+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Erick Siapkan Jurus Redam Gejolak Harga Minyak Dunia

Rakyat Merdeka | Senin, 6 Januari 2020

Erick Siapkan Jurus Redam Gejolak Harga Minyak Dunia

Menteri BUMN Erick Thohir memastikan pemerintah sudah mempersiapkan langkah mengatasi potensi gejolak harga minyak dunia seiring memanasnya konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS). “Kita memang harus selalu bisa mengantisipasi (dampak) karena perekonomian global merupakan sesuatu yang fluktuatif dan tidak bisa diprediksi,” ungkap Erick di Tangerang, kemarin. Erick menuturkan, ketegangan antara AS dengan Iran pasti akan berdampak kepada Indonesia, terutama di harga minyak. Dipaparkannya, penerapan biodiesel (B30) yang telah disiapkan beberapa bulan lalu, sebenarnya persiapan dilakukan pemerintah merespons perekonomian dunia yang sulit diprediksi. “Dengan adanya B30, ketergantungan terhadap impor minyak bisa Iebih ditekan,” katanya. Selain itu, Erick mengatakan, pemerintah jiiga sudah mulai melakukan tender pengadaan minyak. Tender dilakukan langsung dengan perusahaan minyak. Dengan demikian diharapkan, harga yang dida- patkan pemerintah wajar dan lebih terjangkau. “Untuk menekan impor migas ini bukan suatu hal yang bersifat jangka pendek, tetapi jangka menengah dan panjangnya harus dilakukan secara bertahap,” jelas Erick.

Seperti diketahui, ketegangan politik antara AS dengan Iran mengerek harga minyak dunia. Harga patokan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari melonjak 1,87 dolar AS menjadi menetap pada 63,05 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah diperdagangkan setinggi 64,09 dolar. Sementara itu patokan harga minyak lainya, minyak mentah brent untuk pengiriman Maret melonjak 2,35 dolar menjadi ditutup pada 68,60 dolar per barel di London ICE Futures Exchange. Sementara, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Irak agar lebih waspada atas eskalasi situasi yang sedang terjadi. “Kami meminta semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk situasi,” sebut Kemenlu seperti dikutip dari situs resmi. Sebelumnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran, Iran, juga sudah mengimbau WNI yang berada di Iran agar menghindari tempat keramaian, kerumunan massa atau rawan serta berpotensi timbulnya konflik maupun tempat yang diduga menjadi target serangan.

Investor Daily Indonesia | Senin, 6 Januari 2020
PTPN II Mulai Suplai Listrik Berbahan Bakar Sawit ke PLN

PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) mulai tahun ini memasok energi listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) milik PTPN II ke sistem jaringan PT PLN Wilayah Sumatra Utara. Pasokan energi terbarukan itu merupakan pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME) yang bersumber dari limbah cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menjadi energi listrik. Sekretaris Perusahaan Holding Perkebunan Nusantara Holding PTPN III (Persero) Irwan Per-angin-angin mengatakan, pasokan listrik ini berasal dari PLTBg Kwala Sawit dan PLTBg Pagar Merbau milik PTPN II. Hal ini merupakan sebagai bentuk sinergitas antara BUMN dan kerja sama ini bisa menguntungkan dan bermanfaat kedua belah pihak. “Penjualan listrik ke PLN melalui skema Independent Power Produce (IPP) yang bersumber dari energi baru terbarukan (renewable energy),” jelas dia seperti dilansir Antara.

Dalam pengoperasian kedua pembangkit PLTBg tersebut, telah dilakukan kerja sama operasional dan maintenance (OM) dengan anak usaha PT Pertamina (Persero) yakni PT Pertamina Power Indonesia (PPI). Manager PLT Bio Gas PTPN II Dedy Gurning dalam keterangannya menambahkan, pengembangan energi alternatif Bio Gas yang dilakukan PTPN II merupakan salah satu program mendorong ketahanan energi dalam peningkatan pasokan listrik. Menurut dia, pengembangan energi alternatif di luar panas bumi yaitu energi terbarukan berbasis POME yang berasal dari limbah cair PKS. “Potensi energi listrik yang dihasilkan dari POME untuk pabrik dengan kapasitas olah tiga puluh ton TBS/jam setara dengan satu Mega Watt listrik yang dapat dibangkitkan perjam,” kata Dedy. Dari proses pengolahan di PKS, dihasilkan limbah cair di mana senyawa limbah cair kelapa sawit (POME) mengandung unsur gas metana (CH4). Selain pemanfaatan energi listrik dari POME tersebut, pembangunan PLTBG dinilai dapat menepis isu negatif terhadap lingkungan akibat proses pengolahan limbah pabrik sawit yang membuang CH4 ke udara terbuka. Gas Methana yang terbuang ke udara tersebut, lanjutnya, seharusnya dapat ditangkap dan dijadikan bahan bakar utama mesin pembangkit listrik (genset). Selain itu, dapat juga digunakan sebagai bahan pembakaran gas pada steam boiler di PKS.

Sementara itu, Kordinator Humas PTPN II Sutan Panjaitan menambahkan, saat ini PTPN II memiliki 2 unit PLTBG berdasarkan surat penunjukan bahwa PTPN II sebagai tempat rencana lokasi proyek PLTBg oleh Ditjen EBTKE. Kedua PLTBg, yakni di Kwala Sawit dan Pagar Merbau juga telah dilakukan uji layak operasi (Realibility Run Test) dan telah diterbitkan sertifikat laik operasi (SLO) yang terakreditasi pada Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM. PLN juga telah menerbitkan Berita Acara Commercial off Date (COD) PLTBg Kwala Sawit dan PLTBg Pagar Merbau pada 27 Desember 2019, artinya kedua PLTBg itu dapat beroperasi penuh untuk mensuplai energi listrik dan dapat melakukan transaksi penjualan listrik ke PLN.

Rakyat Merdeka | Minggu, 5 Januari 2020
PTPN II Suplai Setrum Ke Jaringan PLN Sumut

Inovasi baru saja terwujud dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN II). Mulai tahun ini, anak usaha PTPN III ini memasok listrik ke sistem jaringan PLN wilayah Sumatera Utara (Sumut). Sekretaris Perusahaan PTPN IH Irwan Peranginangin menjelaskan, listrik yang dipasok ke PLN merupakan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Kwala Sawit dan PLTBg Pagar Merbau milik PTPN II. Yakni, listrik yang didapat dari energi baru terbarukan. Kata Irwan, penjualan, listrik ke PLN menggunakan skema Independent Power Produce (IPP) yang bersumber dari energi baru terbarukan. Tepatnya, melalui pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME) yang bersumber dari limbah cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Untuk mengoperasikan kedua PLTBg tersebut, PTPN II tidak sendirian. Irwan menyebut pihaknya juga bekerja sama terkait operasional dan maintenance dengan anak usah Pertamina, yakni Pertamina Power Indonesia (PPI). “Hal ini merupakan sebagai bentuk sinergitas antara BUMN. Dan kerja sama ini bisa menguntungkan dan bermanfaat bagi kedua belah pihak,” tutur Irwan. Manager PLT Bio Gas PTPN II Dedy Gurning mengatakan, pihaknya berhasil mengembangkan energi baru terbarukan ini. Diajuga yakin , produk ini bisa mendorong ketahanan energi dalam peningkatan pasokan listrik di Tanah Air. Dedy menjelaskan, energi terbarukan berbasis POME ini berasal dari limbah cari PKS. Potensi listrik yang hasilkan POME bisa menghidupi pabrik dengan kapasitas olah 30 ton TBS/ Jam. Atau setara dengan 1 megawatt (MW) listrik per jam.

Dia yakin betul pasokan listrik ice PLN berjalan lancar. Mengingat salah satu bisnis utama PTPN II adalah perkebunan sawit dan pengolahannya. Di mana kelapa sawit dapat diolah di PKS untuk menghasilkan crude palam oil (CPO) dan kernel. “Dari proses pengolahan di PKS, dihasilkan limbah cair dengan senyawa limbah cair kelapa sawit (POME) mengandung unsur gas metana (CH4). Di samping pemanfaatan energi listrik dari POME tersebut, pembangunan PLTBg dapat menepis isu negatif terhadap lingkungan akibat proses pengolahan limbah pabrik sawit yang membuang CH4 ke udara terbuka,” terang Dedy. Koordinator Humas PTPN II Sutan Panjaitan menambahkan, pihaknya memiliki 2 unit PLTBg berdasarkan surat penunjukan PTPN II sebagai tempat rencana lokasi proyek PLTBg oleh Ditjen EBTKE. Surat itu dengan nomor 49/04/DEB .01/2014 tanggal 10 Februari 2014 di PKS Pagar Merbau dan nomor 50/04/DEB .01/2014 tanggal 12 Mei 2014 di PKS Kwala Sawit. Kedua PLTBg tersebut juga telah dilakukan uji layak operasi (Realibility Run Test) dan telah diterbitkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) yang terakreditasi pada Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM.

Kontan | Minggu, 5 Januari 2020
Usai B30, pemerintah tancap gas uji coba B40 dan B50 di kuartal I 2020

Program mandatori campuran biodiesel 30% dan 70% Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar alias B30 sudah diimplementasikan di seluruh Indonesia pada 1 Januari 2020. Pemerintah, ingin langsung tancap gas untuk meningkatkan baurannya menjadi B40 dan B50. Presiden Joko Widodo (Jokowi), dalam peresmian program B30 pada 23 Desember 2019 lalu, memerintahkan untuk mulai menguji penerapan B40 pada tahun ini, dan berlanjut ke B50 pada tahun 2021. Menindak lanjuti perintah RI 1 itu, Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan bahwa uji B40 dan B50 akan segera dilakukan oleh Badan Litbang ESDM (Balitbang) pada awal tahun ini. Menurut Feby, ada sejumlah alternatif untuk penerapan program biodiesel di atas B30. Feby menjelaskan, jika B40 dan B50 tetap berbasis Fatty Acid Methil Ester (FAME), maka perlu diteliti lagi penyempurnaan apa saja yang perlu dilakukan terhadap FAME maupun mesin-mesin yang akan menggunakan FAME dengan kadar di atas 30%.

Sebagai alternatif, kata Feby, B40 bisa menggunakan FAME dengan kadar 30% dan campuran 10% dari green diesel atau Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Sementara untuk B50, kadar campuran HVO bisa sebanyak 20%. “Kepastian (uji B40 dan B50) di Balitbang,” kata Feby saat dihubungi Kontan.co.id akhir pekan ini. Sementara itu, Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, pihaknya akan segera melakukan uji coba B40 dan B50 pada Kuartal pertama tahun ini. Dadan menjelaskan, uji coba ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Pertama, kata Dadan, uji pencampuran untuk mendapatkan komposisi kadar campuran B40 dan B50 yang tepat. “Dalam tahapan ini akan diuji beberapa komposisi biodiesel dengan spesifikasi yang beragam sehingga didapat campuran yang optimal dari sisi keteknikan dan juga biaya produksi,” terang Dadan, kepada Kontan.co.id, Minggu (5/1).
https://industri.kontan.co.id/news/usai-b30-pemerintah-tancap-gas-uji-coba-b40-dan-b50-di-kuartal-i-2020

Info Sawit | Minggu, 5 Januari 2020
Biodiesel Sawit 30% (B30) Dijamin Aman

Dikatakan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi. (P3Tek KEBTKE), Sujatmiko, sejauh ini, pengujian secara keseluruhan menunjukkan hasil yang konsisten. Kinerja kendaraan, mutu bahan bakar, pelumas, dan konsumsi bahan bakar yang menggunakan B30 nilainya konsisten dan tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan kendaraan yang menggunakan B20. “Malah ada parameter emisi dan opasitas kendaraan berbahan bakar B30 memberikan hasil yang lebih baik,”kata Sujatmiko yang juga sebagai Koordinator Uji B30. Lebih lanjut kata Sujatmiko, uji coba ini dilakukan sekaligus guna memberikan rekomendasi teknis terkait kandungan monogliseridanya, filter blocking dan kondisi bahan bakar pada saat cuaca dingin. “Sehingga laporan hasil uji coba tersebut menjadi lengkap,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Bandung. Cara demikian juga guna menghindari terjadinya kondisi gagal pakai pada konsumen, yang berdampak pada membengkaknya ongkos pemeliharaan kendaraan yang menggunakan B30, termasuk kualitas yang kurang baik. “Dalam roadtest ini melibatkan 2 hal penting, yakni pertama aspek kendaraan dan kedua aspek bahan bakarnnya,” kata sujatmiko menjelaskan.
https://www.infosawit.com/news/9583/biodiesel-sawit-30—b30–dijamin-aman

Rakyat Merdeka | Minggu, 5 Januari 2020
Pertamina Pasok B30 Ke Empat Wilayah Jabar

Pertamina mengawali tahun ini dengan aksi positif. Realisasikan Program B30 Presiden, BUMN Migas ini menyalurkan Biosolar B30 ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di empat wilayah Jawa Barat (Jabar). Unit Manager Communication Relations CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III Dewi Sri Utami mengatakan, Integrated Terminal Balongan baru saja melakukan penyaluran perdana Biosolar B30. Distribusi perdana dikirimkan melalui mobil tangki berkapasitas 8 kiloliter (KL) ke SPBU 3445151 di Jalan Gunung Jati, Cirebon, Jabar, Rabu (1/1). Untuk diketahui, saat ini Biosolar Pertamina sudah dicampur bahan bakar nabati Fatty Acid Methyl Ester (Fame). Hal ini sesuai dengan arahan pemerintah terkait target bauran energi (Energy Mix). Program B30 sendiri sudah diresmikan Presiden Joko Widodo di SPBU COCO 3112802 di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, akhir tahun lalu. Pada peresmian tersebut, pemerintan menetapkan komposisi Fame dari B20 menjadi B30. Artinya, kandungan 20 persen Fame pada bahan bakar berbasis solar naik menjadi 30 persen.

Sesuai Keputusan Menteri ESDM No 227 Tahun 2019, kebijakan B30 pada sektor transportasi berlaku pada produk solar subsidi. Seperti Biosolar, serta nonsubsidi Dexlite. Diterangkan Dewi, Integrated Terminal Balongan mendapat pasokan Solar dari Kilang Balongan (Refinery Unit VI). Kemudian pencampuran Fame dengan Solar dilakukan di New Gantry System (NGS) dengan metode Inline Blending. Setelah itu. Integrated Terminal Balongan mendistribusikan Biosolar yang telah memiliki kandungan B30 ini ke SPBU-SPBU di wilayah Cirebon, Indramayu, Maja- lengka dan Kuningan. Dengan begitu, pendistribusiannya diharapkan merata. “Pasokan Fame dari kelapa sawit kami peroleh dari Darmex Biofuels, yang merupakan badan usaha dalam negeri. Pemanfaatan Fame ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah dalam mengurangi impor minyak,” cetus Dewi. Dia memastikan kandungan Fame tidak memiliki dampak negatif bagi mesin kendaraan. Perubahan konfigurasi bahan bakar telah disosialisasikan pemerintah dan badan usaha terkait ke produsen kendaraan, Agen Tunggal Pemegang Merk, serta berbagai asosiasi kendaraan.

“Pengguna kendaraan berbahan diesel dapat menggunakan bahan bakar B30 dengan nyaman. Dengan komponen B30, tarikan mesin tetap terjaga, BBM juga baik kualitasnya dan ramah lingkungan, serta turut berkontribusi dalam menjaga devisa negara,” jelas Dewi. Selain memasok B30, Pertamina juga telah menyediakan pelumas berteknologi tinggi, Meditran SX BIO SAE 15W-40 yang dapat meningkatkan performa mesin diesel berbahan bakar B30. Meditran SX sebagai pelumas khusus kendaraan bermesin diesel dapat mendukung penggunaan komponen nabati B30 hingga B50. Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kus-diana mengatakan, uji coba truk menggunakan B30 sudah dilakukan. Bahkan jarak tempuhnya hingga 40 ribu kilometer (km). Hasil ini membuat regulator yakin, penggunaan B30 bisa diimplementasikan dengan baik.”Hasilnya secara umum dari sisi konsumsi, kinerja dan emisi semua berada dalam kondisi normal. Memang ada plus minus. Ada yang boros 1 persen, ada yang irit 1 persen. Tapi hasil ini merekomendasikan B30 siap untuk dilaksanakan,” pungkas Dadan.

Investor Daily Indoensia | Sabtu, 4 Januari 2020
Kilang Balongan Pasok Perdana B30 ke Cirebon

PT Pertamina (Persero) Integrated Terminal Balongan melakukan penyaluran perdana Biosolar B30. Distribusi perdana dikirimkan oleh mobil tangki berkapasitas 8 kiloliter (KL) ke SPBU 3445151 di Jalan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. Biosolar merupakan bahan bakar solar/diesel yang telah mendapat campuran bahan bakar nabati FAME (Fatty Acid Methyl Ester), hal ini sesuai dengan arahan pemerintah terkait Target Bauran Energi (Energy Mix). Sebelumnnya program Biosolar 30 persen (B30) sudah diresmikan penerapannya oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO 3112802 di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, pada Senin, 23 Desember 2019 lalu. Pada peresmian tersebut, Pemerintah menetapkan komposisi FAME dari B20 menjadi B30, dimana berarti kandungan 20% FAME pada bahan bakar berbasis solar naik menjadi 30%.

Sesuai Keputusan Menteri ESDM No 227 Tahun 2019, kebijakan B30 pada sektor transportasi berlaku pada produk solar subsidi yakni Biosolar, serta non subsidi Dexlite. Unit Manager Communication Relations CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III Dewi Sri Utami menerangkan, Integrated Terminal Balongan memperoleh pasokan Solar dari Kilang Pertamina Balongan (Refinery Unit VI). Dimana kemudian pencampuran FAME dengan Solar dilakukan di New Gantry System (NGS) dengan metode Inline Blending. Integrated Terminal Balongan kemudian mendistribusikan Biosolar yang telah memiliki kandungan B30% ini ke SPBU-SPBU di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan. “Pasokan FAME dari kelapa sawit kami peroleh dari Darmex Biofuels, yang merupakan badan usaha dalam negeri. Pemanfaatan FAME ini dilakukan untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi impor minyak,” tambah Dewi.

Lebih jauh, dia mengungkapkan, kandungan FAME tidak memiliki dampak negatif bagi mesin kendaraan konsumen. Perubahan konfigurasi bahan bakar telah disosialisasikan oleh Pemerintah dan badan usaha terkait ke produsen kendaraan, Agen Tunggal Pemegang Merk, serta berbagai asosiasi kendaraan. “Pengguna kendaraan berbahan diesel dapat menggunakan bahan bakar B30 dengan nyaman. Dengan komponen B30, tarikan mesin tetap terjaga, BBM juga baik kualitasnya dan ramah lingkungan, serta turut berkontribusi dalam menjaga devisa negara,” ujarnya. Selain memasok B30, Pertamina juga telah menyediakan pelumas berteknologi tinggi, Meditran SX BIO SAE 15W-40 yang dapat meningkatkan performa mesin diesel berbahan bakar B30. Meditran SX sebagai pelumas khusus kendaraan bermesin diesel dapat mendukung penggunaan komponen nabati B30 hingga B50.

Bisnis | Sabtu, 4 Januari 2020
Pengusaha Masih Ragukan Biosolar B30, Karena Biaya Perawatan Mesin Mobil Melonjak

Program bahan bakar campuran biodiesel 30% masih belum sesuai keinginan pasar meskipun diyakini bisa mengurangi impor, karena pengusaha masih mempermasalahkan pembengkakan biaya perawatan mobil jika menggunakan BBM itu. Dewan Pembina Hisnawa Migas Balikpapan Afiudin Zaenal mengatakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan uji penggunaan B30 terhadap beberapa kendaran sejauh 50.000 kilometer di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tapi, minus BBM ini mungkin bakal dirasa nantinya. “Bagi negara tentu bisa menghemat devisa negara. Kemungkinan ditaksir menghemat Rp 63 triliun. Tapi, bagi pelaku usaha kan bagaimana, bisa jadi memberatkan. Karena sifat CPO ini pembekuannya sangat cepat. Perawatan bakal lebih cepat. Mau pindah BBM misal ke non subisdi, jauh sekali selisihnya,” tuturnya. Adapun pergantian filter bahan bakar bagi kendaraan baru, perlu diganti pada rentang penggunaan 7.500 – 15.000 kilometer. “Artinya, pergantian filter sedikit lebih awal setelah itu normal. Biasanya filter diganti per 20.000 km,” bebernya.

Penggantian filter solar yang lebih cepat. Perlu diketahui, filter solar ada dua, masing-masing berharga Rp 300 ribuan. Injektor juga bisa bermasalah, ini harganya mencapai Rp 16 juta jika diganti. Makanya, kami perlu jaminan garansi kalau injektor aman sampai beberapa tahun. Bahan bakar tersebut masih mendapat keraguan terutama di kalangan pengusaha. Masalah atas sifat umum biodiesel yang menjadi gel belum dipecahkan. “Sekarang saja yang B20 masih suka bermasalah yaitu pada sifat bahan bakar yang menjadi gel (menggumpal). Sehingga, pada wilayah yang dingin, pengendara harus memanaskan dahulu supaya kembali mencair,” kata dia. pergantian filter solar yang lebih cepat. Perlu diketahui, filter solar ada dua, masing-masing berharga Rp 300 ribuan. Injektor juga bisa bermasalah, ini harganya mencapai Rp 16 juta jika diganti. Makanya, kami perlu jaminan garansi kalau injektor aman sampai beberapa tahun,” lanjut Sani, sapaan akrabnya. Ia mengatakan, saat ini tergantung pada produsen mobil. Kalau diluar negeri, malah sudah ke listrik. Kenapa Indonesia justru ke B30. Bagi otomotif, jelas masih sangat meragukan. Adanya kita mengalami kemunduran, bukan kemajuan. “Tahapan kita ini seharusnya sudah meliat Euro 4,” terangnya. Manager Region Manager Communication & CSR Kalimantan Pertamina, Heppy Wulansari mengatakan, pihaknya tahun depan bakal memperkenalkan B30 di Bumi Etam. “Kami sedang mempersiapkan,” ujarnya.
https://kalimantan.bisnis.com/read/20200104/408/1186947/pengusaha-masih-ragukan-biosolar-b30-karena-biaya-perawatan-mesin-mobil-melonjak

The Jakarta Post | Sabtu, 4 Januari 2020
2019, Transition Year For Bioenergy

Out of five renewable energy sources being developed in Indonesia, bioenergy saw the most progress this year as Indonesia escalated a policy mandating the use of biofuel-blended diesel. Otherwise, renewable energy development and investments are poised to fall behind annual targets. August marked Indonesia\’s 11th month of mandating the use of 20 percent blended biodiesel (B20). However, less than a year under in, President Joko “Jokowi” Widodo announced the government would begin mandating use of B30 starting in January next year. “We need to respond to any pressure on crude Palm Oil [substance used in producing biofuel] by driving up domestic demand and so that we can have a good bargaining position, whether with the European Union or other parties that try to weaken our position,” Jokowi said. In preparing businesses for the implementation of the B30 policy, the Energy and Mineral Resources Ministry kicked off in June a five-month experiment to test the biodiesel\’s compatibility with market-available vehicles. In September, the ministry increased this year\’s allocation for subsidized fatty acid methyl esters (FAME), a key biofuel ingredient, by 208,238 kiloliters.

Fuel consumption using biodiesel depends on the vehicle, but B30 is around 0.87 percent higher than B20, said the minis- try\’s research and development head, Dadan Kusdiana, in September, when the experiment neared completion. “This does not mean it\’s more wasteful because the power is also higher and the performance is better,” Dadan added. “In terms of emissions, everything improved, except for nitrogen dioxide, depending on the vehicle type.” In renewable power generation, Institute for Essential Services Reform (IESR) researcher Marlistya Citraningrum summarized this year as a period when solar energy saw the most progress even though the renewable energy sector declined overall.

“Several big solar power plants began operations this year, such that solar energy growth was higher than last year, even though renewable energy cumulatively declined,” she told The Jakarta Post. The IESR\’s latest renewable energy report shows that, even though Indonesia\’s solar energy production capacity tripled year-to-date (ytd) to 152 megawatts (MW) in November, the overall share of renewables declined by 0.19 percentage points ytd to 12.2 percent in the same month. The report also noted that Indonesia\’s total capacity hit 10,169 MW as of November. At that figure, the country is poised to miss the year-end target of 13,900 MW, as stipulated in the General Plan for National Energy (RUEN). Limited renewable energy growth aligned with an investment shortfall that, as of October, reached only 65 percent of this year\’s targeted US$1.8 bil- lion, one-third of which went to geothermal projects. This year\’s investment target is $21 million lower than last year\’s.

“In general, investment in [renewable energy and energy conservation] has been stagnant in the past five years, showing low investment attractiveness in Indonesia. Over the years, the government has also seemed pessimistic about the investment in the sector as it lowered the target,” writes the IESR. Nevertheless, some modest progress was achieved as, out of 70 ministry-sponsored renewable projects announced in 2017, only 32 remained without financial closing as of early November. The 32 projects include four that were cancelled, nine awaiting financial disbursement and 19 in the process of receiving funds. According to energy ministry renewable energy director Harris, “most of the canceled projects are in Sumatra”. Among the largest projects that commenced operations this year are Supreme Energy\’s 85 MW Muara Laboh geothermal plant in West Sumatra and Indonesia Power\’s 45 MW Rajamandala hy-dropower plant in West Java.

Singapore-based renewables company Vena Energy also began operating it\’s 15 MW Likupang plant in North Sulawesi in September. The plant is currently the largest of its kind in Indonesia. Entrepreneur Gusmantara Himawan, founder of Jakarta-based solar panel start-up Xurya, said industrial-scale solar energy growth was facilitated this year by the issuance of two ministerial regulations that amended disin-centivizing clauses within regulation No. 49/2018. The ministry introduced in September regulations No. 12/2019 and No. 16/2019. The former cuts back bureaucratic red tape while the latter slashes operational costs for on-grid solar power installations. However, the regulations mainly benefit industrial scale solar power projects. In comparison, household solar energy hit 16.66 MW as of November, far from the year-end target of 1,000 MW as stipulated in the joint public-private One Million Rooftop Solar Panels Initiative. “Indonesia\’s solar energy utilization is very low. Only 78.5MW out of ajtotal potential of 207,898 MW [0*37 percent]. The world average is 2.6 percent. Germany has the biggest at 14 percent,” said Eka. The Indonesian Renewable Energy Society (METI) estimates that renewable energy will contribute around 9 percent to the energy mix this year. Most industry stakeholders are skeptical about Indonesia having an energy mix comprising 23 percent renewable energy by 2025, as stipulated by the RUEN. “Right now, our renewable energy mix is still far from expectations. Ifs 2019 now and adding between 17 and 18 percent to the mix over the next five to six years is a large task. Even adding 1 to 2 percent each year is not guaranteed,” said METI chairman Surya Dharma.

Medcom | Jum’at, 3 Januari 2020
Terminal Balongan Mulai Pasok Biodiesel B30

Peresmian penggunaan bahan bakar minyak yang lebih ramah lingkungan biodiesel B30 (kandungan minyak nabati sebesar 30 persen) sudah dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada akhir 2019 lalu.Komitmen besar untuk memasok BBM jenis tersebut di awal tahun ini pun langsung direalisasikan PT Pertamina (Persero) Integrated Terminal Balongan melakukan penyaluran perdana Biosolar B30. Distribusi perdana dikirimkan oleh mobil tangki berkapasitas 8 kiloliter (KL) ke SPBU 3445151 di Jalan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, pada Rabu (1/1/2020). BBM jenis ini merupakan solar yang telah mendapat campuran bahan bakar nabati FAME (Fatty Acid Methyl Ester), hal ini sesuai dengan arahan pemerintah terkait Target Bauran Energi (Energy Mix). Saat Jokowi meresmikan penggunaannya pada Senin (23/12/2019) lalu, Pemerintah menetapkan komposisi FAME dari B20 menjadi B30. Sesuai Keputusan Menteri ESDM No 227 Tahun 2019, kebijakan B30 pada sektor transportasi berlaku pada produk solar subsidi yakni Biosolar, serta non subsidi Dexlite.

Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III Dewi Sri Utami menerangkan, Integrated Terminal Balongan memperoleh pasokan Solar dari Kilang Pertamina Balongan (Refinery Unit VI). Pencampuran FAME dengan Solar dilakukan di New Gantry System (NGS) dengan metode Inline Blending. Integrated Terminal Balongan kemudian mendistribusikan Biosolar yang telah memiliki kandungan B30 ini ke SPBU-SPBU di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan. “Pasokan FAME dari kelapa sawit kami peroleh dari Darmex Biofuels, yang merupakan badan usaha dalam negeri. Pemanfaatan FAME ini dilakukan untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi impor minyak,” tambah Dewi. FAME Tak Berefek Buruk Terhadap Mesin Lebih jauh, dia mengungkapkan, kandungan FAME tidak memiliki dampak negatif bagi mesin kendaraan konsumen. Perubahan konfigurasi bahan bakar telah disosialisasikan oleh Pemerintah dan badan usaha terkait ke produsen kendaraan, Agen Tunggal Pemegang Merk, serta berbagai asosiasi kendaraan. “Pengguna kendaraan berbahan diesel dapat menggunakan bahan bakar B30 dengan nyaman. Dengan komponen B30, tarikan mesin tetap terjaga, BBM juga baik kualitasnya dan ramah lingkungan, serta turut berkontribusi dalam menjaga devisa negara,” ujarnya. Pelumas Pendukung Biodiesel hingga B50 Selain memasok B30, Pertamina juga telah menyediakan pelumas berteknologi tinggi, Meditran SX BIO SAE 15W-40 yang dapat meningkatkan performa mesin diesel berbahan bakar B30. Meditran SX sebagai pelumas khusus kendaraan bermesin diesel dapat mendukung penggunaan komponen nabati B30 hingga B50.
https://www.medcom.id/otomotif/mobil/8kogoMlk-terminal-balongan-mulai-pasok-biodiesel-b30

Liputan6 | Jum’at, 3 Januari 2020
Terminal BBM Balongan Salurkan Perdana B30

PT Pertamina (Persero) Integrated Terminal Balongan melakukan penyaluran perdana Solar yang telah dicampur 30 persen biodiesel (B30). Distribusi perdana dikirimkan oleh mobil tangki berkapasitas 8 kiloliter (KL) ke SPBU 3445151 di Jalan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. Unit Manager Communication Relations & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III Dewi Sri Utami mengatakan, Integrated Terminal Balongan memperoleh pasokan Solar dari Kilang Pertamina Balongan (Refinery Unit VI). Dimana kemudian pencampuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan solar dilakukan di New Gantry System (NGS) dengan metode Inline Blending. Integrated Terminal Balongan kemudian mendistribusikan Biosolar yang telah memiliki kandungan B30 ini ke SPBU-SPBU di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan. “Pasokan FAME dari kelapa sawit kami peroleh dari Darmex Biofuels, yang merupakan badan usaha dalam negeri. Pemanfaatan FAME ini dilakukan untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi impor minyak,” kata Dewi, di Jakarta, Jumat (3/1/2020). Dewi mengungkapkan, kandungan FAME tidak memiliki dampak negatif bagi mesin kendaraan konsumen. Perubahan konfigurasi bahan bakar telah disosialisasikan oleh Pemerintah dan badan usaha terkait ke produsen kendaraan, Agen Tunggal Pemegang Merk, serta berbagai asosiasi kendaraan.

“Pengguna kendaraan berbahan diesel dapat menggunakan bahan bakar B30 dengan nyaman. Dengan komponen B30, tarikan mesin tetap terjaga, BBM juga baik kualitasnya dan ramah lingkungan, serta turut berkontribusi dalam menjaga devisa negara,” ujarnya. Biosolar merupakan bahan bakar solar diesel yang telah mendapat campuran bahan bakar nabati FAME, hal ini sesuai dengan arahan pemerintah terkait Target Bauran Energi (Energy Mix). Program B30 sudah diresmikan penerapannya oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO 3112802 di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, pada Senin, 23 Desember 2019 lalu. Pada peresmian tersebut, Pemerintah menetapkan komposisi FAME dari B20 menjadi B30, dimana berarti kandungan 20 persen FAME pada bahan bakar berbasis solar naik menjadi 30 persen. Sesuai Keputusan Menteri ESDM No 227 Tahun 2019, kebijakan B30 pada sektor transportasi berlaku pada produk solar subsidi yakni Biosolar, serta non subsidi Dexlite. Selain memasok B30, Pertamina juga telah menyediakan pelumas berteknologi tinggi, Meditran SX BIO SAE 15W-40 yang dapat meningkatkan performa mesin diesel berbahan bakar B30. Meditran SX sebagai pelumas khusus kendaraan bermesin diesel dapat mendukung penggunaan komponen nabati B30 hingga B50.‎
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4147747/terminal-bbm-balongan-salurkan-perdana-b30