+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Bea Keluar CPO Ditunda, Emiten Sawit Gembira, Emiten pekebun sawit bersiap menyambut program B30

Kontan | Kamis, 3 Oktober 2019

Bea Keluar CPO Ditunda, Emiten Sawit Gembira, Emiten pekebun sawit bersiap menyambut program B30

Pemerintah menunda pungutan bea keluar ekspor minyak sawit mentah atau crude Palm Oil (CPO) dan turunannya. Pertimbangannya, pemerintah tidak ingin membuat harga CPO dan turunannya kian tertekan. Semula, kebijakan ini akan berlaku 1 Oktober 2019. Namun rencana tersebut mundur menjadi 1 Januari 2020. Para produsen CPO menyambut positif kebijakan pemerintah tersebut. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menilai, penundaan pengenaan bea keluar CPO ini meringankan beban industri CPO. Sebab saat ini harga pasar CPO internasional tengah melemah dan berdampak pada korporasi serta petard. Investor Relation Sinar Mas Agribusiness and Food Pinta S Chandra menilai, kebijakan tersebut akan memberikan dukungan terhadap harga buah sawit di Indonesia. Maklum, komposisi penjualan ekspor SMAR sebesar 40%-50% dari total penjualan. Per semester 1-2019, SMAR mencatatkan penjualan sebesar Rp 17,81 triliun. PT Mahkota Group Tbk (MGRO) menilai, jika pungutan bea keluar tetap dilakukan seperti jadwal semula, maka harga CPO di level petani akan jatuh. “Karena pihak pengekspor CPO tentu akan menekan harga untuk mendapatkan keuntungan setelah dibebani bea keluar. Apalagi harga pasaran CPO sedang tertekan,” kata Elvi, Sekretaris Perusahaan MGRO.

Program B30

Meski begitu, pemberlakuan bea keluar CPO mulai 2020 bakal bertepatan dengan penerapan program campuran minyak nabati 30% ke bahan bakar minyak (BBM) jenis solar alias B30. Elvi berpendapat, pemberlakukan secara bersamaan justru positif. Pasalnya, B30 akan memacu pemakaian CPO dalam negeri, sehingga pengekspor tidak tergantung pasar ekspor. PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) sudah bersiap menyambut program B30. Perusahaan ini akan menambah kapasitas pabrik biodiesel di Lampung dan diproyeksikan kelar di akhir 2020. Saat ini, TBLA telah memiliki pabrik di Palembang, Sumatra Selatan dan Surabaya, Jawa Timur. Ekspansi TBLA akan menambah kapasitas pengolahan biodiesel 1.500 ton per hari. Sebelumnya, kapasitas total pabrik biodiesel TBLA cuma 1.000 ton per hari. Wakil Direktur Utama TBLA Sudarmono Tasmin mengatakan, secara tahunan, produksi biodiesel TBLA akan bertambah dari 300.000 ton menjadi 750.000 ton. Permintaan dari dalam negeri menurut dia sudah terlihat. TBLA mengaku telah mendapat pesanan dari Pertamina, AKR dan Shell. Dari luar negeri, TBLA juga dapat permintaan dari China.

Sedang produsen bahan campuran biodiesel, fatty acid methyl ester (FAME) SMAR belum akan menambah kapasitas pabrik. Direktur SMAR Agus Purnomo mengatakan, saat ini, produksi biodiesel hanya 6 juta-7 juta ton per tahun dari kapasitas terpasang secara industri sebesar 12 juta ton per tahun. Penjualan FAME berkontribusi 15% terhadap total pendapatan SMAR. Seluruh FAME ini dn\’ual ke pasar dalam negeri. Untuk pasar internasional, SMAR menjual dalam bentuk CPO yang selanjutnya akan diolah menjadi biodiesel oleh pembelinya di luar negeri.

Kontan | Rabu, 2 Oktober 2019

Program B30 berlaku mulai tahun depan, begini rencana emiten CPO

Pemerintah akan melaksanakan program campuran minyak nabati 30% ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar alias B30 mulai 1 Januari 2020. Program ini bertujuan untuk meningkatkan permintaan CPO domestik yang diharapkan dapat menjadi penopang pergerakan harga CPO internasional. Untuk menyambut program ini, produsen CPO beserta turunannya, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) akan menambah kapasitas pabrik biodieselnya. Berdasarkan catatan Kontan.co.id, ekspansi pabrik ini dilakukan dengan menambah satu lini baru di pabrik yang berlokasi di Lampung. Pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada akhir 2020. Sebagai informasi, saat ini TBLA juga memiliki pabrik di Palembang, Sumatra Selatan dan Surabaya, Jawa Timur. Lewat pembangunan ini, TBLA berencana menambah kapasitas pengolahan biodiesel sebanyak 1.500 ton per hari. Sebelumnya, kapasitas total pabrik biodiesel TBLA hanya 1.000 ton per hari. “Sehingga kapasitas produksi biodiesel kami akan menjadi 2.500 ton per hari,” kata Wakil Direktur Utama PT Tunas Baru Lampung Tbk Sudarmono Tasmin saat dihubungi Kontan.co.id beberapa waktu lalu.

Sementara itu, jika dilihat secara tahunan, produksi biodiesel TBLA akan bertambah dari 300.000 ton menjadi 750.000 ton. Meskipun belum diberlakukan, menurut Sudarmono, program B30 pemerintah telah berpengaruh ke permintaan biodiesel dalam negeri perusahaannya. Ia mengatakan, TBLA mendapat kenaikan permintaan dari Pertamina. Selain itu, PT AKR dan Shell juga sudah mulai mengajukan permintaan biodiesel ke perusahaannya. Sementara itu, dari pasar luar negeri, TBLA juga memperoleh tambahan permintaan, terutama dari China. Akan tetapi, karena kapasitas pabrik sudah hampir penuh, TBLA hanya menjual ke Pertamina dan China. Padahal, Korea, Thailand, dan Taiwan merupakan pasar ekspor potensial bagi perusahaan ini. Di sisi lain, produsen bahan campuran biodiesel, Fatty Acid Methyl Ester (FAME), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) belum berencana menambah kapasitas pabriknya. Padahal, kapasitas pabrik FAME perusahaan ini telah terpakai secara penuh. “Mungkin akan bangun lagi tapi belum tahun ini. Kami masih lihat kelayakan. Baru pikir-pikir,” kata Direktur PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk Agus Purnomo. Di samping itu, menurut Agus, kapasitas pabrik biodiesel secara industri masih cukup untuk memenuhi kenaikan permintaan dalam negeri. Agus mengatakan, saat ini produksi biodiesel hanya sebesar 6 juta ton-7 juta ton per tahun dari kapasitas terpasang secara industri sebesar 12 juta ton biodiesel per tahun.

Sebagai informasi, SMAR saat ini memiliki dua kilang FAME yang masing-masing berkapasitas 300.000 ton per tahun. Kilang tersebut berlokasi di Marunda, Jakarta dan Tarjun, Kalimantan Selatan. Sementara itu, penjualan FAME berkontribusi 15% terhadap total pendapatan SMAR pada semester I-2019 yang sebesar 17,81 triliun. Seluruh FAME ini dijual ke pasar dalam negeri. Untuk pasar internasional, SMAR menjualnya dalam bentuk CPO yang selanjutnya akan diolah menjadi biodiesel oleh pembelinya di luar negeri. Melihat kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan biodiesel, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) juga memiliki niat untuk mengembangkan bisnisnya ke biodiesel. Sekretaris Perusahan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk Swasti Kartikaningtyas mengatakan, biodiesel adalah suatu bisnis yang layak dikembangkan, baik dari segi pengembangan industri sawit dan juga sebagai tindakan nyata untuk beralih ke sumber energi yang dapat diperbaharui. Meskipun begitu, ia belum bisa memastikan kapan perusahaannya akan menggarap bisnis tersebut. “Saat ini, kami fokus dulu untuk integrasi hulu dan hilir industri sawit. Hal ini ditandai dengan mulai beroperasinya perusahaan refinery sebagai bagian dari SSMS, yaitu PT Citra Borneo Indah,” ucap dia. Nantinya, biodiesel juga akan menjadi bagian dari hilirisasi industri sawit ini.

https://investasi.kontan.co.id/news/program-b30-berlaku-mulai-tahun-depan-begini-rencana-emiten-cpo?page=1

Berita Trans | Rabu, 2 Oktober 2019

KAI Gandeng Servo Railway dan Progress Rail Rancang Lokomotif Gunakan Biodiesel 100%

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggandengan Servo Railway dan Progress Rail, untuk merancang lokomotif menggunakan bahan bakar biodiesel 100 persen (B100). Direktur Utama KAI Edi Sukmoro mengatakan, kerja sama itu dicanangkan sebagai tindak lanjut rencana pemerintah dalam meningkatkan penggunaan minyak sawit untuk moda transportasi di dalam negeri, khususnya kereta api. “Kami melihat arahan Presiden, kami mengarah ke B100 karena Indonesia penghasil kelapa sawit yang luar biasa. Kami mendahului dengan MoU atau mencoba rekayasa engineering atas aset yang ada untuk B100,” kata Edi, di Jakarta, Senin (30/9/2019). Armada operasional milik KAI saat ini telah menggunakan biodiesel 20 persen dicampur solar (B20). Sedangkan berdasarkan ujicoba, pemakaian biodiesel sudah naik ke level 30 persen (B30). Secara berjenjang, aset tersebut akan dikembangkan untuk dapat mengonsumsi hingga B100. “Sekarang kan sudah B20 nanti diantisipasi akan ke B30, B40, B50, sampai B100. Armada kita 200 lokomotif lebih, pembangkit kita itu kereta yang membangkitkan AC (air conditioner) dan penerangan hanya sampai B30, makanya kita harus melakukan rekayasa teknologi untuk makan B100,” papar Edi.

Kajian Kelayakan

Founder Servo Railway, Widhi Hartono menjelaskan, tahap awal kerja sama akan dimulai dengan kajian kelayakan (feasibility study) pada aspek teknis dan keekonomian. Dalam tahap ini, KAI dan Servo menggandeng Progress Rail, perusahaan infrastruktur rel kereta anak usaha Caterpillar asal Amerika. “Ide ini diinisiasi oleh Dirut KAI. Peran Servo Railway dan Progress Rail mendukung program Pemerintah untuk pengembangan B100 di lokomotif,” ujar Widhi. Targetnya, tahap kajian akan memakan waktu hingga satu tahun mendatang. Bila hasilnya memuaskan, kerjasama bakal naik ke level pengadaan lokomotif. “Dimulai degan penelitian kemudian jika feasible maka akan dilakukan pengembangan dan pengadaan. Target waktu penelitian satu tahun. Untuk pengembangan dan pengadaan akan ditentukan kemudian tergantung hasil penelitian,” lanjut Widhi.

Proyek Servo Railway

Project Director Servo Railway Muhammad Hanafi mengungkapkan, pihaknya memiliki portofolio bisnis dengan memegang proyek jasa pengangkutan kereta api batu bara di Sumatera Selatan (Sumsel). Trayeknya dari Kabupaten Lahat menuju Kabupaten Ogan Ilir. Saat ini, proyek tersebut masih dalam proses persiapan konstruksi. “Selain mensuplai KAI, Servo Railway sebagai pemegang izin perkeretaapian khusus juga akan menggunakan sendiri lokomotif B100 tersebut untuk mengangkut batu bara dari Lahat ke Ogan Ilir. Apalagi trase Servo tersebut melewati perkebunan sawit di Sumsel, jadi meningkatkan multiplier effect,” paparnya. Terkait kajian B100 untuk lokomotif ini, prosesnya akan dimonitor oleh ketiga pihak. Fokus kajian memastikan kalau penggunaan bahan bakar berbasis minyak sawit ini tidak merusak mesin. “Terutama bagaimana B100 tidak hanya dapat membuat bahan bakar yang efisien, tapi tidak bermasalah pada performance engine dan perawatannya,” tandasnya.

Digulirkan Tahun Lalu

Sebagai informasi, biodiesel merupakan minyak kelapa sawit atau fatty acid methyl ester (FAME) yang dicampurkan pada bahan bakar solar. Untuk B20, komposisi sawit tercatat sebesar 20 persen. Program biodiesel digulirkan oleh Pemerintah sejak tahun lalu. Selain ditujukan untuk menggenjot konsumsi sawit di pasar domestik, biodiesel juga dinilai dapat menekan emisi udara dari kendaraan.

http://beritatrans.com/2019/10/02/kai-gandeng-servo-railway-dan-progress-rail-rancang-lokomotif-gunakan-biodiesel-100/