+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Gapki Aceh dan Sumut Apresiasi Program B30

Investor Daily Indonesia | Selasa, 20 Agustus 2019
Gapki Aceh dan Sumut Apresiasi Program B30

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut dan Aceh mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo yang menargetkan pada Januari 2020 Indonesia sudah menggunakan B30 atau bahan bakar biodiesel 30%. “Kebijakan penerapan B30 akan menguntungkan dari berbagai sisi,” ujar Ketua Gapki Aceh Sabri Basyah di Medan, kemarin. Selain otomatis semakin mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM), penerapan B30 akan mendongkrak harga jual crude Palm Oil (CPO) dan termasuk mengurangi ketergantungan ekspor komoditas tersebut. “Sejak ada pernyataan Presiden Joko Widodo tentang rencana B30, harga CPO sudah langsung bergerak naik,” ujarnya. Harga CPO di Bursa Kuala Lumpur diperdagangkan 2.100 ringgit Malaysia per metrik ton dari sebelumnya 1.800 ringgit Malaysia. Harga CPO di Sumut menjadi naik menjadi Rp 7.122 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 6.300 perkg. Dampak kenaikan harga CPO mendorong kenaikan harga tandan buah segar (TBS).\’\’ Harapannya harga TBS bisa di atas Rpl.500 per kg atau dapat mencapai Rp 2 ribuan seperti saat krisis moneter,” ujar dia seperti dilansir Antara. Sabri berharap pemerintah juga komitmen menerapkan sanksi bagi yang tidak melaksanakan. Apalagi sebelumnya pemerintah sudah menerapkan B20. Sekjen Gapki Sumut Timbas Prasad Ginting mengatakan, sebagai produsen minyak Kelapa Sawit terbesar, Indonesia berpengaruh besar pada harga CPO di pasar dunia. Dengan semakin banyak CPO digunakan di dalam negeri, kampanye negatif dari Uni Eropa tidak lagi jadi masalah besar Indonesia. Menurut Timbas, kalau harga CPO turun maka bisa mengancam program Peremajaan Sawit Rakyat. Karena itu, Gapki mengharapkan pernyataan presiden soal B30 itu benar-benar terwujud dengan pemberian sanksi bagi yang tidak menjalankan. Presiden Jokowi sebelumnya menyebutkan, jika Indonesia konsisten menggunakan B20 saja, akan menghemat biaya sebesar US$ 5,50 miliar pertahun. Pemakaian B20 secara konsisten juga akan menciptakan permintaan CPO di pasar domestik meningkat dan mendorong perekonomian petani sawit.

Agrofarm | Senin, 19 Agustus 2019
Kementerian ESDM : Uji Bahan B30 di Dataran Tinggi Sukses

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM) melakukan uji prespitasi dan start ability penggunaan campuran 30 persen Bahan Bakar Nabati (BBN) Jenis Biodiesel ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar (B30) pada kendaraan bermotor di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah sebagai rangkaian road test B30. “Uji ini adalah bagian dari uji jalan (road test) B30 untuk menentukan nilai kandungan Monogliserida (MG) yang optimum yang akan diimplementasikan sebagai standar acuan mutu bahan bakar B30 di Indonesia,” kata Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana dalam siaran persnya, Senin (19/8/2019). Lebih lanjut, Dadan mengungkapkan proses pengujian dan pemilihan lokasi di Dieng guna menguji kemampuan bahan bakar melakukan adaptasi pada kondisi udara yang lebih dingin. “Kami nyalakan (start ability) mesin kendaraan setelah didiamkan (soaking) bahan bakar pada corong terpisah selama periode tertentu pada kondisi udara dingin kendaraan mesin diesel yang menggunakan bahan bakar B30 (dengan kandungan Monogliserida yang berbeda),” jelasnya. Ujii prespitasi, imbuh Dadan, dimaksudkan untuk mengukur berat zat dalam kandungan B30 dengan menggunakan metoda Cold Soak Filter Test (CSFT) dari ASTM D7501. Sementara, uji start ability adalah uji kemampuan kendaraan untuk dinyalakan setelah didiamkan (soaking) selama beberapa hari pada kondisi udara dingin. Pengujian dilakukan pada 2 kelompok kendaraan dimana tiap kelompok terdiri atas 3 unit Toyota Innova Diesel.

Kelompok pertama dilakukan 3 kali soaking yaitu selama 3 hari, 7 hari, dan 14 hari. Sedangkan untuk kelompok kedua dilakukan soaking selama 21 hari. Uji start ability dilakukan di setiap akhir periode soaking. “Hasil uji prespitasi menunjukkan bahwa B30 cenderung mempunyai presipitat lebih tinggi dibandingkan B0. Hasil uji start ability menunjukkan bahwa mobil dapat dinyalakan secara normal. Ini membuktikan bahwa B30 mengalir dengan baik di mesin walau telah didiamkan selama 21 hari pada kondisi dingin”, ungkap Dadan. Bahan bakar yang digunakan untuk uji prespitasi dan start ability adalah solar murni (B0), B30 dengan kadar Monogliserida (MG) sebesar 0,4 (%-massa) dan B30 dengan kadar Monogliserida (MG) sebesar 0,55 (%-massa). Pelaksana uji dilaksanakan oleh Puslitbang Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (P3tek KEBTKE) KESDM, Puslitbang Teknologi Minyak dan Gas (LEMIGAS) KESDM, Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Desain (BTBRD) BPPT, serta Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) BPPT. Adapun pendanaan road test berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit. Selain itu, uji prespitasi dan start ability ini mendapat dukungan lain dari industri berupa bantuan bahan bakar dari PT Pertamina (Persero) dan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), serta penyediaan kendaraan uji dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sebagai informasi, Menteri ESDM Ignasius Jonan telah meluncurkan uji jalan B30 pada 13 Juni lalu di kantor Kementerian ESDM Jakarta.

Cnbcindonesia | Senin, 19 Agustus 2019
Kupas Habis Biodiesel, Bisakah RI Ciptakan B100 & Avtur?

Di tengah gempuran perang dagang dan ancaman dari Eropa, ditambah dengan terus bengkaknya impor migas, sawit dan biodiesel jadi juru selamat yang diandalkan untuk selamatkan devisa negara. Tak cuma dari sisi ekonomi, pemanfaatan biodiesel juga bisa selamatkan lingkungan. Secara Exclusive Direktur BPDP Sawit Dono Boestami dan Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia M.P Tumanggor akan membedah arah Industri Sawit dan Produksi Biofuel di Indonesia sebagai Wujud Kemandirian Energi
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190819173403-4-93099/kupas-habis-biodiesel-bisakah-ri-ciptakan-b100-avtur

Rmco | Senin, 19 Agustus 2019
Program B30 Dapat Kurangi Impor BBM dan Tekan Defisit

Pengembangan mandatori campuran biodiesel sebanyak 30 persen (B30) dalam bahan bakar minyak jenis Solar pada tahun depan dipastikan tidak terkendala pada program mobil listrik. Kepala Badan Penetlitian Pengembangangan (Balitbang) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, salah satu tujuan B30 adalah menekan impor dan penggunaan bahan bakar jenis solar. “Selain itu, dalam pelaksanaan program mobil listrik, pemerintah tidak langsung mengganti kendaraan berbahan bakar diesel konsumsi solar,” kata Dadan, di Jakarta, Senin (19/8). Diterangkannya lebih rinci, salah satu manfaat yang dikejar dari program B30 adalah mengurangi impor solar yang saat ini cukup besar. Jika nantinya 30 persen solar digantikan biodiesel yang diproduksi dari dalam negeri, impor dipastikan bisa turun signifikan. Hal ini juga akan meredam defisit neraca perdagangan dari sektor minyak dan gas (migas). “Manfaatnya mengurangi impor juga menekan defisit. Karena biodiesel dari dalam negeri, petani sawit kita juga akan merasakan manfaatnya, karena produksi minyak sawit mereka bisa terserap pasar,” ujar Dadan.

Dikatakannya, konsumsi solar ke depan diprediksi makin meningkat seiring dengan pertumbuhan kendaraan diesel, ditambah dengan mesin diesel yang sudah beroperasi. Tercatat saat ini, konsumsi solar mencapai 23 juta Kilo liter per tahun. Kondisi ini, kata Dadan, membutuhkan program B30 tetap diterapkan. Dadan mengungkapkan, ESDM telah melakukan pengujian mesin kendaraan dengan menggunakan‎ bahan bakar Solar yang telah dicampur dengan 30 persen biodiesel dalam suhu rendah. Kemudian‎ mobil tersebut, didiamkan selama 21 hari di kawasan pegunungan Dieng Wonosobo Jawa Tengah setelah menempuh jarak sekitar 150 kilometer‎ (Km).”Hasilnya, uji coba mesin kendaraan menggunakan menggunakan B30 dinyatakan berhasil, sebab berdasarkan standar Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) batas maksimal mesin kendaraan menyala ketika distater selama 5 detik” ujarnya.Dadan mengatakan, jika semua tahapan lolos, maka hasilnya dilaporkan ke Presiden Joko Widodo. Hasil uji coba rencananya juga akan disampaikan ke pemerintah pada pertengahan September 2019. Saat itu proses uji coba diperkirakan sudah selesai sekitar 90 persen. Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) terkait mobil listrik. Perpres itu diteken Jokowi, Senin (5/8) lalu. Jokowi berharap, perpres ini bisa mendorong agar pelaku industri otomotif segera membangun industri mobil listrik di indonesia.
https://rmco.id/baca-berita/indonesianomics/16220/program-b30-dapat-kurangi-impor-bbm-dan-tekan-defisit

Okezone | Senin, 19 Agustus 2019
Bahan Bakar Solar B30 Diterapkan Tahun Depan, Pengujian B50 Sudah Dilakukan

Presiden Jokowi meminta penggunaan bahan bakar biodiesel yang saat ini masih B20, untuk segera diperluas. Dimana tahun depan B30 sudah harus digunakan. Namun seiring dengan rencana tersebut, pengujian hasil pengembangan bahan bakar solar yang dicampur minyak kelapa yang melimpah di Indonesia tersebut sudah masuk pada grade B50. Pengembangan biodisel B50 telah dilakukan Pusat Peneliti Kelapa Sawit, Dr M Ansori Nasution yang menganggap bahwa pengembangan bahan bakar tersebut telah melalui pengujian. Dimana B50 sudah melakukan uji jalan menggunakan kendaraan bermesin diesel yang masih baru keluar dari diler. “Kita lakukan uji jalan menggunakan mobil Toyota Innova yang baru keluar diler dan semuanya berjalan lancar, tidak ada masalah yang terjadi,” ungkapnya kepada Okezone beberapa waktu lalu. Ia menambahkan, bahan bakar dengan kandungan minyak kelapa sangat aman, bahkan pengujian yang baru saja dilakukan yang menggunakan bahan bakar solar dengan kandungan minyak kelapa 50 persen tidak menimbulkan masalah ataupun kendala teknis yang berarti.
https://otomotif.okezone.com/read/2019/08/19/52/2093660/bahan-bakar-solar-b30-diterapkan-tahun-depan-pengujian-b50-sudah-dilakukan

Liputan 6 | Senin, 19 Agustus 2019
Pemerintah Gencar Bangun Mobil Listrik, Bagaimana Nasib B30?

Pemerintah akan menerapkan program campuran 30 persen biodiesel dengan solar (B30) pada 2020, namun disisi lain juga sedang mendorong pengembangan kendaraan listrik. Lalu bagaimana nasib B30 saat kendaraan listrik juga dikembangkan? Kepala Badan Penetlitian Pengembangangan Kementerian Energi Sumber Data Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, program B30 akan tetap berjalan meski disisi lain penggunaan kendaraan listrik sedang digalakan. Sebab, pemerintah tidak langsung mengganti kendaraan berbahan bakar diesel konsumsi solar. “Pemerintah juga tidak mengganti kendaraan sekarang,” kata Dadan, di Jakarta, Senin (19/8/2019). Menurut Dadan, konsumsi solar akan meningkat seiring dengan pertumbuhan, ditambah dengan mesin diesel yang sudah beroperasi. Tercatat saat ini konsumsi solar mencapai 23 juta Kilo liter per tahun, kondisi ini membutuhkan program B30 tetap Diterapkan. “Konsumsi meningkat, akan Ada kendaraan mesin diesel eksisting sekarang total konsumsi solar 22 -23 juta Kl per Tahun,” tuturnya. Dadan mengungkapkan, salah satu manfaat dari program B30 adalah mengurangi impor solar, sebab 30 persen digantikan biodiesel yang diproduksi dari dalam negeri. Hal ini juga akan meredam defisit neraca perdagangan dari sektor migas. “Manfaatnya mengurangi impor juga menekan defisit, karena biodiesel dari dalam negeri maafnya juga dirasakan petani kita” tandasnya.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/4041150/pemerintah-gencar-bangun-mobil-listrik-bagaimana-nasib-b30

Bisnis | Senin, 19 Agustus 2019
PTPN III Jajaki Pengembangan Produk Biodiesel

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) (PTPN III), induk Holding BUMN Perkebunan tengah mengembangkan produk biodiesel seiring optimisme perusahaan terhadap prospek bisnis sektor ini ke depannya. Direktur Keuangan PTPN III Mohammad Yudayat mengemukakan sejauh ini perusahaan memang belum memproduksi produk energi terbarukan berbahan dasar minyak sawit (CPO) tersebut. Namun kesepakatan dengan PT Pertamina (Persero) untuk pengembangan produk B20 dan B30 sendiri ia sebut telah terjalin lewat sebuah nota kesepahaman. “Presiden sudah menggalakkan pemakaian green energy. Kami sudah ada nota kesepahaman dengan Pertamina untuk pengembangan biodiesel, B20, B30. Kerja sama dengan Pertamina baru tingkat MoU [Memorandum of Understanding]. Tapi dengan swasta seperti Wilmar, Sinar Mas, kami sudah pasok CPO-nya,” kata Yudayat di Jakarta Senin (19/8/2019). Pengembangan produk biodiesel ini sendiri merupakan bagian dari ekspansi bisnis perseroan. Yudayat mengemukakan tahun ini PTPN III memperoleh izin untuk menghimpun dana sebesar Rp15 triliun dengan realisasi sekitar Rp9 triliun sampai saat ini. Terbaru, PTPN III menggandeng PT PNM Investment Management (PNM-IM) merilis surat utang syariah (sukuk) senilai Rp1 triliun yang bakal digunakan untuk penambahan modal kerja dan investasi.

“Pendanaan digunakan untuk investasi dan juga untuk ekspansi bisnis. Ada yang on farm untuk pekebun, ada yang untuk revitalisasi pabrik, revitalisasi. Untuk investasi ini dan ekspansi pembagiannya 50:50. Jadi masing-masing Rp500 miliar untuk investasi dan ekspansi,” sambung Yudayat. Yudayat menyebutkan pengembangan bisnis untuk sawit sendiri masih cukup prospektif meski harga di pasar global masih memperlihatkan tren penurunan. Sejauh ini, lebih dari 65% produksi CPO dari kebun perseroan masih dialokasikan untuk ekspor. Senada dengan Yudayat, Direktur Utama PNM Investment Management Bambang Siswaji melihat kondisi pasar saat ini cenderung membaik. Ia pun optimistis emisi sukuk yang baru dirilis bakal diserap pasar menyusul tingginya respons dan minat yang telah masuk. “Inilah yang mendukung kami [PNM] untuk mendukung pendanaan ini. Sawit merupakan salah satu penghasil devisa. Di sisi lain, saat ini kita tengah menghadapi defisit neraca perdagangan sehingga ekspor perlu didorong,” kata Bambang.Yudayat tak memungkiri jika pendapatan perseroan sempat tertekan pada semester I karena harga CPO yang rendah. Namun ia mengaku efek lebih dalam dari kondisi ini masih berada di bawah kendali menyusul perkiraan produksi yang akan naik pada 2019 ini. “Kinerja dari sisi pendapatan kami memang agak tertekan karena harga turun. Tapi ini kan fluktuatif dan hal yang biasa. Kami rasa masih bisa dikendalikan bagaimana pencapaian kita tahun ini karena produktivitasnya naik,” ujarnya.
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190819/99/1138251/ptpn-iii-jajaki-pengembangan-produk-biodiesel