+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Berharap Ada Jalan Tengah

Republika | Jum’at, 22 Maret 2019

Berharap Ada Jalan Tengah

Pemerintah Indonesia diharapkan bisa menemukan solusi yang sama-sama menguntungkan dengan Uni Eropa terkait persoalan sawit. Upaya retaliasi terhadap rencana Uni Eropa mengurangi penggunaan minyak sawit diharapkan dapat dipertimbangkan ulang. Ketua Umum Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor mengatakan, hubungan ekonomi yang sudah terjalin antara Indonesia dan Uni Eropa perlu menjadi pertimbangan pemerintah. “Kami tentu maunya win-win solution. Retaliasi bukan hal bagus,” kata Tumanggor, Kamis (21/3). Menurut dia, Indonesia dan negara-negara Uni Eropa sama-sama akan mengalami kerugian apabila tak bisa membuat kesepakatan. Indonesia, kata dia, akan mengalami kerugian dari sisi ekspor. Pasalnya, ekspor sawit ke Uni Eropa memberikan kontribusi besar dalam neraca perdagangan. “Sementara bagi industri di sana (Uni Eropa), mereka kesulitan mendapatkan bahan baku sawit,” ujarnya. Karena itu, Tumanggor menyarankan pemerintah mengedepankan langkah diplomasi. Selain itu, menurut dia, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif dengan menggenjot konsumsi CPO di dalam negeri. Dengan demikian, ujar dia, volume ekspor sebesar 6 juta ton per tahun dapat dialokasikan sebagian untuk kebutuhan energi dalam negeri.

“Dengan begitu, konsumsi di dalam negeri bisa meningkat hingga 15 juta ton per tahun,” ujar Tumanggor. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor minyak sawit Indonesia secara keseluruhan (CPO dan produk turunannya) pada 2018 naik 8 persen dari 32,18 juta ton pada 2017 menjadi 34,71 juta ton. Terjadi peningkatan ekspor ke beberapa negara tujuan, yaitu Cina, Bangladesh, Pakistan, negara-negara Afrika, dan Amerika Serikat. Ke Bangladesh, misalnya, ekspor naik 16 persen. Namun, ekspor ke Uni Eropa turun 5 persen dari 5,03 juta ton pada 2017 menjadi 4,78 juta ton pada 2018. Kepala Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) Aziz Hidayat mendorong perusahaan sawit untuk memiliki sertifikasi ISPO. Dia menilai sertifikasi ISPO dapat menangkal kampanye negatif terhadap industri perkebunan sawit di Indonesia. “Tidak dimungkiri saat ini kampanye negatif terhadap industri sawit di Indonesia semakin gencar. Dengan adanya sertifikasi ISPO oleh perusahaan, tentu bisa menangkal isu negatif tersebut,” katanya dalam acara 3rd Borneo Forum yang digelar Gapki se-Kalimantan di Pontianak, Kamis (21/3).

Ia juga tidak memungkiri, meski ada ISPO, serangan negatif terhadap industri Kelapa Sawit di Indonesia tetap besar. Akan tetapi, hal tersebut diharapkan tak menyurutkan semangat industri untuk terus memperbaiki tata kelola sawit. “Salah satunya melalui sertifikasi ISPO,” katanya. Program ISPO sudah dibentuk sejak 2009. Tujuannya agar semua pengusaha Kelapa Sawit memehuhi standar pertanian. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah pembukaan lahan dilakukan tanpa membakar. Aziz mengungkapkan, sejauh ini sudah ada 722 pelaku usaha perkebunan di Indonesia yang mengikuti sertifikasi ISPO. “Bagi perusahaan yang sudah ISPO namun tidak berkomitmen tentu dievaluasi. Hingga saat ini sudah ada empat perusahaan yang sudah memiliki sertifikasi ISPO dicabut,” katanya. Pihaknya terus mendorong perusahaan perkebunan sawit untuk mendaftarkan serti- fikasi ISPO perusahaannya karena masih banyak perusahaan yang belum mematuhi ketentuan tersebut. Dia menegaskan, ada banyak, manfaat dengan penerapan ISPO. Di antaranya adalah peningkatan kualitas dan produktivitas sawit. “Kita terus mendorong perusahaan segera mengurus ISPO,” ujar Aziz. Menurut dia, perlu peran banyak pihak untuk membumikan ISPO, tak terkecuali auditor. Dia mengatakan, auditor yang mumpuni akan memberikan kualitas yang baik bagi perusahaan. Peran akademisi juga sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang ISPO, baik melalui FGD, seminar, maupun kajian lainnya. “Pelaku usaha tentu yang paling aktif. Maka silakan didaftarkan sertifikasi ISPO. Komunitas dari LSM atau masyarakat juga harus memiliki andil.”

Jawa Pos | Jum’at, 22 Maret 2019

Batasi MFO, Manfaatkan B20

Impor migas menjadi biang kerok defisitnya neraca dagang Indonesia. Maka, dengan berbagai cara, pemerintah berusaha menekan impor migas. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar menyebut pemanfaatan biodiesel dan imbauan agar perusahaan tidak mengimpor bahan bakar kapal (MFO atau marine fuel oil) sebagai dua cara efektif. Kebijakan biodiesel, menurut Arcandra, bisa mengurangi impor solar. “Jadi, kita updateberapa dampak dari B20 ini,” ujarnya pada Kabu malam (21 /3). Dia menambahkan, pembelian minyak mentah dari kontraktor juga bisa mengurangi besaran impor. Setidaknya pembelian langsung minyak mentah oleh Pertamina dari KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) bisa menghemat impor minyak hingga paro akhir semester I. Data SKK Migas menunjukkan, jatah minyak mentah KKKS di Indonesia berkisar 240 ribu barel. Sebagian sudah siap diserap Pertamina. Nanti strategi itu mengurangi impor minyak mentah RI. BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat volume impor minyakmentah turun drastis pada Februari lalu. Pada periode yang sama tahun lalu, volume impor mencapai 1,8 ribu ton. Tahun ini volumenya hanya 0,7 ribu ton atau turun kira-kira 61,45 persen. Kementerian ESDM menyebutkan bahwa kebutuhan BBM mdonesia saatini 1,6 juta barelperhari Sementara itu, lifting minyak hanya berkisar 800 ribu barel per hari (bph). Akibatnya, 50 persen kebutuhan BBM dan minyak mentah dalam negeri harus diambilkan dari negara lain alias impor. Di sisi lain, kapasitas kilang Pertamina sekitar 1 juta bph dengan kapasitas terpakai 850 ribu bph. Namun, lifting nasional yang bisa diserap hanya 560 ribu bph. Artinya, Pertamina harus impor minyak mentah 250 sampai 300 ribu bph. Padahal, selama ini sebagian lifting KKKS juga diekspor. Dalam kesempatan itu, Arcandra juga mengimbau perusahaan tidak mengimpor MFO. Sebab, kini Pertamina sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Dari ketiga itu, tiga-u\’ganya lumayan. Nanti kita lihat buat apa sih MFO di operasi mereka. Jika untuk alat-alat berat saja, rasanya cukup,” jelasnya. Beberapa perusahaan tambang yang menggunakan MFO, seperti AKB dan Vale, sudah meneken perjanjian dengan Pertamina supaya tidak impor lagi.

Bisnis Indonesia | Jum’at, 22 Maret 2019

Pindad Nantikan Regulasi dari Kemenhan

Penerapan pemanfaatan biodiesel (B20) secara luas untuk kendaraan taktis tinggal menanti persetujuan dari Tentara Nasional Indonesia serta adanya regulasi terkait dengan perizinan dari Kementerian Pertahanan. Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose menyebutkan, uji coba penggunaan biodiesel B20 bagi kendaraan taktis Pindad Komodo telah dilakukan dan tidak ditemui adanya masalah. “Untuk kila full pakai B20 tentunya kita minta izin karena apakah nanti dari pihak TNI [dan] Kementerian Pertahanan sudah mengizinkan untuk kita menggunakan full untuk kendaraan tempur kita. Namun, secara operasional, secara teknikal itu no problem,” ujarnya di sela-sela perayaat HUT Ke-21 BUMN, Kamis (21/3). Abraham menjelaskan, uji coba ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kondensasi pada perangkat penyaringan mesin kendaraan atau kendala lain yang berpotensi menyebabkan alat taktis ini harus menjalani perawatan lebih sering ketika menggunakan biodiesel ketimbang bahan bakar solar biasa.

Setelah uji coba ini berakhir dan pemanfaatan biodiesel untuk kendaraan taktis disahkan, menurutnya, konsumsi biodiesel di bidang sarana pertahanan akan meningkat drastis. Sedikitnya, saat ini ada 1.000 unit kendaraan yang bisa memanfaatkan biodiesel ini mulai dari tank, ekskava-tor, armored personnel carrier (APC), dan lain-lain. “Karena lebih spesifik, mesin-mesin itu kan high pressure sehingga jangan sampai kita kirim ke UN [PBB], [kinerjanya] terpengaruh,” tambahnya. Alat pertahanan buatan Pindad saat ini tidak hanya digunakan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke sejumlah negara. Tak jarang, alat-alat ini juga dimanfaatkan dalam misi perdamaian yang dihelat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lebih lanjut, Abraham menjelaskan bahwa jika uji coba ini berakhir dan izin pemanfaatan biodiesel B20 untuk kendaraan taktis telah keluar, misi berikutnya adalah melakukan uji coba pemanfaatan B50. Namun, dia belum bisa memasukan kapal hal ini akan mulai dijalankan.

“Kalau dari B20 berhasil, malah kami mau coba ke B50. B20 nya selesai kami akan naik,” ujarnya. Pun, jika izin pemanfaatan telah terbit, penggunaan B20 tidak akan menjadi suatu man-datori atau kewajiban. Pindad tetap akan memproduksi alat atau kendaraan taktis yang bisa memanfaatkan bahap bakar solar biasa. Sebelumnya, Menteri Ener gi dan Sumber Daya Mine ral (ESDM) Ignasius Jonan menyebutkan, implementasi perluasan mandatori program B20 dan pembelian minyak mentah bagian dari kontraktor minyak dan gas bumi di dalam negeri kepada Pertamina telah membantu kinerja neraca perdagangan nasional. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor mencapai US$12,53 miliar, sedangkan nilai impor US$12,20 miliar pada Februari 2019. Alhasil, neraca perdagangan nasional tercatat mengalami kinerja yang positif. Faktor pendorongnya karena program B20 dan program pembelian minyak mentah bagian dari kontraktor migas di dalam negeri,” katanya.

Liputan6 | Kamis, 21 Maret 2019

Kesiapan Toyota Produksi Mesin untuk Bahan Bakar Terbarukan

Langkah pemerintah dalam memanfaatkan energi terbarukan melalui program biodiesel sudah disiapkan produsen dengan baik. Toyota Motor Manufacturing Indonesia ( TMMIN) mengungkapkan kesiapan untuk penerapan bahan bakar sesuai program pemerintah. “Dari B7, B10, B20, bisa. Termasuk nantinya B100. Tapi sekarang B20 dulu karena semua model harus compatible,” ucap Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono, saat ditemui Selasa (19/3/2019) lalu. Warih mengungkapkan apapun jenis bahan bakarnya, yang terpenting adalah memiliki reability dan durability yang baik. Untuk itu perihal bahan bakar, ada beberapa komponen yang harus disesuaikan pada mesin supaya tidak mengurangi performa mesin yang ada. Toyota sendiri berpengalaman dalam memproduksi mesin untuk bahan bakar etanol 100 yang diekspor ke Amerika Selatan. Nantinya bila ada keinginan pemerintah untuk melengkapi dengan mesin etanol, Warih mengungkapkan mereka siap memproduksi. “Tapi sekarang kita sedang perjuangkan dengan biodiesel. Terdekat sedang disiapkan B30. Dan ini kita tunggu studi bersama pemerintah. Masih studi,” ucap Warih. Lantas antara etanol dan biodiesel, manakah yang pas untuk Indonesia? Warih menjelaskan jika hal tersebut lebih ke arah harga bahan bakar. Jika harga yang ditawarkan tidak pas, tentu tidak akan populer menjadi pilihan konsumen. “Semua stake holder memikirkan itu. Bagaimana konsumen nanti menerima energi baru. Sekarang B20 sudah, berikutnya bagaimana. Produk yang ada semua harus ready, dari Toyota juga,” ucap Warih.

https://otomotif.kompas.com/read/2019/03/21/112400115/kesiapan-toyota-produksi-mesin-untuk-bahan-bakar-terbarukan?utm_source=Facebook&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sticky_Dekstop

Liputan6 | Kamis, 21 Maret 2019

Pakai Biodiesel di Mobil Tempur Komodo, Pindad Masih Tunggu Izin

Komodo, kendaraan tempur produksi PT Pindad (Persero), bakal menggunakan bahan bakar biodiesel. Saat ini, kendaraan berbobot 7,5 ton yang bisa memuat 10 orang dengan kapasitas bensin 200 liter tersebut masih menunggu izin penggunaan. Direktur Utama Pindad Abraham Mose mengatakan, secara teknis, penggunaan biodesel pada kendaraan tempur aman dan tidak bermasalah. “Kami sudah coba untuk komodo dan sebenarnya secara operasional sampai saat ini enggak ada masalah, berjalan,” ujarnya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (21/3/2019). “Tapi untuk kita full pakai B20 tentunya kita minta regulasi, bukan regulasi tapi izin. Karena apakah nanti dari pihak TNI, kementerian Pertahanan sudah mengizinkan untuk menggunakan full B20 untuk kendaraan tempur kami,” dia menambahkan. Penggunaan biodesel sangat mungkin diimplementasikan pada kendaraan tempur Komodo. Tetapi, tetap proses perizinan harus dilalui terlebih dahulu oleh perusahaan. “Untuk industri pertahanan memang sementara belum karena ada proses perizinan. Karena lebih spesifik karena mesin-mesin itu kan high pressure sehingga jangan sampai kita kirim ke United Nation, terpengaruh. Sehingga sekarang kita lagi coba dengan B20 tapi alhamdulillah tidak ada masalah,” ungkapnya. Kendati begitu, pihaknya memastikan, jika mobil tempur Komodo dapat menggunakan biodesel 20 persen, maka kendaraan lain perseroan dipastikan juga akan bisa menggunakan B20 secara aman. “Kalau di komodonya sudah berhasil berarti untuk peralatan-peralatan kita yang eskavator yang reguler APC yang untuk passenger, itu pasti bisa.Karena kalau komodo kan lumayan, kendaraan taktis yang bisa dipakai di medan-medan tempur juga itu aja udah bisa masa yang di komersial nggak bisa,” pungkasnya.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3922680/pakai-biodiesel-di-mobil-tempur-komodo-pindad-masih-tunggu-izin

Bisnis | Kamis, 21 Maret 2019

Uji Coba Biodiesel B20 Bagi Kendaraan Taktis TNI Berhasil Dilakukan

Penerapan pemanfaatan biodiesel secara luas untuk kendaraan taktis tinggal menanti persetujuan dari pihak tentara nasional Indonesia serta adanya regulasi terkait perizinan dari Kementerian Pertahanan. Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose menyebutkan uji coba penggunaan biodiesel B20 bagi kendaraan taktis Pindad Komodo telah dilakukan dan tidak ditemui adanya masalah. “Untuk kita full pakai B20 tentunya kita minta izin. Karena apakah nanti dari pihak TNI [dan] Kementerian Pertahanan sudah mengizinkan untuk kita menggunakan full untuk kendaraan tempur kita. Namun, secara operasional, secara teknikal itu no problem,” ujarnya di sela-sela perayaan HUT BUMN ke 21 yang diadakan di Kampus Universitas Singaperbangsa, Kamis (21/3/2019). Abraham menjelaskan uji coba ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kondensasi pada perangkat filtering mesin kendaraan atau kendala lain yang berpotensi menyebabkan alat taktis ini harus menjalani perawatan lebih sering ketika menggunakan biodiesel ketimbang bahan bakar solar biasa. Setelah uji coba ini berakhir dan pemanfaatan biodiesel untuk kendaraan taktis disahkan, menurutnya, konsumsi biodiesel di bidang saran pertahanan akan meningkat drastis. Sedikitnya, saat ini ada 1.000 unit kendaraan yang bisa memanfaatkan biodiesel ini mulai dari tank, eskavator, armored personnel carrier (APC) dan lain-lain. “Karena lebih spesifik, mesin-mesin itu kan high pressure sehingga jangan sampai kita kirim ke UN, [kinerjanya] terpengaruh,” tambahnya. Seperti diketahui, alat pertahanan buatan Pindad saat ini tak hanya digunakan di dalam negeri tetapi juga diekspor ke sejumlah negara lain. Tak jarang, alat-alat ini juga dimanfaatkan dalam misi perdamaian yang dihelat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/UN). Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa jika uji coba ini berakhir dan izin pemanfaatan biodiesel B20 untuk kendaraan taktis telah keluar, misi berikutnya adalah melakukan uji coba pemanfaatan B50. Namun, dia belum bisa memastikan kapal hal ini akan mulai dijalankan. “Kalau dari B20 berhasil, malah kita mau coba ke B50. B20 nya selesai kita akan naik,” ujarnya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190321/44/902765/uji-coba-biodiesel-b20-bagi-kendaraan-taktis-tni-berhasil-dilakukan

Republika | Kamis, 21 Maret 2019

Pindad Rancang Mobil Tempur Berbasis Biodiesel

Produsen produk militer pelat merah, PT Pindad (Persero) melakukan uji coba mobil tempur berbahan bakar biodiesel B20. Hasil uji coba tersebut dinyatakan berhasil dan membuat kendaraan lebih efisien dalam menggunakan bahan bakar. Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose, mengatakan, secara operasional hingga saat ini belum ditemukan masalah pada kendaraan. Mobil tempur yang dirancang menggunakan B20, yakni mobil tempur Komodo yang mampu dijalankan di medan perang yang berat. “Secara teknikal sampai saat ini tidak ada masalah. Kita sudah terapkan di Komodo. Tapi, untuk bisa full memakai B20 kita butuh izin dari pemerintah,” kata Abraham saat ditemui di Karawang, Jawa Barat, Kamis (21/3). Ia menuturkan, hanya terdapat sedikit kendala ketika Komodo menggunakan bahan bakar B20. Kendala tersebut terletak pada proses penyaringan B20 yang terjadi kondensasi saat mesin menyala. Hanya saja, masalah itu tidak begitu besar. Secara umum, penggunaan B20 justru memudahkan kendaraan dalam perawatan serta lebih hemat dalam menggunakan bahan bakar. Sementara ini, perseoran menanti izin resmi dari Kementerian Pertahanan agar kendaraan tempur yang diproduksi oleh Pindad dapat secara legal menggunakan B20. Sebab, hingga saat ini industri pertahanan domestik, terutama dalam kendaraan tempur belum ada yang memakain B20.

Sebagai informasi, B20 merupakan bahan bakar yang terdiri dari 20 persen bakar nabati dan 80 persen minyak bumi. Menurut Abraham, dari keberhasilan itu, ia optimistis nantinya kendaraan tempur yang diproduksi oleh Pindad bisa mengunakan B20 secara penuh. “Untuk sementara memang belum bisa penuh menggunakan karena proses perizinan,” ujarnya. Setelah sukses mengembangan mobil tempur Komodo, Abraham mengatakan, perseoran selanjutnya akan mengembangan kendaraan amphibi, penumpang, hingga eskavator yang bisa menggunakan B20. Sementara itu, Pindad akan kembali melakukan penyempurnaan mesin pada mobil tempur Komodo agar proses penyaringan B20 saat mesin menyala bisa berjalan baik. Sebab, hal itu lama kelamaan bisa berdampak kepada umur mesin yang lebih pendek dari mesin yang biasa menggunakan bahan bakar biasa. “Kita running terus. Kalau B20 berhasil, kita mau coba ke B50,” ujarnya.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/popqyy370/pindad-rancang-mobil-tempur-berbasis-biodiesel