+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Biodiesel B100 Jauh Lebih Efisien!

Lampost | Rabu, 10 Juli 2019

Biodiesel B100 Jauh Lebih Efisien!

UJI coba biodiesel B100 atau 100% berbahan baku minyak kelapa sawit, berhasil menghadirkan bahan bakar ramah lingkungan atau energi baru terbarukan (EBT) yang jauh lebih efisien dari bahan bakar solar dari fosil. Berdasar hasil uji coba Kementerian Pertanian (Kementan) sedikitnya didapat tiga dimensi keefisienan, yakni jarak tempuh per liter mencapai 13,5 km dibanding solar fosil 9 km, harganya lebih murah 40%, dan menghemat devisa Rp26 triliun per tahun. Pelaksana Tugas Sekjen Kementan Momon Rusmono dalam siaran pers Minggu (7/7/2019), mengatakan penghematan devisa itu bisa didapat dari substitusi impor solar yang selama ini cukup tinggi. Di sisi lain, biodiesel juga mampu mengurangi pencemaran lingkungan karena rendah polusi dan berbahan baku minyak kelapa sawit 100%. Ini tentu berdampak langsung pada kesejahteraan petani sawit. “Kami sudah membuktikan dengan uji coba pada mobil-mobil dinas Kementan. Dari uji coba ini, para sopir mengaku kualitas biodiesel B100 sudah setara dengan DEX yang selama ini digunakan,” kata Momon. (Kompas.com, 7/7/2019) DEX adalah jenis minyak diesel yang hari ini harganya di SPBU Rp12.000 per liter. Dibanding dengan solar bersubsidi Rp5.150 per liter.

Sementara itu, Direktur Komunikasi dan Informasi Polhukam Kementerian Kominfo, Bambang Gunawan, menyebutkan penggunaan biodiesel B100 bisa berpengaruh pada kondisi ekonomi secara nasional. “Harganya 40% lebih murah. Makanya penggunaan B100 ini berpotensi menghemat devisa sebesar Rp26,66 triliun,” kata Bambang Gunawan. Selain itu, lanjutnya, penggunaan biodiesel juga ramah lingkungan karena karbon monoksida (CO) yang dihasilkan 48% lebih rendah dari solar fosil. Dengan harga produk B100 lebih murah 40% dari solar fosil, berarti jumlah subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah juga akan turun drastis. Namun di sisi lain, karena harga produknya jauh lebih murah, bagian petani dari penjualan TBS kelapa sawitnya juga berpotensi merosot. Contohnya penggunaan minyak sawit untuk B20 saja, pemerintah harus memberi subsidi kepada produsennya lewat kutipan dana ekspor CPO per ton 50 dolar AS, pada harga CPO 620 dolar AS per ton. Artinya, dengan harga B100 lebih murah 40% dari solar hingga subsidi BBM berpotensi turun, maka dana subsidi BBM tersebut bisa dialihkan ke produsen B100 (pabrikan dan petani sawit), menambah dana dari pungutan ekspor sawit buat produsen: karena volume CPO yang digunakan untuk B100 lima kali lebih besar dari B20.

http://www.lampost.co/berita-biodiesel-b100-jauh-lebih-efisien.html

Merdeka | Selasa, 9 Juli 2019

Sosialisasikan B30, ESDM Gandeng BPDP Sawit Gelar Temu Netizen di 3 Kota

Belum lama ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) me-launching Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel. Implementasi B30 sendiri akan dimulai pada 2020 nanti. Guna memberikan edukasi komprehensif terkait pemanfaatan B30 di kalangan millenial, menggandeng Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit, Kementerian ESDM menggelar Temu Netizen di 3 kota, yakni Medan (2 Juli), Balikpapan (4 Juli) dan Palembang (18 Juli). Tak hanya menggelar talkshow, peserta juga mendapat kesempatan kunjungan lapangan ke lokasi produksi maupun blending biodiesel dengan BBM. “Acara ini digelar agar anak-anak muda paham lebih dekat dengan biodiesel sebagai salah satu energi masa depan yang ramah lingkungan. Kalau terealisasi, Indonesia sebagai produsen sawit tidak perlu khawatir, sawit kita akan terserap untuk biodiesel, ketahanan energi semakin handal, impor BBM pun akan semakin berkurang,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Senin (8/7). Sementara itu, Achmad Maulizal Sutawijaya, Corporate Secretary BPDP KS yang hadir di Temu Netizen Balikpapan menyampaikan pentingnya peran sawit dalam pengembangan energi terbarukan di masa datang. “Sawit memegang peran penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Pemerintah juga berkomitmen mendorong program hilirisasi produk sawit seperti Green Diesel, Green Gasoline, dan Green Avtur untuk pengembangan energi terbarukan dan penguatan ketahanan energi nasional,” ungkapnya.

Temu Netizen ke-15 direncanakan akan diadakan di Palembang pada tanggal Kamis, 18 Juli 2019. Diharapkan, semangat #MenujuB30 yang diangkat pada sosialiasi kali ini akan ditularkan para peserta yang hadir kepada komunitas dan masyarakat di sekitarnya. Di Medan (2/7), talkshow pengembangan biodiesel dan kelapa sawit yang mengangkat tagar #AnakMedanDukungBiodiesel berlangsung dengan seru pada gelaran #TemuNetizenKe13 yang turut mengundang Youtuber @krisnkros atau juga dikenal dengan BangOjol. Sobat Energi (sapaan netizen Kementerian ESDM) juga diajak melakukan kunjungan lapangan ke PTPN 4 Adolina untuk melihat langsung proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (Crude Palm Oil) yang kini menjadi salah satu bahan campuran biodiesel. Menyusul di Balikpapan (4/7), lebih dari 100 peserta hadir memeriahkan acara bertajuk #GoodPeopleDukungBiodiesel, termasuk peserta spesial dari komunitas Semangat Muda Tuli (SemuT) Balikpapan. Kegiatan juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke TBBM Balikpapan dan menghadirkan bintang tamu Mr. Headbox juga Vlogger @uddsondakh. “Luar biasa banget karena ada acara Temu Netizen ke-14 bersama Kementerian ESDM bersama BPDP Sawit, kita berbagi ilmu apa itu B30. Acaranya keren, luar biasa, teman-teman di sini juga ada yang dari profesional,” ujar Huda, Juru Bicara Isyarat komunitas SemuT Balikpapan.

https://www.merdeka.com/uang/sosialisasikan-b30-esdm-gandeng-bpdp-sawit-gelar-temu-netizen-di-3-kota.html

Cnnindonesia | Selasa, 9 Juli 2019

Moeldoko Sebut Diversifikasi Bisa Kerek Harga Minyak Sawit

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai diversifikasi penggunaan minyak kelapa sawit dapat menjadi solusi untuk menahan pelemahan harga di pasar global. Maka itu, pemerintah terus mendorong penggunaan minyak sawit mentah (CPO) untuk diolah menjadi bahan bakar nabati (BBN). Harga CPO cenderung merosot sejak tahun lalu, disebabkan oleh melimpahnya stok minyak nabati dan perlambatan ekonomi global. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) mencatat rata-rata harga CPO global sepanjang 2018 berada di kisaran US$595,5 per MT atau merosot 17 persen dibandingkan rata-rata harga 2017 yang sebesar US$714,3 per MT. “Kalau ada diversifikasi penggunaannya, maka harga menjadi baik,” ujar Moeldoko saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) di Jakarta, Selasa (9/7). Salah satu bentuk diversifikasi yang telah dilakukan pemerintah adalah menjalankan program mandatori campuran biodiesel pada minyak solar sebesar 20 persen (B20). Pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai BBN akan terus dikembangkan hingga 100 persen bisa diolah menjadi bahan bakar mesin diesel (D100).

“Upaya pemerintah untuk menuju B20 melangkah lagi B50 dan D100 sangat serius,” ujarnya. Pria yang juga merangkap sebagai Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) itu mengungkapkan pembukaan pasar baru menjadi salah satu cara untuk mengerek harga. Pasalnya, menurut Moeldoko, penurunan harga minyak kelapa sawit tak lepas dari keseimbangan antara penawaran dan permintaan. “Pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari terobosan-terobosan, mencari negara tujuan pasar dengan dicarikan alternatif, sehingga harapan kami ada pasar-pasar baru,” ujarnya. Lebih lanjut, Moeldoko mengingatkan industri sawit memiliki peran yang penting bagi perekonomian. Industri ini mampu menyerap 4,2 juta lapangan kerja langsung dan 12 juta lapangan kerja tidak langsung. “Ada 20 juta rumah tangga petani bergantung pada sektor sawit dan dari sisi provinsi ada 22 provinsi yang terlibat secara langsung,” ujarnya. Secara terpisah, Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengungkapkan harga minyak sawit kelapa sawit mentah saat ini masih bertengger di kisaran US$500 per metrik ton (MT).

Melihat kondisi itu, asosiasi mendukung upaya pemerintah untuk mendorong permintaan minyak kelapa sawit di dalam negeri melalui diversifikasi penggunaan ke sektor energi. Di saat yang sama, pengusaha sawit saat ini juga berupaya untuk membuka pasar baru untuk produk kelapa sawit. Beberapa di antaranya ke Timur Tengah dan Afrika. “Potensi pasar ke Timur Tengah dan Afrika mungkin bisa mencapai 1 juta ton (CPO),” ujarnya. Namun, upaya membuka pasar baru itu tak mudah. Misalnya, minimnya keberadaan tangki timbun di negara-negara Afrika membuat ekspor kelapa sawit harus sudah diolah dan dikemas. “Untuk ekspor ke Timur Tengah, masalahnya ada bagaimana kita bisa meningkatkan kerja sama bilateral,” ujarnya. Sebagai informasi, berdasarkan penetapan Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga Crude Palm Oil (CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) periode Juli 2019 adalah US$542,45 per MT. Harga referensi tersebut melemah US$4,72 atau 0,86 persen dari periode Juni 2019, sebesar US$547,17/MT.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190709155942-85-410549/moeldoko-sebut-diversifikasi-bisa-kerek-harga-minyak-sawit