+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Emiten Sawit Tetap Memacu Produksi CPO

Harian Kontan | Selasa, 14 Mei 2019
Emiten Sawit Tetap Memacu Produksi CPO

Produsen minyak sawit mentah atau crude Palm Oil (CPO) menghadapi sejumlah tantangan berat, terutama dari luar. Para produsen CPO menghadapi kampanye negatif untuk produk sawit dari Uni Eropa yang berimbas menekan harga komoditas ini. Meski demikian, para emiten CPO tetap optimistis dan akan mengerek produksi. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menyatakan tidak terpengaruh secara langsung kebijakan Uni Eropa. “Kami tidak memiliki pengolahan biodiesel dan tidak memiliki pasar ekspor ke Uni Eropa,” ungkap Tofan Mahdi, Vice President Communications AALI kepada KONTAN, Senin (13/5). Uni Eropa mulai menerapkan kebijakan Renewable Energy Directive II, yang mengeluarkan minyak sawit dari daftar energi terbarukan. Tak pelak, kebijakan tersebut berdampak pada ekspor sawit Indonesia ke Eropa. Berdasarkan catatan KONTAN, sepanjang tahun lalu pasar Uni Eropa berkontribusi 4,5 juta ton-5 juta ton terhadap total pasar ekspor produk sawit Indonesia. Adapun jumlah ekspor AALI hanya 40,6%. Selebihnya atau 59,4% diserap pasar domestik. Sedangkan pasar emerging di luar Eropa justru berkontribusi besar, yakni 6 juta ton- 7 juta ton. AALI menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar terkait harga sawit. Yang terang, dalam situasi ini, Astra Agro terus mengupayakan efisiensi dan produktivitas. Sampai kuartal 1-2019, AALI mencatat kinerja keuangan yang kurang memuaskan. Pendapatan AALI turun menjadi Rp 4,23 triliun dari kuartal yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 4,45 triliun. Sementara laba bersih turun menjadi Rp 39,82 miliar dari sebelumnya Rp 373,41 miliar. “Ini dampak dari turunnya hargajual rata-rata CPO AALI, khususnya harga di kuartal IV 2018,” klaim Tofan.

Penerapan B20

Setali tiga uang, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencoba bertahan dari efek isu negatif produk sawit dan berusaha mempertahankan kenaikan produksi CPO. Supriyadi Jamhir, Corporate Communications Department Head DSNG masih optimistis dengan prospek CPO yang diperkirakan membaik dengan kebijakan mandatory B20 pada September 2018 dan rencana penerapan B30 tahun ini. “Tahun ini memang ada masalah kampanye negatif produk sawit tapi diharapkan tidak akan mempengaruhi permintaan sawit,” katanya. Atas dasar itu, Dharma Satya belum berencana menyasar pasar ekspor, karena selama ini masih dijual di pasar dalam negeri. Hingga kuartal I 2019, DSNG mencatat produksi CPO sebesar 129.000 ton, naik 61% ketimbang periode sama tahun lalu. Adapun nilai penjualan DSNG di kuartal 12019 mencapai Rp 1,37 triliun, naik sekitar 42% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Emiten sawit lainnya, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) pun terus memacu produksi CPO tahun ini. Targetnya, produksi TBS inti sebesar 250.000 ton, naik dari periode tahun lalu sebesar 228.549 ton. Hingga kuartal I-2019, produksi CPO GZCO baru tercapai 15% dari target atau senilai 40.049 ton. Andrew Michael Vincent, Direktur GZCO bilang, ada dua sentimen negatif bagi industri CPO, yakni pengetatan ekspor CPO ke Uni Eropa dan harga CPO yang rendah. “Tapi pemerintan saat ini sudah membantu agar dapat membangkitkan industri CPO, mulai dari negosiasi dan lobi di level global serta aturan B20 pada kendaraan,” kata dia.

Kontan | Senin, 13 Mei 2019
Uni Eropa Terapkan RED II, Astra Agro Mengaku Tak Terpengaruh

Uni Eropa pada Minggu 12 Mei 2019 mulai menerapkan kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II. Menanggapi hal ini, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bilang tidak terpengaruh secara langsung terhadap kebijakan tersebut. “Kami tidak memiliki pengolahan biodiesel dan juga tidak memiliki pasar ekspor di Uni Eropa,” kata Vice President Communications AALI Tofan Mahdi, ketika dihubungi Kontan.co.id, Senin (13/5). Asal tahu saja, kebijakan RED II mengeluarkan minyak sawit dari daftar energi terbarukan. Ini akan berdampak pada ekspor sawit Indonesia ke Eropa. Berdasarkan data yang dihimpun Kontan.co.id, jika menilik tahun 2018 pasar Uni Eropa berkontribusi 4,5 juta ton hingga 5 juta ton saja. Padahal, jumlah ekspor AALI ini hanya sebesar 40,6%, dan pasar domestik menyerap sebagaian besar hasil AALI hingga 59,4%. Pasar-pasar emerging di luar Eropa justru berkontribusi cukup besar, yakni sebesar 6 juta ton hampir 7 juta ton. Terkait harga ke depannya, perusahaan sepenuhnya menyerahkan pada permintaan dan penawaran pasar. ” Yang bisa perusahaan sawit lakukan adalah meningkatkan efisiensi dan produktivitas saja,” tambahnya. Sekadar informasi, di kuartal I tahun 2019, AALI mencatat kinerja keuangan yang kurang memuaskan. Pendapatan AALI turun menjadi Rp 4,23 triliun dari kuartal yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 4,45 triliun. Sementara laba bersihnya turun menjadi Rp 39,82 miliar dari sebelumnya 373,41 miliar. ” Ini dampak dari turunnya harga jual rata-rata CPO AALI, khususnya harga di kuartal IV 2018,” jelas Tofan lagi.
https://industri.kontan.co.id/news/uni-eropa-terapkan-red-ii-astra-agro-mengaku-tak-terpengaruh

Sawitindonesia | Senin, 13 Mei 2019
Sawit Masa Depan Energi Terbarukan

Dalam pandangan Tatang H.Soerawidjaja, Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), energi yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia yaitu listrik dan bahan bakar liquid berkualitas tinggi. Tatang Soerawidjaja menuturkan bahan bakar cair mempunyai keunggulan di antaranya mudah disimpan secara mudah dan aman untuk jangka waktu lama, mudah diangkut, memiliki kerapatan energi besar dan relatif mudah dinyalakan tetapi tidak mudah meledak. “Selain itu, minyak bumi dan BBM juga mempunyai peran penting bagi perekonomian. Dan, minyak bumi telah menjadi sumber primer pada sistem energi dunia selama hampir 100 abad (di abad 20),” ujar Tatang, saat menjadi pembicara Kuliah Umum, “Status Terkini Pengembangan Biofuel dari Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit”, pada Rabu (10 April 2019), di Bogor. Seperti diketahui, minyak kelapa sawit mempunyai potensi yang begitu besar untuk terus dikembangkan pemanfaatannya. Salah satunya dimanfaatkan untuk campuran solar (Biodiesel) atau B20 bahkan sudah menjadi mandatory oleh pemerintah sejak September 2018.

Selain dapat mengurangi angka impor minyak fosil, pemanfaatan minyak sawit (nabati) juga dapat defisit neraca perdagangan Negara. Jika melihat ke belakang, Indonesia memang pernah menjadi negara pengekspor minyak bumi sehingga masuk menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Namun, sejak 2008 Indonesia memutuskan non-aktif dari keanggotaan OPEC karena sudah tak mampu lagi mengekspor minyak mentah (fosil). Kendati sudah tidak lagi menjadi pengekspor minyak mentah (fosil), tetapi Indonesia masih memiliki minyak sawit bahkan saat ini menjadi produsen terbesar di dunia. Minyak sawit (nabati) yang mempunyai beragam potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan energi. Terkait dengan potensi kelapa sawit yang dikembangkan untuk energi baru terbarukan, Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) mengutarakan saat ini sudah berkembang Bahan Bakar Minyak (BBM) nabati cair dari minyak sawit. CPO bisa diolah menjadi green gasoline, green diesel, dan green avtur. Berbeda dengan Biodiesel (sawit) yang selama ini dikenal oleh masyarakat. “Supaya masyarakat memahami dan mempunyai persepsi yang sama tentang potensi minyak sawit sebagai bahan bakar nabati,” jelas Darmono. Selanjutnya, Tatang menambahkan Bahan Bakar Nabati atau Biofuel terbagi menjadi dua kelompok yaitu tipe oksigenat (Biodiesel atau FAME, Fatty Acids Methyl Ester), Bioetanol dan tipe drop-in (biohidrokarbon) yaitu dapat dikembangkan menjadi Bio-Hydrofined (BHD) atau Green diesel, Biogasoline atau Green gasoline (bensin nabati), dan Bioavtur atau Jet Biofuel.