+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Berita Palembang : Chevrolet Dukung Penggunaan B20. Berikut Produk Pengguna B20

Tribunnews | Rabu, 17 Oktober 2018

Berita Palembang : Chevrolet Dukung Penggunaan B20. Berikut Produk Pengguna B20

Untuk mendukung Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penggunaan biodiesel bagi kegiatan sektor non-Public Service Obligation (PSO), Chevrolet Palembang juga memasarkan produk kendaraannya double cabin Colorado dan TrailBlazer yang sudah bisa memakai B-20. “Mobil kita, double cabin Colorado dan TrailBlazer itu udah bisa pakai B20.Ini bahan bakar solar dengan kualitas 20 persen nabati. Chevrolet mendukung peraturan pemerintah perihal B20 dengan hadirnya The All-New Chevrolet Colorado dan The New Chevrolet TrailBlazer, yang sudah B20 Biofuel Compatibility,” ungkap Sales Manager Chevrolet Palembang, Mirwan Nasri melalui Asep Supriyatna SE RFP, Corporate Business Development Chevrolet Palembang, Rabu (17/10/2018). Sehingga kata Asep, ini menjadi pilihan terbaik untuk penerapan peraturan pemerintah B20 serta jawaban bagi pengusaha atau perusahaan, khususnya yang bergerak pada industri tambang, gas dan minyak, sebagai kendaraan operasi. “Perpres untuk solar (B-20) sudah berlaku per 1 september 2018, implementasi saat ini, dan mungkin punishment bagi pengusaha tidak memakai B-20 denda hingga pencabutan izin. Suplai B-20 dari Pertamina selama ini tidak di SPBU melainkan langsung kawasan industri, di tambang. Rencananya nanti akan disuplai ke SPBU. Mobil tangki ke lokasi. Di promo mobil kita tertera 2.5L Duramax Diesel Engine dengan B20 Biofuel Compatibility,” jelasnya.

Untuk program saat ini masih berlaku Promo Paket Oktober Bahagia. Meliputi Cash back puluhan juta, angsuran ringan, DP ringan, Free Perawatan meliputi (Free Jasa Service, Free Oli, Free Spare Part) Selama 3 Tahun ATAU 60.000 KM. “Syarat dan etentuan berlaku. Tunggu apa lagi? Test drive dan rasakan sensasi all varian produk Chevrolet. Info bisa menghubungi Asep Supriyatna Corporate Business Development 0811780 2111,” ujarnya. Implementasi mandatori pencampuran 20 persen biodiesel di dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar (B-20) sudah terlaksana mulai 1 September 2018. Setelah kebijakan ini berjalan, ia berharap Indonesia sudah bisa mengurangi impor migas yang selama ini membebani neraca perdagangan Indonesia. Presiden Joko Widodo pernah menyebut implementasi B-20 bisa menyelesaikan sepertiga dari permasalahan defisit transaksi berjalan yang saat ini tengah dialami Indonesia. Ini lantaran penghematan impor yang didapat Indonesia bisa sangat besar. Jokowi menyebut Indonesia setidaknya bisa menghemat impor BBM sebesar US$5,9 miliar per tahun dengan asumsi harga minyak US$70 per barel. Dengan mengambil asumsi defisit transaksi berjalan tahun 2017 sebesar US$17,3 miliar, maka penghematan itu setara dengan 34,1 persen dari total defisit transaksi berjalan. “Lebih dari sepertiga dari Current Account Deficit (CAD) Indonesia bisa terselesaikan dengan biodiesel. Ini akan menyelesaikan CAD kami. Jadi sekali lagi saya minta kesungguhan agar implementasi B-20 ini betul-betul dilaksanakan,” jelas Jokowi.

http://palembang.tribunnews.com/2018/10/17/berita-palembang-chevrolet-dukung-penggunaan-b20-berikut-produk-pengguna-b20

Medanbisnisdaily | Rabu, 17 Oktober 2018

Presiden Tegur Menteri

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegur para menteri yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program biodiesel 20% (B20). Biodiesel tersebut sebagai bahan campuran BBM jenis solar. “Berkaitan dengan program B20 saya nanti minta laporan, harus dipastikan eksekusinya di lapangan,” kata Jokowi saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/10). Sebelumnya pemerintah berniat memberikan sanksi berupa denda kepada badan usaha, baik badan usaha bahan bakar minyak (BU BBM) dan badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) yang tidak menyalurkan B20. Adapun potensi denda yang tercatat pemerintah ialah Rp 270 miliar. Denda akan dikenakan kepada enam perusahaan, yang terdiri dari lima badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) dan satu BU BBM. Indikasi kesalahan karena mereka tidak menyuplai fatty acid methyl ester (FAME) ke Terminal BBM sehingga masih ada SPBU yang menjual B0 atau belum menerapkan biodiesel sebagai bahan campuran BBM jenis solar, padahal pemerintah sudah mewajibkan penerapan B20 mulai 1 September 2018. Jokowi mengungkapkan, teguran dilontarkan agar menteri terkait bisa memberikan laporan atas pelaksanaan B20 kepada dirinya. Apalagi, dirinya mengaku mendengar langsung bahwa implementasi program tersebut belum berjalan lancar.”Saya mendengar ada masalah pasokan dari CPO-nya di lapangan, saya nanti minta laporan mengenai hal ini,” ujarnya.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, penyaluran B20 saat ini sudah semakin baik, meski belum maksimal. Satu masalah yang dijumpai di lapangan ialah masalah logistik dan transportasi. “(B20) lancar Alhamdulillah, makin lancar. Apa sudah maksimum? Kami mengakui belum. Ya masih ada isu di logistik, transportasi. Bukannya kita tidak mitigasi, tapi di luar ekspektasi kita,” ujarnya.

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2018/10/17/361615/presiden_tegur_menteri/

Kontan | Rabu, 17 Oktober 2018

Transportasi Jadi Kendala Pendistribusian B20

Kebijakan biodiesel 20% atau B20 yang telah diterapkan sejak September 2018 lalu masih mengalami kendala dalam pendistribusian unsur bahan baku nabati B20 dari produsen ke daerah-daerah. Direktur Asian Agri Fadhil Hasan menyebut sulitnya menyiapkan kapal pengangkut dengan waktu yang sempit dan dibatasi menjadi salah satu kendala implementasi kebijakan ini.”Itu memang salah satu yang jadi masalah. Waktu kontraknya kan 14 hari, antara yang kontrak Pertamina sampai delivery itu, kan kapalnya kan harus disiapkan, kadang susah kapal, lokasinya jauh,” ujar Fadhil. Namun sejauh ini ia menyebut permintaan di daerah meningkat, tapi tidak diimbangi dengan pengadaan kapal. Ini lalu menjadi kendala semakin berat. Namun demikian, ia berharap dengan keterlibatan Menko Perekonomian dalam melakukan evaluasi, penerapan B20 diharapkan akan semakin membaik. “Membaik ya, sudah berjalan waktu September itu, kan memang ada banyak ketidaksiapan dari berbagai pihak. Tapi tiap minggu dilakukan evaluasi oleh Kemenko itu sehingga semakin ke sini semakin baiklah,” kata Fadhli. Fadhli menyebut implementasi B20 ini akan semakin membaik dan target penghematan bisa tercapai jika penyerapan CPO (Crude Palm Oil) mencapai 7 juta ton per tahun.

https://industri.kontan.co.id/news/transportasi-jadi-kendala-pendistribusian-b20

Agroindonesia | Rabu, 17 Oktober 2018

Jepang Minati Teknologi Hasil Hutan Indonesia

Dikenal sebagai pusat perkembangan teknologi dunia, Jepang ternyata meminati teknologi hasil hutan yang dikembangkan Indonesia. Adalah teknologi pembuatan bioetanol berbasis aren yang dikembangkan Badan Litbang dan Inovasi cq Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menarik minat Universitas Kyushu, Jepang untuk ikut bermitra mengembangkan lebih lanjut teknologi tersebut. Hal itu menjadi salah satu capaian positif dari Indonesia Innovation Day yang digelar di International Convention Center, Universitas Kobe, Kobe, Jepang, Selasa (16/10/2018). Kemitraan antara P3HH dan Universitas Kyushu dituangkan dalam surat pernyataan niat (Letter of Intent/LoI) antara kedua belah pihak. LoI diteken oleh Dr Wening Sri Wulandari yang mewakili P3HH dan Profesor Takuya Kitaoka, PhD yang mewakili Universitas Kyushu.

Menurut Wening, kemitraan bertujuan untuk mengembangkan penelitian kolaboratif dan publikasi tentang teknologi pengolahan bioetanol dari aren dan aplikasi nanocellulose. “Teknologi pemanfaatan aren (Arenga pinnata Merr) saat ini telah diimplementasikan di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo melalui pengembangan Desa Mandiri Berbasis Aren,” kata dia dalam pesan singkatnya, Rabu (17/10/2018). Teknologi yang dikembangkan P3HH mengolah air aren menjadi bioetanol berkadar tinggi untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Pengolahan bioetanol aren dirancang tidak membutuhkan biaya besar dan ekonomis.Alat produksi bioetanol aren tersebut merupakan rancangan peneliti bioenergi P3HH Djeni Hendra. Alat tersebut terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah untuk menghasilkan cairan fermentasi aren. Sementara bagian kedua adalah alat penyulingan untuk memurnikan etanol.

Menggunakan peralatan tersebut, dari 25 liter air nira bisa dihasilkan 2 liter etanol. Etanol yang dihasilkan bisa mencapai kadar 89%, tergantung kualitas air nira yang digunakan. Berdasarkan hasil pengujian, 1 liter bioetanol aren bisa digunakan untuk memasak setara dengan pemakaian tabung gas 3 kilogram. Atau jika dipakai terus menerus bisa digunakan selama enam jam. Ini jelas jauh lebih hemat. Pasalnya, tabung gas 3 kilogram saat ini dijual dengan harga sekitar Rp25.000, bahkan lebih mahal di lokasi yang ada di pedalaman hutan. Sementara biaya produksi bioetanol nira hanya sekitar Rp8.000 per liter. Itu berarti ada penghematan lebih 60%. Wening mengungkapkan, selain kemitraan untuk penelitian aren, juga terdapat potensi kerjasama pengembangan desain batik struktur anatomi kayu dengan Balai Besar Kerajinan Batik dan Shop Kecak Jepang. Ada juga penjajagan kerja sama penentuan jenis kayu yang cocok untuk instrumen akustik (gitar) dengan Yamaha. Ltd yang akan dibantu kolaborasinya oleh Kyoto University. Selain teknologi pengolahan aren, pada Indonesia Innovation Day 2018 juga dipamerkan Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO), dan Xylarium Bogoriense Indonesia Innovation Day 2018 merupakan sarana promosi inovasi Pusat Unggulan IPTEK (PUI) dari lembaga litbang dan Perguruan Tinggi. Ada 40 produk inovasi PUI dari berbagai Lembaga Litbang PUI di Indonesia yang dipromosikan pada kesempatan tersebut. Produk inovasi yang ditampilkan adalah inovasi di bidang pangan, energi, kesehatan, sosial–budaya, telekomunikasi, informasi, dan komunikasi, material maju dan kemaritiman.

Suaramerdeka | Rabu, 17 Oktober 2018

Jonan: B20 Terus Jalan

Menteri ESDM, Ignasius Jonan menegaskan perluasan mandatori campuran biodiesel B20 terus berjalan. Hanya saja, lajunya tak bisa cepat apalagi langsung 100 persen. “Sampai pekan lalu, progresnya sekitar 60-65 persen. Harapannya pelan-pelan sampai 100 persen, kita dorong terus, karena sudah ada aturannya,” katanya di Bandung, Rabu (17/10). Diingatkan, bahwa penerapan program tersebut sudah berlangsung dua tahun. Cakupannya yang semula hanya solar PSO diarahkan pula ke non PSO. “Yang sekarang PSO dicampur termasuk non PSO, yakni gas oil yang cetane numbernya (CN) 48 yang jumlahnya mencapai 14,5 juta kilo liter setahun,” katanya. Dalam kaitan itu, mantan Dirut PT KAI itu menyebut bahwa gap konsumsi bahan bakar harus segera ditutup. Terlebih produksi minyak bumi tak mudah untuk dinaikan. Pihaknya pun sangat mendukung pengembangan bahan bakar terbarukan. “Bahan bakar di kita harus diubah menjadi bahan bakar ramah lingkungan, karena tak bisa gunakan bahan bakar fosil sepanjang masa,” jelasnya. Pihaknya pun menyambut baik kehadiran katalis yang berguna mengonversi bahan baku.

https://www.suaramerdeka.com/news/baca/135359/jonan-b20-terus-jalan

Republika | Rabu, 17 Oktober 2018

Penerapan B20 Diklaim Semakin Membaik

Penerapan aturan B20 diklaim semakin membaik meskipun pada September mengalami banyak ketidakpastian dari berbagai pihak. Penerapan B20 pun berdampak pada perekonomian negara. “Setiap minggu dilakukan evaluasi oleh Kemenko sehingga semakin ke sini semakin baiklah,” ujar Direktur Corporate Affairs Asian Agri M Fadhil Hasan saat ditemui di Gedung PIA Kementerian Pertanian, Rabu (17/10). Penerapan aturan B20 diakui Fadhil berdampak besar pada perekonomian negara. Penghematan dengan penggunaan B20 bisa mencapai Rp 2,3 miliar dolar AS. Angka tersebut belum tercapai pada saat ini namun ia optimistis bisa didapat sampai akhir tahun ini. “Kalau misalnya kita lihat impor BBM September ini agak menurun juga, ini salah satunya karena penggunaan B20 itu. Ada pengaruhnya,” ujar dia. Secara keseluruhan, ia melanjutkan, penerapan B20 akan turut meningkatkan penyerapan Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri. Dalam satu tahun misalnya, diperkirakan dapat menyerap sekitar tujuh juta ton CPO. Untuk Asian Agri sendiri kapasitas biodiesel yang dimiliki sekitar satu juta ton. “Itulah memang salah satu yang jadi masalah itu, waktu kontraknya 14 hari. Antara yang kontrak Pertamina sampai pengiriman,” ujar dia. Penyiapan kapal harus segera dilakukan. Tetapi mencari kapal tidaklah mudah, lokasi yang jauh juga menyulitkan dalam pengiriman tersebut, apalagi volume yang dikirim masih sedikit. Sehingga diperlukan koordinasi antara produsen Fatty Acid Methyl Eter (FAME ) untuk berkolaborasi, sehingga menyerahkan ke tempat-tempat terpencil secara bersamaan. “Kalau enggak bersamaan, kan enggak efisien.,” kata dia.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/18/10/17/pgqewg370-penerapan-b20-diklaim-semakin-membaik

Bisnis | Rabu, 17 Oktober 2018

Jika Biodiesel B30 Diterapkan, Masalah Ini Bakal Menghantui Pengusaha

Pemerintah perlu melakukan loby agar mesin-mesin yang mengacu kepada American standard for Testing Material (ASTM) tidak gugur garansinya jika menggunakan biodisel kadar 30% (B30) di 2020 mendatang. Muhamad Kumbo Lasmono, Senior Consultant pada Research and Consulting Spire Indonesia menuturkan saat ini dunia industri relatif menerima penggunaan B20 yang diwajibkan tahun ini dikarenakan ASTM-nya telah terbit cukup lama. Kondisi ini akan berbeda jika pemerintah bertekad mempercepat peningkatan minyak sawit menjadi bahan bakar B30 pada 2020. “Jadi kalaupun Indonesia menggunakan B30 [pada 2020] bisa saja, akan tetapi jika ada kerusakan, pabrikan mesin tidak akan menerima klaim atas kerusakan mesin tersebut. Ini dilematis,” kata Kumbo, Rabu (17/10/2018). Menurut dia untuk memperkuat hilirisasi produk sawit di Indonesia tidak serta merta harus bertumpu pada minyak sawit menjadi bahan bakar. Kumbo mencontohkan saat ini kapasitas terpasang pada hilirasi minyak sawit menjadi minyak goreng telah mencapai 15 juta ton per tahun. Akan tetapi konsumsi minyak goreng baru 7 juta ton.

“Artinya dapat dilakukan optimalisasinya bagaimana kita bisa menaikkan kapasitas produksi menjadi mendekati kapasitas pabrik,” katanya. Meski begitu, Kumbo menilai penerapan B30 akan memberi dampak positif bagi ekonomi nasional. Penggunaan B30 akan memangkas impor solar hingga 30% dibandingkan sebelum program dijalankan. Biodisel yang diproduksi di dalam negeri akan meningkatkan bisnis dan perputaran uang di dalam negeri, “Cuma penggunaan B30 itu kan terganjal dari fabrikan mesin dimana mereka mengikuti standar bahan bakar dari ASTM dimana regulasi penggunaan biodiesel saat ini baru pada B20,” katanya. Kumbo melihat saat ini yang paling optimal dapat diterapkan adalah B20. Dia memperkirakan rencana pemerintah menerapkan mandatori B30 tidak akan optimal. Dibutuhkan waktu paling sedikit 5 tahun ke depan agar target mandatori ini realistis.

http://industri.bisnis.com/read/20181017/257/850462/javascript