+62 2129380882 office@aprobi.co.id

GAPKI Optimis Aturan Biodiesel Dorong Penyerapan CPO

CNBC Indonesia | Minggu, 13 Oktober 2019

GAPKI Optimis Aturan Biodiesel Dorong Penyerapan CPO

Berbagai gejolak yang menghampiri industri sawit seperti penolakan Uni Eropa terhadap produk CPO hingga kondisi oversupply cukup menekan harga sawit dan memberatkan pelaku industri. Sekjen GAPKI, Kanya Lakshmi Sidarta menyebutkan diversifikasi penggunaan sawit sebagai sumber energi di dalam negeri menjadi langkah tepat untuk mendorong penyerapan produksi sawit domestik, dimana industri telah siap dalam memenuhi kebutuhan biodisel baik B20 dan B30. Seperti apa langkah GAPKI menghadapi berbagai tantangan di industri CPO ? Selengkapnya saksikan dialog Maria Katarina dan Head Of Research CNBC Indonesia, Arif Gunawan dengan Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Kanya Lakshmi Sidarta dalam Closing Bell, CNBC Indonesia (Rabu, 9/10/2019).
https://www.cnbcindonesia.com/news/20191009185955-8-105714/gapki-optimis-aturan-biodiesel-dorong-penyerapan-cpo

Investor Daily Indonesia | Sabtu, 12 Oktober 2019
Uni Eropa Tuduh Indonesia Dumping Baja Tahan Karat
Uni Eropa (UE) menuduh pemain baja nirkarat (stainless steeel/SS) Indonesia dan Tiongkok membanting hargajual (dumping) untuk masuk pasar Eropa. Hal ini terjadi setelah industri setempat mengeluhkan banjir SS impor asal Indonesia dan Tiongkok di pasar domestik. Seiring dengan itu, Komisi UE telah memulai penyelidikan untuk menerapkan bea masuk antidumping (BMAD) terhadap SS Indonesia dan Tiongkok. Industri baja UE menganggap SS Indonesia dan Tiongkok disubsidi, sehingga harganya menjadi murah ketimbang produk lokal. Sebelumnya, komisi itu menerapkan BMAD sebesar 66% terhadap impor kawat baja untuk sepeda motor dari Tiongkok. UE menganggap eksportir Tiongkok menjual produk itu di bawah harga produksi. “Tambahan tarif dalam bentuk BMAD bertujuan mencegah kebangkrutan industri lokal akibat banjir produk impor yang dijual dengan cara dumping,” tulis Komisi UE, seperti dilansir Reuters, Jumat (11/10). Komisi itu menuduh pemerintah Indonesia dan Tiongkok memberikan subsidi dan insentif lainnya ke pemain SS untuk mengekspor ke UE. Dengan begini, pangsa pasar di UE bisa naik. Jika keadaan ini terus berlanjut, UE menilai, industri setempat bakal kian terdesak. Sebelumnya, UE menuduh Tiongkok melanggar aturan WTO dalam menjual produk ke luar negeri.
Saat ini, Tiongkok adalah pemain SS nomor satu dunia, dengan produksi 26,71 juta ton per September 2018. Sementara itu, berdasarkan catatan Investor Daily, SS Indonesia menjadi kuat setelah banjir investasi pemain Tiongkok yang dimotori pemain SS terbesar dunia, Tsingshan Group. Indonesia kini menjadi salah satu pemain SS utama dunia, selain Tiongkok. Di kawasan industri KI Morowali, Sulawesi Tengah, berdiri empat pabrik SS yang terintegrasi dengan bahan bakunya, yakni nickel pig iron (NPI).Total kapasitas empat pabrik itu mencapai 5,7 juta ton SS kasar (slab) dan produk jadi berupa hot rolled (HR) SS dan cold rolled (CR) SS. Mayoritas proyek SS di KI itu dimotori oleh Tsingshan, yang bertindak sebagai investor penggerak (anchor industry) di KI Morowali. Bahkan, KI Morowali dibuat oleh perusahaan SS terbesar dunia itu bersama Bintang Delapan Group. Kedua perusahaan membentuk perusahaan patungan bernama PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang mengelola KI Morowali.
Berdasarkan data Kemenperin, Tsingshan juga menggandeng Bintang Delapan Group membentuk PT Sulawesi Mining Investment (SMI), yang memiliki pabrik NPI 300 ribu ton per tahun dan SS slab 1 juta ton per tahun. Nilai investasinya masing-masing mencapai US$ 635 juta dan US$180 juta. Tsingshan tak berhenti di situ. Raksasa Tiongkok itu kemudian menggaet Ruipu Technology Group dan IMIP untuk mendirikan PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel. Perusahaan ini mempunyai pabrik NPI 600 ribu ton per tahun dan SS slab 1 juta ton per tahun, yang menelan total investasi US$817,95 juta. Selanjutnya, Tsingshan bersama PT Bintang Delapan Mineral membentuk PT Tsingshan Steel Indonesia (TSI) yang membangun pabrik baja karbon berkapasitas 1 juta ton dan NPI 500 ribu ton per tahun. Bersama Ruipu lagi, Tsingshan membentuk PT Indonesia Ruipu Nickel and Chrome, yang memiliki pabrik ferokrom berkapasitas 600 ribu ton per tahun dan CR SS sebanyak 700 ribu ton. Nilai investasinya US$ 460,9 juta. Megaproyek SS lainnya digarap PT Guang Ching Nickel Stainless Steel. Perusahaan ini memiliki pabrik NPI 600 ribu ton per tahun, SS slab 1 juta ton, dan HR SS sebanyak 2 juta ton per tahun.
Kasus Biodiesel
Di sisi lain, Dirjen Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Wisnu Wardhana menuturkan, Indonesia berencana melaporkan UE ke WTO, karena menerapkan BMAD untuk biodiesel Indonesia. Sebelumnya, Komisi UE menganggap biodiesel Indonesia mendapatkan subsidi dari pemerintah. Itu sebabnya, UE memberikan tambahan tarif bea masuk imbalan sementara berkisar Kebijakan ini akan menciptakan level bermain yang sama antara pemain biodiesel Indonesia dan Eropa. Komisi ini akan melanjutkan penyelidikan terhadap biodiesel Indonesia. “Ada kemungkinan BM imbalan sementara akan menjadi BM permanen. Keputusan ini akan keluar pertengahan Desember 2019,” tulis Komisi UE.

Lampost | Jum’at, 11 Oktober 2019
Fuso Rajai Penjualan Segmen LDT
Mitsubishi Fuso merajai penjualan kendaraan niaga dalam segmen light duty truck (LDT) di 2019 ini. Hal tersebut menambah kuat citra mobil kelas berat tersebut sebagai andalan bagi pengusaha yang membutuhkan mobil bermuatan besar. Department Head Field Area Ii Non Jawa PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Novian Taufik menjelaskan hingga Agustus 2019 lalu perusahaan yang menjadi distributor resmi Mitsubishi di Indonesia itu mencatatkan penjualan truk yang dominan di pasaran Lampung. Sebab, bisa merangkul pangsa pasar hingga 79,9%. “Tren bisnis kendaraan niaga sedikit bergeser dengan segmen LDT kini mendominasi. Tapi, segmen MDT punya pertumbuhan yang signifikan, yaitu 22% pada 2018 menjadi 62% pada 2019 ini,” kata Novian dalam Truck Campaign di Gedumf Graha Wangsa, Jumat, 11 Oktober 2019, malam. Dia melanjutkan, capaian itu tentunya perlu terus ditingkatkan. Salah satunya melalui produk terbaru, yaitu Fuso Fighter yang memiliki 15 varian dan beragam tipe. Dengan begitu bisa terus memenuhi kebutuhan bisnis konsumen dan dealer. “Kami terus memasarkan produk baru ini untuk mempertahankan market share,” ujarnya. Menurutnya, truck campaign bertajuk profesional bisnis partner diangkat agar Mitsubishi tetap sadar bisa menjadi rekan bisnis yang profesional bagi seluruh konsumennya. “Ini kegiatan tahunan untuk mengapresiasi konsumen setia. Sehingga, tentunya kami membawa promo spesial di setiap pemesanan unit di masa kampanye ini,” ujar dia. Sales Manager Lautan Berlian Lampung, Edi Susanto mengatakan gencarnya pembangunan infrastruktur san sikap tegas pemerintah terkait muatan truk menjadi faktor meningkatnya permintaan di segmen MDT. Untuk menjawab kebutuhan itu, pihaknya pun memperkenalkan produk baru di kelas MDT, yaitu Fuso Fighter. Line up fighter dari pilihan roda penggeraknya ada tiga, yaitu 4×2, 6×2, dan 6×4 dengan tenaga 240 PS dan 270 PS. Semua varian itu dilengkapi dengan mesin common rail berstandar euro 3 yang sesuai dengan jenis bahan bakar diesel, yaitu B20. “Hal ini menjadikan fighter bertenaga kuat, tetapi tetap efisien dan ramah lingkungan,” kata Edi. Menurutnua, kenyamanan menjadi aspek penting yang dihadirkan fighter melalui air suspension driver seat, kabin luas, jarak, dan kemiringan kemudi yang dapat diatur, serta panoramic wind shield memberikan jarak pandang lebih luas. “Dari truck campaign ini menjadi ajang kami untuk mensosialisasikan 15 varian baru fighter,” katanya.
http://www.lampost.co/berita-fuso-rajai-penjualan-segmen-ldt.html

Inilah Koran | Jum’at, 11 Oktober 2019
Peneliti Berpesan Pengembangan Energi Harus Sesuai SDGs
Pengembangan energi di Tanah Air harus sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), sehingga akan sejalan dengan komitmen Indonesia di kancah internasional, kata peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Ropiudin. “Pengembangan energi harus menjadikan SDGs sebagai referensi utama sehingga sejalan dengan isu global,” katanya di Purwokerto, Jateng, Jumat (11/10/2019). Peneliti senior laboratorium teknik sistem termal dan energi terbarukan Unsoed itu mengatakan pengembangan dan penerapan energi terbarukan harus sesuai poin tujuan pembangunan berkelanjutan tentang mewujudkan energi bersih dan terjangkau. “Untuk itu, perlu peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional karena dapat berdampak pada kualitas lingkungan yang bersih dan peningkatan ekonomi rakyat,” katanya. Ia mengatakan pemerintah juga perlu mengoptimalkan pengembangan biofuel secara masif sebagai salah satu inovasi energi dan bioenergi. “Pengembangan biofuel tersebut sebagai bagian dari energi terbarukan dan transisi energi di dunia, pada beragam penggunaan terutama pembangkit listrik dan transportasi,” katanya. Anggota International Solar Energy Society (ISES) itu juga mengatakan pemerintah perlu mengoptimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dengan penggunaan campuran biodiesel sebanyak 20 persen (B20) dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak solar, bahkan sampai green diesel 100 persen atau G100. “Pemerintah menyebutnya biodiesel 100 persen atau B100 meskipun sebenarnya adalah G100 atau green diesel 100. Proses mendapatkan B100 dan G100 sangat berbeda. Riset saat ini di Indonesia dan dunia mampu membuat B30 untuk diimplementasikan pada alat transportasi. Sedangkan riset B100 sudah dilakukan di Indonesia dan dunia,” katanya. Sebelumnya, dia juga mengatakan, partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dapat dilakukan dengan memanfaatkan secara maksimal sumber energi setempat untuk proses-proses produktif. “Masyarakat didampingi perguruan tinggi dengan dukungan pemerintah dan industri dapat mengembangkan teknologi tepat guna berbasis sumber energi setempat,” katanya.
https://www.inilahkoran.com/berita/27228/peneliti-berpesan-pengembangan-energi-harus-sesuai-sdgs

CNBC Indonesia | Jum’at, 11 Oktober 2019
Luhut: Mobil Listrik Impor Harus Ada Komponen Lokal
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, bahwa mobil listrik yang bakal masuk di Indonesia, diharapkan ada komponen dalam negeri di dalamnya. Pemerintah saat ini sedang melakukan peninjauan dan mendalami secara teknis, apakah hal itu bisa dilakukan atau tidak. “Ban mobilnya, kita mau dia dari dalam negeri. Supaya Indonesia bisa me-supply ke dia [Pabrik yang memproduksi mobil listri]. Sehingga harga karet gak bisa dimainkan oleh orang lain,” tutur Luhut di kantornya, Jumat (11/10/2019). Selain itu Luhut juga berharap, agar charging baterai untuk mobil listrik ini bisa diganti dengan minyak kelapa sawit (biodiesel). Sehingga ke depannya, Indonesia bisa menjadi satu negara yang memiliki supply-chain, yang bisa dikembangkan. Luhut juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyusun peta jalan agar Indonesia bisa menjadi pemain global (global player) dalam industri mobil listrik. Terkait kemajuan teknologi, ia menjelaskan bahwa ada tawaran untuk pengembangan teknologi mobil listrik agar produksi baterai, mesin dan chargingnya bisa berada di dalam negeri. “Kalau produksi bisa benar di dalam negeri, nanti juga bisa disuplai biodiesel untuk serapan operasional produksinya, itu berdampak baik bagi ekonomi,” kata Luhut. Terkait payung hukum yang akan ditandatangi melalui Peraturan Presiden (Perpes), juga harus dipastikan bahwa subsidi mobil listrik bisa berdampak dan memberikan kenyamanan untuk investtor. “Subsidi mobil listrik itu sendiri, yang memberikan kenyamanan buat investro. Sehingga akn mengubah profile ekonomi kita. Supply-chain dengan teknologi dan penggunaan kelapa sawit, karet, dan litium. Ada supply chain luar biasa untuk ekonomi Indonesia,” tuturnya.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20191011183513-4-106386/luhut-mobil-listrik-impor-harus-ada-komponen-lokal

Harian Nasional | Sabtu, 12 Oktober 2019
Jelantah pun Bernilai Ekonomi
Masa jenis minyak goreng yang lebih rendah ketimbang air, membuat kedua zat cair itu tak bisa menyatu. Minyak bekas atau jelantah pun akan jadi persoalan baru, jika dibiarkan begitu saja. Salah satu solusinya, jelantah bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif biodiesel. Bahkan di negara-negara Eropa sudah populer. Ada pengepul yang mengekspor minyak jelantah ke Singapura dan benua biru itu. “Di pengepul, jelantah disaring atau diproses dulu supaya bersih sebelum diserahkan ke eksportir. Ada juga yang langsung diserahkan atau diekspor ke Singapura. Mereka mengelola jadi biodiesel, baru kemudian dikirim ke Eropa,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Rumah Energi Rebekka S Angelyn ditemui HARIAN NASIONAL di Jakarta, Selasa (8/10). Rebekka pun mengajak masyarakat mengumpulkan jelantah lalu dijual ke pengepul. Jika diolah sendiri jadi biodiesel, kurang efektif. Terlebih, penggunaannya terbatas karena hanya untuk mesin-mesin bertenaga disel. “Macam-macam model insentifnya. Ada yang minyak jelantahnya bisa ditukar minyak goreng baru. Ada juga yang diganti uang tunai,” ujar dia. Jelantah kualitas bagus adalah yang baru digunakan menggoreng 2-3 kali. Rebekka menyarankan, untuk diversifikasi menggunakan jelantah karena potensinya besar sekitar 3 juta kilo liter. Angka itu setara sepertiga volume biodiesel dari minyak sawit mentah (CPO). “Ironisnya, di sini jelantah dibuang. Padahal, berguna banget. Di Eropa, menggunakan biodiesel berbasis minyak jelantah bisa mendapatkan insentif dobel,” katanya.
http://www.harnas.co/2019/10/11/jelantah-pun-bernilai-ekonomi