+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Biodiesel Indonesia Kembali ke Pasar Eropa:

Biodiesel Indonesia Kembali ke Pasar Eropa: Pasca WTO menolak putusan anti-dumping Uni Eropa terhadap produk biodiesel Indonesia, ekspor bahan bakar ini dari negara kita mulai masuk ke benua biru. Ekspor perdana biodisel kita mulai akhir Mei 2018 setelah sempat terhenti selama satu tahun.Selama periode kosong ekspor tersebut, Uni Eropa melakukan substitusi biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dengan minyak nabati lain dari kedelai. Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), menyatakan, volume ekspor biodiesel Mei lalu masih kecil. Cuma, ia belum mendapatkan data ekspor tersebut. Yang jelas, “Sudah ada beberapa perusahaan yang mengekspor biodisel pada Mei lalu,” ujarnya di Jakarta, Menurut Paulus, ekspor biodisel itu merupakan yang pertama di tahun ini. Sebab, sepanjang kuartal I 2018, ekspor biodiesel ke Uni Eropa masih nol. Tentu, perkiraan itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan ekspor biodiesel ke Uni Eropa pada 2014 yang mencapai 1,8 juta kl. Paulus mengatakan, ekspor tahun ini masih kecil lantaran tantangan utama bagi Indonesia saat ini adalah menjalin koneksi kembali dengan Uni Eropa yang sempat terputus.Sebab setahun terakhir, Indonesia tidak lagi mengekspor biodiesel ke Uni Eropa karena tudingan dumping. Uni Eropa menerapkan bea masuk anti-dumping yang mereka terapkan sejak 2013 hingga 2016. Alhasil, ekspor biodiesel kita turun drastis, 42,84%.Walhasil, pasca terbukanya pasar benua tersebut, upaya merangsek ke pasar mereka tidak akan mudah bagi Indonesia, meski biodisel minyak sawit jauh lebih murah ketimbang kedelai.Padahal di 2013, nilai ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa mencapai US$ 649 juta. Angka ini merosot menjadi US$ 150 juta pada 2016. Sedangkan di 2017, ekspor biodisel negeri ini nihil.Pada bagian lain,walau sudah mulai ekspor ke Uni Eropa, bukan berarti biodiesel Indonesia berhenti menghadapi masalah. Saat ini, Parlemen Uni Eropa tengah mengusulkan, penghentian penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel pada 2021 mendatang.Untuk memutuskan itu, Parlemen Uni Eropa akan menggelar trialog dengan Dewan dan Komite Uni Eropa. Oleh karena itu, menurut Paulus, saat ini Indonesia terus berupaya melakukan negosiasi dengan Uni Eropa.Selain Uni Eropa, Paulus membeberkan, Indonesia tidak memiliki pasar ekspor biodiesel yang besar ke kawasan lain di dunia. (BREAKINGNEWS)

https://breakingnews.co.id/read/akhirnya-biodiesel-indonesia-kembali-ke-pasar-eropa

HIP Biodiesel Juni 2018 Kembali Turun: HIP bahan bakar biodiesel pada Juni 2018 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.Berdasarkan data Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, HIP biodiesel bulan ini menjadi Rp8.140 per liter. Besaran harga tersebut menurun Rp121 per liter dibandingkan HIP biodisel pada Mei 2018, yakn Rp8.261 per liter.Harga tersebut belum termasuk ongkos angkut. Besaran ongkos angkut mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 1770 K/12/MEM/2018. penurunan harga biodiesel ini dipengaruhi oleh pergerakan harga CPO yang mengalami penurunan. Dalam sebulan terakhir CPO turun sebesar Rp164 per kg. Dari sebelumnya harga CPO diketahui sebesar Rp8.118 per kg selama periode 25 Maret-24 April 2018 , kemudian turun pada periode 25 April-24 Mei 2018 menjadi Rp7.954 per kg.Sementar itu, HIP bioetanol pada Juni 2018 naik jika dibandingkan dengan HIP bulan lalu. Diketahui harga bioetanol pada Juni 2018 sebesar Rp10.210 per liter , sementara harga bioetanol pada Mei 2018 sebesar Rp10.147 per liter sehingga ada kenaikan harga sebesar Rp63 per liter.Penghitungan besaran HIP bioetanol ini berdasarkan harga rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan Rp1.625/kg dikali 4.125 kg/liter kemudian hasilnya ditambahkan dengan US$0,25/liter.Untuk diketahui, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE. (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20180604/44/802521/hip-biodiesel-juni-2018-kembali-turun

Prediksi Harga CPO Landai, Dua Saham Ini Masih Prospektif: Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi harga minyak sawit berpotensi melemah pada semester kedua ini karena produksi crude palm oil global akan meningkat dari semester pertama.Analis Mirae Asset Sekuritas, Andy Wibowo melihat harga CPO global akan melemah pada semester kedua ini karena produksi CPO global yang lebih tinggi dari pada semester Satu 2018. Dia melihat pemain biodiesel masih optimistis, tetapi hati-hati tentang keberlanjutan dari harga minyak mentah Brent; oleh karena itu, dipercaya bahwa pemain biodiesel tidak akan meningkatkan kapasitas produksi mereka dalam waktu dekat. Untuk jangka panjang, kami juga melihat bahwa pemain CPO Indonesia akan lebih sulit mendapatkan landbank baru. Secara historis, produksi CPO Malaysia meningkat pada paruh kedua tahun ini. Memang, ini terjadi pada 2015 – 2016, meskipun peristiwa El Nino selama periode itu (kami pikir melihat Malaysia dalam konteks ini relevan, karena merupakan produsen CPO terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, dan ikli dan tekstur tanahnya adalah mirip dengan Indonesia).Meskipun kami telah menaikkan asumsi minyak mentah Brent setahun penuh kami menjadi USD80,0 – 85,0/barel untuk 2018, kami kurang optimis bahwa para pemain biodiesel masih optimis tentang keberlanjutan dari harga minyak mentah Brent; oleh karena itu, kami percaya bahwa biodiesel tidak akan meningkatkan kapasitas produksi mereka dalam waktu dekat. Program penanaman kembali yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa para pemain kelapa sawit akan semakin sulit mendapatkan landbank baru. (BISNIS)

http://market.bisnis.com/read/20180604/191/802467/prediksi-harga-cpo-landai-dua-saham-ini-masih-prospektif

Mandatori Biodiesel akan Diperluas ke Seluruh Sektor: Pemerintah akan menerapkan program mandatori biodiesel secara bertahap di seluruh sektor. Pada periode Juni-Juli 2018 pemerintah akan memperluas pemanfaatan biodiesel ini hingga ke sektor pertambangan, dan kemudian ke sektor industri lainnya. Saat ini penggunaan biodiesel baru untuk solar bersubsidi, pembangkit listrik, dan kereta api. Sementara itu, BPDPKS telah mengalokasikan dana hingga Rp 9 triliun untuk insentif penggunaan biodiesel pada tahun ini, yakni 3 juta kl untuk program solar bersubsidi dan pembangkit listrik PLN, 200 ribu kl untuk program nonsubsidi, dan 20 ribu kl untuk kereta api. Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, bahan campuran solar yakni unsur nabati (fatty acid methyl eter/FAME) yang digunakan berbahan dasar sawit. Adapun produksi sawit nasional mencapai 38 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 juta ton diserap dalam negeri dan sisanya diekspor. Artianya, peningkatan mandatori biodiesel mencukupi. “Program biodiesel ini guna mengamankan devisa negara dan wujud komitmen pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Dadan di Palembang, belum lama ini. Dadan menuturkan, kandungan FAME dalam biodiesel yang dipakai tiap sektor berbeda-beda. Untuk solar bersubsidi sebesar 20%, kereta api 5%, dan pertambangan 15%. Total konsumsi solar dalam negeri saat ini sekitar 35 juta kl. Dia menegaskan, program mandatori biodiesel ini memiliki banyak manfaat Dengan program ini, Indonesia dapat melakukan konservasi penggunaan energi fosil, mendongkrak harga CPO yang merupakan penghasil devisa terbesar, dan petani sawit juga akan diuntungkan. “Kemudian, kita juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca,” tutur dia. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana pernah menuturkan, pemerintah tidak sebatas menggenjot konsumsi. Namun juga menjamin kualitas dari biodiesel yang dipasarkan. Pemerintah telah membuat pedoman penanganan biodiesel ketika didistribusikan, yakni dengan menetapkan SNI solar sebelum dan setelah dicampur FAME. “Jadi dicek di beberapa titik, di produsen, ketika didistribusikan, di storage, dan di titik terakhir sebelum dijual ke konsumen,” jelas dia. Konsumsi biodiesel ditargetkan naik pada tahun ini seiring dengan perluasan insentif ke sektor pertambangan. Perluasan ini bakal menaikkan alokasi biodiesel Mei-Oktober yang sebesar 1,46 juta kl. (INVESTORDAILYINDONESIA)