+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Bauran Energi Terbarukan Segera Mencapai 18%

Investor Daily Indonesia | Jum’at, 12 Oktober 2018

Bauran Energi Terbarukan Segera Mencapai 18%

Pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat dalam menciptakan energi bersih, yakni dengan mematok porsi energi terbarukan sebesar 23% dalam bauran energi nasional pada 2025. Dalam waktu dekat ini, porsi energi terbarukan di Indonesia diproyeksikan naik menjadi 18% dari sebelumnya hanya 13%. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Igna-sius Jonan membeberkan upaya pemerintah selama ini dalam mencapai sasaran target tersebut di hadapan para investor swasta pada diskusi “100 Islands Solution Accelerating the Clean Energy Transition and Resilient Infrastructure” pada acara The 2nd Tri Hita Karana Sustainable Development Forum di Nusa Dua Bali, Rabu (10/10). Sampai saat ini, pemerintah telah berhasil mengembangkan energi terbarukan hingga mencapai 13% dari total bauran energi nasional.

Seiring bertambahnya proyek pembangkit listrik yang memanfaatkan energi terbarukan selesai dibangun, porsi energi hijau ini segera bertambah. “Jika beberapa pembangkit energi baru terbarukan (yang saat ini sedang konstruksi) sudah beroperasi dalam waktu dekat, bisa tercapai 18%,” kata dia dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (11/10). Salah satu penopang pencapaian target bauran energi baru terbarukan ini yakni proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). PLTB komersial pertama di Sidrap, Sulawesi Tengah sebesar 75 Mega Watt (MW) sudah beroperasi sejak April 2018. “Akan ada commissioning\agi di Sidrap Fase II sebesar 72 MW yang teknologinya dari Ganesha, dan PLTB di Kalimantan Selatan sebesar 16 MW,” jelas Jonan.

Selain itu, tambahan setrum energi terbarukan juga diperoleh dari proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang masih dalam tahap konstruksi. “Ke depan, kami tengah mendesain PLTA dengan kapasitas terbesar di Sumatera sebesar 800 MW dan di Sulawesi 500 MW,” kata Jonan. Tak cukup di situ, lanjut Jonan, pemerintan juga memperluas mandatori penggunaan biodesel sebesar 20% (B20) pada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di sektor transportasi. Perluasan ini dimulai sejak 1 September lalu. Pada tahun ini, pemerintah memproyeksikan penyerapan Biodiesel bisa mencapai 3,9 juta kiloliter (KL), yakni untuk solar bersubsidi 2,8 juta KL dan nonsubsidi 1,08 juta KL

Jonan optimis Pemerintah dapat mencapai target bauran energi terbarukan 23% pada 2025. Meskipun target tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri di tengah masih tingginya ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil di masyarakat “Secara pribadi target ini cukup berat. Paling tidak upaya kami mendekati (target) sekitar 20%. Tapi target tersebut sangat memungkinkan untuk dicapai,” tuturnya. Di sektor kelistrikan, mengacu data PLN, dari total kapasitas terpasang pembangkit listrik saat ini 55.958 ribu MW, kapasitas pembangkit energi terbarukan baru sebesar 6.660.3 MW atau 11,9%. Rincinya, kapasitas pembangkit panas bumi 1.948,5 MW, air 4.622 MW, biogas/biomass 198,8 MW, bayu 75 MW. dan surya 16 MW. Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2018-2027, selama 2019-2025, tambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan ditargetkan sebesar 13.741 MW.

Teken Pendanaan

Sementara itu, PLN telah meneken pinjaman pendanaan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Ulumbu Unit 5 dan Mataloko Unit 2-3 dengan total kapasitas 40 MW. Kedua proyek ini ditargetkan akan masuk sistem kelistrikan perseroan pada 2021-2023. Dana yang diperoleh PLN yakni sebesar 150 juta Euro. Pendanaan ini bersumber dari KfW (Kreditanstalt fur Wiederaufbau) Development Bank dengan bentuk pinjaman langsung tanpa jaminan Pemerintah untuk pendanaan Gheothermal Energy Programme. Penandatanganan perjanjian pendanaan dilakukan Direktur Perencanaan Korporat Syovie F Roekman dengan Senior Sector Coordinator KFW Jens Wir th.

Syovie menuturkan, bantuan pendanaan tersebut akan sangat berguna bagi penyelesaian pembangunan PLTP berbasis panas bumi di Flores. Selain itu, adanya pendanaan itu juga membantu PLN dalam mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025. Apalagi, skema pendanaannya cukup ringan. “Dengan bunga yang rendah di bawah 1%, tentu saja hal ini memberikan dampak positif bagi keuangan PLN” kata dia dalam keterangan resminya, Kamis (11/10). Senada dengan PLN, pihak KfW menyebutkan bahwa pendanaan ini adalah lanjutan dari komitmen antara Pemerintah Jerman dengan Indonesia untuk pengembangan energi panas bumi.Adapun proyek PLTP Ulumbu dan PLTP Mataloko dikerjakan guna memenuhi beban puncak pada sistem Flores, terutama sub sistem Ruteng dan sub sistem Bajawa. Selain itu, dua pembangkit ini diharapkan dapat menurunkan biaya pokok produksi atas penggunaan bahan bakar fosil. Namun, target akhir PLN yakni untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pelanggan sistem Flores,

Katadata | Kamis, 11 Oktober 2018

Penggunaan Biodiesel Mencapai 6% dari Total Konsumsi Energi Nasional

Perluasan program biodiesel 20% (B20) yang mulai efektif diberlakukan mulai 1 September 2018 diharapkan dapat mendorong surplus neraca perdagangan di akhir triwulan tahun ini. Kebijakan pemerintah ini juga dapat mendorong permintaan minyak sawit (CPO) domestik sehingga berpotensi memicu kenaikan harga komoditas andalan Indonesia tersebut.

Data Kementerian ESDM mencatat konsumsi energi biodiesel (biofuel) pada 2017 mencapai 79,43 juta barrels oil equivalent (BOE) meningkat 5,4% dari tahun sebelumnya. Jumlah tersebut setara dengan 6,44% dari total konsumsi energi nasional yang mencapai 1,23 miliar BOE. Sementara konsumsi energi nasional terbesar masih berasal dari bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai 356,33 juta BOE atau sekitar 28,88% dari total. Kemudian terbesar kedua biomasa mencapai 306,25 juta BOE atau 24,82% dari total konsumsi energi.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/10/11/penggunaanbiodiesel-mencapai-6-dari-total-konsumsi-energi-nasional

Sawitindonesia | Kamis, 11 Oktober 2018

Musim Mas Dukung Penuh B20

Grup Musim Mas berkomitmen penuh mendukung program B20. Mempunyai pengalaman panjang dan inovasi terdepan dalam menghasilkan produk turunan berbasis sawit. “Kesiapan Musim Mas dalam program B20, tidak perlu dipertanyakan. Kami sudah berpengalaman sebagai produsen biodiesel sejak 2007,” kata Togar Sitanggang, Senior Manager Grup Musim Masdalam wawancara pada pertengahan September 2018.Musim Mas adalah salah satu perusahaan pionir pengembangan biodiesel di Indonesia. Kelompok usaha yang berdiri pada 1932 ini mempunyai visi jangka panjang. Di saat perusahaan lain belum menghasilkan biodiesel, perusahaan mengoperasikan fasilitas produksi biodiesel di Sumatera Utara pada 2007. Kala itu, perusahaan ingin membantu pemerintah mewujudkan program Bahan Bakar Nabati (BBN) salah satunya biodiesel.

Togar menjelaskan bahwa perusahaan memikirkan pembangunan unit produksi biodiesel sebagai upaya membantu program Bahan Bakar Nabati (BBN). Program ini mulai berjalan dengan keluarnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 32/2008 mengenai penyediaan, pemanfaatan, dan tata niaga bahan bakar nabati sebagai bahan bakar lain. Khusus regulasi ini mengatur pemakaian biodiesel di sektor transportasi. “Musim Mas ini sejak awal berkomitmen membantu negara ini dalam mewujudkan pemakaian biodiesel. Kami ingin berpartisipasi melalui refineri yang kami bangun ,” kata Togar. Togar Sitanggang menjelaskan bahwa fasilitas produksi biodiesel perusahaan juga terintegrasi untuk menghasilkan produk oleokimia seperti fatty acid. Lantaran proses produksi biodiesel berasal dari fatty acid dicampur dengan metanol. “Memang awalnya biodiesel kami dihasilkan dari pabrik oleokimia,”jelasnya.

Kekuatan Musim Mas adalah inovasi dan pengalaman. Perusahaan yang awalnya mencetak sabun mandi, kini menjelma sebagai kelompok usaha yang terintegrasi dari hulu, middle, sampai hilir. Togar menuturkan lini bisnis perusahaan sudah terpadu yang mencakup rantai produk sawit. Produk yang dihasilkan bernilai tambah tinggi semisal speciality fats, oleokimia, sabun, lilin, biodiesel, dan produk fungsional lain. Dengan pengalaman sebagai produsen hilir, tidaklah sulit bagi Musim Mas untuk memenuhi permintaan biodiesel untuk dalam dan luar negeri. Togar mengakui pasar luar negeri menjadi target utama pemasaran Musim Mas di awal pabrik biodiesel berdiri. Uni Eropa merupakan negara tujuan utama penjualan biodiesel Musim Mas.

“Makanya, Musim Mas dapat memenuhi syarat Eropa. Produk kami memiliki tingkat CFPP (Cold Filter Plug Point) lebih kurang sepuluh ,”ungkapnya.Saat ini, pabrik biodiesel di Sumatera Utara berkapasitas 400 ribu metrik ton per tahun. Adapula pabrik biodiesel di Dumai berkapasitas 385 ribu metrik ton per tahun dan pabrik biodiesel di Batam berkapasitas produksi 780 ribu metrik ton per tahun. Togar menyebutkan ada satu pabrik biodiesel lagi yang dibangun di Bagendang Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pabrik ini berkapasitas 350 ribu metrik ton. “Dengan adanya pabrik ini, total kapasitas kami sekitar 1,9 juta ton,”jelasnya.

Jejaring Musim Mas sampai ke negara lain. Musim Mas juga mengelola tiga unit pabrik biodiesel di Spanyol dan satu unit di Italia. “Sebelum mandatori berjalan di dalam negeri, fokus penjualan memang ditujukan ke Eropa. Mereka sudah concern penggunaan biofuel,” tambah Togar. Kekuatan Musim Mas menembus pasar luar negeri karena ditopang jaringan logistik dan instalasi tangki yang kuat. Mengutip situs resmi perusahaan, Musim Mas didukung jaringan instalasi tangki yang komprehensif di pelabuhan besar di seluruh Indonesia. Adapula armada truk yang besar, tangki darat, dan kapal untuk memberikan solusi pelayanan terbaik kepada pelanggan.

Merdeka | Kamis, 11 Oktober 2018

Menko Darmin kantongi badan usaha melanggar aturan Solar campur 20% minyak sawit

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengaku sudah mengantongi badan usaha yang tidak mematuhi aturan penggunaan campuran biodiesel (B20).’’Ada banyak apalagi di awal-awal. Saya nggak mau bikin heboh dengan menyebut salah satu,” kata dia saat ditemui, di Hotel Inaya, Bali, Kamis (11/10). “Pokoknya tunggu saja nanti kita sebutkan siapa saja,” imbuhnya. Darmin menambahkan bahwa pemerintah sudah menyiapkan mekanisme sanksi yang akan diberikan kepada badan usaha yang terbukti melanggar peraturan. Meskipun demikian Mantan Gubernur BI ini mengaku masih enggan membeberkan lebih jauh terkait sanksi yang akan diberikan. “Sanksinya Sebenarnya sudah. Kita sudah identifikasi siapa yang kena sanksi, tinggal pelaksanaannya saja,” tandasnya.

https://www.merdeka.com/uang/menko-darmin-kantongi-badan-usaha-melanggar-aturan-solar-campur-20-minyak-sawit.html

Koran-jakarta | Kamis, 11 Oktober 2018

ITB-Pertamina Produksi Katalis untuk Kalangan Industri

Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis (TRK) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama PT Pertamina (Persero) berhasil memproduksi katalis yang dapat digunakan untuk kalangan industri khususnya industri bahan bakar. Sebanyak 17 ton katalis yang dinamakan PK 230 TD itu akan digunakan pada kilang RU-IV Cilacap yang akan digunakan untuk membersihkan fraksi diesel dari pengotor senyawa sulfur dan nitrogen. Rektor ITB, Kadarsyah Suryadi, mengatakan produksi katalis oleh ITB sudah dimulai sejak tahun 2012, namun baru tahun 2016 memiliki paten. Tahun 2018 ini salah satunya berhasil diproduksi untuk kalangan industri, kerja sama dengan Pertamina. Tahun 2019 mendatang ada enam paten yang siap untuk dipakai kalangan industri. “Katalis ini menjadi produk impor yang dibutuhkan oleh Pertamina. Dengan keberhasilan ini maka pengguaan katalis produksi dalam negeri sudah bisa, tak perlu impor banyak-banyak lagi,” katanya di Laboratorium Fisika kampus ITB, Jalan Tamansari Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (11/10).

Menurutnya, beberapa tahun lalu, harga katalis bahkan mencapai 22 dollar AS, namun dengan keberhasilan ITB membuat katalis, harga menjadi turun bahkan mencapai 10 dollar AS per kilogramnya. Selain menjadi lebih murah, kebutuhan katalis pun kini sebagian bisa dipenuhi dari dalam negeri. “Yang menjadi masalah adalah input materialnya. Pasokan minyak sawit harus disiapkan. Tentunya perlu kerja sama dengan Kementerian Pertanian dan juga Perdagangan,” ujarnya. Katalis merupakan suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri.

Kemudahan Regulasi

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, sesuai meresmikan Industri-Katalis Pendidikan, mengatakan keberhasilan riset yang bisa dihilirisasi menjadi produk katalis ini harus didukung pula oleh kemudahan regulasi, ketersediaan bahan baku dan perlindungan keamanan dari pemerintah. Sebab menurutnya, dengan adanya keberhasilan memproduksi katalis di dalam negeri, yang paling terpukul nantinya adalah pelaku importir katalis. Importir tentunya akan kehilangan pasar dalam negeri hingga lebih dari separuhnya. “Kompetitor harus diperhatikan, korban lainnya adalah importir katalis. Tapi saya tegaskan harus berani lawan importir. Sehingga keberpihakan itu penting, pada riset dan pada petani sawit,” tegasnya. Katalis yang dihasilkan ITB dan Pertamina ini mampu merubah produk minyak sawit mentah menjadi bahan bakar hijau yang lebih ramah lingkungan atau bio fuel. Sehingga kedepan, produk minyak sawit akan lebih diarahkan untuk peningkatan produksi bahan bakar ramah lingkungan. “Kalau di Eropa kita dipersulit, ya sudah, dalam negeri saja kita buat untuk bio diesel, green avtur dan lainnya. Sekalian saja kalau ada permintaan dari luar negeri, kita tolak. Habis untuk buat biofuel,” tegas dia. Ia mengatakan jika energi fosil sekitar 30 hingga 40 persen berhasil diganti dengan energi hijau oleh Pertamina, maka tidak akan ada lagi ketergantungan terhadap impor BBM.

http://www.koran-jakarta.com/itb-pertamina-produksi-katalis-untuk-kalangan-industri/