+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Curhatan pengusaha truk soal percepatan penerapan B50 di 2021

Kontan | Senin, 30 Desember 2019

Curhatan pengusaha truk soal percepatan penerapan B50 di 2021

B50 di 2021. Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo ( Jokowi) meresmikan percepatan implementasi program biodiesel 30 persen atau B30 pada Senin (23/12). Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil uji yang dimulai sejak November 2019 lalu oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI bersama beberapa agen tunggal pemegang merek dan industri terkait. Adapun tujuan dari penerapan program B30 sendiri ialah untuk menyelesaikan masalah defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan (CAD), serta membuat udara Indonesia lebih bersih. “Mengapa harus dipercepat? Pertama, ini ikhtiar kita mencari sumber-sumber EBT (energi baru terbarukan), dan kita harus melepaskan diri dari ketergantungan pada energi fosil yang kita sadar suatu saat pasti akan habis,” kata Jokowi. Kedua, lanjut dia, mengurangi Indonesia dari kegiatan impor minyak dengan meningkatkan produksi minyak kelapa sawit (CPO) sebagai bahan campuran BBM. Program B30 disebut berpotensi menghemat devisa sekitar Rp 63 triliun. “Dengan potensi sawit sebesar itu, kita punya banyak sumber bahan bakar nabati sebagai pengganti bahan bakar solar. Potensi itu harus kita manfaatkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional kita,” ujarnya. “Usaha-usaha untuk mengurangi impor harus terus dilakukan dengan serius. Kalkulasinya jika kita konsisten menerapkan B30 ini akan dihemat devisa kurang lebih Rp 63 triliun,” kata Jokowi lagi. Ketiga, penerapan B30 akan meningkatkan permintaan CPO dalam negeri. Sehingga, dampak yang diberikan dari penyerapan CPO sangat luas. “Menimbulkan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani, pekebun kelapa sawit kita. Ini artinya problem B30 akan berdampak pada pekebun kecil dan menengah, petani rakyat yang selama ini memproduksi sawit,” kata dia. Setelah implementasi B30 di tahun 2019, Jokowi memberikan target kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri ESDM Arifin Tasrif, dan jajaran direksi Pertamina untuk mempercepat implementasi B50 pada awal 2021.

https://industri.kontan.co.id/news/curhatan-pengusaha-truk-soal-percepatan-penerapan-b50-di-2021?page=2

Kompas | Selasa, 31 Desember 2019

Pembuktian Biodiesel

Pemerintah tengah mengenalkan solar B-30. Bahan bakar ini merupakan campuran 30 persen biodiesel dari minyak Kelapa Sawit dan 70 persen solar murni. Harapannya, ketergantungan pada minyak bumi terus berkurang. Sejatinya, bahan bakar campuran solar dan biodiesel, yang dikenal dengan nama pasar biosolar, sudah dikenalkan ke publik tahun 2015. Kadar biodiesel terus dinaikkan, yakni dari 15 persen (B-15) tahun 2015 dan 2016 menjadi 20 persen (B-20) sampai 2019. Kebijakan B-30 secara resmi diberlakukan mulai 1 Januari 2020. Pemerintah mengklaim kebijakan B-20 di 2018 mampu menghemat devisa 1,88 mHiar dollar AS atau setara Rp 26 triliun dengan kurs Rp 14.000 per dollar AS. Adapun B-30 diperkirakan bisa menghemat devisa sampai 4,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67 triliun. Tentu jadi kabar baik di tengah kondisi neraca perdagangan yang mengalami defisit. Jika ditelisik ke hulu, salah satu akar masalah defisit neraca perdagangan adalah tak seimbangnya produksi minyak mentah dalam negeri dengan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional. Produksi minyak nasional kurang dari 800.000 barel per hari, sedangkan konsumsi bisa mencapai 1,5 juta barel per hari. Sisanya tentu diimpor. Sejak 2014, Indonesia sudah berstatus negara pengimpor minyak.

Nilai tambah

Apakah impor itu salah? Tidak. Banyak negara sangat bergantung dari impor untuk kebutuhan energi primer mereka. Sebut saja Singapura, Jepang, atau Korea Selatan. Mereka adalah negara-negara yang miskin sumber daya energi, tetapi menjelma menjadi negara maju. Data Bank Dunia 2018, produk domestik bruto (PDB) per kapita Jepang 39.290 dollar AS dan Korea Selatan 31.362 dollar AS. Ini jauh di atas PDB per kapita Indonesia yang 3.893 dollar AS. Kenapa negara-negara itu menjelma jadi negara kaya di tengah miskinnya sumber daya energi? Salah satunya adalah mereka berhasil menciptakan nilai tambah di dalam negeri secara luar biasa. Jepang dan Korea Selatan menjadi kiblat produk-produk berteknologi tinggi. Keduanya juga dikenal sebagai produsen kendaraan bermotor. Indonesia, yang pernah terdaftar sebagai anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pernah tercatat sebagai pengekspor gas alam cair terbesar di dunia, di masa lalu sangat bergantung pada penjualan komoditas sumber daya alam. Semuanya dijual untuk mengumpulkan devisa. Begitu pula mineral tambangnya yang dijual mentah tanpa diolah dan dimurnikan di dalam negeri. Ternyata strategi itu belum cukup membuat Indonesia menjadi negara maju dan kaya kendati sumber daya alamnya melimpah. Sumber daya alam dianggap komoditas, bukan modal penggerak ekonomi. Belakangan muncul kesadaran untuk mengolah meski agak terlambat Kewajiban membangun smelter diterbitkan. Perusahaan tambang harus mengolah dan memurnikan mineral di dalam negeri, tak boleh lagi mengekspornya mentah-mentah. Khusus batubara sedang dimulai proyek gasifikasi, yaitu memproses batubara menjadi gas. Bagaimana dengan minyak mentah? Kewajiban pencampuran biodiesel ke dalam solar, kendati belum sepenuhnya menyelesaikan masalah defisit, adalah langkah positif. Di sisi lain, sejumlah pihak sudah menyerukan agar pencarian cadangan minyak (eksplorasi) digencarkan. Setelah penemuan lapangan Banyu Urip pada Blok Cepu, Jawa Tengah, di era 2.000-an, sampai sekarang praktis tak ada lagi penemuan sumur minyak raksasa Ketergantungan pada impor minyak mentah diperkirakan tetap berlangsung di masa mendatang. Seandainya ada penemuan sumur minyak raksasa, hal itu tak serta-merta bisa berproduksi. Akibat birokrasi yang kompleks dan perizinan yang bertele-tele pada bisnis hulu migas, butuh waktu setidaknya 10 tahun untuk menemukan dan memproduksi minyak. Biodiesel adalah solusi parsial walau penting dan perlu. Hanya saja, persoalan di hulu tetap butuh solusi. Penemuan cadangan minyak sangat penting dan mendesak di tengah lambannya pengembangan energi baru dan terbarukan.

Batara Online | Senin, 30 Desember 2019

Program B 30 dan Manfaatnya untuk Perekonomian Indonesia

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan implementasi biodesel 30% alias B30 di SPBU MT Haryono. Implementasi B30 ini merupakan lanjutan dari program B20 yang sebelumnya telah lebih dahulu berjalan tahun ini. B30 adalah pencampuran antara bahan bakar diesel atau solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Komposisinya yaitu 70% solar dan 30% FAME. FAME ini didapatkan dari kelapa sawit. Kelapa sawit diolah menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester),yaitu bahan bakar nabati. Ini beberapa fakta terkait program B30 mulai dari manfaatnya bagi perekonomian Indonesia hingga perindustrian dalam negeri.

1. 1 Januari 2020 B30 Mulai Dijalankan

Pemerintah akan segera menjalankan program biodiesel 30% per 1 Januari 2020. Keputusan ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015. Program B30 adalah tindak lanjut dari kebijakan sebelumnya, yakni B20 yang sudah berjalan satu tahun.

2. Peluncuran B30 Kurangi Ketergantungan Impor

“B30 juga bisa berjalan, hari ini resmi diluncurkan. Kita juga bisa percepat penggunaan B30 sehingga ketergantungan kita terhadap impor berkurang, negara punya kompetitif dan lebih efisien. Ini juga bagian dari agenda besar yang sudah dicanangkan Presiden,” ujar Menteri BUMN Erick Thohir di Jakarta, Senin (23/12/2019). Hal ini merupakan bukti nyata pemerintah dalam mengurangi impor sektor migas, sehingga mengurangi Current Account Defisit (CAD) sesuai dengan arahan Presiden. B30 dapat mengurangi impor migas dengan memaksimalkan penggunaan Fati Acid Methyl Ester (FAME) yang dicampur ke dalam solar

3. Presiden Dorong EBT

Menurut Jokowi ada tiga alasan mengapa penerapan B30 harus dilanjutkan. Pertama adalah untuk mencari sumber-sumber energi baru terbarukan (EBT) dan harus mulai melepas ketergantungan pada energi fosil yang mana pada suatu waktu pasti akan habis.

4. B30 Menghemat Devisa Negara hingga Rp112,8 Triliun

Jadi tak hanya menekan defisit neraca perdagangan, penerapan B30 juga bisa menghemat devisa negara. Pemerintah bisa menghemat pendapatan negara hingga USD8 miliar atau sekitar Rp112,8 triliun (mengacu kurs Rp14.000 per USD). “Jadi kalau sekarang dengan program B30 itu kebutuhan kelapa sawit terserap CPO itu 10 juta kiloliter. Berarti penghematan devisa itu bisa mencapai USD8 miliar dan ini bisa efektif mengurangi defisit neraca dagang,” ujar Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Kamis (28/11/2019)

5. B30 Selamatkan Produksi Sawit Indonesia

Alasan ketiga adalah untuk menyelamatkan produksi sawit dalam negeri. Apalagi saat ini minyak sawit sedang dalam kecaman dari parlemen Uni Eropa karena disebut sebut merusak lingkungan. “Ketiga, yang tidak kalah pentingnya, penerapan B30 akan menciptakan Permintaan domestik akan CPO yang sangat besar. Selanjutnya menimbulkan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani, pekebun kelapa sawit kita. Ini artinya problem B30 akan berdampak pada pekebun kecil dan menengah, petani rakyat yang selama ini memproduksi sawit,” jelasnya.

6. Didukung Berbagai Pihak

B30 didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESD dan Kementerian BUMN. Dengan dukungan merekalah Pertamina berhasil menjadi BUBBM pertama yang meluncurkan B30 di penghujung tahun ini. Peluncuran ini dilakukan lebih awal daripada target yang ditetapkan. Bahan bakar ramah lingkungan ini juga ada berkat dukungan dari BPDPKS, BPPT, Aprobi, Gaikindo, dan seluruh stakeholder terkait

Berita Jatim | Senin, 30 Desember 2019

Pertamina Kerja Sama B30 dengan Polda Jatim

Sesuai dengan komitmen Pertamina dalam menyediakan Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada masyarakat dan juga stakeholders, Pertamina melalui Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus melakukan penandatanganan Kontrak Kerja Sama terkait Penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Pelumas, dengan Satuan Kerja Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) untuk tahun anggaran 2020. Acara penandatangan kerja sama ini dihadiri oleh AKBP Drs. Makhsun Hadi, SH, MAP selaku Kepala Bagian Perbekalan Umum Biro Logistik Polda Jatim, Ahmad Iqdam Hendrawan selaku Region Manager Corporate Sales V Pertamina, serta Jajaran Kepala Satuan Kerja (SatKer) Polda Jatim yang bertempat di Ruang Fastron Kantor Pertamina MOR V di Surabaya, pada Senin (30/12/2019). Dalam kesempatan ini, Iqdam sangat mengapresiasi dukungan Polda Jatim yang selalu setia menggunakan produk-produk dari Pertamina. “Kami sangat bangga dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan Polda Jatim terhadap Pertamina, khususnya dalam penggunaan produk Pertamina,” tuturnya. Di samping itu, Iqdam juga berharap kerja sama yang terjalin dapat diteruskan di tahun-tahun mendatang. “Kami juga menerima saran dan masukan dari jajaran Polda Jatim untuk memperbaiki layananan kami kedepannya,” tambah Iqdam. Sementara itu, AKBP Drs. Makhsun Hadi SH, MAP, menyampaikan apresiasi atas layanan Pertamina. “Kami ucapkan terima kasih atas kerjasama yang sudah terjalin dengan Pertamina. Kami perlu dukungan semua pihak untuk mendukung tugas pokok dan fungsi Polri demi terwujudnya pelayanan yang prima kepada masyarakat,” ujar Makhsun Hadi. Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji, menambahkan bahwa cakupan kerja sama ini terkait dengan pengadaan BBM berupa Premium, Solar/Bio solar, Pertamina Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite, Avtur, Avgas, serta Pelumas. “Produk-produk ini, akan digunakan untuk armada-armada operasional guna mendukung tugas dan peran serta tanggung jawab Polda Jatim beserta jajarannya,” tambah Rustam. Adapun jumlah Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) kerja sama ini mencapai Rp 161 miliar untuk alokasi BBM rutin serta pelumas. DIPA anggaran ini naik sebesar 28% dari DIPA tahun 2019 dan mencakup kerja sama dengan 34 satuan kerja yang ada di bawah koordinasi Polda Jatim. Tidak hanya penandatangan kontrak kerja sama, pada saat bersamaan, Pertamina juga menyampaikan sosialisasi mengenai produk Biodiesel 30 persen (B30). Seperti yang diketahui, B30 sendiri merupakan program pemerintah yang dituangkan dalam Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar lain. Program Biodiesel 30 persen (B30) sendiri sudah diresmikan penerapannya oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO No 31.128.02 MT Haryono Jakarta Selatan, pada Senin, 23 Desember 2019 lalu. Pada tahun 2020, Pertamina akan mengimplementasikan B30 guna mendukung kebijakan pemerintah dalam mengurangi impor minyak. Rustam menyatakan bahwa Biosolar B30 merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena emisi gas buangnya memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa menurunkan performa dari kendaraan itu sendiri. “Pertamina berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan produk Biosolar B30 dan turut menjaga kelestarian alam melalui penggunaan bahan bakar yang ramah linkungan,” tambahnya.

Bisnis | Senin, 30 Desember 2019

Jelang Tahun Baru 2020, Konsumsi Pertamax Turbo Melonjak 36 Persen

Menjelang Tahun Baru 2020, konsumsi harian Pertamax Turbo naik hingga 36% dari rata-rata harian sebanyak 805 kiloliter (kl) menjadi 1.098 kl. Secara keseluruhan, konsumsi gasoline atau bensin pada masa Satgas Natal dan Tahun Baru naik 3,7% dibanding rata-rata harian Desember 2019. Sementara jika dibanding dengan periode Januari–Oktober 2019, kenaikannya mencapai 5,7%. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman menyatakan penjualan BBM berkualitas seperti Pertamax Series menjadi primadona selama masa Natal dan memasuki liburan Tahun Baru 2020. “Beroperasinya ruas tol baru baik di Trans Sumatra, Trans Jawa, maupun jalan tol di Kalimantan menjadi pemicu permintaan bahan bakar berkualitas semakin meningkat. Hal ini untuk menunjukkan kesadaran konsumen pentingnya BBM yang bisa mendukung performa kendaraan agar terus prima selama di perjalanan sehingga mudik maupun liburan aman dan nyaman,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (30/12/2019). Fajriyah menambahkan tingginya permintaan terhadap Pertamax Turbo menunjukkan kesadaran masyarakat juga cukup tinggi untuk menjaga kualitas udara yang lebih baik dengan menggunakan BBM yang ramah lingkungan. “Pertamax Turbo merupakan produk unggulan Pertamina yang memiliki oktan paling tinggi di antara produk BBM yang dijual di SPBU di Indonesia,” imbuh Fajriyah. Selama masa Satgas, lanjut Fajriyah, ketahanan stok seluruh jenis BBM dalam kondisi aman berada di atas standar nasional yang ditetapkan. Ketahanan stok Pertamax Turbo tercatat paling tinggi dengan berada pada 37 hari, Pertamax (18 hari), Pertalite (18 hari), Premium (21 hari) serta avtur (18 hari). “Selama masa Satgas, Pertamina juga menyiapkan layanan khusus untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan BBM berkualitas terutama pada jalur tol fungsional melalui layanan motoris, Kiosk Pertamax, serta tanki dispenser,” tuturnya. Pertamina, tambah Fajriyah, juga telah mengamankan stok B30 dalam jumlah yang cukup selama masa Satgas. Total stok B30 tercatat 509.000 kl dengan penyaluran harian mencapai 66.000 kl. Stok tersebut merupakan persediaan di TBBM, belum termasuk stok di kilang dan kapal. “Memasuki Tahun Baru 2020, seluruh SPBU Pertamina telah siap menjual B30. Masyarakat bisa menikmati B30 melalui produk Biosolar dan Dexlite. Kelebihan B30 adalah lebih ramah lingkungan dan bersahabat dengan mesin kendaraan,” katanya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20191230/44/1185585/jelang-tahun-baru-2020-konsumsi-pertamax-turbo-melonjak-36-persen

Grioto.com | Senin, 30 Desember 2019

Isuzu Panther Sampai MU-X Kuat Tenggak Solar Jelek. Begini Penjelasan Dari Isuzu

Mulai 2020 akan diterapkan mandatory mengenai pengimplementasian penggunaan BBM Bio Diesel 30 persen (B30). Hal tersebut telah disahkan oleh Presiden Joko Widodo pada Senin (23/12) lalu. Isuzu, salah satu merek penyedia mobil bermesin diesel di Tanah Air seperti MU-X dan Panther, mengaku mobil besutannya mampu mengkonsumsi bahan bakar jenis B30. Menurut Heri Wasesa, Aftersales Service Division Head Astra Isuzu dilansir dari Otomotifnet.com, hal tersebut lantaran adanya lapisan Diamond-Like Carbon (DLC) pada mesin produksi Isuzu. Lapisan DLC berfungsi mengusir partikel-partikel yang mengganggu kinerja mesin akibat menggunakan solar kualitas rendah. Tak hanya membekali unitnya dengan DLC, Isuzu juga menggunakan filter ganda. Filter ganda yang dimaksud yakni pre-filter dan main filter. Dengan adanya filter ganda, aliran solar nantinya akan disaring terlebih dahulu di pre-filter, baru masuk ke main filter. Attias Asril, GM Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) menambahkan bio diesel dikenal memiliki efek berbusa atau ‘soapy’. “Sehingga kemungkinan kerak terlepas dan dapat menyebabkan tersumbat di injector pump,” ujarnya. “Maka nozzle Isuzu dilapisi dengan Diamod Like Carbon (DLC) untuk mencegah penyumbatan,” timpa Attias. Attias juga menceritakan Isuzu telah mengikuti beberapa pengujian penggunaan B30. Hal tersebut yang membuatnya yakin bahwa produk besutan IAMI aman jika mengguna solar kualitas bawah tersebut. “Tahun ini kami mengikuti program kementerian ESDM dalam uji coba B30, dengan kendaraan komersial kami Isuzu Elf, menurut info yang didapat tidak terdapat kendala ketika menggunakan B30,” lanjut Attias.

https://www.gridoto.com/read/221967578/isuzu-panther-sampai-mu-x-kuat-tenggak-solar-jelek-begini-penjelasan-dari-isuzu?page=2