+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Gapki: Pacu Penyerapan Sawit Domestik Atasi Proteksi Eropa

Investor Daily Indonesia | Kamis, 25 April 2019

Gapki: Pacu Penyerapan Sawit Domestik Atasi Proteksi Eropa

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Sumatera Selatan mengingatkan proteksi Uni Eropa (UE) terhadap produk minyak sawit asal Indonesia seharusnya menjadi pelecut semangat untuk meningkatkan penyerapan dalam negeri. Penyerapan sawit domestik di antaranya dengan terus mendorong program biodiesel, seperti B20. Ketua Gapki Provinsi Sumatera Selatan Harry Hartanto di Palembang, Selasa (23/4), mengatakan, Indonesia sudah membuat produk bahan bakar solar B20 yang harus terus didorong hingga mencapai B100. “Di tengah situasi ini kita harus tetap optimis, apalagi sudah ada B20 yang cukup lumayan mendorong penyerapan dalam negeri. Kita jangan takut,” kata dia seperti dilansir Antara. Namun demikian, pemerintah juga tidak boleh mendiamkan proteksi yang dilakukan negara-negara Eropa itu. Karena hal itu merupakan perang dagang di mana negara-negara Eropa berkeinginan melindungi produk mereka sendiri. Bahkan, hal itu merupakan wujud nyata bahwa Uni Eropa tidak ingin ekonomi Indonesia bangkit karena menjadi penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Untuk itu, Gapki mendukung langkah yang diambil Pemerintah Indonesia bersama sejumlah negara di Asean menyiapkan sikap bersama untuk merespons kebijakan proteksionisme Uni Eropa, yang dianggap diskriminatif terhadap produk sawit dan beras asal Asia Tenggara. Apalagi, menilai kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionisme ini terus menguat di kelompok Uni Eropa.

Negara-negara Asean sepakat mem-berkan instruksi kepada perwakilannya di Jenewa, Swiss, untuk mengeluarkan pernyataan keras kepada Uni Eropa (UE) atas nama kebersamaan Asean pada pertemuan 25th Asean Economic Minister\’s Retreat (AEM Retreat) di Phuket, Thailand, Senin (22/4). Data Kemendag menunjukkan, Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO ke Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,50 juta ton sedangkan kebutuhan CPO Eropa 6,30 juta ton, sedangkan ekspor Malaysia di tempat kedua 1,50 juta ton. Harry menjelaskan, potensi Indonesia dalam menghasilkan minyak nabati ini menjadi ancaman sendiri negara-negara di Eropa karena mampu men-jadi penyuplai utama kebutuhan. Eropa sendiri tidak bisa berbuat banyak karena perkebunan sawit jauh memiliki keunggulan dibandingkan biji matahari dan kedelai. Dalam 1 hektare (ha) perkebunan sawit bisa menghasilkan 8 ton minyak sawit per tahun, sementara untuk biji matahari hanya 0,30 ton per tahun. Indonesia memang sangat terusik dengan gencarnya kampanye hitam yang terus dilakukan, mengingat komoditas itu memberikan kontribusi nilai ekspor sebesar Rp 240 triliun setiap tahun,

Harian Ekonomi Neraca | Kamis, 25 April 2019

Gapki Sarankan Penyerapan Lokal untuk Atasi Proteksi Eropa

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Sumatera Selatan mengingatkan proteksi Uni Eropa terhadap produk minyak sawit asal Indonesia seharusnya menjadi pelecut semangat untuk meningkatkan penyerapan dalam negeri. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Harry Hartanto mengatakan Indonesia sudah membuat produk ba-han bakar solar B20 yang harus terus didorong hingga mencapai BI 00. “Ditengah situasi ini kita harus tetap optimis, apalagi sudah ada B20 yang cukup lumayan mendorong penyerapan dalam negeri. Kita jangan takut,” kata dia, disalin dari Antara. Namun, pemerintah juga tidak boleh mendiamkan proteksi yang dilakukan negara-negara Eropa itu. Karena hal itu merupakan perang dagang di mana negara-negara Eropa berkeinginan melindungi produk mereka sendiri. Bahkan Harry menilai hal itu merupakan wujud nyata bahwa Uni Eropa tidak ingin ekonomi Indonesia bangkit karena menjadi penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Untuk itu, Gapki Sumsel mendukung langkah yang diambil Pemerintah Indonesia bersama dengan sejumlah negara di Asean menyiapkan sikap bersama untuk merespons kebijakan proteksionisme Uni Eropa, yang dianggap diskriminatifterhadappro-duk Kelapa Sawit dan beras asal Asia Tenggara.

Apalagi, menilai kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionisme ini terusmenguatdi kelompok Uni Eropa. Negara-negara ASEAN sepakat memberikan instruksi kepa\’da perwakilannya di Jenewa, Swiss, untuk mengeluarkan pernyataan keras kepada Uni Eropa atas nama kebersamaan ASEAN pada pertemuan 25th Asean EconomicMinister\’s Retreat (AEM Retreat) di Rhuket, Thailand, Senin (22/4). Data Kemendag menunjukkan bahwa Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO ke Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,5 juta ton sedangkan kebutuhan CPO Eropa mencapai 6,3 juta ton. Sedangkan, Ma- laysia di tempat kedua dengan nilai ekspor mencapai 1,5 juta ton. Harry menjelaskan potensi Indonesia dalam menghasilkan minyak nabati ini menjadi ancaman sendiri negara-negara di Eropa karena mampu menjadi penyuplai utama kebutuhan. Eropa sendiri tidak bisa berbuat banyak karena perkebunan sawit jauh memiliki keunggulan dibandingkan biji matahari dan kedelai. Dalam satu hektare perkebunan sawit bisa menghasilkan delapan ton minyak sawit per tahun. Indonesia memang sangat terusik dengan gencarnya kampanye hitam yang terus dilakukan, mengingat komoditas itu memberikan kontribusi ekspor Rp240 triliun .

Jawa Pos | Rabu, 24 April 2019

Kementan Launching Biodiesel B100, 136 Persen Lebih Efisien dari Solar

Pengembangan energi terbarukan merupakan sebuah keniscayaan. Tiap tahun, kebutuhan energi makin meningkat seiring makin bertambahnya penduduk serta dinamisnya aktivitas manusia. Salah satu sumber energi pengganti bahan bakar fosil adalah biodiesel. Indonesia memiliki potensi yang amat besar dalam hal pengembangan biodiesel. Khususnya Crude Palm Oil (CPO). Pasalnya, Indonesia adalah penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Pada 2018, produksi CPO mencapai 41,67 juta ton. Sementara, ekspor CPO mencapai 34 juta ton dengan nilai sekitar Rp 270 triliun. Merespons hal tersebut, Pertengahan April lalu, Kementan meluncurkan soft launching uji coba perdana penggunaan B100. Biodiesel B100 merupakan bahan bakar biodiesel yang digunakan secara langsung pada mesin diesel tanpa dicampur dengan minyak fosil. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pengembangan B100 merupakan langkah nyata pemerintah dalam mengurangi penggunaan energi fosil. Sejak 2014 hingga 2018, pemerintah mulai merintis mengembangkan Biodiesel B20. Terbukti pada 2018 produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter (KL) meningkat 82,12 persen dibanding 2014 sebesar 3,30 juta KL.

“Meskipun demikian, Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter. Karena kebutuhan solar dalam negeri untuk 2019 diproyeksikan mencapai 31,19 juta KL, sementara produksi solar dalam negeri 20,8 juta KL. Maka dari itu, kehadiran B100 ketika digunakan secara massal diharapkan mampu menggantikan solar,” ujar Amran dalam keterangannya, Rabu (24/4). “Kami saat ini telah berhasil membuat reaktor biodiesel multifungsi generasi ke-7 yang mampu mengolah 1.600 liter bahan baku/hari,” lanjutnya. Dari hasil penelitian, jelas Amran, penggunaan biodiesel lebih efisien dibandingkan dengan penggunaan solar. Untuk transportasi mobil berdasarkan hasil pengujian oleh Badan Litbang Pertanian, 1 liter biodiesel bisa menempuh jarak 13,1 km, sementara solar hanya 9,6 km. Dengan kata lain, efisiensi biodiesel mencapai 136,4 persen sehingga upaya konversi solar ke biodiesel sangat diperlukan. “Pada sektor pertanian, produksi biodiesel B100 selain digunakan untuk kendaraan angkut (mobil) produk-produk pertanian juga dapat dimanfaatkan untuk alat dan mesin pertanian seperti traktor roda 2 dan traktor roda 4 dan lainnya,” ungkap Amran

Amran memaparkan, untuk mengkonversi kebutuhan solar 10,39 juta KL yang berasal dari impor senilai Rp 99,74 triliun, dibutuhkan 7,61 juta KL biodiesel B100 senilai Rp 73,09 triliun. Atau setara dengan 8,83 juta ton CPO. “Berdasar perhitungan ini, diperoleh penghematan devisa senilai Rp 26,65 triliun. Kita juga berpotensi menghemat impor solar 7,79 juta kilo liter senilai Rp 74,8 triliun” ungkap menteri asal Bone, Sulawesi Selatan tersebut. Selain dari aspek ekonomi, kata Amran, penggunaan biodiesel juga secara teknis mengefisienkan penggunaan energi dan ramah lingkungan. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48 persen dibanding solar. “Selain itu industri biodisel juga bisa meningkatan kesejahteraan pekebun sawit melalui terciptanya peluang pasar domestik yang besar,” jelasnya. Amran optimistis bahwa dengan produksi B100 9,99 juta KL denga nilai Rp 84,6 triliun mampu mengurangi solar 34,4 persen. “Soft launching uji coba perdana penggunaan B100 lingkup terbatas ini, menjadi tonggak sejarah bagi bangsa kita untuk memasuki era B100 yang lebih massal di masa yang akan datang,” pungkasnya.