilaku masyarakat, sampah nyatanya dapat diolah menjadi sumber energi berupa biodiesel. Menurutnya, Biodiesel mungkin memang terdengar biasa saja, namun tidak dengan biodiesel produksi KSM Ramah Lingkungan. Berbahan dasar minyak jelantah dengan campuran bioethanol dari limbah rumput laut, biodiesel KSM Ramah Lingkungan justru menyelamatkan lingkungan. “Seperti yang kita ketahui minyak jelantah bila dibuang dapat merusak tanah dan air, sedangkan limbah rumput menyebabkan polusi udara,” ujar Sardji. Dia juga menyebut, kelebihan program pengelolaan sampah binaan Tarakan Field tidak sampai di situ saja. Proses pembuatan biodiesel minyak jelantah masih menyisakan limbah berupa gliserol yang berasal dari pencucian minyak bekas. “Limbah tersebut justru kembali dimanfaatkan menjadi bahan utama pembuatan sabun pembersih,” katanya. Implementasi program CSR Bank Sampah juga dilakukan Tarakan Field di Pulau Nunukan. Bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nunukan, Tarakan Field membina Bank Sampah Induk Nunukan. Bank Sampah Induk Nunukan dirancang untuk menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di wilayah Pulau Nunukan. Menurut Enriko, Bank Sampah Induk Nunukan pada dasarnya sama dengan bank sampah pada umumnya. Namun, tentu saja ada hal yang membedakannya, yakni fokus Bank Sampah Induk Nunukan pada pengolahan limbah botol plastik. “Nunukan adalah pulau kecil, namun limbah botol plastiknya sungguh luar biasa. Bisa mencapai puluhan hingga ratusan ton dalam setahun. Kebanyakan sampah tersebut merupakan kiriman dari daerah lain,” ujar Enriko. Ketua Bank Sampah Induk Bambang Eko Purwanto mengatakan, botol plastik biasanya dimanfaatkan nelayan setempat sebagai pelampung budidaya rumput laut. Pulau Nunukan menjadi produsen rumput laut terbesar di Kalimantan Utara. Namun, karena paparan air laut, pelampung botol tersebut mudah rusak. “Oleh nelayan setempat, botol plastik seringkali dibakar. Padahal, limbah botol plastik menyimpang potensi ekonomi,” ujar Bambang.

Bisnis | Kamis, 21 November 2019
Pertamina Uji Coba Penerapan Biodiesel 30 Persen atau B30 di 8 Titik
PT Pertamina (Persero) memulai persiapan uji coba biodiesel 30% (B30) di sejumlah terminal bahan bakar minyak (TBBM). Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan sejumlah TBBM itu akan menjadi pilot project pencampuran unsur nabati (fatty acid methyl ester/FAME) dengan solar. Dia mengungkapkan uji coba ini akan dilakukan bertahap sebelum akhirnya diterapkan secara menyeluruh. Pada 21 November mendatang, ada uji coba di dua TBBM, yaitu Boyolali dan Rewulu. Selanjutnya pada akhir November akan ada uji coba di TBBM Balikpapan dan Desember 2019 akan dilanjutkan di TBBM Medan Group, Jakarta Group, dan TBBM Panjang serta RU III Plaju dan RU VII Kasim. “Pada Januari 2020, sebanyak delapan titik Pertamina sudah siap melakukan pencampuran B30,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (21/11/2019). Uji coba yang berlangsung hingga 31 Desember 2019 ini dilaksanakan dengan mengacu pada ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM 227/2019. Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi penyerapan FAME terus mengalami kenaikan. Pada 2017, penyerapan FAME mencapai 2,51 juta kiloliter (KL). Serapan tersebut naik menjadi 3,2 juta KL pada 2018. “Hingga Oktober 2019, total penyerapan FAME oleh Pertamina sudah mencapai 4,493 juta KL,” tambahnya. Dia menyatakan pihaknya mendukung kebijakan pemerintah untuk menerapkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20191121/44/1172951/pertamina-uji-coba-penerapan-biodiesel-30-persen-atau-b30-di-8-titik

Kumparan | Kamis, 21 November 2019
Cerita Sardji Sarwan, Sulap Minyak Jelantah Jadi Biodiesel B80
Minyak jelantah yang acapkali dibuang sebagai limbah, bisa disulap menjadi produk bernilai guna di tangan Sardji Sarwan. Yakni diolah menjadi bahan bakar biodiesel B20, B50 dan B80. Sardji Sarwan adalah seorang pensiunan karyawan BUMN yang sejak 2003 bergiat di bidang pengelolaan sampah. Kala itu, ia mengolah sampah secara mandiri untuk digunakan sebagai kompos. Sekitar lima tahun berselang, Sardji kemudian membuat depo pengelolaan sampah bersama organisasinya, KSM Ramah Lingkungan yang beralamatkan di Gang Sumeru, Gunung Santape RT 2 Kelurahan Kampung Enam, Tarakan Timur. Di tahun 2016, Sardji kemudian mulai mengembangkan pengolahan minyak jelantah. Sebab, banyak masyarakat yang membuang dengan sembarangan, padahal menurutnya minyak jelantah itu masih bernilai ekonomis. “Saya ingin budaya masyarakat berubah mengolah sampah. Sumber limbah yang mereka hasilkan tapi dibuang ini yang kemudian membawa saya studi banding ke Bogor (pengolahan minyak jelantah),” ujar Sardji ketika ditemui di Tarakan, Kalimantan Utara, Rabu (20/11). Dari studi bandingnya ke Bogor itu, ia mendapati harga mesin untuk mengolah minyak jelantah berkisar Rp 200 juta, belum termasuk biaya instal. Tapi kemudian ia memilih untuk menciptakan inovasi alat pengolahan minyak jelantah sendiri. “Bikin habis Rp 60 juta, itu empat alat untuk pengolahan biomassa, biogas, bioetanol dan biodiesel yang didesain sendiri,” terang lelaki berusia 68 tahun itu. Sardji dan kawan-kawan lantas menguji coba untuk membuat bahan bakar B20. Tak berselang lama, B50 juga bisa dihasilkan. Hingga saat ini, pihaknya telah bisa memproduksi B80. Prosesnya, Sardji melibatkan masyarakat kelurahan sekitar untuk menukarkan minyak jelantah dari limbah rumah tangga. “Sistemnya, 5 liter minyak jelantah itu, ditukarkan ke kita jadi 1 liter minyak bersih (baru),” ucapnya. Minyak jelantah yang menjadi bahan baku tersebut, kemudian diproses dengan campuran bioetanol dengan soda api. Sekali produksi, kapasitas mesin biodiesel itu bisa menghasilkan 200 Liter. “Sehari bisa dua kali proses kalau ada bahan bakunya,” kata dia. Biodiesel yang dihasilkan itu, kemudian dijual sebagai bahan bakar mesin pencacah, penghidup genset hingga dibawa ke tapal batas oleh PT Pertamina (Persero). “Kita jual Rp 11 ribu per liter, B50. Bisa lebih murah, kalau di luar bisa Rp 11.800-an. Sedangkan yang B80 masih buat sendiri belum dijual,” ucap dia. Hingga saat ini, ia mengaku pengembangan B80 untuk proses komersial masih belum dilakukan. Pasalnya, selain butuh uji coba namun juga ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi. “Operasional, safety, dan juga izinnya kan,” katanya. Ia menekankan, orientasi pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel itu bukan saja soal meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Namun, juga mengedukasi soal pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. “Laba masih kecil tapi yang jelas kami sudah sanggup membayar personel Rp 2 juta, mulai kerja jam 8-12 siang sekarang ada sekitar 9 orang,” ujarnya. KSM yang dipelopori Sardji kini melayani sekitar 13 RT yang berada di Kampung Enam.
https://kumparan.com/kumparanbisnis/cerita-sardji-sarwan-sulap-minyak-jelantah-jadi-biodiesel-b80-1sIMxLMv2qT

Bisnis | Kamis, 21 November 2019
3 TBBM Pertamina Ujicoba Penggunaan B30 pada Produk Gasoil
PT. Pertamina (Persero) Marketing Operation Region IV wilayah Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta siap melaksanakan kebijakan pemerintah terkait mandatori penggunaan B30 pada produk Gasoil. Adapun, Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Rewulu, TBBM Boyolali dan TBBM Balikpapan menjadi pilot project ujicoba B30 yang akan dimulai pada hari ini, Kamis 21 November, hingga 31 Desember 2019. “Kebijakan Ujicoba penggunaan 30 persen FAME (Fatty Acid Methyl Ester) pada bahan bakar gasoil akan diterapkan pada produk Dexlite dan Biosolar mengikuti arahan dari Kepmen ESDM No 227 Tahun 2019,” ujar General Manager PT Pertamina MOR IV Iin Febrian melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Kamis (21/11/2019). Produk B0 atau produk dengan komposisi solar murni nantinya akan digunakan hanya pada produk Pertamina Dex. Beberapa pengecualian dapat diberlakukan pada Pembangkit Listrik yang menggunakan Turbine Aeroderivative, Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista). Terhadap pengecualian tersebut digunakan B0. “Mengenai harga. seperti penggunaan komposisi B20 sebelumnya, penggunaan B30 ini tidak akan mempengaruhi harga produk Dexlite saat ini, sesuai dengan peraturan pada Perpres no 24 tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan dana Perkebunan Kelapa Sawit yang menejelaskan bahwa patokan harga Biodiesel tetap akan mengacu pada indeks pasar minyak solar,” tambah Iin. Pengunaan B30 tidak terbatas pada bahan bakar kendaraan melainkan juga pada Solar Industri. Secara teknis, pemberian 30 persen FAME kepada Dexlite dan Biosolar tidak akan mempengaruhi kualitas produk atau tidak mengurangi standar CN (Cetane Number) pada produk. FAME diklaim memiliki soap effect yaitu dapat membersihkan saluran pembakaran dengan mengangkat endapan sisa pembakaran di saluran pembakaran kendaraan, sehingga memiliki karakter pembakaran yang relatif bersih atau ramah lingkungan.
https://semarang.bisnis.com/read/20191121/536/1172812/3-tbbm-pertamina-ujicoba-penggunaan-b30-pada-produk-gasoil

Neraca | Kamis, 21 November 2019
Kontraksi Ekspor-Impor RI Diprediksi Mereda di 2020
Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal memprediksi kontraksi ekspor dan impor Indonesia akan mereda pada 2020 karena negara tujuan utama akan mencari alternatif komoditas di Indonesia sebagai dampak perang dagang. “Kita diuntungkan juga dengan perang dagang yang berdampak kepada batu bara dan sawit,” katanya dalam seminar Core-Outlook Economic RI di Jakarta, Rabu (20/11). Menurut Direktur Eksekutif Core Indonesia itu, demikian diberitakan laman kantor berita Antara, perang dagang akan menekan kinerja keuangan korporasi di China sehingga mereka akan mencari sumber energi yang lebih murah seperti batu bara untuk menekan biaya produksi. Indonesia, kata dia merupakan satu dari tiga negara bersama Mongolia dan Australia penghasil batu bara. Selain batu bara, ekspor sawit Indonesia pada 2020 juga akan meningkat karena kenaikan tarif impor minyak kedelai dari Amerika Serikat oleh China akan mendorong permintaan terhadap produk substitusi, seperti minyak sawit. Selain dengan China, negosiasi bilateral antara Indonesia dengan India tahun ini menghasilkan keputusan penurunan tarif impor minyak sawit Indonesia dari 40 persen menjadi 37,5 persen. Selain minyak sawit, produk olahan sawit tarifnya juga turun dari 50 persen menjadi 45 persen. Kesepakatan itu, lanjut dia, diprediksi mendorong ekspor walau masih relatif kecil. “Kami melihat ada potensi perbaikan kinerja ekspor pada 2020 namun masih sangat terbatas dan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global yang masih tidak pasti,” katanya. Sebelumnya, ekspor pada tiga triwulan pertama tahun ini mengalami kontraksi hingga minus 8,1 persen jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Selain ekspor, lanjut dia, kinerja impor tahun 2020 juga diprediksi mengalami perbaikan setelah sepanjang tiga kuartal tahun ini impor mengalami kontraksi hingga minus 9,1 persen. Ia menyebutkan kontraksi paling dalam terjadi pada impor bahan baku dan penolong sebesar minus 11,2 persen. Impor barang modal dan barang konsumsi masing-masing mengalami kontraksi sebesar minus 6 dan minus 8,5 persen. Kondisi itu, kata dia, mengindikasikan terjadi penurunan cukup besar pada aktivitas produksi dalam negeri. Meski begitu, tahun 2020 impor akan membaik atau jika masih terjadi kontraksi, kata dia, kemungkinan angkanya lebih moderat. Fokus pemerintah terkait infrastruktur, lanjut dia, diperkirakan akan meredam kontraksi impor bahan baku, bahan penolong serta barang modal dan masuknya investasi baru tahun 2020. Selain itu, dibukanya tarif impor sejumlah bahan pangan sebagai hasil kesepakatan dagang dengan sejumlah negara seperti India untuk gula dan Australia untuk gandum dan daging sapi, akan mendorong impor. “Indonesia pasar besar dan hambatan dagang kecil, tarif rendah dan hambatan nontarif sedikit,” katanya. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir neraca perdagangan RI pada Oktober 2019 mengalami surplus sebesar 161,3 juta dolar AS dengan nilai ekspor 14,93 miliar dolar AS dan impor 14,77 miliar dolar AS. “Pada bulan Oktober ini, ekspor kita 14,93 miliar dolar AS, impor kita 14,77 miliar dolar, sehingga kita mengalami surplus 161,3 juta dolar,” kata Kepala BPS Suhariyanto. Ia menyatakan bahwa dengan kondisi surplus ini akan membantu mengatasi permasalahan defisit neraca perdagangan ke depannya. Pada kesempatan lain, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar sektor pariwisata dikembangkan bersamaan dengan upaya menggenjot ekspor untuk memperkuat neraca perdagangan. Dalam menekan defisit Presiden mengingatkan agar para menteri berkonsentrasi pada langkah-langkah terobosan dalam mengurangi angka impor. Termasuk, lanjut dia, di dalamnya adalah mengolah energi baru terbarukan seperti B20 untuk segera bisa masuk ke B30 lalu B100 sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Menurut Presiden Jokowi, investasi yang dilakukan di sektor industri substitusi impor juga harus terus dibuka lebar sehingga barang-barang substitusi impor ini bisa mengganti produk-produk impor. Presiden juga ingin mengingatkan mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pada proyek-proyek pemerintah.
http://neraca.co.id/article/124638/kontraksi-ekspor-impor-ri-diprediksi-mereda-di-2020