+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Diversifikasi Energi

Kompas | Selasa, 18 Juni 2019
Diversifikasi Energi

Pemerintah tengah menguji coba pencampuran biodiesel dengan solar untuk bahan bakar kendaraan. biodiesel adalah produk turunan Kelapa Sawit yang telah melalui proses esterifikasi. Apakah biodiesel mampu menjadi penyelamat ketergantungan impor pada minyak? Pemanfaatan biodiesel sebagai campuran bahan bakar minyak jenis solar diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 Tahun 2015. Dalam aturan itu, kewajiban minimal pencampuran biodiesel sejak 2015 adalah 15 persen atau B15. Artinya, setiap liter hasil pencampuran solar dengan biodiesel mengandung 15 persen biodiesel (B15) dan 85 persen solar. Secara bertahap, kadar pencampuran dinaikkan menjadi 20 persen (B20) mulai 2016 dan menjadi 30 persen (B30) pada 2020. Lantaran biodiesel bisa diproduksi di dalam negeri, Indonesia mampu mengurangi impor solar sebanyak kadar persentase pencampuran dikalikan konsumsi solar tahunan di Indonesia Kebijakan itu, ujung-ujungnya, dapat menghemat devisa dari impor minyak. Pengurangan impor minyak bisa berdampak positif terhadap struktur neraca perdagangan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik periode Januari-April 2019, Indonesia defisit 2,76 miliar dollar AS . atau sekitar Rp 39,38 triliun dari perdagangan migas. Tahun lalu, devisa untuk mengimpor minyak mentah dan produk bahan bakar sebanyak 29 miliar dollar AS.

Sejatinya masalah biodiesel adalah perihal diversifikasi energi di Indonesia. Selain biodiesel, ada juga kebijakan tentang pemanfaatan bioetanol sebagai pencampuran ke dalam gasolin (bensin). Pencampuran bioetanol juga diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No 12/2015. Namun, pengembangan bioetanol jalan di tempat akibat persoalan keterbatasan pasokan dan harga yang terlampau mahal. Selain bahan bakar nabati, pemerintah juga punya kebijakan soal pemanfaatan tenaga listrik untuk kendaraan. Ada pula pemanfaatan gas yang juga untuk kendaraan. Namun, kedua kebijakan itu masih pasang surut, belum ada peta jalan yang jelas dalam pengembangannya Barangkali terlalu banyak program sehingga pemerintah tidak fokus, mana yang lebih perlu diutamakan pengembangannya. Ketergantungan pada minyak memang tak bagus bagi Indonesia yang sudah berstatus net importir minyak sejak 2004. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional berkisar 1,5 juta-1,6 juta barrel per hari, separuhnya diperoleh dari impor. Angka impor diperkirakan kian membesar seiring dengan konsumsi BBM nasional yang meningkat di tahun-tahun mendatang. Apalagi, produksi minyak dalam negeri dari masa ke masa terus menurun. Ketergantungan itu bisa dikurangi jika program diversifikasi energi dikembangkan secara teguh dan sungguh-sungguh. Tak cukup hanya kementerian teknis yang mengurusi bahan bakar. Perlu keterlibatan institusi lain dalam program diversifikasi energi, seperti Kementerian Perindustrian yang membawahi industri kendaraan berbahan bakar minyak, juga badan usaha yang terlibat dalam rantai pasok bahan bakar. Pertanyaannya, sejauh mana dan sekuat apa pemerintah menjalankan program diversifikasi? Padahal, ada beragam pilihan bagi pemerintah untuk mengurangi konsumsi minyak, baik sebagai bahan bakar kendaraan maupun mesin industri. Presiden harus ada di posisi terdepan untuk pengembangan diversifikasi energi di Indonesia Jangan lupa, ketergantungan terhadap impor minyak menjadi ladang subur bagi mafia migas di Indonesia.

Investor Daily Indonesia | Selasa, 18 Juni 2019
PLN Siap Gunakan B30 untuk PLTD

PT PLN (Persero) mengaku siap menggunakan biodiesel 30% (B30) sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Saat ini, setidaknya terdapat 4.435 unit PLTD yang telah memakai B20 dan siap ditingkatkan menjadi B30. Pelaksana Tugas Direktur Utama PLN Djoko Abdumanan menuturkan, penggantian bahan bakar pembangkit listrik menjadi B30 dapat dilakukan kapan saja. Pasalnya, PLTD yang ada telah dapat menggunakan bahan bakar biodiesel hingga B60. “[Pembangkit listrik] sudah uji coba sampai B60. Jadi PLTD PLN sudah siap. Jadi misalnya mau dipakai B30 bisa saja langsung [dipakai],” kata dia saat dihubungi, Senin (17/6). Di seluruh Indonesia, lanjutnya, terdapat 4.435 unit PLTD dengan total kapasitas 4.077 megawatt (MW) yang telah menggunakan B20. Saat ini, total kebutuhan biodiesel perseroan untuk seluruh pembangkit ini mencapai 2,2 juta kiloliter (KL). Sementara jika hanya meng- hitung unsur nabatinya (fatty acid methyl eter/FAME) yakni sebesar 451.723 KL.

Jika beralih ke B30, kebutuhan biodiesel perseroan disebutnya akan melonjak. “Kalau misalnya B30, tandanya kan serapan FAME-nya pasti akan lebih tinggi,” ujar Djoko. Dengan asumsi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) tetap, maka kebutuhan FAME bisa mencapai 660 ribu KL. Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna mencatat beberapa PLTD milik PLN yang telah memakai B30, yakni 11 unit. Penggunaan B30 ini sudah dilakukan sebelumnya dalam rangka uji coba ketahanan pembangkit dengan biodiesel. “Kalau yang tercatat di kami ada sekitar 11 unit PLTD yang pakai B30. Ini dalam rangka uji coba juga dulu, lainnya masih B20, tetapi infonya sudah bisa comply apabila memakai B30,” ujar Feby. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan, pemerintah tengah menggalak-kan pemakaian B30. Tahapan uji coba, baik untuk sektor transportasi hingga pembangkit listrik sudah dilakukan. Tujuannya, pemerintah ingin memangkas impor solar. Mandatori B30 untuk pembangkit listrik disebutnya bukan berarti pemanfaatan energi terbarukan tidak dilanjutkan. Pemerintah tetap fokus meningkatkan porsi pembangkit energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Mandatori B30 guna antisipasi jika ada kebutuhan penambahan PLTD di masa mendatang. Menurutnya, beberapa perusahaan mesin pembangkit listrik sudah mendukung soal kebijakan mandatori B30 ini. Perusahaan tersebut bersedia menyediakan mesin pembangkit listrik yang bisa menggunakan B30 sebagai bahan bakarnya jika dibutuhkan tambahan PLTD ke depannya

Bisnis Indonesia | Selasa, 18 Juni 2019
Pebisnis Minta Harga B30 Lebih Murah

Para pengusaha pelayaran dan penyeberangan meminta pemerintah menetapkan harga bahan bakar minyak lebih murah sebagai kompensasi penerapan bauran minyak sawit dengan Solar sebanyak 30% atau B30 mulai 2020. Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners\’ Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan bahwa hargn BBM lebih murah merupakan kompensasi atas dampak langsung pemakaian – biodiesel terhadap suku cadang kapal. “Karena bila tidak, masyarakat sendiri yang akan menerima akibatnya berupa kenaikan biaya logistik untuk mengompensasi kenaikan biaya perawatan,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (16/6). Dia memaparkan, pemakaian biodiesel mempercepat tingkat pergantian suku cadang dan menaikkan ongkos perawatan kapal. Namun, Carmelita mendukung rencana penerapan mandatory B30 pada beragam moda transportasi, termasuk angkutan laut, demi kepentingan nasional yang lebih luas. Dia juga meminta pemerintah memberikan kepastian implementasi didahului dengan kajian matang. Dia menegaskan, INSA juga menginginkan kepastian Gapasdap cenderung keberatan dengan rencana pemerintah menerapkan kebijakan B30 mulai 2020. sediaan B30. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Capasdap) Aminuddin Rifai keberatan terhadap rencana penerapan B30 pada kapal feri karena akan menaikkan ongkos perawatan.

Dia menilai, penggunaan biodiesel dengan FAME lebih rendah, yakni B20, telah membuat biaya perawatan kapal feri membengkak. “Permesinan kapal rata-rata belum mengakomodasi penggunaan BBM jenis biodiesel dan secara jangka panjang akan mengakibatkan kerusakan mesin kapal,” kata Aminuddin. Dia menyebutkan beberapa efek terhadap kapal feri sejak wajib penggunaan B20 diterapkan sejak 1 September 2018. Pertama, konsumsi BBM kapal feri jadi lebih boros karena nilai kalori lebih rendah sekitar 5%-8% dari Solar mumi. “Seharusnya harga B20 lebih murah dibandingkan dengan Solar murni agar biaya konsumsi perbekalan tetap,” ujarnya. Kedua, penggunaan B20 membuat ruang pembakaran lebih kotor dibandingkan dengan saat menggunakan Solar murni. Alasannya, B20 memiliki kekentalan atau viskositas lebih tinggi yang cenderung memperlambat pembakaran pada mesin atau atomisasi. B20 juga mengandung gliserin atau kotoran yang tidak terbakar lebih banyak. Ketiga, kandungan air yang tinggi mempercepat life time nozzle injector dan fuel injection pump sehingga meningkatkan biaya perawatan untuk suku cadang sekitar 9%-10%.

Keempat, perhatian ekstra harus dicurahkan pada filter bahan bakar karena sering mengalami kebuntuan pada awal penggunaan biodiesel. Sementara itu, Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Edy Kuswoyo menyatakan belum dapat memberikan tanggapan terhadap rencana mandatori B30 pada kereta api. Selama ini, menurutnya, tidak ada perubahan atau dampak dari penggunaan B20, baik terhadap mesin kereta maupun alokasi anggaran bahan bakar. “Tidak ada masalah,” kata Edy. Pekan lalu, pemerintah mulai melakukan uji jalan atau mad test B30 sebelum diterapkan mulai 2020. Ada dua tipe kendaraan diuji yakni kendaraan penumpang dengan berat di bawah 3,5 ton dan truk dengan bobot di atas 3,5 ton. Sebanyak delapan unit kendaraan penumpang diterjunkan untuk melakukan uji jalan dengan jarak tempuh 50.000 km dan target waktu 159 hari. Pada saat yang sama, tiga unit truk akan melakukan uji jalan dengan jarak tempuh 40.000 km dan waktu 149 hari.

UJI LANJUTAN

Balitbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan, pengujian pada angkutan laut, kereta api, dan alat berat pertambangan akan dilakukan setelah mad test B30 pada angkutan penumpang dan truk menampakkan hasil. Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana mengatakan bahwa saat ini penggunaan B20 untuk kereta api dan mesin-mesin diesel sudah diterapkan. Sembari menunggu uji jalan B30 pada kendaraan penumpang dan truk, dia masih melakukan diskusi penerapan B30 pada kereta api maupun angkutan laut. Menurutnya, pengembangan balun bakar biodiesel merupakan program strategis pemerintah untuk meningkatkan ketahanan energi melalui diversifikasi energi dengan mengutamakan potensi energi lokal. Dari mandatory B30, dia berharap konsumsi domestik biodiesel dalam negeri pada 2025 akan meningkat hingga mencapai 6,9 juta kiloliter. Adapun, konsumsi domestik biodiesel pada 2018 telah mencapai 3,8 juta kiloliter atau naik 45% dibandingkan 2017. Pada 2018, produksi B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12% dibandingkan dengan 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter. Selain itu, kebutuhan minyak Kelapa Sawit juga terus mengalami peningkatan. Pada 2015, kebutuhan minyak Kelapa Sawit atau crude Palm Oil (CPO) untuk produksi bahan bakar mencapai 1,5 juta ton dengan tingkat mandatory sebesar 15%. Pada 2018, jumlah ini terus meningkat hingga mencapai 5,7 juta ton dengan adanya perluasan intensif ke sektor nonpublic service obligation (PSO) dan tingkat mandatori sebesar 20%. Saat ini, produksi CPO Indonesia mencapai 41,6 juta ton. Pada kurun waktu 2014- 2018, produksi CPO meningkat 29,5% setiap tahunnya.

Bisnis | Senin, 17 Juni 2019
Uji Coba B30, DFSK Kirim Super Cab

DFSK mendukung upaya pemerintah untuk uji coba bahan bakar bauran biodiesel 30% (B30) dengan mengirimkan 2 unit DFSK Super Cab pada uji jalan B30. DFSK berharap uji coba bisa memberikan informasi pengembangan produk yang sesuai dengan bahan bakar di Tanah Air. Director PT Sokonindo Automobile of Sales Centre Franz Wang mengatakan, penggunaan B30 merupakan bagian dari niat pemerintah menghadirkan bahan bakar berkualitas bagi masyarakat. Hal itu sejalan dengan visi perusahaan untuk menghadirkan kendaraan berkualitas dengan harga terjangkau. “Sehingga DFSK sebagai salah satu perusahaan yang ada di Indonesia sangat mendukung dan ikut berperan aktif terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah untuk menuju ke arah lebih baik,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (16/6/2019). Adapun, 2 unit DFSK Super Cab yang ikut uji coba B30 ialah varian 1.3 T Diesel yang memiliki kapasitas tangki bahan bakar minyak (BBM) 55 liter. Pikap rakitan Cikande, Serang, Banten ini menggunakan mesin SFD 1.300 cc dengan tenaga 75 daya kuda dan torsi 190 Nm.

Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 akan mengajak DFSK Super Cab untuk menempuh jarak 50.000 km, dengan rute Lembang-Cileunyi-Nagreg-Kuningan-Tol Babakan-Slawi-Guci-Tegal-Tol Cipali-Subang- Lembang sejauh 560 kilometer per hari. Nantinya DFSK Super Cab akan melewati berbagai jenis kontur jalan, dan melihat sejauh mana efek penggunaan Solar B30 terhadap mesin yang sudah terbukti andal. Keikutsertaan DFSK Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 juga menjadi ajang yang tepat untuk melakukan riset efek terhadap Solar B30 ke mesin DFSK Super Cab.Franz menuturkan, DFSK mengembangkan DFSK Super Cab sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yakni sebuah pikap yang tangguh, handal, kuat, tetapi juga irit bahan bakar. Keikutsertaan DFSK Super Cab diklaim menjadi bukti kehandalan kendaraan DFSK. “Kami berharap hasil uji coba ini juga bisa menjadi acuan DFSK untuk menghadirkan kendaraan yang lebih baik, lebih sesuai dengan masyarakat Indonesia, tetapi tetap dengan harga yang terjangkau,” tambahnya. Untuk pikap, DFSK memasarkan Super Cab dalam dua varian yakni 1.3 T Diesel seharga Rp150 juta dan 1.5L Gasoline seharga Rp124,999 juta (on the road Jakarta). DFSK juga menawarkan promosi dengan untuk pikap dengan cashback mulai dari Rp19 juta, uang muka dan bunga ringan mulai 0 %, hingga gratis servis selama 2 tahun.
https://otomotif.bisnis.com/read/20190617/46/934537/uji-coba-b30-dfsk-kirim-super-cab

Cnnindonesia | Senin, 17 Juni 2019
Satu-satunya Mobil China yang Ikut Tes Biodiesel B30

Salah satu perusahaan otomotif asal China, Sokonindo Automobile yang membawa merek DFSK, ikut dalam uji coba bahan bakar diesel B30 inisiasi pemerintah. Terdapat dua unit pikap DFSK Super Cab yang dipinjamkan untuk ikut tes jalan sejauh puluhan ribu kilometer di Pulau Jawa itu. Super Cab yang turut serta merupakan varian 1.300 cc bertenaga 75 hp dan torsi 190 Nm. Pikap kategori kecil yang diproduksi di pabrik DFSK di Cikande ini punya kapasitas tampung bahan bakar hingga 55 liter. Tes jalan dilakukan melalui rute Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang. Total jarak yang akan ditempuh sekitar 50 ribu kilometer. B30 merupakan bahan bakar diesel jenis baru yang isinya pencampuran 70 persen solar dan 30 persen biodiesel. Pada Agustus 2018, pemerintah sudah meresmikan penggunaan B20. Uji jalan B30 yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah dimulai pada Kamis (13/6). Buat pemerintah langkah ini penting sebagai persiapan penerapan B30 pada 2020 sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015.

Sementara untuk produsen data-data dari pengujian bakal digunakan sebagai bahan riset dan pengembangan. “Kami melihat bahwa pemerintah memiliki itikad baik terhadap industri otomotif di Indonesia dengan menyediakan bahan bakar yang berkualitas kepada masyarakat,” kata Wang melalui keterangan tertulisnya dikutip Senin (17/6). “Kami berharap hasil uji coba ini juga bisa menjadi acuan DFSK untuk menghadirkan kendaraan yang lebih baik, lebih sesuai dengan masyarakat Indonesia, namun tetap dengan harga yang terjangkau,” kata Wang lagi. DFSK merupakan satu-satunya merek China yang menawarkan mesin diesel di dalam negeri. Selain DFSK uji jalan B30 juga diikuti mobil dari merek lain yakni Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, dan Nissan Terra. Selain itu, untuk kategori kendaraan komersial, peserta yang ikut adalah Mitsubishi Fuso, Isuzu Nm, dan UD Truck. Dua kategori kendaraan itu akan menempuh rute yang berbeda. Pemerintah menargetkan uji jalan ini akan berakhir pada Oktober 2019. “Kalau tidak ada halangan uji jalan akan selesai pada Oktober sehingga pemerintah ada waktu untuk memastikan program mandatori B30 pada 2020,” kata Menteri ESDM Ignasius Jonan saat meresmikan dimulainya uji jalan.
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190617172011-384-403976/satu-satunya-mobil-china-yang-ikut-tes-biodiesel-b30

Antara | Senin, 17 Juni 2019
UD Trucks ikuti uji coba B30 Kementerian ESDM

UD Trucks mengikuti uji jalan (road test) B30 yang diresmikan oleh Menteri Energi dan Sumber Mineral (ESDM), Ignasius Jonan. uji coba ini sekaligus bentuk dukungan UD Trucks atas peraturan pemerintah No.12 tahun 2015 tentang pemasokan, pemanfaatan dan perdagangan biofuel sebagai bahan bakar. Uji coba ini bertujuan untuk memastikan bahwa B30 benar-benar bisa digunakan pada mesin diesel dan tidak mengendurkan performa dari mesin tersebut serta biaya pemeliharaan yang tidak besar. uji coba ini sudah dilakukan sejak 20 Mei 2019 selama 149 hari sejauh 40.000 kilo meter yang melintasi jalan Lembang, Karawang, Cipali, Subang dan kembali lagi ke Lembang. Direktur Marketing dan Business Plan dari UD Trucks Indonesia, Christine Arifin mengatakan UD Trucks mendukung program pemerintah untuk B30 yang akan diimplementasikan di tahun 2020. “Kita masih menunggu hasil uji tes ini, semoga hasil yang keluar itu positif,” kata Christine dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin. Uji jalan ini juga mendapat dukungan dari Astra UD Trucks cabang Bandung dan Cirebon untuk mendukung pelayanan pemeliharaan, perbaikan dan menyediakan mobile service untuk mendukung kegiatan ini. Sesuai dengan brand promise UD Trucks “Going The Extra Mile”, dengan mengikuti uji jalan ini adalah bentuk komitmen kami untuk dapat terus menyediakan truk dan pelayanan yang dibutuhkan dunia saat ini, khususnya Indonesia.
https://otomotif.antaranews.com/berita/916158/ud-trucks-ikuti-uji-coba-b30-kementerian-esdm

Sindonews | Senin, 17 Juni 2019
PLN Siap Maksimalkan Penyerapan B30 Pada Pembangkit Listrik

PT PLN (Persero) siap memaksimalkan penggunaan B30 pada pembangkit listriknya. Adapun setidaknya sudah ada 4.435 unit Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang sudah menyerap biodiesel, walaupun saat ini secara keseluruhan belum menggunakan B30 tapi 4.435 unit PLTD yang saat ini sudah memakai B20. “Bisa saja nanti diganti menjadi B30 apabila mandatori penggunaan B30 akan segera diberlakukan. Bahkan PLTD yang sudah kami perbaruhi itu sudah mampu sampai B60. Jadi PLTD PLN sebenarnya siap saja dengan program B30,” ujar Pelaksana tugas, Direktur Utama PLN Djoko Abdumanan di Jakarta, Senin (17/6/2019). Menurut dia 4.435 unit PLTD telah tersebar secara nasional dengan kapsitas terpasang sebesar 4.077 megawatt (MW). Sedangkan penyerapan B20 sudah berhasil menyerap 2,2 juta kiloliter (KL) apabila di konversikan untuk serapan FAME. PLN mampu menyerap 451.723 KL artinya jika B30 diterapkan maka PLN mampu menyerap sekitar 660.000 KL FAME. “Jadi kalau mau memakai B30 juga kapan saja mau masuk bisa saja. Kalau misalnya B30 masuk serapan FAME-nya akn lebih tinggi lagi,” kata dia.

Sementara Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna mengatakan, bahwa PLN telah melaksankan mandatori B30 pada pembangkit. Tercatat PLN telah menyerap B30 pada 11 PLTD. “Kalau yang tercatat di kami ada sekitar 11 unit PLTD yg pakai B30. Ini dalam rangka uji coba sedangkan yang lainnya masih B20, tetapi infonya sudah bisa menggunakan B30,” ujarnya. Sementara itu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menandaskan bahwa mandatori B30 menjadi fokus pemerintah. Hal itu guna menekan impor bahan bakar minyak (BBM) Untuk di sektor kelistrikan sendiri, kata Rida, memang ada beberapa pembangkit yang masih belum bisa memakai B30 tapi dengan jumlah yang sangat kecil. “PLN sudah duluan beroperasi, tapi lupa berapa jumlahnya,” kata dia. Rida menuturkan peningkatan penyerapan B30 tak lain untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT). PLN juga wajib menggunakan B30 apabila membangun PLTD. “Kalau PLN terpaksa harus membangun PLTD, maka harus complay sama B30 ini. Beberapa perusahaan engine juga sudah mendukung soal kebijakan ini. Mereka akan pasok engine yang bisa complay dengan B30 apabila memang kita akan menambah pembangunan PLTD ke depannya,” tutupnya.
https://ekbis.sindonews.com/read/1412240/34/pln-siap-maksimalkan-penyerapan-b30-pada-pembangkit-listrik-1560758965

Inilah | Senin, 17 Juni 2019
PLTD PLN Siap Gunakan Biodesel Sampai B60
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PT. PLN (Persero), Djoko Abumanan mengatakan, pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) miliknya bisa menggunakan biodiesel sampai B60. Dengan demikian, PLTD miliknya sangat siap menggunakan B30 atau campuran 30% minyak kelapa sawit dengan solar. Ini karena PLTD milik PLN sudah dilakukan pembaharuan. “PLTD yang sudah kami perbaruhi itu sudah complay semua sampai B60. PLTD PLN siap saja dengan program B.30,” kata Djoko pada awak media, Jakarta, Senin (17/6/2019). Djoko mengatakan, saat ini setidaknya sudah ada 4.435 unit PLTD yang sudah siap menggunakan Biodiesel. Kata dia, 4.435 unit PLTD itu tersebar di seluruh Indonesia. Dari 4.435 unit tersebut saat ini total kapasitas listrik terpasangnya sebesar 4.077 megawatt. “Jadi kalau mau pakai B30 juga kapan saja mau masuk bisa saja,” kata dia. Menurut Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan, PLTD PLN yang sudah memakai B.30 sendiri, tercatat ada 11. Kata dia, ini dalam rangka uji coba.

“Kalau yang tercatat di kami ada sekitar 11 unit PLTD yg pakai B30. Ini dalam rangka uji coba juga dulu, lainnya masih B.20, tetapi infonya sudah bisa complay apabila memakai B.30,” ujar Feby saat dihubungi, Ahad (16/6). Sementara menurut Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Rida Mulyana menjelaskan proyek B30 saat ini memang menjadi fokus pemerintah. Tahapan uji coba dan juga hingga kepada pembangkit memang digalakkan oleh pemerintah agar bisa menekan kebutuhan atas impor solar. Untuk di sektor kelistrikan sendiri, kata Rida, memang ada beberapa pembangkit yang masih belum bisa memakai Biodiesel. Namun, angkanya sangat kecil. Namun, PLN sendiri kata Rida lebih dulu mengoperasikan PLTD dengan komposisi B30 di beberapa pembangkitnya. “Waktu B20 dimulai pembangkit udah ada yang B30. Ada yang bisa, ada yang gak bisa. Ada yang bisa tuh malah B.30. Lupa tapi berapa jumlahnya,” kata Rida.
https://ekonomi.inilah.com/read/detail/2531283/pltd-pln-siap-gunakan-biodesel-sampai-b60

Merdeka | Senin, 17 Juni 2019
Sebanyak 4.435 PLTD Milik PLN Siap Serap Solar Campur 30 Persen Biodiesel

PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) siap menyerap 30 persen biodiesel yang dicampur dengan solar (B30), sebagai bahana bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dioperasikan. Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PLN (Persero), Djoko Abdumanan mengatakan, PLTD yang siap menyerap B30 mencapai 4.435 unit. Sebelumnya pembangkit tersebut sudah menggunakan campuran 20 persen biodiesel dengan solar (B20). “Jadi kalau mau pakai B30 juga kapan saja mau masuk bisa saja,” kata Djoko, di Jakarta, Senin (17/6). Menurut Djoko, PLTD yang beroperasi saat ini mampu menyerap campuran 60 persen biodiesel dengan solar, sehingga tidak bermasalah jika menerapkan program B30. “Jadi PLTD PLN sebenarnya siap saja dengan program B30,” ujar Djoko. Djoko mengungkapkan, penerapan B30 untuk 4.435 unit PLTD mampu menyerap biodiesel sebanyak 660 kilo liter (Kl), serapan tersebut meningkat dari penerapan B20 sebesar 451.723 Kl. Sebanyak 4.435 unit PLTD tersebut tersebar di seluruh belahan Indonesia menghasilkan listrik 4.077 Mega Watt (MW). “Ya kalau misalnya B30, tandanya kan serapan famenya pasti akan lebih tinggi lagi,” tandasnya.
https://www.merdeka.com/uang/sebanyak-4435-pltd-milik-pln-siap-serap-solar-campur-30-persen-biodiesel.html

Liputan 6 | Senin, 17 Juni 2019
PLTD PLN Siap Pakai Solar Campur 30 Persen Biodiesel

PT PLN (Persero) siap menyerap 30 persen biodiesel yang dicampur dengan solar (B30), sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dioperasikan. Pelaksana Tugas, Direktur Utama PT PLN (Persero), Djoko Abdumanan mengatakan, PLTD yang siap menyerap B30 mencapai 4.435 unit. Sebelumnya pembangkit tersebut sudah menggunakan campuran 20 persen biodiesel dengan solar (B20). “Jadi kalau mau pakai B30 juga kapan saja mau masuk bisa saja,” kata Djoko, di Jakarta, Senin (17/6/2019). Djoko menuturkan, PLTD yang beroperasi saat ini mampu menyerap campuran 60 persen biodiesel dengan solar, sehingga tidak bermasalah jika menerapkan program B30. “Jadi PLTD PLN sebenarnya siap saja dengan program B 30,” ujar Djoko. Djoko mengungkapkan, penerapan B30 untuk 4.435 unit PLTD mampu menyerap biodiesel sebanyak 660 kilo liter (Kl), serapan tersebut meningkat dari penerapan B20 sebesar 451.723 Kl. 4.435 unit PLTD tersebut tersebar di seluruh belahan Indonesia menghasilkan listrik 4.077 Mega Watt (MW). “Ya kalau misalnya B30, tandanya serapan famenya pasti akan lebih tinggi lagi,” ujar dia.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3991491/pltd-pln-siap-pakai-solar-campur-30-persen-biodiesel

Cnnindonesia | Senin, 17 Juni 2019
Biodiesel B30 Disebut Buat Jejak Karbon Lebih Tinggi

Pengamat menilai penggunaan B30 bisa jadi tidak lebih ramah lingkungan dari penggunaan bahan bakar fosil. Sebab, meski bahan bakar biodiesel memiliki emisi yang lebih rendah dari bahan bakar fosil. Namun, jejak karbon dari proses produksi bahan bakar ini bisa jadi lebih tinggi. Hal ini diungkap Arkian Suryadarma, Senior Forest Campaigner Greenpeace. “Potensial lebih tinggi karena pembukaan lahan, transportasi dan juga limbahnya,” tuturnya, saat dihubungi via pesan teks, pekan lalu (13/6). “Dari hasil riset kementerian ESDM, B20 di tahun 2017 mengurangi emisi gas rumah kaca […] tetapi ini memang hanya dari sisi emisinya ya […] kalau dilihat secara keseluruhan (carbon footprint) mungkin biodiesel lebih tinggi.” Penambahan jejak karbon ini menurutnya berasal dari pembukaan lahan untuk kebun sawit yang tak jarang mengonversi hutan heterogen menjadi kebun yang homogen. “Ini juga kita harus liat dari kualitas tanahnya, karena menanam tanaman secara monokultur (homogen) berarti mineral mineral yang di ambil oleh tanaman itu yang sama jadi kualitas tanah juga akan kena dampaknya,” lanjutnya.

Ia pun menambahkan ada jejak karbon juga tambahan dari transportasi yang dibutuhkan untuk mengantar hasil produksi yang menurut Arkian memerlukan empat tahapan berbeda serta limbah yang dihasilkan. Arkian pun lantas merujuk pada data laporan Koaksi Indoenesia. Laporan itu mengutip penelitian yang dilakukan Kimberly Carlson soal efek emisi pembukaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan sepanjang 1990-2010. Ternyata pembukaan lahan ini menghasilkan emisi yang cukup besar. Emisi karbon yang dikeluarkan untuk konversi lahan selama 10 tahun mencapai 1,5 gigaton CO2 atau rata-rata mencapai 0,15 gigaton pertahun. Angka ini setara dengan 32 juta mobil selama setahun. Sementara menurut data ESDM, B20 hanya mengurangi emisi dari 13.392 bus kecil setahun atau sejumlah 3,84 juta ton CO2 pada 2017. Bahkan, angka jejak karbon yang dihasilkan dari konversi lahan itu akan makin tinggi jika pembukaan lahan untuk perkebunan sawit menggunakan metode pembakaran. Maka emisi yang digunakan naik 24 persen. “Kondisi ini memposisikan kebijakan biodiesel berada pada sebuah paradoks, penurunan emisi pada satu sisi sedangkan secara bersamaan juga menambah emisi,” seperti tertulis dalam laporan Koaksi Indonesia, Dinamika Hulu Hilir Industri Biodiesel Indonesia yang keluar November 2018 lalu. Pengurangan emisi ini terjadi karena bahan bakar biodiesel punya angka centane dan kandungan oksigen lebih tinggi sehingga mendorong terjadinya pembakaran yang lebih baik. Selain itu, kendaraan berbahan bakar B20 dapat menghasilkan emisi Total Hydrocarbon (THC) yang lebih rendah dibanding bahan bakar diesel.
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190617074939-199-403788/biodiesel-b30-disebut-buat-jejak-karbon-lebih-tinggi