+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Dosen ITS Kemukakan Ragi Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif

Detik | Kamis, 25 Oktober 2018
Dosen ITS Kemukakan Ragi Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif

Berkurangnya persediaan bahan bakar fosil dan harganya yang cenderung tidak stabil membuat banyak negara, termasuk Indonesia, terjebak dalam krisis bahan bakar. Situasi ini kemudian mendorong ditemukannya bahan bakar alternatif. Gagasan tentang bahan bakar alternatif ini dikemukakan oleh dosen Teknik Kimia, Institut Teknologi 10 November (ITS) Siti Zullaikah, ST, MT, PhD. Menurutnya, ragi Lipomyces starkeyi bisa jadi jalan keluar dari permasalahan energi tersebut. Kok bisa?Menurut dosen yang akrab disapa Zulle itu, ada banyak jenis energi alternatif yang ditawarkan untuk menghadapi krisis tersebut seperti tenaga matahari, angin dan air. Akan tetapi Zulle mengatakan tidak semua sumber energi tersebut mudah diterapkan pada alat transportasi. Untuk itu ia mengajukan alternatif lain berupa biodiesel. Selain memiliki kemampuan yang sama, biodiesel juga mempunyai kelebihan yang ramah lingkungan. “Salah satu energi alternatif yang sudah diproduksi secara komersial serta pemanfaatannya tidak perlu modifikasi mesin kendaraan adalah biodiesel,” ungkap Zulle dalam siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (25/10/2018).

Menurut Zulle, ada dua sumber pembuatan biodiesel, yaitu bahan baku yang dapat dikonsumsi (edible) dan bahan baku yang tidak dapat dikonsumsi (inedible). Kebanyakan industri sebenarnya telah memproduksi biodiesel dari bahan baku yang dapat dikonsumsi. “Seperti pemerintah Indonesia yang memproduksi biodiesel dari minyak kelapa sawit, namun biaya produksi yang dapat mencapai 70 persen dari total biaya produksi menjadi masalah utama komersialisasi biodiesel tersebut,” terangnya. Untuk itu diperlukan pemanfaatan bahan baku nonkonsumsi dalam memproduksi biodiesel. Pilihan pun jatuh pada microbial oil (minyak yang dihasilkan oleh mikroba) yang dihasilkan ragi jenis oleaginous. Zulle sendiri mengaku telah meneliti ragi yang didapatkan dari Lipomyces starkeyi ini sejak tahun 2004. Lipomyces starkeyi diketahui mempunyai kandungan minyak yang tinggi, yaitu mencapai 60 persen. Ia juga memiliki komposisi asam lemak yang sesuai untuk bahan baku biodiesel. Selain itu, mikroba ini mempunyai siklus produksi yang pendek dan tidak bergantung pada musim dan cuaca, serta mudah untuk dikembangbiakkan.

“Minyak yang dihasilkan pun lebih mudah diekstraksi dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan alga,” bebernya.Dijelaskan Zulle, rata-rata ragi ini mengakumulasi minyak dalam proses metabolismenya hingga 40 persen dari biomassanya. Namun dalam kondisi keterbatasan nutrisi, mereka dapat mengakumulasi minyak melebihi 70 persen dari biomassa. “Ragi oleaginous adalah mikroorganisme bersel satu (uniseluler), tanpa endotoksin, dan bisa direkayasa genetik serta cocok untuk fermentasi dalam skala besar,” jelas doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini. Dari penelitian ini, Zulle berharap, Indonesia memiliki sistem produksi biomassa dan produk berbasis bio yang terintegrasi menggunakan konsep biorefinery melalui proses eksplorasi biomassa menjadi berbagai produk yang dapat dipasarkan, seperti energi. Selain itu, menurutnya penggerak utama untuk pendirian biorefinery adalah pada aspek keberlanjutan (ketersediaan bahan baku). “Konsep ini sangat sesuai dengan negara kita, Indonesia, yang kaya akan berbagai macam biomassa, makroalga, mikroalga dan mikroorganisme,” pungkasnya.
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4272051/dosen-its-kemukakan-ragi-bisa-jadi-bahan-bakar-alternatif

Jawapos | Kamis, 25 Oktober 2018
Banyak B20 Tak Sesuai Standar, UD Truck Siapkan Filter Khusus

UD Trucks mempersiapkan menghadapi penggunaan Biodiesel B20. Menurut penuturan Handi Lim, Direktur Sales dan Logistik UD Trucks Indonesia, spesifikasi BBM yang digunakan harus bisa dipastikan adalah B20. Sebab saat ini banyak beredar B20 yang tidak sesuai dengan spesifikasi. “Kami memiliki alat ukur untuk menentukan B20. Alat ukur kami bersifat portabel. Ada yang B10 bukan B20”, papar Handi. Kondisi itu yang harus distandarisasi, sehingga pemilik turk bisa mendapat BBM dengan standar yang sesuai dengan kebutuhannya.Lebih detil lagi, Handi mengatakan bahwa Biodiesel B20 bersifat mudah menyerap air. Untuk mengatasi hal itu, filter harus dimodifikasi. Sehingga dapat menyerap partikel air lebih baik. Filteryang digunakan untuk menyari Biodiesel B20 akan memiliki usia yang lebih pendek bila dibandingkan dengan filter yang digunakan untuk menyaring BBM konfensional. “Kalau biasanya bisa digunakan hingga usia pakai 15.000 – 20.000 km, maka saat digunakan untuk B20 hanya bisa digunakan sampai 10.000 km. Modifikasi lain yang dilakukan yaitu di bagian dalam tangki bahan bakar yang dilapisi dengan coating khusus. Berfungsi sebagai lapisan anti-karat. Filter dan tangki BBM tersebut saat ini sudah disediakan oleh UD Trucks. “Jadi kalau konsumen membeli Trucks yang dibuat tahun ini, bisa dipastikan sudah dilengkapi dengan filter dan tangki BBM khusus untuk B20”, kata Handi saat ditemui dalam acara Extra Mile Challenge 2018 di Tokyo, Jepang. Filter tersebut bisa diaplikasikan untuk jenis truk buatan UD Trucks model lama. Selain itu juga bisa digunakan sampai dengan Biodiesel B25. Sementara itu, untuk spesifikasi Biodiesel B30 butuh pengaplikasian filter yang berbeda.
https://www.jawapos.com/otomotif/25/10/2018/banyak-b20-tak-sesuai-standar-ud-truck-siapkan-filter-khusus

Medcom | Kamis, 25 Oktober 2018
Trik UD Truck untuk Hadapi Penggunaan BBM Biodiesel B20

Penerapan bahan bakar biodiesel B20 yang merupakan pencampuran solar 80 persen dengan ethanol 20 persen, membuat banyak pabrikan mobil truk melakukan serangkaian perubahan. Termasuk untuk membuat mesin-mesin mereka bisa menggunakan bahan bakar yang sudah diterapkan secara nasional itu. Menurut Direktur Pemasaran dan Logistik UD Trucks Indonesia, Handi Lim, bahwa satu setengah tahun sebelum biodiesel B20 diterapkan, mereka sudah melakukan pengetesan yang ril di lapangan. Mengingat ini penting untuk kepercayaan konsumen terhadap produk mereka.Makanya saat melakukan pengetesan mobil dengan jarak tempuh yang memang biasa ditempuh para sopir dan beban yang ditetapkan, kami berupaya untuk melakukan pengetesan ril. Termasuk kandungan ethanol di biodiesel. Kami benar-benar mencari yang kandungannya 20 persen, sehingga target pengetesan yang kami lakukan tercapai,” ungkap Handi. Menurutnya, pada dasarnya penggantian bahan bakar dari diesel biasa ke biodiesel B20, yang paling berpengaruh adalah masalah kandungan FAME atau airnya. Makanya yang paling penting adalah bagaimana melakukan penyaringan yang lebih baik terhadap kandungan air di bahan bakar agar efektif. Di situlah peran penting filter bahan bakar.

“Sekarang kami rancang secara khusus dan tangki BBM juga kami berikan lapisan khusus di bagian dasarnya agar tidak mudah menyerap air. Sementara untuk truk-truk Nissan Diesel yang juga jadi bagian dari kami, dilakukan penggantian filter. Bentuknya sama, tapi materialnya saja yang berbeda. Kemudian juga jarak tempuh pemakaian kami sarankan penggantian setiap 10 ribu kilometer.” Handi menegaskan bahwa saat ini mereka juga sudah bersepakat dengan pemerintah untuk melakukan riset lebih lanjut tentang bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Mereka akan memulai riset tentang B30 beberapa saat mendatang. Kita tunggu kabar lanjutannya.
https://www.medcom.id/otomotif/mobil/nN9MgV5N-trik-ud-truck-untuk-hadapi-penggunaan-bbm-biodiesel-b20

Mongabay | Rabu, 24 Oktober 2018
Menilik Hulu Hilir Kebijakan Biodiesel Indonesia

Pemerintah memperluas penggunaan bahan bakar biodiesel 20% atau dikenal dengan B20 untuk kendaraaan non public service obligation (non-pso). B20 merupakan campuran bahan bakar solar dengan 20% campuran biodiesel, disebut juga fatty acid methyl asters (FAME). Resminya, kendaraan yang tak dapat subsidi pemerintah juga harus pakai B20 sejak 1 September 2018. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengklaim, selain memberikan kontribusi mengurangi emisi karbondioksida enam sampai sembilan juta ton per tahun dibanding pakai solar murni, B20 dapat memperbaiki kualitas proses pembakaran kendaraan bermotor. “Setelah kita tes dan teliti berbagai jenis tanaman, paling ekonomis sawit karena bahan baku cukup banyak,” kata Andrian Feby Misna, Direktur Bioenergi Dirjen EBTKE KESDM, dalam diskusi di Jakarta. Benarkah biodiesel dapat menekan emisi rumah kaca? “Rantai pasok panjang masih menyimpan banyak masalah di sektor hulu dan hilir. Indonesia selalu menaikkan target blending biodiesel,” kata Kevin Alexander, peneliti Koaksi Indonesia, dalam diskusi baru-baru ini. Apa itu biodiesel? Biodiesel, adalah salah satu produk hasil proses kimia-yang disebut transesterifikasi- minyak sawit, dengan perlakuan tertentu. Selain menghaslilkan biodiesel sebagai produk utama, proses ini juga menghasilkan gliserin untuk membuat kosmetik seperti sabun. Limbah proses ini menghasilkan air.

Berbagai teknologi biodiesel telah berkembang. Selain sawit, minyak nabati dari daun jarak atau bunga matahari, minyak goreng bekas, sampah kota dan lemak hewani juga bisa jadi biodiesel. Berbagai bahan baku ini dengan hydro treatment, dan gasifikasi bisa menghasilkan renewable diesel atau diesel terbarukan, dan renewable jet fuel atau bahan bakar jet terbarukan untuk bahan bakar penerbangan. Indonesia masih mengandalkan sawit sebagai bahan baku biodiesel karena dianggap produksi paling stabil dan didukung infrastruktur memadai. Energi sawit diklaim lebih banyak dibanding bahan baku lain. “Ada pendapat kalau satu liter sawit membutuhkan lahan lebih sedikit dibanding tanaman jarak atau bunga matahari. Benarkah demikian?” kata Kevin. Kalau lihat di hulu, katanya, data Kemenko Perekonomian, produktivitas petani swadaya rendah, hanya 2,5 ton per hektar dari ideal bisa 7,8 ton per hektar. Penyebabnya, karena kurang good agriculture practice seperti penggunaan bibit jatuhan dan tak bersertifikat. Selain itu, masalah lain sulit mengontrol pembukaan lahan yang masih kerap terhubung dengan deforestasi. Masih banyak petani belum bergabung dengan kelembagaan yang jadi salah satu syarat utama pembiayaan dan sertifikasi.

Di hilir, pasar pengusaha biodiesel juga masih sangat tergantung dengan dinamika kebijakan pemerintah. Dia contohkan, kebijakan B15 jadi B20, dan kebijakan PSO lantas non PSO. Pengusaha merasa kebijakan biodiesel di Indonesia seakan-akan hanya sebagai jalan keluar menguatkan devisa negara dan neraca perdagangan. “Ada hambatan ekspor biodiesel seperti anti dumping di Eropa dan Amerika Serikat, merupakan perang dagang dengan dimensi regional yang mempengaruhi pasar global, terutama harga komoditas sawit dan turunan. Ini harus diselesaikan dulu sebelum menambah persentase biodiesel,” kata Kevin. Gugatan Uni Eropa terhadap anti dumping biodiesel Indonesia, yang dimenangkan Indonesia dalam sidang World Trade Organization (WTO), membuat performa ekspor biodiesel Indonesia kembali naik. Namun, katanya, jika lihat realisasi penerapan program biodiesel selama beberapa tahun terakhir, capaian target bauran nasional masih belum terpenuhi dengan baik, misal, 2016 dan 2017, target bauran biodiesel 20% baru tercapai masing-masing 10,7% dan 8,4%.

Kebijakan

Inisiasi program biodiesel mulai 2006 dengan Keputusan Presiden No 5/2006. Lantas diikuti beberapa kebijakan tahun yang sama soal pembagian tugas pokok dan fungsi beberapa elemen pemerintah dan pembentukan tim percepatan dan perizinan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN). Tahun 2008 terbit Permen ESDM 32 Tahun 2008 soal penetapan target bauran transportasi. Saat itu, ditetapkan target bauran tahun 2008 (1%), 2010 (2,5%,) 2015 (5%), 2020 (20%). Penggunaan APBN untuk subsidi biodiesel mulai 2009 melalui Perpres No 45/2009. Tahun 2013, pemerintah mengubah target bauran yakni 10% pada 2013 2016 (20%) dan 2025 (25%). Setahun kemudian target bauran diubah lagi, 10% pada 2014, 2016 (20%) dan 2020 (30%). Tahun 2015, target bauran berubah lagi jadi 15% pada 2015, target 2016 dan 2020 tetap. Sesuai PP No 24 dan Perpres No 61 tahun 2015, dibentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang mengelola dana pungutan ekspor sawit. Belakangan, insentif untuk perbedaan harga solar murni dan B20 juga diambil dari dana ini. Tahun ini, Uni Eropa REDD evaluasi ulang bahan baku nabati sebagai bahan terbarukan. Di dalam negeri pemerintah melalui Perpres No 66/2018 memperluas insentif ke sektor non PSO. Melalui Inpres No 8/2018, Presiden Joko Widodo juga telah menginstruksikan moratorium lahan sawit.

Siapa saja yang berperan? Sesuai instruksi presiden, Kemenko Perekonomian bertanggungjawab koordinasi kegiatan secara menyeluruh. KESDM jadi regulator sektor hilir dan verifikasi pembiayaan. Kementerian Pertanian mendukung penyediaan bahan baku, dibantu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam izin pemanfaatan lahan. Kementerian Perindustrian mendorong industri pengolahan bahan baku dan biodiesel. Kementerian Perdagangan mengatur pasokan dan distribusi bahan baku serta distribusi komponen pendukung. Kementerian Ristekdikti bertugas lakukan penelitian dan pengembangan mendukung seluruh kegiatan program biodiesel dan Kementerian BUMN mendorong komponen mata rantai untuk mendukung program biodiesel. Kemudian, Kementerian Dalam Negeri diminta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat terutama penyediaan lahan lalu, Kementerian Keuangan menyiapkan regulasi terkait insentif maupun kebijakan fiskal. Di daerah, gubernur dan wali kota dminta siap melaksanakan kebijakan serta sosialisasi.

Selain pemerintah, swasta, badan usaha bahan bakar nabati (BU-BBN), BPDP-KS dan badan usaha bahan bakar minyak (BU-BBM) juga berperan. BUBBN, punya posisi positif dari sisi ekonomi karena pasokan, distribusi dan jaminan pasar telah tersedia. “Jadi produk yang dihasilkan dari BUBBN hampir pasti terjual habis. Dari sisi keseimbangan pembangunan, sumber pasokan dari tandan buah segar atau minyak sawit mentah belum jadi perhatian utama,” kata Kevin. BPDP-KS, katanya, berperan besar dalam menekan harga biodiesel di pasaran, namun sumber dana hanya bergantung pada pungutan ekspor. “Selain itu manajemen lembaga ini sudah dapat sorotan cukup serius dari BPK.” Posisi BU-BBM, katanya, tak seberuntung BU-BBN karena jual bahan bakar fosil. Fasilitas blending dan tangki dari BU-BBM juga masih bermasalah. Sosial ekologi Dari sisi ekonomi, biodiesel jadi harapan pemerintah mengatasi permasalahan defisit devisa negara. Namun, muncul pertanyaan apakah dapat jadi solusi ekonomi jangka panjang? Dari sisi lingkungan, biodiesel dianggap bisa jadi batu loncatan untuk energi lebih bersih dari sektor transportasi.

“Apakah benar emisinya lebih kecil,” kata Azis Kurniawan, Program Manajer Koaksi Indonesia. Di sisi sosial pun, program biodiesel jadi cara untuk mengurangi angka kemiskinan karena dianggap memberdayakan petani swadaya. “Apakah benar petani swadaya diuntungkan dengan program ini,” tanyanya. Azis mengatakan, kebun dan lahan sawit masih mengalami masalah. Belum ada sinergi antara kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) dengan penyusunan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Dia contohkan, di Sambas, Kalimantan Barat, peraturan perundangan mengharuskan ada kawasan hutan minimal 30% pada daerah aliran sungai (DAS). Di DAS Sambas, ada 38.356 hektar kebun sawit atau mencapai 49% dari luas DAS itu sendiri. Luas kawasan hutan pada DAS ini hanya 20,6%. Selain itu, ada klaim emisi CO2 dari pembakaran satu liter biodiesel 38% lebih kecil dibandingkan pembakaran minyak solar. KESDM menyatakan, implementasi program B20 tahun 2017 dapat mengurangi emisi gas rumah kaca 3,84 juta ton CO2, setara emisi yang dikeluarkan 13.391 bus kecil.

Azis bilang, ada indikasi nilai emisi dari jejak karbon yang dihasilkan dari penanaman sawit sampai jadi biodiesel lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil. “Nilai emisi pembukaan perkebunan sawit di Kalimantan antara 1990-2010, tanpa pembakaran, diperkirakan setara emisi 322.205.567 mobil selama setahun. Penghitungan emisi pembukaan lahan sawit di Indonesia tak dapat disamaratakan.” Sisi lain, pengusahaan sawit kerap terkait konflik sosial. Catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) terdapat 208 konfilk sosial terkait kebun sawit selama 2017. Penyebabnya, mulai dari masalah tanah, buruh, lingkungan hidup dan tanggung jawab sosial. Menurut The Indonesia Bussines Council for Sustainable Development (IBCSD) sengketa klaim hak atas tanah seringkali terjadi karena tidak ada persetujuan atas pemanfaatan tanah warga dan kompensasi yang tidak adil dalam pemanfaatan tanah. Kontrak tidak adil antara pekebun plasma dan perusahaan inti, persaingan lapangan pekerjaan antara pendatang dan warga lokal, proses rekrutmen dan upah tak sesuai jadi faktor pendorong konflik.

Masalah lingkungan hidup, seperti degradasi lingkungan akibat pembangunan kebun, pencemaran sumber daya alam dan gangguan sumber kehidupan lain akibat kerusakan lingkungan juga masalah tersendiri. Masalah tanggung jawab sosial juga sering timbul akibat komitmen perusahaan terhadap masyarakat yang tak terpenuhi. Juga ekspektasi warga tak sesuai dengan realitas penyaluran dana tanggung jawab sosial. Untuk itu, kata Azis, perlu antisipasi pemenuhan kebutuhan lahan untuk capai target program biodiesel, yakni dengan penetapan dedicated area untuk pengembangan biodiesel (BBN), dan menyusun strategi konkrit untuk intensifikasi produksi. “Proyeksi permintaan hingga 2025 adalah 11,75 kiloliter. Untuk memenuhi kebutuhan itu perlu peningkatan produktivitas 1,6 ton per hektar dari rata-rata produksi sekarang hanya 2,8 ton per hektar,” kata Azis. Selain itu, juga perlu perhitungan setok atau cadangan minyak sawit mentah Indonesia yang ada, hingga suplai dan permintaan berimbang. Jadi, katanya, tak perlu tambahan lahan baru untuk mencapai proyeksi kebutuhan biodiesel Indonesia. “Penunjukan dedicated area sekaligus perhitungan strategi peningkatan produktivitas dapat dilakukan berdasarkan kalkulasi jelas.” Program biodiesel, katanya, juga memiliki keterkaitan dengan poin sustainable developmen goals (SDGs) antara lain, energi bersih dan terjangkau, produksi dan konsumsi bertanggungjawab, penanggulangan perubahan iklim dan ekosistem daratan.

Menurut Azis, arah kebijakan program biodiesel terkait tiap-tiap tujuan pembangunan itu masih sektoral dan belum terintegrasi antara industri hulu dan hilir biodiesel. Padahal, katanya, ada standar keberlanjutan eksisting di Indonesia seperti Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable on Sustainable Biomaterials (RSB), dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Koaksi menilai, perlu integrasi dalam perumusan kebijakan penerapan mandatori biodiesel oleh lintas sektor. Arah kebijakan pemerintah dalam menerapkan mandatori biodiesel, katanya, harus jelas. “Artinya perencanaan dan capaian harus terukur hingga biodiesel tak hanya jadi pelarian saat ekonomi merosot.” Pengembangan teknologi diesel terbarukan, katanya, harus dipercepat hingga permasalahan teknis dapat teratasi terutama jika ingin menaikkan target campuran. “ISPO sebagai standar keberlanjutan sudah wajib harus juga mempertimbangkan dan ditarik sampai ke sisi hilir penggunaan biodiesel.”

Tribunnews | Rabu, 24 Oktober 2018
UD Trucks Nyatakan Truk Quester Siap Gunakan Bahan Bakar Biodiesel B20

UD Trucks menyatakan, truk Quester yang dipasarkan di Indonesia siap menggunakan bahan bakar biodiesel B20. Sejak sekitar 1,5 tahun lalu, UD Trucks sudah melakukan pengetesan penggunaan bahan bakar biodiesel B20 pada truk Quester dan sampai saat ini dinyatakan tidak ada masalah.”Kami sudah sejak sekitar 1,5 tahun lalu melakukan pengetesan penggunaan bahan bakar biodiesel B20 ini pada truk Quester dan sejauh ini tidak ada masalah,” ungkap Direktur Sales dan Logistik UD Trucks di sela acara Extra Mile Challenge yang diselenggarakan UD Trucks global di Tokyo, Jepang, Rabu (24/10/2018). Hadi mengatakan, penggunaan bahan bakar biodiesel B20 yang saat ini menjadi mandatory dari pemerintah untuk dipasarkan oleh perusahaan distributor bahan bakar di Indonesia, hanya membawa konsekuensi pada fase penggantian filter bahan bakar yang menjadi lebih cepat. “Jika menggunakan bahan bakar solar biasa penggantian filter bahan bakar biasanya setiap jarak tempuh 20.000 kilometer sekali, sekarang dengan menggunakan biodiesel B20 menjadi lebih pendek. Setiap 10.000 km sekali harus diganti,” ungkapnya.

Fase penggantian yang lebih cepat tersebut menurutnya untuk menyesuaikan dengan karakter bahan bakar biodiesel B20 yang mengandung bahan nabati FAME yang membuat filter bahan bakar cepat kotor. Selain itu, yang perlu diperhatian dalam penggunaan bahan bakar biodiesel B20 adalah dinding tangki bahan bakar. Kandungan FAME pada biodiesel B20 memiliki sifat melarutkan dan mudah menyerap air sehingga membuat karat mudah terbentuk. Hadi Lim juga menyatakan, selama pengetesan juga tidak ditemukan penyumbatan pada injektor bahan bakar. “Injektor sejauh ini tidak ada masalah. Yang perlu diwaspadai adalah potensi penyumbatan Hadi menambahkan, selama proses pengetesan penggunaan biodiesel B20 pada truk Quester, pihaknya konsisten menggunakan biodiesel B20 dari salah satu perusahaan distributor bahan bakar untuk memastikan konsistensi kandungan minyak nabati pada biodesel yang digunakan benar-benar 20 persen.
http://www.tribunnews.com/otomotif/2018/10/24/ud-trucks-nyatakan-truk-quester-siap-gunakan-bahan-bakar-biodiesel-b20