+62 2129380882 office@aprobi.co.id

BPPT Bersama Stakeholder Lakukan Review Penggunaan B30

Pelaku Bisnis | Kamis, 23 Januari 2020

BPPT Bersama Stakeholder Lakukan Review Penggunaan B30

Balai Teknologi Bahan Bakar Dan Rekayasa Disain (BTBRD) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengadakan Focus Group Discussion tentang Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Trial B30 di Hotel Grand Zuri, Tangerang Selatan pada 21/1. B30 merupakan bahan bakar campuran 30% biodiesel berbahan dasar sawit dengan 70% bahan bakar minyak jenis solar. Sebelumnya telah dilakukan Road Test pada 13 Juni 201 guna menguji kesiapan B30 dalam rangka pelaksanaan mandatori B30 yang dijadwalkan mulai awal 2020. Kepala BTBRD BPPT Ari Rahmadi mengatakan, peran BPPT adalah melakukan evaluasi kesiapan penanganan B100, pencampuran B30 serta melihat bagaimana distribusinya ke SPBU di Indonesia. Disitulah, kata Ari, dilakukan evaluasi. Evaluasi tersebut sudah ada report dan hasilnya. Kegiatan ini juga mengumpulkan seluruh stakeholder seperti Kementerian ESDM, Komisi Teknis Bioenergi, Kementerian Perekonomian, APROBI berkumpul bareng untuk mendiskusikan hasilnya dan nantinya BPPT memberikan rekomendasi.

“Dalam penerapan Biodiesel ada dokumen yang namanya pedoman umum penanganan biodiesel, dan BPPT akan merevisinya. Revisi tersebut akan mengakomodir temuan-temuan baru yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas biodiesel yang ada di konsumen lebih baik dari sebelumnya. Nantinya akan di sampaikan kepada Kementerian ESDM untuk ditetapkan,” ujarnya. Kedepan Ari berharap biodiesel ini akan tetap ada dan semoga pemerintah tetap menaruh perhatian kepada perkembangan biofuel di Indonesia. Dalam kesempatan yang sama Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM (Ditjen EBTKE ESDM), Andriah Feby Misna, selaku regulator kelak, mengutarakan bahwa Trial B30 ini merupakan upaya untuk pengetatan pada spesifikasi B30 yang akan dikonsumsi oleh pengguna, dan dari pelaksanaannya ditemukan masalah kadar air masih menjadi fokus utama.

“Kita harus melihat secara rinci mengenai masalah kadar air ini. Semua moda transportasi B30 kita lihat, baik melalui truk, pipa minyak, hingga kapal. Pasti permasalahan masing-masing supply chain ini akan berbeda, dan harus ditemukan solusinya,” tegasnya. Dirinya juga meminta estimasi investasi yang diperlukan untuk peningkatan sistem handling sarana dan prasarana B30.“Saya meminta untuk dipertajam perhitungannya, hubungan dari faktor-faktor seperti keterbatasan infrastruktur, dampak kenaikan air, dan media penyimpanan. Semuanya harus bisa dikuantifikasikan, untuk lebih mudah menanggulangi permasalah yang ada, dan ini menjadi tugas tambahan untuk setiap instansi yang bersangkutan,” tuturnya. Sementara Pihak Pertamina selaku stakeholder, yang diwakili oleh Biofuel & Additive Supply Chain Manager, Yardinal mengatakan, kita harus fokus pada sisi distribusi, khususnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), end user consumer, karena mereka hanya menggunakan dan mengelola BBM yang diberikan, tidak mempunyai pengetahuan sebaik industri. “Pengguna akhir harus yang paling kita perhatikan, semoga BPPT mempunyai guidance mengenai handling bahan bakar B30, baik itu pemindahan, distribusi, pemeliharaan, bahkan petugas khusus untuk menangani B30. Karena merekalah yang paling terdampak dalam penerapan B30 ini,” harapnya.

Sementara dari pihak Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia APROBI, Jimmy, mengatakan selama proses Trial B30 yang berlangsung dari November-Desember Tahun 2019, significant problem-nya di supply chain, dimana kenaikan water containment-nya sangat tinggi. “Kenaikan air ini bisa terjadi di dalam proses pemindahan FAME (B100), baik itu dari tangki penyimpanan ke truk angkut, ke kapal, bahkan ketika diturunkan kembali. Disini biasanya water containment naik, proses handling-nya mesti diatur juga standar operasinya,” terang Jimmy. Jimmy pun meminta untuk para stakeholder untuk segera mencari kesepakatan mengenai cara menguji sampel dan pertimbangan threshold standar Fame, terlebih Indonesia baru memulai proses bisnis B30 di Indonesia. “Kami selaku pelaku bisnis minyak sawit sangat mendukung penerapan B30 di Indonesia, namun kita juga mempertimbangkan kemampuan produksi dan juga faktor komersialnya. Semoga kita bersama mampu menemukan formulasi yang paling tepat untuk penerapan B30 ini,” pungkasnya.

Tempo | Kamis, 23 Januari 2020
Hino Imbau Pengguna Tak Khawatir Soal Biodiesel B30, Ini Tipsnya

Hino Motors Sales Indonesia atau HMSI menegaskan siap mengikuti program pemerintah terkait penggunaan bahan bakar biodiesel B30. Produk-produk Hino juga disebut sudah kompatibel mengkonsumsi bahan bakar campuran minyak kelapa sawit tersebut. Namun Direktur Penjualan dan Promosi HMSI, Santiko Wardoyo, menjelaskan bahwa penggunaan bahan bakar B30 memiliki karakter tersendiri. Dia berharap agar para pengusaha maupun pengemudi truk bisa melakukan kontrol dan perawatan yang lebih rutin. “Itu dibutuhkan untuk mencegah atau meminimalisir penyumbatan filter, sehingga kendaraan tetap terjaga dan bisnis dapat terus berjalan,” ujar Santiko, Kamis 23 Januari 2020. Pengguna kendaraan Hino juga diharapkan tidak khawatir dengan B30. Terlebih Hino Indonesia mengklaim sudah sampai pada tahap akhir pengembangan Retrofit kendaraan yang saat ini beroperasi atau prodiksi VIN di bawah tahun 2020. Teknologi Retrovit ini disebut merupakan pilihan yang digunakan untuk kendaraan Hino baik itu mesin mekanikal maupun commonrail yang terdiri dari Fuel Filter yang lebuh besar. Tak hanya itu, Sender, Tank, Piping, dan Hose juga memiliki material yang lebih tahan untuk penggunaaan bahan bakar B30.

Selain itu, untuk membantu efisiensi biaya operasional kendaraan, Hino juga memiliki Strainer yang dijual terpisah. Komponen ini dapat digunakan sebagai tambahan pada bagian fuel tank. Strainer ini berguna untuk memperpanjang umur pemakaian fuel filter. Adapun tips pemeriksaan dan perawatan kendaraan Hino yang mengkonsumsi B30. Berikut tipsnya: 1. Rutin membersihkan tangki bahan bakar setiap 3 bulan sekali. 2. Mengganti pre fuel filter dan main fuel filter du 10.000 km secara berkala atay sesuai petunjuk buku service. 3. Rajin memeriksa kandungan air dalam filter sebelum menghidupkan mesin. 4. Jika kendaraan tidak beroperasi lebih dari tiga bulan, pastikan bahan bakar diganti dengan yang baru sebelum beroperasi kembali. Penggunaan B30 sendiri resmi diberlakukan Pemerintah Indonesia mulai 1 Januari 2020. Itu merujuk Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) nomor 12 Tahun 2015 tentang penyediaan, pemanfaatan, dan tata niaga bahan bakar nabati sebagai bahan bakar lain.
https://otomotif.tempo.co/read/1298749/hino-imbau-pengguna-tak-khawatir-soal-biodiesel-b30-ini-tipsnya/full&view=ok

Detik | Kamis, 23 Januari 2020
Sambut Penerapan B30, Hino Lakukan 2 Tes Ini

PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) menyambut baik program pemerintah untuk penggunaan bahan bakar biodiesel sebesar 30% atau B30. Hino bahkan sudah melakukan 2 jenis tes untuk untuk B30, yakni emission test dan durability test. Pengetesan tersebut dilakukan pada mesin Euro 2 dan mesin Euro 4 yang akan dipakai pada 2021 mendatang. Tes dilakukan Hino di Indonesia dan Jepang, dan bekerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah. Uji mesin Hino dilakukan di laboratorium dengan kondisi beban dan daya maksimum pada putaran mesin 2.500 rpm, selama 400 jam atau setara 40.000 km pada pemakaian maksimum. Meski uji coba dilakukan di laboratorium, Hino menyebut uji tersebut menggambarkan kondisi kendaraan dipacu dalam kondisi ekstrem melebihi keadaan sesungguhnya di lapangan. Sehingga parameter mesin dapat diuji secara ilmiah dan didapat hasil lebih akurat. Adapun parameter yang diuji antara lain daya, torsi, konsumsi BBM, dan dampak terhadap komponen. Berdasarkan hasil uji coba tersebut, Hino mengatakan sudah melakukan penyesuaian spesifikasi kendaraan yang sesuai karakteristik bahan bakar biodiesel, sehingga potensi terhadap dampak atau pengaruh yang timbul pada saat penggunaan B30 dapat diminimalisasi. “Dengan penggunaan bahan bakar B30 diharapkan pengusaha maupun pengemudi truk melakukan kontrol dan perawatan lebih rutin. Ini dibutuhkan untuk mencegah atau meminimalisasi penyumbatan filter, sehingga kondisi kendaraan tetap terjaga dan bisnis dapat terus berjalan,” ujar Direktur Penjualan dan Promosi HMSI Santika Wardoyo, di Jakarta, Kamis (23/1/2020). Sebagai informasi, mandatory penerapan biodiesel tertuang pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 12 tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Penerapan B30 berlaku mulai 1 Januari 2020.
https://oto.detik.com/berita/d-4870203/sambut-penerapan-b30-hino-lakukan-2-tes-ini/1

Indo Pos | Kamis, 23 Januari 2020
Hino Siap Terapkan Program Penggunaan B30

Hino Indonesia siap dalam menghadapi program pemerintah untuk penggunaan bahan bakar biodiesel sebesar 30 persen atau B30. Ini sesuai yang tertuang pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 12 tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar lain, yang berlaku mulai dari 1 Januari 2020. tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar lain, yang berlaku mulai dari 1 Januari 2020. Sejak 2010 hingga saat ini, Hino terus melakukan riset dan pengembangan produk khusus untuk biodiesel. Secara intens durability test dan emission test dilakukan didalam laboratorium agar hasil dapat di cek secara ilmiah. Test dilakukan Hino di Indonesia dan Jepang dengan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait, seperti: Balai Teknologi Termodinamika, Motor dan Propulsi (BT2MP) dulu BTMP, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Disain (BTBRD) dulu BRDST, Kementerian Perhubungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Pertamina.

Hasil riset tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan spesifikasi produk Hino yang cocok menggunakan biodiesel, namun juga untuk mengembangkan spesifikasi bahan bakar biodiesel tersebut. Salah satu contoh kontribusi penelitian Hino yang diaplikasikan pada spesifikasi biodiesel yang diproduksi adalah kandungan logam. Pada B20 tidak diatur kandungan logam, sedangkan di B30 diatur kandungan beberapa jenis logam, antara lain Kalium, Kalsium, Natrium dan Magnesium. Adapun dampak dari kandungan logam tersebut adalah penyebab filter bahan bakar dan injector tersumbat sehingga aliran bahan bakar ke ruang bakar tidak sempurna dan performa mesin tidak optimal. Seperti dijelaskan diatas, dalam menghadapi B30 ini, Hino melakukan dua test yaitu emission test dan durability test baik itu untuk mesin yang saat ini digunakan Euro 2 dan juga mesin yang akan digunakan pada tahun 2021 Euro 4. Uji mesin Hino dilakukan di laboratorium dengan kondisi beban dan daya maksimum pada putaran mesin 2500 rpm, selama 400 jam atau setara dengan 40.000 km pada pemakaian maksimum yang menggambarkan kondisi kendaraan dipacu dalam kondisi ekstrim melebihi dari keadaan sesungguhnya dilapangan atau pengoperasian aktual kendaraan sehari-hari. Sehingga didapatkan hasil atau rekomendasi terkait penyesuaian karakteristik mesin dan kendaraan Hino yang tepat, karena kami sangat menaruh perhatian terhadap kelancaran bisnis konsumen.

“Hino melakukan pengujian di laboratorium karena semua parameter mesin dapat diuji secara ilmiah sehingga didapat hasil yang lebih akurat. Parameter mesin yang diuji antara lain; daya, torsi, konsumsi bbm dan dampak terhadap komponen. Berdasarkan hasil uji tersebut, Hino sudah melakukan penyesuaian spesifikasi kendaraan yang sesuai dengan karakteristik bahan bakar Biodiesel sehingga potensi terhadap dampak atau pengaruh yang timbul pada saat penggunaan Biodiesel termasuk B30 dapat diminimalisir agar kedepannya operasional bisnis customer tidak mengalami gangguan,” kata Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan dan Promosi HMSI. Perubahan spesifikasi kendaraan Hino dilakukan untuk unit kendaraan dengan tahun produksi vehicle identification number (VIN) 2020 yaitu pada bagian ukuran fuel filter yang dibuat lebih besar sehingga filter tetap dapat bertahan 10.000 km sesuai dengan yang saat ini digunakan untuk B20. Selain itu fuel tank dilapisi dengan alumunium platting coated untuk mencegah terjadinya karat, fuel sender gauge dan piping juga dilapisi dengan Nickel platting coated untuk memberikan daya tahan yang lebih kuat terhadap zat asam yang dihasilkan oleh fame B30. Tidak hanya itu untuk material yang berbahan karet, seperti Hose sudah menggunakan material fluorubber agar tahan terhadap sifat sifat dasar dari biodiesel yang menghasilkan zat asam dan mengkikis material.
https://indopos.co.id/read/2020/01/23/217409/hino-siap-terapkan-program-penggunaan-b30/