+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Dua Bulan Diuji, Biodiesel B100 Terbukti Lebih Hemat

Republika | Rabu, 26 Juni 2019

Dua Bulan Diuji, Biodiesel B100 Terbukti Lebih Hemat

Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO (Crude Palm Oil atau kelapa sawit) berhasil terwujud. Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mengembangkan bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100 persen Biosolar. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini telah diluncurkan pada tanggal 15 April 2019 yang lalu. Setelah dua bulan diluncurkan dan dilakukan uji coba pemakaian terhadap mobil dinas Kementerian Pertanian secara rutin, ternyata para pengendara menyatakan bahwa dengan penggunaan B100 ini mereka merasakan lebih hemat bahan bakar. Unggul, salah seorang pengendara mobil dinas jenis Hiace mengungkapkan bahwa selama dua bulan menggunakan B100, ia tidak mengalami perbedaan dengan pemakaian bahan bakar DEX. “Sama saja sih tarikannya, semua sama, cuma bedanya lebih irit” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Rabu (26/6). Lebih lanjut dijelaskannya, dengan kondisi yang sama, kalo dulu menggunakan DEX maksmal 10 km per liter, sejak memakai B100 dia bisa menempuh maximal 13 km per liter.

Hal serupa juga disampaikan oleh Tito, pengendara mobil dinas yang setiap harinya menempuh jarak pulang pergi Jakarta – Serpong Gunung Sindur sejauh 96 km. “Sejak saya pakai ini jatuhnya lebih hemat. Saya cukup tiga hari sekali mengisi tangki dengan maximal 25 liter tiap pengisian’ ujarnya. Hendra selaku penanggung jawab SPBU B100 di Kementan menyatakan bahwa penggunaan B100 sudah rutin dilakukan. “Dalam sehari biasanya ada pengisian sekitar 200-300 liter untuk mobil dinas” ujarnya. “Kalau sudah rutin dilakukan pengisian setiap harinya, berarti tidak ada kendala di pengendara” tambahnya. Untuk perawatan pun beberapa pengendara menyatakan bahwa sama saja dengan perawatan bahan bakar lain. “Ya harapan saya semoga ke depan program ini bisa berkelanjutan, supaya masyarakat luas juga dapat menikmati manfaatnya”. “B100 ini selain lebih efisien juga ramah lingkungan, jadi pasti banyak orang yang tertarik. Semoga secepatnya masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya” ujarnya. Sebagai informasi, bahan bakar B100 ini memiliki keunggulan yakni lebih efisien 40 persen dibanding bahan bakar fosil seperti solar, 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer, sedangkan dengan menggunakan B-100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 kilometer per liter. Selain itu, penggunaan B100 diyakini akan lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat mensejahterakan petani sawit, serta tentunya menghemat devisa. Adanya B100 ini dipastikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki CPO 38 juta ton, dengan nilai ekspor 34 juta ton. Bisa dibayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini merupakan energi masa depan Indonesia. Harapannya, teknologi B100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/19/06/26/ptoji9453-dua-bulan-diuji-biodiesel-b100-terbukti-lebih-hemat

Wartaekonomi | Selasa, 25 Juni 2019

2 Bulan Diuji Pakai, B100 Terbukti Lebih Hemat

Impian Indonesia menciptakan biodiesel B100 dari minyak sawit (crude palm oil/CPO) berhasil terwujud. Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mengembangkan bahan bakar biodiesel B-100 atau 100% biosolar. Bahan bakar dari 100% CPO dengan rendemennya 87% ini telah diluncurkan pada 15 April 2019 lalu. Setelah dua bulan diluncurkan dan dilakukan uji coba pemakaian terhadap mobil dinas Kementan secara rutin, ternyata para pengendara menyatakan bahwa dengan penggunaan B-100 mereka merasakan lebih hemat bahan bakar. Unggul, salah seorang pengendara mobil dinas jenis Hiace, mengungkapkan, selama dua bulan menggunakan B-100, ia tidak mengalami perbedaan dengan pemakaian bahan bakar DEX yang sebelumnya ia gunakan. “Sama saja sih tarikannya, semua sama, cuma bedanya lebih irit,” ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, “Dengan kondisi yang sama, kalau dulu saya pakai DEX maksmal 10 km per liter, sejak saya pakai B-100 saya bisa menempuh maximal 13 km per liter.” Hal serupa disampaikan oleh Tito, pengendara mobil dinas yang setiap harinya menempuh jarak pulang pergi Jakarta–Serpong Gunung Sindur sejauh 96 km. “Sejak saya pakai ini jatuhnya lebih hemat. Saya cukup tiga hari sekali mengisi tangki dengan maximal 25 liter tiap pengisian,” ujarnya.

Hendra selaku penanggung jawab SPBU B-100 di Kementan menyatakan bahwa penggunaan B-100 sudah rutin dilakukan. “Dalam sehari biasanya ada pengisian sekitar 200-300 liter untuk mobil dinas. Kalau sudah rutin dilakukan pengisian setiap hari, berarti tidak ada kendala di pengendara,” ujarnya. Untuk perawatan pun beberapa pengendara menyatakan bahwa sama saja dengan perawatan bahan bakar lainnya. “Ya harapan saya semoga ke depan program ini bisa berkelanjutan, supaya masyarakat luas juga dapat menikmati manfaatnya. B-100 ini selain lebih efisien juga ramah lingkungan, jadi pasti banyak orang yang tertarik. Semoga secepatnya masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya. Sebagai informasi, bahan bakar B-100 memiliki keunggulan, yakni lebih efisien 40% dibanding bahan bakar fosil seperti solar, 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer, sedangkan dengan menggunakan B-100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 kilometer per liter. Selain itu, penggunaan B-100 diyakini akan lebih murah, ramah lingkungan, dan menyejahterakan petani sawit, serta tentunya menghemat devisa. B-100 ini dipastikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki CPO 38 juta ton, dengan nilai ekspor 34 juta ton. Bisa dibayangkan kita bisa menghemat berapa triliun? Ini merupakan energi masa depan Indonesia. Harapannya, B-100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan.

https://www.wartaekonomi.co.id/read233615/2-bulan-diuji-pakai-b100-terbukti-lebih-hemat.html

Suarakarya | Selasa, 25 Juni 2019

Kementan Sukses Uji Pakai B100, Mentan: Triliunan Devisa Bakal Dihemat

Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO (Crude Palm Oil atau minyak kelapa sawit) berhasil terwujud. Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mengembangkan bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100 persen biosolar. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemen 87 persen ini telah diluncurkan pada tanggal 15 April 2019 yang lalu. Setelah dua bulan diluncurkan dan dilakukan uji coba pemakaian terhadap mobil dinas Kementerian Pertanian secara rutin, ternyata para pengendara menyatakan bahwa dengan penggunaan B100 ini mereka merasakan lebih hemat bahan bakar. Unggul, salah seorang pengemudi mobil dinas jenis Hiace mengungkapkan bahwa selama 2 bulan uji jalan menggunakan B100, tidak mengalami perbedaan dengan pemakaian bahan bakar DEX yang sebelumnya ia gunakan. “Sama saja sih tarikannya, semua sama, cuma bedanya lebih irit,” katanya, Senin (24/6/2019). Dia menuturkan, dengan kondisi kemacetan Jakarta yang sama, kalo dulu pakai DEX maksmal 10 km per liter. “Sejak saya pakai B100 saya bisa menempuh hingga 13 km per liter,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan Tito, pengendara mobil dinas yang setiap harinya menempuh jarak pulang pergi Jakarta-Serpong Gunung Sindur sejauh 96 km. “Sejak saya pakai ini jatuhnya lebih hemat. Saya cukup tiga hari sekali mengisi tangki dengan maksimal 25 liter tiap pengisian,” ujarnya. Hendra selaku penanggung jawab SPBU B100 di Kementan menyatakan bahwa penggunaan B100 sudah rutin dilakukan. “Dalam sehari biasanya ada pengisian sekitar 200-300 liter untuk mobil dinas bermesin diesel,” ujarnya. “Kalau sudah rutin dilakukan pengisian setiap harinya, berarti tidak ada kendala di pengendara” tambahnya. Untuk perawatan pun beberapa pengendara menyatakan bahwa sama saja dengan perawatan bahan bakar lain. “B100 ini selain lebih efisien juga ramah lingkungan, jadi pasti banyak orang yang tertarik. Semoga secepatnya masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya. Sebagai informasi, bahan bakar B100 ini memiliki keunggulan yakni lebih efisien 40 persen dibanding bahan bakar fosil seperti solar, yang 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer, sedangkan dengan menggunakan B-100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 kilometer per liter. Selain itu, penggunaan B100 diyakini akan lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat menyejahterakan petani sawit, serta tentunya menghemat devisa. Adanya B100 ini dipastikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki CPO 38 juta ton, dengan nilai ekspor 34 juta ton. “Bisa dibayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini merupakan energi masa depan Indonesia. Harapannya, teknologi B100 menjadi teknologi bahan bakar baru dan terbarukan, yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan,” ujar Mentan Amran Sulaiman.

http://www.suarakarya.id/detail/94873/Kementan-Sukses-Uji-Pakai-B100-Mentan-Triliunan-Devisa-Bakal-Dihemat

Jpnn | Selasa, 25 Juni 2019

Dua Bulan Diuji Pakai, Biodiesel B100 Kementan Terbukti Lebih Hemat

Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO (Crude Palm Oil atau kelapa sawit) berhasil terwujud. Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mengembangkan bahan bakar Biodiesel B-100 atau 100 persen Biosolar. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini telah diluncurkan pada 15 April 2019 yang lalu. Setelah dua bulan diluncurkan dan dilakukan uji coba pemakaian terhadap mobil dinas Kementerian Pertanian secara rutin, ternyata para pengendara menyatakan bahwa dengan penggunaan B100 ini mereka merasakan lebih hemat bahan bakar. Pak Unggul, salah seorang pengendara mobil dinas jenis Hiace mengungkapkan bahwa selama dua bulan menggunakan B100, ia tidak mengalami perbedaan dengan pemakaian bahan bakar DEX yang sebelumnya ia gunakan. “Sama saja sih tarikannya, semua sama, cuma bedanya lebih irit, dengan kondisi yang sama, kalo dulu saya pakai DEX maksmal 10 km per liter, sejak saya pakai B100 saya bisa menempuh maximal 13 km per liter” ujarnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Tito, pengendara mobil dinas yang setiap harinya menempuh jarak pulang pergi Jakarta – Serpong Gunung Sindur sejauh 96 km.

“Sejak saya pakai ini jatuhnya lebih hemat. Saya cukup tiga hari sekali mengisi tangki dengan maximal 25 liter tiap pengisian’ ujarnya. Hendra selaku penanggung jawab SPBU B100 di Kementan menyatakan bahwa penggunaan B100 sudah rutin dilakukan. “Dalam sehari biasanya ada pengisian sekitar 200-300 liter untuk mobil dinas” ujarnya. “Kalau sudah rutin dilakukan pengisian setiap harinya, berarti tidak ada kendala di pengendara” tambahnya. Untuk perawatan pun beberapa pengendara menyatakan bahwa sama saja dengan perawatan bahan bakar lain. “Ya harapan saya semoga ke depan program ini bisa berkelanjutan, supaya masyarakat luas juga dapat menikmati manfaatnya”. “B100 ini selain lebih efisien juga ramah lingkungan, jadi pasti banyak orang yang tertarik. Semoga secepatnya masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya” ujarnya. Sebagai informasi, bahan bakar B100 ini memiliki keunggulan yakni lebih efisien 40 persen dibanding bahan bakar fosil seperti solar, 1 liternya hanya dapat menempuh jarak 9,4 kilometer, sedangkan dengan menggunakan B-100 dimungkinkan menempuh jarak hingga 13 kilometer per liter. Selain itu, penggunaan B100 diyakini akan lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat mensejahterakan petani sawit, serta tentunya menghemat devisa. Adanya B100 ini dipastikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki CPO 38 juta ton, dengan nilai ekspor 34 juta ton. Bisa dibayangkan kita bisa menghemat berapa triliun. Ini merupakan energi masa depan Indonesia. Harapannya, teknologi B100 menjadi teknologi bahan bakar terbaru yang akan menjadi alternatif untuk Indonesia di masa depan.

https://www.jpnn.com/news/dua-bulan-diuji-pakai-biodiesel-b100-kementan-terbukti-lebih-hemat