+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Besok, Pemerintah Uji Jalan B30 pada Kendaraan

BERITA BIOFUEL

Investor Daily Indonesia | Rabu, 12 Juni 2019
Besok, Pemerintah Uji Jalan B30 pada Kendaraan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan uji jalan (road test) biodiesel 30% (B30) pada kendaraan. B30 merupakan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) sebanyak 30% untuk campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Pencampuran BBN ini merupakan lanjutan dari program sebelumnya yang sudah diterapkan yakni B20. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan uji coba B30 akan dilaksanakan dalam waktu dekat. “Rencananya 13 Juni besok,” kata Agung di Jakarta, Selasa (11/6). Ujijalan sebelumnya pernah dilakukan pada B20. Hanya saja Agung tidak menjelaskan apakah rute ujijalan B30 akan sama dengan B20. Dia pun belum mau membeberkan jenis kendaraan yang bakal digunakan dalam uji coba B30. Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral Dadan Kusdiana. Dia akan menjelaskan uji coba B30 pada saat acara peluncuran. “Bagaimana kalau 13 Juni nanti penjelasannya,” ujarnya.

Sejumlah tahapan yang dilalui sebelum B30 akan diterapkan pada kendaraan. Tahapan itu antara lain B30 akan melalui berbagai macam uji standar internasional yang dikawal berbagai pihak, antara lain Kementerian ESDM, BPPT, Aprobi, Gaikindo, dan Pertamina. Mandatori penggunaan biodiesel telah bergulir sejak 2016 silam. Dari periode tersebut produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi domestik diharapkan meningkat melalui perluasan B20 Non PSO {public service obligation) yang diinstruksikan Presiden medio 2018. Kementerian ESDM mencatat, pada tahun 2018 konsumsi domestrik naik 45% atau sekitar 3,75 juta kilo liter dibandingkan 2017. Uji coba B20 dilakukan pada Juli 2014. Kendaraan bermotor menempuh jarak sejauh 40.000 km dengan rute mulai dari BPPT Serpong (sebagai basecamp I) -tol jagorawi – Puncak – Cianjur – Padalarang – Cileunyi – Bandung – Lembang (basecamp II) – Subang – Cikampek – Palimanan – Karawang – Cibitung -dan kembali ke Serpong, dengan jarak tempuh per hari sekitar 500 km. Rute ini dipilih dengan mempertimbangkan kondisi real jalan seperti highway, jalan beton, jalan naik dan turun, lalu lintas padat, serta suhu dingin (Puncak). Hasil uji jalan ini dapat merepresentasikan kondisi real di lapangan, sehingga rekomendasi teknis yang diberikan pun tepat sasaran.

Harian Kontan | Rabu, 12 Juni 2019
Pekan Ini, Pemerintah Siap Uji Coba B30

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) siap melakukan uji jalan (road test) biodiesel 30% (B30) pada kendaraan pada 13 Juni 2019. Program B30 merupakan penggunaan balian bakar nabati (BBN) sebanyak 30% untuk campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Kebijakan B30 merupakan kelanjutan dari program yang sudah diterapkan yakni B20. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi kemarin bilang, penjelasan secara rinci tentang uji coba B30 baru akan diungkapkan saat road test berlangsung. Mengacu siaran pers yang diterima KONTAN, uji jalan sebelumnya pernah dilakukan pada B20. Namun Agung tidak memerinci uji jalan B30 akan sama dengan B20. Dia pun belum mau membeberkan jenis kendaraan yang bakal digunakan dalam uji coba B30. Ada sejumlah tahapan yang dilalui sebelum penerapan B30 pada kendaraan. Tahapan itu meliputi uji standar internasional B30 yang dikawal berbagai pihak, antara lain Kementerian ESDM, BPPT, Aprobi, Gaikindo dan Pertamina. Kewajiban penggunaan biodiesel bergulir sejak 2016. Presiden Joko Widodo memang menaruh perhatian khusus terhadap kebijakan biodiesel. Pernyataan itu menanggapi tren penurunan produksi minyak nasional. “Kita harus melihat B20 menjadi B50 hingga B100. Kita harus bergeser ke sana,” ungkap dia, saat wawancara khusus dengan redaksi KONTAN di Istana Negara, Selasa (11/6).

Bisnis Indonesia | Rabu, 12 Juni 2019
Uji Jalan biodiesel 30% Akan Dimulai

Setelah berhasil menerapkan bauran Solar dan 20% bahan bakar nabati atau B20, pemerintah akan meningkatkan kandungan biodiesel dari 20% ke 30% atau B30 dengan melakukan uji jalan atau mad test pada 13 Juni 2019. Pemerintah telah mewajibkan bauran Solar dan 20% biodiesel dari minyak Kelapa Sawit (crude palm oi7/CPO) sejak pertengahan 2018 baik pada sektor subsidi maupun nonsubsidi. Sektor nonsubsidi mencakup industri seperti pertambangan dan lainnya. Pengujian B30 mundur dari jadwal awal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang sebelumnya merencanakan pada akhir Mei 2019. Rencana awal pengujian pada akhir Mei tersebut disesuaikan dengan persetujuan kontrak Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit. BPDP Kelapa Sawit akan mendanai uji coba Biosolar 30% (B30). Sebelumnya, pada uji coba B20 yang dilakukan pada 2016, dana diambil dari Kementerian ESDM. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang memastikan semua kendaraan untuk uji coba siap digunakan pada 13 Juni 2019.

“Persiapannya begitu, kami juga menunggu ketersediaan waktu Pak Menteri |Ignasius Jonan],” katanya kepada Bisnis, Selasa (11/6). Sebelumnya, Dadan mengatakan bahwa jarak tempuh uji coba B30 akan melebihi 50.000 kilometer karena berkaitan dengan perjanjian garansi kendaraan. Selain itu, uji coba akan dilakukan pada dua jenis kendaraan yakni kendaraan angkut barang dan angkutan penumpang. Pada kendaraan angkutan barang seperti truk akan menempuh 100 km dalam sehari dan angkutan penumpang yakni bus menempuh 600 km per hari. Uji coba akan dilakukan selama 6 bulan dan mulai diberlakukan secara komersial pada tahun depan. Kementerian ESDM mencatat pada 2018 konsumsi domestik biodiesel naik 45% atau sekitar 3,75 juta kiloliter dibandingkan dengan 2017. Pada 2018, produksi biodiesel mencapai 6,01 juta kl meningkat 82,12% dibandingkan dengan 2014 sebesar 3,30 juta kl. Selain itu, kebutuhan minyak Kelapa Sawit juga terus mengalami peningkatan. Pada 2015, kebutuhan minyak Kelapa Sawit untuk bahan bakar mencapai 1,5 juta ton dengan tingkat bauran 15%. Pada 2018, jumlah ini terus meningkat hingga mencapai 5,7 juta ton dengan adanya perluasan intensif ke sektor nonsubsidi denngan kandungan biodiesel sebesar 20%.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM Sutijastoto optimistis implementasi biodiesel 30% atau B30 akan menyerap hampir 73% dari total kapasitas produksi tahunan minyak sawit bahan baku oleokimia atau fatty acid methyl ether (FAME). Menurutnya, kondisi tersebut akan memperkecil ekspor FAME yang kapasitas produksi sekitar 13 juta kl sampai 15 juta kl per tahun. Sejak kewajiban bauran biodiesel diterapkan pada 2016, dari tahun ke tahun produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat. Produksi biodiesel pada 2019 ditargetkan sebesar 7,37 juta kl dengan tingkat mandatory sebesar 20%. Prediksi kapasitas serapan B30 pada 2020 dinilai akan lebih tinggi lagi yakni mencapai 10 juta-11 juta kl. “Kalau B30 [kebutuhan biodiesel] sekitar 10 juta sampai 11 juta kl, syukur-syukur bisa 12 juta kl. Kami pastikan tidak ada masalah pada konsumen, maka road test (uji jalan] dahulu.”

Republika | Rabu, 12 Juni 2019
Besok, ESDM akan Uji Jalan B30

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan uji jalan (road test) Biodiesel 30 persen (B30) pada kendaraan pada Kamis (13/6). Sejumlah tahapan yang dilalui sebelum B30 akan diterapkan pada kendaraan. mB30 merupakan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) sebanyak 30 persen untuk campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Pencampuran BBN ini merupakan lanjutan dari program sebelumnya yang sudah diterapkan yakni B20. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan uji coba B30 akan dilaksanakan dalam waktu dekat. “Rencananya 13 Juni besok,” kata Agung di Kementerian ESDM, Selasa (11/6). Sejumlah tahapan yang dilalui sebelum B30 akan diterapkan pada kendaraan. Tahapan itu antara lain B30 akan melalui berbagai macam uji standar internasional yang dikawal berbagai pihak, antara lain Kementerian ESDM, BPPT, Aprobi, Gaikindo, dan Pertamina. Mandatori penggunaan biodiesel telah bergulir sejak 2016 silam.

Dari periode tersebut, produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi domestik diharapkan meningkat melalui perluasan B20 Non PSO (public service obligation) yang diinstruksikan Presiden medio 2018. Kementerian ESDM mencatat, pada 2018 konsumsi domestik naik 45 persen atau sekitar 3,75 juta kiloliter dibandingkan 2017. Sebelumnya, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan sejak 29 April kemarin sebanyak 11 mobil dan truk milik Gaikindo melalui tahap bongkar mesin. Bongkar mesin ini dilakukan untuk membersihkan mesin mesin agar siap dan capable untuk memakai B30. “Mesinnya dibongkar semua, di-overall semua, mulai dari tangki, pipa, mesin semua dibuka, dibersihkan. Semua mobil yang ikut begitu, sudah mulai 29 April 2019,” ujar Paulus. Hal senada juga dipaparkan oleh Kepala Balitbang ESDM, Dadan Kusdiana. Ia menjelaskan bahwa dalam dua sampai tiga pekan ke depan mobil yang saat ini sedang di overhall akan melalui road test. Untuk proses road test sendiri saja, kata Dadan, tim membutuhkan waktu hingga empat bulan. “Karena prosesnya selain jalan, dalam jangka waktu tertentu akan dibongkar dan dilihat lagi kondisi mesinnya seperti apa, hasil dan evaluasinya bagiamna, kira-kira empat bulan,” ujar Dadan beberapa waktu lalu.
https://republika.co.id/berita/ekonomi/migas/psy6i5370/besok-esdm-akan-uji-jalan-b30

ESDM | Rabu, 12 Juni 2019
HIP BBN Juni 2019: Biodiesel Turun, Bioetanol Naik

Memasuki bulan Juni 2019, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi kembali merilis besaran Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) yang meliputi biodiesel dan bioetanol. Kedua komoditas tersebut mengalami perubahan berbeda akibat fluktuasi harga minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) maupun pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Tarif biodiesel ditetapkan sebesar Rp 6.977 per liter, atau turun Rp 371 dari Mei 2019, yaitu Rp 7.348/liter. Harga tersebut masih belum termasuk perhitungan ongkos angkut, yang berpedoman pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.91 K/12/DJE/2019. “Trend bioetanol dan biodiesel bulan ini berbeda. Harga ini berlaku juga untuk B-20 atau campuran Biodiesel ke Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 20 persen,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi di Jakarta, Rabu (12/6). Penurunan HIP biodiesel ini terjadi akibat menurunnya harga minyak kelapa sawit pada perhitungan yang tertera pada ketentuan Surat Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Nomor 1452/12/DJE/2019. HIP biodiesel ditopang oleh harga rata-rata minyak kelapa sawit pada 15 April 2019 – 14 Mei 2019, yaitu Rp 6.598 per kg. Perubahan sebaliknya terjadi HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol diplot sebesar Rp 10.201 per liter oleh Pemerintah, setelah pada Mei lalu berada di level Rp 10.195 per liter. Faktor kenaikan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 15 April 2019 – 14 Mei 2019, yang tercatat Rp 1.611 per kg ditambah besaran dolar Amerika Serikat, yaitu USD 0,25 per liter dikali 4,125 kg per liter. Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/-hip-bbn-juni-2019-biodiesel-turun-bioetanol-naik

Sawitindonesia | Selasa, 11 Juni 2019
Pasca RED II, Sertifikat ISCC Tidak Laku di Eropa

Keputusan Komisi Uni Eropa yang menyetujui delegated act Renewables Energy Directive’s (RED II) akan berdampak terhadap sertifikat International Sustainability & Carbon Certification (ISCC). Pasalnya sertifikat ini memiliki kriteria yang mengikuti standar RED I pada 2009 silam. Selain itu, ISCC bersifat b to b untuk memenuhi kebutuhan industri biofuel di Eropa. RED II merupakan versi amandemen RED I dimana terdapat kriteria baru seperti Indirect Land Use Change (ILUC) sebagai dasar penghitungan Gas Rumah Kaca. Dr. Rosediana Suharto, Pengamat Industri Kelapa Sawit, menerangkan sertifikat ISCC tidak lagi berlaku di Eropa karena kriterianya merujuk standar Renewable Energy Directive’s (RED) I. Setelah Komisi Eropa mengesahkan RED II, maka sertifikat ISCC harus menyesuaikan standar yang baru. “ISCC awalnya mencari peluang untuk menunjukkan kepatuhan industri terhadap RED I. Tidak bersifat wajib, kalau pembeli minta barulah produsen sawit mengajukan sertifikat (ISCC),” ujarnya. Bernard Riedo, Wakil Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) mengakui pemberlakuan RED II akan berdampak terhadap penggunaan sertifikat ISCC di Eropa. Pasalnya, sertifikat ISCC mayoritas dipakai untuk memenuhi kebutuhan biofuel di Eropa. “Kalau benar CPO tidak bisa masuk untuk biofuel (di Eropa). Maka ISCC tidak ada peranan lagi karena kriteria RED II berbeda dengan RED I,” ujarnya kepada sawitindonesia.com.

Kendati demikian, Bernard berharap ada perubahan perspektif terhadap biofuel sawit, saat review RED II. Pengkajian dijadwalkan pada 30 Juni 2021 dan 2023. masih tetap sama juga. “Bisa berdampak apabila mulai dikurangi kuota (pemakaian CPO) pada 2024 pada akhirnya 2030 menjadi nol penggunaannya,” jelas Bernard. Pada Maret lalu, Komisi Eropa memperkuat kebijakan Parlemen dan Konsil Eropa untuk menyetujui berlakunya RED II. Alhasil, kuota penggunaan CPO sebagai bahan baku biofuel akan dibatasi mulai 2024 yang secara bertahap ditargetkan menjadi nol persen pada 2030. Rosediana menyebutkan belum adanya aturan pelaksana RED II mengakibatkan ISCC tidak dapat merevisi kriteria sertifikasinya.“Dengan adanya RED II, mereka (ISCC) ingin low ILUC. Tetapi belum bisa karena menunggu petunjuk teknis RED II ini. Jika sudah ada, sertifikat ISCC dapat disesuaikan,” paparnya. ISCC merupakan sistem sertifikasi bertaraf internasional pertama untuk membuktikan sustainability, traceability dan penghematan dari efek gas rumah kaca untuk segala jenis produksi biomass (energi yang terbarukan), memberikan pembuktian yang positif setelah beroperasi selama setahun. Pada Juli 2011, Komisi Eropa mengakuiISCC sebagai skema sertifikasi pertama yang mampu menunjukkan kesesuaian dengan persyaratan Uni Eropa Renewable Energy Directive’s (RED). Kabarnya, CPO bersertifikat ISCC akan mendapatkan premium sekitar US$20 – US$ 30 dolar AS per metrik ton dari harga di pasar dunia. Di Indonesia, sejumlah grup besar sawit mengantongi ISCC antara lain Sinarmas Agri, Asian Agri, Musim Mas, dan Wilmar.

Kontan | Selasa, 11 Juni 2019
Kementerian ESDM siap uji jalan B30 pada pekan ini

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merencanakan uji jalan (road test) Biodiesel 30% (B30) pada kendaraan pada 13 Juni 2019. B30 sendiri merupakan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) sebanyak 30% untuk campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Pencampuran BBN ini merupakan lanjutan dari program sebelumnya yang sudah diterapkan yakni B20. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, rincian seputar ujicoba B30 baru akan diungkapkan saat road test berlangsung. “Bagaimana kalau 13 Juni nanti penjelasannya,” jelas Agung, Selasa (11/6). Berdasarkan siaran pers yang diterima Kontan.co.id, uji jalan sebelumnya pernah dilakukan pada B20. Hanya saja Agung tidak merinci apakah rute uji jalan B30 akan sama dengan B20. Agung belum mau membeberkan jenis kendaraan yang bakal digunakan dalam uji coba B30. Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral Dadan Kusdiana. Dadan baru mau menjelaskan rincian ujicoba saat road test berlangsung. Sejumlah tahapan yang dilalui sebelum B30 akan diterapkan pada kendaraan. Tahapan itu meliputi uji standar internasional B30 yang dikawal berbagai pihak, antara lain Kementerian ESDM, BPPT, Aprobi, Gaikindo, dan Pertamina. Adapun, mandatori penggunaan biodiesel telah bergulir sejak 2016 silam. Dari periode tersebut produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi domestik diharapkan meningkat melalui perluasan B20 Non PSO (Public Service Obligation) yang diinstruksikan Presiden medio 2018. Kementerian ESDM mencatat, pada tahun 2018 konsumsi domestik naik 45% atau sekitar 3,75 juta kilo liter dibandingkan 2017.
https://industri.kontan.co.id/news/kementerian-esdm-siap-uji-jalan-b30-pada-pekan-ini