+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Biodiesel Belum Beri Manfaat bagi Petani

Kompas | Kamis, 8 Agustus 2019
Biodiesel Belum Beri Manfaat bagi Petani

Pengembangan bahan bakar biodiesel dinilai belum memberi manfaat signifikan bagi petani sawit di Indonesia. Pengembangan biodiesel lebih banyak melibatkan perusahaan besar yang memiliki kebun kelapa sawit. Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto mengatakan hal itu di sela workshop pakar bertema “Ekonomi Politik* Sawit” yang digelar The Indonesian Power for Democracy, Rabu (7/8/2019), di Yogyakarta. Biodiesel merupakan balian bakar nabati yang bisa digunakan untuk balian bakar kendaraan. Hingga kini, biodiesel di Indonesia dikembangkan dari minyak sawit. Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah mewajibkan pencampuran biodiesel dengan bahan bakar solar. Mulai 2016, pemerintah mewajibkan pencampuran 20 persen biodiesel dengan 80 persen solar. Formula itu disebut B20. Tahun 2020, pemerintah berencana mewajibkan pencampuran 30 persen biodiesel dalam setiap liter solar atau B30. Darto memaparkan, selama ini, perusahaan produsen biodiesel di Indonesia juga memiliki kebun kelapa sawit. “Jadi, mereka menggunakan bahan baku dari kebun sendiri,” ujarnya Akibatnya, para petani sawit tidak mendapatkan manfaat signifikan dari pengembangan biodiesel. Berdasarkan data SPKS, jumlah petani sawit di Indonesia sekitar 2,5 juta orang. Mereka mengelola lahan perkebunan sawit cukup luas. Menurut Darto, dari total luas kebun Kelapa Sawit di Indonesia 14,3 juta hektar, 43 persen dikelola oleh para petani.

Libatkan petani

Darto berpendapat, pemerintah seharusnya mengeluarkan kebijakan untuk melibatkan para petani sawit dalam mata rantai pengembangan biodiesel di Indonesia. Apalagi, tahun-tahun mendatang, pemerintah akan terus menaikkan persentase campuran biodiesel pada solar sehingga kebutuhan minyak sawit bakal meningkat. “Petani seharusnya ditempatkan dalam rantai pasok pe- ngembangan biodiesel,” ucapnya. Dengan begitu, banyak manfaat yang bisa mereka peroleh. Harga Kelapa Sawit petani akan naik. Direktur The Indonesian Power for. Democracy Gregorius Sahdan mengatakan, selama ini, para petani sawit kerap dirugikan akibat kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Sejumlah kebijakan terkait Kelapa Sawit seringkali tidak melindungi hak-hak petani. “Perusahaan-perusahaan sawit seringkali hanya menjadikan petani sawit sebagai obyek,” katanya. Menurut Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Annisa Rahmawali, pengembangan biodiesel seharusnya menjadi proses transisi dari energi berbasis fosil ke energi baru dan terbarukan. Ia mengingatkan, pengembangan biodiesel jangan menghambat pengembangan energi baru dan terbarukan. Subsidi jangan hanya diberikan pada pengembangan biodiesel, tetapi juga pengembangan energi,baru dan terbarukan.

Bisnis | Kamis, 8 Agustus 2019
Uni Eropa Larang Sawit, Rapeseed dan Soyabean Untuk Biodiesel

Dalam delegated act Uni Eropa perihal Renewable Energy Directive II (RED II) terungkap bahwa semua penghasil minyak nabati yang dipanen (crop based) dilarang untuk biodiesel. Direktur Sustainability Relation Asian Agri Bernard A. Riedo mengatakan semua minyak nabati yang berasal dari tanaman musiman atau crop based akan dilarang untuk dipakai sebagai bahan pembuat bahan baku biodiesel. Diantaranya adalah rapeseed, bunga matahari dan kedelai. Adapun yang diperbolehkan sebagai bahan baku biodiesel adalah minyak bekas pemakaian seperti jelantah atau sisa-sisa yang tidak terpakai. “Semua crop based tidak boleh untuk biodeiserl selama itu untuk alokasi pangan yang boleh adalah waste and residue. Minyak makan bekas atau minyak jelantah boleh,” katanya belum lama ini di Moskow. Menurutnya hal tersebut sah saja bila sebuah negara menghendaki kebijakan, tetapi yang menurutnya tidak adil adalah perlakuan kepada sawit. Pasalnya secara bertahap minyak sawit akan diupayakan hilang mulai 2023 padahal kelapa sawit tidak termasuk crop based. Namun dianggap sebagai tanaman beresiko tinggi lebih dari crop based lai seperti rapeseed atau bunga matahari. “Rapeseed disini banyak memang tapi apakah bisa memenuhi kebutuhan [energy] mereka secara total? Itu saja. Rapeseed nanti kalau delegated act berlaku tidak akan boleh karena itu yg Uni Eropa mau,” katanya.

Menurutnya dengan kebijakan tersebut Uni Eropa mempersulit industry disana yang bergantung kepada minyak sawit. Sebagai ilustrasi penggunaan minyak sawit sebagai biodiesel di Uni Eropa mencapai 5 juta ton atau 71,4% dari rerata ekspor Indonesia ke Uni Eropa. Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Sahad Sinaga mengatakan Indonesia masih bisa mengakali aturan tersebut dengan menggunakan buah yang kelewat matang atau busuk sebagai bahan baku biodiesel. “Buah yang terlalu masak dengan kadar asam tinggi bisa dipakai karena itu termasuk waste and residue karena tidak bisa digunakan sebagai pangan,” katanya. Selain itu dia menilai, tanaman lain seperti nyamplung dapat dipakai sebagai alternative untuk bahan baku biodiesel sebab kandungan minyak dalam buahnya cukup tinggi. Lebih-lebih nyamplung cocok dibudidayakan untuk tanah kering seperti di daerah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190808/99/1133870/uni-eropa-larang-sawit-rapeseed-dan-soyabean-untuk-biodiesel

Okezone | Rabu, 7 Agustus 2019
Ilmuwan Indonesia Ubah Limbah Sawit Jadi Bahan Bakar

Indonesia saat ini sedang mengalami defisit energi karena sumber energi semakin menipis, sementara kebutuhan energi listrik makin meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pesatnya pembangunan. Pemerintah Indonesia menargetkan program pencampuran bahan bakar nabati ke dalam bahan bakar minyak melalui biodiesel 20% (B20) yang akan ditingkatkan bertahap ke arah B100. Indonesia memiliki potensi energi biomassa yang besar dari kelapa sawit. Pemanfaatan sawit saat ini sebagian besar masih didominasi industri pangan dan kosmetik sementara limbahnya sejauh ini baru dimanfaatkan sebagai kompos atau dibakar begitu saja. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan riset tandan kosong kelapa sawit untuk mendapatkan biofuel di atas 60 persen sebagai bahan bakar kimia cair. Pemrosesannya menggunakan mekanisme termal katalitik. “Proses katalis yang kami kembangkan menggunakan properti unik neutron untuk meningkatkan proses konversi dari limbah biomassa kelapa sawit menjadi biofuel yang bernilai tinggi,” ujar Indri Badria Adilina, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Indri mengungkapkan, neutron membantunya memahami reaksi kimia secara lebih dalam.
https://techno.okezone.com/read/2019/08/07/56/2088791/ilmuwan-indonesia-ubah-limbah-sawit-jadi-bahan-bakar

Investor | Rabu, 7 Agustus 2019
Pakai Lempung, Peneliti Indonesia Sulap Limbah Sawit jadi Bahan Bakar

Indonesia memiliki potensi energi biomassa yang besar dari kelapa sawit. Pemanfaatan sawit saat ini sebagian besar masih didominasi industri pangan dan kosmetik sementara limbahnya sejauh ini baru dimanfaatkan sebagai kompos atau dibakar begitu saja. Di tangan peneliti Indonesia, limbah sawit disulap menjadi bahan bakar, caranya dengan memanfaatkan bahan neutron dan lempung. Peneliti Pusat Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indri Badria Adilina, meriset tandan kosong kelapa sawit untuk mendapatkan biofuel di atas 60 persen sebagai bahan bakar kimia cair. Pemrosesannya menggunakan mekanisme termal katalitik . “Proses katalis yang kami kembangkan menggunakan properti unik neutron untuk meningkatkan proses konversi dari limbah biomassa kelapa sawit menjadi biofuel yang bernilai tinggi,” ujar Indri. Dia mengatakan, neutron membantunya memahami reaksi kimia secara lebih dalam. Katalis yang dikembangkan peneliti bergelar doktor dari Chiba University Jepang ini berbasis material terbarukan dan ketersediaannya berlimpah di alam yakni lempung. “Kami telah mematenkan penggunaan lempung dalam pengolahan biofuel. Terdapat berbagai jenis lempung di Indonesia dan yang kami gunakan adalah bentonit,” ujar Indri yang pernah meraih Fellowship LOreal – UNESCO for Women In Science pada 2013.

Dia menjelaskan, bentonit selama ini digunakan sebagai penyerap dalam proses penjernihan minyak goreng. “Belum ada yang memanfaatkannya sebagai katalis. Padahal bentonit berperan penting dalam reaksi kimia untuk mengubah molekul-molekul berat pada minyak sawit menjadi molekul ringan hidrokarbon yang menyusun komponen pembuatan bahan bakar seperti bensin dan solar,” ujar Indri. Penggunaan lempung untuk pengolahan biofuel ini telah dipatenkan oleh Indri. Dalam proses risetnya, Indri mendapatkan akses untuk meneliti di fasilitas milik ISIS Neutron and Muon Source, Science and Technology Facilities Council, di Didcot, Oxfordshire, Inggris melalui skema Newton Fund. “Mayoritas sumber neutron ini ada di Eropa, di Asia belum tersedia. BATAN sebetulnya memiliki fasilitas ini namun energinya kecil sehingga tidak bisa digunakan dalam penelitian ini,” ujar Indri. Penelitian Indri ini merupakan peningkatan dari proses penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Pusat Penelitian Kimia. “Biomassa memiliki kandungan oksigen tinggi yang tidak bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar. Kadar oksigen tinggi tersebut kami turunkan dengan katalis dari bentonit sehingga dihasilkan biofuel berkadar oksigen rendah yang dapat digunakan sebagai bahan bakar seperti bensin dan solar,” ujar Indri.

Bersama peneliti dari Universitas Indonesia, penelitian Indri ini menjadi pionir di Indonesia bahkan regional Asia Tenggara yang kemudian diganjar dengan penghargaan ISIS Impact Award for 2019 in the Economic Category dari Science and Technology Facilities Council, United Kingdom Research and Innovation. “Penghargaan ini adalah upaya meningkatkan kemampuan peneliti Indonesia tentang penggunaan neutron,” ujar Indri. Peneliti yang bergabung di LIPI sejak 2005 ini berharap agar penelitiannya tidak sekadar berada di laboratorium. “Saya berharap ada uji coba skala besar untuk mencapai zero waste limbah kelapa sawit serta keberlanjutan yang nyata di masyarakat,” tutup Indri. Bagaimana menurutmu inovasi limbah sawit menjadi bahan bakar ini?
https://www.viva.co.id/digital/teknopedia/1173160-pakai-lempung-peneliti-indonesia-sulap-limbah-sawit-jadi-bahan-bakar

Investor | Rabu, 7 Agustus 2019
LIPI Ubah Tandan Kosong Sawit Jadi Biofuel

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan riset tandan kosong kelapa sawit untuk mendapatkan bahan bakar hayati (biofuel) di atas 60% sebagai bahan bakar kimia cair. “Kami memilih sawit karena Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia, artinya limbah sawit pun semakin banyak dan menjadi masalah lingkungan saat ini. Namun, penggunaan sawit dan limbahnya menjadi bahan kimia nilai tinggi seperti biofuel belum maksimal,” ujar peneliti LIPI Indri Badria Adilina saat dihubungi Antara, Jakarta, Rabu. Penelitian itu dilakukan oleh Indri Badria Adilina dari Pusat Penelitian Kimia LIPI bersama tim peneliti dari Universitas Indonesia. Dalam proses risetnya, Indri mendapatkan akses untuk melakukan penelitian di fasilitas milik ISIS Neutron and Muon Source, Science and Technology Facilities Council, di Didcot, Oxfordshire, Inggris melalui skema Newton Fund. Indri mengharapkan penelitian skala lab tersebut dapat dilanjutkan dan dikaji bersama dalam skala lebih besar dengan pihak mitra industri atau pemerintah, hingga dapat dikomersialisasi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Saat ini, pemanfaatan sawit sebagian besar masih didominasi industri pangan dan kosmetik sedangkan limbahnya sejauh ini baru dimanfaatkan sebagai kompos atau dibakar begitu saja. Untuk itu, pengolahan limbah sawit menjadi biofuel menjadi hasil penelitian yang akan sangat bermanfaat kedepannya. Pemrosesan tandan kosong kelapa sawit menjadi biofuel menggunakan mekanisme termal katalitik. Proses katalis yang dikembangkan menggunakan properti unik neutron untuk meningkatkan proses konversi dari limbah biomassa kelapa sawit menjadi biofuel yang bernilai tinggi.Katalis yang digunakan berbasis material terbarukan dan ketersediaannya berlimpah di alam yakni lempung atau tanah liat jenis bentonit. Bentonit selama ini digunakan sebagai absorban dalam proses penjernihan minyak goreng. Bentonit dari tanah liat berperan penting dalam reaksi kimia untuk mengubah molekul-molekul berat pada minyak sawit menjadi molekul ringan hidrokarbon yang menyusun komponen pembuatan bahan bakar seperti bensin dan solar.
https://investor.id/business/lipi-ubah-tandan-kosong-sawit-jadi-biofuel

Kontan | Rabu, 7 Agustus 2019
Banyak tekanan, ekspor minyak sawit Indonesia berpotensi turun di tahun ini

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan ekspor minyak sawit mulai dari crude palm oil (CPO) dan turunannya, biodiesel dan oleochemical berpotensi menurun tahun ini meski di semester I kinerja ekspor minyak sawit tercatat tumbuh 10%. Potensi penurunan tersebut disebabkan tekanan yang berasal dari berbagai negara tujuan ekspor Indonesia. Misal tekanan dari Uni Eropa terkait tuduhan subsidi untuk produk biodiesel, juga penurunan ekspor ke India karena tarif bea masuk yang tak bersaing dengan Malaysia. Sekretaris Jenderal Gapki Kanya Lakshmi mengatakan, penurunan ekspor tersebut tak signifikan. Meski begitu Lakshmi tak meyebut berapa besar potensi penurunan ekspor CPO. “Kalau hitung-hitungan saya mungkin 32 juta ton,” ujarnya, Rabu (7/8). Tahun lalu, Gapki mencatat kinerja ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 34,71 juta ton atau meningkat dari tahun 2017 yang sebesar 32,18 juta ton. Meski eskpor berpotensi menurun, dia berekspektasi masih ada peningkatan permintaan dari China dan tambahan permintaan dari negara-negara non tradisional yang sudah dijajaki Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan pemerintah terus berupaya menjajaki pasar-pasar baru sekaligus mempertahankan pasar tradisional seperti India. “Sekarang kan kita perluasan pasar, kita juga komunikasi kembali ke India apa yang bisa kita pertukarkan agar mereka impor CPO dari Indonesia lebih besar lagi,” tutur Musdalifah. Laksmi menambahkan, untuk mengompensasi penurunan ekspor tersebut, meningkatkan serapan dari dalam negeri adalah langkah yang tepat. Menurutnya, bila mandatori B20 bisa dijalankan secara penuh, bisa menyerap CPO sebesar 6 juta ton. Bila B30 bisa dipercepat, maka akan ada tambahan serapan 3 juta ton. Menurut Laksmi, saat ini pun ada upaya lain untuk meningkatkan penyerapan CPO, yakni PLN yang akan menyerap CPO secara langsung. Rencananya, serapan ini akan mencapai 3 juta ton. Menurut Laksmi, baik program B30 yang berhasil atau justru serapan PLN bisa terealisasi, setidaknya serapan CPO dari dalam negeri sudah bisa mencapai 9 juta ton. “Jadi kekurangan-kekurangan karena ekspor itu bisa kita atasi dengan penyerapan dalam negeri, baik dalam bentuk biodiesel, alternatif inovasi baru atau cara lain yang bisa dilakukan,” tutur Laksmi. Tambahan data saja, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia di semester I tahun ini hanya tumbuh 10% yoy. Di Semester I 2019, ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 16,84 juta ton meningkat dari semester I tahun lalu yang sebanyak 15,30 juta ton.
https://industri.kontan.co.id/news/banyak-tekanan-ekspor-minyak-sawit-indonesia-berpotensi-turun-di-tahun-ini