+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Ekspor Biodiesel Bisa Terpeleset (Pemerintah Amerika Serikat akan mengadang impor biodiesel asal Indonesia dengan mengenakan bea masuk sebesar 40%)

Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana menerapkan tarif bea masuk (BM) sebesar 40% untuk ekspor produk biodiesel asal Indonesia. Pengenaan tarif tinggi tersebut dilakukan karena Pemerintah AS menuding Indonesia melakukan praktik dumping produk biodiesel. Bila hal ini sampai terjadi, maka ekspor biodiesel Indonesia tidak dapat lagi bersaing di pasar Uwak Sam tersebut. Dengan potensi pasar ekspor biodiesel yang cukup tinggi ke AS, kebijakan itu dikhawatirkan akan membuat ekspor biodiesel Indonesia anjlok. Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) mengatakan, bila AS benar-benar menerapkan bea masuk sebesar 40% untuk produk biodiesel Indonesia, maka para produsen biodiesel menghentikan ekspor. “Kalau harganya jadi mahal pengusaha tidak jual ke sana,” ujarnya. Untuk itu, Paulus bilang, dalam waktu dekat Pemerintah Indonesia akan bertemu dengan Pemerintah AS untuk membahas polemik ini. Aprobi berharap hasil pertemuan antara Kementerian Perdagangan (Kemdag) RI dan AS dapat mencegah penerapan bea masuk yang tinggi bagi produk biodiesel. “Kami masih berharap semuanya lancar sehingga ekspor biodiesel ke AS berlanjut,” kata Paulus. Namun Paulus mengaku belum bisa menakar berapa kenaikan harga biodiesel Indonesia jika bea masuk 40% diterapkan. Sebab perhitungannya harus mengacu pada harga CPO dunia yang setiap saat juga berubah. Paulus berharap diplomasi Indonesia akan berhasil, sebab potensi pasar Amerika masih menjanjikan. Meski bukan pasar utama, Paulus bilang ekspor biodiesel ke Amerika meningkat 300% dalam tiga tahun terakhir. Buka pasar baru. Komisaris Utama PT Wilmar Nabati Indonesia Master Parulian Tumanggor mengatakan, rencana pemerintah AS menerapkan bea masuk yang tinggi untuk ekspor biodiesel Indonesia bertujuan memproteksi pasar dalam negeri mereka. Sebab kehadiran biodiesel menggerus pasar minyak nabati AS seperti kedelai. Untuk itu sebagai produsen biodiesel, pihaknya akan mencari pasar alternatif seperti ke China, Pakistan dan India. Di negara-negara ini permintaan produk biodiesel akan meningkat tajam. “Saat ini pemerintah sedang mengembangkan pasar biodiesel ke negara-negara tersebut agar kita tidak terlalu bergantung Eropa dan AS,” ujarnya. Dia menyebut saat ini volume ekspor biodiesel ke AS tidak terlalu besar, hanya sekitar 350.000 ton per tahun. Hal itu diakibatkan adanya persaingan Indonesia dan Malaysia sebagai penghasil biodiesel. Namun, ia tidak menampik kalau kebijakan AS ini akan menimbulkan dampak negatif bagi industri kelapa sawit Indonesia. Apalagi dilihat dari sisi persaingan produsen biodiesel lainnya.