+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Ekspor Biodiesel ke AS Berpotensi Terganggu Hingga 5 Tahun:

Ekspor Biodiesel ke AS Berpotensi Terganggu Hingga 5 Tahun: International Trade Commission AS pada 19 April 2018 telah resmi mengumumkan pengenaan bea masuk sebesar 126,97% sampai 341,38% untuk biodisel lewat skema Penerapan bea masuk anti-dumping biodiesel oleh Amerika Serikat (AS) berpotensi menghambat ekspor Indonesia hingga lima tahun ke depan. Hal itu dapat terjadi seiring dengan lamanya upaya pemulihan perdagangan biodiesel ke AS, salah satunya lewat gugatan Indonesia ke Dispute Settlement Body (DSB) World Trade Organization (WTO). International Trade Commission AS pada 19 April 2018 telah resmi mengumumkan pengenaan bea masuk sebesar 126,97% sampai 341,38% untuk biodisel lewat skema anti-dumping dan countervailing duty. Direktur Pengamanan Perdagangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Pradnyawati menjelaskan pemerintah sedang berkoordinasi untuk mengajukan gugatan ke Dispute Settlement Body (DSB) World Trade Organization (WTO). “Berkaca pada kasus pembelaan biodiesel terhadap kebijakan Uni-Eropa di forum DSB WTO dan pengadilan lokal yang memakan waktu kurang lebih lima tahun dan akhirnya dimenangkan oleh Indonesia,” kata Pradnyawati kepada Katadata, Selasa (24/4). Keputusan International Trade Commission AS juga merupakan kelanjutan simpulan Department of Commerce AS hasil penyelidikan produk biodiesel Indonesia. Akibatnya, ekspor biodiesel ke AS pun semakin menyusut. Indonesia telah menyampaikan protes melalui submisi serta surat Menteri Perdagangan yang saat ini sedang dalam tiap tahap penyelidikan. Pengajuan di Court of International Trade bersama dengan pelaku usaha terhadap keputusan pemerintah AS juga telah dilakukan. Menurutnya, pasar tradisional seperti Uni-Eropa dan AS memiliki potensi pasar yang besar bagi perusahaan. “Sehingga pembelaan untuk memenangkan kembali pasar AS dalam hal ini sangat penting terutama untuk mendorong kinerja ekspor nasional,” ujar Pradnyawati.Untuk mengatasi kebuntuan ekspor ke AS, pemerintah dan produsen biodiesel nasional juga telah menyiapkan langkah pemasaran ke negara mitra dagang lain seperti Tiongkok, India, dan Pakistan. Pengamat dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengusulkan pemerintah mesti aktif mendiversifikasi pasar sebagai upaya menangkal dampak proteksionisme dan perang dagang pasar AS. Hal itu untuk mengantisipasi hambatan ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya ke negera lain yang menjadi mitra dagang utama Indonesia. Sepanjang triwulan pertama 2018, ekspor Indonesia ke negara tujuan utama bisa tumbuh 12,3%, sedangkan ekspor ke pasar nontradisional hanya naik 1,4% dibandingkan 2017. “Pertumbuhan ekspor ke pasar nontradisional masih jauh lebih rendah dibanding pasar tradisional,” ujar Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Sementara itu Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan mengungkapkan kekhawatirannya akan terjadinya efek domino atas tindakan proteksionis AS dan Uni-Eropa terhadap produk biodiesel Indonesia. “Langkah ini bisa saja ditiru oleh negara tujuan ekspor biodiesel lainnya,” ujar Paulus. Pasalnya, Uni-Eropa juga melakukan penyelidikan anti-dumping terhadap produk Biodiesel Indonesia dan menerapkan bea masuk anti-dumping atas ekspor Biodiesel Indonesia. Namun, Indonesia telah memenangkan sengketa di WTO (DS480 case) secara telak. Berdasarkan data Trade Map tren impor AS terhadap produk biodiesel Indonesia terus mengalami peningkatan sejak tahun 2014 hingga tahun 2016 baik secara volume maupun nilai. Rata-rata terjadi kenaikan kenaikan terbesar secara nilai adalah pada 2016 impor biodiesel AS dari Indonesia meningkat sebesar 74,35% atau senilai US$ 268,2 Juta. Setelah inisiasi kasus anti-dumping, ekspor Indonesia turun menjadi US$ 71 ribu per kuartal ketiga tahun 2017 atau mengalami penurunan sebesar 99,97% dibandingkan tahun 2016. (KATA DATA)

https://katadata.co.id/berita/2018/04/25/ekspor-biodiesel-ke-as-berpotensi-terganggu-hingga-5-tahun

Uni Eropa dan Indonesia Terancam Perang Dagang soal Biofuel: Indonesia terancam perang dagang dengan Uni Eropa jika blok itu tetap memberlakukan pembatasan impor biofuel dari Indonesia. Tampaknya perselisihan antara produsen sawit Indonesia dan Uni Eropa tidak berhenti-berhenti. Dulu para produsen biofuel, salah satu produk olahan kelapa sawit, di Indonesia menggugat Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) karena Uni Eropa menuduh mereka melakukan praktik dumping. Kini giliran gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI) akan menggugat Uni Eropa jika tetap memberlakukan pembatasan impor biofuel dari Indonesia. “Kami sangat setuju oleh langkah yang ditempuh oleh Bapak Menteri Perdagangan kita, Pak Enggartiasto Lukita bahwa pemerintah akan menggunakan prinsip resiprokal yaitu memberlakukan yang sama. “Anda ganggu sawitku, aku juga ganggu susumu.” Kan kita impor susu banyak dari Eropa, impor ikan, keju,” kata Kacuk Sumarto Wakil Ketua GAPKI. (VIVA NEWS)

https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1030062-uni-eropa-dan-indonesia-terancam-perang-dagang-soal-biofuel

Eropa Larang Biodiesel. Menko Luhut : Kami Tidak Berencana Alihkan Pembelian Pesawat ke Boeing: Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menegaskan bahwa Indonesia tidak pernah berniat melakukan tindakan balasan atas larangan masuknya biodiesel berbahan kelapa sawit ke Uni Eropa. “Kami tidak berencana mengalihkan pembelian pesawat ke Boeing. Melakukan tindakan balasan bukan budaya kami. Kami ingin terus bernegosiasi untuk menemukan solusi yang baik bagi semua pihak. Tetapi, kami jangan terus disudutkan,” ujar Menko Luhut (BISNIS)

http://industri.bisnis.com/read/20180425/12/788814/eropa-larang-biodiesel.-menko-luhut-kami-tidak-berencana-alihkan-pembelian-pesawat-ke-boeing

Untuk Memenuhi Kebutuhan Domestik USA Impor Bahan Baku Biodiesel Dari Indonesia: Perkembangan produksi, konsumsi dan perdagangan internasional biodiesel (B100) USA (USDA, 2017) dalam priode tahun 2001-2016, menunjukan hal-hal yang menarik. Pertama, produksi dan konsumsi biodiesel USA mengalami peningkatan yang cepat khususnya setelah tahun 2006. Kedua, pada priode 2006-2010 produksi biodiesel USA melampaui kebutuhan domestik sehingga secara netto menjadi net eksportir biodiesel pada priode tersebut. Ketiga, sejak tahun 2013, konsumsi domestik meningkat cepat dan melampaui peningkatan produksi domestiknya, sehimgga USA kekeurangan biodiesel. Untuk memnutup kekeurangan ini USA mengimpor biodiesel dari negara lain seperti dari Indonesia (biodiesel sawit) dan dari Argentina (biodiesel soya). Dan keempat, pangsa impor biodiesel cendrung meningkat sejak tahun 2013 yakni sekitar 14 persen tahun 2013 menjadi 34 persen di tahun 2016. Hal ini mencerminkan bahwa ketergantungan USA pada biodiesel impor makin meningkat dalam lima tahun terakhir. (SAWIT INDONESIA)