+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Biodiesel Bisa Digunakan untuk Kendaraan Operasional Tambang

Republika | Minggu, 12 Agustus 2018

Biodiesel Bisa Digunakan untuk Kendaraan Operasional Tambang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah terus menggalakkan penggunaan bahan bakar biodiesel. Saat ini pemerintah tengah menggodok Peraturan Presiden (Perpres) tentang penggunaan bauran minyak sawit dengan bahan bakar solar sebesar 20 persen atau B20. “Salah satu comparative advantage yang kita punya adalah Crude Palm Oil (CPO), untuk itu Bapak Presiden sudah memerintahkan bahwa biosolar itu kandungan minyak kelapa sawit akan 20 persen. Sekarang ini sedang digodok peraturannya,” ungkap Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Arcandra Tahar, Ahad (12/8).

Dengan menggunakan B20, terdapat penghematan devisa negara dalam jumlah besar yang didapat dari berkurangnya impor bahan bakar Solar. Tahap awal, konsumsi B20 diwajibkan kepada kendaraan bersubsidi atau public service obligation (PSO) seperti kereta api. Nantinya, pemberlakuan B20 akan diterapkan di semua sektor termasuk industri manufaktur, tambang, pembangkit listrik hingga kendaraan pribadi. Pemerintah berharap, pada awal September ini B20 sudah bisa diterapkan.

Penggunaan B20 pada kendaraan operasional pertambangan telah dilakukan oleh PT Adaro Energy Tbk. Adaro telah menjalankan pilot project program pengembangan B20 dari minyak sawit sejak 2011 lalu. Supervisor Biodiesel Fuel Plant Adaro Kharis Pujiono mengungkapkan, program pengembangan B20 adalah kerja sama antara Adaro, Komatsu, dan United Tractors. Adapun kendaraan yang diuji coba menggunakan campuran B20 berupa dump truck pengangkut batu bara. “Percobaan pertama di 2 unit alat berat, yaitu untuk dump truck tipe HD785,” ujarnya.

Kharis menambahkan, kapasitas pabrik biofuel Adaro mampu memproduksi perpaduan solar dengan minyak sawit sekitar 6.400 liter per hari. Sedangkan konsumsi masing-masing unit dari dump truck mencapai hingga 3.600 liter per hari. “Kalau kapasitas pabrik itu 1,1 ton per hari, kalau diblend dengan CPO jadi 5,5 ton per hari,” jelasnya. Selain uji coba menggunakan minyak sawit, Kharis menuturkan bahwa mulai tahun 2016, Adaro juga melakukan uji coba mengolah minyak jelantah menjadi campuran solar sebesar 20 persen yang diterapkan pada 6 unit kendaraan kecil dengan kapasitas mesin 2000 cc, dengan konsumsi per unit sekitar 350 liter dalam setahun.

“Minyak jelantah dipasok dari lingkungan tambang, seperti minyak (bekas) katering yang ada di adaro, yang digunakan karyawan sehari hari,” jelas Kharis. Menurutnya, sejak uji coba tidak ada keluhan dari para pengemudi dalam penggunaan B20 di kendaraanya, bahkan ada yang menginformasikan menggunakan B20 lebih irit. “Ini yang masih kita analisa, kita analisa konsumsi harian berapa, dan masih ada evaluasi dalam waktu dekat ini,” ujarnya.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/18/08/12/pdc0l9383-biodiesel-bisa-digunakan-untuk-kendaraan-operasional-tambang

Info Sawit | Minggu, 12 Agustus 2018

Mulai September Minyak Solar PSO dan Non PSO di Campur Biodiesel Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memutuskan bahwa per September 2018, semua jenis Solar akan dicampur dengan 20% minyak sawit. Dikatakan, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana, penerapan pencampuran 20% biodiesel sawit dengan Solar (B20) berlaku untuk semua minyak Solar subsidi dan non-subsidi yang dijual di Indonesia.

Guna penerapan kebijakan ini, pihak Kementerian ESDM sedang menyusun Peraturan Presiden (Perpres), harapannya payung hukum ini bisa segera terbit sehingga awal September bisa dilakukan pencampuran seluruh minyak solar dengan minyak sawit dengan merek dagang Biosolar. Lantas, kabarnya dalam penerapan B20 nantinya pemerintah akan menunjuk badan usaha yang melakukan penyaluran solar untuk melakukan pencampuran. Rida mengancam, bila tidak dilaksanakan, maka akan ada sanksi berupa pengenan denda sebesar Rp 6 ribu per liter atas solar yang dijual tanpa dicampur sebanyak 20% minyak sawit. “Akan terkena denda Rp 6.000 per liter. Nanti bahwa perusahaan bisa dikasih lagi atau nggak (izin) itu di Dirjen Migas, pasti akan ada evaluasi kinerjanya,” tandas Rida dikutip InfoSAWIT dari Liputan6.

https://www.infosawit.com/news/8242/mulai-september-minyak-solar-pso-dan-non-pso-di-campur-biodiesel-sawit

Republika | Minggu, 12 Agustus 2018

RI-Malaysia Sasar Industri Otomotif ASEAN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia dan Malaysia sepakat berkolaborasi dalam upaya pengembangan industri otomotif yang kompetitif di pasar ASEAN. Langkah sinergi kedua negara tersebut ditandai melalui pertukaran Memorandum of Agreement (MoA) antara Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI) I Made Dana Tangkas dengan CEO Malaysia Automotive Institute (MAI) Dato Mohamad Madani Sahari yang disaksikan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jumat (10/8). Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan menjelaskan, langkah ini merupakan upaya untuk memperdalam struktur manufaktur dan melengkapi kebutuhan komponen di kedua negara. “Indonesia bersama Malaysia ingin menjadi pelopor di ASEAN, karena kita menyadari bahwa ASEAN merupakan satu kekuatan ekonomi yang cukup besar,” katanya dalam rilis yang diterima Republika, Ahad (12/8).

Putu menyebutkan, kerja sama yang akan dilakukan meliputi pengembangan kompetensi sumber daya manusia, penguatan rantai pasok, peningkatan daya saing industri komponen serta melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D). Menurut Putu, Indonesia dan Malaysia memiliki kekuatan bersama dengan tersedianya jumlah 2.000 industri komponen. Dua negara ini telah siap menghasilkan produk bernilai tambah tinggi guna mendukung industri otomotif seusai tren global dan selera konsumen saat ini. “Jadi, diharapkan nantinya, membuat komponen bersama yang kritikal dan nonkritikal untuk diproduksi dan dipasarkan di ASEAN,” ujarnya.

ASEAN menjadi salah satu pasar yang potensial untuk memasarkan produk kendaraan. Populasi yang sangat besar hingga mencapai 650 juta jiwa menjadikan kawasan ini sebagai potensi market khususnya bagi industri otomotif. Pemerintah Indonesia tengah fokus memacu pengembangan dan daya saing industri otomotif. “Bentuk dukungan kebijakannya, antara lain pemberian insentif berupa tax holiday dan tax allowance untuk investasi baru atau perluasan dalam rangka menarik investasi dan membina industri nasional,” ujarnya.

Di samping itu, akan dikeluarkan pengurangan pajak penghasilan di atas 100 persen atau super deductible tax untuk perusahaan yang melakukan kegiatan R&D dan pendidikan vokasi. Pemerintah juga menetapkan kebijakan untuk lokalisasi komponen utama kendaraan listrik seperti baterai, inverter, motor listrik dan peralatan pengisian daya. Selain itu, Kemenperin mempromosikan pemakaian atau penggunaan renewable energy seperti biofuel, biodiesel, dan bio ethanol.

Kemenperin menargetkan, produksi kendaraan di Indonesia akan mencapai 1,5 juta unit pada tahun 2020 dan naik menjadi 4 juta unit di tahun 2035. Sedangkan target untuk ekspor kendaraan pada tahun 2020 sebanyak 250 ribu unit dan meningkat 600 persen di tahun 2035 sehingga menjadi 1,5 juta unit. Sementara itu, sesuai peta jalan pengembangan industri otomotif nasional, pada tahun 2020 sebesar 10 persen dari 1,5 juta mobil yang diproduksi di dalam negeri adalah golongan kendaraan beremisi karbon rendah atau low carbon emission vehicle (LCEV). Kemudian, di tahun 2035, dibidik naik sampai 30 persen saat produksi mencapai 4 juta unit mobil. Presiden IOI I Made Dana Tangkas menyampaikan, IOI dan MAI mendorong joint venture antara perusahaan komponen otomotif di Indonesia dan Malaysia agar dapat memenuhi kebutuhan principal yang banyak berada di kedua negara. Selain itu, guna menginisiasi terbentuknya ASEAN Automotive Institute Federation. “Hal ini agar kita bisa mengelola pasar ASEAN dengan mandiri,” tuturnya.

CEO MAI Dato Mohamad Madani Sahari menambahkan, kedua belah pihak akan mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang bisa melakukan kerja sama dan didorong untuk memproduksi komponen untuk kendaraan internal combustion engine (ICE). Selanjutnya, akan dilakukan riset bersama untuk mempelajari semua teknologi baru, seperti kendaraan listrik atau hybrid. Hasil riset itu bisa digunakan oleh perusahaan yang ikut joint venture dengan didukung pada pengembangan SDM dan supply chain untuk perusahaan. Madani meyakini, kemampuan industri komponen kedua negara sudah mencapai 90 persen. Madani menambahkan, pihaknya juga ingin adanya kerja sama mengenai biofuel karena sawit merupakan komoditas penting untuk kedua negara. Tidak menutup kemungkinan kerja sama dilakukan dengan negara ASEAN lain seperti Thailand atau Filipina. “Diharapkan joint venture ini dapat memproduksi kendaraan sendiri,” ucapnya.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis-global/18/08/12/pdcg0b435-rimalaysia-sasar-industri-otomotif-asean

Rakyat Merdeka | Minggu, 12 Agustus 2018

Ada Techno Park Di Pelalawan

Produk Sawit Bisa Makin Berkembang

PEMBANGUNAN Techno, Park di Kabupaten Pelalawan. Riau, diyakini akan membuat inovasi dan produk turunan sawit di industri setempat berkembang. Apalagi pemerintah mendorong penggunaan biodiesel campuran 20 persen atau B20 ke berbagai sektor. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto mengatakan, terus melakukan pendampingan dalam pengembangan Techno Park di Pelalawan. “BPPTakan menjalankan pendampingan dalam fasilitasi perencanaan dan pengembangan yang berfokus pada industri hilir sawit,” ujarnya, kemarin.

Untuk diketahui. Kabupaten Pelalawan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan BPPT dalam rangka Pengkajian, Penerapan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan. Teknologi dan Inovasi (IPTEKIN). Kerja sama ini diharapkan bisa meningkatkan perekonomian daerah Unggul mengatakan, BPPT menaruh perhatian besar dalam pengembangan biomassa karena sebagai sumber energi terbarukan. Biomassa sawit berperan ganda tidak hanya berpotensi menjadi balian bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), tetapi juga dapat dikembangkan sebagai balian bakar transportasi. “Kita perlu menggali hasil riset dan inovasi teknologi untuk peningkatan produktivitas sawit, dan nilai tambah produk sawit yang ramah lingkungan,” tutur Unggul.

Bupati Pelalawan Muhammad Harris menjelaskan, bahwa kerja sama pemerintah Kabupaten Pelalawan dengan BPPT dalam pengembangan Techno Park Pelalawan sudah dimulai semenjak 2012. “Pembangunan Techno Park Pelalawan merupakan bagian dari perwujudan program Nawacita pemerintahan Presiden Jokowi yang menargetkan pembangunan 100 pusat sains dan techno park.” ujarnya. Harris menuturkan. Techno Park Pelalawan ditujukan sebagai wahana edukasi, pengembangan inovasi, dan teknologi sawit. “Kami yakin adanya techno park bisa membuat inovasi dan produk sawit terus berkembang.” ungkapnya.

Kawasan Techno Park merupakan kawasan terluas di Indonesia mencapai 3.754 hektare yang terbagi atas 7 zona. Antara lain pendidikan, riset, pemukiman, industri, pemukiman, konservasi, komersial, dan zona publik. Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar menuturkan, pemerintah sangat mendukung keberadaan Techno Park di Pelalawan. “Apalagi dalam kawasan ini telah berdiri Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P) sehingga akan membantu dunia pendidikan tinggi.” ujarnya.

Neraca | Sabtu, 11 Agustus 2018

Industri Otomotif Siap Perluas Penggunaan B20

Industri otomotif menyatakan kesiapannya dalam memperluas penggunaan Biodiesel 20 untuk seluruh kendaraan bermesin diesel di Indonesia. “Kami siap mendukung implementasi Biodiesel 20, standar emisi euro yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia,” kata Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi pada Pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di Tangerang Selatan, sebagaimana disalin dari Antara. Hal tersebut disambut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, yang menyampaikan bahwa penggunaan B20 merupakan upaya subtitusi impor bahan bakar paling cepat, yang akan menghemat 21 juta dolar AS per hari atau 5,9 miliar dolar AS dalam setahun. “Ini tentu subtitusi impor yang paling cepat dan juga untuk membuat balance neraca pembayaran,” kata Airlangga.

Sebelumnya, B20 dalam konsumsi solar hanya diwajibkan kepada kendaraan bersubsidi atau public service obligation (PSO) seperti kereta . api. Nantinya, B20 akan wajib digunakan pada kendaraan non-PSO seperti alat-alat berat di sektor pertambangan, traktor atau ekskavator, termasuk juga diperluas ke kendaraan-kendaraan pribadi. Untuk itu, pemerintah akan merevisi Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, yang disebut tinggal menunggu teken dari Presiden Joko Widodo. Menurut Menteri Airlangga, pasokan biodiesel nonsubsidi jumlahnya lebih besar daripada yang bersubsidi. Jumlah biodiesel nonsubsidi saat ini diproyeksi mencapai 16 juta ton.

Rakyat Merdeka | Senin, 13 Agustus 2018

Innova Fortuner Aman Pake B20

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menggandeng Pertamina melakukan uji coba penggunaan Biodiesel 20 persen (B20) pada Kijang Innova diesel dan Toyota Fortuner diesel. Hasilnya, kedua mobil itu aman pakai B20. “Hasil uji coba yang kami lakukan sejak 2015 tidak menemukan masalah pada penggunaan bahan bakar B20,” kata Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam di BSD. Tangerang, kemarin.

Dengan begitu, pelanggan atau konsumen Toyota tidak akan mengalami hambatan dengan rencana kebijakan pemerintah mememperluas penggunaan B20 mulai September 2018 nanti. Seluruh mobil dengan mesin diesel yang diproduksi di TMMIN, kinerjanya tetap handal, dan aman saat mengkonsumsi B20. Bahkan untuk perawatan mesin Juga tidak ada masalah. Perawatannya tetap sama dengan mesin diesel yang menggunakan bahan bakar konvensional atau solar. Begitu juga dengan tingkat efisiensi konsumsi bahan bakar. “Kinerja mesin tidak terganggu. Begitu juga dengan perawatan, tidak ada yang perlu ditambah,” ucap Bob Azam.

TMMIN saat ini memproduksi kendaraan medium Multi Purpose Vehicle (MPV) Toyota Innova dan medium Sport Utility Vehicle (SUV) Toyota Fortuner yang tidak hanya untuk varian bensin tapi juga diesel, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Terdapat 4 varian Toyota Innova diesel yang dipasarkan di Indonesia dengan mengusung mesin 2.400 cc, yaitu tipe G Manual, G A/T, V Manual dan V A/T. Selain itu dengan platform mesin yang sama ada Fortuner 4×2 dan 4×4 tipe VRZ dan G. Untuk mengurangi impor solar, pemerintah akan memperluas penggunaan B20 sebagai bahan bakar bagi kendaraan penumpang maupun komersial yang non-PSO (public service obligation). Langkah ini akan menghemat devisa karena kebutuhan impor BBM menjadi berkurang.

Implementasi perluasan penggunaan B20 secara penuh diyakini juga memgurangi tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Dalam mendukung implementasi kebijakan tersebut, pemerintah menjanjikan insentif bagi produsen yang mau menjual Biodiesel ke sektor non-PSO. Perluasan insentif dan penggunaan B20 akan tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres).

Kontan | Senin, 13 Agustus 2018

Harga Indeks Biodiesel Menurun pada Agustus

JAKARTA. Pada akhir pekan lalu, Kementerian ESDM merilis Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN), yang meliputi Biodiesel dan Bioetanol untuk Agustus 2018. Melalui Surat Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Nomor 4057/12/DJE/2018, harga BBN ditetapkan sebesar Rp 7.600 per liter. Harga acuan BBN pada Agustus 2018 turun 4,39% atau Rp 349 per liter dari posisi Juli 2018, yaitu Rp 7.949 per liter. Harga itu belum termasuk perhitungan ongkos angkut, yang berpedoman pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 1770 K/12/MEM/2018.

Mengacu data Kementerian ESDM, penurunan HIP Biodiesel dipicu koreksi harga minyak sawit akibat permintaan negara pengimpor menyusut. Selain itu, penurunan harga acuan Biodiesel dipengaruhi kecemasan terhadap perang dagang yang mempengaruhi permintaan China. HIP Biodiesel digerakkan harga rata-rata minyak kelapa sawit di periode 25 Juni 2018 hingga 24 Juli 2018 sebesar Rp 7.300 per kilogram (kg). Harga ini lebih rendah daripada periode sebelumnya, yaitu Rp 7.740 per kg. Sementara itu, kenaikan harga terjadi pada HIP bioetanol. Harga pasar Bioetanol sebesar Rp 10.010 per liter, naik Rp 110 dari posisi Juli 2018 sebesar Rp 9.900 per liter. Formulasi kenaikan ini ditentukan harga tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 September 2017-24 Juli 2018 sebesar Rp 1.556 per kg, kemudian ditambah US$ 0,25 per liter dikalikan 4,125 kg per liter. HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dievaluasi enam bulan sekali.