+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Dua Persoalan Ini Jadi Sandungan Harga CPO Lewat program pencampuran biodiesel agresif yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia dan Malaysia, permintaan minyak kelapa sawit akan makin kuat.

Bisnis | Senin, 21 Oktober 2019

Dua Persoalan Ini Jadi Sandungan Harga CPO
Lewat program pencampuran biodiesel agresif yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia dan Malaysia, permintaan minyak kelapa sawit akan makin kuat.

Harga minyak mentah dan kebijakan dari negara-negara pengimpor diyakini menjadi risiko bagi harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) pada 2019 dan 2020. Dalam risetnya, UOB Kay Hian mencatat saat ini, permintaan biofuel mencapai hampir 30 persen dari konsumsi minyak sawit global. Dengan demikian, melemahnya harga minyak mentah bisa menempatkan permintaan ini dalam risiko. “Sementara itu, pasar utama yang akan dipantau adalah Eropa [terkait kebijakan biofuel], India [bea masuk dan harga dasar], dan Indonesia [mandat biodiesel],” tulis bank asal Singapura tersebut seperti dilansir Bloomberg, Senin (21/10/2019). Untuk tahun ini, mereka memperkirakan penggunaan biodiesel lebih tinggi, didukung oleh mandat biodiesel yang diperluas di Indonesia dan Malaysia. Lewat program pencampuran biodiesel agresif yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia dan Malaysia, permintaan minyak kelapa sawit akan makin kuat. Hal tersebut pun bisa mengimbangi penurunan permintaan biodiesel dari Uni Eropa (UE). Terkait proyeksi harga, bank investasi ini mempertahankan asumsi harga CPO di level 2.100 ringgit per ton pada 2019 dan 2.250 ringgit per ton pada 2020. Alasannya, produksi sawit kurang agresif dan ada penguatan permintaan. UOB Kay Hian menyebutkan proposal dalam Anggaran 2020 Malaysia untuk sektor perkebunan akan membawa dampak positif bagi sektor sawit, terutama dari implementasi B20.
Implementasi program itu diperkirakan menyerap 10-15 persen produksi CPO Malaysia, sehingga bisa mengangkat harga dan mengurangi dampak potensial dari pembatasan Eropa terhadap penggunaan sawit untuk biofuel. Selain itu, permintaan minyak sawit kemungkinan akan disokong oleh revisi bea ekspor Malaysia yang lebih rendah. Adapun angka produksi CPO yang diproyeksi mencapai 21 juta ton dalam Economic Outlook 2020 akan sulit dicapai. Berdasarkan proyeksi tersebut, produksi CPO bakal mencapai 5,8 juta ton pada kuartal IV/2019. Hal ini sepertinya sulit dicapai karena produksi kuartal keempat secara historis berada di kisaran 5 juta-5,5 juta ton. Selain itu, cuaca dan kabut yang lebih kering pada kuartal III/2019 dan penggunaan pupuk yang lebih rendah sejak akhir 2018 dapat menyebabkan tandan buah yang lebih kecil dan tingkat ekstraksi minyak yang lebih rendah. “Proyeksi produksi CPO 22,2 juta ton untuk 2020 juga tampaknya menjadi target yang sulit. Kami memperkirakan produksi 2019 pada 20 juta-20,2 juta ton dan produksi 2020 akan berada tingkat terbaik secara tahunan,” tambah laporan tersebut.
https://market.bisnis.com/read/20191021/94/1161582/dua-persoalan-ini-jadi-sandungan-harga-cpo

Liputan6 | Senin, 21 Oktober 2019
Penerapan B30 Mulai Awal 2020

Penggunaan 30 persen komposisi minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (Fame) pada solar (B30) akan diterapkan pada awal 2020, hal ini diterapkan setelah hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel yang selesai pada akhir Oktober 2019. Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Djoko Siswanto mengatakan, penerapan B30 sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain sebagaimana diubah terkahir dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2015, bahwa untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, maka Badan Usaha Pemegang Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Minyak dan Penggguna Langsung Bahan Bakar Minyak wajib menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau Biofuel sebagai bahan bakar lain secara bertahap. “Dari tahun ke tahun, Potential saving hasil pencampuran BBN dengan minyak Solar semakin meningkat,” kata Djoko, dikutip dari situs resmi Ditjen Migas, Kementerian ESDM, di Jakarta, Senin (21/10/2019). Pada tahun ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) c.q. Ditjen Migas telah melakukan uji jalan B30, yang dilanjutkan pengujian pada kereta api, alat berat, alutsista dll. Meskipun Badan Usaha Pemegang Izin Niaga Migas sudah siap, namun kesiapan dari penyediaan fasilitas juga perlu penjadi perhatian. Ke depan, untuk pelaksanaan B30 banyak tantangan dan peluang yang akan dihadapi pertama jaminan keberlanjutan stok dan stabilitas harga minyak sawit.
Dua kesiapan industri-industri penunjang seperti industri Methanol, industri Katalis, produksi Degum CPO dan PKO. Keterbatasan sarana dan prasarana seperti dermaga, Terminal BBM, kapal pengangkut yang sesuai dengan spesifikasi Fame. Ketiga mekanisme insentif yang sangat banyak, bergantung pada pungutan dan pajak keluar. Keempat sebaran Badan Usaha BBN Biodiesel yang tidak merata, dimana saat ini pabrik biodiesel lebih banyak berada di Indonesia Bagian Barat. Keterbatasan sarana dan prasarana pelabuhan, Terminal BBM, kapal pengangkut, yang sesuai dengan spesifikasi Fame. Kelima, untuk menjaga kualitas BBN diperlukan pengetahuan handling dan stori ng yang sesuai standard. Keenam, adanya negative campaign dari beberapa negara tujuan utama ekspor mencari pasar baru. “Hingga saat ini Ditjen Migas masih terus melakukan pengawasan implementasi atas pencampuran spesifikasi BBN ke minyak Solar ssesuai dengan ketentuan perundang undnagan yang berlaku,” tuturnya. Penggunaan 30 persen Fame dengan solar berpotensi mengurangi impor minyak Solar. Sebelumnya dengan program B10 dan B20 saja untuk Solar Public Service Obligation (PSO) atau subsidi dalm kurun waktu Januari sampai Agustus 2018 terdapat potensi penghematan sebesar USD 952,79 juta. Selanjutnya, untuk Solar Non PSO dalam kurun waktu September hingga Desember 2018 diperhitungan angka potential saving sebesar US$ 931 juta. Bahkan pada 2019 ini, Januari sampai Agustus untuk Solar Non PSO angka potensi hematnya mencapai USD 1,89 milyar. “Biosolar mampu menekan angka impor Minyak Solar. Selain itu juga mampu menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan, pun dari segi ekonomi mampu membantu perekonomian para petani sawit,” tandas Djoko.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4090963/penerapan-b30-mulai-awal-2020

Otosia.com | Senin, 21 Oktober 2019
Efek Buruk Pakai B20 Campur Minyak Goreng untuk Mesin Diesel
Mencampur minyak goreng dengan bahan bakar B20 memiliki efek buruk untuk mesin diesel. Dalam sebuah video, seseorang justru mencampur B20 dengan tambahan minyak goreng.

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengna video yang menunjukkan sesorang mencampur bahan bakar solar B20 dengan minyak goreng. Dalam video tersebut, si pemilik kendaraan mengaku mobil dieselnya tidak mengalami masalah setelah mencampur B20 dengan minyak goreng. Benarkah tidak menimbulkan efek buruk terhadap pembakaran mesin diesel? Menurut Technical Support Dept Head PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Bambang Supriyadi, pencampuran kedua minyak berbeda peruntukan tersebut tidak memberikan nilai efektifitas terhadap pembakaran di mesin maupun konsumsi bahan bakar. Justru sebaliknya, akan timbul masalah di ruang bakar. “Kalau jangka pendek minyak goreng yang dicampur bisa menyumbat saringan bahan bakar, dan jangka panjangnya bisa menyebabkan kotoran di ruang bakar,” jelas Bambang.
Efek Terburuk
Efek terburuknya, minyak goreng akan menrunkan fungsi dari bahan bakar B20 sendiri. Sehingga bisa berpengaruh terhadap performa kendaraan. “B20 itu sendiri sudah campuran bahan bakar diesel dengan minyak nabati seperti kelapa sawit. Jadi kalau ditambah lagi minyak goreng lagi maka bisa menurunkan kemampuan bakarnya,” pungkasnya.
https://m.otosia.com/berita/efek-buruk-pakai-b20-campur-minyak-goreng-untuk-mesin-diesel.html

Investor Daily Indonesia | Senin, 21 Oktober 2019
Jokowi-Maruf Diharapkan Dorong Investasi dan Ekspor Industri Pengolahan Makanan dan Pertanian

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan Juan Permata Adoe mengatakan pengusaha mendukung penuh pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Pengusaha berharap besar terhadap pemerintahan Jokowi jilid II dapat meningkatkan investasi dan mendorong ekspor untuk industri pengolahan makanan dan pertanian. Industri pengolahan makanan dan pertanian masih menjadi sektor yang menjanjikan dalam pertumbuhan ekonomi dan harus menjadi prioritas utama. Agar investasi meningkat maka diperlukan perubahan dalam regulasi, pengusaha menginginkan regulasi yang memiliki supply chain teratur mulai dari manajemen perizinannya sederhana, lahan untuk investasi ada dan tidak diganggu gugat, insentif dari pemerintah disediakan, operasional perusahaan jelas serta distribusinya lancar sampai ke tangan konsumen. “Jika supply chain jelas maka investasi akan masuk dengan mudah terutama investasi untuk industri pengolahan makanan dan pertanian,” katanya. Pengusaha, lanjut dia, berharap pemerintahan Jokowi jilid II juga melanjutkan program hebat, contoh program hebat di sektor pertanian adalah program biodiesel karena dengan program biodiesel ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak bisa dikurangi. “Kami sangat berharap, pemerintahan Jokowi jilid II bisa membuat ekonomi lebih baik melalui penguatan investasi dan juga mendorong ekspor,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (20/10). Menurut dia, ekspor juga harus didorong dengan cara memperbanyak pasar tujuan ekspor. Pengusaha menginginkan agar pasar ekspor Indonesia bisa sampai ke Amerika Latin karena sangat jarang produk Indonesia ditemui di kawasan Amerika Latin. Ia berharap pemerintahan Jokowi jilid II bisa membuka akses pasar ke kawasan Amerika Latin dan memulai gebrakan baru. Ia mengatakan kehadiran 17 pimpinan negara pada saat pelantikan Jokowi-Ma’ruf menggambarkan posisi Indonesia ini penting dalam perekonomian global. Ke depannya, apapun regulasi yang dikeluarkan harus menguntungkan pengusaha dan bisa meningkatkan investasi sekaligus bisa menguatkan kinerja ekspor. “Pengusaha siap menjadi partner pemerintah dan mendukung jika membutuhkan masukan dan ide ide, tujuannya untuk menciptakan keharmonisan,” pungkasnya.
https://investor.id/business/jokowimaruf-diharapkan-dorong-investasi-dan-ekspor-industri-pengolahan-makanan-dan-pertanian

Kompasiana | Senin, 21 Oktober 2019
Menghitung Potensi Kenaikan Produksi Sawit Saat Mandatory B30 Dilaksanakan Awal 2020

Sepanjang Januari hingga Agustus 2019 produksi minyak sawit Indonesia tercatat mengalami peningkatan sebesar 14 persen. Kenaikan tersebut terjadi tak lain sebagai dampak pemberlakuan program mandatory Biodiesel 20 persen atau B20 yang dicanangkan pemerintahan presiden Jokowi sejak September 2018. Hal itu diketahui berdasarkan rilis yang dikeluarkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), pada pertengahan Oktober lalu. Dalam rilis yang dikeluarkan pada Kamis (17/10/2019) tersebut, Gapki mencatat, produksi minyak sawit sepanjang Januari–Agustus 2019 mencapai 34,7 juta ton atau 4 juta ton lebih tinggi dibanding capaian Januari–Agustus 2018 sebanyak 30,66 juta ton. Sementara itu, peningkatan pada periode Juli-Agustus 2019 mencapai 4,7 juta ton atau naik 8,7%, sekaligus merupakan yang tertinggi sepanjang 2019. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menyampaikan konsumsi domestik sampai Agustus 2019 tercatat mencapai 11,73 juta ton atau tumbuh 41,6% dibanding konsumsi periode yang sama tahun lalu sebanyak 8,28 juta ton. Menurutnya, pertumbuhan ini tidak lepas dari serapan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO untuk program mandatori B20 yang berjalan tahun ini. Serapan CPO dalam negeri diproyeksikan akan meningkat pada tahun mendatang seiring diberlakukannya mandatori B30 pada 1 Januari 2020. Mukti memperkirakan, pada 2020 akan ada tambahan serapan CPO domestik sebanyak 3 juta ton dari program ini sehingga konsumsi dalam negeri bisa bertambah 9,4 juta ton.
Maka secara prakiraan sederhana, jika dari program B20 saja serapan dalam negeri meningkat, maka sudah pasti peningkatan yang jauh lebih besar akan terjadi manakala program B30 resmi bergulir pada awal tahun depan itu. Kondisi tersebut juga diyakini akan membuat penurunan untuk keperluan ekspor, meski jumlahnya tidak banyak. Pada sisi lain, dengan Mandatori B20 tersebut, tren harga CPO secara rata-rata di pasar internasional juga ikut stabil. Angka tertinggi terjadi pada bulan Agustus 2019 di kisaran 541 dolar AS/ton. Kalangan pengusaha berharap, trend tersebut bisa bertahan di angka Agustus itu, mengingat keputusan pemerintah yang sudah menetapkan akan memberlakukan mandatory B30 pada Januari tahun depan tersebut. Yang pasti, target pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energy sebagaimana yang telah ditetapkan sejak periode pertama pemerintahan Jokowi akan terus berlanjut untuk masa bakti atau periode keduanya. Selain untuk memastikan aplikasi dari salah satu program Nawacita, kepastian pemberlakuan B30 tersebut tentu memberi kesempatan kepada pelaku usaha kelapa sawit tanah air untuk mendapat berkah lebih, mengingat program ketahanan energi tak hanya berakhir di angka B30, melainkan akan berlanjut hingga ke B100.
https://www.kompasiana.com/padanglurus1/5dadd6120d8230721248bbb2/menghitung-potensi-kenaikan-produksi-sawit-saat-mandatory-b30-dilaksanakan-awal-2020