+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Biodiesel 20% hingga Komponen Lokal Jadi Senjata Redam Impor

Detik | Senin, 13 Agustus 2018

Biodiesel 20% hingga Komponen Lokal Jadi Senjata Redam Impor

Jakarta – Pemerintah berupaya menekan laju impor untuk menekan defisit neraca perdagangan. Salah satu langkah yang dilakukan dengan menerapkan biodiesel 20% (B20) hingga penggunaan komponen local. “Kita mengendalikan impor terutama impor yang misalkan BBM, contohnya makanya kita dorong B20, kurangi impor minyak diesel. Kemudian juga memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dari produk yang dibuat di Indonesia harus penuhi ketentuan supaya impor tidak berlebihan,” kata Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Royal Hotel Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (13/8/2018).

Bambang memaparkan, penerapan B20 hingga TKDN dilakukan bukan semata-mata untuk memanfaatkan komoditas dalam negeri tetapi juga untuk mengendalikan impor. Selain itu juga perlu diiringi penambahan laju ekspor yang meningkat juga diharapkan neraca perdagangan Indonesia bisa tercatat baik. “Jadi bukan mengendalikan impor dalam rangka memproteksi tapi mengendalikan impor untuk hal-hal yang selama ini tidak kita lakukan selama disiplin plus kita harus perkuat justru ekspor dari barang maupun jasa,” sambung dia.

Selain itu, ia juga menyoroti defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang mesti dilakukan perbaikan akibat dampak dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS). “Pokoknya harus diperbaiki, karena ini adalah akibat dari penguatan dolar (AS) terhadap semua mata uang. Begitu ada penguatan dolar sama mata uang akan ada flow dari negara lain ke Amerika,” jelasnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian impor untuk komponen dalam negeri hingga bahan bakar minyak.

“Kita lakukan pengendalian impor khususnya TKDN dan impor bahan bakar minyak terutama minyak diesel. Di satu sisi kita tambah dari ekspor barang dan jasa, baik tourism dan juga perkuat arus modal masuk,” tutup dia.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4164616/biodiesel-20-hingga-komponen-lokal-jadi-senjata-redam-impor

Detik | Senin, 13 Agustus 2018

Malaysia Puji Penerapan Biodiesel 20% RI

Jakarta – Indonesia akan meningkatkan pemanfaatan biodiesel, dari yang tadinya 20%, kemudian akan ditingkatkan menjadi 30% atau B30. Mengenai rencana peningkatan kualitas bahan bakar tersebut Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell memuji kemampuan Indonesia untuk menggunakan bahan bakar biodisel B20. “Baru tadi saya dengar dari Pak Menteri Enggar dia cakap bahwa Indonesia akan melaksanakan B20. So ini bukan senang dan diterima begitu saja, tapi mereka siap untuk menghadapi jabaran dari society dari pada konsumen. So kita juga bila menunjukkan cadangan IVE ini seperti mobil ini ada banyak jabaran dari pada industri palm oil, sawit dari pada industri LNG must have to very valuable, exceptable and working future. It’s early stages,” kata dia dalam sebuah wawancara khusus, Jumat, (10/8/2018) di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta.

Ia menjelaskan jika nantinya ada berbagai perkembangan di sektor industri diharapkan kolaborasi yang dilakukan saat ini akan terus terjalin. “Indonesia dan Malaysia sangat dekat, jadi kita harus memastikan kolaborasi ini akan terus berlanjut. Pemikiran baru tentang masa depan untuk new future new thinking we will achieve in 5 years. I like to see achievement in 3 years to 4 years. It will be very sad thing if we still talking the same thing what we talk before this, there has to be results,” kata dia.

Meski Indonesia saat ini tengah menuju pemilihan presiden baru ia harap segala kerja sama bilateral akan bisa berjalan sesuai kesepakatan. “Saya percaya setelah April tahun depan mungkin akan ganti presiden kita nggak tau, tapi siapapun presidennya harus melanjutkan hubungan kerja sama Indonesia-Malaysia seperti saat ini,” katanya. Sebagai informasi, Malaysia saat ini tengah memiliki parlemen baru. Isinya merupakan menteri- menteri muda yang cukup kredibel. Salah satu bentuk pendekatan kerjasama yang dilakukan Malaysia setelah memiliki anggota dan struktur baru dalam pemerintahan saat ini yaitu dengan adanya rencana membuat Mobil Asean, bersama Indonesia.

Hal tersebut terjadi beberapa hari lalu, Pemerintah Indonesia dan Malaysia bekerjasama untuk membuat mobil Asean. Mobil ASEAN adalah kendaraan yang komponen-komponen produksinya berasal dari negara-negara ASEAN. Melihat populasi manusia di Asean sudah mencapai 600 juta orang dengan pangsa pasar untuk penjualan mobil yaitu empat juta setiap tahunnya. Dari alasan tersebut, Indonesia bekerjasama dengan Malaysia untuk membangun mobil yang akan dipasarkan di kawasan Asia. Dengan adanya kerja sama ini, Malaysia dan Indonesia bisa saling mentransfer teknologi sampai transfer bisnis .

https://finance.detik.com/energi/d-4163268/malaysia-puji-penerapan-biodiesel-20-ri

Kata Data | Senin, 13 Agustus 2018

Bauran Insentif sebagai Bantalan untuk Transaksi Berjalan

Defisit neraca transaksi berjalan tidak cukup hanya disokong relaksasi di bidang perpajakan. CAD membutuhkan bauran insentif.

Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) menyatakan, untuk menopang defisit neraca transaksi berjalan maka insentif perpajakan perlu diperkuat dengan jurus khusus yang dapat meningkatan daya saing industri nasional. Secara lebih spesifik, Menteri PPN Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa Indonesia tidak cukup sekadar memperkecil aliran impor barang tetapi juga harus mengupayakan subtitusi. Dalam hal ini, pemerintah sangat menyoroti sektor energi.

“Lebih tepatnya, kami terus mengendalikan impor terutama untuk BBM. Makanya, kami mendorong program biodiesel 20% (B20) untuk mengurangi minyak diesel,” tuturnya, di Jakarta, Senin (13/8). Selain itu, Kementerian PPN alias Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga berkomitmen memperketat implementasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Hal ini juga bermaksud supaya impor barang lebih terkendali.

Current account deficit (CAD) per triwulan kedua yang setara 3% terhadap PDB diakui pemerintah sebagai angka yang cukup besar. Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, Indonesia relatif jarang mengalami defisit transaksi berjalan sedalam ini. “CAD mencapai 3% terhadap PDB ini angka yang bukan hanya secara internasional, tapi kita sendiripun, jarang sekali sampai ke tingkat itu,” tuturnya. Kemenko Bidang Perekonomian mengamini bahwa pemerintah perlu segera menentukan strategi khusus menghadapi posisi CAD sekarang. Tapi ditanya lebih rinci, Darmin mengatakan bahwa pihaknya belum dapat membeberkan lebih jauh soal insentif yang akan diterapkan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan bahwa posisi CAD sebetulnya tetap lebih baik dibandingkan dengan pada 2015 yang melampaui 4% terhadap PDB. Kendati demikian, pihaknya tetap berhati-hati dalam menjaga keseimbangan neraca transasksi berjalan. “Kami waspada. Kita tetap perlu hati-hati karena lingkungan yang kita hadapi sangat berbeda sekali dengan tahun 2015,” ujarnya. Sri Mulyani menjelaskan lebih jauh, pada 2015 kebijakan moneter nonkonvensional (quantitative easing) masih ada. Adapun, tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia pada masa itu belum terjadi. Dua hal ini yang menjadi faktor depresiasi mata uang berbagai negara.

Sebagai prakiraan, Ekonom Bhima Yudhistira Adhinegara mengutarakan bahwa defisit transaksi berjalan berpotensi melebar di triwulan ketiga dan keempat 2018. “Pada triwulan III/2018 diprediksi sekitar 2,8% sampai 3,1%,” katanya kepada Katadata secara terpisah. Selanjutnya, pada triwulan terakhir neraca transaksi berjalan diproyeksikan melebar pula. Asumsi ini dengan mempertimbangkan pergerakan penaikan biaya kebutuhan impor ditambah realisasi proyek infrastruktur yang menyedot bahan dari pasar global.

https://katadata.co.id/berita/2018/08/13/bauran-insentif-sebagai-bantalan-untuk-transaksi-berjalan