+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Emisi biodiesel Dikaji

Kompas | Rabu, 8 Mei 2019

Emisi biodiesel Dikaji

Analisis daur hidup biodiesel menunjukkan emisi bahan bakar nabati dari pengolahan minyak Kelapa Sawit lebih rendah jika bukan dari deforestasi. Emisi bisa ditekan . lebih rendah jika produktivitas optimal dan limbah cair dari pabrik Kelapa Sawit tak melepas gas metana setara 20 kali emisi gas karbon dioksida Di Indonesia, petani Kelapa Sawit yang mengelola 40,28 persen dari total luas lahan sawit menjaga biodiesel Indonesia rendah emisi. Caranya, pabrik Kelapa Sawit didekatkan dengan kebun warga, efisien memakai pupuk, dan meningkatkan produktivitasnya. Demikian diseminasi hasil riset Emisi Produksi biodiesel di Indonesia Berdasarkan Analisis Daur Hidup oleh Traction Energy Asia, Selasa (7/5/2019), di Jakarta Organisasi itu menghitung jejak karbon pada kebun Kelapa Sawit warga di Siak, Pelalawan (Riau) dan Sintang, Sanggau (Kalimantan Barat), serta menganalisis publikasi laporan terbaru perusahaan sawit Musim Mas, Golden Agri Resources, Wilmar International, dan Asian Agri.

Proses produksi

Direktur Eksekutif Traction Energy Asia Tommy Pratama menegaskan, riset itu membuka mata bahwa biodiesel dari sawit melepas emisi tinggi jika dafi alih fungsi lahan (LUC) hutan dan gambut. “Pemerintah mempromosikan biodiesel dari sawit sebagai energi bersih dan mengabaikan emisi dari produksinya,” ujarnya. Menurut Kementerian Pertanian 2015-2017, penguasaan lahan swasta 53,12 persen de- ngan kontribusi produksi 58,56 persen, kebun rakyat 40,28 persen dengan kontribusi produksi 33.88 persen, dan lahan BUMN 6,61 persen dengan kontribusi produksi 7,55 persen. Kontribusi kebun warga perlu ditingkatkan demi memenuhi kebutuhan biodiesel tanpa membuka lahan baru. Dalam paparan riset tersebut, Dhiah Karsiwulan dari Traction Energy Asia mengatakan, emisi karbon pada biodiesel dari kebun warga disumbangkan transportasi dan pupuk. Traction Energy Asia memakai batas waktu tahun 2005 untuk membatasi sejarah pemakaian lahan dalam riset itu. Jika kebun sawit dari LUC hutan dan gambut, emisi dari biodiesel tinggi karena mengukur kehilangan kemampuan hutan menyerap emisi dan gambut melepas emisi. Pada lahan warga, biodiesel bauran 20 persen (B20) dari lahan gambut menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) 6,08 kilogram setara karbon dioksida per liter (kgC02eq/L) di Kalbar dan 7,09 kgC02eq/L di Riau. Itu di atas emisi GRK dari diesel berbahan murni fosil 3,14 kgC02eq/L. Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian, menilai, emisi GRK dari bahan diesel murni belum menghitung emisi akibat pengeboran, penyulingan, dan transportasi. Jadi, perbandingan emisi antara biodiesel dan solar tidak setara Menurut Ketua Umum Asosiasi Produsen biodiesel Indonesia Paulus Tjakrawan, biodiesel membantu kemandirian -energi Indonesia. Sebab, kebutuhan impor bahan bakar minyak fosil meninggalkan jejak karbon tinggi.

Indo Pos | Rabu, 8 Mei 2019

Dodi Reza Alex Paparkan biofuel Minyak Sawit Muba di Ajang Indonesia – USA Renawble Energy Business Forum Houston

Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex Noerdin menjadi pembicara pada ajang Indonesia – USA Renawble Energy Business Forum di Houston, Texas pada Kamis (2/5) lalu. Pada kegiatan tersebut kandidat Doktor Universitas Padjajaran ini diminta untuk menjadi pembicara tentang pengelolaan inti Kelapa Sawit menjadi energi terbarukan yakni biofuel atau bahan bakar nabati yang mana pada kesempatan ini turut dihadiri ratusan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, yang terdiri dari pengembang sebagai independent power producers, ivestor, perbankan, pabrikan dan principals lainnya yang terkait energi terbarukan.Dalam hal ini, Dodi Reza diminta secara langsung oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Houston dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk hadir menjadi pembicara dan memaparkan upaya-upaya Kabupaten Musi Banyuasin, dalam merealisasikan inovasi energi terbarukan pengolahan inti Kelapa Sawit menjadi bahan bakar. “Jadi, kehadiran Pak Bupati Muba Dodi Reza ini sangat penting menin-gat potensi perkebunan Kelapa Sawit yang sangat besar di Kabupaten Musi Banyuasin, dan juga sejalan dengan program studi yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pengembangan biofuel di Kabupaten Muba, sehingga melalui forum ini diharapkan bisa terjalin kerjasama dengan perusahaan terkait di Ame- rika Serikat,” ujar Konsul Jenderal RI untuk Houston AS, Dr Nana Yuliana

Nana mengatakan pengelolaan inti Kelapa Sawit milik petani rakyat di Muba menjadi biofuel tersebut merupakan terobosan inovasi energi. “Ini juga merupakan bentuk perhatian serius pemkab untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat dan khususnya upaya mendongkrak harga sawit di kalangan petani,” katanya. Menurut dia, Pemkab Muba dapat menggarap peluang menggaet investor asal Amerika Serikat terkait inovasi energiterbarukan itu melalui forum Renewable Energy Indonesia-USA tersebut. “Ini peluang besar, kami pihak Konsulat Jenderal RI untuk Houston AS merasa sudah sangat pas mengundang bupati Muba dan ini akan menjadi peluang investasi baru di dunia yang memberikan kontribusi besar dan positif untuk Indonesia bahkan dunia,” terangnya.Sementara itu, Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin dalam kesempatan tersebut memaparkan, inovasi energi terbarukan biofuel berbasis Kelapa Sawit di Muba ini benar-benar membuat kagum dan menjadi perhatian tersendiri bagi perusahaan-perusahaan di USA karena dinilai menjadi energi terbarukan yang merupakan harapan baru dunia. “Jadi, bio fuel di Muba ini saat ini benar-benar menjadi sorotan di tingkat nasional maupun internasional dan ini akan menjadi peluang investasi baru yang diminati dan sangat berkontribusi untuk kemajuan daerah

Muba dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat yang ada di Muba,” ulasnya. Dodi menambahkan, sebelumnya juga keseriusan dirinya untuk mewujudkan energi terbarukan bio fuel ini telah dilakukannya kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS). Kemudian, upaya pembenahan tersebut diharapkan mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat dan berkelanjutan. “Kita juga nantinya berencana akan membangun mini refinery untuk penampungan sementara, dan sebagai langkah awal, produksi turunan dari tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT. Pertamina di Plaju, Palembang,” bebernya. Mantan anggota DPR RI dua periode ini juga menambahkan setelah berjalan nantinya di tahap awal dirinya akan mewajibkan seluruh kendaraan dinas di Lingkungan Pemkab Muba menggunakan bahan bakar atau biofuel tersebut untuk operasional. “Jadi, seluruh mobdin di Pemkab Muba wajib pakai biofuel berbasis kelapa sawit yang ramah lingkungan.”

Selain penggunaan biofuel Dodi juga menjelaskan bahwa beberapa waktu yang lalu ditemukan Cadangan Gas Terbesar Kelima di Dunia yang diyakini akan berdampak besar untuk masyarakat Muba dan Indonesia “Dari Pengeboran Sumur Kaliberau Dalam 2X (KBDZX) telah ditemukan potensi cadangan setidaknya 2 triliun kaki kubik (ch) gas yang dilakukan Repsol di Wilayah Kerja Sakakemang, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan tentu saja ini akan berdampak besar bagi peningkatan pembangun- an dan kesejahteraan masyarakat Muba,” kedepanya pungkasnya. Sementara itu HE Mahendra Siregar, Dubes RI untuk Amerika Serikat men-gapresisiasi inovasi biofuel dari Kelapa Sawit Muba yang bekerja sama dengan ITB bandung Dan BPDP-KS yang diterapkan di Kabupaten Musi Banyuasin, Prov Sumsel, “Awal Sepetember 2019 nanti kembali kita akan undang Dodi Reza Alex Noerdin Untuk Memaparkan Penerapan biofuel Dari Kelapa Sawit Musi Banyuasin Indonesia di sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Newyork awal Sepetember ini, “ungkapnya.

Investor Daily Indonesia | Rabu, 8 Mei 2019

GIMNI Usulkan PE Produk Hilir Sawit US$ 5/Ton

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengusulkan kepada pemerintah untuk menerapkan pungutan ekspor (PE) sebesar US$ 50 per ton untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan US$ 5 per ton untuk produk hilir sawit terutama minyak goreng kemasan dan biodiesel. Dengan besaran tarif PE yang demikian, bukan hanya harga CPO yang akan meningkat tapi volume ekspor minyak sawit nasional juga akan melonjak signifikan. Saat ini, pemerintah masih mengenolkan PE untuk CPO dan produk hilir sawit, kebijakan tersebut berlaku hingga 31 Mei 2019. Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga menjelaskan, sudah tiga bulan ini harga CPO di pasar internasional tidak mengalami pergerakan, petani juga tidak mendapatkan harga yang lebih baik, meskipun pemerintah telah mengenolkan PE untuk CPO dan produk hilir sawit. Ekspor minyak sawit pada Februari, Maret, dan April juga turun, dan kemungkinan berlanjut hingga Mei. “Untuk CPO memang volume ekspornya naik, tapi yang hilir anjlok. Kalau pemerintah mau mendorong harga CPO dan ekspor tetap naik maka kenakan levy (pungutan ekspor) dengan formula US$ 50 per ton untuk CPO dan US$ 5 per ton untuk minyak goreng kemasan dan biodiesel,” kata Sahat Sinaga di Jakarta, kemarin.

Pemerintah, lanjut Sahat, seharusnya tetap pada jalur yang telah dicanangkan sejak 2012, yakni hilirisasi industri agro berbasis minyak sawit yang ditandai dengan pengenaan bea keluar (BK) atas ekspor CPO. Dengan formula pungutan ekspor yang tidak ideal bagi industri hilir, Indonesia justru menuju kondisi hu-lunisasi. Indonesia semakin banyak memasok bahan baku ke industri hilir di luar negeri. “Karena itu, sebaiknya pungutan ekspor BPDPKS atas CPO kembali dikenakan pada tarif semula dan merevisi tarif atas produk hilir,” ungkap dia. Sebelum kebijakan pengenolan PE untuk CPO dan produk hilir sawit diberlakukan, PE untuk CPO ditetapkan US$ 50 per ton dan untuk produk turunan (hilir) US$ 20-30 per ton. Kebijakan pemerintah yang mengenolkan PE untuk CPO dan produk hilir sawit pertama kali terbit pada Desember 2018. Kemudian pemerintah mengeluarkan aturan dan formula baru pada Maret 2019 melalui PMK No 23/PMK.05/2019 yang memutuskan bahwa pemerintah tidak mengenakan alias tetap mengenolkan PE CPO dan produk turunannya hingga 31 Mei 2019. Pemerintah baru akan menerapkan PE pada CPO mulai 1 Juni 2019 sebesar US$ 25 per ton apabila harga CPO internasional berada di antara US$ 570-619 per ton dan US$ 50 per ton apabila harga naik melewati US$ 619 per ton.

Sahat menjelaskan, pemangkasan PE untuk produk hilir sawit juga diyakini mampu mendongkrak utilisasi industri hilir berbasis minyak sawit di dalam negeri yang saat ini terus anjlok, yakni dari sebelumnya berkisar 60-70% dan kini terpangkas menjadi 15-20%. Kondisi itu kontras dengan yang dialami industri hilir minyak sawit di Malaysia. “Industri di Malaysia bahkan saat ini sudah overtime hingga 20%. Industri hilir kita saat ini hanya bisa menikmati pasar kalau sudah mentok dengan Malaysia. Apalagi, Malaysia saat ini menikmati preferensi tarif 5% saat masuk ke India, ditambah mereka sepertinya akan mempertahankan tarif nol, sehingga semakin menarik untuk mengekspor CPO dari Malaysia,” kata Sahat. Belum lagi, lanjut dia, dari aspek ongkos transportasi, Malaysia menikmati daya saing hingga 15-20% karena dukungan infrastruktur yang efektif dan efisien, baik di pelabuhan maupun angkutan. Di Indonesia, perbaikan infrastruktur memang sudah mulai kelihatan baik, namun di pelabuhan masih belum berubah. “Demurrage cost kita paling tinggi di dunia. Kenapa? Karena santai, nggak ada tanggung jawab, tapi mau kejar profit. Ditambah lagi, suku bunga yang berlaku di Malaysia lebih rendah dari Indonesia. Silakan dibandingkan pakai surveyor independen. Dari hasilnya kita bisa belajar, kalau memang kita mau bisa bersaing di pasar global,” kata Sahat Sinaga.

Penurunan utilisasi tersebut, kata Sahat, terus terjadi sejak pemberlakuan PE yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Pengenaan tarif yang tidak ideal bagi produk hilir menyebabkan iklim usaha di segmen tersebut berkurang. Karena itu, GIMNI berulang kali meminta pemerintah mengkaji kembali besaran tarif pungutan ekspor BPDPKS yang dikenakan atas produk hilir. “Kondisi itu diperparah dengan pengenolan sementara PE atas CPO dan turunannya, menyusul anjloknya harga CPO. Bahkan, pemerintah kemudian mengenakan formula baru,” jelas Sahat. Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, kapasitas terpasang produsen biodiesel di Indonesia bakal bertambah sekitar 900 ribu ton dari saat ini berkisar 12 juta ton per tahun. “Ada yang sudah mulai melakukan penambahan kapasitas, ada yang mau rencana. Setidaknya, akan ada satu pemain baru dengan kapasitas 300 ribu ton, lalu akan ada dua produsen yang sudah ada, menambah kapasitas masing-masing 300 ribu ton. Artinya, dengan berlakunya program biodiesel 30% (B30) nanti di semua segmen, kapasitas kita tetap akan bisa memenuhi,” kata Paulus.

Tembus Pasar Baru

Lebih jauh Sahat Sinaga mengatakan, usulan GIMNI agar pemerintah menerapkan PE sebesar US$ 50 per ton untuk CPO dan US$ 5 per ton untuk produk hilir sawit terutama minyak goreng kemasan dan biodiesel bukan didasarkan pada teori semata. Kebijakan tersebut diperlukan agar Indonesia juga bisa membidik pasar ekspor baru seiring makin ketatnya pasar Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS). “Ini bukan sekadar teori. Kami yakin begitu pemerintah mau dan mengumumkan tarif PE CPO kem- bali ke formula awal maka ekspor dan harga minyak sawit akan naik. Apalagi, sekarang pasar di UE dan AS semakin ketat,” kata dia. Dia menjelaskan, bagaimanapun saat ini minat pasar global atas biodiesel tetap tinggi. Untuk menembus pasar-pasar baru maka salah satu upaya yang bisa ditempuh Pemerintah Indonesia adalah dengan memangkas tarif PE BPDPKS atas biodiesiel. “Juga, atas minyak goreng dalam kemasan, ini supaya kita bisa menembus pasar Afrika Timur dengan populasi mencapai 380 juta orang. Karena di sana tidak ada tangki di pelabuhan, jadi kita hanya bisa ekspor dalam kemasan,” kata Sahat. Apalagi, lanjut Sahat, industri hilir {refinery) sebenarnya lebih memilih memacu kapasitasnya di dalam negeri demi menghasilkan produk turunan yang beragam, mulai dari pangan, oleokimia, hingga energi. GIMNI meyakini pada 2025 sekitar 55-60% produk sawit nasional akan memenuhi kebutuhan domestik. “Dengan 20% di antaranya adalah untuk segmen pangan dan oleokimia, sedangkan sisanya untuk energi. Jadi, tidak perlu takut dengan tekanan di luar,” kata Sahat.

Indo Pos | Selasa, 7 Mei 2019

Dodi Reza Alex Noerdin Paparkan Biofuel Minyak Sawit Muba di Ajang Indonesia-USA Renawble Energy Business Forum Houston

Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex Noerdin menjadi pembicara pada ajang Indonesia-USA Renawble Energy Business Forum di Houston, Texas, Amerika Serikat, Kamis (2/5/2019). Pada kegiatan tersebut kandidat Doktor Universitas Padjajaran ini diminta untuk menjadi pembicara tentang pengelolaan inti kelapa sawit menjadi energi terbarukan yakni biofuel atau bahan bakar nabati. Ratusan perusahaan Amerika Serikat yang terdiri dari pengembang sebagai independent power producers, ivestor, perbankan, pabrikan dan principals lainnya yang terkait energi terbarukan. Dalam hal ini, Dodi Reza diminta secara langsung oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Houston dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk hadir menjadi pembicara dan memaparkan upaya-upaya Kabupaten Musi Banyuasin dalam merealisasikan inovasi energi terbarukan pengolahan inti kelapa sawit menjadi bahan bakar. “Jadi, kehadiran pak Bupati Muba Dodi Reza ini sangat penting meningat potensi perkebunan kelapa sawit yang sangat besar di Kabupaten Musi Banyuasin dan juga sejalan dengan program studi yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung dalam pengembangan biofuel di Kabupaten Muba, sehingga melalui forum ini diharapkan bisa terjalin kerjasama dengan perusahaan terkait di Amerika Serikat,” ujar Konsul Jenderal RI untuk Houston Amerika Serikat, Dr. Nana Yuliana.

Nana mengatakan pengelolaan inti kelapa sawit milik petani rakyat di Muba menjadi biofuel tersebut merupakan terobosan inovasi energi. “Ini juga merupakan bentuk perhatian serius pemkab untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat dan khususnya upaya mendongkrak harga sawit di kalangan petani,” katanya. Menurut dia, Pemkab Muba dapat menggarap peluang menggaet investor asal Amerika Serikat terkait inovasi energiterbarukan itu melalui forum Renewable Energy Indonesia-USA tersebut. “Ini peluang besar, kami pihak Konsulat Jenderal RI untuk Houston Amerika Serikat merasa sudah sangat pas mengundang bupati Muba dan ini akan menjadi peluang investasi baru di dunia yang memberikan kontribusi besar dan positif untuk Indonesia bahkan dunia,” terangnya. Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin (keempat dari kiri) bersama Konsul Jenderal RI untuk Houston Amerika Serikat, Dr. Nana Yuliana (ketiga dari kanan) dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, HE Mahendra Siregar (keempat dari kanan)

Sementara itu, Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin dalam kesempatan tersebut memaparkan, inovasi energi terbarukan biofuel berbasis kelapa sawit di Muba ini benar-benar membuat kagum dan menjadi perhatian tersendiri bagi perusahaan-perusahaan di USA karena dinilai menjadi energi terbarukan yang merupakan harapan baru dunia. “Jadi, bio fuel di Muba ini saat ini benar-benar menjadi sorotan di tingkat nasional maupun internasional dan ini akan menjadi peluang investasi baru yang diminati dan sangat berkontribusi untuk kemajuan daerah Muba dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat yang ada di Muba,” ulasnya. Dodi menambahkan, sebelumnya juga keseriusan dirinya untuk mewujudkan energi terbarukan bio fuel ini telah dilakukannya kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS). Kemudian, upaya pembenahan tersebut diharapkan mampu menyentuh kebutuhan pokok pekebun sawit untuk memperjuangkan terwujudnya pekebun sawit yang sejahtera, mandiri, berdaulat dan berkelanjutan.

“Kita juga nantinya berencana akan membangun mini refinery untuk penampungan sementara, dan sebagai langkah awal, produksi turunan dari tandan buah segar itu akan dikirim ke kilang minyak milik PT. Pertamina di Plaju, Palembang,” bebernya. Mantan anggota DPR RI dua periode ini juga menambahkan setelah berjalan nantinya di tahap awal dirinya akan mewajibkan seluruh kendaraan dinas di Lingkungan Pemkab Muba menggunakan bahan bakar atau biofuel tersebut untuk operasional. “Jadi, seluruh mobdin di Pemkab Muba wajib pakai biofuel berbasis kelapa sawit yang ramah lingkungan,” ujar dia.

Selain penggunaan biofuel Dodi juga menjelaskan bahwa beberapa waktu yang lalu ditemukan Cadangan Gas Terbesar Kelima di Dunia yang diyakini akan berdampak besar untuk masyarakat Muba dan Indonesia “Dari Pengeboran Sumur Kaliberau Dalam 2X (KBDZX) telah ditemukan potensi cadangan setidaknya 2 triliun kaki kubik (ch) gas yang dilakukan Repsol di Wilayah Kerja Sakakemang, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan tentu saja ini akan berdampak besar bagi peningkatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Muba,” pungkasnya. Sementara itu Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, HE Mahendra Siregar mengapresisiasi inovasi Biofuel dari kelapa sawit Muba yang bekerja sama dengan ITB bandung dan BPDP-KS yang diterapkan di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. “Awal sepetember 2019 nanti kembali kita akan undang Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin Untuk Memaparkan Penerapan Biofuel Dari Kelapa Sawit Musi Banyuasin Indonesia di sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di New York awal Sepetember,” ungkapnya.

https://www.indopos.co.id/read/2019/05/07/174346/dodi-reza-alex-noerdin-paparkan-biofuel-minyak-sawit-muba-di-ajang-indonesia-usa-renawble-energy-business-forum-houston

Sindonews | Selasa, 7 Mei 2019

HIP Mei 2019: Harga Biodisel Turun, Bioetanol Naik Tipis

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) telah menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Mei 2019. Harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp7.348/liter dan bioetanol sebesar Rp10.195/liter. Jika dibandingkan harga di bulan April 2019, biodiesel mengalami penuruan sebesar Rp39/liter dari sebelumnya Rp7.387/liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp17/liter dari harga sebelumnya Rp 10.178/liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM dalam keterangan resminya, Selasa (7/5/2019). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan Mandatori B-20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Maret hingga 14 April 2019 yaitu menjadi Rp7.026/kg dari harga sebelumnya Rp7.078/kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD0,25/Liter sehingga didapatkan Rp10.195/liter untuk HIP BBN bulan Mei 2019. Sementara konversi nilai tukar menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Maret hingga 14 April 2019.

https://ekbis.sindonews.com/read/1402197/34/hip-mei-2019-harga-biodisel-turun-bioetanol-naik-tipis-1557220694

Okezone | Selasa, 7 Mei 2019

Harga Biodiesel Turun Jadi Rp7.348/Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Mei 2019. Harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp7.348 per liter dan bioetanol sebesar Rp10.195 per liter. Jika dibandingkan harga di bulan April 2019, biodiesel mengalami penurunan sebesar Rp39 per liter dari sebelumnya Rp7.387 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp17 per liter dari harga sebelumnya Rp10.178 per liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (7/5/2019). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan Mandatori B-20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum.

Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Maret hingga 14 April 2019 yaitu menjadi Rp7.026 per kg dari harga sebelumnya Rp 7.078 per kg. Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD0,25/Liter sehingga didapatkan Rp10.195 per liter untuk HIP BBN bulan Mei 2019. Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Maret hingga 14 April 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://economy.okezone.com/read/2019/05/07/320/2052453/harga-biodiesel-turun-jadi-rp7-348-liter

Merdeka | Selasa, 7 Mei 2019

ESDM Tetapkan Harga Biodiesel Pada Mei 2019 Makin Murah

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Mei 2019. Harga biodiesel kali ini ditetapkan sebesar Rp 7.348 per liter dan bioetanol sebesar Rp 10.195 per liter. Jika dibandingkan harga di bulan April 2019, biodiesel mengalami penurunan sebesar Rp 39 per liter dari sebelumnya Rp 7.387 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 17 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.178 liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM di Jakarta, melalui keterangan resminya, Selasa (7/5). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan Mandatori B-20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak ( BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Agung menyebut penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Maret hingga 14 April 2019 yaitu menjadi Rp 7.026 per kilogram (kg) dari harga sebelumnya Rp 7.078 per kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD0,25/Liter sehingga didapatkan Rp10.195 per liter untuk HIP BBN bulan Mei 2019. Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Maret hingga 14 April 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri seperti biodiesel ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).

https://www.merdeka.com/uang/esdm-tetapkan-harga-biodiesel-pada-mei-2019-makin-murah.html

Republika | Selasa, 7 Mei 2019

HIP Mei 2019: Harga Biodiesel Turun, Bioetanol Naik Tipis

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Mei 2019. Harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp 7.348 per liter dan bioetanol sebesar Rp 10.195 per liter. Jika dibandingkan harga April 2019, biodiesel mengalami penuruan sebesar Rp 39 per liter dari sebelumnya Rp 7.387 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 17 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.178 per liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, Selasa (7/5). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan Mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Maret hingga 14 April 2019. Harga CPO turun menjadi Rp 7.026 per kg dari harga sebelumnya Rp 7.078 per kg. HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/19/05/07/pr47vv370-hip-mei-2019-harga-biodiesel-turun-bioetanol-naik-tipis

Merdeka | Selasa, 7 Mei 2019

ESDM Tetapkan Harga Biodiesel Pada Mei 2019 Makin Murah

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Mei 2019. Harga biodiesel kali ini ditetapkan sebesar Rp 7.348 per liter dan bioetanol sebesar Rp 10.195 per liter. Jika dibandingkan harga di bulan April 2019, biodiesel mengalami penurunan sebesar Rp 39 per liter dari sebelumnya Rp 7.387 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 17 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.178 liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM di Jakarta, melalui keterangan resminya, Selasa (7/5). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan Mandatori B-20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak ( BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Agung menyebut penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Maret hingga 14 April 2019 yaitu menjadi Rp 7.026 per kilogram (kg) dari harga sebelumnya Rp 7.078 per kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (Rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (Rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 Kg/L) + USD0,25/Liter sehingga didapatkan Rp10.195 per liter untuk HIP BBN bulan Mei 2019. Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Maret hingga 14 April 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri seperti biodiesel ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).

https://www.merdeka.com/uang/esdm-tetapkan-harga-biodiesel-pada-mei-2019-makin-murah.html

Detik | Selasa, 7 Mei 2019

Harga Biodiesel Turun ke Rp 7.348/Liter di Mei

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Mei 2019. Harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp 7.348/liter dan bioetanol sebesar Rp 10.195/liter. Jika dibandingkan harga di bulan April 2019, biodiesel mengalami penurunan sebesar Rp 39/liter dari sebelumnya Rp 7.387/liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 17/liter dari harga sebelumnya Rp 10.178/liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangannya, Selasa (7/5/2019). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Maret hingga 14 April 2019 yaitu menjadi Rp 7.026/kg dari harga sebelumnya Rp 7.078/kg.

Besaran harga HIP BBN untuk jenis Biodiesel tersebut dihitung menggunakan formula HIP = (rata-rata CPO KPB + 100 US$/ton) x 870 kg/m3 + Ongkos Angkut. Besaran ongkos angkut pada formula perhitungan harga biodiesel mengikuti ketentuan dalam Keputusan Menteri ESDM No. 350 K/12/DJE/2018. Sedangkan untuk jenis Bioetanol terjadi kenaikan harga setelah dihitung berdasarkan formula yang ditetapkan, yaitu (rata-rata tetes tebu KPB periode 3 bulan x 4,125 kg/L) + US$ 0,25/Liter sehingga didapatkan Rp 10.195/liter untuk HIP BBN bulan Mei 2019. Konversi nilai kurs menggunakan referensi rata-rata kurs tengah Bank Indonesia periode 15 Maret hingga 14 April 2019. Sebagai informasi, HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://finance.detik.com/energi/d-4539060/harga-biodiesel-turun-ke-rp-7348liter-di-mei

Republika | Selasa, 7 Mei 2019

HIP Mei 2019: Harga Biodiesel Turun, Bioetanol Naik Tipis

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk bulan Mei 2019. Harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp 7.348 per liter dan bioetanol sebesar Rp 10.195 per liter. Jika dibandingkan harga April 2019, biodiesel mengalami penuruan sebesar Rp 39 per liter dari sebelumnya Rp 7.387 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 17 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.178 per liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, Selasa (7/5). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan Mandatori B20 dan berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum. Penurunan harga untuk biodiesel dilatarbelakangi oleh turunnya harga rata-rata crude palm oil (CPO) Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) periode 15 Maret hingga 14 April 2019. Harga CPO turun menjadi Rp 7.026 per kg dari harga sebelumnya Rp 7.078 per kg. HIP BBN sendiri ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal EBTKE.

https://republika.co.id/berita/ekonomi/migas/pr47vv370/hip-mei-2019-harga-biodiesel-turun-bioetanol-naik-tipis

Liputan 6 | Selasa, 7 Mei 2019

Harga Biodiesel Turun di Mei 2019

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan besaran Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati (HIP BBN) untuk Mei 2019. Yaitu biodiesel ditetapkan sebesar Rp 7.34 per liter dan bioetanol sebesar Rp 10.195 per liter. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, jika dibandingkan harga di bulan April 2019, biodiesel mengalami penuruan sebesar Rp 39 per liter dari sebelumnya Rp 7.387 per liter. Sedangkan harga bioetanol mengalami kenaikan tipis sebesar Rp 17 per liter dari harga sebelumnya Rp 10.178 per liter. “Ketetapan harga ini mulai berlaku secara efektif sejak 1 Mei 2019,” Kat Agung seperti dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Selasa (7/5/2019). Agung menambahkan, harga BBN tersebut juga dipergunakan dalam pelaksanaan Mandatori campuran 20 persen biodiesel dengan solar (B20), berlaku untuk pencampuran minyak solar baik jenis bahan bakar minyak (BBM) tertentu maupun jenis BBM umum.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3959147/harga-biodiesel-turun-di-mei-2019

Bisnis | Selasa, 7 Mei 2019

Aprobi Pastikan Emisi Produksi Biodiesel Berkurang

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia memastikan akan semakin mengurangi emisi gas rumah kaca dari produksi biodiesel lewat menambah metan capture facility. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Paulus Tjakrawan mengatakan saat ini baru setidaknya lebih dari 10% pabrik biodiesel di Indonesia telah memasang metan capture facility atau penangkapan gas metana untuk mengurangi emisi yang dihasilkan dari produksi biodiesel. Apalagi alat tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. “Harapan kami bisa lebih cepat dan banyak perusahaan punya metan capture facility,” katanya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019). Sebelumnya, Traction Energy Asia mengklaim perkebunan dan pabrik kelapa sawit memberikan kontribusi emisi gas rumah kaca sebesar 83% hingga 95%. Ketua tim peneliti di Traction Energy Asia Ricky Amukti mengatakan perubahan penggunaan lahan termasuk didalamnya deforestasi hingga konversi lahan gambut menjadi kelapa sawit menjadi sumber emisi terbesar dari produk biodiesel. Selain sumber emisi lainnya karena distribusi dan limbah pabrik kelapa sawit.

Traction Energy Asia mengakui rantai emisi biodiesel memang dapat dikurangi sebesar 50% sampai 80% dengan pemasangan metan capture facility pada pabrik. Namun, pengurangan emisi terbesar justru dapat dicapai dengan mengurangi peralihan fungsi lahan. Apalagi, Indonesia yang menarget bauran energi baru terbarukan pada 2025 berarti akan meningkatkan produksi biodiesel dari 6,01 juat kiloliter pada 2018 menjadi 13,8 juta kiloliter pada 2025. “Ini akan menjadi lompatan yang cukup besar dan akan membutuhkan ekspansi perkebunan dan risiko peralihan fungsi lahan lebih lanjut. Untuk memastikan bahwa produksi biodeisel tidak menyebabkan deforestasi lebih lanjut, memerlukan perbaikan tata kelola hutan yang siginifikan,” katanya. Menurutnya, emisi yang dihasilkan saat produksi biodiesel dibanding diesel tidaklah lebih besar melainkan sebaliknya. Paulus mengatakan penelitian tersebut tidak memperbandingkan emisi yang dihasilkan dari diesel ketika diproses sejak awal. Penelitian ini perlu dicermati lebih baik, antara perbandingan emisi yang dihasilkan dari produksi biodiesel dengan produksi diesel. “Dalam paparannya tidak menyebutkan emisi biodiesel lebih tinggi karena ada land use change, tapi tidak menyebutkan land use change yang mana apa dari hutan, gambut, atau ladang, jadi statemennya tidak tepat,” katanya.

Direktur Eksekutif Traction Energy Tommy Pratama mengatakan biodiesel memang memiliki emisi lebih rendah ketika dibakar. Hanya saja, produksinya juga menyebabkan emisi karbon yang signifikan pada perubahan penggunaan lahan. Peralihan fungsi lahan berarti pengurangan penyerapan karbon yang bisa dilakukan pohon maupun tanaman yang sebelumnya berada dalam ladang tersebut. Menurutnya, akan menjadi masalah jika biodiesel hanya memastikan energi bersih di hilir. Namun, di hulu atau produksi, justru menghasilkan emisi. Apalagi, menurutnya, baru 11% pabrik biodiesel yang menggunakan metan capture facility untuk mengurangi emisi pada saat produksi. “Kita hanya fokus biodesel bisa benar-benar bersih dalam mengurangi emisi di Indonesia, dan juga tidak berasal dari kebun sawit yang membuka lahan dari hutan, gambut, maupun ladang warga,” katanya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190507/44/919729/aprobi-pastikan-emisi-produksi-biodiesel-berkurang

Bisnis | Selasa, 7 Mei 2019

Aprobi Pastikan Emisi Produksi Biodiesel Berkurang

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia memastikan akan semakin mengurangi emisi gas rumah kaca dari produksi biodiesel lewat menambah metan capture facility. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Paulus Tjakrawan mengatakan saat ini baru setidaknya lebih dari 10% pabrik biodiesel di Indonesia telah memasang metan capture facility atau penangkapan gas metana untuk mengurangi emisi yang dihasilkan dari produksi biodiesel. Apalagi alat tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. “Harapan kami bisa lebih cepat dan banyak perusahaan punya metan capture facility,” katanya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019). Sebelumnya, Traction Energy Asia mengklaim perkebunan dan pabrik kelapa sawit memberikan kontribusi emisi gas rumah kaca sebesar 83% hingga 95%. Ketua tim peneliti di Traction Energy Asia Ricky Amukti mengatakan perubahan penggunaan lahan termasuk didalamnya deforestasi hingga konversi lahan gambut menjadi kelapa sawit menjadi sumber emisi terbesar dari produk biodiesel. Selain sumber emisi lainnya karena distribusi dan limbah pabrik kelapa sawit.

Traction Energy Asia mengakui rantai emisi biodiesel memang dapat dikurangi sebesar 50% sampai 80% dengan pemasangan metan capture facility pada pabrik. Namun, pengurangan emisi terbesar justru dapat dicapai dengan mengurangi peralihan fungsi lahan. Apalagi, Indonesia yang menarget bauran energi baru terbarukan pada 2025 berarti akan meningkatkan produksi biodiesel dari 6,01 juat kiloliter pada 2018 menjadi 13,8 juta kiloliter pada 2025. “Ini akan menjadi lompatan yang cukup besar dan akan membutuhkan ekspansi perkebunan dan risiko peralihan fungsi lahan lebih lanjut. Untuk memastikan bahwa produksi biodeisel tidak menyebabkan deforestasi lebih lanjut, memerlukan perbaikan tata kelola hutan yang siginifikan,” katanya. Menurutnya, emisi yang dihasilkan saat produksi biodiesel dibanding diesel tidaklah lebih besar melainkan sebaliknya. Paulus mengatakan penelitian tersebut tidak memperbandingkan emisi yang dihasilkan dari diesel ketika diproses sejak awal. Penelitian ini perlu dicermati lebih baik, antara perbandingan emisi yang dihasilkan dari produksi biodiesel dengan produksi diesel. “Dalam paparannya tidak menyebutkan emisi biodiesel lebih tinggi karena ada land use change, tapi tidak menyebutkan land use change yang mana apa dari hutan, gambut, atau ladang, jadi statemennya tidak tepat,” katanya.

Direktur Eksekutif Traction Energy Tommy Pratama mengatakan biodiesel memang memiliki emisi lebih rendah ketika dibakar. Hanya saja, produksinya juga menyebabkan emisi karbon yang signifikan pada perubahan penggunaan lahan. Peralihan fungsi lahan berarti pengurangan penyerapan karbon yang bisa dilakukan pohon maupun tanaman yang sebelumnya berada dalam ladang tersebut. Menurutnya, akan menjadi masalah jika biodiesel hanya memastikan energi bersih di hilir. Namun, di hulu atau produksi, justru menghasilkan emisi. Apalagi, menurutnya, baru 11% pabrik biodiesel yang menggunakan metan capture facility untuk mengurangi emisi pada saat produksi. “Kita hanya fokus biodesel bisa benar-benar bersih dalam mengurangi emisi di Indonesia, dan juga tidak berasal dari kebun sawit yang membuka lahan dari hutan, gambut, maupun ladang warga,” katanya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190507/44/919729/aprobi-pastikan-emisi-produksi-biodiesel-berkurang