+62 2129380882 office@aprobi.co.id

ESDM: Uji Coba B30 Selesai Bulan Ini

Tempo | Jum’at, 18 Oktober 2019

ESDM: Uji Coba B30 Selesai Bulan Ini

Uji coba penggunaan campuran biodiesel 30 persen menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau B30 akan selesai diujicobakan pada bulan Oktober 2019. Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional sekaligus Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Djoko Siswanto menuturkan ke depan, pemerintah tak hanya mengimplementasikan B30 pada sektor transportasi, uji coba B30 untuk kereta api dan kapal juga akan segera dilakukan. “Hal serupa akan kami terapkan di kereta api dan kapal,” kata Djoko melalui keterangan rilis, Jumat 18 Oktober 2019. Mulai awal tahun 2020, penggunaan komposisi minyak sawit (FAME) pada biosolar sudah mencapai 30 persen dari saat ini sebesar 20 persen. “Setelah 2008 berjalan dengan baik uji coba campuran FAME dengan solar, kita tingkatkan hingga uji coba B30 yang selesai Oktober ini untuk dilaksanakan di tahun 2020,” kata Djoko. Penerapan kebijakan B30, kata Djoko, tak lepas dilatarbelakangi tingginya impor solar. Sementara di sisi lain bahan baku kelapa sawit Indonesia melimpah. “Karena solar saat itu sebagian masih impor, di saat yang bersamaan Indonesia adalah negara pertama atau kedua terbesar memproduksi sawit di dunia. Tapi kini Indonesia sudah bebas impor minyak tanah, solar, bahkan avtur nantinya,” ungkap Djoko. Dasar lain dari pertimbangan pemerintah adalah perluasan pemanfaatan BBN sebagai pengganti bahan bakar fosil. Pemerintah menyadari pentingnya peranan generasi muda dalam mendukung pelaksanaan program tersebut. “Kami juga berkomitmen kepada dunia, agar dunia tetap bersih, tetap sehat dan tidak terjadi pemanasan global sesuai dengan COP 21 di Paris,” kata Djoko.

https://bisnis.tempo.co/read/1261332/esdm-uji-coba-b30-selesai-bulan-ini/full&view=ok

RMCO.ID | Jum’at, 18 Oktober 2019
Jelang Implementasi B30 di 2020, Pengetahuan Biodiesel Kian Diterima Mahasiswa

Civitas akademika, terutama kalangan mahasiswa, mendukung dan semakin memahami rencana implementasi kebijakan penggunaan biodiesel B30 pada 2020. Mulai awal 2020, penggunaan komposisi minyak sawit (FAME) pada biosolar sudah mencapai 30 persen dari saat ini sebesar 20 persen. Sekjen Dewan Energi Nasional sekaligus Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, menjelaskan kesiapan ini tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel yang selesai akhir Oktober kemarin. “Setelah 2008 berjalan dengan baik uji coba campuran FAME dengan solar, kita tingkatkan hingga uji coba B30 yang selesai Oktober ini untuk dilaksanakan di tahun 2020,” kata Djoko pada acara Biodiesel Goes To Campus “Biodiesel Singgah Bali”, di Gedung Pascasarjana Universitas Udayana Bali, Kamis (17/10), seperti dikutip esdm.go.id. Kronologi implementasi kebijakan B30, imbuh Djoko, tak lepas dilatarbelakangi tingginya impor solar, sementara di sisi lain melimpahnya ketersediaan bahan baku kelapa sawit Indonesia. “Karena solar saat itu sebagian masih impor, disaat yang bersamaan Indonesia adalah negara pertama atau kedua terbesar memproduksi sawit di dunia. Tapi kini Indonesia sudah bebas impor minyak tanah, solar, bahkan avtur nantinya,” ungkap Djoko. Ke depan, Pemerintah tak hanya mengimplementasikan B30 pada sektor transportasi. Uji coba B30 untuk kereta api dan kapal juga akan segera dilakukan. “Hal serupa akan kami terapkan di kereta api dan kapal,” tegas Djoko. Dasar lain dari pertimbangan Pemerintah adalah perluasan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai pengganti bahan bakar fosil. Pemerintah menyadari pentingnya peranan generasi muda dalam mendukung pelaksanaan program tersebut. “Inilah kenapa Biodiesel Goes To Campus itu ada karena untuk sosialisasi penggunaan energi bersih,” jelas Djoko. Di samping itu, penggunaan biodiesel dinilai sebagai penghasil energi yang ramah lingkungan. “Kami juga komit kepada dunia agar dunia tetap bersih, tetap sehat dan tidak terjadi pemanasan global sesuai dengan COP 21 di Paris,” tandas Djoko. Biodiesel Goes To Campus merupakan rangkaian kegiatan kampanye khusus di kalangan anak muda untuk memperkenalkan pemanfaatan Biodiesel sebagai bahan bakar pengganti fosil, dengan menggandeng Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). Universitas Udayana merupakan puncak Biodiesel Goes To Campus setelah sebelumnya diagendakan di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta dan Universitas Indonesia.
https://rmco.id/baca-berita/government-action/20392/jelang-implementasi-b30-di-2020-pengetahuan-biodiesel-kian-diterima-mahasiswa

Valid News | Jum’at, 18 Oktober 2019
Uji Coba B30 Diperluas ke Transportasi Massal

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera melakukan perluasan uji coba B30 untuk kereta api dan kapal. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional sekaligus Plt. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto. “Hal serupa (uji coba B30.red) akan kami terapkan di kereta api dan kapal,” tegas Djoko. Ia bahkan mengatakan penggunaan biodiesel B30 sudah siap diimplementasikan tahun depan. Artinya mulai awal tahun 2020, penggunaan komposisi minyak sawit (FAME) pada biosolar sudah mencapai 30% dari saat ini sebesar 20%. Progres ini kata dia, tak lepas dari hasil uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel yang selesai akhir Oktober kemarin. “Setelah 2008 berjalan dengan baik uji coba campuran FAME dengan solar, kita tingkatkan hingga uji coba B30 yang selesai Oktober ini untuk dilaksanakan di tahun 2020,” kata Djoko pada acara Biodiesel Goes To Campus “Biodiesel Singgah Bali” di Gedung Pascasarjana Universitas Udayana Bali, Kamis (17/10). Kronologi implementasi kebijakan B30, imbuh Djoko, tak lepas dilatarbelakangi tingginya impor solar. Padahal di lain sisi ketersediaan bahan baku kelapa sawit Indonesia melimpah jumlahnya. “Karena solar saat itu sebagian masih impor. Di saat yang bersamaan Indonesia adalah negara pertama atau kedua terbesar memproduksi sawit di dunia. Tapi kini Indonesia sudah bebas impor minyak tanah, solar, bahkan avtur nantinya,” ungkap Djoko. Sampai semester I-2019 lalu produksi biodiesel tercatat sebesar 4,22 juta kilo liter atau 57,26% dari target tahun ini. Target produksi tahun 2019 sendiri didorong 19,64% lebih tinggi dari produksi tahun 2018 yang mencapai 6,16 juta kilo liter. Adapun sejak Januari hingga Juli 2019, volume penggunaan B20 telah mencapai 2,95 juta kiloliter atau 44% dari total kuota tersebut. Angka pencapaian penyerapan itu 97,4% terhitung sejak Januari hingga Juli 2019. Tahun 2018 lalu, Kementerian ESDM dalam laporannya mencatat pemanfaatan biodiesel dalam negeri sebesar 4,02 juta KL. Pemanfaatan ini dikatakan telah menghemat devisa sekitar US$2,01 miliar atau Rp28,42 triliun. Pada periode yang sama, produksi biodiesel dalam negeri tercatat mengalami peningkatan nyaris dua kali lipat dari tahun sebelumnya hingga mencapai 6,01 juta KL. Capaian itu melebihi target produksi 2018 yang sebelumnya hanya dipatok sebesar 5,70 juta KL. Djoko mengatakan, dasar lain dari pertimbangan pemerintah adalah perluasan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai pengganti bahan bakar fosil. Penggunaan biodiesel disebut dapat menghasilkan energi yang ramah lingkungan.

Ekspor CPO

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mencatat ekspor minyak sawit mentah (CPO) nasional dan produk turunannya sepanjang Januari–Agustus 2019 sebesar 22,7 juta ton atau tumbuh 3,8 persen dibandingkan periode sama tahun 2018. Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono mengatakan, khusus Agustus 2019 volume ekspor minyak sawit sebesar 2,89 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah sekitar 1,03% dibandingkan dengan ekspor Juli 2019 sebesar 2,92 juta ton. “Volume ekspor minyak sawit bulan Agustus 1% lebih rendah dibandingkan bulan Juli, meskipun harga rata-rata CPO pada bulan Agustus sekitar US$40–50 lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada bulan Juli,” kata Mukti melalui keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat (18/10). Adapun volume ekspor minyak sawit Agustus 2019 dipengaruhi oleh penurunan ekspor CPO hingga 115.000 ton, yakni dari 678.000 ton pada Juli 2019 menjadi 563.000 ton. Namun demikian, ekspor produk turunan kelapa sawit seperti lauric, refined palm oil, biodiesel dan oleochemical mengalami pertumbuhan pada Agustus menjadi 2,328 juta ton dari bulan sebelumnya 2,238 juta ton. China dan India masih merupakan tujuan ekspor utama. Menurut Mukti, kenaikan ekspor terbesar berasal dari China yang naik sebesar 150.000 ton dan ke Timur Tengah yang naik 110.000 ton, serta Amerika Serikat yang naik 90.000 ton. “Penurunan ekspor terjadi dengan tujuan India, Bangladesh, Pakistan dan Uni Eropa,” kata Mukti Pada Agustus, ekspor biodiesel mengalami penurunan dibandingkan bulan Juli yaitu dari 187.000 ton menjadi 162.000 ton dan tidak tercatat adanya ekspor biodiesel ke Uni Eropa. Pada akhir Agustus, harga CPO masih menunjukkan tren naik. Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit dinilai perlu memperkuat pengaruhnya dalam keseimbangan supply-demand dan pembentukan harga. Implementasi B20 dan segera dengan B30 pasti diharapkan juga meningkatkan konsumsi dalam negeri dan mengerek harga. Akan tetapi, mengingat harga minyak sawit dan minyak bumi yang fluktuatif, pengaturannya perlu disusun sedemikian rupa sehingga tidak membelenggu Pertamina maupun produsen biodiesel. Hal lain yang perlu dilakukan adalah penggunaan langsung CPO untuk pembangkit PLN yang saat ini sudah dilakukan beberapa uji coba di beberapa daerah, serta peningkatan kemampuan mengendalikan stok dengan menambah kapasitas tangki di pabrik kelapa sawit (PKS).

https://www.validnews.id/Uji-Coba-B30-Diperluas-ke-Transportasi-Massal-YXa

Tempo | Jum’at, 18 Oktober 2019
Konsumsi Minyak Melambung, Defisit Diprediksi Melebar

Hasil riset British Petroleum menyebutkan penggunaan energi primer Indonesia selama 2018 tumbuh 4,9 persen, terutama minyak dan gas. Angkanya melebihi pertumbuhan rata-rata tahunan konsumsi energi primer sejak 2007-2017 yang sebesar 2,8 persen. “Minyak mendominasi 45 persen dari konsumsi energi primer di 2018,” ujar Group Chief Economist dari British Petroleum Spencer Dale, Kamis 17 Oktober 2019. Dominasi bahan bakar minyak nampak dari meningkatnya permintaan akan diesel, avtur dan bensin. Di sisi lain, produksi minyak justru menurun 3,5 persen di 2018. Angkanya melebihi rata-rata tahunan penurunan produksi minyak selama 2007-2017 yaitu sebesar 1,5 persen. Pengamat energi dari Universitas Gajah Mada Fahmy Radhi menyatakan kondisi ini berpotensi semakin memperbesar defisit neraca migas yang pada akhirnya akan memperparah defisit neraca perdagangan. Dengan rendahnya produksi dalam negeri, impor migas menjadi kunci pemenuhan konsumsi. “Migas selama ini merupakan salah satu penggerak perekonomian. Jika impor dihentikan bisa menghambat ekonomi,” katanya. Badan Pusat Statistik mencatat hingga September 2019 impor migas mencapai US$ 15,86 miliar. Dengan ekspor yang hanya US$ 9,42 miliar, neraca migas defisit US$ 6,44 miliar. Untuk mengurangi ancaman defisit, pemerintah dinilai perlu mengimbangi dengan meningkatkan ekspor non migas. Strategi ini dinilai paling mudah dilaksanakan dibandingkan menahan impor minyak. Selain itu, perlu ada upaya mendorong energi baru dan terbarukan (EBT). “Tidak bisa lagi berharap kepada energi fosil, harus dari EBT,” ujar dia.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Onny Widjanarko menyatakan defisit neraca migas cenderung membaik hingga September 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Defisit migas turun dari US$ 9,45 miliar di Januari-September 2018 menjadi US$ 6,44 miliar pada Januari-September 2019. Dampaknya, neraca perdagangan Indonesia membaik hingga September ini. Defisit neraca perdagangan turun sebesar US$ 1,87 miliar dari US$ 3,82 miliar di periode Januari-September 2018 menjadi US$ 1,95 miliar di periode yang sama tahun ini. Onny mengatakan, penurunan defisit migas berkaitan dengan implementasi beberapa kebijakan pemerintah. “Seperti implementasi penggunaan bahan bakar nabati B20 dan kewajiban penawaran crude oil oleh K3S kepada Pertamina,” ujarnya. Kedua kebijakan tersebut, menurut dia, efektif mengurangi impor minyak mentah dan produk minyak oleh Pertamina. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan pemerintah tengah mempercepat transformasi biodiesel dari B20 menuju B30 sebagai ganti solar. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan ekspor non-migas sekaligus menyerap kelebihan produksi CPO dan turunannya yang belum terserap pasar dunia. Pemerintah juga memasukkan produksi minyak mentah PT Pertamina (Persero) di luar negeri untuk kebutuhan domestik. Pada saat yang sama, minyak hasil eksplorasi di dalam negeri tetap dimanfaatkan. Susiwijono menuturkan, kondisi ini mempengaruhi catatan ekspor dan impor migas dalam neraca perdagangan yang terlihat defisit semakin besar. “Padahal ada tambahan penghematan impor dan peningkatan penerimaan pendapatan primer,” ujarnya. Kondisi ini, menurut dia, memerlukan penyesuaian metode pencatatan neraca perdagangan kelompok migas agar lebih obyektif menggambarkan adanya penghematan impor minyak.

https://bisnis.tempo.co/read/1261341/konsumsi-minyak-melambung-defisit-diprediksi-melebar/full&view=ok

Berita Satu | Minggu, 20 Oktober 2019
Solar dengan CN Tinggi Ibarat Pangan Bergizi bagi Mesin Diesel

Masyarakat yang menggunakan kendaraan bermesin diesel diharapkan memakai bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang berkualitas, yaitu Dexlite dan Pertamina Dex. Dua jenis solar itu memiliki kadar Cetane Number (CN) atau angka setana yang tinggi, sehingga akan meningkatkan performa atau unjuk kerja mesin. Pakar motor bakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman Kartolaksono Reksowardojo mengatakan, jika mesin menggunakan solar berkualitas bagus, maka pemakaian bahan bakar akan semakin efisien. Menurut dia, salah satu indikator kualitas BBM bagi mesin kendaraan mesin diesel memang CN. Semakin tinggi CN, maka kualitas solar semakin baik. “Ibarat makanan, solar berkualitas, seperti Dexlite dan Pertamina Dex, adalah makanan yang lebih bergizi dibandingkan dengan solar subsidi. Karena, dengan mutu bahan bakar diesel yang baik, selain memberikan unjuk kerja yang baik dan motor lebih awet, emisi gas buang juga lebih baik,” kata Iman di Jakarta, Minggu (20/10/2019). Selain CN, kandungan sulfur dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih solar. Dalam hal ini, kandungan sulfur pada solar berkualitas, seperti Dexlite dan Pertamina Dex, juga lebih rendah dibandingkan solar subsidi. Kandungan sulfur yang cukup tinggi pada solar subsidi, menurut Iman, dapat merusak komponen injektor dan mengakibatkan pembakaran menjadi tidak baik. Semakin rendah kandungan sulfur, maka emisi gas buang, saluran bahan bakar, filter solar, hingga ruang bakar akan lebih bersih. “Sulfur juga berpengaruh terhadap umur mesin. Semakin tinggi sulfur yang bersifat asam akan membuat mesin jadi mudah berkarat,” kata Iman. Dikatakan pula, kualitas bahan bakar diesel akan meningkat jika dicampur dengan Biodiesel (FAME), karena akan meningkatkan CN serta membuat kadar sulfurnya menjadi nihil. Seperti diketahui, saat ini Pertamina mengeluarkan tiga jenis bahan bakar diesel, yakni Bio Solar, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertamina Dex memiliki CN 53 dengan kandungan sulfur di bawah 300 part per million (ppm). Sementara, Dexlite memiliki CN 51 dengan kandungan sulfur minimal 1.200 ppm. Bio Solar yang merupakan solar subsidi, memiliki CN rendah, yakni 48 dengan kandungan sulfur yang sangat tinggi, yakni 3.500 ppm.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/580845/solar-dengan-cn-tinggi-ibarat-pangan-bergizi-bagi-mesin-diesel

Rakyat Merdeka | Minggu, 20 Oktober 2019
Solar Dicampur Sawit

Sukses menyajikan bahan bakar dengan campuran minyak nabati sebesar 20 persen atau B20, kini giliran B30 menanti. Uji jalan kendaraan bermesin diesel hampir rampung dan menunjukan kinerja positif. Awal tahun 2020 sudah siap dijalankan. Dari mandatori B30 ini, diharapkan konsumsi biodiesel dalam negeri akan meningkat hingga mencapai 6,9 juta kilo liter.

Kontan | Senin, 21 Oktober 2019
Tekan Impor Minyak dan Genjot Produksi

IMPOR minyak dan gas bumi (migas) memang masih menjadi momok defisit neraca perdagangan. Oleh sebab itu PT Pertamina (Persero) terus menekan angka impor minyak mentah tersebut. . Sampai pertengahan Oktober Pertamina sudah melakukan pembelian minyak mentah dan kondensat dari 43 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS)sebanyak 128.200 barel crude per day (BCD). Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, bahwa per Mei 2019, Pertamina sudah tidak lagi mengimpor solar dan avtur. Padahal, sebelumnya, impor solar dan avtur mencapai lebih dari 25 juta barel per tahun. Untuk mengurangi impor pula, Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Tugas Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Fatar Yani Abdurrahman menyampaikan, bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi di dalam negeri. Salah satu- nya dengan program penerapan Enhance Oil Recovery (EOR). Program EOR itu akan dilaksanakan pada delapan lapangan migas. Di maha pilot project EOR itu sudah dilakukan di Lapangan Tanjung milik PT Pertamina EP. Nah saat ini, SKK migas terus melakukan kajian dan identifikasi pada lapangan migas lain. Yang pasti, penerapan EOR diproyeksikan dapat mengerek produksi sebesar 5% hingga 20% bergantung pada jenis dan karakter reservoir. Pengamat Energi UGM, Fahmy Radhi mengatakan, konsekuensi penggunaan migas sebagai penggerak pembangunan adalah terjadinya defisit neraca migas, yang juga terjadi di negara-negara maju. “Sebab produksi migas semakin turun dan konsumsi semakin naik,” ungkap Fahmy. Upaya satu-satunya untuk menekan impor, mengembangkan energi baru dan terbarukan (EBT) yakni B20, B30 dan B100 untuk hasilkan biodiesel dan bio avtur.