+62 2129380882 office@aprobi.co.id

B30 Tekan Defisit Migas

Harian Kontan | Rabu, 15 Januari 2020

B30 Tekan Defisit Migas

Pemerintah tahun ini kembali meningkatkan pasokan minyak sawit mentah atau crude Palm Oil (CPO) di dalam untuk menjalankan program kewajiban mencampur solar dengan bahan bakar nabati sebesar 30% atau biodiesel B30. Cara ini bertujuan untuk menekan defisit neraca dagang sekaligus meningkatkan kinerja ekspor. Deputi Bidang Koordinasi-Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan pemerintah optimistis program B30 dapat memberikan multiplayer effect kepada perbaikan defisit migas dan meningkatkan ekspor CPO. Berkaca dari 2019, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang Januari-November 2019 defisit migas tercatat US$ 8,31 miliar. Angka menurun dibandingkan dengan defisit migas di periode sama 2018 sebesar US$ 12,38 miliar. Namun, ekspor nonmigas di periode tersebut turun US$ 900 juta menjadi US$ 14,1 miliar.Pemerintah berharap, implementasi B20 memberikan keseimbangan antara menekan defisit migas dan menggenjot ekspor. Meski nilai ekspor CPO 2019 belum membaik, Iskandar percaya tren kenaikan harga minyak sawit dapat menstabilkan neraca perdagangan. Di sisi lain ada peluang meningkatkan ekspor ke India karena negeri itu mengerem ekspor dari Malaysia. “Dengan B30 tahun ini, harga CPO naik dan sehingga keseluruhan neraca perdagangan kita akan membaik,” kata dia.

Bisnis Indonesia | Rabu, 15 Januari 2020
Pengusaha Keluhkan B30

Para Pengusaha truk dan bus di Indonesia mengkhawatirkan campuran biodiesel B30 dapat berakibat pada menurunnya kinerja mesin. Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan menjelaskan pihaknya mendukung program pemerintah seperti mandatori B20 dan B30. Namun, dia sangat mengharapkan dampak BBM itu terhadap mesin bisa diperhatikan oleh para pemangku kebijakan. “Para pihak yang terkait mohon memberikan perhatian juga terhadap dampak dari B30 ini,” katanya kepada Bisnis, Senin (13/1). Dia bercerita bahwa yang dihadapi sebagai dampak dari penerapan biodiesel dari Kelapa Sawit tersebut yakni munculnya gel di filter Solar yang belum ada solusinya sampai kini. Dengan adanya gel tersebut, perusahaan otobus (PO) harus menambah filter dan ini membutuhkan biaya tambahan. Kementerian ESDM menerapkan mandatori B30 setelah pada 2019 menerapkan mandatori B20 dalam campuran bahan bakar Solar. B30 yang dimaksud yakni pencampuran 70% Solar murni dengan minyak FAME yang dihasilkan dari Kelapa Sawit sebesar 30%.

Campuran ini diharapkan da- pat mengurangi ketergantungan atas impor BBM jenis Solar dan meningkatkan serapan sawit di dalam negeri mengingat pasar internasional minyak Kelapa Sawit tengah bergejolak. Ketua Bidang Angkutan Barang DPP Organda Ivan Kamadjaja juga kurang setuju dengan mandatori B30 atau mencampurkan BBM solar 70% dengan 30% minyak FAME. Sebenarnya, dia menegaskan Organda selalu mendukung kebijakan yang diambil oleh pemerintah, selama kebijakan tersebut memberikan manfaat bagi semua pihak. Kenyataan di lapangan sedikit berbeda karena mandatori B30 berdampak pada penyesuaian yang dilakukan terutama dari sisi teknis. Ivan mencatat terdapat tiga dampak teknis terhadap kinerja mesin dari penerapan B30 tersebut. Masalah pertama muncul dari penyaring Solar, yang menurun masa pakainya. Selain itu, masalah muncul dari injektor yang harganya tidak murah. “Kami ada armada puluhan hingga ratusan unit. Makanya kami perlu jaminan garansi kalau injektor aman sampai beberapa tahun,” paparnya. Oleh karena itu, Organda butuh jaminan pemerintah soal kualitas B30 layak pakai.

Liputan 6 | Selasa, 14 Januari 2020
Kementerian ESDM Tancap Gas Uji Coba Program Energi B40

Pemerintah langsung tancap gas untuk menyiapkan uji coba solar dengan campuran ‎40 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau disebut program B40. Untuk diketahui, pemerintah baru saja menjalankan program B30 pada 1 Januari 2020. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, untuk meningkatkan campuran FAME yang berbahan baku minyak kelapa sawit pada solar menjadi 40 persen atau B40, perlu dilakukan uji coba kembali seperti yang dilakukan saat program mandatori biodiesel yang sebelumnya diterapkan. “Mengenai B40 tentu saja semua program-program pemakaian jenis-jenis baru dari biodiesel harus dites dulu,” kata Arifin, di Jakarta, Selasa (14/1/2020). Uji coba harus dilakukan untuk menjamin kualitas B40 saat diimplementasikan, sehingga mesin kendaraan yang menggunakan‎ solar campuran FAME 40 persen tidak mengalami kendala.”Kemudian karena kita harus jamin kualitas produk ini enggak berikan dampak negatif pada pemakai‎,” ujarnya. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengungkapkan, ‎uji coba B40 akan dilakukan pada akhir Januari 2020, dengan target selesai pada Agustus 2020. “Uji teknis B40-50 sedang persiapan dilakukan dengan stakeholder, Pertamina, Aprobi, asosiasi kapal, asosiasi alat berat,” tandasnya. Uji coba harus dilakukan untuk menjamin kualitas B40 saat diimplementasikan, sehingga mesin kendaraan yang menggunakan‎ solar campuran FAME 40 persen tidak mengalami kendala. “Kemudian karena kita harus jamin kualitas produk ini enggak berikan dampak negatif pada pemakai‎,” ujarnya. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengungkapkan, ‎uji coba B40 akan dilakukan pada akhir Januari 2020, dengan target selesai pada Agustus 2020.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4155022/kementerian-esdm-tancap-gas-uji-coba-program-energi-b40

Krjogja | Selasa, 14 Januari 2020
Tancap Gas, Uji Coba Program Energi B40 Segera Dilakukan

Perintah langsung tancap gas untuk menyiapkan uji coba solar dengan campuran ‎40 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau disebut program B40. Untuk diketahui, pemerintah baru saja menjalankan program B30 pada 1 Januari 2020. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, untuk meningkatkan campuran FAME yang berbahan baku minyak kelapa sawit pada solar menjadi 40 persen atau B40, perlu dilakukan uji coba kembali seperti yang dilakukan saat program mandatori biodiesel yang sebelumnya diterapkan. “Mengenai B40 tentu saja semua program-program pemakaian jenis-jenis baru dari biodiesel harus dites dulu,” kata Arifin, Selasa (14/1/2020). Uji coba harus dilakukan untuk menjamin kualitas B40 saat diimplementasikan, sehingga mesin kendaraan yang menggunakan‎ solar campuran FAME 40 persen tidak mengalami kendala. “Kemudian karena kita harus jamin kualitas produk ini enggak berikan dampak negatif pada pemakai‎,” ujarnya. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengungkapkan, ‎uji coba B40 akan dilakukan pada akhir Januari 2020, dengan target selesai pada Agustus 2020. “Uji teknis B40-50 sedang persiapan dilakukan dengan stakeholder, Pertamina, Aprobi, asosiasi kapal, asosiasi alat berat,” tandasnya.
https://www.krjogja.com/web/news/read/119509/Tancap_Gas_Uji_Coba_Program_Energi_B40_Segera_Dilakukan

Kontan | Selasa, 14 Januari 2020
Mandatori B30 Diyakini Bisa Memperbaiki Defisit Migas Dan Genjot Ekspor CPO

Pemerintah di tahun ini kembali meningkatkan pasokan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dalam mandatori biodiesel 30% (B30). Cara ini diyakini dapat menekan defisit neraca dagang sekaligus meningkatkan kinerja ekspor. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Berekonomian (Kemenko Perekonomian) Iskandar Simorangkir mengatakan pemerintah optimistis program B30 dapat memberikan multiplayer effect kepada defisit Migas dan menigkatkan ekspor CPO. Sebab tahun lalu, program B20 terbilang sukses. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sepanjang Januari-November 2019 defisit Migas sebesar US$ 8,31 miliar. Angka ini menunjukkan perbaikan 67,1% dibanding defisit Migas di periode sama tahun 2018 yakni US$ 12,38 miliar. Dari sisi ekspor nonmigas di periode yang sama turun US$ 900 juta dari US$ 15 miliar menjadi US$ 14,1 miliar. Kata Iskandar, implementasi B20 nyatanya memberikan keseimbangan antara menekan defisit migas dan menggenjot ekspor. Meski nilai ekspor CPO tahun lalu belum sepenuhnya membaik, Iskandar percaya tren kenaikan harga minyak sawit dapat menstabilkan neraca perdagangan.

“Yang dilihat net ekspornya. Dengan pengalihan ke B30 di tahun ini maka harga ekspor CPO meningkat dan impor migas khususnya solar menurun. Sehingga keseluruhan neraca perdagangan kita akan membaik,” kata Iskandar kepada Kontan.co.id, Sabtu (11/1). Memang sepanjang tahun lalu harga CPO mengalami kenaikan drastis. Berdasarkan Malaysia Derivatives Exchange harga CPO menguat 35,97% ditutup di level RM 3.052 per ton pada akhir Desember 2019. Bahkan pada penutupan perdagangan Senin (13/1) harga minyak sawit melejit lagi hingaa RM 3.117 per ton atau menguat 2,12% year to date (ytd). Kepala Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, prospek CPO akan moncer di tahun ini akibat B30, ini memperkuat demand dalam negeri setelah supply terganggu akibat kebijakan Uni Eropa yang mengurangi impor komoditas andalan Indonesia tersebut. Setali tiga uang, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen terbesar CPO memiliki posisi sangat menentukan supply sekaligus harga. Kebijakan B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia dinilai akan mengurangi secara drastis supply CPO di pasar global. Dampaknya harga akan naik. “Itu yang sekarang terjadi dan sangat disyukuri oleh para petani sawit. Nilai ekspor CPO akan beranjak naik walaupun volume ekspor bisa jadi sedikit menurun,” kata Piter kepada Kontan.co.id, Senin (13/1). Menurut Piter, secara umum kebijakan B30 memiliki tiga dampak positif. Pertama nilai ekspor naik karena harga CPO yang naik. Kedua, impor solar turun karena adanya substitusi biosolar. Ketiga, defisit migas berkurang.
https://nasional.kontan.co.id/news/mandatori-b30-diyakini-bisa-memperbaiki-defisit-migas-dan-genjot-ekspor-cpo?page=all

Medan Tribun News | Selasa, 14 Januari 2020
Kekurangan dan Kelebihan Biodiesel B30 yang Sudah Tersedia Hampir di Seluruh SPBU

Presiden RI Joko Widodo pada akhir 2019 lalu telah meresmikan program Biodiesel 30 Persen atau B30. Solar B30 disebut sudah bisa dibeli konsumen hampir di seluruh SPBU Pertamina yang ada di Indonesia. “Titik blending kami sudah cukup banyak, dari 28 titik blending yang menyebar di seluruh Indonesia akan disalurkan ke SPBU milik Pertamina di seluruh Indonesia,” ujar VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman, belum lama ini. Untuk diketahui, jenis bahan bakar diesel yang menerapkan kandungan 30 persen Fatty, Acit, Metil, Eter (FAME) yang didapat dari minyak sawit hanya ada pada Biosolar saja. Sementara pada Dexlite atau Pertamina DEX tidak menggunakan kandungan tersebut. “Hanya pada Biosolar saja, manfaat dari B30 ini juga meningkatkan performa mesin. FAME yang bersifat detergency mampu membersihkan mesin kendaraan maupun industri,” ucap Fajriyah. Sementara itu, Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Intitut Teknologi Bandung Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan bahwa campuran solar dengan minyak sawit yang diproses secara biodiesel dapat meningkatkan cetane number.

“Ini yang membuat performa mesin lebih baik lagi, selain itu hasil pembakarannya juga menghasilkan lebih sedikit CO (karbon monoksida). Hasilnya emisi juga lebih rendah,” katanya kepada Kompas.com (13/1/2020). Meski begitu, menurut Yus, campuran biosolar juga memiliki kekurangan. Salah satunya dapat memperpendek usia filter solar dan membeku saat terpapar udara dingin. “Masalah pada filter dapat diakali dengan menggantinya lebih cepat. Untuk yang membeku, karena masih bersifat lemak jenuh, otomatis temperatur rendah dia membeku. Contohnya seperti minyak kelapa yang ada di mall, warnanya menjadi putih karena ada di ruangan ber-AC,” ucapnya. Hal ini membuat mobil-mobil bermesin diesel bakal susah distarter, terutama saat pagi atau malam hari di daerah yang bersuhu rendah. Misal kawasan Freeport di Papua, atau sejumlah dataran tinggi di Jawa dan Sumatera. “Normalnya memang seperti itu, kalau temperatur rendah beku. Tapi cepat cairnya, tunggu matahari sebentar sudah cair,” ujar Yus.

Republika | Selasa, 14 Januari 2020
Tekan Impor Biosolar, Pertamina Sumbar Salurkan Biodiesel

Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I berupaya mendukung kebijakan Pemerintah untuk menekan angka impor khususnya pada biosolar. Khususnya di Sumatera Barat, Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR I Roby Hervindo mengatakan Integrated Terminal Teluk Kabung di Kota Padang mulai mengimplementasikan Biodiesel 30 persen (B30) per tanggal 4 Januari 2020. Implementasi ini setelah sebelumnya dilakukan pengujian B30 di beberapa Fuel Terminal (FT) milik Pertamina. Penerapan B30 ini menurut Roby mengacu pada keputusan Menteri ESDM No 227 Tahun 2019 tentang penetapan komposisi FAME dari B20 menjadi B30. “Setelah uji coba B30 di Sumatera Utara sukses pada Desember 2019 lalu, awal tahun 2020 di Sumatera Barat mulai disalurkan B30 melalui Integrated Terminal Teluk Kabung,” kata Roby, melalui siaran pers yang diterima Republika, Selasa (14/1). Roby menambahkan sebelum disalurkan, Pertamina MOR I melakukan uji kelayakan produk B30 di Laboratorium Quality and Quantity Integrated Terminal Teluk Kabung. Hasilnya, B30 dinyatakan memenuhi persyaratan spesifikasi.

Integrated Terminal Teluk Kabung mendapat pasokan Fatty Acid Mathyl Ester (FAME) dari PT Ciliandra Perkasa. Roby menambahkan hingga saat ini, Integrated Terminal Teluk Kabung telah menyalurkan B30 sebanyak 2.712 kilo liter per hari untuk 136 SPBU di 18 kota dan kabupaten Sumatera Barat, kemudian di Kota Pekanbaru, serta Kota Dumai, Riau. Roby menjelaskan penggunaan B30 juga berdampak baik pada lingkungan karena mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemerintah RI dan EPA Environmental Protection Agency (EPA) di AS menurut Roby telah melakukan studi komprehensif emisi gas buang di mesin diesel. Kesimpulannya menunjukkan penurunan emisi gas buang untuk berbagai tingkat campuran biodiesel termasuk B30. “Kami ingatkan kembali bahwa Biosolar B30 tergolong BBM bersubsidi. Yang peruntukannya hanya bagi usaha mikro, kapal nelayan dan pertanian. Juga bagi kendaraan transportasi darat, kecuali mobil barang untuk pengangkutan hasil kegiatan perkebunan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam buah,” ujar Roby.
https://www.republika.co.id/berita/q43el2423/tekan-impor-biosolar-pertamina-sumbar-salurkan-biodiesel

Kompas | Selasa, 14 Januari 2020
Tersedia Hampir di Seluruh SPBU, Ini Plus Minus Biodiesel B30

Presiden RI Joko Widodo pada akhir 2019 lalu telah meresmikan program Biodiesel 30 Persen atau B30. Solar B30 disebut sudah bisa dibeli konsumen hampir di seluruh SPBU Pertamina yang ada di Indonesia. “Titik blending kami sudah cukup banyak, dari 28 titik blending yang menyebar di seluruh Indonesia akan disalurkan ke SPBU milik Pertamina di seluruh Indonesia,” ujar VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman, belum lama ini. Untuk diketahui, jenis bahan bakar diesel yang menerapkan kandungan 30 persen Fatty, Acit, Metil, Eter (FAME) yang didapat dari minyak sawit hanya ada pada Biosolar saja. Sementara pada Dexlite atau Pertamina DEX tidak menggunakan kandungan tersebut. “Hanya pada Biosolar saja, manfaat dari B30 ini juga meningkatkan performa mesin. FAME yang bersifat detergency mampu membersihkan mesin kendaraan maupun industri,” ucap Fajriyah. Sementara itu, Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Intitut Teknologi Bandung Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan bahwa campuran solar dengan minyak sawit yang diproses secara biodiesel dapat meningkatkan cetane number. “Ini yang membuat performa mesin lebih baik lagi, selain itu hasil pembakarannya juga menghasilkan lebih sedikit CO (karbon monoksida). Hasilnya emisi juga lebih rendah,” katanya kepada Kompas.com (13/1/2020).

Meski begitu, menurut Yus, campuran biosolar juga memiliki kekurangan. Salah satunya dapat memperpendek usia filter solar dan membeku saat terpapar udara dingin. “Masalah pada filter dapat diakali dengan menggantinya lebih cepat. Untuk yang membeku, karena masih bersifat lemak jenuh, otomatis temperatur rendah dia membeku. Contohnya seperti minyak kelapa yang ada di mall, warnanya menjadi putih karena ada di ruangan ber-AC,” ucapnya. Hal ini membuat mobil-mobil bermesin diesel bakal susah distarter, terutama saat pagi atau malam hari di daerah yang bersuhu rendah. Misal kawasan Freeport di Papua, atau sejumlah dataran tinggi di Jawa dan Sumatera. “Normalnya memang seperti itu, kalau temperatur rendah beku. Tapi cepat cairnya, tunggu matahari sebentar sudah cair,” ujar Yus.
https://otomotif.kompas.com/read/2020/01/14/180607015/tersedia-hampir-di-seluruh-spbu-ini-plus-minus-biodiesel-b30