+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Biofuel producers resume EU exports:

Biofuel producers resume EU exports: Indonesian biofuel producers have commenced exports to the European Union after the World Trade Organization (WTO) ruled ; n favor of Indonesia in regard to antidumping duties imposed on its biodiesel exports to the bloc. The Indonesian Biofuel Producers Association (Aprobi) estimated that biodiesel exports to the EU could reach 500,000 kiloliters in 2018. “Because we have only just started exporting [biodiesel to the EU], we estimate that exports to the EU could reach 500,000 at most,” Aprobi chairman Paulus Tjakrawan said recently as reported by kontan, co. id. He said that exports to the bloc in the first half of the year were almost zero, as producers were just beginning activities in the EU. Paulus said the EU was Indonesias largest market for biofuel. Exports to the US, he said, were halted due to high antidumping duties, which Indonesia would report to the WTO. The association planned to increase imports to China, a big market for biofuel products. Although the WTO ruled in favor of Indonesia, hurdles remain for local biofuel producers. The European Parliament approved earlier this year a draft measure to completely phase out the use of biofuel made from crude palm oil by 2021 as part of its plan to limit the use of biofuels made from food crops. (THE JAKARTA POST)

RI Taklukkan Eropa – Sawit Kita Boleh Masuk Lagi: Komisi Eropa memutuskan tidak akan melanjutkan pembahasan pembatasan sawit untuk campuran biodiesel. Dengan begitu, produk sawit kita bisa masuk lagi ke Eropa. RI sukses taklukkan Negeri Benua Biru. DIREKTUR Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan. Komisi Eropa tidak akan melanjutkan pembatasan sawit untuk campuran biodiesel seperti yang diminta Parlemen Eropa. Ini artinya kita bisa ekspor lagi ke Eropa. “Yang membuat usulan itu (pelarangan) adalah Parlemen Eropa. Dewan Eropa sendiri kurang sependapat,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin. Untuk diketahui. Parlemen Eropa akan menghapus penggunaan biodiesel dari minyak nabati pada 2030 dan dari minyak kelapa sawit pada 2021. Upaya itu akan diwujudkan rancangan Proposal Energi bertajuk Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Spurces. Menurut dia, di Eropa ada tiga pengambil keputusan. Yaitu, Parlemen Eropa, Komisi Eropa, dan Dewan Eropa. “Jadi mereka juga tidak satu suara. Bahkan, Komisi Eropa belum mempertimbangkan akan melanjutkan proposal tersebut,” katanya. Pengusaha menyambut baik kabar tersebut. Menurut Sahat, hal ini memperlihatkan pemerintah jago melobi. “Untuk sawit memang tidak bisa dilakukan oleh swasta saja, tapi harus kerja sama dengan pemerintah,” ujarnya. Dengan lampu hijau dari Eropa ini, kata dia, ekspor sawit ke Negeri Benua Biru akan kembali normal. Ekspor Sawit RI ke Eropa pada April mencapai 100 ribuan ton. Sedangkan pada Maret hanya 35 ribu ton saja. “Januari-Februari nol. Karena dumping baru selesai Maret,” katanya. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, tidak mudah melobi Eropa untuk menghentikan rencananya membatasi penggunaan sawit untuk campuran biodiesel. Bahkan, pemerintah harus melobi langsung ke Vatikan. “Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan langsung turun ke Vatikan untuk bertemu Paus Fransiskus untuk menyampaikan surat dari Presiden Jokowi agar sawit kita bisa tetap masuk ke Eropa,” paparnya. Vatikan pun akhirnya memutuskan untuk diadakan seminar membahas sawit. Selain dari Indonesia, pembicaranya berasal dari Nigeria dan Colombia. “Kunci lobi ada humanity dan peace,” ujarnya. Menurut dia, dalam seminar tersebut diketahui jika sawit bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan menciptakan perdamaian. Misalnya yang terjadi Columbia. “Columbia dan pemberontak berhasil berdamai. Dan bekas pemberontak itu dikasih lahan sawit untuk perdamaian,” katanya. Sebelumnya dalam konferensi internasional tentang pengentasan kemiskinan di Pontifical Urban University Vatikan di Roma. Selasa (15/5) lalu. Luhut mengatakan, perkebunan kelapa sawit telah menjadi instrumen yang efektif untuk mengentaskan kemiskinan. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang telah membuktikan hal tersebut. Di Indonesia ada 17 juta orang yang bekerja di sektor kelapa sawit, sedangkan di Malaysia sedikitnya 2 juta orang. Dari total 11,6 juta hektare perkebunan kelapa sawit Indonesia, 41 persen di antaranya adalah perkebunan rakyat. Luhut mengatakan, sektor pertanian sangat penting dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Pada sub sektor pertanian, kelapa sawit merupakan penyumbang devisa ekspor terbesar yaitu sekitar 15.5 miliar Euro atau lebih dari Rp 250 triliun. (RAKYAT MERDEKA)

Permintaan Terus Meningkat, Industri Hilir Sawit Tetap Menjanjikan (DUNIA USAHA): Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengatakan industri produk turunan sawit tetap menjanjikan karena ditopang kenaikan permintaan dari dalam dan luar negeri. “Bahkan, saat ini industri hilir sawit tumbuh positif di tahun ini, baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel,” ungkapnya saat acara silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Cabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), di la-karta, akhir pekan kemarin. Lebih lanjut Sahat mengatakan ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan [oko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi USA dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat. Di tempat yang sama, Rapolo Hutabara, Ketua U-mum APOLIN, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsiglobalproduk oleokimia di sektor kos-mestik, industri, ban, dan pengeboran minyak. Di dalam negeri, menurut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk olekimia mencapai USS 3,3 miliar pada2017. “Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar, “kata Rapolo. Di segmen minyak goreng, produkminyakgoreng curah akan beralih kepada kemasan. Sahat Sinaga memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019.” Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,”jelasnya. Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,75-9 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. “Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan. Dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel,” kata Sahat. Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, mengakui tahun tni pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan ini dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan. Ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan. “Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter, “ujar Paulus. Angin segar lainnya adalah WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan an ti dumping Uni Eropa. Paulus juga menginformasikan bahwa Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa. Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir. “Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula biodiesel yang dijual ke negara lain, tapijumlahnyakecil,”pung-kas Paulus. Sebelumnya, Wakil Ketua Comite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk bisa mengembangkan industri hilir kelapa sawit untuk meningkatkan nilai tambah. Saat ini, katanya, industri hilir kelapa sawit Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hal ini tercermin dari rendahnya hak paten yang diajukan Indonesia di industri tersebut. Berdasarkan data World Intellectual Property Organisation 2011, permohonan paten Indonesia tercatat hanya tiga, jauh di bawah Malaysia sebanyak 79 permohonan, Singapura sebanyak 34 permohonan, dan Thailand sebanyak tiga permohonan. “Kalau Indonesia tidak hanya menjadi produsen tapi juga hilirisasi akan membuat surplus perdagangan,” katanya. (NERACA)

Pelaku Industri Siap Jalankan Mandatori Migor Kemasan: Pelaku industri siap menjalankan kebijakan mandatori minyak goreng dalam kemasan (migor kemasan) yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2020. Pelaku industri domestik saat ini dalam proses transisi dari proses produksi minyak goreng curah ke kemasan, di antaranya dengan melakukan pengadaan mesin pengemasan dan ruang penyimpanan yang lebih besar. Dengan mandatori migor kemasan maka nantinya tidak ada lagi migor curah, yang diduga tidak memenuhi kesehatan dan keamanan pangan, di pasaran. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan, rencana proses peralihan atau transisi penggunaan migor curah ke kemasan sudah berlangsung sejak lama. Sesuai kesepakatan terakhir antara pemerintah dan pelaku industri migor domestik, proses transisi tersebut akan selesai pada 2019. “Proses transisi sedang berlangsung, dengan begitu pada 2020 sudah tidak akan ada lagi minyak goreng curah di pasaran,” kata Sahat saat berbuka puasa dengan media di Jakarta, pekan lalu. Dalam peralihan dari minyak curah ke kemasan. Sahat mengakui akan adanya dampak terhadap harga komoditas tersebut Pasalnya, dibutuhkan tambahan biaya, mulai dari mesin untuk pengemasan, ruang penyimpanan yang lebih besar, termasuk kotak (kardus) kemasan luar, dalam proses tersebut. Apalagi, pemerintah menginstruksikan agar kemasan 250 gram juga tersedia di pasaran, padahal semakin kecil kemasan maka dibutuhkan biaya lebih besar. “Hanya saja, faktor penentu memang tetap harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Sebab, biaya kemasan hanya berdampak sekitar 10-15%,” kata Sahat Sahat juga memperkirakan, dalam proses peralihan tersebut maka investasi pengemasan migor domestik akan lebih terpacu. Ini karena pada 2019 perusahaan akan sibuk membeli mesinfilling. “Dengan total volume 3,50 miliar kilogram minyak goreng curah yang dialihkan ke kemasan, katakanlah untuk 500 mililiter per kemasan berarti dibutuhkan setidaknya 1.850 unit mesin. Dengan harga sekitar Rp 600 juta per. unit mesin berarti bakal ada investasi triliunan rupiah,” kata Sahat Sinaga. Dalam perkiraan GIMNI, tahun ini, konsumsi minyak goreng domestik mencapai 12,76 juta tonatau lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,06 juta ton. Peningkatan konsumsi minyak goreng tersebut sejalan dengan peningkatan penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri pada 2018 yang masih didominasi untuk pangan. Rinciannya, sebanyak 8,41 juta ton minyak sawit untuk makanan dan specialty fats, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle, serta 3,50 juta ton untuk memenuhi kebutuhan biodiesel. Masih Menjanjikan. Sementara itu, industri minyak sawit nasional diyakini masih menjanjikan tahun ini, hal itu ditopang oleh permintaan yang masih tumbuh, baik dari dalam maupun luar negeri. Apalagi, industri hilir berbasis kelapa sawit di Indonesia juga diyakini saat ini mengalami pertumbuhan positif, terutama minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel. Sahat Sinaga mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir sawit. Pertama, produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa (UE). Kedua, diplomasi dagang pemerintahan Presiden Joko Widodo yang sangat aktif. Ketiga, tindakan retaliasi Amerika Serikat (AS) dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa. Keempat, menguatnya kurs mata uang AS. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat. Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat memproyeksikan, ekspor produk oleokimia tahun ini mencapai 4,40 juta ton atau naik dari 2017 yang sebanyak 3,60 juta ton. Peningkatan ekspor ditopang tren kenaikan konsumsi global, terutama produk kosmestik, industri, ban, dan kebutuhan di sektor pengeboran minyak. “Ekspor juga semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia,” ujar dia. PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever misalnya, kata dia, akan menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk oleokimia mencapai US$ 3,30 miliar pada 2017. “Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi US$ 3,60 miliar. Sampai triwulan 1-2018 terpantau volume ekspor oleokimia sudah mencapai 1,10 juta ton, dengan nilai perdagangan US$ 915 juta,” kata Rapolo. Di segmen biodiesel, Ketua Harian Asosiasi Produsen Bio-fuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan, tahun ini pemakaian di dalam negeri dipredikai naik sekitar 500 ribu kiloliter (kl). Dengan syarat, penggunaan biodiesel nonsubsidi berjalan ditambah pemakaian biodiesel untuk bahan bakar kereta api dan di sektor pertambangan. “Jika konsumsi B20 oleh kereta api terealisasi, konsumsi domestik bisa tambah 200-500 ribu kiloliter (kl). Untuk ekspor diproyeksikan bisa mencapai 500 ribu kl ke Eropa hingga akhir tahun ini. Ada juga biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil,” kata Paulus. Sementara itu, dia menambahkan, WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan antidumping Uni Eropa. Hal ini juga membawa angin segar bagi Indonesia. “Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa. Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir,” kata Paulus. (INVESTOR DAILY INDONESIA)

Biodiesel Indonesia Masuk Eropa (Setelah setahun terhenti, mulai Mei lalu, biodiesel Indonesia kembali masuk Uni Eropa): Pasca Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menolak putusan anti-dumping Uni Eropa terhadap produk biodiesel Indonesia, ekspor bahan bakar ini dari negara kita mulai masuk ke benua biru. Ekspor perdana biodisel kita mulai Mei 2018 lalu. Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), menyatakan, volume ekspor biodiesel Mei lalu masih kecil. Cuma, ia belum mendapatkan data ekspor tersebut. Yang jelas, “Sudah ada beberapa perusahaan yang mengekspor biodisel pada Mei lalu,” ujarnya akhir pekan lalu. Menurut Paulus, ekspor biodisel itu merupakan yang pertama di tahun ini. Sebab, sepanjang kuartal I 2018, ekspor biodiesel ke Uni Eropa masih nol. “Karena kita baru ekspor, kira-kira ekspor biodiesel ke Uni Eropa paling banyak 500.000 kiloliter (kl) di 2018,” kata dia. Tentu, perkiraan itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan ekspor biodiesel ke Uni Eropa pada 2014 yang mencapai 1,8 juta kl. Paulus mengatakan, ekspor tahun ini masih kecil lantaran tantangan utama bagi Indonesia saat ini adalah menjalin koneksi kembali dengan Uni Eropa yang sempat terputus. Sebab setahun terakhir, Indonesia tidak lagi mengekspor biodiesel ke Uni Eropa karena tudingan dumping. Uni Eropa menerapkan bea masuk antidumping yang mereka terapkan sejak 2013 hingga 2016. Alhasil, ekspor biodiesel kita turun drastis, 42,84%. Padahal di 2013, nilai ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa mencapai US$ 649 juta. Angka ini merosot menjadi US$ 150 juta pada 2016. Sedangkan di 2017, ekspor biodisel negeri ini nihil. Selama setahun ekspor terhenti, Uni Eropa melakukan substitusi biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dengan minyak nabati lain dari kedelai. Walhasil, Paulus bilang, upaya merangsek ke pasar Eropa lagi tidak akan mudah bagi Indonesia, meski biodisel minyak sawit jauh lebih murah ketimbang kedelai. Masi ada hambatan. Walau sudah mulai ekspor ke Uni Eropa, bukan berarti biodiesel Indonesia berhenti menghadapi masalah. Saat ini, Parlemen Uni Eropa tengah mengusulkan, penghentian penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel pada 2021 mendatang. Untuk memutuskan itu, Parlemen Uni Eropa akan menggelar trialog dengan Dewan dan Komite Uni Eropa. Oleh karena itu, menurut Paulus, saat ini Indonesia terus berupaya melakukan negosiasi dengan Uni Eropa. Selain Uni Eropa, Paulus membeberkan, Indonesia tidak memiliki pasar ekspor biodiesel yang besar ke kawasan lain di dunia. Kalaupun ada, angka ekspornya sangat kecil. Apalagi, ekspor ke Amerika Serikat dihentikan lantaran pengenaan bea masuk antidumping yang besar. Meski pasar ekspor masih kecil, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) terus mendukung peningkatkan produksi biodiesel dalam negeri. Edi Wibowo, Direktur Penyaluran Dana BPDPKS, mengatakan, lembaganya telah menyalurkan dana insentif biodiesel sebesar Rp 3,24 triliun hingga April lalu dari total Rp 9,8 triilun untuk tahun ini. Dana insentif itu untuk pen-jualan biodiesel sebesar 970.000 kl atau setara 30,1% dari target 3,22 juta kl. “Kami optimistis, dana yang dianggarkan untuk insentif biodiesel masih akan cukup sampai akhir tahun,” ujar Edi. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan, pemerintah tetap memperjuangkan ekspor biodiesel ke Uni Eropa terus berlanjut, meskipun masih banyak tantangan yang muncul. “Tapi, kami juga membuka pasar baru untuk ekspor biodiesel, seperti ke Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tengah,” imbuh dia. (KONTAN)

Aprobi perkirakan ekspor biodiesel ke Uni Eropa bisa 500.000 kiloliter: Setelah Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) menolak putusan anti dumping Uni Eropa terhadap produk biodiesel Indonesia, Indonesia pun kembali mengekspor produk biodiesel ke Uni Eropa. Meski begitu, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) belum bisa menentukan secara pasti berapa jumlah biodiesel yang bisa diekspor ke Uni Eropa di tahun ini. “Karena kita baru ekspor, kira-kira ekspor biodiesel ke Uni Eropa paling banyak 500.000 kiloliter,” ujar Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan, Kamis (31/5). Paulus pun mengatakan, realisasi ekspor biodiesel hingga Mei belum bisa didapatkan karena ekspor biodiesel baru saja dimulai. “Triwulan pertama bisa dikatakan masih nol. Namun sebenarnya ada beberapa yang perusahaan yang sudah mengekspor,” tambah Paulus. Meski ekspor biodiesel ke Uni Eropa sudah dilakukan, bukan berarti biodiesel Indonesia berhenti menghadapi masalah. Pasalnya, Parlemen Eropa mengusulkan agar Uni Eropa menghentikan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biofuel pada 2021. Untuk memutuskan hal tersebut, akan diadakan trialog antara parlemen, council, dan commission. Menurut Paulus, saat ini Indonesia pun terus berupaya bernegosiasi dengan pihak council. Paulus membeberkan, selain Eropa, Indonesia tidak memiliki pasar ekspor biodiesel lain saat ini. Meskipun ada, angka ekspornya sangat kecil. Dia bilang, ekspor ke Amerika Serikat pun dihentikan lantaran bea masuk anti dumping (BMAD) yang besar. Untuk mengatasi masalah BMAD ini, Aprobi bersama dengan Kementerian Perdagangan akan mengadu ke WTO. Paulus bilang, terdapat beberapa proses yang harus dilewati. Tak hanya WTO, Paulus pun membeberkan Indonesia sudah membawa masalah ini ke pengadilan Amerika. Indonesia pun berencana memperbesar pasar ekspor biodiesel ke China. Pasalnya, pemakaian solar di China sekitar 175 juta kiloliter per tahun. “Memang pasarnya besar. Namun China juga masih menggunakan minyak goreng bekas selama ini. Mereka juga ada kewajiban program biofuel,” ujar Paulus.Tahun ini Aprobi memperkirakan serapan biodiesel dalam negeri mencapai 3,5 juta kiloliter. Paulus bilang, 2,8 juta-3 juta kiloliter ditujukan untuk Public Service Obligation (PSO) sementara 500.000 kiloliter akan diserap untuk non PSO.Tahun ini, target produksi biodiesel pun diperkirakan akan sebesar 3,5 juta kiloliter, dimana hingga kuartal I tahun ini produksi biodiesel sudah mencapai sekitar 800.000 ton. “Kalau nanti ekspor bisa 500.000 ton maka produksi akan ditambah. Kita masih punya kapasitas produksi yang besar yakni 12 juta kiloliter per tahun,” tandas Paulus. (KONTAN)

https://industri.kontan.co.id/news/aprobi-perkirakan-ekspor-biodiesel-ke-uni-eropa-bisa-500000-kiloliter

Downstream palm oil industry growing: The Indonesian Federation of Vegetable oil Industries (GIMNI) said the country`s downstream palm oil industry grew positively including in vegetable oil, oleochemiacl and biodiesel industries. Executive Director of GIMNI Sahat Sinaga said there are a number of factors supporting the growth of downstream palm oil industry including a cut in the import tax on biodiesel by the European Union, active trade diplomacy launched by the government, retaliation by the U.S. government again a number of countries including China, Mexico, and the European Union (EU) and the dollar appreciation . “These factors have brought in fresh air for palm oil trade in global market,” Sahat said a gathering between the media people the Association of Downstream Palm Oil Industries grouped in the Federation of Vegetable Oil Industries (GIMNI), Indonesian Association of Biofuel Producers (APROBI), Indonesian Association of Oleochemical Producers (APOLIN). Meanwhile, General Chairman of APOLIN Rapolo Hutabarat, predicted that the country`s oleochemical exports would grow 22 percent to 4.4 million tons, from 3.6 million tons last year. Increase in oleochemical exports followed growing global consumption of oleochemicals for the cosmetics industry, tire industry and oil drilling industry and other manufacturing industries. Export grew with the new investment by oleochemical producers like PT Energi Sejahtera Mas and Unilever, he said. In 2017, the country`s exports of oleochemicals were valued at US$3.3 billion in 2017. This year, exports are expected to rise to US$3.6 billion. In the first quarter of this year oleochemical exports totaled 1.1 million tons valued at US$915 million. Sahat said cooking oil will no longer sold in bulk, adding, the process of transition from bulk to bottling is expected to be wrapped up in 2019. “In 2020, there is no more cooking oil sold in bulk,” he said. In 2018, domestic consumption of cooking oil is predicted to reach 12.759 million tons , up from 11.056 million tons in 2017. Most of palm-oil consumption in the country is for food — 8.414 million tons for food and specialty fats; 845,000 tons for oleochemical and soap noodle, and 3.5 million tons for biodiesel. Paulus Tjakrawan, the chairman of APROBI, said biodiesel consumption in the country this year is predicted to rise 500,000 tons. The prediction would be a reality if the use of non subsidized biodiesel is as expected including in the use of biodiesel in mixture with diesel oil to fuel locomotives and mining heavy equipment. “If B-20 is used for railways, domestic consumption of biodiesel could increase by 200,000 to 500,000 kiloliters,” Paulus said. B-20 (a mixture of biodiesel 20 percent in diesel oil) has been used to fuel the locomotive of the train of the state-owned railway company (PT KAI) serving the Palembang-Lampung track . Head of the unit of Locomotive Depot of Tanjung Enim Batu Nurdin said there was no problem in the locomotive of the railway after using B20 fuel in the operation in the last three months. There was no difference in the performance of the engine when using B20 from when it used 100 percent diesel oil, Nurdin told reporters and a monitoring team from the Energy and Mineral Resources (ESDM) Ministry . He said based on the checking of the locomotive, there should be no problem using B20 fuel in the operation of the Palembang unit of PT Kereta Api Indonesia (KAI). Based on the CO emission test, B20 is more environmentally friendly than pure diesel oil. With this encouraging development , B20 could be permanently used for the locomotives of PT KAI, he said, adding, Indonesia would be the first to use B20 fuel for locomotives. Paulus also said the decision of WTO which favored Indonesia against the EU anti dumping policy is great victory for Indonesian palm oil industry. In addition the European Commissioner has sent a signal that it would not back up the palm oil resolution of the European Parliament, prompting a number of Indonesian biodiesel producers to start studying exports of that commodity to Europe after exports had to stop in the past several years. “It is predicted that Indonesia`s biodiesel exports to Europe would reach 500,000 kiloliters this year,” he said. The country has also exported biodiesel to other countries but small in volume, he added. (ANTARA)

https://en.antaranews.com/news/115987/downstream-palm-oil-industry-growing

Industri Hilir Sawit Tumbuh Positif: Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan industri hilir sawit nasional mengalami pertumbuhan positif pada 2018 baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, maupun biodiesel. Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga di Jakarta, Sabtu, mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi AS dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko, maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN). Sementara itu Ketua Umum APOLIN Rapolo Hutabarat, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22 persen menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban dan pengeboran minyak. Di dalam negeri, menurut dia, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia dengan nilai ekspor mencapai 3,3 miliar dolar AS pada 2017. Melihat Aktivitas Pekerja pada Perkebunan Kelapa Sawit di Liberia Tahun ini, tambahnya, diperkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar sementara hingga triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar AS. Untuk minyak goreng, menurut Sahat Sinaga, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan yang mana memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019. “Nanti 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,” ujarnya Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik diperkirakan mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton Tahun ini, lanjutnya, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan, dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle, lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel. Menurut Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan tersebut, lanjutnya, dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan, ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan. “Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,”ujar Paulus. Sementara itu, menurut Paulus, keputusan WTO yang memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa menjadi angin segar bagi industri sawit nasional. Selain itu Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa, sehingga, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir. “Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil,” ujarnya. (gir). (OKEZONE)

https://economy.okezone.com/read/2018/06/02/320/1905750/industri-hilir-sawit-tumbuh-positif

Prospek Industri Hilir Sawit Akan Positif Sepanjang Tahun 2018: Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan industri hilir sawit nasional mengalami pertumbuhan positif pada 2018 baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, maupun biodiesel. Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa. Kemduian diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi AS dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko, maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs dolar. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Sabtu (2/6/2018). Sementara itu, Ketua Umum APOLIN Rapolo Hutabarat memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22 persen menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban dan pengeboran minyak. Di dalam negeri, menurut dia, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia dengan nilai ekspor mencapai 3,3 miliar dolar AS pada 2017. Tahun ini, tambahnya, diperkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar AS. Sementara, hingga triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar AS. Untuk minyak goreng, menurut Sahat Sinaga, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan yang mana memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019. “Nanti 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,” ujarnya. Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik diperkirakan mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. Tahun ini, lanjutnya, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan, dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle, lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel. Menurut Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan tersebut, lanjutnya, dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan, ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan. “Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,”ujar Paulus. (INEWS)

https://www.inews.id/finance/read/141377/prospek-industri-hilir-sawit-akan-positif-sepanjang-tahun-2018?sub_slug=bisnis

Industri Hilir Sawit Tumbuh Positif Tahun Ini: Industri produk turunan sawit tetap menjanjikan karena ditopang kenaikan permintaan dari dalam dan luar negeri. Data menunjukkan industri hilir sawit untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel tahun ini tumbuh positif. Demikian dikemukakan Sahat Sinaga, direktur eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) di Jakarta, Kamis (31/5). Sahat mengatakan ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi USA dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat. Di tempat yang sama, Rapolo Hutabarat, ketua umum Apolin, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak. Di dalam negeri, menurut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk olekimia mencapai US$ 3,3 miliar pada 2017. “Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar,”kata Rapolo. Di segmen minyak goreng, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Sahat Sinaga memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019. ” Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,”jelasnya. Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. “Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan. Dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel,” kata Sahat. Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Aprobi, mengakui tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan ini dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan. Ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan. “Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,”ujar Paulus. Angin segar lainnya adalah WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa. Paulus juga menginformasikan bahwa Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa. Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir. “Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil, ” pungkas Paulus. (INVESTOR DAILY INDONESIA)

http://id.beritasatu.com/home/industri-hilir-sawit-tumbuh-positif-tahun-ini/176332

Industri Hilir Sawit Tetap Menjanjikan: Industri produk turunan sawit tetap menjanjikan karena ditopang kenaikan permintaan dari dalam dan luar negeri. Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menjelaskan industri hilir sawit tumbuh positif pada tahun ini baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel. Hal ini diungkapkannya dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), di Jakarta, Kamis (31 Mei 2018). Sahat mengatakan ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi USA kepada sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat. Di tempat yang sama, Rapolo Hutabara, Ketua Umum APOLIN, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak. Di dalam negeri, menurut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk olekimia mencapai US$ 3,3 miliar pada 2017. “Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar,”kata Rapolo. Di segmen minyak goreng, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Sahat Sinaga memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019. ” Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,”jelasnya. Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. “Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan. Dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel,” kata Sahat. Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, mengakui tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan ini dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan. Ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan. “Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,”ujar Paulus. Angin segar lainnya adalah WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa. Paulus juga menginformasikan bahwa Komisioener Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa. Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir. “Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil, ” pungkas Paulus. (SAWIT INDONESIA)