+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Era Energi Sekunder

Bisnis Indonesia | Selasa, 28 Mei 2019

Era Energi Sekunder

Defisit neraca perdagangan sektor migas masih menjadi persoalan negeri ini. Defisit ini menjadi sentimen negatif bagi pertumbuhan ekonomi. Seandainya defisit perdagangan migas bisa dipangkas, pertumbuhan ekonomi tentu akan makin besar. Kebutuhan impor balian bakar minyak, minyak mentah, dan elpiji atau liquefied petroleum gas (LPG) menjadi penyebab utama neraca perdagangan migas defisit. Produksi siap jual atau lifting minyak stagnan, bahkan cenderung turun dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, konsumsi bahan bakar minyak dan elpiji terus bertumbuh setiap tahun. Defisit bahan bakar minyak dan elpiji pun terus membengkak. Lifting minyak saat ini di kisaran 800.000 barel per hari (bph), sedangkan konsumsi di dalam negeri sekitar 1,6 juta bph. Sejak lama pemerintah telah mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut, termasuk Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sekitar 4 tahun terakhir, pemerintah berupaya untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Namun, produksi BBM dan elpiji domestik yang stagnan membuat defisit neraca perdagangan migas juga sulit ditekan.

Pemerintah hanya bisa merekayasa permintaan BBM dan LPG, yaitu memberikan alternatif sumber energi lain kepada masyarakat. Misalnya, pembangunan jaringan pipa gas rumah tangga di beberapa daerah penghasil gas bumi. Selain harga gas pipa lebih murah dibandingkan dengan elpiji, pembangunan pipa gas rumah tangga itu akan mengurangi impor LPG. Pemerintah juga mendorong pengembangan kendaraan listrik. Penggunaan kendaraan listrik dipastikan akan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, seperti Premium, Solar, Pertamax, dan jenis lainnya. Pemerintah juga mendorong penggunaan peralatan berbahan bakar listrik, terutama kompor listrik. Penggunaan kompor listrik akan mengurangi impor LPG. Selain itu, program wajib bauran Solar dan 20% bahan bakar nabati (biodiesel) juga mampu mengurangi impor BBM. Minimal 20% impor BBM bisa terpangkas jika program bauran Solar dan 20% biodiesel (B20) bisa berjalan efektif. Penaikan bauran biodiesel menjadi 30% atau B30 tentu akan makin signifikan mengurangi impor minyak mentah dan bahan bakar minyak.

Pemerintah juga meminta PT Pertamina (Persero) menyerap minyak mentah yang menjadi jatah kontraktor kontrak kerja sama. Berdasarkan data SKK Migas, minyak mentah milik kontraktor kontrak kerja sama yang selama ini diekspor sekitar 200.000 barel per hari. Hingga akhir Maret 2019, Pertamina sudah membeli minyak mentah dan kondensat domestik sebanyak 127.700 bph dari 30 kontraktor kontrak kerja sama di luar produksi migas dari anak usaha Pertamina. Namun, upaya pemerintah dalam mengurangi defisit neraca perdagangan migas selama 4 tahun terakhir belum cukup optimal. Pada 2018 misalnya, defisit migas masih relatif besar. Terutama ketika harga minyak mentah melonjak, defisit perdagangan migas dipastikan kian membengkak. Jadi, pemerintah perlu berhati-hati dan lebih serius dalam menjaga neraca perdagangan migas agar defisit bisa ditekan.

Kendati belum optimal, berbagai upaya pemerintah tersebut terbukti mampu menurunkan impor migas Indonesia. Impor minyak mentah selama Januari-Februari 2019 tercatat US$767,68 juta atau turun 70% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu US$1,806,3 juta. Berbagai cara itu dipastikan mampu menekan defisit migas. Bahkan, dalam 5 tahun ke depan, defisit perdagangan migas bisa dihilangkan selama berbagai langkah yang mulai dirintis saat ini tetap konsisten dijalankan. Sudah saatnya negeri ini mengoptimalkan energi sekunder berupa listrik yang memanfaatkan energi primer yang dimiliki negeri ini seperti batu bara dan berbagai jenis energi terbarukan. Energi primer baik fosil maupun terbarukan tersebut diolah menjadi listrik untuk menggantikan BBM dan LPG.

Beritasatu | Selasa, 28 Mei 2019

Promosikan Energi Terbarukan, Melchor dan Fluid Bentuk Joint Venture

Kesepakatan kerja sama dijalin salah satu perusahaan Melchor Group Indonesia, Melchor Tiara Pratama dengan Fluid S.A. (Fluid), untuk membentuk perusahaan Joint Venture (JV) antara PT Melchor Tiara Pratama (Melchor) dan Fluid S.A. (Fluid), Minggu (26/5/2019). Melchor merupakan sebuah perusahaan Polandia yang memiliki teknologi untuk pemulihan energi dari limbah biomassa dan menjadikannya Arang Bio (Biochar). Fluid mengembangkan teknologi karbonisasi biomassa autotermal yang pertama dipatenkan di dunia dan sesudah Polandia, akan dipasarkan di Indonesia sebagai Fasilitas Pemulihan Energi/Energy Recovery Facility (ERF). JV yang akan dibentuk dengan komposisi saham 51 persen milik Melchor dan 49 persen milik Fluid ini, diharapkan memberikan manfaat bagi Indonesia, karena Fluid bersedia melaksanakan proses pemindahan kemampuan, pengetahuan dan riset teknologi. “Penandatanganan perjanjian ini menunjukkan keinginan kerja sama Indonesia untuk mempromosikan energi terbarukan dengan memaksimalkan sumber daya biomassa Indonesia yang sangat besar,” ujar CEO Melchor, Rudi Poespoprodjo dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Selasa (28/5/2019).

Hal senada juga diutarakan Komisaris Utama Melchor, Peter F Gontha. “Kolaborasi ini akan memperluas peluang kerja sama strategis antara Indonesia dan Polandia dalam industri energi terbarukan dan teknologinya serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang energi terbarukan yang ramah lingkungan,” kata Peter F Gontha. Karbonisasi biomassa autothermal adalah metode teknologi canggih yang dapat mengubah segala jenis biomassa, termasuk limbah biomassa basah, menjadi listrik, air panas dan/atau air dingin, dengan fokus hasil utamanya adalah biochar. Biochar adalah bahan yang padat karbon yang dihasilkan melalui konversi limbah organik (biomas pertanian), melalui pembakaran yang tidak sempurna atau melalui suplai oksigen terbatas (pyrolysis). Biochar yang dihasilkan dari teknologi ini berkualitas premium, yang memiliki nilai kalori dan kandungan karbon yang tinggi dan dianggap sebagai cara sesuai rekomendasi pengurangan pemanasan global sesuai perubahan Iklim yang disepakati bersama di PBB. Biochar dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar Biofuel atau bahan bakar hayati yang dihasilkan dari bahan-bahan organik dan juga dapat dipakai sebagai bahan terbaik pupuk organik untuk mengkondisikan tanah pertanian.

Sebagai perbandingan, 1 ton biochar yang dipergunakan untuk pupuk adalah sama dengan mengeliminasi 4 ton CO2. Perusahaan patungan ini merencanakan untuk membangun 5 fasilitas ERF, di Sumatera dan Kalimantan. Setiap ERF yang akan di bangun dapat menghasilkan lebih dari 30.000 ton biochar per tahun. Hal ini akan menjadikan Indonesia sebagai pemilik ERF terbesar di dunia, serta menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia dalam produksi biochar dan penyerapan CO2. Kelima fasilitas tersebut paling tidak akan memerlukan investasi sebesar USD 150,000,000 (seratus lima puluh juta US dolar). Biochar yang dihasilkan dari ERF akan diekspor ke Eropa, Kanada dan Amerika Serikat. Bahkan, beberapa pembeli telah menyatakan minat mereka untuk membeli semua produksi kami melalui kontrak pembelian berjangka. Potensi limbah biomassa yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah dan dapat digunakan untuk pemakaian ERF. Peremajaan perkebunan karet dan perkebunan kelapa sawit (replantation) juga menjadi salah satu sumber besar limbah biomassa yang selama ini belum dikelola secara tepat. Bertentangan dengan isu deforestasi perkebunan, teknologi baru yang ditawarkan mempromosikan peremajaan perkebunan dan berkelanjutan sehingga menambah nilai perkebunan secara ekonomi sehingga tidak perlu dilakukannya lagi pembukaan lahan baru dan menghindari deforestasi.

Sementara itu Vice President Fluid, Lukasz Pietrkiewicz juga menyatakan optimismenya dalam mendukung Indonesia memanfaatkan teknologi mereka untuk pembangunan fasilitas pemulihan energi. Jan Gladki, pendiri perusahaan dan orang yang memiliki paten teknologi ini, telah mempelajari lingkungan di Indonesia untuk mempelajari aplikasi teknologi tersebut. Fluid mengembangkan teknologi terutama untuk pasar dan lingkungan Indonesia. Fluid merencanakan membuka Pusat Penelitian dan Pengembangan yang didedikasikan untuk proses biomassa, energi, dan agrikultur khusus di Indonesia. Salah satu tujuannya adalah untuk berpartisipasi dalam pendidikan para ahli linkungan dan proses penanganan limbah dan ERF di Indonesia. Tujuan berikutnya adalah pengembangan sel bahan bakar biochar yang dapat menyediakan energi listrik murah ke semua pelosok Indonesia, dan terutama mereka yang tidak mempunyai akses ke jaringan PLN.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/556736/promosikan-energi-terbarukan-melchor-dan-fluid-bentuk-joint-venture

Gatra | Selasa, 28 Mei 2019

Indonesia-Malaysia Kompak Gugatan Pelarangan Minyak Sawit Uni Eropa

Indonesia siap melayangkan gugatan atas kebijakan pelarangan ekspor minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel yang akan diberlakukan Uni Eropa ke WTO. Kebijakan pelarangan itu akan berlaku pada Juni mendatang. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta. “Kita tunggu mereka berlakukan baru bisa kita masukkan. Kalau mereka tidak berlakukan, kita tidak akan masukkan,” ujar Enggar, Senin (27/5). Enggar mengatakan Menko Perekonomian Darmin Nasution sudah berkoordinasi Malaysia untuk mengadapi Uni Eropa di persidangan WTO. Indonesia dan Malaysia mengeluarkan pernyataan keras menentang kebijakan Uni Eropa tersebut. Kedua negara juga membawa permasalahan ini ke forum ASEAN dan APEC. “Statement (pernyataan) sendiri-sendiri kita buat seperti orkestra,” tegas dia.

https://www.gatra.com/detail/news/418806/economy/indonesiamalaysia-kompak-gugatan-pelarangan-minyak-sawit-uni-eropa

Infosawit | Selasa, 28 Mei 2019

Biodiesel Sawit 100% (B100) Sudah Layak Digunakan

Penggunaan energi alternatif berbahan baku minyak sawit atau akrab dikenal dengan Biodiesel, semakin berpotensi untuk terus dikembangkan penyerapannya menjadi biodiesel 100% (B100). Dikatakan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, pengembangan energi alternatif dari kelapa sawit yang dikenal dengan biodiesel sudah bisa dilakukan secara penuh, artinya tanpa harus dilakukan pencampuran dengan minyak solar berbasis fosil. “Kita sudah gunakan B100 dan hasilnya bagus, dan sudah digunakan untuk kendaraan hingga 3000 Km tanpa ada kendala (mogok),” katanya saat acara Buka Bersama dengan segenap staf Kementerian Pertanian bertema Pererat Ukhuwah Islamiah di Era Industri 4.0 yang dihadiri InfoSAWIT, Senin (27/5/2019) di Jakarta. Menariknya lebih lanjut kata Amran, penggunaan biodiesel ini bisa menghemat pengeluaran negara hingga 13% sehingga bisa mendukung perekonomian negera. Disamping bahan bakunya tersedia, apalagi Indonesia adalah produsen kelapa sawit. Senada dikatakan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, penggunaan biodiesel sawit terus di dorong yang saat ini akan diterapkan B30, dengan cara ini maka akan ada tambahan serapan CPO sebanyak 3 sampai 4 juta ton. “Sementara penggunaan B20 serapannya sekitar 6,2 juta Kilo Liter,” tandas Kasdi.

https://www.infosawit.com/news/9041/biodiesel-sawit-100—b100–sudah-layak-digunakan

Bisnis | Senin, 27 Mei 2019

Produsen Komersial Dukung B30 & Green Fuel

Produsen kendaraan komersial mengaku siap meneguk bauran minyak nabati dan solar 30% (B30) yang rencananya berlaku pada 2020 mendatang. Saat ini, uji coba penggunaan B30 sedang dilakukan dan baru diketahui hasilnya pada akhir tahun ini. Director Sales and Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Duljatmono mengatakan, saat ini pemerintah bersama beberapa produsen kendaraan diesel termasuk Fuso tengah melakukan uji coba B30. Kendaraan yang digunakan ialah kendaraan yang dipasarkan saat ini alias masih standar Euro 2. “Sekarang B20 masih sesuai dengan Euro 2, sedang uji coba B30, sedang dipersiapkan baru ngetes. [hasilnya] Mungkin semester kedua atau kuartal IV/2019. Pakai mobil yang ada cuma bahan bakarnya B30,” ujarnya, baru-baru ini. Duljatmono menjelaskan, Fuso belum bisa memprediksi modifikasi yang harus dilakukan untuk kendaraan supaya bisa menggunakan B30. Pasalnya, uji sedang dilakukan dan modifikasi kendaraan nantinya sangat tergantung pada hasil uji coba.

Dia menuturkan, dari pengamalam B20, Fuso kemudian menambah filter bahan bakar supaya kendaraan bisa menggunakan B20 dengan baik. Saat ini, kendaraan Fuso menggunakan dua filter bahan bakar sehingga proses pembakaran lebih baik. “Dengan B20 tidak ada masalah, B30 belum tahu apa yang perlu kami sesuaikan. Detilnya saya harus nanya ke ahlinnya,” paparnya. Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) Santiko Wardoyo mengatakan, untuk penggunaan B20 pada kendaraan Hino sejauh ini tidak ada masalah berarti. B20 memang menyebabkan penggantian filter solar yang lebih cepat dan konsumsi bahan bakar yang sedikit lebih boros. “Filter solar yang biasanya 20.000 km sekarang 10.000 km, artinya filter lebih pendek life time-nya, pencampuran FAME ini mungkin perlu perhatian khusus supaya lebih baik,” ujarnya. Santiko menegaskan, Hino pada prinsipnya sangat mendukung program pemerintah untuk menggurangi impor bahan bakar dan menggunakan bauran minyak sawit di mana Indonesia merupakan produsen terbesar. Harapannya ke depan, pencampuran B30 menjadi lebih baik. Dia menuturkan, baru-baru ini, Hino telah bertemu dengan Kemenperin dan arah pemerintah ialah mengembangkan green fuel yang juga merupakan produk turunan dari minyak sawit. Hino Motors siap untuk berpartisipasi untuk mendukung program pemerintah.

“Menurut informasinya, mixing B30 akan lebih baik. Yang pasti B20 atau B30 kan memanfaatkan produk kita, sehingga positif kita bisa kurangi impor BBM,” tambahnya. Adapun, green fuel merupakan bahan bakar yang diproduksi dari kilang bahan bakar ramah lingkungan sehingga diharapkan kualitas campuran akan lebih baik. Hal itu berbeda dengan B20 yang selama ini dicampur di tangki BBM. Sebelumnya, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menjelaskan, secara global terjadi kompetisi antara mobil listrik dan green fuel. Menurutnya, pengembangan green fuel di Indonesia tidak membutuhkan biaya yang besar dibandingkan dengan kendaraan listrik. “Greenfuel engine atau flexi engine yang biayanya lebih murah, dan infrastruktur yang sekarang seperti pompa bensin itu bisa digunakan. Selain itu, kendaraan yang sekarang juga bisa digunakan,” paparnya.

https://otomotif.bisnis.com/read/20190527/275/927900/produsen-komersial-dukung-b30-green-fuel